Headlines News :
Home » , , » Diwu Nggeru; Sebuah Catatan Pinggir Sungai

Diwu Nggeru; Sebuah Catatan Pinggir Sungai

Written By Pewarta News on Minggu, 04 September 2016 | 08.15

PEWARTAnews.com – Diwu Nggeru, tidak ada yang pernah tahu siapa yang menamakannya demikian. Hanya sekedar mengira, dinamakan diwu nggeru karena air dari sinilah yang mengairi sawah-sawah di Tolo Nggeru. Apapun itu, Diwu Nggeru adalah sumber kehidupan, Diwu Nggeru adalah romansa masa kecil.

Diwu Nggeru selalu punya cerita dan kenangan. Disinilah kami mulai belajar berenang, dengan telanjang dan tanpa tahu apa itu rasa malu, menyebur di dinginnya air mu. Entah berapa banyak air yang terteguk saat mengepakkan tangan berusaha untuk tidak tenggelam. Sampai akhirnya, berenang di air mu adalah kebahagiaan yang tidak ingin terlewatkan. Dari pinggiran sawah, kami melompat dengan berbagai gaya, mulai dari gaya ala perenang professional, hingga gaya palispo (salto). Semuanya terlihat begutu ceria, tertawa, bahagia. Terlihat teman-teman yang tengah asyik tertawa bermain pole, di pinggir sana terlihat ada yang coba membangun istana pasir dengan bermain mburu-mbete. Hal-hal yang begitu membahagiakan, yang tidak pernah dirasakan oleh generasi setelah kami.

Musim hujan, adalah saat yang paling kami nanti. Hujan sore ini berarti kebahagiaan kami esok hari. Sore hari, setelah hujan turun tanpa dikomadoi semua akan berkumpul di pinggir Diwu Nggeru. Menatap air yang berwarna cokelat, melihat kayu-kayu yang hanyut atau sesekali melihat sawah-sawah yang ikut hanyut akibat derasnnya air. Jika arus tak begitu deras, berenang ditengah air cokelat Diwu Nggeru merupakan hal  yang tidak boleh terlewatkan. Kami tak sabar harus menunggu esok pagi lagi. Tak hanya itu, beberapa ada yang memancing, ada juga juga yang mengumpulkan kayu-kayu yang hanyut terbawa air. Itu berarti, dapur sore ini akan mengepul lagi.

Bagi kami, Diwu Nggeru adalah rahmat Tuhan. Sepanjang musim airnya mengaliri sawah-sawah kami. Diwu nggeru adalah tempat bermain, tempat kami belajar arti pertemanan. Di airnya kami mencari ikan, menanam kangkung, atau mungkin memandikan kerbau. Diwu Nggeru adalah sumber kehidupan. Hingga pada suatu saat, seseorang dengan gaya parlente berdiri di pinggir dan menunjuk-nunjuk Diwu Nggeru. Ada apa dengan diwu nggeru kami? Beberapa hari kemudian, kami melihat mobil-mobil truk keluar masuk. Pertanyaan mulai muncul dikepala kami, dan bahkan saling bertanya akan di-apa-kan Diwu Nggeru? Jawaban yang kami dapatkan,bahwa Diwu Nggeru akan di jadikan sebuah bendungan. Katanya agar air di Diwu Nggeru bisa banyak tertampung. Tapi, kami bertanya kenapa harus ditampung lagi? Apakah air selama ini tidak banyak? Jawaban itu belum kami temukan hingga kami dewasa.

Sekian lama pertanyaan itu akhirnya terjawab, ternyata air Diwu Nggeru tidak sebanyak dulu lagi. Air tersebut sudah tidak cukup lagi untuk mengairi sawah-sawah yang ada. Tapi kenapa? Bukankah selama ini Diwu Nggeru selalu mampu mengairi sawah-sawah yang ada? Kenapa Diwu Nggeru sekarang dangkal? Sehingga kami sudah tidak bisa berenang lagi di Diwu Nggeru seperti dulu.

Diwu Nggeru adalah cerita kebahagiaan kami dulu, hilangnya hutan di Doro Cumpu membuat air diwu nggeru tak sebanyak dulu. Hutan hilang akibat manusia yang makin serakah, menebang pohon-pohon sehingga tak ada lagi yang menampung air hujan. Penduduk yang makin bertambah, sedangkan jumlah sawah semakin sedikit membuat orang-orang mulai melakukan perladangan liar dengan merusak hutan-hutan. Tapi kami masih tidak tahu siapa yang harus disalahkan? Banyak yang tahu, menebang hutan, menjual kayu dari hutan yang dilindungi adalah salah. Tapi, kenyataannya di biarkan saja, tanpa sesorangpun yang melarang. pohon-pohon tersebut ditebangi. Perladangan liar juga salah, tapi jika tidak berladang mereka akan makan apa? Bukankah sawah telah berubah menjadi rumah? Sawah yang masih tersisa juga tidak mampu dimiliki. Apakah itu salah mereka? Atau ada orang di tempat lain sana yang salah? Yang seharunya mampu untuk melarang, yang punya kewenangan dan dibayar untuk menindak mereka yang salah. Adakah orang lain disana yang bertanggung jawab? Disaat mereka disini tidak bisa makan, mereka memberikan makan karena mereka tidak punya sawah. Atau mereka yang disana, orang-orang dibalik meja juga sedang tidak makan?

Apakah memang Diwu Nggeru memang tidak harus ada lagi? Karena jikalau pun ada, airnya tidak akan ada. Jika airnya pun ada, sawah-sawahnya tidak ada lagi. Pembangunan telah merubah sawah menjadi rumah-rumah, karena lebih mudah membangun rumah di sawah kan? Sekarang semuanya sudah berubah, orang-orang butuh rumah, mereka tidak butuh sawah. Generasi setelah kami juga sudah tidak butuh Diwu Nggeru lagi, mereka sudah punya televisi didepan mereka dan handphone di tangan mereka. Mereka tidak harus bertemu teman lagi, karena mereka bisa bertemu teman-teman di Facebook. Generasi ini tidak butuh bermain pole atau mburu-mbete lagi, karena mereka bisa bermain Clash of Clan (COC) dari handphone mereka. Jadi buat apa Diwu Nggeru harus ada lagi?

Di masa yang akan datang, Diwu Nggeru hanya cerita yang akan kami ceritakan kepada generasi-generasi selanjutnya, mereka yang mendengar mungkin hanya akan tersenyum geli. Atau mungkin suatu saat kami akan berkumpul di Diwu Nggeru untuk mengingat apa yang pernah terjadi di tempat ini di masa lampau. Ya, itulah Diwu Nggeru yang kini menjadi ironi dan akan menjelma menjadi kenangan.



Penulis : Muhammad Al- Irsyad, SKM.
Koordinator Bidang Kajian dan Riset Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta.


NB:
Tulisan ini dibuat sebagai syarat mengikuti Kegiatan Workshop Penulisan pada tanggal 23-24 April 2016, bertempat di Gedung Pelatihan Kementerian Dalam Negeri Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta. Tulisan ini diterbitkan dikarenakan PEWARTAnews.com merupakan salahsatu media partner dalam acara tersebut.


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website