Headlines News :
Home » » Paul Zulkarnain, Cintanya Tertambat Di Malioboro

Paul Zulkarnain, Cintanya Tertambat Di Malioboro

Written By Pewarta News on Selasa, 18 Oktober 2016 | 04.26

Paul Zulkarnain.

"Di antara deretan para pedagang di sepanjang Malioboro, sesekali suara khas lelaki kelahiran Bima Nusa Tenggara Barat ini menyeruak."


PEWARTAnews.com  Sedikit lantang, sehingga kerap membuat ciut nyali calon pembeli. Tapi coba luangkan waktu sejenak untuk berbincang atau mencoba menawar barang dagangannya, maka kesan itu perlahan akan sirna, berganti dengan rasa nyaman bercakap dengan sosok satu ini. Zulkarnain nama pria ini, yang kemudian lebih dikenal dengan panggilan Bang Paul. Maka di lingkungan Malioboro, ayah tiga anak ini kemudian biasa mengenalkan diri dengan nama Paul Zulkarnain.

“Supaya nama asli tetap ada, tapi nama yang terlanjur kesohor di Malioboro dan Jogja juga disebut,” kelakar Bang Paul, saat bertemu dengan www.jalanjogja.com, Oktober 2014.

Memang, di kawasan jantung Kota Jogja ini, nama Bang Paul sama sekali tidak asing. Coba saja, saat ke Jogja Anda singgah di Malioboro dan bertanya ke pedagang disana, maka nama Paul pasti akan dikenal dengan baik. Bahkan, bukan hanya di lingkup pedagang perko atau emperan toko, nama Bang Paul juga dikenal luas di komunitas pengamen, tukang parkir, para pemilik toko di deretan Jalan Malioboro, hingga di sekitar Pasar Bringharjo.

Paul, sampai sekarang tercatat sebagai salah satu pedagang kaki lima di perko. Lapaknya berada persis di depan Toko Sumber Husada dahulu Tek An Tong salah satu toko obat di deretan ini. Diseberang jalan, adalah kompleks perkantoran Kepatihan dimana Gubernur DIY Sri Sultan HB X berdinas. Setiap harinya, Bang Paul ditemani istri tercinta Winarti, berdagang aneka barang kerajinan seperti kelontong sapi, berbagai varian asbak, sepeda dan becak mini.

Saat ini, Paul Zulkarnain ikut aktif di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro. Pria berkumis ini menjabat sebagai humas UPT. Tapi sebelumnya, Paul sudah dikenal malang melintang di kawasan Malioboro sebagai salah satu yang dituakan oleh komunitas.

Masuk dan bergabung di Malioboro, diawali Paul di tahun 1987-an. Kala itu, Paul muda masih bekerja serabutan. Yang utama adalah menjaga dagangan kaset lagu milik orang Padang di Malioboro. Pekerjaan ini, dia peroleh setelah sebelumnya orang itu meminta bantuan Paul untuk memperbaiki alat perekam dan pemutar kaset lagu yang rusak.

“Saya tidak minta bayaran. Tapi saya minta diperbolehkan bekerja di lapak milik orang tersebut. Dari sana saya terus belajar banyak hal, termasuk berbagai alat elektronik. Sampai memperbaiki apa pun saya bisa,” kata Paul bangga.

Dari karyawan dan berjualan kaset lagu, cleaning service hingga bekerja di toko elektronik, Paul terus menimba pengalaman dengan bekerja di lain bidang. Bahkan setiap hari Paul pernah menjajakan lumpia dari seorang juragan di Toko Tiong San. Kemudian pernah pula menjajal peruntungan di tukang membuat stempel.

“Sekian lama bergelut di Malioboro, lama kelamaan saya kerasan dan cinta dengan Malioboro. Apalagi di sini pula saya menemukan gadis yang kemudian menjadi pendamping hidup,” kata Paul yang kemudian melepas masa lajangnya di tahun 1989, sekalipun belum punya lapak sendiri sebagaimana dia idam-idamkan. Sampai akhirnya, kesempatan itu tiba, dan Paul mengganti rugi sebuah tempat dari seorang rekan sesama pedagang. Perjuangan panjang Paul, ternyata membawa hasil. Suatu saat, Paul kemudian diangkat menjadi ketua komunitas. Dari sana, Paul bersama pengurus yang lain terus mendorong program-program bagi komunitas Malioboro. Paul cs juga pernah mencoba menandingi Perda PKL yang dilahirkan Pemkot Jogja. Sebagai bagian dari Malioboro, Paul mengaku dapat merasakan betul keinginan dan kebutuhan para pedagang dan komunitas.

“Mereka intinya siap dan mau ditata. Asal jangan direlokasi apalagi digusur. Kawan-kawan juga sangat kompak untuk ikut menjaga Malioboro. Bahkan, para pemilik toko juga menerima kami sebagai bagian yang tidak terpisahkan dan penting. Karena kami saling menjaga. Sejak awal, saya berusaha keras menanamkan nilai-nilai persatuan. Bukan hanya sesama pedagang tapi juga dengan semua elemen yang ada,” paparnya.



Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website