Headlines News :
Home » , , » Filterisasi Sebagai Penangkal

Filterisasi Sebagai Penangkal

Written By Pewarta News on Minggu, 04 September 2016 | 07.49

Anwar Al Fatih.
PEWARTAnews.com – Beberapa persoalan yang terjadi di Daerah Ibu Kota Jakarta belakangan ini menjadi topik yang tengah hangat dibicarakan oleh para stackholder yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia, hal ini mengundang reaksi public karena ada indikasi  Kasus Tindak Pidana Korupsi yang melibatkan orang nomor satu di DKI Jakarta dalam hal ini Basuki Tjahja Purnama (Ahok) kaitan dengan Rumah Sakit (RS) Sumber Waras. Persoalan ini menjadi sorotan berbagai media, baik itu Media Nasional maupun media Lokal. Tentu hal ini juga tidak dilewatkan oleh para tokoh yang ada, mulai dari politisi sampai pada tokoh Intelektual dalam hal ini Mahasiswa yang memposisikan dirinya sebagai agent of change (agen perubahan) yang kemasan gerakannya berlandaskan moral of force.
    
Namun, tidak sedikit orang yang mengira dan secara sekilas menyimpulkan bahwa persoalan ini semata-mata titik focus pembahasannya menyangkut Kasus Korupsi Rumah Sakit (RS) Sumber Waras yang diindikasikan bahwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) juga terlibat yang kasus tersebut sedang dilakukan pendalaman oleh KPK, dan dalam kasus ini tidak menutup kemungkinan Ahok pun terlibat karena dia sebagai Gubernur tentu memiliki keputusan dalam menentukan kebijakan. Akan tetapi jangan lupa bahwa, pada sisi yang lain mungkin ini merupakan bagian dari “By Design” untuk kemasan prosesi PILKADA DKI JAKARTA yang akan dilangsungkan pada tahun 2017 yang akan datang.
    
Urgensi dari persoalan ini membawa dampak buruk terhadap Negara, lebih khusus pada Daerah Ibu Kota DKI Jakarta sebagai pusat dari segalanya. Ketika hal ini tidak secepatnya ditangani serius oleh para pemegang kekuasaan tertinggi yang ada di Negara, maka hal ini akan bumerang. Seperti yang dikemukakan oleh Drs. Redi Panuju, M. Si dalam bukunya KOMUNIKASI ORGANISASI dari Konseptual-Teoritis ke Empirik. “Ketika Mis-komunikasi terjadi akan membawa rangsangan yang membangkitkan prasangka sehingga ia menjadi sumber disintegrasi dan konflik dan sehingga tidak akan terjadi penyetaraan dalam kerangka referensi (field of references).”

Artinya apa bahwa, dalam hal ini segala kemungkinan bisa terjadi termasuk yang dikemukakan sebelumnya. Ketika persoalan ini digiring ke wilayah keilmuan dan melakukan pendekatan dengan menggunakan hukum sebab-Akibat (Kausalitas), maka yang nampak dipermukaan dari persoalan ini merupakan akibat bukan sebab. Mengutip dalam buku MASA DEPAN KEMANUSIAAN yang dipanelkan oleh 3 orang panelis yang salah satunya Drs. Sujarwo (Semoga saya tidak salah ingat nama panelis karena buku itu sudah hilang). “Ketika kita menginternalisasi informasi dalam diri langsung menjadikan itu final tanpa melakukan filterisasi, maka cenderung akan salah.”


Penulis: Anwar Al Fatih


NB:
Tulisan ini dibuat sebagai syarat mengikuti Kegiatan Workshop Penulisan pada tanggal 23-24 April 2016, bertempat di Gedung Pelatihan Kementerian Dalam Negeri Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta. Tulisan ini diterbitkan dikarenakan PEWARTAnews.com merupakan salahsatu media partner dalam acara tersebut.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website