Headlines News :
Home » » [CERPEN] Peradaban Gengsiologi dan Egosentris Ditampar Ibu-Ibu

[CERPEN] Peradaban Gengsiologi dan Egosentris Ditampar Ibu-Ibu

Written By Pewarta News on Senin, 17 Oktober 2016 | 04.56

Agus Sujadi.
PEWARTAnews.com – Gengsiisme dan egosentris, dua sahabat diri yang lama kukenal tapi tak begitu kukenal. Awal perjumpaanku itu ketika aku masih berseragam putih abu-abu. Sejak ibu menggantikan peran bu likku yang setiap hari aktif sekolah membuat jajanan untuk cemilan para pahlawan tanpa tanda jasa ketika jam istirahat. Sejak pengambilalihan pekerjaan tersebut aku juga mendapat tugas tambahan dari ibu, setiap masuk sekolah membawa jajanan untuk dimakan para pahlawan tersebut.

Aku merasa ada getaran dalam hati. Getaran yang terjadi tersebab membawa jajanan yang akan dimakan oleh mereka yang selalu aku kagumi, hormati. Merekalah yang mengajariku setiap hari. Dari guru muda hingga yang sudah sepuh. Yang berijazah ataupun tidak. Yang terakhir itulah yang paling aku kagumi. Tanpa ijazah, dialah sang Guru, Kiai, ulama kampung dengan sejuta kharismatik dibanding seorang presiden, menteri, bahkan gubernur ataupun bupati.

Tapi sejak itu pula aku mengenal sahabat yang bernama gengsiisme dan egosentris. Ungkapan wujud jiwa manusia, khususnya seorang pemuda sepertiku yang masih dibawah umur 17 tahun tak lain adalah gengsiologi. Keilmuan yang membahas kegengsian remaja. Gengsi yang berupa bentuk rasa malu yang sebenarnya sebuah kemuliaan, namun kemuliaan tersebut dibilang kolot, tidak zaman, basi, lebih-lebih tidak mengikuti pergaulan dan peradaban zaman. Bagaimana tidak? aku yang setiap harinya bergaul dengan teman sejawat tidak ada yang seperti aku. Setiap harinya membawa jajanan ke sekolah. Malu dong.

Masak seorang pemuda dengan peradaban post-modern membawa jajanan untuk dijual. Gengsi sekolah ya membawa motor, berseragam necis, tas dan perabotan sekolah yang serba wah. Lah ini, masak malah bawa jajanan. Pakai sepeda lagi. Gengsiisme tingkat dewa ini namanya. Dilihat oleh teman-teman, adik kelas juga kakak kelas. Bahkan yang perempuan. Bheh!

Aku yang sewujudnya kawula muda, yang seharusnya lebih berperadaban post-modern dengan segala teknologi dan perkembangan zaman. Tidak seharusnya aku melakukan hal yang ketinggalan tersebut. Apa-apaan itu?

Peradaban sekarang memang lucu. Sebuah kemuliaan dianggap hal yang lusuh. Tapi, hal itu sudah dipelajari dalam-dalam oleh ibuku sendiri. Ternyata sejak beliau kecil, semasa kanak-kanaknya kesehariannya selain sekolah adalah menggembala kambing dan menjadi kuli garam. Sekarang aku dapat mempelajari hal itu. Sungguh pelajaran yang sangat sederhana, namun begitu berharganya.

Dari hari ke hari. Sedikit demi sedikit mulai hilang rasa gengsi dan egosentris tersebut. Hingga bisnis tersebut juga semakin meluas. Dari warung ke warung mulai dilobi ibu. Membuat diriku semakin banyak tugas pula. Bahkan aku yang biasanya bangun fajar hanya sekedar beritual ria harus menyisihkan tenaga untuk memasang tangan dan kaki untuk membantu ibu di dapur. Ketika shubuh berkumandang, itulah sejenak aku istirahat disurau untuk berteriak-teriak membangunkan tetangga-tetangga yang sedang berlalu lalang dalam dunia mimpi yang begitu murni tanpa intrik apapun.

Subuh berlalu, aku berkeliling desa. Dari warung ke warung. Di sana tidak kutemukan remaja-remaja yang sudah berkeliling. Yang kutemui hanya ibu-ibu dengan segala perabotan pasar, perbelanjaan dari warung, ada pula yang ngangsu untuk sekedar kebersihan negara berumah tangga. Ada pula bapak-bapak, mereka bercaping, bersepeda tua. Rata-rata dari sebaya hingga lanjut usia. Mereka adalah petani yang penuh kewibawaan seorang petani. Petani tambak dan petani sawah.

Kearifan yang baru kusadari sekarang yang sudah kulakukan sejak berumur 15 tahun. Berkomunikasi dengan pemili perempuan di warung yang rata-rata juga berumur sebaya dan lanjut usia. Berdialog dengan orang tua terlebih ibu-ibu ternyata ada kesan tersendiri untukku. Mereka terkadang memujiku karena sebelum subuh berkumandang aku sudah membantu ibu. Berbeda dengan kebanyakan remaja lakukan. Entah pujian tersebut karena benar-benar senang atas yang kuperbuat atau bukan, yang penting bentuk pujian tersebut sesungguhnya hanya milik Tuhan semata.

Secara tidak langsung, pujian tersebut merupakan sebuah tamparan terhadap peradaban zaman post-modern. Yang dipertanyakan eksistensi manusia remaja sekarang. Antara Gengsiisme dan egosentris. Tanpa uang saku lebih banyak si Budi tak berangkat sekolah. Tanpa motor untuk sekedar berkendara ke sekolah si Ani tidak mau sekolah. Dan terakhir aku mendengar keluhan dari seorang bapak-bapak, jika anaknya tidak dibelikan motor Ninja akan pergi dari rumah.

Lalu aku sejenak membayangkan diriku menuntut orang tuaku untuk sekedar gengsi dan ego. Iya kalau mereka ber-uang. Kebetulan kehidupan yang pas-pasan. Apakah mereka akan menuruti apa yang aku punya? Mungkin aku akan diambilkan sebuah kayu untuk sekedar dapat pelajaran tambahan di luar sekolah.


Penulis: Agus Sujadi
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website