Headlines News :
Home » , » Selamat Ulang Tahun Sekolahku

Selamat Ulang Tahun Sekolahku

Written By Pewarta News on Minggu, 09 Oktober 2016 | 03.33

Agus Sujadi.
PEWARTAnews.com – Dulu aku bersekolah di sebuah yayasan yang bernama Yayasan Silahul Ulum, pun hingga sekarang nama tersebut masih utuh. Uh, Lama aku tak jumpa. Rindu juga dengan cumbu-cumbu ria. Aroma ketiak-ketiak jendela, warna-warni muka catnya, dan yang selalu terngiang-ngiang itu lonceng besi tua, dialah sang penanda.

Tepat di tepi jalan engkau bernaung diri. Setiap hari, setiap pagi, bahkan setiap sore engkau menyapa dengan anggun. Senyum di setiap dinding. Tawa, deru dan canda pohon dan burung menghiasi pori-pori udara. Betapa riang, betapa senyum dengung tawa cekikan setiap murid. Nada-nada setiap napas Kiai dan guru memberi aroma klasik. Kenangan yang tak pernah bisa ku lupakan. Bagaimana bisa ku lupakan jika selama 6 tahun, ya, 6 tahun aku ngangsu kaweruh tanpa jeda.

Setiap episode menyajikan kisah tentang Kyai, guru, murid, juga kantin yang selalu memadu canda antara kamu dan dia. Pertemuan antara yang di madu kasih. Wajah-wajah itu tak tertulis dalam kenangan manis.

Waktu tetap berlalu. Aku yakin engkau masih berdiri perkasa. Dan kini, aku ingat-ingat, engkau sedang merayakan ulang tahun. Selamat ulang tahun sekolahku. Kalau tidak salah ke-48. Bheh... Lama nian (lama bangat) engkau tetap kokoh berdiri. Apa engkau tak lelah? Umurmu sendiri hampir setengah abad. Tidak. Itu tidak melelahkan. Aku teringat pada Satu Kyai yang lirih suaranya, merdu lantunan maknaninnya, seperti angin sepoi di sore hari yang membelai para petani di kala keringat mengalir deras dari saban pori-pori. Beliau, sang Kyai itu, lebih tua 25 tahun darimu.

Setiap datang waktu jadwal mengajar, beliau harus ber-partner. Benar, beliau harus ditemani. Jika tidak, ilmu-ilmu seperti mandek. Tapi, itu tak jadi masalah. Teman beliau tak lebih besar dari sebatang pensil. Dan dia harus terbakar, berasap, lalu mati. Si rokok menjadi teman kami, murid-murid. Meski begitu, setiap kali beliau memberi permata ilmu tak ada dari kami mampu menerima. Semua pingsan, tergeletak, kami tewas. Bukan, kami tertidur pulas. Merdu suara beliau terdengar seperti nyanyian laut, nyanyia angin, nyanyian tanpa batas.

Ada pula seorang Kyai yang apabila ada dari kami tertidur mendapat sebuah kehormatan untuk membaca kitab kuning, kitab gundul. Kehormatan yang membuat kami merinding setengah mati. Dengan terpaksa kami menerima permata-permata ilmu. Beliau-beliau seorang Kiai, seorang guru yang menjadi patokan setiap orang. Betapa bangga kami, khususnya aku, bisa ngangsu kaweruh dengan beliau-beliau.

Dan engkau wahai sekolahku! Meski bukan sekolah favorit di lingkunganmu, bukan ternama atau terdepan dalam mengasah para pe-ngangsu. Namun, engkaulah yang spesial. Karena melaluimu kami telah mendapatkan sejuta ilmu. Sejuta permata yang tak ternilai harganya.

Pesta-pestamu sekarang pasti lebih meriah dibanding zamanku. Tapi, maaf aku tak bisa penuhi undangan pestamu itu. Karena darimu aku ada di tanah ini. Memenuhi pesan-pesan para Kyai, mencari jati diri.

Semoga, benar wujud doa yang bisa ku sampaikan pada Tuhan, pada Gusti. Semoga kaki dan tanganmu kokoh menampung para pencari ilmu dan tetap menjalankan apa yang dicita-citakan para pendirimu. Sekali lagi, selamat ulang tahun sekolahku.


24 Juni 2014


Penulis: Agus Sujadi
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website