Headlines News :
Home » , , , » LDK FIMNY 2016, Ini Dia TOR-nya

LDK FIMNY 2016, Ini Dia TOR-nya

Written By Pewarta News on Jumat, 14 Oktober 2016 | 11.12

Logo FIMNY.
Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pada tanggal 14-15 Oktober 2016 Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) melangsungkan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) dengan mengangkat tema “Membentuk Insan Ulil Al-Bab Yang Berjiwa Pancasila”, bertempat di Pantai Pelangi, Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk memberikan gambaran umum terkait materi apa yang akan disampaikan para pemateri, maka perlu adanya Term of Reference (TOR).

Berikut Term of Reference (TOR)-nya yang telah diberikan kepada para pemateri:

.....katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang ber-akal-lah yang dapat menerima pelajaran. (Q.S Az Zumar, 39 : 09).

Mahasiswa merupakan salah satu elemen terpenting dalam masyarakat. Mereka memiliki kelebihan, berupa daya analisa yang kuat dan idealisme yang teruji, sehingga tergolong pada kelompok intelektual. Pada sisi lain, sebagai kelas menengah dalam masyarakat, mahasiswa dituntut untuk menjadi pelopor perubahan sosial yang progres. Kelebihan itulah yang membuat nama mahasiswa menjadi lebih “istimewa”. Kelebihan yang dimiliki oleh seseorang atau suatu kelompok – dalam hal ini mahasiswa – tidak bisa membuatnya merasa puas dan terlepas dari beban dan tanggung jawab sosial, sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas. Apalagi membuatnya “lupa diri” dengan membanggakan “keistimewaan” melekat padanya. Maka, berdasarkan pada kelihan-kelebihan itulah mahasiswa memiliki suatu kewajiban dan tanggung jawab yang harus diemban. Yaitu – pada level terendah – memberikan gagasan-gagasan cerdas berupa konsep yang “matang”dalam kehidupan masyarakat. Gagasan dan konsep inilah yang nantinyabisa diharapkan, akan mampu memberikan solusi suatu permasalahan dan membawanya menuju keadaan yang lebih baik.

Seiring waktu yang bergerak maju. Dalam perjalannya tidak sedikit mahasiswa yang hanya bangga dengan status kemahasiswaannya saja, tanpa memanfaatkan intelektualitas dan masa pembentukan idealismenya sebagai mahasiswa untuk memberikan gagasan-gagasan besar untuk perubahan dalam masyarakat. Saat ini mahasiswa Indonesia hanya diberi pembelajaran untuk menjadi tidak lebih sebagai calon karyawan saja. Apabila hal ini terus dibiarkan maka Indonesia ke depannya akan mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan Negara-Negara lainnya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan dalam rentang waktu tertentu – kita akan mengalami “krisis pemikir – intelektual” yang mampu menelurkan gagasan-gagasan cemerlang dalam kehidupan Negara-Bangsa ini. Hal tersebut tentunya akan merugikan dan, lebi jauh akan menjerumuskan dalam golongan yang tidak memiliki peradadan maju dalam jejak sejarah umat manusia.

Kemarin, hari ini dan esok adala garis kehidupan yang tidak terpuus. Begitupun, masa silam, masa kini, dan masa depan merupakan suatu “rantai” kehidupan saling membentuk. Walaupun, masa silam dan masa depan adalah “misteri” bagi manusia saat ini, tidak berarti masyarakat manusia sekarang bukan bagian yang terlibat dalam prosesnya. Masa lampau membentuk masa kini, masa depan merupakan bentukan tidak langsung dari masa kini dan masa lampau. Oleh karena itu, refleksi singkat dan sederhana diatas merupakan suatu ikhtiar bersama. Yaitu, sebagai titik tolak untuk berkontribusi dalam membentuk cerita sejarah dimasa depan. Maka,salah satu usaha praktis sebagai bentuk represantifdari refleksi – kalaupun bukan suatu kekhawatiran - tersebut adalah dengan membangun kepribadian mahasiswa yang memiliki karakter Ulul al-Bab.

Ulil al-Bab merupakan suatu konsep yang tidak kurang dari enam belas yang di gambarkan dalam konteks yang berbeda-beda. Berkaitan dengan perbedaan konteks yang digambarkan tersebut, dapat ditarik suatu kesimpulan “bulat”, bahwa Ulil al-Bab mengharapkan lahirnya manusia atau sekelompok manusia yang mampu menjadi poros perubahan dan perbaikan dalam suatu masyarakat. Hal merupakan ciri sekelompok manusia yang memiliki kejernihan dalam berfikir, ketajaman dalam analisa maupun kegigihan dalam berbuat. Al-Raghib al-Asfahani mendefinisikan lubb sebagai pemikiran jernih yang terbebas dari kekeliruan atau kecacatan dalam berpikir.

Dalam konteks bahasa Indonesia, Ulul al-Bab dapat diartikan sebagai kaum intelektual. “Intelektual adalah suatu proses kognitif dimana manusia memiliki kecakapan yang tinggi dalam berpikir untuk dapat menghubungkan, menimbang dan memahami (A Comprehensive Dictionary of Psichological and Psychoalitical Terms). Jadi, intelektual adalah orang (sekelompok orang) yang dapat berpikir dalam memahami suatu keadaan untuk memberikan gagasan-gagasan besar yang analitis dan normatif.Walaupun Ulul al-Bab dalam konteks Indonesia dapat diartikan sebagai kaum intelektual, akan tetapi keduanya memiliki perbedaan. Kaum intelektual belum tentu dapat dikatakan sebagai generasi Ulul al-Bab, akan tetapi generasi Ulul al-Bab sudah pasti dapat dikatakan sebagai kaum intelektual. Satu hal yang membedakan dan menjadi nilai tambah Ulul al-Bab dibandingkan dengan intelektual adalah nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepad sang pencipta. Tidak berlebihan jika menagatakan, bahwa kelompok Ulil al-Bab merupakan pewaris misi para Nabi. Masa kenabian telah berakhir, yaitu dengan diutusnya Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Tetapi misi ke-Nabi-an (profetik) belum berakhir, kata Fazlur Rahman – tokoh Neo- Modernis Islam.

Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat yang lebih besar dengan segala kemajemukannya, Negara Indonesia. Perlu melandaskan gagasan dan konsepnya dengan pandangan hidup yang telah dianggap “mampu” merangkul kemajemukan yang ada, yaitu Pancasila. Karena kehadiran sekelompok insan Ulil al-Bab, mampu menjadi atau memberikan “ilham kesimpulan” dalam kehidupan – tidak hanya untuk suatu kelompok dan golongan – melainkan dapat mewakili kebutuhan seluruh kelompok dan golongan yang ada. Itulah mengapa dalam konteks ke-Indonesia-an, konsep Ulil al-Bab harus “membumi” dalam ruang dan waktu kehidupan masyarakat Indoenesia. Begitupun dengan manusia dan kelompok Ulil al-Bab tersebut, harus mampu berfikir dan bersikap inklusif. Adapun Pancasila dan ajaran Islam tidak memiliki pertentangan yang cukup mendasar. Karena substanti keduanya memiliki spirit yang sama. Begitupun halnya dengan konsep Ulil al-Bab yang “hidupkan” dalam lorong-lorong sejarah kehiudpan masyarakat manusia Indonesia.

Gambaran tulisan di atas merupakan uraian singkat yang tidak mungkin mampu mewakili tujuan kami dalam proses pelaksanaan LDK ini. Selain itu, ia hadir – tidak lebih – sebagai gambaran umum dari apa yang menjadi harapan kami selama proses LDK berlangsung dan seterusnya. Karena, sesungguhnya secara detailnya akan banyak di sampaikan oleh pemateri, dalam bidang-bidang kajiannya. Terakhir, Term of Reference (TOR) ini dapat menjiwai proseses pelaksanaan pelatihan ini, dan yang terpenting dapat menjiwai setiap isi materi yang akan di sampaikan oleh pemantik (pemateri) dalam wilayah kajiannya masing-masing.

Selain itu, pada tiap-tiap Pemateri juga diberikan tema materi masing-masing.
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website