Headlines News :
Home » » Terdampar di Dunia Khayalan [Potret One Part 2]

Terdampar di Dunia Khayalan [Potret One Part 2]

Written By Pewarta News on Rabu, 17 Agustus 2016 | 08.32

Julkifli.
PEWARTAnews.com – Sebuah desa mempunyai politik kejiwaan, kemiskinan dan keserakahan. Terhanyut dan terbakar oleh gelampnya dunia. Suatu ketika Rejha dan K, terbangun dari tidurnya, serasa hidup di jeruji besi. Redjha dan K, hidup dalam keterbatasan ekonomi, fisik dan mental, semua orang mengatakan aneh dan tak mempunyai prinsip.

“Tak perlu mendengarkan mereka, mereka hanya berkata, mungkin mereka iri dengan kita berdua, kita hidup bukan untuk meminta makan kepada mereka, tetapi meminta restu. Restu untuk masa depan kita.” Kata si Redjha sambil mengangkat tangan di atas punggung si K.

“Perkataanmu tepat Redjha,” jawab si K. “Memang hidup tak mesti menganggap buruk kepada orang lain tetapi, tergantung bagaimana cara kita menyikapinya, entah itu baik ataupun buruk!”

“Bung ada yang aku sampaikan kepadamu, kita tak perlu lagi membahas persoalan tadi.” Jawab si Redjha.

“Ia bung kau mau bilang apa?” tanya si K sambil menggaruk kepala.

“Besok ada kerjaan?,” tanya si Redjha sambil menggaruk kepala.

“Ngak ada, emang mau ajak aku kemana?” jawab si K.

“Gini bung besok aku kesawah, ada sedikit kerjaan disitu, kata ibuku sebelum aku membaca buku kemarin Isya.”

“Loh, engkau suka membaca juga bung?, Hahaha.” Tanya si K sambil tertawa.

“Loh emang kenapa.? aku suka baca, kok kamu tertawa bung,” jawab si Redjha.

“Yeah ngak si bung, aku heran ajah engkau suka baca, biasanyakan, suka ngawur-ngawur sendiri di atas pohon kelor sambil bernyanyi, lagunya Radja Band yang tulus itu!, Hahaha,” Jawab si K sambil tertawa terbahak-bahak.

“Kamu tau aja bung kebiasaanku, yaudah jagan bahas itu lagi, nanti kita lupa lagi apa yang kita bahas tadi,” Jawab si Redjha sambil menggaruk kepala.

“Jadinggak kesawahnya? Kita tanyakan sekalia si Asrul.”

“Kamu ngawur aja si Ja, mana mau si asrul pergi kesawah, paling si Asrul bisanya jaring cewek. Hahaha.” jawab si K sambil ketawa terbahak-bahak.

“Ia kita tanya dulu siapa tau dia mau, sekalian aku iming-imingkan jagung bakar biar dia mau ikut,” Jawab si Redjha sekenanya.

“Oke, kita liat nanti mau apa ngak dia,” jawab si K. “Ayo kita kerumahnya,” Jawab lagi si Redjha.

Setelah itu beberapa menit kemudian Redjha dan K berjalan menuju ke rumah Asrul, sore itu begitu panas dan jalan pun banyak asap dan debu, suara motor berkeliaran sana sini.

Redjha mengatakan dalam hati, “Tuhan begitu panas dan berasap negri ini, apakah ini yang dinamakan neraka untuk yang tidak taat kepada ajaran-Mu?, jawab tuhan.”

Beberapa saat kemudian, sampai juga di rumah Asrul, pas naik tangga terlihah pintu terbuat dari jati, warna kecoklatan, di tambah cet pilitur kinclong, kayunya begitu kokoh dan mewah. Sungguh indah ciptaan engkau tuhan, rumah yang begitu kokoh layak istana yang megah, penuh dengan seni yang tinggi, bahkan ketika gempa, tetap berdiri tegak, saking bagusnya untuk segala cuaca, dinding dinding nya pun memake kayu jati.

Setelah itu K membawa salam. “Asalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawab Ayah Asrul, “Ooh si redjha dan k yeah.?”
“Ia pak,” Jawab si Redjha dan K secara bersamaan.
Lalu bapak Asrul berkata kepada istrinya, “Mah, buatin kopi untuk tamu nih mah, sekalian sama bapak, hehe.” Sambil ayah Asrul tertawa. “Jawab si mah, bapak nih ngalah dulu hari ini kopinya, ini untuk tamu, kan bisa kopinya untuk nanti.” Jawab bapaknya asrul lagi. “Mamah bikin kopi aja pake perhitungan, berbuat baik itu bukan hanya tamu saja mah, sama suami, anak, tetangga, dan lain sebagainya.”

“Terserah bapak aja deh, mama nurut aja buat bapak, yaudah jangan diperpanjang lagi, malu sama tamu pak.” Cetus mamanya Asrul sekenanya.

“Iyah mah,” Jawab bapaknya Asrul.
“Dengan rasa tidak enak hati, lalu si K berkata kepada ayahnya Asrul, “Ngak perlu repot-repot pak, kita berdua cuman bertanya Asrul kok pak.”

Singkat cerita, setelah itu si Redjha dan K, duduk sambil menanyakan si asrul. “Si Asrul mana pak? kok ngak keliatan.” Tanya si K.

“Si Asrul di kamar nak,” Jawab bapaknya asrul. Setelah itu keluar si Asrul, berpakaian baju bola Real Madrid putih dan celana hitam lefis. Setelah dua jam duduk, bercerita lelucon tentang masa-masa sekolah dasar (SD), di tambah lagi si Asrul berpandai mengarang cerita-cerita lucu dan Redjha pun apa lagi, lebih pandai ngawur di atas pohon kelor. Semuanya tertawa, dan datang tiga cangkir kopi yang masih panas, dan disimpan di atas meja.

“Ayo minum kopinya mumpung masih panas,” Kata si Asrul.

Lalu jawab si Redjha, “ia As jangan repot-repot, aku kesini mau ajak kamu kesawah, ada amanah orang tuaku, dia menyuruhku kesawah, menyiram bawang yang kemarin di tanam, kata ibuku udah waktunya di siram.”

“Oooh. kapan ja.?” Jawab si Asrul dengan nada gak enak sembari bertanya.

“Besok, kamu bisa ngak?” Tanya si Redjha.

“Hmmm, gimanayah brow, kayaknya aku ngak bisa deh, ada urusan besok, biasa urusin si T,” jawab si Asrul dengan nada santai.

“Yeah parah luh, disaat aku kaya gini kamu malah urus hasrat dan cintamu, cinta itu hanya pelengkap bagi kita, yang lebih penting adalah kesuksesan kita, malah kamu lebih memilih cinta daripada kita berdua. Mana yang dikatakan sahabat sehidup semati brow?, apa kah ini yang namanya sahabat? Kata Redjha sambil sedikit emosi setelah mendengar jawaban dari si Asrul.

“Yeah, bukan gitu juga sih brow, lagiankan aku udah terlajur janji ma dia, masa iyah sih aku harus batalin, ngak logis kan.” Jawab si Asrul sambil menggaruk kepala karna mendengar ocehan si Redja!.

Lalu si K berkata kepada si Redjha, “Kan saya udah bilang brow, bahwa si Asrul pasti ngak mau ikut kita, kamu aja yang ngajak aku kesini, jangan pernah memaksa seseorang, kita harus berpikir positif, klaupun Asrul ada janjian sama pacarnya ya sudah, ngak perlu kita perpanjang masalah.”

“Ia saya tau K, yang perlu kita pertanyakan setiap kita ajak kemana, pasti dia mengatakan ada janjian ma pacar, atau ngak ada kesibukan lain, kapan ada waktunya untuk kita, itu yang perlu kita pertanyakan bung, dia lebih memilih pacar di bandingkan kita.” Jawab Redjha.

lalu K menjawab, “Tak perlu kita perpanjang lagi bung, kita udah tau sifat dia dari dulu sampai sekarang, dia masih belum berubah, kita memang kalah di sini, tetapi kenyataannya kita menang.” Bisik si K, “Ayo kita pulang. kita ngopi dirumahku.”

Tak lagi berbasa-basi lalu si Redja dan K berdiri sembari sama-sama bawa salam sebagai ucapat perpishan. “Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam,” Jawab si Asrul sembari merasa bersalah dengan sikap kedua sahabatnya, dan ia pun bertanya dalam hati, “Salah apa aku ini tuhan? Sehingga teman-teman marah kepadaku, apakah salah, hamba lebih memilih pacar di bandingkan sahabatku. Jawab tuhan.”

Redjha dan K, keluar dari pagar rumah Asrul. Redjha keras kepala, dia lebih memilih sahabat daripada cinta, sahabat adalah segalanya. Memang sulit mengumpulkan pecahan-pecahan lampu. Memang sulit, apa lagi membuat lampu itu menyala dengan sempurna, begitupun si K berpendapat jangan pernah memilih sahabat itu karna ada apanya, tetapi memilih teman itu, harus mempunyai seni, berupa keidahan. Bukan karna indah atau apanya tetapi kejujuran.


Depok, 17 Agustus 2016

Penulis: Julkifli
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang, Tangerang, Banten. / Kepala Biro PEWARTAnews.com Jabodetabek.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website