Headlines News :
Home » » [CERPEN] Kearifan Malam Seorang Kuli Garam dan Pasir

[CERPEN] Kearifan Malam Seorang Kuli Garam dan Pasir

Written By Pewarta News on Senin, 17 Oktober 2016 | 03.50

Agus Sujadi.
PEWARTAnews.com – Tiba-tiba saja sang waktu membawaku kepada masa-masa itu. Jejak pemerantauan pertamaku. Pulang pergi Pati-Yogya nebeng truk pengangkut garam ketika ke Yogja dan truk pengangut pasir ketika pulang. Awalnya berkawan, namun lama kelamaan tinggal aku sendiri yang bertahan. Bertahan hingga beberapa tahun.

Harmoni perjalanan yang tak pernah kujumpai jalanan. Jejak-jejak itu masih sangat kukenang. Ketika aku pergi, 6 hingga 7 jam aku dalam sebuah truk garam. tidur beralaskan tumpukan-tumpukan garam. Dari yang cetakan hingga karungan. Semoga tak ada lagi dizaman yang sudah modern ini yang merasakan hal itu. Apabila masih ada, kudoakan semoga mendapatkan kenikmatan-kenimatannya. Pahitnya hiraukan saja. Karena lebih enak jika kita berbicara tentang kenikmatan, apalagi dengan seduhan kopi.

Tidur beralaskan garam beratapkan terpal, jalanan saja tak kujumpai dalam selingan mataku, apalagi langit-langit malam yang penuh kesyahduan. Yang kurasakan waktu itu adalah kehangatan dari panas yang dihasilkan garam. Lalu semilir angin berhembus dari sebuah gesekan kecepatan terhadap angin yang masuk dari sela-sela terpal yang masih terbuka. Rasanya itu di bawah panas, di atas dingin.

Sayangnya, paling-paling hanya beberapa menit kenikmatan tidur dirasa. Setiap jengkal jalanan wilayah Pati-Solo penuh dengan pori-pori jalanan. Kadang juga kudengar gemericik keringatnya yang menggenang oleh ban-ban truk yang menginjakkan kakinya digenangan keringat jalanan.

Lalu perjalanan pulang. Sejak pukul 4 sore aku bersiap diri dan masih tetap dibak truk. Tidur di atas pasir. Seperti bintang-bintang film saja diriku ini. Tidur di atas pasir bah aktor dipinggiran pantai sedang menjulurkan tubuh pada sang mentari. Bedanya hanya soal kehangatan matahari dan dinginnya selimut malam yang terkadang hujan yang sesekali begitu derasnya.

Pernah sekali aku dibak truk tersebut kosong tanpa pasir waktu pulang, karena sudah diturunkan oleh kuli dalam truk di rumah pemesan. Kebetulan langit begitu murung. Entah perbuatan apa yang membuatnya sebegitu murungnya. Semoga itu hanya keberkahan langit yang sedang berjatuhan dan siap untuk disebarluasan kepada seluruh umat manusia. Benar-benar sebuah anugerah malam. Terpal yang sudah digulung sebelum turun hujan, tiba-tiba tak lama jalan hujan mengguyur seluruh badan. Uh, kenikamatan mana yang bisa kudustakan?

Seperti terdampar dalam hutan. Berlindung di bawah terpal dan berdoa semoga cepat reda. Doa bukan menolak anugerah hujan. Tapi karena anugerah yang begitu banyaknya tak mampu ku tampung lama-lama.

Tapi bukan itu kenikmatannya. Aku melihat beberapa orang yang bekerja di truk tersebut untuk menjadi kuli pengangkut garam dan pencangkul pasir. Ketika mereka bekerja aku hanya termangu, terdiam dipojokan, kadang pula diketiak truk. Karena sesekali aku menawarkan tubuhku untuk sekedar membantu sering ditolak dengan paksa.

Mereka lebih merasa terhormat apabila bekerja dengan penuh dirinya sendiri. Tanpa bantuan apalagi belas kasihan orang lain. Mereka seakan-akan sudah nyawiji dengan pekerjaannya. 'Bekerja ya bekerja, bukan dibantu atau dikasihi', pikirku. Tapi hasil menejemen sopan santun juga moralitas yang sudah dididik oleh lingkungan terutama keluarga, bantuan yang kutawarkan adalah bentuk rasa terima kasihku, yang berkat bantuannya aku bisa berjuang di tanah perantauan ini seperti mereka yang telah bekerja yang menyusuri jalanan menjilati garam dan pasir.

Lalu aku di sini saat ini. Di dalam kamar tidur beralaskan yang lebih empuk daripada garam atau pasir, dengan malam yang bisa kubelai. Juga langit yang setiap waktu bisa kurangkul. Lebih-lebih dengan tanah yang tak bergerak atau berjalan terombang-ambing. Saat ini mereka pasti dalam perjalanan ke Yogya atau kalau tidak masih bergumul dengan pasir, tidurnya yang pernah kurasakan kuharap lebih ditenangkan.

Haqqul yaqin, Tuhan itu setiap malam menurunkan kenikmatan-kenikmatan di saat orang-orang tertidur lelap. Semoga kenikmatan tersebut terbelaikan mereka dan diberi malam-malam yang penuh kenikmatan dengan permenungan dan kearifan.

Yogyakarta, Agustus-September 2014


Penulis: Agus Sujadi
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website