Headlines News :
Home » , » Surat Buat Bapak Menteri Pendidikan

Surat Buat Bapak Menteri Pendidikan

Written By Pewarta News on Sabtu, 20 Agustus 2016 | 01.47

Haeruddin, S.Pd.
PEWARTAnews.com – Sesungguhnya, lebih baik berbuat jahat daripada memiliki pikiran kerdil (Nietzsche).

Pak mungkin sudah banyak ucapan selamat dilayangkan padamu. Juga telah banyak harapan diberikan untukmu. Aku tak ingin mengulangnya kembali. Bagiku tindakan itu hanya sebuah awalan. Yang kadang fungsinya basa-basi dan terbatas tata-krama.

Pak menteri yang terhormat, mungkin waktunya aku ingin jujur padamu. Bahwa pilihan presiden Jakowi atasmu itu benar dan menjanjikan. Selama ini seorang menteri pendidikan seperti pilihan kepala sekolah: tua, padat petuah dengan karir seorang birokrat. Maka kebijakanya selalu serupa: mengubah-ubah kurikulum, memastikan kepatuhan siswa dan membuat banyak janji.

Maka girang rasanya melihatmu tampil sebagai menteri. Berbusana putih dengan lengan panjang berdasi dibalut jas hitam. Posisimu kunci: pendidikan dasar dan menengah. Kedudukan yang akan memastikan titik berangkat mutu sebuah pendidikan. Jika berkaca pada sebelumnya maka pendidikan dasar dan menengah bisa jadi awal sebuah niat.

Niat untuk membuat pendidikan tak berjalan seperti sekarang. Beban materinya padat dengan isi yang terlampau berlebihan. Sesekali bapak periksa isi buku pelajaran anak sekolah dasar dan menengah: sejarahnya berisi kisah yang dangkal, matematika berisi angka tanpa imaginasi apalagi pelajaran kewarganegaraan: tak ada daya gugahnya. Seakan sekolah seperti kegiatan isi waktu luang.

Pasti engkau kenal Paulo Freire. Aku tahu gagasanya pasti mengerti. Mungkin engkau tak sepakat denganya tapi rasanya penting untuk memahami idenya. Guru buatnya bukan kilang pengetahuan yang datang dengan membawa keranjang materi. Paulo Freire lebih percaya bahwa semua anak sudah punya bekal pengetahuan. Lingkungan membesarkan, melatih hingga membimbingnya dalam praktek hidup. Realitas sosial adalah bahan utama pengetahuan. Tugas pendidikan adalah mengembangkan kesadaran peserta didik untuk memahami realitas sosial di sekelilingnya secara lebih kritis. Bagi Freire pendidikan adalah pembebasan. Bukti keberhasilan pendidikan bukan kelulusan tapi kemampuan mengubah realitas.

Mandat pendidikan ini hebat pak. Sehingga pelajaran mengenal aksara sama dengan mengenal struktur sosial. Bahkan mengenal ilmu hitung sejajar dengan pengenalan apa yang pantas diperhitungkan dalam hidup siswa. Itu sebabnya Freire ajak kita kenal tingkatan kesadaran. Mustahil ada budaya pengetahuan kalau kesadaranya membatu dalam tingkatan naif. Begitu pula tak mungkin pengetahuan mampu meyentuh keberanian kalau dalam tangga fungsional. Freire membuat jembatan kesadaran kritis untuk menindih dua kesadaran yang kini hidup dalam alam pendidikan kita pak.

Sekolah kita hanya menanam bibit kesadaran naif dan fungsional. Naif selalu percaya kalau semua sebab sosial itu akarnya pada takdir atau keputusan di luar nalar. Sedangkan fungsional mirip dengan gayamu: perubahan harus diubah dari diri sendiri. Sikap, perangai dan kebiasaan ubahlah terlebih dulu. Pandangan motivasional selalu mengandaikan hal itu. Dan dirimu kurasa punya pandangan serupa. Keduanya punya titik lemah: naif membuat manusia seperti boneka sedang fungsional manusia seperti minyak pelumas. Dalam bilik kesadaran naif pelajaran berbentuk hafalan sedang pada bilik fungsional pembelajaran mirip arena suntik semangat. Keduanya alpa pada keadaan dan sulit untuk ubah kenyataan.

Bapak menteri yang terhormat, aku tak ajak engkau untuk berdebat. Tapi sejenak kuajak menengok melihat pelataran sekolah dasar. Bangku coklat berjajar rapi dengan foto penguasa yang mengapit burung garuda. Persis di tengah ada papan tulis dengan guru yang kerapkali berdiri di depan. Guru menguasai kelas: mengabsen, memberi tugas hingga menghukum. Sandaranya ada pada kebiasaan dan ketetapan. Guru dianggap selalu benar dan sulit dianggap salah. Sesekali mencetuskan gurauan tapi lebih sering memberi petuah. Tak ada anak yang berani membantah dan tak sedikit anak ketakutan. Sekolah memang lambang kekuasaan guru: melaluinya julukan anak baik, nakal dan pintar ditambatkan. Mirip seperti dewa guru memang sudah terlanjur dianggap kunci pembawa pengetahuan. Apalagi akhir dan awal pelajaran berada tetap di tanganya.

Kini engkau ingin meningkatkan kualitas guru. Kamu merasa kuncinya ada disana. Kesimpulan yang sudah berulang-ulang ditekankan. Seolah dengan mengubah guru maka berubahlah murid. Garis perubahan itu seperti sebuah lajur titik A menuju B. Jika A diubah maka B otomatis berubah. Siklus itu yang dipercayai oleh penguasa sebelumnya: UU Guru terbit, kebijakan sertifikasi ditempuh dan pelatihan guru digalakkan dimana-mana. Hasilnya? Tak usah menunggu survei dan riset. Tapi tanyalah seorang anak SMA lalu beri dia dengan pertanyaan sederhana: apa yang engkau sukai di sekolah nak? Jawaban mereka niscaya menjadi petunjuk betapa memperbaiki guru bukan jalan mengubah pendidikan. Kita kadang lalai kalau sekolah bukan terdiri dari guru, siswa dan kelas. Sekolah berada di atas tiang namanya aturan dengan muatan pelajaran yang bernama dominasi.

Itu sebabnya pak: anak sekolah bukan kertas putih. Mereka punya pengetahuan yang dibawa dari lingkungan dan asuhan. Lingkungan menceritakan pada mereka bagaimana pergulatan hidup itu terbangun diatas dasar kompetisi dan pertikaian. Pola asuh telah menanam mereka kesadaran akan arti posisi dan kelas sosial. Sialnya sekolah kerapkali memanipulasi pengetahuan itu semua dengan mencangkokkan kesadaran baru tentang status quo. Biarkan ada ketimpangan dan ketidak-adilan karena memang itu bukan soal pengetahuan. Lagipula untuk apa menuntut perubahan jikalau kunci untuk mengubahnya sesungguhnya berasal dari diri-sendiri. Inti kurikulum itu yang membuat anak-anak berpuas dengan prestasi dan sulit untuk diajak punya solidaritas serta empati. Anak lahir dengan kebiasaan berfikir pada apa yang ada di buku dan jalani pembelajaran seperti yang dikatakan guru. Kita kehilangan jiwa petualang dan pendobrak kemapanan. Kita diam-diam membesarkan mental pegawai ketimbang pencerah.

Kurasa untuk seorang pendidik seperti bapak tak sulit memahami ide ini. Pertimbangan ide ini sederhana: tak mungkin pendidikan dasar dan menengah berpusat pada soal lama. Kurikulum dan UAN. Seakan sekolah itu hanya berurusan dengan siapa yang harus didahulukan: lingkungan pasar yang segera membutuhkan tenaga budak terdidik, sistem politik yang menginginkan anak didik yang patuh atau kelompok fanatik yang maunya anak jadi pasukan pembunuh ide apapun yang berbeda. Pak menteri, sejarah kali ini memilihmu untuk membuat perubahan. Tanpa perubahan yang berarti maka pendidikan hanya mengulang-ulang dan mendaur ulang persoalan.

Ini waktunya memang tak lagi berjanji. Saatnya untuk berbuat dan mengubah. Berbuatlah untuk hari depan anak-anak sekolah dan ubahlah pandangan para pendidik tentang anak didiknya. Jika itu mampu kaukerjakan, niscaya, ke depan kita akan menyaksikan sekolah bukan tempat duduk dan menghapal: tapi tempat anak-anak belajar untuk menggerakan perubahan di sekitarnya. Yang lahir disana bukan semata-mata pemenang olimpiade tapi organisasi sekolah yang progresif, berpihak dan berani merombak realitas. Buatku itulah yang dinamai revolusi mental bapak menteri. Perubahan yang beranjak dari mengubah cara memahami dan menggunakan pengetahuan. Moga-moga saja engkau memahami ide ini dan mau mempertimbangkanya.

Salam Revolusi Mental Pak menteri.


Penulis: Haeruddin, S.Pd. 
Pegiat Pendidikan untuk Indonesia (PUNDI) Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website