Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    [Cerpen] Ia Bernama Mardalan

    Agus Sujadi.
    PEWARTAnews.com – Berbulan-bulan Mardalan kesasar. Sesuai ramalan bapaknya. Ketika ia dilahirkan, Mardalan keluar dr rahim ibunya hampir salah “jalan”. “Nang! Bukan itu jalannya. Yg depan!” Teriak bapaknya sewaktu dukun bayinya memberitahu detik-detik keluarnya Mardalan dari alam rahim menuju alam dunia. Oleh karena itu, sang bapak memberi nama kata ‘dalan’ yang berarti jalan. Bapaknya takut kelak sewaktu berlayar di dunia ia tersesat.

    Kini, selama berbulan-bulan ia kesasar. Meskipun sebelumnya, ia menganggap jalannya sudah pas. “Maaf, Yi. Ilmu yang jenengan kasih ternyata masih belum bisa manfaat dan banyak yang kusalahgunakan.” Renungnya dalam hati sesaat ditengah kesasarnya itu.

    ***

    Sore semakin ditinggalkan senja dan udara-udara sekitarnya mulai beruban. Matanya mulai kehilangan cahaya, Mardalan semakin tidak tahu arah. Hanya cahaya kecil tampak dipucuk cakrawala pandangnya. Ada sebuah gardu dengan lampu 2 watt.

    Tatapannya lurus. Ia menghampiri cahaya mungil itu. Tampak olehnya seseorang, namun tak jelas jenisnya, lelaki/perempuan. Langkah kakinya menciptakan irama-irama yang berpadu dengan dengung suara alam yang menciptakan melodi-melodi kesendirian. Sesampainya, “Permisi, jalan utama daerah sini kemana ya?” Tanya Mardalan dengan nada ragu-ragu.

    “Kearah sana le. Ndak jauh dari sini, nanti ikuti jalan yang besar saja.” Jawabnya dengan nada lirih dan masih belum jelas apa itu lelaki/perempuan.

    “Makasih njeh.” Tutup singkat Mardalan.

    Ragu-ragu kakinya mengarah. Ia teringat wejangan ibunya. “Semua hal itu jalan le. Tapi tidak semua jalan bisa kita lalui. Itu hanya pilihan. Mau resiko atau yang enak.” “Apakah bisa aku lalui jalanan gelap ini?” Kata hati Mardalan. Namun, apa boleh buat. Ia harus tetap menemukan jalan utama dari kesasarnya.


    Penulis: Agus Sujadi
    Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Ketua Umum PP INI Yualita Widyadhari Menerima Plakat dari Ketua PW Jawa Barat Jenny Raspati

    Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Notaris Indonesia (INI) Jawa Barat Jenny Raspati saat memberikan plakat kenang-kenangan kepada Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia (PP INI) Yualita Widyadhari pada acara Konverensi Wilayah Jawa Barat, hari Jum'at, 21 Oktober 2016. [Foto: Humas PP-INI]

    Ketua Umum PP INI Yualita Widyadhari Menerima Plakat dari Ketua PW Jawa Barat Jenny Raspati

    Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Notaris Indonesia (INI) Jawa Barat Jenny Raspati saat memberikan plakat kenang-kenangan kepada Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia (PP INI) Yualita Widyadhari pada acara Konverensi Wilayah Jawa Barat, hari Jum'at, 21 Oktober 2016. [Foto: Humas PP-INI]

    [Cerpen] Ilusi Langit

    Agus Sujadi.
    PEWARTAnews.com – Si Esot ternyata sudah lumayan berumur sejak kelulusan dari Perguruan Tinggi. Ternyata sebuah gelar dalam kehidupan tak membuatnya merasa lebih tinggi derajatnya, lebih menatap masa depan lebih cerah ataupun meminggul dunia lebih ringan, melainkan kebalikan dari hal tersebut. Dia tahu bahwa dia tak lebih tinggi dari seorang petani.
    Tatapannya kini lebih kosong dari sebelum-sebelumnya. Sedikit penghayatannya tentang arti dari Hakikat Manusia dalam kehidupan membuat ruang dan waktu yang ia kelola semakin sunyi.

    Sebelum wisuda kesarjanaan, itulah kesunyian pertama yang ia hadapi. Bahwa ilmu itu tak perlu dilabelkan, tak usahnya menjadi identitas manusia, entitas dalam realita sosial dan tak perlu menjadi simbol sebagai strata kehidupan. Ilmu sudah diwacanakan oleh Tuhan betapa tinggi derajatnya bagi yang mencari, bahkan wajiblah setiap manusia untuk terus mencarinya sejak ia lahir hingga Sang Izrail menyapa.

    Waktu berlalu, sampailah ia pada realita kehidupan dengan segala kecongkakan. Hidup seseorang harus bekerja jika tak ingin mati. Ini menjadikan alam batinnya makin sunyi. Dia tersambar petir ilusi masyarakat. Bahwa seorang sarjana itu ketika sudah lulus harus bisa bekerja. Dan wajiblah manusia itu bekerja untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, karena kewajiban manusia untuk menjaga kesehatan.

    Seorang sarjana jika menjadi petani adalah sebuah kegagalan, jika bekerja disebuah instansi, koorporasi atau digedung-gedung mewah itu baru sarjana sukses. Itu yang masyarakat katakan hari-hari ini. Lelucon yang dipaksa untuk ditertawakan. Manusia sekarang lebih berpikir untuk mendapatkan sesuatu secara instan. Kerja sekian sedikitnya, sak umbruk hasilnya.

    Suatu malam, si Esot jalan kaki menyusuri jalan dengan tujuan tak jelas. Dikeheningan malam yang penuh berkah dalam gulita, dia melihat bapak-bapak berjalan bertemankan gerobak dan seperangkat jajanan kacang, ketela juga jagung yang kesemuanya dalam rebusan.

    Malam adalah waktu di mana setiap manusia bertumpah ruah dalam hamparan kasur selembut sutera. Berangkulkan mimpi-mimpi penuh pesona. Namun, malam itu si Esot mencoba memaknai realitas kehidupan. Si bapak-bapak tersebut sedang bekerja. Pekerjaan yang tak mudah, dia harus lalui malam disaat orang harus tertidur lelap. Dia bekerja dengan peluh keringatnya hanya untuk anak istrinya. Dia bekerja karena dia tahu kewajiban sebagai manusia juga sebagai tulang punggung keluarga. Dia bekerja dengan penuh kemuliaan. Dia bukan maling ataupun perampok. Sebab ia bekerja dengan penuh keluhuran. Penuh takwa dan tawakal pada Tuhan dengan memilih malam sebagai waktu mengucurkan keringatnya.

    Dia sejenak termangu-mangu. Mencoba menangkap hakikat kerja. Di bawah sinar petromaks, wajah bapak-bapak itu bermandikan keringat. Itulah kerja dengan tumpah-ruahnya kemuliaan. Keringat menjadi saksi tertatihnya kaki. Bapak-bapak itu adalah manusia mulia yang hanya makan melalui keringatnya sendiri. Kemuliaan untuk mencukupi kebutuhan anak beserta istri.

    “Inilah kerja sejati, kerja yang penuh kemuliaan dab keluhuran,” teriak hati Esot. Dia hanya berteriak dalam hati karena ia tak mau merusak pesona malamnya bapak-bapak itu. Lalu terngiang Esot akan pesan tamparan Mbah Nun, “Yang lebih kalian cari bukanlah kebaikan, melainkan kekayaan. Yang lebih kalian buru bukanlah keluhuran, melainkan keenakan, kenyamanan; dan pada posisi seperti itu, kalian selalu merasa lebih tinggi derajat kalian dibanding dengan orang-orang kecil yang berjualan bakso, martabak, sate,....”

    Esot menatap langit yang sedang murung. Tatapan awan tersebut dia marahi. “Aku tahu bahwa engkau adalah ilusi yang mengelabuhi mataku. Engkau bukanlah langit yang sedang murung. Engkau hanya tirai kusut yang menutupi wajah langit.” Derai hujan air mata menutup kisah malam itu. Kecewa dengan seluruh mata kehidupan yang sudah tersihir dengan ilusi peradaban yang benar-benar keliru.

    Dokter Banjir
    Waktu itu sebelum kedatangan tamu bernama banjir. Sendang-sendang belakang rumah tak ada elok dengan riak, gelombang, gemercik air yang dimainkan ikan-ikan, burung-burung merpati dan kawannya yang sesekali menenggak segarnya air sendang, lalu anak-anak bebas berenang seperti di kolam renang berbintang dan ibu-ibu menimba untuk urusan kebersihan, dan hamparan pancing di sela-sela keriuhan. Tidak untuk sekarang. Itu waktu kecilku dulu.

    Pemanasan global, itu yang orang-orang intelek riwayatkan. Ternyata dia, si pemanasan global, mempengaruhi inti dari kehidupan budaya sendang. Tanah berubah akibat ulah perbuatan panasnya. Air tak pernah penuh karena tanah yang selalu kehausan.

    Anak-anak tak lagi berpeluk mesra dengan sendang. Ibu-ibu lebih asik di pemandian rumah masing-masing. Ikan-ikan punah dengan sendirinya. Burung-burung sesekali meludah. Percikan-percikan air yang tinggal riak-riak berbau tak sedap. Pancing-pancing terpajang di ketiak-ketiak rumah. Termasuk diriku yang hanya berpeluh rindu.

    Lalu, di awal tahun 2014, banjir bersilaturrahmi. Menenggelamkan apa saja yang menginjakkan kaki di bumi. Semua tenggelam bahkan ada yang menghilang, termasuk sendang, meskipun hanya sementara.

    Ada yang aku pelajari dari bertamunya banjir. Dia memberi pesan bahwa alam sedang sakit. Dia datang sekedar menjenguk alam yang sakit itu. Memijati bumi, membersihkan kotoran-kotoran disetiap pori-porinya, bahkan memandikan seperti yang sedang terjadi saat itu.

    Benar, banjir seakan seperti dokter panggilan Tuhan untuk mengobati alam di sekitarku, karena Tuhan mau menunjukkan jika Tuhan masih terlalu sayang kepada makhluk-makhluk-Nya. Kerusakan-kerusakan alam dibenahi oleh datangnya banjir yang dianggap manusia sebagai malapetaka. Benar-benar malapetaka bagi petani tambak, terlebih tambak garam.

    Seakan-akan banjir sebagai dokter. Meminta imbalan atas pengobatan kepada alamku. Setiap orang harus memberikan upeti. Yah, harus bagaimana lagi? mau tak mau harus memberikan upeti. Apapun macamnya itu. Seperti yang sudah-sudah. Pelayanan-pelayan masyarakat yang bernama rumah sakit juga seperti itu, meminta imbalan atau upah. Mereka tak mau menampung orang yang tak mampu membayar.

    Datangnya banjir ternyata mengobati sendangku yang sedang dehidrasi tinggi dan megap-megap. Tanah yang sudah terkena penyakit lepra. Air yang seperti kencing kuda. Kini kembali lagi. Tanah yang tak lagi kecut, segar dengan menumbuhkan tumbuhan-tumbuhan lagi. Air yang begitu segar dengan ikan-ikan baru yang datang untuk singgah, entah dari mana dia. Anak-anak saling melempar senyum dan air. Tak ketinggalan juga, hamparan pancing yang menghiasi keharmonisan tersebut.

    Kedatangan musibah itu pada hakikatnya adalah sedang menjenguk lalu mengobati penyakit-penyakit, memperbaiki kerusakan-kerusakan, membenahi bak di bengkel motor. Khususnya pada alam yang lepra dan manusia agar saling bercengkrama kembali, harmonis tanpa sela. Semoga keharmonisan itu terjaga selalu, dijaga Tuhan bersama makhluk-makhluk-Nya, kita, manusia.


    Penulis: Agus Sujadi
    Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    [Cerpen] Harapan Kasih Sayang Dari Seorang Ayah

    Juraidah.
    PEWARTAnews.com – Seorang Ayah merupakan tumpuan harapan dari semua anak, karena dari seorang ayah seorang anak mendapatkan kasih sayang, karena dari seorang Ayah seorang anak mencurahkan rasa cinta yang tulus, dari seorang ayah pula seorang anak merasa bangga dan senang akan kehadirannya di dunia ini. Saya ingin sekali seperti teman-teman aku yang setiap harinya mereka selalu memanggil “ayah, ayah, ayah”, saya ingin sekali seperti itu, dan juga saya ingin sekali seperti teman-temanku merasakan kasih sayang darimu Ayah, merasakan dan menikmati pelukan darimu, mendengarkan nasehatmu, perhatianmu dan memberiku semangat dan harapan disaat terjatuh dan putus harapan, dan juga saya ingin sekali ayah menanyakan tentang kabar dan keadaanku di saat aku pergi jauh seperti ini. Ya Allah kapankah aku akan merasakan semua itu? Ataukah aku memang dilahirkan untuk tidak merasakan kasih sayang seorang ayah? dan ataukah ayah membenci diriku sehingga ayah tidak pernah memberiku kasih sayang. Apa salahku ayah? katakan! Kalau memang ayah membenci ibuku jangan limpahkan pula padaku karna aku sangat membutuhkan sosokmu ayah dan mengharapkan kasih sayang tulus darimu, seperti halnya teman-temanku mendapatkan kasih sayang yang tulus dari ayahnya.

    Ayah, aku sangat iri sama teman-temanku, terkadang air mata ini akan menetes dengan sendirinya dipipi, jikalau melihat teman-temanku yang di manjain oleh seorang Ayah, di beli’in sesuatu oleh ayahnya, walau apa yang dibelikan harganya tidak seberapa, tapi dari pancaran mimik wajah mereka mengeluarkan aura bahagia yang amat besar karena telah mendapat sesuatu yang dibelikan ayahnya, apa-apa yang di minta oleh anaknya maka ayahnya akan mengabulkan permintaan anaknya, kemana pun anaknya akan pergi maka ayahnya selalu mengkhawatirkan anaknya dan tidak akan terlambat untuk menelpon anaknya menanyakan tentang kabar dan keadaan anaknya dan juga saya sangat iri ayah, melihat teman-temanku jikalau mereka akan pergi jauh mereka selalu mencium tangan ayahnya dan ayahnya mencium kening anaknya, “Ayah” saya ingin sekali seperti teman-temanku yang lain.

    Ya Allah, sampai kapan saya akan hidup seperti ini terus? hidup yang tidak pernah didampingi oleh seorang ayah, hidup yang tidak pernah dimanjain oleh seorang ayah, hidup yang tidak pernah merasakan teguran dari seorang ayah, dan hidup yang tidak pernah diatur oleh seorang ayah. Selama ini saya hanya hidup dengan seorang “Ibu” yang cukup banyak memberikan aku kasih sayang, semangat dan harapan kepadaku, saya sangat bangga pada ibuku karna dia mampu mengurus aku sampai beranjak dewasa seperti ini, walau saya tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, tetapi ibuku selalu memberikan saya kasih sayang yang begitu besar dan mengabulkan semua permintaanku, dalam hati kecilku selalu bertanya-tanya kenapa “ibuku” terlalu menyayangi ku, memanjakanku dan mengabulkan semua permintaanku? Mungkin ibuku sangat mengerti dengan keadaanku yang seperti ini, makanya ibuku memberiku kasih sayang yang begitu besar, memanjakanku yang berlebihan dan mengabulkan semua keinginanku, itu menjadi nilai tersendiri yang saya rasakan. Thank’s You Very Muach “Bunda”, karena engkau mampu memberikan aku kasih sayang yang begitu besar, dan engkau mampu menjadikan dirimu jadi dua sosok sekaligus dalam hidupku, yakni engkau menjadi seorang Ibuku dan sekaligus menjadi seorang ayah bagiku. Engkau mampu mengurusku, menasehatiku, memberiku perhatian yang cukup besar dan engkau mampu memberikan saya kebahagian yang cukup besar yang melebihi kebahagiaan yang dikasikan oleh seorang ayah, “bunda” aku sangat mencintai dan menyayangimu. Disetiap langkahku selalu mendo’akanmu “Bunda”, doaku selalu menyertaimu bunda. I Love You Forever “Bunda”.

    Ayah, saya tidak akan pernah membencimu biar bagaimana pun engkau tetap ayahku, karena tanpamu sosok dan wujudku tidak akan ada di dunia ini, tidak pernah menghirup udara segar di dunia ini, tidak pernah melihat keindahan dunia ini, tidak pernah merasakan kebahagiaan yang saya rasakan saat sekarang dan saya tidak akan pernah kenal dengan orang yang saya sayangi, walaupun ayah tidak pernah memberiku kasih sayang, tetapi saya tetap menyayangimu “Ayah”, dan saya berharap kepadamu ayah suatu saat nanti ayah akan memberiku kasih sayang melebihi kasih sayang dari ibuku karena saya sangat membutuhkan kasih sayang darimu ayah.

    “Ayah” apa ayah tau ekspresiku di sini saat saya melihat teman-temanku ditelpon oleh ayahnya dan mengangkat telpon ayahnya dan menanyakan tentang keadaan dan kabar anaknya? ”Ayah” hatiku begitu sakit, begitu hancur ayah mendengarkan pertanyaan dari ayah teman-temanku dan air mataku pun berlinang dipipiku saat saya mendengar pertanyaan itu.

    Ayah...!!! Hanya satu yang ku inginkan dari ayah untuk saat sekarang, saya hanya ingin ayah menelponku disaat saya berjauhan seperti ini, mendengarkan suara yang sangat lembut darimu ayah, saya ingin sekali ayah melontarkan pertanyaan seperti ini “anak bagaimana kabar mu nak, udah makan atau belum nak, kamu sehat-sehat saja disana nak, dan belajar yang rajin yah nak”. saya ingin sekali ayah melontarkan pertanyaan seperti itu. saya harap padamu ayah suatu saat nanti ayah akan melontarkan pertanyaan seperti itu, dan saya akan selalu berdo’a padamu ya Allah semoga suatu saat nati ayahku akan sadar supaya ayahku memberiku kasih sayang dan memenuhi keinginanku.

    Kalimat terakhir yang ingin aku ungkapkan untuk kalian yang spesial dalam hatiku “I Love You Ayah dan Bunda”


    Yogyakarta, 15 Agustus 2014
    Karya: Juraidah


    Mahasiswi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    [Puisi] Air Mengalir

    Ahmad Permadi.
    Aku adalah air mengalir
    Gemercik bersuara tanpa busana
    Lewati batu menjulang keras
    Aku sering berbelak mengikuti nurani
    Kadang menulak dan tidak sering terjun

    Aku adalah air mengalir
    Muara menanti ujung
    Setiap mengalir sangat bermakna
    Setiap terjun terasa melayang

    Apa yang kucari
    Hanyalah mengalir!
    Bukan tebing yang tinggi
    Bukan batu yang lebar
    Bukan keris yang beris
    Bukan pula memancing yang bertepi

    Aku adalah air yang mengalir dan mengalir terus
    Tak berhenti-hentinya air mengalir
    Tanpamu ku tak terhibur
    Terimakasih air mengalir

    Yogyakarta, 20 Maret 2015

    Karya: Ahmad Permadi (Santriwan Yayasan Tauhidul Ummah Pusat Yogyakarta)

    Walikota Bima M. Qurais H. Abidin saat Memberi Sambutan dihadapan Menkoor Kemaritiman

    Walikota Bima M. Qurais H. Abidin saat memberi sabutan dihadapan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Jenderal Tentara Negara Indonesia--TNI (Purn) Luhut Binsar Padjaitan yang melakukan kunjungan kerja di Kota Bima pada hari Selasa, 25 Oktober 2016. [Foto: Humas Kota Bima]

    Menko Kemaritiman Luhut Binsar Padjaitan saat Berbincang-bincang dengan Walikota dan Bupati Bima

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Jenderal Tentara Negara Indonesia--TNI (Purn) Luhut Binsar Padjaitan (baju putih) terlihat berbincang-bincang dengan Walikota Bima M. Qurais H. Abidin dan Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri saat melakukan kunjungan kerja di Kota Bima pada hari Selasa, 25 Oktober 2016. [Foto: Humas Kota Bima]

    Keluarga Besar PUSMAJA Mbojo Yogyakarta Wahyudin saat Melangsungkan Wisuda Pascasarjana UGM

    Salah satu keluarga besar Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Wahyudin, S.Kep., M.P.H. saat prosesi Wisuda Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM)  Yogyakarta pada hari Rabu, 19 Oktober 2016. [Foto: OI Bintang Revolusi]

    Ketua Umum PUSMAJA Mbojo Yogyakarta M. Jamil Saat Memberi Materi LDK FIMNY 2016

    Ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta M. Jamil, S.H. (tengah berjaket hitam) saat menghadiri undangan dan memberikan Materi tentang “Sejarah Bima dan Sejarah FIMNY” pada Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Forum Inteletual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) pada hari Jum’at, 14 Oktober 2016 bertempat di Pantai Pelangi Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. [Foto: FIMNY]

    Bupati Bima Memberi Sambutan saat Pembangunan Menara Masjid Jami' Al-Ikhlas Ncera

    Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri (tengah), saat memberikan sambutan dalam seremonial Peletakan Batu Pertama Pembangunan Menara masjid Jami' Al-Ikhlas Desa Ncera Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, pada hari Minggu, 16 Oktober 2016. [Foto: Humas Bima]

    Paul Zulkarnain, Cintanya Tertambat Di Malioboro

    Paul Zulkarnain.

    "Di antara deretan para pedagang di sepanjang Malioboro, sesekali suara khas lelaki kelahiran Bima Nusa Tenggara Barat ini menyeruak."


    PEWARTAnews.com  Sedikit lantang, sehingga kerap membuat ciut nyali calon pembeli. Tapi coba luangkan waktu sejenak untuk berbincang atau mencoba menawar barang dagangannya, maka kesan itu perlahan akan sirna, berganti dengan rasa nyaman bercakap dengan sosok satu ini. Zulkarnain nama pria ini, yang kemudian lebih dikenal dengan panggilan Bang Paul. Maka di lingkungan Malioboro, ayah tiga anak ini kemudian biasa mengenalkan diri dengan nama Paul Zulkarnain.

    “Supaya nama asli tetap ada, tapi nama yang terlanjur kesohor di Malioboro dan Jogja juga disebut,” kelakar Bang Paul, saat bertemu dengan www.jalanjogja.com, Oktober 2014.

    Memang, di kawasan jantung Kota Jogja ini, nama Bang Paul sama sekali tidak asing. Coba saja, saat ke Jogja Anda singgah di Malioboro dan bertanya ke pedagang disana, maka nama Paul pasti akan dikenal dengan baik. Bahkan, bukan hanya di lingkup pedagang perko atau emperan toko, nama Bang Paul juga dikenal luas di komunitas pengamen, tukang parkir, para pemilik toko di deretan Jalan Malioboro, hingga di sekitar Pasar Bringharjo.

    Paul, sampai sekarang tercatat sebagai salah satu pedagang kaki lima di perko. Lapaknya berada persis di depan Toko Sumber Husada dahulu Tek An Tong salah satu toko obat di deretan ini. Diseberang jalan, adalah kompleks perkantoran Kepatihan dimana Gubernur DIY Sri Sultan HB X berdinas. Setiap harinya, Bang Paul ditemani istri tercinta Winarti, berdagang aneka barang kerajinan seperti kelontong sapi, berbagai varian asbak, sepeda dan becak mini.

    Saat ini, Paul Zulkarnain ikut aktif di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro. Pria berkumis ini menjabat sebagai humas UPT. Tapi sebelumnya, Paul sudah dikenal malang melintang di kawasan Malioboro sebagai salah satu yang dituakan oleh komunitas.

    Masuk dan bergabung di Malioboro, diawali Paul di tahun 1987-an. Kala itu, Paul muda masih bekerja serabutan. Yang utama adalah menjaga dagangan kaset lagu milik orang Padang di Malioboro. Pekerjaan ini, dia peroleh setelah sebelumnya orang itu meminta bantuan Paul untuk memperbaiki alat perekam dan pemutar kaset lagu yang rusak.

    “Saya tidak minta bayaran. Tapi saya minta diperbolehkan bekerja di lapak milik orang tersebut. Dari sana saya terus belajar banyak hal, termasuk berbagai alat elektronik. Sampai memperbaiki apa pun saya bisa,” kata Paul bangga.

    Dari karyawan dan berjualan kaset lagu, cleaning service hingga bekerja di toko elektronik, Paul terus menimba pengalaman dengan bekerja di lain bidang. Bahkan setiap hari Paul pernah menjajakan lumpia dari seorang juragan di Toko Tiong San. Kemudian pernah pula menjajal peruntungan di tukang membuat stempel.

    “Sekian lama bergelut di Malioboro, lama kelamaan saya kerasan dan cinta dengan Malioboro. Apalagi di sini pula saya menemukan gadis yang kemudian menjadi pendamping hidup,” kata Paul yang kemudian melepas masa lajangnya di tahun 1989, sekalipun belum punya lapak sendiri sebagaimana dia idam-idamkan. Sampai akhirnya, kesempatan itu tiba, dan Paul mengganti rugi sebuah tempat dari seorang rekan sesama pedagang. Perjuangan panjang Paul, ternyata membawa hasil. Suatu saat, Paul kemudian diangkat menjadi ketua komunitas. Dari sana, Paul bersama pengurus yang lain terus mendorong program-program bagi komunitas Malioboro. Paul cs juga pernah mencoba menandingi Perda PKL yang dilahirkan Pemkot Jogja. Sebagai bagian dari Malioboro, Paul mengaku dapat merasakan betul keinginan dan kebutuhan para pedagang dan komunitas.

    “Mereka intinya siap dan mau ditata. Asal jangan direlokasi apalagi digusur. Kawan-kawan juga sangat kompak untuk ikut menjaga Malioboro. Bahkan, para pemilik toko juga menerima kami sebagai bagian yang tidak terpisahkan dan penting. Karena kami saling menjaga. Sejak awal, saya berusaha keras menanamkan nilai-nilai persatuan. Bukan hanya sesama pedagang tapi juga dengan semua elemen yang ada,” paparnya.



    [Puisi] Angin Pantai

    Nurul Kiftiah.
    Perlahan datang dari Selatan
    Lemah memang terasanya
    Tapi sejuknya menguasai daratan
    Angin laut tak pernah membenci angin meski kadang selalu bertabrakan

    Meski kadang manusia tak pernah berfikir rahasia dibalik Angin Pantai dan ombaknya

    Kenapa manusia harus sombong diatas tanah jika tangkai Cemara yang gugur saja tak pernah membenci angin .
    Daun kering di pasir basah tidak pernah menyesal kala angin pantai memisahkannya dengan tangkai.

    Sang penguasa langit pun tidak pernah membuat darah mengalir dari pepohonan meski beribu kali kehilangan daunnya
    Meski berapa kali harus menahan hempasan  angin
    Pun Sang Penguasa laut tidak pernah membuat karang karang laut bosan menghadapi ombak jahil yang tidak pernah diam untuk menguasai laut.

    Lalu apa yang mesti disumbangkan manusia hingga tak ingin saling memandang dalam keteduhan
    Toh manusia lebih lemah dibandingkan batu karang
    Walau sebenarnya manusia lebih hina daripada tanah-tanah basah yang rela tergilas kaki manusia yang tak pernah sadar dirinya hanya ciptaan yang rendah
    Tidak lebih rendah dari angin pantai yang membelai lembut diwajah mulus mu.

    Lalu,
    Nikmat Tuhan mu yang manakah yang kau dustakan?

    Bukan kah angin pantai ini menyadarkan kita?

    Bantul-Yoogyakarta, 16 Oktober 2016
    Karya: Nurul Kiftiah
    Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogykarta (FIMNY).


    NB: 
    Tulisan ini tercipta dalam kesejukan angin pantai "Pelangi Parangtritis, Bantul, Yogyakarta" saat Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Forum Intelektual Muda Ncera Yogykarta (FIMNY) 2016.

    [Puisi] Ladang Temu

    Agus Sujadi.
    Tapak-tapak kerbau membekas meluluhkan keras tanah
    Air langit berjatuhan membawa sejuta anugerah
    Menjadikan tanah subur
    Petani-petani pun tumbuh makmur
    Rela berpanas-panasan
    Tak peduli sekalipun hujan
    Kadang terpasung kemarau
    Kadang terjungkir banjir

    Lading ini tapak tangan kaki kita
    Menampung beda dalam caping satu rupa
    Perut tak lagi ragu
    Entah padi atau jagung, ketela maupun sagu
    Ladang di tanah subur ini membawa mata menatap batas cakrawala
    Mencangkuli hidup menanami tetumbuhan dalam ruang dan waktu

    Bawalah rupa-rupa senyuman
    Jangan ada air mata di ladang pertemuan
    Meski telah ada perkawinan rasa
    Pendam-memendam suka
    Kubur-mengubur duka
    Bahkan rindu yang merajut cinta

    Wahai Engkau matahari yang tak sekedar cahaya
    Sampai kapan Engkau tetap menyinari?
    Wahai Engkau gemawan yang tak sekedar gumpalan
    Sampai kapan Engkau tetap membasuhi diri ini?

    Salam kenal kawan,
    Ladang temu akan menuliskan cerita tentang tapak tangan kaki kita
    Senyum bibir bicara,
    Salam kenal kawan

    Yogyakarta, 5 September 2014


    Penulis: Agus Sujadi
    Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Tim Redaksi PEWARTAnews.com

    Pemimpin Umum / Pemimpin Redaksi : MJ

    Redaktur Pelaksana : Dedi P.

    Biro-Biro:
    1. Kepala Biro DIY dan Jawa Tengah: A.S. Mechi
    2. Kepala Biro Jabodetabek: Julkifli
    3. Kepala Biro Bali Nusra: Zaharudin

    Reporter : Nurul Kiftiah, Juraidah, Nursuciyati.

    Web IT : MJ

    Marketing dan Strategis Tim : MJ

    Social Media : MJ

    Alamat Redaksi: Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55198.
    Email: redaksi@pewartanews.com, pewartanews@gmail.com
    Twitter: @PewartaNews
    FunPage FB: PewartaNews.com
    Facebook: PewartaNews
    CP: 085225777814

    BERHATI-HATILAH terhadap segala bentuk penipuan yang mengatasnamaka PEWARTAnews.com. Setiap petugas lapang kami bekali dengan tanda pengenal resmi dalam setiap kali tugas liputan dll.

    [CERPEN] Peradaban Gengsiologi dan Egosentris Ditampar Ibu-Ibu

    Agus Sujadi.
    PEWARTAnews.com – Gengsiisme dan egosentris, dua sahabat diri yang lama kukenal tapi tak begitu kukenal. Awal perjumpaanku itu ketika aku masih berseragam putih abu-abu. Sejak ibu menggantikan peran bu likku yang setiap hari aktif sekolah membuat jajanan untuk cemilan para pahlawan tanpa tanda jasa ketika jam istirahat. Sejak pengambilalihan pekerjaan tersebut aku juga mendapat tugas tambahan dari ibu, setiap masuk sekolah membawa jajanan untuk dimakan para pahlawan tersebut.

    Aku merasa ada getaran dalam hati. Getaran yang terjadi tersebab membawa jajanan yang akan dimakan oleh mereka yang selalu aku kagumi, hormati. Merekalah yang mengajariku setiap hari. Dari guru muda hingga yang sudah sepuh. Yang berijazah ataupun tidak. Yang terakhir itulah yang paling aku kagumi. Tanpa ijazah, dialah sang Guru, Kiai, ulama kampung dengan sejuta kharismatik dibanding seorang presiden, menteri, bahkan gubernur ataupun bupati.

    Tapi sejak itu pula aku mengenal sahabat yang bernama gengsiisme dan egosentris. Ungkapan wujud jiwa manusia, khususnya seorang pemuda sepertiku yang masih dibawah umur 17 tahun tak lain adalah gengsiologi. Keilmuan yang membahas kegengsian remaja. Gengsi yang berupa bentuk rasa malu yang sebenarnya sebuah kemuliaan, namun kemuliaan tersebut dibilang kolot, tidak zaman, basi, lebih-lebih tidak mengikuti pergaulan dan peradaban zaman. Bagaimana tidak? aku yang setiap harinya bergaul dengan teman sejawat tidak ada yang seperti aku. Setiap harinya membawa jajanan ke sekolah. Malu dong.

    Masak seorang pemuda dengan peradaban post-modern membawa jajanan untuk dijual. Gengsi sekolah ya membawa motor, berseragam necis, tas dan perabotan sekolah yang serba wah. Lah ini, masak malah bawa jajanan. Pakai sepeda lagi. Gengsiisme tingkat dewa ini namanya. Dilihat oleh teman-teman, adik kelas juga kakak kelas. Bahkan yang perempuan. Bheh!

    Aku yang sewujudnya kawula muda, yang seharusnya lebih berperadaban post-modern dengan segala teknologi dan perkembangan zaman. Tidak seharusnya aku melakukan hal yang ketinggalan tersebut. Apa-apaan itu?

    Peradaban sekarang memang lucu. Sebuah kemuliaan dianggap hal yang lusuh. Tapi, hal itu sudah dipelajari dalam-dalam oleh ibuku sendiri. Ternyata sejak beliau kecil, semasa kanak-kanaknya kesehariannya selain sekolah adalah menggembala kambing dan menjadi kuli garam. Sekarang aku dapat mempelajari hal itu. Sungguh pelajaran yang sangat sederhana, namun begitu berharganya.

    Dari hari ke hari. Sedikit demi sedikit mulai hilang rasa gengsi dan egosentris tersebut. Hingga bisnis tersebut juga semakin meluas. Dari warung ke warung mulai dilobi ibu. Membuat diriku semakin banyak tugas pula. Bahkan aku yang biasanya bangun fajar hanya sekedar beritual ria harus menyisihkan tenaga untuk memasang tangan dan kaki untuk membantu ibu di dapur. Ketika shubuh berkumandang, itulah sejenak aku istirahat disurau untuk berteriak-teriak membangunkan tetangga-tetangga yang sedang berlalu lalang dalam dunia mimpi yang begitu murni tanpa intrik apapun.

    Subuh berlalu, aku berkeliling desa. Dari warung ke warung. Di sana tidak kutemukan remaja-remaja yang sudah berkeliling. Yang kutemui hanya ibu-ibu dengan segala perabotan pasar, perbelanjaan dari warung, ada pula yang ngangsu untuk sekedar kebersihan negara berumah tangga. Ada pula bapak-bapak, mereka bercaping, bersepeda tua. Rata-rata dari sebaya hingga lanjut usia. Mereka adalah petani yang penuh kewibawaan seorang petani. Petani tambak dan petani sawah.

    Kearifan yang baru kusadari sekarang yang sudah kulakukan sejak berumur 15 tahun. Berkomunikasi dengan pemili perempuan di warung yang rata-rata juga berumur sebaya dan lanjut usia. Berdialog dengan orang tua terlebih ibu-ibu ternyata ada kesan tersendiri untukku. Mereka terkadang memujiku karena sebelum subuh berkumandang aku sudah membantu ibu. Berbeda dengan kebanyakan remaja lakukan. Entah pujian tersebut karena benar-benar senang atas yang kuperbuat atau bukan, yang penting bentuk pujian tersebut sesungguhnya hanya milik Tuhan semata.

    Secara tidak langsung, pujian tersebut merupakan sebuah tamparan terhadap peradaban zaman post-modern. Yang dipertanyakan eksistensi manusia remaja sekarang. Antara Gengsiisme dan egosentris. Tanpa uang saku lebih banyak si Budi tak berangkat sekolah. Tanpa motor untuk sekedar berkendara ke sekolah si Ani tidak mau sekolah. Dan terakhir aku mendengar keluhan dari seorang bapak-bapak, jika anaknya tidak dibelikan motor Ninja akan pergi dari rumah.

    Lalu aku sejenak membayangkan diriku menuntut orang tuaku untuk sekedar gengsi dan ego. Iya kalau mereka ber-uang. Kebetulan kehidupan yang pas-pasan. Apakah mereka akan menuruti apa yang aku punya? Mungkin aku akan diambilkan sebuah kayu untuk sekedar dapat pelajaran tambahan di luar sekolah.


    Penulis: Agus Sujadi
    Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Antologi Puisi Aku Kau dan Mereka, Upaya Apik Untuk Mengkritik

    Buku Antara Aku Kau dan Mereka
    PEWARTAnews.com – Buku Antara Aku Kau dan Mereka (sebuah antologi puisi) yang ditulis oleh M. Jamil dan Dedi Purwanto. Buku ini merupakan kumpulan puisi yang dipoles mejadi satu buku (antologi puisi). Didalamnya terdapat delapan puluh puisi yang terdiri dari 34 puisi karangan M. Jamil dan 46 puisi karangan Dedi Purwanto.

    Puisi-puisi dalam buku ini, ditulis oleh para penulisnya mulai dari tahun 2010-2014. Dengan membaca buku ini, paling tidak para pembaca akan mengetahui sebagian perjalanan hidup para penulisnya yang tergambar dalam bait-bait puisinya.

    Adakalanya pemerintah dan wakil rakyat dalam pengambilan kebijakan-kebijakan tidak memihak kepada rakyat. Dalam buku ini, bentuk apik yang dilakukan oleh para penulisnya untuk mengkritik kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyak, salahsatu contohnya dalam puisinya “Kicauan Kosong” di halaman 49-51. Dalam puisi ini penulis melemparkan kritikan yang pedas untuk para wakil rakyat yang ketika ia datang ke masyarakat sebelum menjadi  wakil rakyat dengan membawa seribu janji manisnya, dan ketika sudah menjadi wakil rakyat seperti yang diharapkannya, maka kebanyakan mengabaikan janji-janji manis itu. Berikut beberapa baris puisi tersebut, “Hei kau yang disana, Kicauanmu hanyalah kicauan kosong, Kicauanmu hanyalah kicauan kosong, Apakah masih pantas menyandang gelar sebagai “WAKIL”, Apakah masih pantas?” (halaman 51).

    Dalam buku ini juga tergambar kisah perjalanan spiritual dari penulisnya. Seperti halnya bait pertama dari puisi yang berjudul “Titik Akhir” yang ditulis oleh saudara Dedi Purwanto. Berikut kutipan bait tersebut, “Ketika nada telah sudi untuk beralun, Senandung makna ber-sujud pada kekasihnya, Gelombang sinar fajar meluapkan do'anya, Pelita semesta malam meniduri kesunyian, Angkuh tunduk pada pertapaan yang sempurna”, (halaman 89).

    Akhir kata, selain jadi penambah referensi dalam sastra puisi, buku ini sangat layak dijadikan bahan renungan bagi semua penikmat sastra.

    Judul Buku      : Antara Aku Kau dan Mereka (sebuah antologi puisi)
    Penulis     : M. Jamil dan Dedi Purwanto
    Penerbit   : FIMNYPress
    Cetakan           : November 2014
    Halaman   : 187 halaman
    Harga        : Rp35.000,-
    Peresensi : Julkifli

    [CERPEN] Kearifan Malam Seorang Kuli Garam dan Pasir

    Agus Sujadi.
    PEWARTAnews.com – Tiba-tiba saja sang waktu membawaku kepada masa-masa itu. Jejak pemerantauan pertamaku. Pulang pergi Pati-Yogya nebeng truk pengangkut garam ketika ke Yogja dan truk pengangut pasir ketika pulang. Awalnya berkawan, namun lama kelamaan tinggal aku sendiri yang bertahan. Bertahan hingga beberapa tahun.

    Harmoni perjalanan yang tak pernah kujumpai jalanan. Jejak-jejak itu masih sangat kukenang. Ketika aku pergi, 6 hingga 7 jam aku dalam sebuah truk garam. tidur beralaskan tumpukan-tumpukan garam. Dari yang cetakan hingga karungan. Semoga tak ada lagi dizaman yang sudah modern ini yang merasakan hal itu. Apabila masih ada, kudoakan semoga mendapatkan kenikmatan-kenimatannya. Pahitnya hiraukan saja. Karena lebih enak jika kita berbicara tentang kenikmatan, apalagi dengan seduhan kopi.

    Tidur beralaskan garam beratapkan terpal, jalanan saja tak kujumpai dalam selingan mataku, apalagi langit-langit malam yang penuh kesyahduan. Yang kurasakan waktu itu adalah kehangatan dari panas yang dihasilkan garam. Lalu semilir angin berhembus dari sebuah gesekan kecepatan terhadap angin yang masuk dari sela-sela terpal yang masih terbuka. Rasanya itu di bawah panas, di atas dingin.

    Sayangnya, paling-paling hanya beberapa menit kenikmatan tidur dirasa. Setiap jengkal jalanan wilayah Pati-Solo penuh dengan pori-pori jalanan. Kadang juga kudengar gemericik keringatnya yang menggenang oleh ban-ban truk yang menginjakkan kakinya digenangan keringat jalanan.

    Lalu perjalanan pulang. Sejak pukul 4 sore aku bersiap diri dan masih tetap dibak truk. Tidur di atas pasir. Seperti bintang-bintang film saja diriku ini. Tidur di atas pasir bah aktor dipinggiran pantai sedang menjulurkan tubuh pada sang mentari. Bedanya hanya soal kehangatan matahari dan dinginnya selimut malam yang terkadang hujan yang sesekali begitu derasnya.

    Pernah sekali aku dibak truk tersebut kosong tanpa pasir waktu pulang, karena sudah diturunkan oleh kuli dalam truk di rumah pemesan. Kebetulan langit begitu murung. Entah perbuatan apa yang membuatnya sebegitu murungnya. Semoga itu hanya keberkahan langit yang sedang berjatuhan dan siap untuk disebarluasan kepada seluruh umat manusia. Benar-benar sebuah anugerah malam. Terpal yang sudah digulung sebelum turun hujan, tiba-tiba tak lama jalan hujan mengguyur seluruh badan. Uh, kenikamatan mana yang bisa kudustakan?

    Seperti terdampar dalam hutan. Berlindung di bawah terpal dan berdoa semoga cepat reda. Doa bukan menolak anugerah hujan. Tapi karena anugerah yang begitu banyaknya tak mampu ku tampung lama-lama.

    Tapi bukan itu kenikmatannya. Aku melihat beberapa orang yang bekerja di truk tersebut untuk menjadi kuli pengangkut garam dan pencangkul pasir. Ketika mereka bekerja aku hanya termangu, terdiam dipojokan, kadang pula diketiak truk. Karena sesekali aku menawarkan tubuhku untuk sekedar membantu sering ditolak dengan paksa.

    Mereka lebih merasa terhormat apabila bekerja dengan penuh dirinya sendiri. Tanpa bantuan apalagi belas kasihan orang lain. Mereka seakan-akan sudah nyawiji dengan pekerjaannya. 'Bekerja ya bekerja, bukan dibantu atau dikasihi', pikirku. Tapi hasil menejemen sopan santun juga moralitas yang sudah dididik oleh lingkungan terutama keluarga, bantuan yang kutawarkan adalah bentuk rasa terima kasihku, yang berkat bantuannya aku bisa berjuang di tanah perantauan ini seperti mereka yang telah bekerja yang menyusuri jalanan menjilati garam dan pasir.

    Lalu aku di sini saat ini. Di dalam kamar tidur beralaskan yang lebih empuk daripada garam atau pasir, dengan malam yang bisa kubelai. Juga langit yang setiap waktu bisa kurangkul. Lebih-lebih dengan tanah yang tak bergerak atau berjalan terombang-ambing. Saat ini mereka pasti dalam perjalanan ke Yogya atau kalau tidak masih bergumul dengan pasir, tidurnya yang pernah kurasakan kuharap lebih ditenangkan.

    Haqqul yaqin, Tuhan itu setiap malam menurunkan kenikmatan-kenikmatan di saat orang-orang tertidur lelap. Semoga kenikmatan tersebut terbelaikan mereka dan diberi malam-malam yang penuh kenikmatan dengan permenungan dan kearifan.

    Yogyakarta, Agustus-September 2014


    Penulis: Agus Sujadi
    Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Peletakan Batu Pertama Menara Masjid Jami' Al-Ikhlas Desa Ncera Dilakukan Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri

    Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri saat melakukan peletakan batu pertama pembangunan menara masjid Jami' Al-Ikhlas Desa Ncera (16/10/2016). Foto: Humas Bima.
    Kabupaten Bima, PEWARTAnews.com – Ncera merupakan salah satu Desa yang terletak di kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Di Desa Ncera terdapat Masjid besar bernama Jami' Al-Ikhlas Desa Ncera Kecamatan Belo.

    Pada Hari Minggu, 16 Oktober 2016 masjid Jami Al-Ikhlas Desa Ncera membangun menara yang direncanakan setinggi 26 meter ditandai dengan Peletakan Batu Pertama oleh Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri.

    Menurut siaran pers yang disebarluaskan oleh Humas Protokol Kabupaten Bima mengatakan bahwasanya Bupati didampingi Asisten I Bidang Pemerintah dan Kesra Setda, Kepala BKD dan Kabag Administrasi Kesra Setda Drs. H. Abdul Muis, HAL., M.Kes., beberapa waktu sebelum melakukan peletakan batu pertama dilakukan seremonial, dalam kesemtan itu, Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri mengatakan, “kekompakan merupakan modal penting bagi masyarakat khususnya kaum muslimin desa Ncera dalam membangun masjid. Di dalam membangun sarana ibadah, masyarakat tidak hanya bisa mengandalkan bantuan pemerintah tetapi yang terpenting adalah kebulatan tekad, permufakatan dan kebersamaan dalam membangun masjid. Inilah yang modal penting agar rumah ibadah ini dapat selesai sesuai rencana dan dapat segera dimanfaatkan untuk kegiatan ibadah”. Tandas Bupati Bima dalam siaran pers tersebut.

    Masih dalam siaran pers, lebih jauh Bupati perempuan pertama di Bima itu mengatakan, bahwa masjid merupakan aset bersama yang harus menjadi kebanggaan masyarakat untuk dijaga keindahan dan keasriannya. Kepada masyarakat yang mayoritas petani, Bupati berharap agar tidak lupa menyisihkan rejeki dari hasil pertanian maupun zakat mal lainnya, yang mudah-mudahan akan manfaat bagi kegiatan syiar Islam di desa Ncera dan juga secara umum di kecamatan Belo.

    Pada saat mengakhiri sambutannya, Bupati menghimbau agar seluruh lapisan masyarakat Desa Ncera selalu menjaga kebersamaan agar pembangunan di desa mendapatkan dukungan semua elemen masyarakat.

    Masih dalam siaran pers, pada kesemptan yang sama, ketua panitia pembangunan H. Ismail mengatakan, “masyarakat desa Ncera sangat antusias membangun masjid dan hal ini terbukti dalam tiga tahun terakhir semangat tersebut diwujudkan dalam bentuk kegiatan gotong-royong di mana pada tahun 2013 sampai 2014 masyarakat setempat mengerjakan pembuatan plafon masjid dengan menggunakan lebih dari satu 180 pohon jati secara swadaya atau senilai Rp. 180 juta”. paparnya memberi informasi.

    Lebih lanjut Ismail mengatakan, “berikutnya pada tahun 2015 masyarakat desa Ncera secara bersama-sama telah selesai membangun kubah masjid dengan anggaran Rp 120 juta. Alhamdulillah semangat itu pula yang ditunjukkan pada tahun 2016 ini dengan melakukan pembuatan emperan masjid dengan anggaran Rp. 35 juta dan pembangunan menara dengan dana lebih dari Rp 700 juta”. Ismail memberi uraian.

    Demi keberlanjutan dalam pelaksanaan pembangunan yang telah direncanakan, H. Ismail selaku ketua panitia pembangunan berharap adanya dukungan dari pemerintah kabupaten Bima agar bangunan menara tersebut dapat terealisasi sesuai waktu yang telah direncanakan. Terkait bantuan dana dari pemerintah, menurut siaran pers Humas Protokol Kabupaten Bima menginfokan bahwaannya pada kesepatan tersebut Bupati Bima menyerahkan bantuan pribadi senilai Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah), sedangkan bantuan dari pemerintah daerah akan mengacu pada proposal dari panitia pembangunan. (PEWARTAnews)

    Pemateri LDK FIMNY 2016, Eka Putra Budiyadi Santoso: Sayapun Tertegun, Pertanyaan-Pertanyaan Cerdas Mereka (Peserta LDK) Layangkan dengan Penuh Percaya Diri

    Eka Putra Budiyadi Santoso, S.E. usai menyampaikan materi LDK FIMNY 2016.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) melangsungkan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) pada tanggal 14-15 Oktober 2016 dengan mengangkat tema “Membentuk Insan Ulil Al-Bab Yang Berjiwa Pancasila”, bertempat di Pantai Pelangi, Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Para peserta di godok oleh 7 pemateri untuk membentuk jati dirinya, salahsatu pematerinya adalah Eka Putra Budiyadi Santoso, S.E. yang menyampaikan materi tentang “Kemahasiswaan”, disampaikan pada hari Sabtu, 15 Oktobe 2016 jam 10.00-selesai.

    Eka Putra Budiyadi Santoso, S.E. merupakan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, beberapa waktu lalu melangsungkan Seminar Proposal Tesis di UIN Sunan Kalijaga dengan judul “Identitas Islam Pasca Pembentukan Propinsi Gorontalo”. Pria asal Gorontalo ini, pada 30 Agustus 2016 pernah menjadi salahsatu juara “Pemenang Lomba Gugatan & Solusi Gorontalo 5 Besar Provinsi Termiskin di Indonesia” yang diselenggarakan atas kerja sama Dewi Sartika Hemeso, S.E., (Anggota DPD RI Komite IV) dan Gorontalo Menggugat.

    Pemateri merasakan kenyamanan dan keteduhan saat membersamai keluarga besar FIMNY saat LDK, seakan-akan ia berada di rumah sendiri. “Ada rasa semacam di rumah sendiri, ketika adik-adik dari Bima NTB ini mengundang saya untuk sedikit berbagi tentang Esensial Nilai dari seorang Mahasiswa”, kenang Eka Putra Budiyadi Santoso, S.E. melalui status akun facebook pribadinya “Ekaputra Mohammad Santoso” pada 15 Oktober 2016 sekitar jam 19:35 WIB.

    Lebih jauh, lelaki yang kini semester 3 Pascasarjana mengungkapkan kekagumannya atas pertnyaan-pertanyaan cerdas yang telah dilontarkan para peserta LDK FIMNY 2016. “Sayapun tertegun, pertanyaan2 cerdas mereka (Peserta LDK FIMNY 2016 -red) layangkan dengan penuh percaya diri.” bebernya.

    Selanjutnya, masih di status facebook yang sama Eka Putra Budiyadi Santoso mengungkapkan, “Selamat memasuki dunia Kampus. semoga sedikit, bahkan minimnya pengetahuan saya tentang dunia kemahasiswaan akan membantu adik2 sekalian membentuk alam nalar kritis berfikir.” pesannya seraya mendoakan. [PEWARTAnews]

    LDK FIMNY 2016, Ini Dia Para Pemateri yang Telah Menggodok Jati Diri Peserta

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) melangsungkan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) pada tanggal 14-15 Oktober 2016 dengan mengangkat tema “Membentuk Insan Ulil Al-Bab Yang Berjiwa Pancasila”, bertempat di Pantai Pelangi, Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Para peserta di godok oleh 7 pemateri untuk membentuk jati dirinya. Berikut  para pemateri yang telah memberikan materi saat LDK FIMNY 2016.

    Ismail, S.H.I.
    Pemateri Pertama, Ismail, S.H.I., menyampaikan materi tentang “Ketauhidan”. Saat ini beliau sedang melanjutkan studi pada Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain itu, Ismail merupakan salahsatu tokoh Pendiri FIMNY dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY). Dalam dunia organiasi, saat ini juga Ismail sedang menjabat sebagai salahsatu pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta.

    M. Jamil, S.H.
    Pemateri Kedua, M. Jamil, S.H., menyampaikan materi tentang “Sejarah Bima dan Sejarah FIMNY”. Lelaki penyuka orgaisasi ini merupakan salahsatu Senior Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY). Di lingkaran struktural FIMNY, Mahasiswa Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini pernah menduduki 3 posisi struktural, yakni sebagai Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum, dan Koordinator Bidang Sumber Daya Manusia (Bidang SDM). Saat ini M. Jamil, S.H. sedang menjabat sebagai Ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta. Pemuda asal Ncera, Belo, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, semasa kuliah Strata Satu pernah menjadi Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Ashram Bangsa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Periode 2010-2012, menjabat Sekretaris Jenderal Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, periode 2011-2013, salahsatu Pengurus Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Periode 2011-2012.

    Selain itu, M. Jamil, S.H. saat ini sedang menjabat sebagai Pengurus Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kota Yogyakarta Periode 2015-2018 Divisi Publikasi dan Kerjasama Lembaga, sejak 01 Juli 2015, dan juga menjadi Wakil Sekretaris Umum Forum Silaturahim Weki Ndai Mbojo-Yogyakarta Periode 2016-2021.

    Eka Putra Budiyadi Santoso, S.E.
    Pemateri Ketiga, Eka Putra Budiyadi Santoso, S.E., menyampaikan materi tentang “Kemahasiswaan”. Saat ini beliau merupakan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, beberapa waktu lalu melangsungkan Seminar Proposal Tesis di UIN Sunan Kalijaga dengan judul “Identitas Islam Pasca Pembentukan Propinsi Gorontalo”. Pria asal Gorontalo ini, pada 30 Agustus 2016 pernah menjadi salahsatu juara “Pemenang Lomba Gugatan & Solusi Gorontalo 5 Besar Provinsi Termiskin di Indonesia” yang diselenggarakan atas kerja sama Dewi Sartika Hemeso, S.E., (Anggota DPD RI Komite IV) dan Gorontalo Menggugat.

    Dedi Purwanto.
    Pemateri Keempat, Dedi Purwanto, menyampaikan materi tentang “Wawasan Kebangsaan”. Dalam Stuktural Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) pernah menjabat sebagai Ketua Umum pada Periode 2013-2015. Saat ini Dedi Purwanto sedang menempuh studi strata satu (S1) pada Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam lingkaran organisasi, saat ini ia sedang menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY).

    Hasrul Buamona, S.H., M.H.
    Pemateri Kelima, Hasrul Buamona, S.H., M.H., menyampaikan materi tentang “Organisasi dan Kepemimpinan”. Mahasiswa Doktor Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini merupakan Mantan Ketua Internal Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY 2014-2016). Pemuda yang energik ini merupakan seorang Advokat Publik dan pernah mengabdikan dirinya pada Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Menulis merupakan rutinitas wajib pemuda asal Maluku ini, banyak karya buku yang telah tulis, dua buku diantaranya adalah buku “Tanggung Jawab Pidana Dokter dalam Kesalahan Medis” dan buku “Langkah-langkah Jitu Menjadi Advokat Sukses”.

    Dr. Abdul Malik, S.Pd., M.Pd., M.Ag.
    Pemateri Keenam, Dr. Abdul Malik, S.Pd., M.Pd., M.Ag., menyampaikan materi tentang “Analisis Sosial”. Salah satu Senior Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta ini baru menyelesaikan ujian tertutup Doktoral pada Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan judul disertasi “Pendidikan Pesantren dan Radikalisme”. Lelaki yang semasa studi stara dua (S2)-nya dua kampus (Universitas Negeri Yogyakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) ini, kini masih menunggu jadwal untuk ujian terbuka doktoralnya. Selain itu, Pemuda Asal Bima, Nusa Tenggra Barat ini merupakan salah satu Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram.

    Buhari Muslim.
    Pemateri Ketujuh, Buhari Muslim, menyampaikan materi tentang “Teknik Persidangan dalam Organisasi”. Pemuda asal Ncera, Belo, Bima, NTB ini merupakan Senior Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum FIMNY Periode 2011-2013. Lelaki kecil-kecil cabe rawit ini sedang menempuh pendidikan strata satu (S1) pada jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. [Jul / PEWARTAnews]


    Aroma Kampung Halaman di Yogyakarta

    Agus Sujadi.
    PEWARTAnews.com – Hari ini (Sabtu, 5 Juli 2014), aroma-aroma kampung halaman begitu menusuk hidung, bahkan pori-pori kulit sampai mengucurkan keringat. Siang hari, setelah bersenandung-cium ritual dhuhur, bertemankan debu dan terik sang siang, ku tancap gas sepeda motor dekil menuju mes Kedai Nusantara, di sana sudah ditunggunya akang Ahmad Fauzi.

    Pintu besar ku dorong menimbulkan suara lirih gemrisik. Di sudut bangku yang tertata rapi dia duduk nglengsreh bertemankan sebuah laptop, ditontonnya Megawati dari Youtube dalam acara Mata Najwa. Kekhusyukkannya itu tak bisa bertahan lama setelah kedatanganku. Beberapa obrolan mengawali sebuah cerita hari ini.

    Seperti biasa, acara kartun jadi tontonan pertama, Hunter X Hunter dan One Peace. Lucu si, dua orang yang tak lagi kanak-kanak tontonannya adalah kartun. Alasan kecilnya menonton kartun itu karena pelajaran dasar sebagai manusia. Karakter tokoh utama yang menggambarkan betapa konyolnya hidup ini yang diciptakan oleh Yang Maha Dzat Humor.

    Sore dengan batang-batang emas sinar matahari menerobos sela-sela dedaunan dan kaca. Hmm, waktunya untuk sejenak bersua dengan Tuhan. Senja pun ikut mengetuk langit. "Aduso sek bro (sana mandi dulu bro)", cibirku. "Iyo e, sedino durung adus (iya e, seharian belum mandi)", jawabnya. Bergantian kami mandi. Dan hmm, menjadilah dua orang pemuda dengan binar mata dan raut muka yang berseri-seri.

    "Ayo mangkat Gejayan (ayo berangkat ke Gejayan)", ajak akang Fauzi.  "Lho aya ah (lho ayo)", jawabku. Seperti biasa, bersandang klasik, sarungan ala santri dan penuh pedenya menjajaki jalanan kota yang riuh dengan imperialisme, hedonisme, kapitalisme, feodalisme, fasionisme dan isme-isme yang lain. Berdua menunggangi sebuah sepeda motor dekil tadi dengan penuh kenikmatan, pelan-pelan hingga belaian angin begitu sepoi masuk ke dalam sela-sela helm dan sarung, adem.

    Ke Gejayan itu tak lain hanya ingin menenggak rindu. Rindu dengan keluarga Jadid. Keluarga baru yang tak baru. Keluarga yang sudah membesarkan aku selama 4 tahun lebih di Yogyakarta. Dan keluarga yang sudah menampung kami berdua. Naungan kami itu adalah sebuah masjid, Fatahillah namanya. Ya, kami adalah takmir masjid Fatahillah, Gejayan.

    Di perempatan Ring Road Utara Gejayan terlihat dari kejauhan salah seorang ibu kami yang sedang berjualan gorengan di pinggir jalan, utara perempatan atau utara apotek Gejayan. Beliau salah satu ibuku. Mampirlah ke sana jika melewati. Traffic light sudah hijau, pelan-pelan kami menuju warung gorengan tersebut. Sengaja tak ku klakson, sebab kondisi sedang macet, ya di jalan ya yang jualan. Syukur pada Tuhan sudah membuat antrian panjang untuk membeli gorengan.

    Dalam hitungan 2 menit kubah mesjid mentereng nun mengkilat menghipnotis akalku. Bheh, rindu kemarin meleleh membasahi jantung yang detaknya semakin mendekat semakin berdegup kencang. Tepat aku menyandarkan motor. Diki berlari dikejar Desi diikuti Dika dan Akmal. Suasana hatiku pecah. Anak-anak berlarian memecah keheningan akal. Mereka tiba-tiba berhenti kejar-kejaran karena melihat kami. "Mas Agus, Mas Fauzi", teriak mereka. Satu persatu menyalami. Kang Fauzi yang lebih lama tak menyambangi Fatahillah mencoba mengingat-mengingat nama mereka. Kalau aku, ingatanku masih setia dengan mereka. Empat tahun lebih aku belajar mengajar bermain bersama mereka. Canda, tangis, tawa bahkan berantem.

    Tak lama kemudian, Kang Amin, Takmir yg menggantiku setahun yang lalu masih dengan senyum lepas dan semangatnya menyambut kami. Waktu itu maghrib kurang 15 menit. Orang-orang pun mulai berdatangan. Dan orang-orang tersebut tak asing. Karena mereka tetangga-tetangga kami, yang menerima kami untuk mengabdi pada Tuhan dan masyarakat.

    Tak lama kang Amin memberi isyarat kepadaku. "Sssttt, ehem. Biasa mas..hehehe." Aku pun paham maksudnya. "Ah, gampang, aku yo kangen og, sante ae (aku juga kangen kok, santai saja)." Adzan, ya kerinduanku tak hanya karena lama tak bersua dengan keadaan ini, tapi juga adzan. Karena Sejak aku masih duduk di sekolah Tsanawiyah, aku sudah memasang suaraku di speaker mushalla rumah, pun hingga sekarang jika aku pulang.

    Suasana menjadi hening dengan berkumandangkannya adzan. Bukan karena hikmat dan merdu suaraku, melainkan hidangan buka bersama yang membuat khusyuknya mereka. Nikmat sekali senja ini bisa berbuka bersama dengan mereka yang kurindukan. Salat maghrib berjamaah lalu ngobrol sejenak di kamar yang dulu tempatku berlindung.

    Sesaat setelah canda-canda kami pamit pulang. Karena kang Fauzi mempunyai tanggung jawab kerja di Kedai Nusantara. Sebelum pulang, Pak Bagyo membawa dua gelas sup buah. Ternyata diberikan untuk kami. Puji syukur kehadirat Tuhan. Bentuk keajaiban Silaturahmi tak bisa dipungkiri. Pun dengan kang Amin, dia membekali dua kardus nasi sisa dari buka bersama yang biasanya untuk yang bertadarus nanti malam. Tapi tak apalah, menolak juga pasti dipaksa olehnya yang menjadi ciri khas sifatnya.

    Dengan suasana hati yang penuh dengan kegembiraan aku ludahi jalanan dengan senyuman-senyumanku. Sesampainya di mes, kami menikamti sup buah pemberian pak Bagyo. Tak lama setelah kuhisap seluruh nikmatnya, adzan isya' berkumandang. "Terawih wolu opo rong puluh bro? (tarawih delapan rekaat apa dua puluh rakaat bro?" tanyaku. "aku si biasane rong puluh (aku sih biasanya dua puluh rekaat)", jawabnya. "aku nek ning mesjid karo ning kos biasane wolu. Soale mulih mbut gae yo lumayan gae mumet sirah re..hehehe (aku di masjid dan di kos biasanya delapan. Soalnya pulang kerja ya lumayan membuat kepala pusing)", ocehku.

    Kang Fauzi langsung mengambil air wudu, aku menyusul. Sajadah terbentang merumputi tikar. Pemanasan dua rekaat sebelum salat isya'. Dilanjutkan Salat primer yang dihiasi zikir dan doa. Dua reakaat lagi untuk menutup. Lalu tiba waktunya pendinginn, salat tarawih. Dengan hikmat setiap rekaatnya. Pertama aku sudah curiga kalau jumlah rekaatnya itu dua puluh tiga. Namun, untaian surat yang dilantunkan dan geriknya tidak asing. Ya, dulu untaian dan geraknya ini setiap malam ku jalani. Ternyata benar, dua puluh tiga rekaat. Keringat-keringat seakan-akan menari dalam pori-pori dan mendengarkan lagu kenangan. Mendayu-dayu. Benar-benar nostalgia hari ini. Bahagia. Betapa keindahan malam ini. Perjalanan yang di mulai menuju Fatahillah dan diakhiri dengan dua puluh tiga rekaat.

    Rumah seakan-akan ada di sini. Aroma, keringat, obrolan, grafitasi kosmologi dan udara yang tak pernah berhenti bertiup. Tapi, aku juga harus minta maaf pada Tuhan, pada Gusti. Malam ini pula aku absen tadarus. Absen ngopi dengan Tuhan, mengobrol tentang firman yang bercerita tentang kehidupan alam semesta.


    Penulis: Agus Sujadi
    Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    LDK FIMNY 2016, Ini Dia TOR-nya

    Logo FIMNY.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pada tanggal 14-15 Oktober 2016 Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) melangsungkan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) dengan mengangkat tema “Membentuk Insan Ulil Al-Bab Yang Berjiwa Pancasila”, bertempat di Pantai Pelangi, Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk memberikan gambaran umum terkait materi apa yang akan disampaikan para pemateri, maka perlu adanya Term of Reference (TOR).

    Berikut Term of Reference (TOR)-nya yang telah diberikan kepada para pemateri:

    .....katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang ber-akal-lah yang dapat menerima pelajaran. (Q.S Az Zumar, 39 : 09).

    Mahasiswa merupakan salah satu elemen terpenting dalam masyarakat. Mereka memiliki kelebihan, berupa daya analisa yang kuat dan idealisme yang teruji, sehingga tergolong pada kelompok intelektual. Pada sisi lain, sebagai kelas menengah dalam masyarakat, mahasiswa dituntut untuk menjadi pelopor perubahan sosial yang progres. Kelebihan itulah yang membuat nama mahasiswa menjadi lebih “istimewa”. Kelebihan yang dimiliki oleh seseorang atau suatu kelompok – dalam hal ini mahasiswa – tidak bisa membuatnya merasa puas dan terlepas dari beban dan tanggung jawab sosial, sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas. Apalagi membuatnya “lupa diri” dengan membanggakan “keistimewaan” melekat padanya. Maka, berdasarkan pada kelihan-kelebihan itulah mahasiswa memiliki suatu kewajiban dan tanggung jawab yang harus diemban. Yaitu – pada level terendah – memberikan gagasan-gagasan cerdas berupa konsep yang “matang”dalam kehidupan masyarakat. Gagasan dan konsep inilah yang nantinyabisa diharapkan, akan mampu memberikan solusi suatu permasalahan dan membawanya menuju keadaan yang lebih baik.

    Seiring waktu yang bergerak maju. Dalam perjalannya tidak sedikit mahasiswa yang hanya bangga dengan status kemahasiswaannya saja, tanpa memanfaatkan intelektualitas dan masa pembentukan idealismenya sebagai mahasiswa untuk memberikan gagasan-gagasan besar untuk perubahan dalam masyarakat. Saat ini mahasiswa Indonesia hanya diberi pembelajaran untuk menjadi tidak lebih sebagai calon karyawan saja. Apabila hal ini terus dibiarkan maka Indonesia ke depannya akan mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan Negara-Negara lainnya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan dalam rentang waktu tertentu – kita akan mengalami “krisis pemikir – intelektual” yang mampu menelurkan gagasan-gagasan cemerlang dalam kehidupan Negara-Bangsa ini. Hal tersebut tentunya akan merugikan dan, lebi jauh akan menjerumuskan dalam golongan yang tidak memiliki peradadan maju dalam jejak sejarah umat manusia.

    Kemarin, hari ini dan esok adala garis kehidupan yang tidak terpuus. Begitupun, masa silam, masa kini, dan masa depan merupakan suatu “rantai” kehidupan saling membentuk. Walaupun, masa silam dan masa depan adalah “misteri” bagi manusia saat ini, tidak berarti masyarakat manusia sekarang bukan bagian yang terlibat dalam prosesnya. Masa lampau membentuk masa kini, masa depan merupakan bentukan tidak langsung dari masa kini dan masa lampau. Oleh karena itu, refleksi singkat dan sederhana diatas merupakan suatu ikhtiar bersama. Yaitu, sebagai titik tolak untuk berkontribusi dalam membentuk cerita sejarah dimasa depan. Maka,salah satu usaha praktis sebagai bentuk represantifdari refleksi – kalaupun bukan suatu kekhawatiran - tersebut adalah dengan membangun kepribadian mahasiswa yang memiliki karakter Ulul al-Bab.

    Ulil al-Bab merupakan suatu konsep yang tidak kurang dari enam belas yang di gambarkan dalam konteks yang berbeda-beda. Berkaitan dengan perbedaan konteks yang digambarkan tersebut, dapat ditarik suatu kesimpulan “bulat”, bahwa Ulil al-Bab mengharapkan lahirnya manusia atau sekelompok manusia yang mampu menjadi poros perubahan dan perbaikan dalam suatu masyarakat. Hal merupakan ciri sekelompok manusia yang memiliki kejernihan dalam berfikir, ketajaman dalam analisa maupun kegigihan dalam berbuat. Al-Raghib al-Asfahani mendefinisikan lubb sebagai pemikiran jernih yang terbebas dari kekeliruan atau kecacatan dalam berpikir.

    Dalam konteks bahasa Indonesia, Ulul al-Bab dapat diartikan sebagai kaum intelektual. “Intelektual adalah suatu proses kognitif dimana manusia memiliki kecakapan yang tinggi dalam berpikir untuk dapat menghubungkan, menimbang dan memahami (A Comprehensive Dictionary of Psichological and Psychoalitical Terms). Jadi, intelektual adalah orang (sekelompok orang) yang dapat berpikir dalam memahami suatu keadaan untuk memberikan gagasan-gagasan besar yang analitis dan normatif.Walaupun Ulul al-Bab dalam konteks Indonesia dapat diartikan sebagai kaum intelektual, akan tetapi keduanya memiliki perbedaan. Kaum intelektual belum tentu dapat dikatakan sebagai generasi Ulul al-Bab, akan tetapi generasi Ulul al-Bab sudah pasti dapat dikatakan sebagai kaum intelektual. Satu hal yang membedakan dan menjadi nilai tambah Ulul al-Bab dibandingkan dengan intelektual adalah nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepad sang pencipta. Tidak berlebihan jika menagatakan, bahwa kelompok Ulil al-Bab merupakan pewaris misi para Nabi. Masa kenabian telah berakhir, yaitu dengan diutusnya Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Tetapi misi ke-Nabi-an (profetik) belum berakhir, kata Fazlur Rahman – tokoh Neo- Modernis Islam.

    Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat yang lebih besar dengan segala kemajemukannya, Negara Indonesia. Perlu melandaskan gagasan dan konsepnya dengan pandangan hidup yang telah dianggap “mampu” merangkul kemajemukan yang ada, yaitu Pancasila. Karena kehadiran sekelompok insan Ulil al-Bab, mampu menjadi atau memberikan “ilham kesimpulan” dalam kehidupan – tidak hanya untuk suatu kelompok dan golongan – melainkan dapat mewakili kebutuhan seluruh kelompok dan golongan yang ada. Itulah mengapa dalam konteks ke-Indonesia-an, konsep Ulil al-Bab harus “membumi” dalam ruang dan waktu kehidupan masyarakat Indoenesia. Begitupun dengan manusia dan kelompok Ulil al-Bab tersebut, harus mampu berfikir dan bersikap inklusif. Adapun Pancasila dan ajaran Islam tidak memiliki pertentangan yang cukup mendasar. Karena substanti keduanya memiliki spirit yang sama. Begitupun halnya dengan konsep Ulil al-Bab yang “hidupkan” dalam lorong-lorong sejarah kehiudpan masyarakat manusia Indonesia.

    Gambaran tulisan di atas merupakan uraian singkat yang tidak mungkin mampu mewakili tujuan kami dalam proses pelaksanaan LDK ini. Selain itu, ia hadir – tidak lebih – sebagai gambaran umum dari apa yang menjadi harapan kami selama proses LDK berlangsung dan seterusnya. Karena, sesungguhnya secara detailnya akan banyak di sampaikan oleh pemateri, dalam bidang-bidang kajiannya. Terakhir, Term of Reference (TOR) ini dapat menjiwai proseses pelaksanaan pelatihan ini, dan yang terpenting dapat menjiwai setiap isi materi yang akan di sampaikan oleh pemantik (pemateri) dalam wilayah kajiannya masing-masing.

    Selain itu, pada tiap-tiap Pemateri juga diberikan tema materi masing-masing.

    Selamat Ulang Tahun Sekolahku

    Agus Sujadi.
    PEWARTAnews.com – Dulu aku bersekolah di sebuah yayasan yang bernama Yayasan Silahul Ulum, pun hingga sekarang nama tersebut masih utuh. Uh, Lama aku tak jumpa. Rindu juga dengan cumbu-cumbu ria. Aroma ketiak-ketiak jendela, warna-warni muka catnya, dan yang selalu terngiang-ngiang itu lonceng besi tua, dialah sang penanda.

    Tepat di tepi jalan engkau bernaung diri. Setiap hari, setiap pagi, bahkan setiap sore engkau menyapa dengan anggun. Senyum di setiap dinding. Tawa, deru dan canda pohon dan burung menghiasi pori-pori udara. Betapa riang, betapa senyum dengung tawa cekikan setiap murid. Nada-nada setiap napas Kiai dan guru memberi aroma klasik. Kenangan yang tak pernah bisa ku lupakan. Bagaimana bisa ku lupakan jika selama 6 tahun, ya, 6 tahun aku ngangsu kaweruh tanpa jeda.

    Setiap episode menyajikan kisah tentang Kyai, guru, murid, juga kantin yang selalu memadu canda antara kamu dan dia. Pertemuan antara yang di madu kasih. Wajah-wajah itu tak tertulis dalam kenangan manis.

    Waktu tetap berlalu. Aku yakin engkau masih berdiri perkasa. Dan kini, aku ingat-ingat, engkau sedang merayakan ulang tahun. Selamat ulang tahun sekolahku. Kalau tidak salah ke-48. Bheh... Lama nian (lama bangat) engkau tetap kokoh berdiri. Apa engkau tak lelah? Umurmu sendiri hampir setengah abad. Tidak. Itu tidak melelahkan. Aku teringat pada Satu Kyai yang lirih suaranya, merdu lantunan maknaninnya, seperti angin sepoi di sore hari yang membelai para petani di kala keringat mengalir deras dari saban pori-pori. Beliau, sang Kyai itu, lebih tua 25 tahun darimu.

    Setiap datang waktu jadwal mengajar, beliau harus ber-partner. Benar, beliau harus ditemani. Jika tidak, ilmu-ilmu seperti mandek. Tapi, itu tak jadi masalah. Teman beliau tak lebih besar dari sebatang pensil. Dan dia harus terbakar, berasap, lalu mati. Si rokok menjadi teman kami, murid-murid. Meski begitu, setiap kali beliau memberi permata ilmu tak ada dari kami mampu menerima. Semua pingsan, tergeletak, kami tewas. Bukan, kami tertidur pulas. Merdu suara beliau terdengar seperti nyanyian laut, nyanyia angin, nyanyian tanpa batas.

    Ada pula seorang Kyai yang apabila ada dari kami tertidur mendapat sebuah kehormatan untuk membaca kitab kuning, kitab gundul. Kehormatan yang membuat kami merinding setengah mati. Dengan terpaksa kami menerima permata-permata ilmu. Beliau-beliau seorang Kiai, seorang guru yang menjadi patokan setiap orang. Betapa bangga kami, khususnya aku, bisa ngangsu kaweruh dengan beliau-beliau.

    Dan engkau wahai sekolahku! Meski bukan sekolah favorit di lingkunganmu, bukan ternama atau terdepan dalam mengasah para pe-ngangsu. Namun, engkaulah yang spesial. Karena melaluimu kami telah mendapatkan sejuta ilmu. Sejuta permata yang tak ternilai harganya.

    Pesta-pestamu sekarang pasti lebih meriah dibanding zamanku. Tapi, maaf aku tak bisa penuhi undangan pestamu itu. Karena darimu aku ada di tanah ini. Memenuhi pesan-pesan para Kyai, mencari jati diri.

    Semoga, benar wujud doa yang bisa ku sampaikan pada Tuhan, pada Gusti. Semoga kaki dan tanganmu kokoh menampung para pencari ilmu dan tetap menjalankan apa yang dicita-citakan para pendirimu. Sekali lagi, selamat ulang tahun sekolahku.


    24 Juni 2014


    Penulis: Agus Sujadi
    Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Potret yang Jatuh

    A. S. Mechi.
    PEWARTAnews.com – Pukul tujuh belas, sore hari – menjelang magrib. Olan masih asyik membaca sebuah buku yang terletak diatas meja. Konsetrasinya hanya ditujukan padanya. Sesekali ia melihat keadaan diluar kamarnya. Suasananya sudah terlalu gelap, seakan waktu magrib telah tiba. Kumandang azan seakan tak terdengar lagi di menara-menara Masjid dan Musholla yang menjulang ke angkasa. Mengajak setiap insan beriman untuk bersimpuh dihadapa-Nya – setelah seharian bergelut dengan polusi kehidupan dan gerahnya keringat kehidupan Dunia. Ajakan untuk menuju pintu kemenagan atau setidaknya melunturkan sebutir “debu maksiat” selama sehari. Olan melirik kebelakang, melihat baik-baik jarum jam dinding yang tergantung di tembok kamarnya. Butuh beberapa puluh menit lagi untuk bisa mendegar suara khas marbot yang keluar dari pengeras suara di menara-menara Masjid. Tapi, suasana diluar gelap – mendung. Harusnya waktu magrib telah usai.

    Kini gerimis datang lagi, setelah dua hari sebelumnya cukup cerah. Sesaat setelahnya, suara marbot terdengar. Ia menyaksikan sebagian orang di sekitarnya menuju sumber panggilan. Panggilan yang sangat akrab bagi semua manusia yang mengaku Muslim – taat maupun tidak. Panggilan yang tak berarti apa-apa bagi sebagian orang – kosong tak bermakna. Tetapi, sangat menggugah bagi sebagiannya lagi. Rela meninggalkan segala bentuk aktivitas profan duniawi. Untuk menuju pada ritual yang sangat sakral sebagai Muslim yang taat – menuju bentuk pengakuan tertinggi seorang makhluk kepada Sang Khaliknya. Mereka berangkat dengan membawa payung, ada juga yang menggunakan sajadahnya untuk sekedar menutup kepala dari gerimis.

    Olan menutup buku. Sesekali ia melirik lagi sampulnya lalu tertuju pada nama pengarang. Ia tidak beranjak dari kamar untuk menuju tempat suci, Masjid. Mungkin Ia memilih berhadapan dengan-Nya di kamar saja. Atau mungkin ia tak melakukan ritual itu lagi? Entah. Ganggang pintu ditariknya, pintu terbuka – Olan keluar. Tapi, tanpa sarung atau celana panjang ataupun sajadah ditangan dan kepalanya. Hanya kaos dan celana pendek selutut. Yang pasti ia tidak mungkin ke tempat suci itu dengan penampilannya. Tapi kemana?

    Rupanya ia telah sampai didepan kamar kos temannya, hanya selang beberapa kamar kos saja dari kamar dirinya.

    “Asalamualaikum”. Ucapnya. Tidak ada jawaban. Tapi, pintu tidak terkunci. Ia langsung masuk. Lalu duduk diatas kursi, depannya ada meja belajar,  lebih-kurang 50 cm diatas meja tergantung rak  buku. Satu persatu ia baca judul buku – dari kiri ke kanan. Akhirnya, tetuju  pada salah satu buku yang cukup tebal. Disampulnya tertulis Filsafat Barat dan nama –penyusunnya Bertrand Russel. Ia tak membacanya dari halaman pertama. Melainkan melihat daftar isi lalu tertuju pada sebuah nama. Filsuf politik Italia, salah satu pelopor lahirnya zaman pencerahan (Renaissance) di Eropa. Sekilas ia langsung membuka halaman yang tertuju pada daftar isi dan melewati ratusan halaman sebelumnya, untuk sebuah nama – Machiavelli.

    Gerimis masih terdengar. Berpantulan dengan atap-atap rumah tetangga dan juga atap kos-kosannya. Walau demikian, tak membuat Olan hilang konsentrasi, apalagi dirinya telah terbiasa baca di tempat yang ramai. Bahkan, tidak jarang ketika “bedialog” dengan buku di  kamar ia ditemani dengan alunan musik dan nyayian lagu-lagi slow. Satu halaman telah usai ia baca – mungkin juga telah ia analisa. Baru dua baris pada halaman berikutnya, konsentrasinya terpecah oleh suara. Suara pintu yang terbuka, diikuti oleh suara orang yang menyapa. Rupanya, Evan – Sahabatnya pemilik kamar kos tempat ia sedang membaca.

    “Assalamualikum”. Sapa Evan dengan nada panjang diakhirnya.

    “Kumsalam”. jawab Olan. “Darimana?”. Lanjutnya. Cukup singkat.

    “Dari luar”. Evan. Belum sampai semenit berada di kamarnya, Evan keluar lagi.

    “Kemana lagi?”. Olan.

    “Kesana bentar!”. Evan.

    “??????”. Olan tak menghiraukan lagi sahabatnya Evan yang kini pergi lagi, entah kemana. Ia tak tahu. Perhatiannya kemabli tertuju pada deretan kata-kata yang terangkai rumit dalam buku itu, membaca. Walaupun agak berat untuk dipahami.

    Entah berapa lama Evan keluar dari kamarnya, semenjak kedatangannya yang cukup sigkat tadi. Yang Ia tahu dua halaman telah usai  dibacannya, semenjak Evan datang dan mengalihkan perhatiannya lalu pergi begitu saja. Tanpa keterangan yang jelas. Hanya dua kata “Kesana bentar!”. Saat ia berusaha dengan semaksimal untuk memusatkan perhatiannya pada rangkaian kalimat yang membicarakan tentang perihal “muslihat” politik dan profil tokoh itu. Tiba-tiba terlihat sebuah bayangan yang mengarah padanya lalu menabraknya. Fisiknya tak merasakan apa-apa. Ya, karena hanya sebuah bayangan. Yang ia sadari, dirinya sangat kaget dan berusaha menghindar sampai melepaskan buku ditangannya, lalu tertutup. Kemudian ia mendengar sura benda yang jatuh. Suara yang tidak terlalu keras. Mungkin seperti suara sekali ketukan pintu. “tookk”.

    Evan belum kunjung datang. Ia berbalik dari tempat duduknya dan mendapati sebuah benda tipis berbentuk persegi. Sebuah kertas foto. Iya, bentuknya seperti kertas foto. Ukuran berapa R? Olan tak tahu. Ia pungut lalu memperhatikannya dengan seksama. Ia semakin kaget – detak jantungnya lebih cepat dari biasanya, tangannya gemetar saat menyentuhnya. Setelah melihat potret wajah di dalamnya. Wajah yang bersahaja dengan tatapan penuh wibawa dan penuh arti. Tatapan khas seorang pemimpin kharismatik. Posisi berdirinya yang gagah. Gambaran seorang dengan prinsip yang kuat. Tangan kanannya memegan sebuah tongkat kecil sepanjang kira-kira limapuluh cm. Khas pemimipin besar. Diatas pundak sebelah kirinya terdapat sebuah burung Elang, terbang setinggi kepalanya. Simbol keberanian dan kebebasan.

    Setelah memperhatikan dengan rinci. Kini ia tahu, itu adalah sebuah potret. Potret orang nomor satu pada zamannya, bahkan kinipun Ia tetap diakui. Potret sesosok manusia yang telah menggaung kemerdekaan secara sah dihadapan seluruh rakyatnya dan Dunia. Dengan gagah berani ia menyuarakan kebebaasan, ibarat seekor burung yang telah sekian lama terkurung dalam sangkar “tuannya”. Kini ia bebas terbang menyusuri angkasa. Melihat gunung yang menjulang berada di bawah cakarnya. Begitupun dengan sosok itu. Sosok itu adalah Soekarno. Dulu, bersama sahabatnya Hatta, telah menggaungkan kemerdekaan sebuah Bangsa yang besar – bernama Indonesia - pada 71 tahun yang silam. Bebas dari sangkar kehidupan yang menindas, bebas dari sangkar pemerasan, bebas dari sangkar pebudakan dan penjajahan.

    Setelah pikirannya membayangkan 71 tahun yang silam. Membayangkan perjuangan jutaan rakyat Indonesia. Darah dan air mata-lah yang membuat mereka yang yakin akan hadirnya kebebasan itu. Mereka adalah pahlawan yang sesungguhnya. Kini, Olan di bayangi oleh deretan pertanyaan-pertanyaan “bodoh” pada dirinya. Mengapa potret pemimpin revolusi itu jatuh? Mengapa ia jatuh dari ketinggian itu pada saat Olan sedang membaca? Bukankah Ia sedang berusaha menjadi manusia cerdas. Sebagaimana Sosok dalam potret itu, dan ratusan pahlawan serta jutaan rakyat Indonesia cita-citakan di masa lampau– “mencerdaskan kehidupan Bangsa”. Adakah ini bukan sekedar sebuah potret yang jatuh dan tak berarti apa-apa? Baginya, segala sesuatu yang terjadi selalu disertai dengan alasan. Iya, kausalitas sangat ia yakini dalam lorong-lorong kehidupan ini. Bahkan, selembar daun yang jatuh-pun punya alasan mengapa ia tidak selamanya berada pada pohonnya. Terdengar suara ajakan.

    “Ayo makan!”. Evan. Sebelum beranjak dari tempatnya ia menceritakan perihal kejadian “bodoh” yang menimpanya. Evan hanya tertawa kecil lalu dilanjutkannya dengan penjelasan logis.

    “Ah, paling lem-nya tidak kuat lagi” sahut Evan mencoba memberikan penjelasan.

    “Maksudmu?” cetus Olan penuh tanya.

    “Iya, mungkin lemnya sudah terlalu lama!”. Lalu terhenti sejenak.

    “dan tak mampu lagi merapatkan foto dan dinding”. Lanjutnya. Olan terdiam mendengar jawaban itu. Ia harus akui jawaban sahabatnya cukup logis untuk diterima. Tapi baginya, tidak semuanya bisa di jawab hanya dengan logika positivis dan hitungan matematis.

    “Ayo, makan dulu!”. Ajak Evan. Ia-pun ikut. Mereka makan bareng sampai nasi yang tersedia ludes dilahapnya. Setelah mengisi perut. Keduanya “mengobrol” santai tentang berbagai hal yang sama-sama mereka pahami. Tukar informasi dan tranformasi pengetahuan berlangsung malam itu. Mulai dari masalah tugas-tugas kuliah yang “sepele” sampai pada masalah-masalah sosial, ekonomi, hukum serta masalah politik yang rumit dan menggerahkan “udara sosial”. Pembicaraan “tanpa arah” itu berakhir saat mereka sama-sama merasakan kelelahan. Terutama mata, yang tak kuat lagi begadang dan mulut yang terlalu sering menguap, pertanda suatu alamat – ngantuk. Olan, meminta diri untuk kembali ke “habitatnya”, kos. Lalu mengatakan.

    “Tengs ya,.. sob!” sebut Olan dengan berbahasa Inggris alai.

    “siip!”. sahut Evan dengan singkat dan penuh makna persaudaraan.

    Olan sampai di kamar kos. Langsung melemparkan tubuhnya diatas kasur yang tidak terlalu empuk, maklum kasur anak kosan. Ia menutup mata, mencoba untuk tidur dengan nyaman. Semoga besok pagi-pagi bisa bangun cepat, dan pergi kuliah. Tetapi kenyataannya, tidak sesuai harapan. Kejadian di kos Evan masih terngiang dalam ingatannya. Sederet pertanyaan kembali muncul, melayang dalam pikiran dan mengisi ruang yang kosong dalam kegelapan kamarnya. Mengapa ia jatuh? Adakah itu pertanda keadaan Bangsa saat ini? Akankah itu sebuah alamat, bahwa Bangsa ini sedang di rundung kepiluan dan setumpukan masalah? Akankah kejadian itu teguran bagi dirinya, dirinya yang tidak terlibat dalam menyelesaikan persoalan yang ada? Pertanyaan yang harus segera ia jawab. Jika tidak? Jika tidak, mungkin takkan bisa tidur malam itu.

    Benar tubuhnya berada dalam ruangan persegi yang sempit dan gelap. Tapi tidak dengan pikirannya. Malam itu pikirannya melayang, melampaui ruangan yang sempit lalu menerawang sudut-sudut kehidupan Bangsa. Satu-persatu pertanyaan dijawabnya. Dalam hati ia berkata.

    “Rupanya mereka (para pahlawan) masih terlibat mengurusi masalah Bangsa yang sedang di rundung kekacauan ini”. Benarkah? Ia menimpalinya. Tidak mugkin. Mereka telah meninggal, mereka tidak mungkin lagi terlibat dalam menyelesaikan masalah Bangsa ini. “Paling jauh mereka cuma bisa mencontoh aksi pamer kebodohan yang dilakukan oleh pejabat dipanggung sandiwara saat ini”. Lanjutnya. “ah.., politisi saat ini, tiada henti-henti mencari kambing hitam, bahkan agama-pun di tungganginya”. “hukum apalagi, layaknya bola kasti yang sesuka hati dilempar ke arah mana dan pada siapa yang dituju. Keadilan? Ah, itu hanyalah buah bibir”. “program-program pelayanan kesehatan dan pendidikan. Tak lebih sebagai kedok untuk meraup rupiah”.

    Matanya telah tertutup. Pikirannya terhenti bertanya dan menjawab. Alam bawah sadarnya “sibuk” mengolah kejadian selama sehari yang menjadikannya mimpi-mimpi. Bencana alam dan sosial menghantui malam-malam panjangnya. Kejayaan dan perdamaian menghiasi mimpinya. Tidak ada lagi potret, sosok manusia dan burung di dalamnya. Kini hanya gelap dan sesekali suara napas yang berat tehempas dari hidungnya. Ia tertidur lelap!


    Yogyakarta, 7-8 Oktober 2016


    Penulis: A. S. Mechi
    Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Peneliti Sosial pada Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Kepala Biro DIY dan Jateng PEWARTAnews.com.
     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website