Headlines News :
Home » » [Cerpen] Ilusi Langit

[Cerpen] Ilusi Langit

Written By Pewarta News on Rabu, 26 Oktober 2016 | 07.39

Agus Sujadi.
PEWARTAnews.com – Si Esot ternyata sudah lumayan berumur sejak kelulusan dari Perguruan Tinggi. Ternyata sebuah gelar dalam kehidupan tak membuatnya merasa lebih tinggi derajatnya, lebih menatap masa depan lebih cerah ataupun meminggul dunia lebih ringan, melainkan kebalikan dari hal tersebut. Dia tahu bahwa dia tak lebih tinggi dari seorang petani.
Tatapannya kini lebih kosong dari sebelum-sebelumnya. Sedikit penghayatannya tentang arti dari Hakikat Manusia dalam kehidupan membuat ruang dan waktu yang ia kelola semakin sunyi.

Sebelum wisuda kesarjanaan, itulah kesunyian pertama yang ia hadapi. Bahwa ilmu itu tak perlu dilabelkan, tak usahnya menjadi identitas manusia, entitas dalam realita sosial dan tak perlu menjadi simbol sebagai strata kehidupan. Ilmu sudah diwacanakan oleh Tuhan betapa tinggi derajatnya bagi yang mencari, bahkan wajiblah setiap manusia untuk terus mencarinya sejak ia lahir hingga Sang Izrail menyapa.

Waktu berlalu, sampailah ia pada realita kehidupan dengan segala kecongkakan. Hidup seseorang harus bekerja jika tak ingin mati. Ini menjadikan alam batinnya makin sunyi. Dia tersambar petir ilusi masyarakat. Bahwa seorang sarjana itu ketika sudah lulus harus bisa bekerja. Dan wajiblah manusia itu bekerja untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, karena kewajiban manusia untuk menjaga kesehatan.

Seorang sarjana jika menjadi petani adalah sebuah kegagalan, jika bekerja disebuah instansi, koorporasi atau digedung-gedung mewah itu baru sarjana sukses. Itu yang masyarakat katakan hari-hari ini. Lelucon yang dipaksa untuk ditertawakan. Manusia sekarang lebih berpikir untuk mendapatkan sesuatu secara instan. Kerja sekian sedikitnya, sak umbruk hasilnya.

Suatu malam, si Esot jalan kaki menyusuri jalan dengan tujuan tak jelas. Dikeheningan malam yang penuh berkah dalam gulita, dia melihat bapak-bapak berjalan bertemankan gerobak dan seperangkat jajanan kacang, ketela juga jagung yang kesemuanya dalam rebusan.

Malam adalah waktu di mana setiap manusia bertumpah ruah dalam hamparan kasur selembut sutera. Berangkulkan mimpi-mimpi penuh pesona. Namun, malam itu si Esot mencoba memaknai realitas kehidupan. Si bapak-bapak tersebut sedang bekerja. Pekerjaan yang tak mudah, dia harus lalui malam disaat orang harus tertidur lelap. Dia bekerja dengan peluh keringatnya hanya untuk anak istrinya. Dia bekerja karena dia tahu kewajiban sebagai manusia juga sebagai tulang punggung keluarga. Dia bekerja dengan penuh kemuliaan. Dia bukan maling ataupun perampok. Sebab ia bekerja dengan penuh keluhuran. Penuh takwa dan tawakal pada Tuhan dengan memilih malam sebagai waktu mengucurkan keringatnya.

Dia sejenak termangu-mangu. Mencoba menangkap hakikat kerja. Di bawah sinar petromaks, wajah bapak-bapak itu bermandikan keringat. Itulah kerja dengan tumpah-ruahnya kemuliaan. Keringat menjadi saksi tertatihnya kaki. Bapak-bapak itu adalah manusia mulia yang hanya makan melalui keringatnya sendiri. Kemuliaan untuk mencukupi kebutuhan anak beserta istri.

“Inilah kerja sejati, kerja yang penuh kemuliaan dab keluhuran,” teriak hati Esot. Dia hanya berteriak dalam hati karena ia tak mau merusak pesona malamnya bapak-bapak itu. Lalu terngiang Esot akan pesan tamparan Mbah Nun, “Yang lebih kalian cari bukanlah kebaikan, melainkan kekayaan. Yang lebih kalian buru bukanlah keluhuran, melainkan keenakan, kenyamanan; dan pada posisi seperti itu, kalian selalu merasa lebih tinggi derajat kalian dibanding dengan orang-orang kecil yang berjualan bakso, martabak, sate,....”

Esot menatap langit yang sedang murung. Tatapan awan tersebut dia marahi. “Aku tahu bahwa engkau adalah ilusi yang mengelabuhi mataku. Engkau bukanlah langit yang sedang murung. Engkau hanya tirai kusut yang menutupi wajah langit.” Derai hujan air mata menutup kisah malam itu. Kecewa dengan seluruh mata kehidupan yang sudah tersihir dengan ilusi peradaban yang benar-benar keliru.

Dokter Banjir
Waktu itu sebelum kedatangan tamu bernama banjir. Sendang-sendang belakang rumah tak ada elok dengan riak, gelombang, gemercik air yang dimainkan ikan-ikan, burung-burung merpati dan kawannya yang sesekali menenggak segarnya air sendang, lalu anak-anak bebas berenang seperti di kolam renang berbintang dan ibu-ibu menimba untuk urusan kebersihan, dan hamparan pancing di sela-sela keriuhan. Tidak untuk sekarang. Itu waktu kecilku dulu.

Pemanasan global, itu yang orang-orang intelek riwayatkan. Ternyata dia, si pemanasan global, mempengaruhi inti dari kehidupan budaya sendang. Tanah berubah akibat ulah perbuatan panasnya. Air tak pernah penuh karena tanah yang selalu kehausan.

Anak-anak tak lagi berpeluk mesra dengan sendang. Ibu-ibu lebih asik di pemandian rumah masing-masing. Ikan-ikan punah dengan sendirinya. Burung-burung sesekali meludah. Percikan-percikan air yang tinggal riak-riak berbau tak sedap. Pancing-pancing terpajang di ketiak-ketiak rumah. Termasuk diriku yang hanya berpeluh rindu.

Lalu, di awal tahun 2014, banjir bersilaturrahmi. Menenggelamkan apa saja yang menginjakkan kaki di bumi. Semua tenggelam bahkan ada yang menghilang, termasuk sendang, meskipun hanya sementara.

Ada yang aku pelajari dari bertamunya banjir. Dia memberi pesan bahwa alam sedang sakit. Dia datang sekedar menjenguk alam yang sakit itu. Memijati bumi, membersihkan kotoran-kotoran disetiap pori-porinya, bahkan memandikan seperti yang sedang terjadi saat itu.

Benar, banjir seakan seperti dokter panggilan Tuhan untuk mengobati alam di sekitarku, karena Tuhan mau menunjukkan jika Tuhan masih terlalu sayang kepada makhluk-makhluk-Nya. Kerusakan-kerusakan alam dibenahi oleh datangnya banjir yang dianggap manusia sebagai malapetaka. Benar-benar malapetaka bagi petani tambak, terlebih tambak garam.

Seakan-akan banjir sebagai dokter. Meminta imbalan atas pengobatan kepada alamku. Setiap orang harus memberikan upeti. Yah, harus bagaimana lagi? mau tak mau harus memberikan upeti. Apapun macamnya itu. Seperti yang sudah-sudah. Pelayanan-pelayan masyarakat yang bernama rumah sakit juga seperti itu, meminta imbalan atau upah. Mereka tak mau menampung orang yang tak mampu membayar.

Datangnya banjir ternyata mengobati sendangku yang sedang dehidrasi tinggi dan megap-megap. Tanah yang sudah terkena penyakit lepra. Air yang seperti kencing kuda. Kini kembali lagi. Tanah yang tak lagi kecut, segar dengan menumbuhkan tumbuhan-tumbuhan lagi. Air yang begitu segar dengan ikan-ikan baru yang datang untuk singgah, entah dari mana dia. Anak-anak saling melempar senyum dan air. Tak ketinggalan juga, hamparan pancing yang menghiasi keharmonisan tersebut.

Kedatangan musibah itu pada hakikatnya adalah sedang menjenguk lalu mengobati penyakit-penyakit, memperbaiki kerusakan-kerusakan, membenahi bak di bengkel motor. Khususnya pada alam yang lepra dan manusia agar saling bercengkrama kembali, harmonis tanpa sela. Semoga keharmonisan itu terjaga selalu, dijaga Tuhan bersama makhluk-makhluk-Nya, kita, manusia.


Penulis: Agus Sujadi
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website