Headlines News :
Home » » Aroma Kampung Halaman di Yogyakarta

Aroma Kampung Halaman di Yogyakarta

Written By Pewarta News on Jumat, 14 Oktober 2016 | 12.10

Agus Sujadi.
PEWARTAnews.com – Hari ini (Sabtu, 5 Juli 2014), aroma-aroma kampung halaman begitu menusuk hidung, bahkan pori-pori kulit sampai mengucurkan keringat. Siang hari, setelah bersenandung-cium ritual dhuhur, bertemankan debu dan terik sang siang, ku tancap gas sepeda motor dekil menuju mes Kedai Nusantara, di sana sudah ditunggunya akang Ahmad Fauzi.

Pintu besar ku dorong menimbulkan suara lirih gemrisik. Di sudut bangku yang tertata rapi dia duduk nglengsreh bertemankan sebuah laptop, ditontonnya Megawati dari Youtube dalam acara Mata Najwa. Kekhusyukkannya itu tak bisa bertahan lama setelah kedatanganku. Beberapa obrolan mengawali sebuah cerita hari ini.

Seperti biasa, acara kartun jadi tontonan pertama, Hunter X Hunter dan One Peace. Lucu si, dua orang yang tak lagi kanak-kanak tontonannya adalah kartun. Alasan kecilnya menonton kartun itu karena pelajaran dasar sebagai manusia. Karakter tokoh utama yang menggambarkan betapa konyolnya hidup ini yang diciptakan oleh Yang Maha Dzat Humor.

Sore dengan batang-batang emas sinar matahari menerobos sela-sela dedaunan dan kaca. Hmm, waktunya untuk sejenak bersua dengan Tuhan. Senja pun ikut mengetuk langit. "Aduso sek bro (sana mandi dulu bro)", cibirku. "Iyo e, sedino durung adus (iya e, seharian belum mandi)", jawabnya. Bergantian kami mandi. Dan hmm, menjadilah dua orang pemuda dengan binar mata dan raut muka yang berseri-seri.

"Ayo mangkat Gejayan (ayo berangkat ke Gejayan)", ajak akang Fauzi.  "Lho aya ah (lho ayo)", jawabku. Seperti biasa, bersandang klasik, sarungan ala santri dan penuh pedenya menjajaki jalanan kota yang riuh dengan imperialisme, hedonisme, kapitalisme, feodalisme, fasionisme dan isme-isme yang lain. Berdua menunggangi sebuah sepeda motor dekil tadi dengan penuh kenikmatan, pelan-pelan hingga belaian angin begitu sepoi masuk ke dalam sela-sela helm dan sarung, adem.

Ke Gejayan itu tak lain hanya ingin menenggak rindu. Rindu dengan keluarga Jadid. Keluarga baru yang tak baru. Keluarga yang sudah membesarkan aku selama 4 tahun lebih di Yogyakarta. Dan keluarga yang sudah menampung kami berdua. Naungan kami itu adalah sebuah masjid, Fatahillah namanya. Ya, kami adalah takmir masjid Fatahillah, Gejayan.

Di perempatan Ring Road Utara Gejayan terlihat dari kejauhan salah seorang ibu kami yang sedang berjualan gorengan di pinggir jalan, utara perempatan atau utara apotek Gejayan. Beliau salah satu ibuku. Mampirlah ke sana jika melewati. Traffic light sudah hijau, pelan-pelan kami menuju warung gorengan tersebut. Sengaja tak ku klakson, sebab kondisi sedang macet, ya di jalan ya yang jualan. Syukur pada Tuhan sudah membuat antrian panjang untuk membeli gorengan.

Dalam hitungan 2 menit kubah mesjid mentereng nun mengkilat menghipnotis akalku. Bheh, rindu kemarin meleleh membasahi jantung yang detaknya semakin mendekat semakin berdegup kencang. Tepat aku menyandarkan motor. Diki berlari dikejar Desi diikuti Dika dan Akmal. Suasana hatiku pecah. Anak-anak berlarian memecah keheningan akal. Mereka tiba-tiba berhenti kejar-kejaran karena melihat kami. "Mas Agus, Mas Fauzi", teriak mereka. Satu persatu menyalami. Kang Fauzi yang lebih lama tak menyambangi Fatahillah mencoba mengingat-mengingat nama mereka. Kalau aku, ingatanku masih setia dengan mereka. Empat tahun lebih aku belajar mengajar bermain bersama mereka. Canda, tangis, tawa bahkan berantem.

Tak lama kemudian, Kang Amin, Takmir yg menggantiku setahun yang lalu masih dengan senyum lepas dan semangatnya menyambut kami. Waktu itu maghrib kurang 15 menit. Orang-orang pun mulai berdatangan. Dan orang-orang tersebut tak asing. Karena mereka tetangga-tetangga kami, yang menerima kami untuk mengabdi pada Tuhan dan masyarakat.

Tak lama kang Amin memberi isyarat kepadaku. "Sssttt, ehem. Biasa mas..hehehe." Aku pun paham maksudnya. "Ah, gampang, aku yo kangen og, sante ae (aku juga kangen kok, santai saja)." Adzan, ya kerinduanku tak hanya karena lama tak bersua dengan keadaan ini, tapi juga adzan. Karena Sejak aku masih duduk di sekolah Tsanawiyah, aku sudah memasang suaraku di speaker mushalla rumah, pun hingga sekarang jika aku pulang.

Suasana menjadi hening dengan berkumandangkannya adzan. Bukan karena hikmat dan merdu suaraku, melainkan hidangan buka bersama yang membuat khusyuknya mereka. Nikmat sekali senja ini bisa berbuka bersama dengan mereka yang kurindukan. Salat maghrib berjamaah lalu ngobrol sejenak di kamar yang dulu tempatku berlindung.

Sesaat setelah canda-canda kami pamit pulang. Karena kang Fauzi mempunyai tanggung jawab kerja di Kedai Nusantara. Sebelum pulang, Pak Bagyo membawa dua gelas sup buah. Ternyata diberikan untuk kami. Puji syukur kehadirat Tuhan. Bentuk keajaiban Silaturahmi tak bisa dipungkiri. Pun dengan kang Amin, dia membekali dua kardus nasi sisa dari buka bersama yang biasanya untuk yang bertadarus nanti malam. Tapi tak apalah, menolak juga pasti dipaksa olehnya yang menjadi ciri khas sifatnya.

Dengan suasana hati yang penuh dengan kegembiraan aku ludahi jalanan dengan senyuman-senyumanku. Sesampainya di mes, kami menikamti sup buah pemberian pak Bagyo. Tak lama setelah kuhisap seluruh nikmatnya, adzan isya' berkumandang. "Terawih wolu opo rong puluh bro? (tarawih delapan rekaat apa dua puluh rakaat bro?" tanyaku. "aku si biasane rong puluh (aku sih biasanya dua puluh rekaat)", jawabnya. "aku nek ning mesjid karo ning kos biasane wolu. Soale mulih mbut gae yo lumayan gae mumet sirah re..hehehe (aku di masjid dan di kos biasanya delapan. Soalnya pulang kerja ya lumayan membuat kepala pusing)", ocehku.

Kang Fauzi langsung mengambil air wudu, aku menyusul. Sajadah terbentang merumputi tikar. Pemanasan dua rekaat sebelum salat isya'. Dilanjutkan Salat primer yang dihiasi zikir dan doa. Dua reakaat lagi untuk menutup. Lalu tiba waktunya pendinginn, salat tarawih. Dengan hikmat setiap rekaatnya. Pertama aku sudah curiga kalau jumlah rekaatnya itu dua puluh tiga. Namun, untaian surat yang dilantunkan dan geriknya tidak asing. Ya, dulu untaian dan geraknya ini setiap malam ku jalani. Ternyata benar, dua puluh tiga rekaat. Keringat-keringat seakan-akan menari dalam pori-pori dan mendengarkan lagu kenangan. Mendayu-dayu. Benar-benar nostalgia hari ini. Bahagia. Betapa keindahan malam ini. Perjalanan yang di mulai menuju Fatahillah dan diakhiri dengan dua puluh tiga rekaat.

Rumah seakan-akan ada di sini. Aroma, keringat, obrolan, grafitasi kosmologi dan udara yang tak pernah berhenti bertiup. Tapi, aku juga harus minta maaf pada Tuhan, pada Gusti. Malam ini pula aku absen tadarus. Absen ngopi dengan Tuhan, mengobrol tentang firman yang bercerita tentang kehidupan alam semesta.


Penulis: Agus Sujadi
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website