Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Mindset: Generalisasi Warna Kulit

    Anwar Al Fatih.
    PEWARTAnews.com – Sepulang dari tempat kunjungan yang agak lumayan jauh dari kost, aku dan salah seorang sahabat berjalan pulang melintasi jalan raya yang di penuhi oleh orang-orang yang sedang lalu lalang dengan mengendarai mobil. Dalam hati ber(gumam), suatu saat aku pasti memiliki bahkan melebihi yang kalian punya saat ini. Namun disaat yang sama, aku pun sadar bahwa aku tengah bermimpi yang membuatku “nyengir” sendiri.

    Ditengah perjalanan, terdengar bunyi nada panggilan yang menyusuri hiruk pikuk jalanan yang penuh keramaian, HP (handphone) pun ku raih dan ditandai dengan salam. Ternyata yang telpon teman kampus yang beberapa menit lalu sudah di depan kost, akhirnya kami pun mengambil langkah cepat.

    Sebelum sampai kost, aku memutuskan untuk mampir membeli Filter Kretek Cigarettes (Rokok) di salah satu kios yang jaraknya tidak begitu jauh dari kost. Karena merasa kurang enak ditunggu oleh teman yang sedari tadi menunggu, akhirnya aku minta teman yang bersama ku untuk duluan. Singkat cerita,!

    Setelah transaksi jual-beli selesai yang di akhiri dengan ucapan terimakasih. Sejurus kemudian, bapak penjual tadi kembali membuka percakapan dengan mulai bertanya, membuat "tensi" aku sedikit naik. Berikut kutipannya:

    Bapak : "Mas, Ngekost ya,?"

    Aku : "Iya, Pak,!" Agak menunduk (sebagai tanda hormat).

    Bapak : "Asal nya dari mana, Mas?"

    Aku : "Dari NTB, Pak,!" (jawab ku singkat).

    Bapak : "Oh, saya kira dari Jakarta,! Ternyata, dari NTB,?"

    Aku : "Ah, masa sih, Pak,? (merasa senang dikira dipuji beneran)", saking penasaran, aku pun lanjut bertanya, memang nya kenapa, Pak,?

    Bapak : "Tidak apa-apa, lalu bertanya. Rata-rata orang bagian sana (NTB/NTT) itu warna kulitnya sama ya, mas?"

    Aku : "Mendengar ungkapan itu, aku tersentak lalu berdiri dan balik bertanya (dengan nada yang sedikit naik). "Bapak menghibur atau menghina,?"Jangan salah, Pak,!" Tidak semua orang bagian Timur (NTB/NTT) itu hitam,!" Dan tidak semua orang-orang dibagian Barat (Jawa dan sekitarnya) itu putih. Setelah itu, dengan sedikit kesel, aku pun berlalu.

    Sekian.


    Penulis: Anwar Al Fatih
    Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Semarang.

    Pentingnya Kesadaran Politik

    Arsadt, S.H.
    PEWARTAnews.com – “Buta terburuk adalah buta politik. Tidak mendegar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Orang buta politik tak sadar bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, harga rumah, harga sepatu dan obat, semuanya bergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik biasanya membanggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar, ‘Aku benci Politik!’ sungguh bodoh dia, yang tak mengetahui bahwa karena dia tidak mau tahu politik, akibatnya adalah pelacuran, anak terlantar, perampokan, dan yang terburuk adalah, korupsi dan perusahaan asing yang menguras kekayaan negeri” --Bertolt Brecht (Jerman 1898-1956)-


    Di Negara demokrasi era sekarang peran masyarakat sangat penting dalam memajukan Negara ataupun daerahnya, faktor terpenting yakni berpartisipasi dalam perpolitikan dalam negri, tentu yang dimaksud dalam negri dalam hal ini tentulah bukan saja setingkat nasional tapi juga tingkat daerah.

    Jika kita cermati, politik disini bukanlah suatu benda yang kotor, yang itu sangat buruk dalam konteks dewasa ini. Politik sejati nya adalah seni untuk mencapai sesuatu, baik itu kepentingan pribadi maupun kepentingan bersama. Maka jika kita hidup dalam suatu system sosial bermasyarakat dalam kehidupan bernegara, bukanlah hal haram jika kita ikut berpolitik. Politik itu ibarat api, yang dimana disatu sisi jika digunakan oleh manusia yang tepat maka akan sangat bermamfaat, dan jika api ini digunakan oleh orang yang salah tentu akan membawa mudarat yang besar bagi manusia lainnya. Kembali lagi pada syair pertama yang penulis jabarkan, begitu dalam syair ini jika kita cermati, hal ini tentu karena kesadaran seorang Bertolt Brecht pada saat negaranya sebagai pencetus perang dunia kedua, yakni jerman, kebijakan-kebijakan politik yang di buat Hadlof Hitler saat mempimpin jerman saat itu sangat berdampak pada kondisi kestabilan jerman sendiri bahkan dunia. Bayangkan begitu besarnya pengaruh dari keputusan-keputusan politik yang dibuat oleh seorang anak manusia yang diberi mandat oleh rakyatnya untuk memimpin negaranya !!.

    Terlepas dari itu sebagai pengantar penulis, kesadaran berpolitik sangat penting untuk masyarakat yang menganut system demokrasi langsung, betapa besarnya peran masyarakat dalam menentukan nasib untuk dirinya sendiri bahkan untuk anak cucu nya nanti, kenapa sampai keanak cucu-nya yang akan mendapat dampaknya atas keputusan politiknya? Hal ini jelas jika pembaca renungkan, kita memilih seseorang untuk menjadi seorang pemimpin yang mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan-keputusan politik yang menyangkut semua hal dalam kehidupan bermasyarakat, baik itu terkait perekonomian yang berimbas kepada kesejahtreraan yang ini nanti juga berimbas keamanan dalam hidup bermasyarakat, keputusan politik mengenai sumber daya alam yang ini nanti nya berimbas ke ekosistem alam ditempat masyarakat itu hidup. Tentu alam yang kita tempati sekarang bukan hanya saja untuk masa kita hidup sekarang, manusia-manusia yang akan hidup dimasa depan pun berhak untuk menikmati indahnya alam yang diciptakan oleh Tuhan ini.  

    Mari secara sadar kita gunakan hak politik dalam memilih calon-calon pemimpin kita, mari cermati track record, programnya, visi-misi para calon pemimpin-pemimpin kita kedepannya, bukan lagi karena seberapa banyak si calon dapat memberikan uang kepada kita. Karena siapun yang menjadi pemimpin dalam suatu system pemerintahan nantinya, sadar atau tidak sadar semua akses kehidupan kita sebagai masyarakat akan di tentukan oleh kebijakan ataupun keputusan politik yang akan diambilnya nanti. Di ujung tulisan ini penulis sampaikan, mari berdemokrasi dengan pikiran dan hati yang sehat. Satu pilihan politikmu nanti akan menentukan system pemerintahan di masa depan.


    Penulis: Arsadt, S.H.
    Saat ini lagi menempuh Mahasiswa Magister Hukum Universitas Islam Indonesia dan Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

    Life Is Challenge

    Anwar Al Fatih.
    PEWARTAnews.com – Menjalani kehidupan tidak semudah seperti yang dibayangkan, itulah kenapa ada banyak orang yang terhenti langkahnya dikarenakan tidak mampu untuk bertahan (survive). Apalagi di Era modernis sekarang ini, era yang begitu keras persaingannya. Hanya orang-orang yang memiliki niat, tekad dan kemauan yang kuat yang mampu bertahan ditengah arus gelombang kehidupan yang kerap menghantam.

    Disadari atau tidak, inilah cara Tuhan menguji hambanya dalam berjuang. Mampukah kita bertahan ditengah cobaan yang kian menerpa, mampu kah kita tetap berdiri kokoh ditengah terjangan badai yang meluluhlantakan sendi-sendi keimanan. Hanya orang-orang yang mampu bersyukur, berikhlas dan sadar akan rencana Tuhan lah yang terselamatkan, karena Tuhan tidak memberikan ujian itu diluar dari batas kemampuan manusia.

    Maka, seberat apapun beban hidup yang kita hadapi kita harus kuat (strong). Mengutip ungkapan Petinju Dunia yang dijuluki The King.
    "Orang yang kuat adalah bukan orang yang memukul lawan sampai jatuh, tapi orang yang kuat adalah orang sering jatuh namun bisa bangkit lagi." (Muhammad Ali).

    Dalam uraian diatas, penulis sungguh tidak bermaksud untuk mengajari pembaca atau pun menggurui. Namun lebih kepada memotivasi diri sendiri, mudah-mudahan dapat penulis aplikasikan semaksimal mungkin sebagai perisai hidup. Dan mudah-mudahan ada manfaatnya untuk siapapun yang menyempatkan untuk membaca.

    Semarang, 22 September 2016

    Penulis: Anwar Al Fatih
    Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Semarang.

    Negara dan Kekerasan

    Agus Salim.
    PewartaNews.com – Perbicangan tentang peran Negara dalam kehidupan sosial telah dilkaukan oleh para pemikir atau para filsuf sejak jaman klasik. Dua filsuf besar yang dilahirkan pada masa yunani kuno yang pemikirannya mendapat sambutan dari generasi sesudahnya, bahkan sampai pada Zaman kita sekarang, Plato dan Aristoteles. Bagi mereka bahwa Negara memiliki dominnasi yang besar terhadap rakyatnya, merupakan hal yang sepatutnya (Dedi Nur Haedi dkk, 2006). Individu atau warga Negara akan menjadi liar dan tidak dapat dikendalikan, bila Negara tidak memiliki kekuasaan yang besar. Negara harus menjinakkan mereka (rakyat) dan mengajarkan nilai-nilai moral yang rasional (Budiman, 1997 dalam Dedi Nur Haedi dkk, 2006).

    Thomas Hobbes, berpendapat  bahwa "manusia  adalah serigala bagi manusia lain (homo homoni lupus). Terma tersebut menunjukan bahwa setiap individu akan menjadi ancaman bagi individu yang lain dalam kehidupanya. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa manusia memerlukan norma atau 'aturan' untuk menghindari – setidaknya meminimalisir ancaman-ancaman yang mungkin akan timbul. Dibutuhkan organisasi Negara (state of nature) yang menjaga kemanan manusia (Novri Susan, 2014). Selanjutnya Hobbes berpendapat bahwa stete of nature harus mengarahkan dan menentukan tindakan apa saja yang paling tepat untuk kepentingan mereka [kepentingan bersama] (Rule, 1988 dalam Novi Susan, 2014). Durkheim, Seorang sosiolog aliran srukturalis melihat bahwa Negara merupakan organisasi yang memiliki tanggung jawab untuk mencipatakan perdamaian sebagai aparatus moral dari masyarakat (terlepas apakah Durkheim terpengaruh oleh Hobbes atau tidak). Berebeda dengan Turner yang melihat bahwa Negara memilki peran yang penting untuk meregulasi kehiudpan sosial dalam melindungi hak-hak individu (Novri Susan, 2014). Selain itu, Ibnu Khaldun – seorang Sosiolog awal, bahkan sebelum Comte memberikan nama untuk bidang tersebut – melihat organisasi kemasyarakat sebagai awal terbentuknya peradaban (umran), Sebagaimana para filosof menyebutnya sebagai kota (polis), lanjutnya.

    Uraian dan gagasan para pemikir terdahulu dan pemikir modern yang paparkan dengan singkat di atas, adalah untuk memperlihatkan dan menjelaskan tentang tujuan, peran, serta fungsi Negara yang merupakan wadah atau instrumen bagi masyarakat untuk belindung dari berbagai ancaman, mendapatkan hak yang sama, memperoleh rasa kedamaian dan untuk memperoleh hak yang paling mendasar sebagai individu dan bagaian dari masyarakat, yaitu kesejahteraan. Artinya, Negara tidak seharusnya atau tidak sepantasnya menjadi instrumen yang hanya bisa di manfaatkan atau diperalat oleh salah satu pihak atau golongan tertentu dan untuk kepentingan sendiri atau kelompok masing-masing. Marx melihatnya (Negara) sebagai alat bagi kaum borjuasi (kapitalis) untuk menindas dan mengeksploitasi kaum proletar (buruh) atau orang-orang miskin. Padahal, sesungguhnya Negara memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk menciptakan rasa aman dan perdamaian serta terpenuhinya kebutuhan dasar untuk masyarakat. Selain itu, Negara sebagai instrumen bersama harus bisa dan mampu menjadi instrumen bagi setiap orang untuk mendapatkan hak dan memenuhi kewajibannya sebagai rakyat.

    Johan Galtung (Novri Susan, 2014) membagi kekerasan kedalam tiga dimensi, yaitu kekerasan struktural, langsung, dan kekerasan kultural. Namun yang menjadi titik fokus dalam tulisan ini adalah kekerasan dalam dimensi struktural walaupun kenyataannya yang terjadi di lapangan bahwa, kekerasan struktural dan langsung bisa muncul dalam waktu yang bersamaan. Kasus seperti ini dapat kita saksikan ketika terjadi kekerasan (penembakan) yang dilakukan oleh aparat Negara terhadap rakyat, dengan alasan menjalankan tugas dan menganggap rakyat melakukan pemberontakan kepada suatu rezim, tanpa melihat sisi kemanusiaannya. Alasan rakyat melakukan "pemberontakan" karena menganggap kebijakan Negara lewat pemerintah sebagai pelaksananya, tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat atau amanat undang-undang. Kepentingan Nasional yang dirumuskan oleh Negara, pada kenyataannya lebih banayak didefinisikan berdasarkan kepentingan para pemimpin (penguasa) dari kelompok mayoritas (Syarifuddin Jurdi, 2014).

    Kekerasan Struktural (struktural violence) merupakan kondisi yang ditimbulkan oleh sistem yang akibatnya terhadap rakyat, sehingga rakyat tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai manusia dan sebagai  bagian dari masyarakat, sejahtera. Meliputi, terpenuhinya kebutuhan primer (sandang ,pangan, dan papan), rasa aman  dan terhindar dari tekanan sosial, politik dan ekonomi. Di Indonesia, bentuk kekerasan yang ditimbulakan oleh Negara, seperti masih lemahnya (kalau tidak sengaja dilemahkan) tata kelola pemerintahan yang mengeluarkan kebijakan yang tidak berpihak pada kepetingan semua kalangan (rakyat) adalah bentuk nyata dari kekerasan struktural. Tingginya angka kemiskinan yang diakibatkan oleh perlakuan "amoral" para elit kekusaan sebagai pelaksana amanat Negara yang mencuri uang rakyat, korupsi. Tingginya tingkat pengangguran yang diakibatkan oleh kurang tersedianya lapagan kerja. Kematian yang diakibatkan oleh kelaparan dan penyakit karena tidak bisa mengakses sumber kesehatan, karena terlampau mahal. Masih minimnya generasi muda dan anak-anak mampu merasakan dunia pendidikan formal, karena biaya pendidikan kian hari semakin mahal dan telah merubah dirinya (lembaga pendidikan) sebagai industri kapital. Beberapa persoalan yang di sebutkan adalah sedikitnya masalah sosial yang merupakan bentuk nyata kekerasan struktural yang di lakukan oleh Negara. Padahal hasil buminya melimpah ruah, bahkan bisa mencukupi kebutuhan untuk beberapa generasi selanjutnya (baca:kekayaan alam Indonesia). Tetapi hanya di nikmati oleh segilintir orang dan "dicuri" oleh para tamu (orang asing) dan para penghianat Undang-Undang.

    Kekerasan yang telah dan sedang dilakukan oleh Negara pada saat ini merupakan bukti nyata, bahwa tujuan terbentuknya Negara telah "melenceng"  dari apa yang telah di gagas oleh para pemikir atau filosof sejak zaman klasik sampai pada para founding fathers Bangsa ini. Maka, keberadaan Negara dalam kehidupan manusia patut di pertanyakan kembali. Apakah keberadaan Negara masih kita butuhkan? Apakah Negara bisa hadir sebagai solusi dalam menyelasaikan persoalan kehidupan saat ini? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak cukup jika hanya dijawab dengan ya atau tidak. Karena, tidak semua pertanyaan bisa cukup dan selesai hanya dengan ya dan tidak. Melainkan kembali pada Nurani kebangsaan kita, dimana  rakyatlah yang memiliki kedaulatan tertinggi. Jika Negara dan pemerintah sebagai pelaksana tidak mampu melakukannya, bukankah itu berarti Negara telah menjadi "pemangsa" rakyatnya sendiri?

    Sebagai penutup penulis mengutip penggalan puisi seorang penyair tersohor yang pernah di lahirkan oleh ibu pertiwi.
    .....negara tidak mungkin dikembali diutuhkan tanpa rakyatnya di manusiakan, dan manusia tak mungkin menjadi manusia tanpa di hiudpkan hati nuraninya.. hati nurani adalah hakim adil untuk diri kita sendiri. Hati nurani adalah sendi dari kesadaran akan kemerdekaan pribadi. Dengan puisi ini aku bersaksi. Bahwa hati nurani itu meski di bakar tidak bisa menjadi abu. Hati nurani senantiasa bisa bersemi meski sudah di tebang putus dibatam. Begitulah fitrah manusia ciptaan tuhan yang maha esa. (W.S. Rendra).


    Penulis: Agus Salim
    Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Pemerhati Sosial pada Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    Pintar dan Cerdas Otak Saja tidak Cukup tanpa Moralitas (Agama)

    Andri Ardiansyah, S.Pd.I.
    PEWARTAnews.com – Menghadapi kehidupan masa depan yang penuh tantangan bangsa Indonesia sangat memerlukan anak-anak muda yang cerdas dan pintar. Sebenarnya cerdas dan pintar saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki keimanan dan ketakwaan. Apalah artinya kepandaian apabila akhlaknya bobrok, banyak kasus yang menunjukan Intelegence Quotient (IQ) yang tinggi tidak selalu identik dengan akhlak yang baik. Dengan demikian, harus ada keseimbangan antara kecerdasan otak dengan kecerdasan moral yang bersumber pada ajaran Islam.

    Seperti berulang-ulang yang telah kita ketahui bahwa anak-anak Indonesia adalah calon generasi penerus. Pada masa depan mereka diharapkan menjadi manusia-manusia yang bisa mengelola negeri ini secara cerdar dan berakhlak. Sehubungan dengan hal itu, kiranya akan lebih baik kalau sejak dini kita memperhatikan secara sungguh-sungguh kualitas pendidikan mereka. Pendidikan yang baik seharusnya tidak saja mementingkan sisi kecerdasan otak, yakni pendidikan yang hanya mementingkan suksesnya transfer ilmu pengetahuan tanpa mempertimbangkan sisi akhlaknya juga.

    Misi pendidikan yang hanya mementingkan sisi pendidikan otak belaka harus diubah dan dipadukan dengan pendidikan akhlak. Tujuannya agar anak-anak Indonesia selain memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi sekaligus berakhlak mulia. Bukan sebaliknya, yakni generasi yang pandai dan cerdas, tetapi bermoral bejat. Dengan menciptakan anak-anak Indonesia yang cerdas sekaligus berakhlak mulia diharapkan masa depan bangsa Indonesia menjadi bersianar kembali. Orang yang cerdas dan berakhlak mulia niscaya akan tidak gentar menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

    John Naisbitt (filosof barat) mengatakan bahwa milenium ketiga merupakan era kebangkitan nilai-nilai spiritual yang universal yang terkandung dalam agama-agama akan menjadi salah satu alternatif ketika menghadapi era jungkir balik nilai-nilai.

    Hanya dengan berbekal ilmu pengetahuan dan nilai-nilai spiritual itulah manusia masa kini bisa selamat dalam memasuki pergaulan dengan ummat manusia dari segala penjuru negeri. Dengan berbekal nilai-nilai spiritual niscaya bisa menghantarkan kita dalam pergaulan masyarakat dengan rasa aman, tentram dan damai. Nilai-nilai spiritualitas itu akan menjadi filter yang cukup ampuh dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif dari sistem nilai yang tidak sesuai dengan identitas kita sebagai manusia Indonesia yang menjujung tinggi nilai-nilai agama dan nilai-nilai kemanusiaan.

    Krisis ekonomi yang berkepanjangan yang terjadi di negeri ini terutama di akibatkan oleh terjadinya krisis moral dalam mengelola perekonomian, kehidupan politik, pendidikan, hukum, dan lain-lain. Akibatnya korupsi, tindak kekerasan, penyelewengan hukum, jual beli kekuasaan di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), kenakalan remaja, permusuhan antar kelompok masyarakat terjadi di beberapa tempat. Seandainya setiap induvidu memiliki bekal keimanan dan ketakwaan yang tinggi niscaya berbagai bentuk penyelewengan itu tidak terjadi. Orang yang sadar dirinya sebagai hamba yang patuh kepada Robb-nya, secara konsekuensi pasti akan takut melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Agama.

    Catatan bagi kita, menurut pengamatan sederhana dari penulis, bahwa moralitas generasi bangsa ini sudah mulai redup, maka sudah seharusnya kita sebagai generasi bangsa ini bertanggungjawab untuk memperbaikinya. Bung Hatta pernah berkata bahwa Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) oleh pemimpin bangsa ini sudah terjadi sepanjang bangsa ini berdiri. Maka semua bentuk patologi (penyakit) sosial sebagai moralitas yang ambruk yang melanda para pejabat negeri ini harus di perbaiki secara baik, sehingga moral bangsa ini di hargai oleh rakyatnya dan lebih-lebih di hargai oleh Rakyat dunia.


    Penulis: Andri Ardiansyah, S.Pd.I.
    Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta

    Efektivitas Pengembangan Pariwisata Daerah Bima Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Daerah

    Fastabikul Khairat.
    PEWARTAnews.com – Perkembangan peradaban manusia saat ini tidak dapat dipungkiri diikuti oleh perkembangan dunia digitalisasi yang sangat luar biasa pesatnya. Dahulunya sistem dilakukan secara manual yang dilakukan oleh masyarakat maka yang terjadi sekarang serba termoderenisasi dengan dunia teknologi informasi yang akan menjadi sabagai salah satu acuan tersendiri bagi perkembangan suatu daerah di masa kini.

    Bima adalah salah satu daerah yang ada di Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tepatnya berada di ujung timur Pulau Sumbawa. Bima berbatasan dengan : sebelah timur berbatasan dengan Selat Sape, di sebelah utara berbatasan dengan Laut Indonesia, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Dompu, sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Hindia dan Kota Bima dikelilingi oleh wilayah Kabupaten Bima. Bima merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi pariwisata yang tidak kalah jauh dari daerah-daerah yang ada di Indonesia lain seperti Lombok, Bali, Raja Ampat dan lain-lain. Karena sebagian wilayahnya dikelilingi oleh laut maka secara otomatis menghasilkan pesona pantai yang eksotis. Secara real pembangunan daerah Bima dari sektor Pariwisata tidak efektif dan efisien yang dilakukan oleh instansi terkait karena konstributif dari sektor pariwisata sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi suatu daerah khususnya Bima.

    Konsep atau master plan untuk mengembangkan pariwisata daerah Bima sesuai dengan perkembangan teknologi informasi saat ini yaitu dikembangkanlah sebuah sistem yang terintegrasi yang dahulunya dilakukan secara manual menjadi secara otomatis serta akurat mengenai potensi objek wisata daerah Bima seperti “Aplikasi Mobile” dengan aplikasi mobile yang sekarang menjadi trand diberbagai kalangan masyarakat maka perlu di analisis secara ilmiah dan dijadikan sebuah metode penilitian serta acuan untuk mengembangkan sebuah sistem aplikasi untuk mengeksplore potensi objek wisata daerah Bima. Dalam aplikasi mobile ini akan memberikan sebuah informasi objek wisata daerah Bima secara detail serta dilengkapi dengan peta jalur yang dilalui menuju objek wisata yang terintegrasi dengan google maps secara akurat dan realtime. Sehingga para wisatawan dimudahkan dalam pencarian objek wisata yang ada didaerah Bima.

    Peran Pemerintah Setempat yang manjadi ujung tombak terhadap kemajuan serta pertumbuhan ekonomi daerah dalam mengembangkan potensi objek wisata yang selama ini dibiarkan begitu saja tanpa terpelihara denga baik. Kondisi kongkrit yang terjadi di lapangan adalah pembangunan infrastruktur yang tidak memadai seperti pembangunan jalan menuju objek wisata yang masih tradisional yang belum teraspal yang terjadi diberbagai pelosok daerah Bima yang memliki potensi objek wisata yang mempesona. kondisi tersebut yang menjadi kendala bagi masyarakat maupun para wisatawan untuk berkunjung ke daerah Bima. Itu menjadi PR (Pekerjaan rumah) yang harus di pecahkan oleh instansi terkait yang bertanggung jawab atas masalah tersebut.

    Pembangunan sebuah daerah tidak lepas dari peran pemerintah setempat dengan masyarakat yang didalamnya terdiri dari kaum pelajar, Mahasiswa dan warga setempat. Ciri khas peran pemerintah setempat ialah pembangunan infrastruktur sedangkan masyarakat adalah mengembangkan usaha yang kreatif yang memiliki daya saing yang mampuni serta menjadi icon yang dikenal di pasar domestic maupun mancanegara. Apabila kedua sisi ini dikembangkan secara efektif dan efisien serta pengembangan Aplikasi mobile yang akan mempermudah wisatawan mencari objek wisata serta informasi lokasi penginapan sebagai penunjang untuk liburan. maka dapat dipastikan Daerah Bima akan mengalami pertumbuhan ekonomi semakin meningkat dan taraf hidup masyarakat Bima semakin sejahtera.

    Paket kebijakan yang harus dilaksanakan oleh pemerintah harus relevan dengan kemajuan zaman agar bisa efektif dan efisien dalam melakukan suatu rancangan serta pelaksanaan setiap paket-paket kebijakan yang tetapkan bersama khususnya dalam sektor pengembangan pariwisata daerah seperti yang dikemukakan pada paragraph ke-3 sebelumnya yaitu pengembangan Aplikasi Mobile yang lebih efektif dalam mempromosikan atau mempublikasikan potensi objek wisata. Redaksi yang memperkuat perlunya pengembangan dari aplikasi mobile tersebut ialah media publikasi yang di lakukan oleh pemerintah untuk mempublikasikan potensi wisata menggunakan media Koran, pamphlet, radio, dll tidak terlalu efektif karena minat masyarakat tentang hal tersebut tidak terlalu tertarik untuk membaca maupun mendengarkan melalui media tersebut. Perlu adanya terobosan baru yang dikembangkan oleh pemerintah salah satunya dengan media aplikasi mobile.

    Pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar akan meningkat khususnya usaha ekonomi kreatif seperti souvenir, butik, Penginapan, kuliner dll. Karena para wisatawan tidak hanya sekedar melihat pesona wisata daerah Bima tetapi ada hiburan serta buah tangan (ole-ole) yang di bawa pulang ke daerah asalnya. Alangkah baiknya pemerintah setempat harus berpikir secara jeli dan inovatif dalam melihat perkembangan dunai Teknologi informasi agar bisa memanfaatkan sebaik-baiknya media tersebut dalam pengembangan pariwisata demi terwujudnya daerah Bima sebagai destinasi wisata terbaik di Indonesia serta pertumbuhan ekonomi masyarakat Bima yang semakin meningkat dan sejahtera.


    Penulis: Fastabikul Khairat
    Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.


    NB:
    Tulisan ini dibuat sebagai syarat mengikuti Kegiatan Workshop Penulisan pada tanggal 23-24 April 2016, bertempat di Gedung Pelatihan Kementerian Dalam Negeri Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta. Tulisan ini diterbitkan dikarenakan PEWARTAnews.com merupakan salahsatu media partner dalam acara tersebut.

    Tagari Gelar Team Building dan Wisata Alam

    Suasana Acara Tagari.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Tagari (Komunitas Segenggam Mentari) pada tanggal 27 Agustus 2016 baru saja mengadakan kegiatan outbound yang bertempat di Jembatan Gantung Selopamioro, Desa Wisata Kedungmiri, Sriharjo, Kec. Imogiri, Kab. Bantul, DIY. Acara outbound tersebut dihadiri oleh kurang lebih 25 orang yang telah tergabung menjadi anggota Tagari. Agenda tersebut diadakan sebagai bentuk realisasi rasa kekeluargaan yang dimiliki oleh komunitas ini sekaligus sebagai ajang keakraban antara anggota Tagari. Mengingat komposisi dari anggota Tagari ini memang mayoritas sudah berada di jenjang perkuliahan seperti S1, S2, bahkan ada pula yang baru saja lulus kuliah, ada pula yang menjadi baru lulus  dari bangku SMA (penulis, red). Namun, perbedaan tersebut tidak menutup kemungkinan untuk kita tetap menjadi satu kesatuan dan keluarga di komunitas ini. Dan pada hari Sabtu 27 Agustus kemarin, agenda outbound tersebut sukses berat membuat kita (anggota Tagari, red) semakin kenal dan dekat satu sama lain.

    Kegiatan pagi itu dimulai dengan berkumpul di bunderan UGM untuk menyelesaikan administrasi dengan bendahara, kemudian dimulai dengan briefing yang disampaikan oleh Kak Emon selaku panitia juga yang bertugas sebagai koordinator lapangan di agenda outbound. Setelah itu barulah pembagian kendaraan, mengingat tidak semua anggota Tagari saat itu membawa kendaraan pribadi. Pada pukul 08.30 pagi itu kita mulai bergerak ke tempat tujuan kami yaitu Jembatan Gantung Selopamioro, Bantul. Sesampainya disana kita disambut oleh beberapa kawan Tagari lain yang sudah sampai disana terlebih dahulu yang melakukan persiapan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan agenda outbound.

    Dalam outbound kali ini, Kak Ahsan bertindak selaku leader atau penanggungjawab acara outbond tersebut, kak Ahsan yang juga sebagai professional trainer outbound di LEADER-99 Character Building Center. Sebelum menginjak ke acara inti, kak Ahsan mengajak kita untuk sedikit merefresh otak dengan memperkenalkan game otak yang bervariant disertai dengan level kesulitannya namun tetap bisa kita terima. Sangat mengasyikkan karena disitu Kak Ahsan benar benar membuat otak kita berkerja, beliau mengemas game dalam bentuk permainan yang berkualitas dan memiliki makna tidak hanya sekedar permainan belaka dan having fun saja. Kemudian kita break, untuk menyempatkan diri mendirikan shalat berjama'ah dan juga makan siang bersama di basecamp kita. Nah, setelah break itu kita tiba di acara inti. Teman-teman Tagari dibagi dalam beberapa kelompok besar untuk menjalankan sebuah permainan team yang disitu kekeluargaan, kepercayaan, tanggung jawab, leadership, kemampuan berfikir kreatif, kemampuan kita dalam memecahkan permasalahan di uji oleh serangkaian permainan yang ditawarkan lewat agenda outbound tersebut. Dari situ, anggota Tagari saling membaur atu sama lain, tanpa mengenal dia siapa, saya siapa. Canda dan tawa jelas menghiasi siang kita pada saat itu, keringat bercucuran juga gelak tawa yang tak henti tergambarkan oleh anggota Tagari membuat refleks tersenyum dalam, melihat replika keharmonisan keluarga yang didapatkan di sebuah komunitas sosial ini. Merupakan moment yang sangat penting dan juga menjadi potrait yang apik untuk dipublikasikan, dikenang, dan diselenggarakan kembali di kesempatan yang lain supaya Tagari semakin erat hubungan antar anggotanya.

    Harapannya, agenda outbound kali ini tidak hanya sebagai ajang permainan saja tetapi juga sebagai bentuk kepedulian kita terhadap satu sama lain, merendahkan hati untuk tidak segan-segan membaur dan berbagi kisah juga ide ide kreatif yang menarik yang mampu mengembangkan komunitas ini supaya hadirnya tidak saja menjadi komunitas tanpa pergerakan yang pasti, namun menjadikannya komunitas Tagari yang sering berkegiatan dengan banyaknya agenda keren lainnya.
    Salam hangat. Salam ceria. Mari berbagi untuk sesama…


    Penulis: Mayvani Nabilla
    Anggota Komunitas Segenggam Mentari (Tagari)

    Asal Mula Bahasa Bima, Nama Daerah Bima dan Dana Mbojo

    Sutriawan.
    PEWARTAnews.com – Pada umumnya, Bima sekarang disebut kabuten daerah tingkat II, Bima mempunyai dua macam nama yakni “Bima” dan “Mbojo” dipergunakan sejak kerajaan Bima lahir. Nama Bima dipergunakan bila menyebut daerah ini dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing, sedangkan nama Mbojo dipergunakan bila menyebutnya dalam bahasas daerah yakni bahasas bima. Penentuan tersebut merupakan suatu kesepakatan yang tidak boleh dirubah.




    Sebagai contoh :
    Bahasa Iindonesia                     Bahasa Bima
    Tanah Bima                                Dana Mbojo
    Bahasa Bima                              Nggahi Mbojo
    Orang Bima                                Dou Mbojo
    Sultan Bima                                Sangaji Mbojo
    Kuda Mbojo                               jara Mbojo

    Tidak boleh dibolak balik menjadi :
    Tanah Mbojo                             Dana Bima
    Ngahi Bima                               Bahasa Mbojo
    Dou Bima                                  Orang Mbojo
    Sultan Mbojo                            Sangaji Bima
    Kuda Mbojo                              Jara Bima

    Lazimnya pemberian nama suatu wilayah atau daerah bertujuan untuk mengabadikan suatu kejadian penting atau orang penting, nama mengandung nilai-nilai etik dan sejarah bagi masyarakat pencetusnya. Dengan kandungan nilai demikian, mendorong hasrat ingin tahu, kejadian penting apa gerangan yang telah terjadi dan siapa tokoh yang diabadikan namanya.

    Menurut H. Abdullah Tajib BA. Bahwa nama Bima dipergunakan untuk mengabdikan nama sang Bima, sang Bima adalah tokoh sejarah daerah ini yang berasal dari luar daerah, ia dinyatakan sebagai raja di daerah ini. Keturunan sang Bima mempunya hak sah atas tahta kerajaan secara turun temurun, wilayah yang dikuasai sang bima disebut dengan nama kerajaan Bima. Nama Mbojo menurut pendapat sementara orang berasal dari istilah bahasa Bima “Babuju”. Babuju ialah tanah ketinggian busut jantan yang besar. Tanah semacam itu dalam bahasa Bima disebut dana ma babuju, pada dana ma babuju dijadikan tempat pelantikan raja yang dilalukan diluar istana (Bima : tuha). Dari istilah itu kemudian perubahan pengucapan manjadi babuju dan selanjutnya menjadi mbjo, dari perubahan dan pengausan ucapan istilah tersebut daerah ini disebut Mbojo.

    Menurut cerita rakyat, sebagai salah satu sumber sejarah perlu di kaji dan ditimba maknannya dan diberikan interpretasi, legenda tentang kedatangan sang bima dipulau satonda, barangkali dapat memberikan jawaban kepada rasa ingin tahu tentang nama Mbojo. Disebut dalam kitab BO bahawa sang bima dipulau satonda bertemu pandang dengan seekor naga bersisik emas, sang naga itu melahirkan puteri yang rupawan, Peteri Tasi Sari Naga Nama nya. Puteri Tasi Sari Naga di kawini dan melahirkan dua orang putera yang bernama indra zambrut dan indra komala. Kedua putera sang bima tersebut kelak menjadi cikal bakal keturunan raja-raja bima.

    Menjadi kebiasaan di Bima untuk memberikan nama seorang anak disesuaikan dengan jenis kelamin dan sifat nya, sebagai nama panggilan sehari-hari, nama yang sebenarnya dipakai pada saat tertentu saja, seorang anak laki laki diberi nama panggila La Mone atau La One padahal nama sebenarnya Si Anhar Misalnya. Demikian pula nama seorang anak perempuan dengan nama panggilan La Siwe atau La Iwe padahal nama sebenarnya Si Ani. Anak yang malas diberi nama panggilan La Daju (Bima : Mone = Laki-Laki, Siwe = Perempuan, Daju = malas ).

    Kebiasaan yang sama untuk menyebut nama isteri dan suami tiada lazim seorang suami atau isteri menyebutkan nama sebenarnya dari pasangannya kepada orang lain, suami akan menyebut nama isterinya dengan sebutan siadoho siwe. Isteri menyebut nama suami nya dengan sebutan dou doho mone atau keduanya menyebutnya dou di uma. Kebiasaan seperti ini sebagai pertanda saling menghormati.

    Sang bima melalui perkawinan nya tentu akan menyesuaikan diri dengan tatakrama bima, maka sang Bima harus menyebut nama isteri nya Tasi sari Naga dengan sebutan Siadoho Siwe. Bagi sang bima ketentuan itu bukanlah hal yang baru sama sekali. Dinegerinya Tanah Jawa menyebutnya dengan cara demikian lumrah, dengan sebutan bojo Sang Bima tidak menggunakan kata sia doho siwe untuk memperkenalkan isteri nya kepada orang lain, melainkan sebutan bojo, yang berasal dari bahasa Jawa dengan pengucapan “Mbojo”.

    Tokoh puteri Tasih sari naga berperan sebagai kualisator kesatuan dan persatuan dalam pembaruan itu, sehingga betul betul luluh menjadi kesatuan yang bulat yang menjelmakan wajah baru yakni kerajaan bima. Dalam suasana kekeluargaan yang sudah terjalin, sang bima melakukan tidakan politik yang seimbang,. Untuk menghormati isterinya selaku pemilik awal dari daerah yang dikuasakan padanya. (Parthiwi), Ia mengabadikan nama isterinya atau bojonya atas daerah kekuasaan dengan memberi nama “Mbojo” atau “Dana Mbojo”.

    Sang bima bersama mbojonya telah meletakan dasar yang kukuh dalam saling menghormati dan harmonis demi menjamin kelangsungan keturunannya kelak sebagai pewaris kekuasaan di tanah Bima atau dana Mbojo.

    Kata Bima dan Bojo dalam pengucapa jawa berbunyi mBima dan mBojo. Lalu bagaimana dengan pengucapan Orang Bima. ? Hal itu akan dijelaskan dengan anatomi sebagai berikut :

    Suku kata bi dari kata Bima, Konsonan Bibir b dan huruf vokal i dibunyikan dengan gigi tertutup. Maka awalan huruf asal m tidak kedengaran dengan jelas, hilang dalam pengucapan orang Bima, tetap diucapkan seperti kata semula sehingga pengucapan mBima (Jawa) di ucapkan Bima (Bima).

    Suku kata bo dalam kata bojo, konsonan bibir b dengan huruf vokal o dibunyika dengan membulatkan mulut dan gigi terbuka. maka awalan huruf naval m dalam pengucapan jawa dapat dipertahankan tetap bersuara dalam pengucapan orang bima sehingga pengucapan mBojo (Jawa) tetap diucapkan mBojo (Bima).

    Dengan anatomi diatas jelas pengucapan Bima dan Bojo menjadi Bima dan Mbojo.


    Penulis: Sutriawan
    Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.


    NB:
    Tulisan ini dibuat sebagai syarat mengikuti Kegiatan Workshop Penulisan pada tanggal 23-24 April 2016, bertempat di Gedung Pelatihan Kementerian Dalam Negeri Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta. Tulisan ini diterbitkan dikarenakan PEWARTAnews.com merupakan salahsatu media partner dalam acara tersebut.

    Puisi: "Kosong"

    Nursuciyati.
    Kekosongan yang melahirkan keadaan
    Ketiadaan yang mengajarkan arti dari kesendirian
    Ketiadaan yang selalu menuntun untuk memaknai kekosongan
    Ketiadaan yang mampu menerjemahkan segala kekosongan

    Ketiadaan yang akan menyatukan segalanya
    Ketiadaan adalah jawaban dari segala yang ada
    Aku menulis ini pun karena kekosongan jua

    Lalu, bagaimana cara aku perpikir dan menulis jika semua menghasilkan kekosongan?
    Untuk apa menghadirkan jika itu adalah kekosongan
    Untuk apa menciptakan jika itu adalah kekosongan pada akhirnya?
    Entahlah


    Yogyakarta, 31 Agustus 2016
    Karya: Nursuciyati
    Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    Agama sebagai Legitimasi Kekerasan?

    Agus Salim.
    PEWARTAnews.com – Kehidupan umat manusia selalu dilanda oleh berbagai macama persoalan hidup dalam masyarakat, baik skala lokal, nasional, muapun skala internasional. Problem kehidupan bermasyarakat tersebut merupakan salah satu bukti kehidupan umat manusia yang dinamis dan berwarna. Selama hampir sehari penuh, media-media –cetak dan elektronik– mengabarkan kepada kita tentang berbagai masalah yang melanda kehidupan kita di paruh pertama ini. Masalah ketimpangan politik, ekonomi, dan hukum. Kriminalitas dan berbagai bentuk patologi sosial lainnya. Kekerasan dan pembantaian-pun tidak lepas dari bahan pemberitaan. Sampai dengan pesoalan yang paling sakral dalam kehidupan umat manusia secara umum, yaitu Agama. Masalah agama inilah yang akan dibahas secara singkat dalam tulisan ini. Maka, tugas manusia sebagai individu dan sebagai bagaian dari masyarakat adalah berusaha untuk meminimalisir (jika tidak bisa dihentikan) masalah-masalah yang mengusik kehidupan bermasyarakat tersebut. Karena, tugas tersebut merupakan kewajiban sosial setiap manusia sebagai wakil Tuhan di Bumi dan memakmurkannya.

    Pada paruh pertama abad ini, agama sekali lagi telah menjadi topik yang hangat di bicarakan oleh hampir setiap lapisan masyarakat. Politisi, ekonom, pengamat sosial, agamawan, akademisi, sampai pada lapisan masyarakat “akar rumput”. Mereka membahasnya dengan sudut pandang masing-masing dengan melihat keterkaitannya dengan agama. Tetapi, yang paling menarik dan selalu menjadi wacana yang “tegang” untuk dibicarakan adalah tentang keterlibatana agama dalam proses pembunuhan, pembantaian atau dengan istilah yang sudah sangat akrab, teorisme. Walaupun istilah ini (terorisme) cukup terkenal dikalangan hampir semua lapisan masyarakat, tetap tidak menjamin – apakah mereka benar paham (sedikit paham) dengan istilah tersebut. Karena tidak jarang di antara kita terdapat orang yang tahu istilahnya tetapi tidak paham maksudnya, apalagi sejarah, dimana dan pada siapa istilah itu dilekatkan. Nampaknya agama akan selalu menjadi wacana yang selalu menarik untuk di diskusikan, bahkan untuk diperdebatkan. Baik untuk saat ini maupun yang akan datang. Karena Agama tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat. Sebagaimana disebutkan oleh Ahmad Norma-Permata, bahwa “Agama memiliki akar sosial, dan masyarakat juga memiliki akar religius” dalam buku Agama dan Terorisme.

    Mengacu pada apa yang telah disebutkan oleh Ahmad Norma-Permata diatas. Penulis berkesimpulan, bahwa tidak mungkin agama bisa hidup dalam ruang yang hampa dari kehidupan manusia dan masyarakat. Karena sejatinya, agama ada adalah untuk manusia. Jika demikian adanya, maka sudah menjadi tantangan tersediri bagi agama untuk menjawab segala peroblema kehidupan umat manusia dan bahkan menerima tantanga dari mereka yang bersikap pesimis dengan keberadaanya. Karena tidaklah sedikit orang yang kini mencemooh keberadaan agama. Penulis tidak membicarakan salah satu agama semata, melainkan beberapa agama besar dunia. Karena setiap agama pasti mendapatkan masalah baik dari internal-penganutnya maupun dari eketernal-penentangnya.

    Kita sering mendengar kekerasan atau pembataian manusia dilakukan atas nama agama. Negara-negara seperti Amerika, Jepang, India, Afganistan, Indonesia, dan lainnya. Merupakan sedikitnya negara-negara yang pernah dilanda bencana kekerasan atan nama agama. Oleh karena kejadian-kejadian yang tidak ber-peri kemanuaan tersebut kita menjadi gelisah dan pesimis dengan keberaan agama. Bahkan mengajukan pertanyaan, apakah keberadaan agama sudah menjadi monster yang menakutkan ataukan tetap menjadi petunjuk  kedamaian dalam hidup? Benarkan daalang dibalik semua kekerasan tersebeut adalah legitimasi agama? Akankan kekerasan itu benar-benar anjuran agama, atau sekedar kendaran manusia (pemeluknya) untuk melampiaskan kekejaman hawa nafsunya? Jika benar agama menganjurkan untuk melakuakan pembantaian untuk apa agama ada dalam kehidupan manusia? Tetapi jika agama hanya dijadikan sebagai insrumen untuk melampiaskan keserakahan manusia, mengapa agama yang harus disalahkan? Setidaknya pertanyaan-pertanyaan menjadi acuan sederhana bagi kita daalam mempertimbangkan kesimpulan  yang kita pakai ketika menghadapi persolan tentang kekerasan atas nama agama.

    Agama merupakan terminologi yang sering dipakai oleh masyarakat indonesia secara umum untuk menunjuk pada suatu sistim ajaran tentang sesuatu yang adikodrati atau supra natural. Kita tahu, bahwa istilah Agama berasala dari bahasa sangsakerta yang terdiri dari kata a=tidak dan gama=kacau - artinya tidak kacau. Berdasarkan asal kata saja maka melekatkan agama dengan hal-hal yang berbau kekerasan sudah tidak sesuai. “Agama merupakan pandangan hidup yang fundamental dan sakral dalam kehidupan umat manusia. Agama melekat dalam fitrah bertuhan atau naluru beragama pada diri manusia (Madjid,1992: xvii dalam Nashir, 2000:18)”. Mahatma Gandhi mengatakan bahwa “hakikat agama adaah moralitas (Gandhi, 2009). Selain itu, “Agama dalam bentuk apapun merupakan kebutuhan ideal umat manusia (Rahmat, 1986, 36 dalam Nashir, 2000: 18).

    Berdasarkan pada definisi diatas, maka agama mengajarkan tentang moralitas, kebenaran yang tinggi dan berkaitan dengan hal-hal yang ilahiah. “Kendati faham atau tafsir mengenai ajarn agamaboleh jadi bersifat dan mengandung sejumlah khilafiah (Nashir, 2000: 18)”. Hal tersebut menunjukan bahwa kekerasan atas nama ajaran agama lagi-lagi tidak mendapat pembenaran. Walaupun ada sekelompok manusia yang memiliki kepentingan dan menggunakan agama sebagai kendaraannya. Karena siapapun memiliki peluang untuk menggunakan ajarana agama untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Terlepas untuk tujuan kebaikan dan kemanusiaan maupun untuk kejahatan dan pembunuhan. Walaupun utuk yang kedua sangat dilarang dan bahkan di kutuk oleh agama.

    Jika kita sepakat, bahwa agama mengajarkan tentang moraliats, kemanusiaan, pesaudaraan, dan perdamaian. Maka, tidak ada  kekuatan legitimasi yang dapat membenarkan anggapan ataupun peryataan bahwa agama sebagai dalang dibalik kekerasan, atau anggapan-anggapan buruk lainnya. Selain definisi agama secara umum, sebagai yang secara singkat telah disebutkan diatas. Secara singkat pula kita akan didefinisikan arti kata Islam.

    Seorang Islamolog – Maulana Muhammaad Ali, menjelaskan bahwa kata Islam makna aslinya masuk dalam perdamaian dan orang muslim (penganut agama islam) adalah orang yang damai dengan Allah dan damai dengan manusia (Muhammad Ali, 1976: 2). Selanjutnya beliau menjelaskan, Islam artinya masuk dalam salm; kata salm dan silm dua-duanya berarti damai. Setidaknya definisi diatas menjadi acuan dasar dan pembenar pertma atau sebagai pengetahuan dasar untuk menyaring segala anggapan atau ungkapan  yang mengkaitkan tindakan kekerasan dan terorisme dengan ajaran agama secara umum dan islam secara khusus.

    Setiap agama memiliki ajaran yang menjadi panutan bagi umatnya. Agama tidak mungkin mengajarkan tentang sesuatu buruk (mungkar) kepada umatnya. Jikapun ada agama yang demikian (menganjurkan hal-hal yang buruk) maka itu tidak pantas lagi di sebut agama. Adapun ajaran agama yang dislahgunakan oleh seseorang atau kelompok  untuk kepentingan masing-masing, dengan tujuan merugikan dan mengganggu perdamaian secara umum. Maka, yang patut disalhkan adalah kelopok tersebut – itupun kalau kita menggunakan “kacamat kuda” atau oposisi biner. Karena tidak ada prolem yang muncul secara tiba-tiba, melainkan terdapat suatu sebab yang menjadi pemicunya. Aksi pembantaian manusia, Bom bunuh diri di tempat umum, dan lainnya. Semua memiliki sebab yang perlu di telusuri dan di “hakimi” secara bijaksana dengan persektif holistik.

    Agama yang mengajarkan tentang moralitas, kebaikan, perdamaian dan persaudaraan sangat bertolak belakang dengan terorisme yang mengakibatkan pembunuhan (kejahatan kemanusiaan), kekacauan, dan ketakutan. Terorisme bukanlan istilah yang baru muncul. Adapun mengapa istilah tersebut (terorisme) sekarang ini dikaitkan dengan agama atau tepatnya salah satu kelompok (aliran) dalam suatu agama, karena aksi teror yang dilakukan tidak jarang melibatkan simbol-simbol dan jargon-jargon agama tertentu. Ingat! Simbol-simbol dan jargon-jargon, bukan substansi ajaranya. Sebelum istilah terorisme ini ramai dilekatkan pada aksi teror yang “berjubah agama” – meminjam istilah Buya Syafi’i – ia pernah dilekatkan pada – akibat kekerasan kemanusiaan – negara. Terorisme secara kronologis-historis muncul sebagai sebuah istilah untuk mendefinisikan kekerasan yang dilakukan oleh Negara ketika Revolusi Prancis (Ahmad N. Permata, 2003). Bukti sejarah tersebut mengingatkan kepada kita bahwa, terorisme tidak selama berkaitan dengan kekerasan atau aksi teror yang “berjubah agama”. Tetapi telah dipakai untuk menunjuk pada kasus sama dengan subyek yang berbeda dan pada waktu dan tempat yang berbeda di masa masa lampau.

    Secara umum terorisme “adalah setiap tindakan kekerasan politik yang tidak memiliki justifikasi moral dan hukum, apakah tindakan itu dilakukan suatu kelompok revolusioner atau pemerintah/Negara (Azyumardi  Azra, 2002: 80)”. Jika kita mengacu pada kamus besar Bahasa Indonesia secara terminolig bahwa kata Teror : usaha menciptakan kengerian, ketakutan, atau kekejaman. Teoris : orang yang menimbulkan kengerian ketakutan, kekejaman, atau sejenisnya. Sedangkan, Terorisme : penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik); praktik tindakan teror (lihat http://kbbi.web.id/terorisme).

    Premis I  : Semua Agama mengajarkan kedamaian.
    Premis II : Islam adalah Agama.
    Konklusi : Maka, Islam mengajarkan kedamaian.

    Premis I   : Semua kejahatan bukan ajaran Agama
    Premis II  : Terorisme adalah kejahatan
    Konklusi  : Maka, terorisme bukan ajaran Agama.

    Pada akhirnya, penulis berpendapat bahwa agama sebagai sebuah ajaran suci yang diwahyukan oleh yang Maha Pemberi Kedamaian lewat para utusan-Nya, bukan penyebab atau sebagai sumber legitimasi tindakan yang tidak manusiawi dalam bentuk apapun. Adapun pada saat ini muncul kekerasan yang menggunakan siombol-simbol dan jargon-jargon agama – jubah agama (istilah Buya Syafi’i) – tertentu untuk tujuan seseorang atau kelompok teretentu adalah merupakan kekeliruan mereka dalam menafsirkan ajaran agama melalui nash-nashnya.
    Wallahu’alam Bissowwab.....

    Yogyakarta, 07 September 2016 (Asrama Mahasiswa Sultan Abdul Kahir Bima)

    Penulis: Agus Salim
    Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Peneliti Sosial pada Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    Makna-Mu (Part II)

    Nursuciyati.
    Katakan pada udara aku akan tetap hidup tanpanya
    Katakan pada api aku akan tetap membara tanpanya
    Katakan pada air aku akan tetap ada tanpa tegukannya

    Katakan pada tanah aku akan tetap berpijak tanpanya
    Juga, katakan pada matahari aku akan tetap terang tanpa sinarnya

    Karena aku tidak yakin kalau mereka adalah kematianku yang hidup
    Dan juga aku tidak yakin kalau aku akan bisa hidup tanpa-Mu (Tuhan)


    Bima, 9 September 2016
    Karya: Nursuciyati
    Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Diwu Nggeru; Sebuah Catatan Pinggir Sungai

    PEWARTAnews.com – Diwu Nggeru, tidak ada yang pernah tahu siapa yang menamakannya demikian. Hanya sekedar mengira, dinamakan diwu nggeru karena air dari sinilah yang mengairi sawah-sawah di Tolo Nggeru. Apapun itu, Diwu Nggeru adalah sumber kehidupan, Diwu Nggeru adalah romansa masa kecil.

    Diwu Nggeru selalu punya cerita dan kenangan. Disinilah kami mulai belajar berenang, dengan telanjang dan tanpa tahu apa itu rasa malu, menyebur di dinginnya air mu. Entah berapa banyak air yang terteguk saat mengepakkan tangan berusaha untuk tidak tenggelam. Sampai akhirnya, berenang di air mu adalah kebahagiaan yang tidak ingin terlewatkan. Dari pinggiran sawah, kami melompat dengan berbagai gaya, mulai dari gaya ala perenang professional, hingga gaya palispo (salto). Semuanya terlihat begutu ceria, tertawa, bahagia. Terlihat teman-teman yang tengah asyik tertawa bermain pole, di pinggir sana terlihat ada yang coba membangun istana pasir dengan bermain mburu-mbete. Hal-hal yang begitu membahagiakan, yang tidak pernah dirasakan oleh generasi setelah kami.

    Musim hujan, adalah saat yang paling kami nanti. Hujan sore ini berarti kebahagiaan kami esok hari. Sore hari, setelah hujan turun tanpa dikomadoi semua akan berkumpul di pinggir Diwu Nggeru. Menatap air yang berwarna cokelat, melihat kayu-kayu yang hanyut atau sesekali melihat sawah-sawah yang ikut hanyut akibat derasnnya air. Jika arus tak begitu deras, berenang ditengah air cokelat Diwu Nggeru merupakan hal  yang tidak boleh terlewatkan. Kami tak sabar harus menunggu esok pagi lagi. Tak hanya itu, beberapa ada yang memancing, ada juga juga yang mengumpulkan kayu-kayu yang hanyut terbawa air. Itu berarti, dapur sore ini akan mengepul lagi.

    Bagi kami, Diwu Nggeru adalah rahmat Tuhan. Sepanjang musim airnya mengaliri sawah-sawah kami. Diwu nggeru adalah tempat bermain, tempat kami belajar arti pertemanan. Di airnya kami mencari ikan, menanam kangkung, atau mungkin memandikan kerbau. Diwu Nggeru adalah sumber kehidupan. Hingga pada suatu saat, seseorang dengan gaya parlente berdiri di pinggir dan menunjuk-nunjuk Diwu Nggeru. Ada apa dengan diwu nggeru kami? Beberapa hari kemudian, kami melihat mobil-mobil truk keluar masuk. Pertanyaan mulai muncul dikepala kami, dan bahkan saling bertanya akan di-apa-kan Diwu Nggeru? Jawaban yang kami dapatkan,bahwa Diwu Nggeru akan di jadikan sebuah bendungan. Katanya agar air di Diwu Nggeru bisa banyak tertampung. Tapi, kami bertanya kenapa harus ditampung lagi? Apakah air selama ini tidak banyak? Jawaban itu belum kami temukan hingga kami dewasa.

    Sekian lama pertanyaan itu akhirnya terjawab, ternyata air Diwu Nggeru tidak sebanyak dulu lagi. Air tersebut sudah tidak cukup lagi untuk mengairi sawah-sawah yang ada. Tapi kenapa? Bukankah selama ini Diwu Nggeru selalu mampu mengairi sawah-sawah yang ada? Kenapa Diwu Nggeru sekarang dangkal? Sehingga kami sudah tidak bisa berenang lagi di Diwu Nggeru seperti dulu.

    Diwu Nggeru adalah cerita kebahagiaan kami dulu, hilangnya hutan di Doro Cumpu membuat air diwu nggeru tak sebanyak dulu. Hutan hilang akibat manusia yang makin serakah, menebang pohon-pohon sehingga tak ada lagi yang menampung air hujan. Penduduk yang makin bertambah, sedangkan jumlah sawah semakin sedikit membuat orang-orang mulai melakukan perladangan liar dengan merusak hutan-hutan. Tapi kami masih tidak tahu siapa yang harus disalahkan? Banyak yang tahu, menebang hutan, menjual kayu dari hutan yang dilindungi adalah salah. Tapi, kenyataannya di biarkan saja, tanpa sesorangpun yang melarang. pohon-pohon tersebut ditebangi. Perladangan liar juga salah, tapi jika tidak berladang mereka akan makan apa? Bukankah sawah telah berubah menjadi rumah? Sawah yang masih tersisa juga tidak mampu dimiliki. Apakah itu salah mereka? Atau ada orang di tempat lain sana yang salah? Yang seharunya mampu untuk melarang, yang punya kewenangan dan dibayar untuk menindak mereka yang salah. Adakah orang lain disana yang bertanggung jawab? Disaat mereka disini tidak bisa makan, mereka memberikan makan karena mereka tidak punya sawah. Atau mereka yang disana, orang-orang dibalik meja juga sedang tidak makan?

    Apakah memang Diwu Nggeru memang tidak harus ada lagi? Karena jikalau pun ada, airnya tidak akan ada. Jika airnya pun ada, sawah-sawahnya tidak ada lagi. Pembangunan telah merubah sawah menjadi rumah-rumah, karena lebih mudah membangun rumah di sawah kan? Sekarang semuanya sudah berubah, orang-orang butuh rumah, mereka tidak butuh sawah. Generasi setelah kami juga sudah tidak butuh Diwu Nggeru lagi, mereka sudah punya televisi didepan mereka dan handphone di tangan mereka. Mereka tidak harus bertemu teman lagi, karena mereka bisa bertemu teman-teman di Facebook. Generasi ini tidak butuh bermain pole atau mburu-mbete lagi, karena mereka bisa bermain Clash of Clan (COC) dari handphone mereka. Jadi buat apa Diwu Nggeru harus ada lagi?

    Di masa yang akan datang, Diwu Nggeru hanya cerita yang akan kami ceritakan kepada generasi-generasi selanjutnya, mereka yang mendengar mungkin hanya akan tersenyum geli. Atau mungkin suatu saat kami akan berkumpul di Diwu Nggeru untuk mengingat apa yang pernah terjadi di tempat ini di masa lampau. Ya, itulah Diwu Nggeru yang kini menjadi ironi dan akan menjelma menjadi kenangan.



    Penulis : Muhammad Al- Irsyad, SKM.
    Koordinator Bidang Kajian dan Riset Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta.


    NB:
    Tulisan ini dibuat sebagai syarat mengikuti Kegiatan Workshop Penulisan pada tanggal 23-24 April 2016, bertempat di Gedung Pelatihan Kementerian Dalam Negeri Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta. Tulisan ini diterbitkan dikarenakan PEWARTAnews.com merupakan salahsatu media partner dalam acara tersebut.


    Filterisasi Sebagai Penangkal

    Anwar Al Fatih.
    PEWARTAnews.com – Beberapa persoalan yang terjadi di Daerah Ibu Kota Jakarta belakangan ini menjadi topik yang tengah hangat dibicarakan oleh para stackholder yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia, hal ini mengundang reaksi public karena ada indikasi  Kasus Tindak Pidana Korupsi yang melibatkan orang nomor satu di DKI Jakarta dalam hal ini Basuki Tjahja Purnama (Ahok) kaitan dengan Rumah Sakit (RS) Sumber Waras. Persoalan ini menjadi sorotan berbagai media, baik itu Media Nasional maupun media Lokal. Tentu hal ini juga tidak dilewatkan oleh para tokoh yang ada, mulai dari politisi sampai pada tokoh Intelektual dalam hal ini Mahasiswa yang memposisikan dirinya sebagai agent of change (agen perubahan) yang kemasan gerakannya berlandaskan moral of force.
        
    Namun, tidak sedikit orang yang mengira dan secara sekilas menyimpulkan bahwa persoalan ini semata-mata titik focus pembahasannya menyangkut Kasus Korupsi Rumah Sakit (RS) Sumber Waras yang diindikasikan bahwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) juga terlibat yang kasus tersebut sedang dilakukan pendalaman oleh KPK, dan dalam kasus ini tidak menutup kemungkinan Ahok pun terlibat karena dia sebagai Gubernur tentu memiliki keputusan dalam menentukan kebijakan. Akan tetapi jangan lupa bahwa, pada sisi yang lain mungkin ini merupakan bagian dari “By Design” untuk kemasan prosesi PILKADA DKI JAKARTA yang akan dilangsungkan pada tahun 2017 yang akan datang.
        
    Urgensi dari persoalan ini membawa dampak buruk terhadap Negara, lebih khusus pada Daerah Ibu Kota DKI Jakarta sebagai pusat dari segalanya. Ketika hal ini tidak secepatnya ditangani serius oleh para pemegang kekuasaan tertinggi yang ada di Negara, maka hal ini akan bumerang. Seperti yang dikemukakan oleh Drs. Redi Panuju, M. Si dalam bukunya KOMUNIKASI ORGANISASI dari Konseptual-Teoritis ke Empirik. “Ketika Mis-komunikasi terjadi akan membawa rangsangan yang membangkitkan prasangka sehingga ia menjadi sumber disintegrasi dan konflik dan sehingga tidak akan terjadi penyetaraan dalam kerangka referensi (field of references).”

    Artinya apa bahwa, dalam hal ini segala kemungkinan bisa terjadi termasuk yang dikemukakan sebelumnya. Ketika persoalan ini digiring ke wilayah keilmuan dan melakukan pendekatan dengan menggunakan hukum sebab-Akibat (Kausalitas), maka yang nampak dipermukaan dari persoalan ini merupakan akibat bukan sebab. Mengutip dalam buku MASA DEPAN KEMANUSIAAN yang dipanelkan oleh 3 orang panelis yang salah satunya Drs. Sujarwo (Semoga saya tidak salah ingat nama panelis karena buku itu sudah hilang). “Ketika kita menginternalisasi informasi dalam diri langsung menjadikan itu final tanpa melakukan filterisasi, maka cenderung akan salah.”


    Penulis: Anwar Al Fatih


    NB:
    Tulisan ini dibuat sebagai syarat mengikuti Kegiatan Workshop Penulisan pada tanggal 23-24 April 2016, bertempat di Gedung Pelatihan Kementerian Dalam Negeri Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta. Tulisan ini diterbitkan dikarenakan PEWARTAnews.com merupakan salahsatu media partner dalam acara tersebut.

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website