Headlines News :
Home » » [Cerpen] Harapan Kasih Sayang Dari Seorang Ayah

[Cerpen] Harapan Kasih Sayang Dari Seorang Ayah

Written By Pewarta News on Rabu, 26 Oktober 2016 | 07.21

Juraidah.
PEWARTAnews.com – Seorang Ayah merupakan tumpuan harapan dari semua anak, karena dari seorang ayah seorang anak mendapatkan kasih sayang, karena dari seorang Ayah seorang anak mencurahkan rasa cinta yang tulus, dari seorang ayah pula seorang anak merasa bangga dan senang akan kehadirannya di dunia ini. Saya ingin sekali seperti teman-teman aku yang setiap harinya mereka selalu memanggil “ayah, ayah, ayah”, saya ingin sekali seperti itu, dan juga saya ingin sekali seperti teman-temanku merasakan kasih sayang darimu Ayah, merasakan dan menikmati pelukan darimu, mendengarkan nasehatmu, perhatianmu dan memberiku semangat dan harapan disaat terjatuh dan putus harapan, dan juga saya ingin sekali ayah menanyakan tentang kabar dan keadaanku di saat aku pergi jauh seperti ini. Ya Allah kapankah aku akan merasakan semua itu? Ataukah aku memang dilahirkan untuk tidak merasakan kasih sayang seorang ayah? dan ataukah ayah membenci diriku sehingga ayah tidak pernah memberiku kasih sayang. Apa salahku ayah? katakan! Kalau memang ayah membenci ibuku jangan limpahkan pula padaku karna aku sangat membutuhkan sosokmu ayah dan mengharapkan kasih sayang tulus darimu, seperti halnya teman-temanku mendapatkan kasih sayang yang tulus dari ayahnya.

Ayah, aku sangat iri sama teman-temanku, terkadang air mata ini akan menetes dengan sendirinya dipipi, jikalau melihat teman-temanku yang di manjain oleh seorang Ayah, di beli’in sesuatu oleh ayahnya, walau apa yang dibelikan harganya tidak seberapa, tapi dari pancaran mimik wajah mereka mengeluarkan aura bahagia yang amat besar karena telah mendapat sesuatu yang dibelikan ayahnya, apa-apa yang di minta oleh anaknya maka ayahnya akan mengabulkan permintaan anaknya, kemana pun anaknya akan pergi maka ayahnya selalu mengkhawatirkan anaknya dan tidak akan terlambat untuk menelpon anaknya menanyakan tentang kabar dan keadaan anaknya dan juga saya sangat iri ayah, melihat teman-temanku jikalau mereka akan pergi jauh mereka selalu mencium tangan ayahnya dan ayahnya mencium kening anaknya, “Ayah” saya ingin sekali seperti teman-temanku yang lain.

Ya Allah, sampai kapan saya akan hidup seperti ini terus? hidup yang tidak pernah didampingi oleh seorang ayah, hidup yang tidak pernah dimanjain oleh seorang ayah, hidup yang tidak pernah merasakan teguran dari seorang ayah, dan hidup yang tidak pernah diatur oleh seorang ayah. Selama ini saya hanya hidup dengan seorang “Ibu” yang cukup banyak memberikan aku kasih sayang, semangat dan harapan kepadaku, saya sangat bangga pada ibuku karna dia mampu mengurus aku sampai beranjak dewasa seperti ini, walau saya tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, tetapi ibuku selalu memberikan saya kasih sayang yang begitu besar dan mengabulkan semua permintaanku, dalam hati kecilku selalu bertanya-tanya kenapa “ibuku” terlalu menyayangi ku, memanjakanku dan mengabulkan semua permintaanku? Mungkin ibuku sangat mengerti dengan keadaanku yang seperti ini, makanya ibuku memberiku kasih sayang yang begitu besar, memanjakanku yang berlebihan dan mengabulkan semua keinginanku, itu menjadi nilai tersendiri yang saya rasakan. Thank’s You Very Muach “Bunda”, karena engkau mampu memberikan aku kasih sayang yang begitu besar, dan engkau mampu menjadikan dirimu jadi dua sosok sekaligus dalam hidupku, yakni engkau menjadi seorang Ibuku dan sekaligus menjadi seorang ayah bagiku. Engkau mampu mengurusku, menasehatiku, memberiku perhatian yang cukup besar dan engkau mampu memberikan saya kebahagian yang cukup besar yang melebihi kebahagiaan yang dikasikan oleh seorang ayah, “bunda” aku sangat mencintai dan menyayangimu. Disetiap langkahku selalu mendo’akanmu “Bunda”, doaku selalu menyertaimu bunda. I Love You Forever “Bunda”.

Ayah, saya tidak akan pernah membencimu biar bagaimana pun engkau tetap ayahku, karena tanpamu sosok dan wujudku tidak akan ada di dunia ini, tidak pernah menghirup udara segar di dunia ini, tidak pernah melihat keindahan dunia ini, tidak pernah merasakan kebahagiaan yang saya rasakan saat sekarang dan saya tidak akan pernah kenal dengan orang yang saya sayangi, walaupun ayah tidak pernah memberiku kasih sayang, tetapi saya tetap menyayangimu “Ayah”, dan saya berharap kepadamu ayah suatu saat nanti ayah akan memberiku kasih sayang melebihi kasih sayang dari ibuku karena saya sangat membutuhkan kasih sayang darimu ayah.

“Ayah” apa ayah tau ekspresiku di sini saat saya melihat teman-temanku ditelpon oleh ayahnya dan mengangkat telpon ayahnya dan menanyakan tentang keadaan dan kabar anaknya? ”Ayah” hatiku begitu sakit, begitu hancur ayah mendengarkan pertanyaan dari ayah teman-temanku dan air mataku pun berlinang dipipiku saat saya mendengar pertanyaan itu.

Ayah...!!! Hanya satu yang ku inginkan dari ayah untuk saat sekarang, saya hanya ingin ayah menelponku disaat saya berjauhan seperti ini, mendengarkan suara yang sangat lembut darimu ayah, saya ingin sekali ayah melontarkan pertanyaan seperti ini “anak bagaimana kabar mu nak, udah makan atau belum nak, kamu sehat-sehat saja disana nak, dan belajar yang rajin yah nak”. saya ingin sekali ayah melontarkan pertanyaan seperti itu. saya harap padamu ayah suatu saat nanti ayah akan melontarkan pertanyaan seperti itu, dan saya akan selalu berdo’a padamu ya Allah semoga suatu saat nati ayahku akan sadar supaya ayahku memberiku kasih sayang dan memenuhi keinginanku.

Kalimat terakhir yang ingin aku ungkapkan untuk kalian yang spesial dalam hatiku “I Love You Ayah dan Bunda”


Yogyakarta, 15 Agustus 2014
Karya: Juraidah


Mahasiswi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website