Headlines News :
Home » » Potret yang Jatuh

Potret yang Jatuh

Written By Pewarta News on Minggu, 09 Oktober 2016 | 03.33

A. S. Mechi.
PEWARTAnews.com – Pukul tujuh belas, sore hari – menjelang magrib. Olan masih asyik membaca sebuah buku yang terletak diatas meja. Konsetrasinya hanya ditujukan padanya. Sesekali ia melihat keadaan diluar kamarnya. Suasananya sudah terlalu gelap, seakan waktu magrib telah tiba. Kumandang azan seakan tak terdengar lagi di menara-menara Masjid dan Musholla yang menjulang ke angkasa. Mengajak setiap insan beriman untuk bersimpuh dihadapa-Nya – setelah seharian bergelut dengan polusi kehidupan dan gerahnya keringat kehidupan Dunia. Ajakan untuk menuju pintu kemenagan atau setidaknya melunturkan sebutir “debu maksiat” selama sehari. Olan melirik kebelakang, melihat baik-baik jarum jam dinding yang tergantung di tembok kamarnya. Butuh beberapa puluh menit lagi untuk bisa mendegar suara khas marbot yang keluar dari pengeras suara di menara-menara Masjid. Tapi, suasana diluar gelap – mendung. Harusnya waktu magrib telah usai.

Kini gerimis datang lagi, setelah dua hari sebelumnya cukup cerah. Sesaat setelahnya, suara marbot terdengar. Ia menyaksikan sebagian orang di sekitarnya menuju sumber panggilan. Panggilan yang sangat akrab bagi semua manusia yang mengaku Muslim – taat maupun tidak. Panggilan yang tak berarti apa-apa bagi sebagian orang – kosong tak bermakna. Tetapi, sangat menggugah bagi sebagiannya lagi. Rela meninggalkan segala bentuk aktivitas profan duniawi. Untuk menuju pada ritual yang sangat sakral sebagai Muslim yang taat – menuju bentuk pengakuan tertinggi seorang makhluk kepada Sang Khaliknya. Mereka berangkat dengan membawa payung, ada juga yang menggunakan sajadahnya untuk sekedar menutup kepala dari gerimis.

Olan menutup buku. Sesekali ia melirik lagi sampulnya lalu tertuju pada nama pengarang. Ia tidak beranjak dari kamar untuk menuju tempat suci, Masjid. Mungkin Ia memilih berhadapan dengan-Nya di kamar saja. Atau mungkin ia tak melakukan ritual itu lagi? Entah. Ganggang pintu ditariknya, pintu terbuka – Olan keluar. Tapi, tanpa sarung atau celana panjang ataupun sajadah ditangan dan kepalanya. Hanya kaos dan celana pendek selutut. Yang pasti ia tidak mungkin ke tempat suci itu dengan penampilannya. Tapi kemana?

Rupanya ia telah sampai didepan kamar kos temannya, hanya selang beberapa kamar kos saja dari kamar dirinya.

“Asalamualaikum”. Ucapnya. Tidak ada jawaban. Tapi, pintu tidak terkunci. Ia langsung masuk. Lalu duduk diatas kursi, depannya ada meja belajar,  lebih-kurang 50 cm diatas meja tergantung rak  buku. Satu persatu ia baca judul buku – dari kiri ke kanan. Akhirnya, tetuju  pada salah satu buku yang cukup tebal. Disampulnya tertulis Filsafat Barat dan nama –penyusunnya Bertrand Russel. Ia tak membacanya dari halaman pertama. Melainkan melihat daftar isi lalu tertuju pada sebuah nama. Filsuf politik Italia, salah satu pelopor lahirnya zaman pencerahan (Renaissance) di Eropa. Sekilas ia langsung membuka halaman yang tertuju pada daftar isi dan melewati ratusan halaman sebelumnya, untuk sebuah nama – Machiavelli.

Gerimis masih terdengar. Berpantulan dengan atap-atap rumah tetangga dan juga atap kos-kosannya. Walau demikian, tak membuat Olan hilang konsentrasi, apalagi dirinya telah terbiasa baca di tempat yang ramai. Bahkan, tidak jarang ketika “bedialog” dengan buku di  kamar ia ditemani dengan alunan musik dan nyayian lagu-lagi slow. Satu halaman telah usai ia baca – mungkin juga telah ia analisa. Baru dua baris pada halaman berikutnya, konsentrasinya terpecah oleh suara. Suara pintu yang terbuka, diikuti oleh suara orang yang menyapa. Rupanya, Evan – Sahabatnya pemilik kamar kos tempat ia sedang membaca.

“Assalamualikum”. Sapa Evan dengan nada panjang diakhirnya.

“Kumsalam”. jawab Olan. “Darimana?”. Lanjutnya. Cukup singkat.

“Dari luar”. Evan. Belum sampai semenit berada di kamarnya, Evan keluar lagi.

“Kemana lagi?”. Olan.

“Kesana bentar!”. Evan.

“??????”. Olan tak menghiraukan lagi sahabatnya Evan yang kini pergi lagi, entah kemana. Ia tak tahu. Perhatiannya kemabli tertuju pada deretan kata-kata yang terangkai rumit dalam buku itu, membaca. Walaupun agak berat untuk dipahami.

Entah berapa lama Evan keluar dari kamarnya, semenjak kedatangannya yang cukup sigkat tadi. Yang Ia tahu dua halaman telah usai  dibacannya, semenjak Evan datang dan mengalihkan perhatiannya lalu pergi begitu saja. Tanpa keterangan yang jelas. Hanya dua kata “Kesana bentar!”. Saat ia berusaha dengan semaksimal untuk memusatkan perhatiannya pada rangkaian kalimat yang membicarakan tentang perihal “muslihat” politik dan profil tokoh itu. Tiba-tiba terlihat sebuah bayangan yang mengarah padanya lalu menabraknya. Fisiknya tak merasakan apa-apa. Ya, karena hanya sebuah bayangan. Yang ia sadari, dirinya sangat kaget dan berusaha menghindar sampai melepaskan buku ditangannya, lalu tertutup. Kemudian ia mendengar sura benda yang jatuh. Suara yang tidak terlalu keras. Mungkin seperti suara sekali ketukan pintu. “tookk”.

Evan belum kunjung datang. Ia berbalik dari tempat duduknya dan mendapati sebuah benda tipis berbentuk persegi. Sebuah kertas foto. Iya, bentuknya seperti kertas foto. Ukuran berapa R? Olan tak tahu. Ia pungut lalu memperhatikannya dengan seksama. Ia semakin kaget – detak jantungnya lebih cepat dari biasanya, tangannya gemetar saat menyentuhnya. Setelah melihat potret wajah di dalamnya. Wajah yang bersahaja dengan tatapan penuh wibawa dan penuh arti. Tatapan khas seorang pemimpin kharismatik. Posisi berdirinya yang gagah. Gambaran seorang dengan prinsip yang kuat. Tangan kanannya memegan sebuah tongkat kecil sepanjang kira-kira limapuluh cm. Khas pemimipin besar. Diatas pundak sebelah kirinya terdapat sebuah burung Elang, terbang setinggi kepalanya. Simbol keberanian dan kebebasan.

Setelah memperhatikan dengan rinci. Kini ia tahu, itu adalah sebuah potret. Potret orang nomor satu pada zamannya, bahkan kinipun Ia tetap diakui. Potret sesosok manusia yang telah menggaung kemerdekaan secara sah dihadapan seluruh rakyatnya dan Dunia. Dengan gagah berani ia menyuarakan kebebaasan, ibarat seekor burung yang telah sekian lama terkurung dalam sangkar “tuannya”. Kini ia bebas terbang menyusuri angkasa. Melihat gunung yang menjulang berada di bawah cakarnya. Begitupun dengan sosok itu. Sosok itu adalah Soekarno. Dulu, bersama sahabatnya Hatta, telah menggaungkan kemerdekaan sebuah Bangsa yang besar – bernama Indonesia - pada 71 tahun yang silam. Bebas dari sangkar kehidupan yang menindas, bebas dari sangkar pemerasan, bebas dari sangkar pebudakan dan penjajahan.

Setelah pikirannya membayangkan 71 tahun yang silam. Membayangkan perjuangan jutaan rakyat Indonesia. Darah dan air mata-lah yang membuat mereka yang yakin akan hadirnya kebebasan itu. Mereka adalah pahlawan yang sesungguhnya. Kini, Olan di bayangi oleh deretan pertanyaan-pertanyaan “bodoh” pada dirinya. Mengapa potret pemimpin revolusi itu jatuh? Mengapa ia jatuh dari ketinggian itu pada saat Olan sedang membaca? Bukankah Ia sedang berusaha menjadi manusia cerdas. Sebagaimana Sosok dalam potret itu, dan ratusan pahlawan serta jutaan rakyat Indonesia cita-citakan di masa lampau– “mencerdaskan kehidupan Bangsa”. Adakah ini bukan sekedar sebuah potret yang jatuh dan tak berarti apa-apa? Baginya, segala sesuatu yang terjadi selalu disertai dengan alasan. Iya, kausalitas sangat ia yakini dalam lorong-lorong kehidupan ini. Bahkan, selembar daun yang jatuh-pun punya alasan mengapa ia tidak selamanya berada pada pohonnya. Terdengar suara ajakan.

“Ayo makan!”. Evan. Sebelum beranjak dari tempatnya ia menceritakan perihal kejadian “bodoh” yang menimpanya. Evan hanya tertawa kecil lalu dilanjutkannya dengan penjelasan logis.

“Ah, paling lem-nya tidak kuat lagi” sahut Evan mencoba memberikan penjelasan.

“Maksudmu?” cetus Olan penuh tanya.

“Iya, mungkin lemnya sudah terlalu lama!”. Lalu terhenti sejenak.

“dan tak mampu lagi merapatkan foto dan dinding”. Lanjutnya. Olan terdiam mendengar jawaban itu. Ia harus akui jawaban sahabatnya cukup logis untuk diterima. Tapi baginya, tidak semuanya bisa di jawab hanya dengan logika positivis dan hitungan matematis.

“Ayo, makan dulu!”. Ajak Evan. Ia-pun ikut. Mereka makan bareng sampai nasi yang tersedia ludes dilahapnya. Setelah mengisi perut. Keduanya “mengobrol” santai tentang berbagai hal yang sama-sama mereka pahami. Tukar informasi dan tranformasi pengetahuan berlangsung malam itu. Mulai dari masalah tugas-tugas kuliah yang “sepele” sampai pada masalah-masalah sosial, ekonomi, hukum serta masalah politik yang rumit dan menggerahkan “udara sosial”. Pembicaraan “tanpa arah” itu berakhir saat mereka sama-sama merasakan kelelahan. Terutama mata, yang tak kuat lagi begadang dan mulut yang terlalu sering menguap, pertanda suatu alamat – ngantuk. Olan, meminta diri untuk kembali ke “habitatnya”, kos. Lalu mengatakan.

“Tengs ya,.. sob!” sebut Olan dengan berbahasa Inggris alai.

“siip!”. sahut Evan dengan singkat dan penuh makna persaudaraan.

Olan sampai di kamar kos. Langsung melemparkan tubuhnya diatas kasur yang tidak terlalu empuk, maklum kasur anak kosan. Ia menutup mata, mencoba untuk tidur dengan nyaman. Semoga besok pagi-pagi bisa bangun cepat, dan pergi kuliah. Tetapi kenyataannya, tidak sesuai harapan. Kejadian di kos Evan masih terngiang dalam ingatannya. Sederet pertanyaan kembali muncul, melayang dalam pikiran dan mengisi ruang yang kosong dalam kegelapan kamarnya. Mengapa ia jatuh? Adakah itu pertanda keadaan Bangsa saat ini? Akankah itu sebuah alamat, bahwa Bangsa ini sedang di rundung kepiluan dan setumpukan masalah? Akankah kejadian itu teguran bagi dirinya, dirinya yang tidak terlibat dalam menyelesaikan persoalan yang ada? Pertanyaan yang harus segera ia jawab. Jika tidak? Jika tidak, mungkin takkan bisa tidur malam itu.

Benar tubuhnya berada dalam ruangan persegi yang sempit dan gelap. Tapi tidak dengan pikirannya. Malam itu pikirannya melayang, melampaui ruangan yang sempit lalu menerawang sudut-sudut kehidupan Bangsa. Satu-persatu pertanyaan dijawabnya. Dalam hati ia berkata.

“Rupanya mereka (para pahlawan) masih terlibat mengurusi masalah Bangsa yang sedang di rundung kekacauan ini”. Benarkah? Ia menimpalinya. Tidak mugkin. Mereka telah meninggal, mereka tidak mungkin lagi terlibat dalam menyelesaikan masalah Bangsa ini. “Paling jauh mereka cuma bisa mencontoh aksi pamer kebodohan yang dilakukan oleh pejabat dipanggung sandiwara saat ini”. Lanjutnya. “ah.., politisi saat ini, tiada henti-henti mencari kambing hitam, bahkan agama-pun di tungganginya”. “hukum apalagi, layaknya bola kasti yang sesuka hati dilempar ke arah mana dan pada siapa yang dituju. Keadilan? Ah, itu hanyalah buah bibir”. “program-program pelayanan kesehatan dan pendidikan. Tak lebih sebagai kedok untuk meraup rupiah”.

Matanya telah tertutup. Pikirannya terhenti bertanya dan menjawab. Alam bawah sadarnya “sibuk” mengolah kejadian selama sehari yang menjadikannya mimpi-mimpi. Bencana alam dan sosial menghantui malam-malam panjangnya. Kejayaan dan perdamaian menghiasi mimpinya. Tidak ada lagi potret, sosok manusia dan burung di dalamnya. Kini hanya gelap dan sesekali suara napas yang berat tehempas dari hidungnya. Ia tertidur lelap!


Yogyakarta, 7-8 Oktober 2016


Penulis: A. S. Mechi
Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Peneliti Sosial pada Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Kepala Biro DIY dan Jateng PEWARTAnews.com.
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website