Headlines News :
Home » » Ilmu Berkehidupan Kemanusiaan

Ilmu Berkehidupan Kemanusiaan

Written By Pewarta News on Minggu, 09 Oktober 2016 | 02.48

Agus Sujadi,
PEWARTAnews.com – Semi-nomaden, mungkin seperti itu panggilan kehidupanku. 4 tahun lebih hidup di kerajaan Tuhan wilayah otonom Sleman. Sleman yang sering dibilang adalah berasal dari nama Nabi Sulaiman. Nabi dari Indonesia, tepatnya Jawa.

Dilanjutkan 1 bulan di kerajaan bahasa, Pare, Kediri. Tempat yang sering untuk membuka jendela para pencari ilmu. Karena bahasa adalah jendela dunia. Tak sanggup dengan krisis moneter kehidupan pribadi, aku melancong lagi ke Bumi Hadiningrat, Yogyakarta dan menetap 4 bulan di Kerajaan Pesantren Kapitalis-Feodalis untuk memperbaiki krisis moneter.

Tak nyaman dan sangat bertentangan dengan idealisme seorang pemuda. Jangan salah sangka, bahwa “kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda adalah idealisme,” begitu ungkapan salahsatu funding father bangsa Indonesia yakni Tan Malaka. Teguh ideologi yang kupegang membuat aku harus melempar diri ke tanah sunyi. Tanah permenungannya para santri yang dinaungi Sang Kyai. Tak terasa pula 2 bulan telah merenggut waktuku. Lagi-lagi krisis ekonomi yang menundukkan ideologi yang kupegang. Sangat menyakitkan!

Sebuah buku yang berjudul "Kriminologi" mengajarkan aku tentang berbagai jenis kejahatan yang sebenarnya. Ilmu yang aku dapatkan untuk menghindari ternyata harus kupeluk. Kejahatan adalah kebaikan pribadi, dan kebaikan bersama adl kejahatan. Kehati-hatiannya hanya dengan melek mata terhadap segala sesuatu. Kutemukan bahwa hampir segala jenis aktifitas manusia itu adalah bersenandung kematian. Di balik lirih lantunan nada kehidupan adalah pedang-pedang yang siap menggorok setiap leher manusia. Salah satu yang paling besar adalah korporasi.

Kupelajari bentuk dan wujudnya dari jempol kaki hingga ujung rambutnya. Akhirnya aku sendiri yang menjadi bagian organ tubuh korporasi, yaitu perut. Menjadi perutnya untuk dapat mendapatkan makanan dari kunyahan mulutnya. Aku sebagai perutnya, makan dari mulutnya. menjijikkan!

Kuberitahu sesuatu. Organ tubuh manusia yang paling rentan adalah perut. Berwujud kelaparan. Untuk tidak lapar hanya makan atau mati. Sebagai manusia yang masih berbudi manusia. Aku mempertahankan hidup dan mencari makan. Aku bertahan hidup dalam perut korporasi. Mencari asupan gizi dengan bermain kejahatan-kejahatan yang tertutup rapi yang bernama berkehidupan manusianya korporasi.

Hanya sedikit yang tahu bahwa segala macam aktifitas kehidupan manusia modern adalah berasal dari korporasi. Sabun, sikat gigi, pakaian, makanan dan bahkan nafasku sendiri adalah bentuk dari 'kebaikan' korporasi yang sudah menjadi bagian dari diri. Kuhinakan ilmu kejahatan yang kupelajari dengan menjadi bagian dari kejahatan.

Ku teken kontrak selama satu tahun dengan korporasi. Waktu yang tidak sedikit. Kata orang jadilah manusia dengan realitas jangan beridealis. Sayangnya pelajaran filsafatku menyelamatkanku lagi. Aku sungguh berterima kasih. Karena ini bukanlah tentang realitas dan idealitas. Tapi pencarian ilmu pengetahuan. Ilmu untuk membuka pintu-pintu yang tertutup oleh kebodohan. Ilmu untuk hidup lebih baik lagi. Jauh dari kebodohan dan kejahatan. Entah orang menganggap itu realitas, tapi jangan lupakan pengetahuan.

Buku langit yang diturunkan pertama yang menjadi bacaan wajibkku "Bacalah!" Berbagai tafsir memberikan pengertian tentang pencarian ilmu. Untuk menjadi manusia berilmu yang mengawalinya dengan membaca. Sedang manusia bumi yang menjadi utusan langit terakhir, Muhammad. Beliau mengajak setiap diri manusia untuk mencari ilmu walau sampai ke Negeri Cina. Carilah kemanapun ia. Kupaslah ia setiap jengkal kaki yang kamu pijak.

Realitas kehidupan adalah tentang hidup. Tentang bagaimana bertahan hidup. Di sinilah ilmu pengetahuan berwujud. Ternyata dia juga mempelajari ilmu berkehidupan dan terlebih lagi berkemausiaan. Realitas itu adalah percikan ilmu tentang kehidupan. Bukan hidup untuk melek realitas dan terlalu larut dalam ideologi. Tapi berilmu. Idealisme itu juga hasil dari berilmu. Bagaimana aku menggunakan idealisme dalam berkehidupan realitas. Bukan Realisme!


Penulis: Agus Sujadi
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website