Headlines News :
Home » , » Kesadaran Kealammoral Kemanusiaan

Kesadaran Kealammoral Kemanusiaan

Written By Pewarta News on Rabu, 05 Oktober 2016 | 02.06

Agus Sujadi.
PEWARTAnews.com – Fenomena demi fenomena yang berasal dari anak bangsa membuat warna baru terhadap kultur dan peradaban masyarakat Indonesia. Orang-orang tua mengatakan bahwa pemuda zaman dulu lebih bermoral daripada zaman sekarang. Bagaimana tidak? Kalangan-kalangan kawula muda menamai dirinya sendiri seperti geng-geng, punk, alay, dan dalam kurun waktu akhir-akhir ini ada yang bernama cabe-cabean. Hal itu seperti paradoks sehingga tak sedikit pula kalangan pemuda melaknat pada kaum-kaum tersebut.

Ini fenomena, bukanlah sebagai bentuk barbarisme kebudayaan yang kemudian kita kecam, abmoralkan, dan melaknatkannya. Seperti halnya anak-anak punk. Ideologi dasar yang mereka pakai adalah bentuk anti-kapitalisme. Dengan gaya hidupnyalah mereka menyatakan penolakan terhadap kapitalisme melalui musik, gaya berpakaian, dan gaya rambut. Mereka menggunakan identitas dan simbol. Sehingga apa yang terlihat oleh kasat mata adalah bentuk paradoks bangsa. Dan yang terkahir inilah bentuk penilaian dari orang-orang tua kita kepada para pemuda bangsa.

Para pemuda tersebut bukanlah disebabkan kurangnya mengenyam pendidikan. Bahkan tidak sedikit pula berasal dari Perguruan Tinggi Negeri hingga Swasta. Di sinilah saya menilai bahwa mereka mempunyai bakat-bakat yang terpendam. Anak-anak punk misalkan, mereka mempunyai dasar bakat ideologi. Apabila dikembangkan dengan pendampingan yang tepat oleh negara, mereka akan lebih bisa mengapresiasikan bakat-bakat yang dipendam. Contoh lain adalah geng-geng, seperti geng motor. Talenta mereka lebih kelihatan, yaitu balap motor. Sama dengan hal yang pertama. Dengan pendampingan yang tepat mereka akan dapat berapresiasi. Tidak hanya dengan talenta individu, melainkan juga akan berpengaruh pada penilaian masyarakat dan orang-orang tua kepada mereka yang dianggap telah merusak citra pemuda tempo dulu bahkan bangsa.

Melalui kacamata sejarah, pemuda tempo dulu mempunyai kearifan budaya berupa taklid. Taklid tersebut ditujukan kepada guru bangsa, politikus, seniman, pastor, kiai-kiai, serta para agamawan lainnya. Yang dimaksud di sini adalah pegangan dasar, patokan, atau pengguruan kultur yang belum berkembang begitu besar seperti yang terjadi sekarang ini. Jadi, moral universal bangsa belum terlampau jauh untuk diketahui apa yang sebenarnya para pemuda butuhkan. Dalam kerangka situasi yang seperti sekarang akan makin sukar dibayangkan bagaimana jawaban tentang taklid bisa diberikan. Karena mereka bukan lagi menjadi guru bangsa, seniman dan yang lainnya.

Di sinilah sistem tersebut akan dibuat. Para guru bangsa, politikus, seniman, agamawan dan yang lainnya akan menjadi sistem pendamping tersebut. Di mana mereka tidak hanya akan berkutik dengan sistem kenyamanan talenta individu masing-masing. Ia bukan lagi guru bangsa yang sekedar mengukir kursi, seniman yang sekedar mengukir patung, dan agamawan yang sekedar berdakwah. Sayangnya sikap sistem semacam ini amat sukar untuk memproses apa-apa yang dimilikinya agar berdampingan dengan yang lain.

Saya sendiri yakin pada setiap orang dengan talanta individunya masing-masing, bahwa setiap individu, kita, dan masyarakat punya kekuatan moral sebagai masyarakat, sebagai kesatuan dan persatuan bangsa. Tetapi, lagi-lagi terbatas pada segi-segi dan takaran tertentu belaka. Hal ini seakan-akan terus membayangi untuk menjadi gap antara satu dengan yang lain. Antara guru bangsa dengan kuli, agamawan dengan gelandangan. Pancasila lebih banyak diamalkan oleh kalangan masyarakat yang sebenarnya kurang paham betul Pancasila, terlebih pada kaum-kaum yang sering mendapat kecaman.

Ini adalah sebuah pertanda bahwa bangsa Indonesia merindukan figur yang mempunyai kewibawaan universal. Seperti yang dikatakan oleh Emha Ainun Nadjib (Indonesia Bagian dari Desa Saya), ‘kewibawaan universal’ oleh pemimpin, para pelopor negara, tokoh-tokoh, bangsawan, dan yang lainnya dalam lingkup mempunyai derajat sosial serta kaum feodal sedang mangalami krisis. Jadilah terpecah belah antara kaum elite dengan kaum miskin. Mereka semua akhirnya miscommunication. Sebagai suatu akibat riil, ibarat sebuah obor. Obor itu tidak akan ada nyala api apabila tidak ada bambu, minyak tanah, dan secarik kain. Tidak serta merta kaum miskin akan melakukan penyelewengan hukum kecuali untuk mencukupi kebutuhan yang paling mendesak. Seperti yang terjadi pada tahun 2011 lalu. Seorang nenek yang secara terpaksa mencuri singkong dan divonis hukuman penjara. Karena tidak adanya nalar dan komunikasi antara kaum feodal yang membiarkan kelaparan terhadap kaum-kaum tertentu.

Almarhum K.H Abdurrahman Wahid menyebutkan, “moralis yang mampu memperlihatkan keluhuran budinya sendiri”. Barangkali kita memang hanya memiliki petuah-petuah daripada contoh nyata. Bahwa seorang pemimpin yang tak mampu membimbing moralnya sendiri, dia tak akan pernah punya hasrat untuk mengenal kebutuhan konkret dari rakyatnya.

Gambaran-gambaran tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat membutuhkan tuntunan dari kewibawaan universal seorang pemimpin. Tidak hanya figur pemimpin. Setiap dari kita dari kaum bangsawan, terdidik hingga kaum pinggiran harus paham akan kewibawannya. Karena setiap orang itu punya wibawanya masing-masing. Wibawa yang berarti saling menghormati melalui sikap dan tingkah laku. Seorang pemulung mempunyai wibawa untuk dihormati dan dihargai, sebab dia adalah seorang tulang punggung keluarga dengan selusin anak yang harus dinafkahi. Bukan berarti hal ini berupa Hak Asasi Manusia (HAM), melainkan tentang kemanusiaan.


Yogyakarta, 10 Maret 2014
Penulis: Agus Sujadi
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website