Headlines News :
Home » » Agama sebagai Legitimasi Kekerasan?

Agama sebagai Legitimasi Kekerasan?

Written By Pewarta News on Minggu, 04 September 2016 | 11.28

Agus Salim.
PEWARTAnews.com – Kehidupan umat manusia selalu dilanda oleh berbagai macama persoalan hidup dalam masyarakat, baik skala lokal, nasional, muapun skala internasional. Problem kehidupan bermasyarakat tersebut merupakan salah satu bukti kehidupan umat manusia yang dinamis dan berwarna. Selama hampir sehari penuh, media-media –cetak dan elektronik– mengabarkan kepada kita tentang berbagai masalah yang melanda kehidupan kita di paruh pertama ini. Masalah ketimpangan politik, ekonomi, dan hukum. Kriminalitas dan berbagai bentuk patologi sosial lainnya. Kekerasan dan pembantaian-pun tidak lepas dari bahan pemberitaan. Sampai dengan pesoalan yang paling sakral dalam kehidupan umat manusia secara umum, yaitu Agama. Masalah agama inilah yang akan dibahas secara singkat dalam tulisan ini. Maka, tugas manusia sebagai individu dan sebagai bagaian dari masyarakat adalah berusaha untuk meminimalisir (jika tidak bisa dihentikan) masalah-masalah yang mengusik kehidupan bermasyarakat tersebut. Karena, tugas tersebut merupakan kewajiban sosial setiap manusia sebagai wakil Tuhan di Bumi dan memakmurkannya.

Pada paruh pertama abad ini, agama sekali lagi telah menjadi topik yang hangat di bicarakan oleh hampir setiap lapisan masyarakat. Politisi, ekonom, pengamat sosial, agamawan, akademisi, sampai pada lapisan masyarakat “akar rumput”. Mereka membahasnya dengan sudut pandang masing-masing dengan melihat keterkaitannya dengan agama. Tetapi, yang paling menarik dan selalu menjadi wacana yang “tegang” untuk dibicarakan adalah tentang keterlibatana agama dalam proses pembunuhan, pembantaian atau dengan istilah yang sudah sangat akrab, teorisme. Walaupun istilah ini (terorisme) cukup terkenal dikalangan hampir semua lapisan masyarakat, tetap tidak menjamin – apakah mereka benar paham (sedikit paham) dengan istilah tersebut. Karena tidak jarang di antara kita terdapat orang yang tahu istilahnya tetapi tidak paham maksudnya, apalagi sejarah, dimana dan pada siapa istilah itu dilekatkan. Nampaknya agama akan selalu menjadi wacana yang selalu menarik untuk di diskusikan, bahkan untuk diperdebatkan. Baik untuk saat ini maupun yang akan datang. Karena Agama tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat. Sebagaimana disebutkan oleh Ahmad Norma-Permata, bahwa “Agama memiliki akar sosial, dan masyarakat juga memiliki akar religius” dalam buku Agama dan Terorisme.

Mengacu pada apa yang telah disebutkan oleh Ahmad Norma-Permata diatas. Penulis berkesimpulan, bahwa tidak mungkin agama bisa hidup dalam ruang yang hampa dari kehidupan manusia dan masyarakat. Karena sejatinya, agama ada adalah untuk manusia. Jika demikian adanya, maka sudah menjadi tantangan tersediri bagi agama untuk menjawab segala peroblema kehidupan umat manusia dan bahkan menerima tantanga dari mereka yang bersikap pesimis dengan keberadaanya. Karena tidaklah sedikit orang yang kini mencemooh keberadaan agama. Penulis tidak membicarakan salah satu agama semata, melainkan beberapa agama besar dunia. Karena setiap agama pasti mendapatkan masalah baik dari internal-penganutnya maupun dari eketernal-penentangnya.

Kita sering mendengar kekerasan atau pembataian manusia dilakukan atas nama agama. Negara-negara seperti Amerika, Jepang, India, Afganistan, Indonesia, dan lainnya. Merupakan sedikitnya negara-negara yang pernah dilanda bencana kekerasan atan nama agama. Oleh karena kejadian-kejadian yang tidak ber-peri kemanuaan tersebut kita menjadi gelisah dan pesimis dengan keberaan agama. Bahkan mengajukan pertanyaan, apakah keberadaan agama sudah menjadi monster yang menakutkan ataukan tetap menjadi petunjuk  kedamaian dalam hidup? Benarkan daalang dibalik semua kekerasan tersebeut adalah legitimasi agama? Akankan kekerasan itu benar-benar anjuran agama, atau sekedar kendaran manusia (pemeluknya) untuk melampiaskan kekejaman hawa nafsunya? Jika benar agama menganjurkan untuk melakuakan pembantaian untuk apa agama ada dalam kehidupan manusia? Tetapi jika agama hanya dijadikan sebagai insrumen untuk melampiaskan keserakahan manusia, mengapa agama yang harus disalahkan? Setidaknya pertanyaan-pertanyaan menjadi acuan sederhana bagi kita daalam mempertimbangkan kesimpulan  yang kita pakai ketika menghadapi persolan tentang kekerasan atas nama agama.

Agama merupakan terminologi yang sering dipakai oleh masyarakat indonesia secara umum untuk menunjuk pada suatu sistim ajaran tentang sesuatu yang adikodrati atau supra natural. Kita tahu, bahwa istilah Agama berasala dari bahasa sangsakerta yang terdiri dari kata a=tidak dan gama=kacau - artinya tidak kacau. Berdasarkan asal kata saja maka melekatkan agama dengan hal-hal yang berbau kekerasan sudah tidak sesuai. “Agama merupakan pandangan hidup yang fundamental dan sakral dalam kehidupan umat manusia. Agama melekat dalam fitrah bertuhan atau naluru beragama pada diri manusia (Madjid,1992: xvii dalam Nashir, 2000:18)”. Mahatma Gandhi mengatakan bahwa “hakikat agama adaah moralitas (Gandhi, 2009). Selain itu, “Agama dalam bentuk apapun merupakan kebutuhan ideal umat manusia (Rahmat, 1986, 36 dalam Nashir, 2000: 18).

Berdasarkan pada definisi diatas, maka agama mengajarkan tentang moralitas, kebenaran yang tinggi dan berkaitan dengan hal-hal yang ilahiah. “Kendati faham atau tafsir mengenai ajarn agamaboleh jadi bersifat dan mengandung sejumlah khilafiah (Nashir, 2000: 18)”. Hal tersebut menunjukan bahwa kekerasan atas nama ajaran agama lagi-lagi tidak mendapat pembenaran. Walaupun ada sekelompok manusia yang memiliki kepentingan dan menggunakan agama sebagai kendaraannya. Karena siapapun memiliki peluang untuk menggunakan ajarana agama untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Terlepas untuk tujuan kebaikan dan kemanusiaan maupun untuk kejahatan dan pembunuhan. Walaupun utuk yang kedua sangat dilarang dan bahkan di kutuk oleh agama.

Jika kita sepakat, bahwa agama mengajarkan tentang moraliats, kemanusiaan, pesaudaraan, dan perdamaian. Maka, tidak ada  kekuatan legitimasi yang dapat membenarkan anggapan ataupun peryataan bahwa agama sebagai dalang dibalik kekerasan, atau anggapan-anggapan buruk lainnya. Selain definisi agama secara umum, sebagai yang secara singkat telah disebutkan diatas. Secara singkat pula kita akan didefinisikan arti kata Islam.

Seorang Islamolog – Maulana Muhammaad Ali, menjelaskan bahwa kata Islam makna aslinya masuk dalam perdamaian dan orang muslim (penganut agama islam) adalah orang yang damai dengan Allah dan damai dengan manusia (Muhammad Ali, 1976: 2). Selanjutnya beliau menjelaskan, Islam artinya masuk dalam salm; kata salm dan silm dua-duanya berarti damai. Setidaknya definisi diatas menjadi acuan dasar dan pembenar pertma atau sebagai pengetahuan dasar untuk menyaring segala anggapan atau ungkapan  yang mengkaitkan tindakan kekerasan dan terorisme dengan ajaran agama secara umum dan islam secara khusus.

Setiap agama memiliki ajaran yang menjadi panutan bagi umatnya. Agama tidak mungkin mengajarkan tentang sesuatu buruk (mungkar) kepada umatnya. Jikapun ada agama yang demikian (menganjurkan hal-hal yang buruk) maka itu tidak pantas lagi di sebut agama. Adapun ajaran agama yang dislahgunakan oleh seseorang atau kelompok  untuk kepentingan masing-masing, dengan tujuan merugikan dan mengganggu perdamaian secara umum. Maka, yang patut disalhkan adalah kelopok tersebut – itupun kalau kita menggunakan “kacamat kuda” atau oposisi biner. Karena tidak ada prolem yang muncul secara tiba-tiba, melainkan terdapat suatu sebab yang menjadi pemicunya. Aksi pembantaian manusia, Bom bunuh diri di tempat umum, dan lainnya. Semua memiliki sebab yang perlu di telusuri dan di “hakimi” secara bijaksana dengan persektif holistik.

Agama yang mengajarkan tentang moralitas, kebaikan, perdamaian dan persaudaraan sangat bertolak belakang dengan terorisme yang mengakibatkan pembunuhan (kejahatan kemanusiaan), kekacauan, dan ketakutan. Terorisme bukanlan istilah yang baru muncul. Adapun mengapa istilah tersebut (terorisme) sekarang ini dikaitkan dengan agama atau tepatnya salah satu kelompok (aliran) dalam suatu agama, karena aksi teror yang dilakukan tidak jarang melibatkan simbol-simbol dan jargon-jargon agama tertentu. Ingat! Simbol-simbol dan jargon-jargon, bukan substansi ajaranya. Sebelum istilah terorisme ini ramai dilekatkan pada aksi teror yang “berjubah agama” – meminjam istilah Buya Syafi’i – ia pernah dilekatkan pada – akibat kekerasan kemanusiaan – negara. Terorisme secara kronologis-historis muncul sebagai sebuah istilah untuk mendefinisikan kekerasan yang dilakukan oleh Negara ketika Revolusi Prancis (Ahmad N. Permata, 2003). Bukti sejarah tersebut mengingatkan kepada kita bahwa, terorisme tidak selama berkaitan dengan kekerasan atau aksi teror yang “berjubah agama”. Tetapi telah dipakai untuk menunjuk pada kasus sama dengan subyek yang berbeda dan pada waktu dan tempat yang berbeda di masa masa lampau.

Secara umum terorisme “adalah setiap tindakan kekerasan politik yang tidak memiliki justifikasi moral dan hukum, apakah tindakan itu dilakukan suatu kelompok revolusioner atau pemerintah/Negara (Azyumardi  Azra, 2002: 80)”. Jika kita mengacu pada kamus besar Bahasa Indonesia secara terminolig bahwa kata Teror : usaha menciptakan kengerian, ketakutan, atau kekejaman. Teoris : orang yang menimbulkan kengerian ketakutan, kekejaman, atau sejenisnya. Sedangkan, Terorisme : penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik); praktik tindakan teror (lihat http://kbbi.web.id/terorisme).

Premis I  : Semua Agama mengajarkan kedamaian.
Premis II : Islam adalah Agama.
Konklusi : Maka, Islam mengajarkan kedamaian.

Premis I   : Semua kejahatan bukan ajaran Agama
Premis II  : Terorisme adalah kejahatan
Konklusi  : Maka, terorisme bukan ajaran Agama.

Pada akhirnya, penulis berpendapat bahwa agama sebagai sebuah ajaran suci yang diwahyukan oleh yang Maha Pemberi Kedamaian lewat para utusan-Nya, bukan penyebab atau sebagai sumber legitimasi tindakan yang tidak manusiawi dalam bentuk apapun. Adapun pada saat ini muncul kekerasan yang menggunakan siombol-simbol dan jargon-jargon agama – jubah agama (istilah Buya Syafi’i) – tertentu untuk tujuan seseorang atau kelompok teretentu adalah merupakan kekeliruan mereka dalam menafsirkan ajaran agama melalui nash-nashnya.
Wallahu’alam Bissowwab.....

Yogyakarta, 07 September 2016 (Asrama Mahasiswa Sultan Abdul Kahir Bima)

Penulis: Agus Salim
Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Peneliti Sosial pada Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website