Headlines News :
Home » , , , » Solidaritas Islam

Solidaritas Islam

Written By Pewarta News on Senin, 14 November 2016 | 06.40

A.S. Mechi.
PEWARTAnews.com – Tiap agama memiliki ajaran untuk dijadikan panduan hidup oleh umatnya dalam menjalankan interaksi sosial antar pengikutnya. Ajaran suatu agama pada umumnya dituangkan lewat tulisan dan buku-buku, untuk memudahkan penganutnya mempelajari isinya. Bahkan agama yang paling tradisional sekalipun pasti memiliki sesuatu yang dijadikan sebagai sandaran hidup oleh umatnya dalam melihat dunia kehidupan. Posisi panduan hidup atau yang kita kenal dengan kitab suci, menempati posisi  yang sangat sakral di mata umatnya. Bahkan, untuk membela kehormatan kitab suci tersebut, tidak jarang pengikutnya rela mengorbankan nyawa untuk “membelanya”. Islam sebagai agama dengan penganut mayoritas di Negeri ini, memiliki kitab panduan hidup yang kita kenal dengan kitab suci Al-Qur’an.

Semua umat muslim –taat ataupun tidak – jika ditanya apa kitab yang menjadi pedoman hidupnya. Mereka akan menjawabnya dengan mengatakan Al-Qur’an. Jeffrie Geovanie mengatakan, “tidak pernah saya temukan suatu kitab suci yang selalu dibaca sesering al-Qur’an. Tidak pernah pula saya temukan kitab suci yang dihafal kecuali al-Qur’an” (Civil Religion, 2013:51). Bahkan, mempercayai al-Qur’an merupakan salah satu rukun iman yang enam : iman kepada kitab-kitab Allah, yaitu Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an. Al-Qur’an bagi umat muslim merupakan kitab suci yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril untuk menjadi pedoman hidup umat manusia di muka Bumi. Membicarakan umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Al-Qur’an yang dijadikannya sebagai pandangan hidup.

Al-Qur’an sebagai kitab suci sudah barang tentu menempati posisi yang terhormat dimata umatnya, baik dalam kata  maupun tingkah. Jika suatu waktu kitab suci tersebut mendapat “penghinaan” atau ada seseorang yang telah dianggap telah “menghina” dan “melecehkannya”. Maka, akan menimbulkan kemarahan pada mereka yang meng-imani dan  menjadikan kitab suci tersebut sebagai sumber ajaran hidup. Selain sebagai pandangan hidup, Al-Qur’an telah mampu menjadi media pemersatu bagi umat Islam atau yang disebut dalam tulisan ini dengan Solidaritas Islam.

Solidaritas Islam merupakan suatu kesadaran kolektif yang hidup dalam masyarakat muslim. Kesadaran kolektif tersebut melampui batas-batas geografis, bahkan sampai batas yang primordial, seperti budaya, bahasa, suku, dan  ras. Maka al-Qur’an, sesungguhnya menempati posisi terpenting dalam mempersatukan umat manusia yang mengaku Muslim yang ada di seluh jagat Bumi. Apapun nama organisasi masyarakat (ormas)-nya dan ideologinya. Al-Qur’an tetap menempati posisi terpenting dalam interaksi sosial umat Islam.

Baru-baru ini, yaitu pada hari Jum’at 4 November 2016 menjadi suatu fenomena yang sangat bersejarah dalam perjalanan Indonesia sebagai sebuah Bangsa – yang mengakui keberadaan agama-agama dan bahkan telah diatur dalam konstitusi. Fenomena 4 November menarik perhatian hampir seluruh masyarakat Indonesia – dari elit Negara sampai  rakyat jelata – apapun status sosial, budaya, suku, ras, dan bahkan agamanya. Terutama umat Islam. Sebagaimana pemberitaan lewat media-media TV, koran, maupun dunia  maya (internet). Ratusan ribu Muslim “membajiri” ibu kota Negara – Jakarta – belum lagi ribuan Muslim yang bergerak pada tiap-tiap Daerah, seperti Jawa, Sumatra, Makassar, NTB, Aceh dan Bima. Fenomena tersebut merupakan bentuk nyata solidaritas umat Islam – solidaritas Islam – yang berangkat atau tumbuh dari kesadaran kolektif sebagai satu umat yang memiliki panduan hidup yang sama. Al-Qur’an sebagai perekat sosial umat Islam mendapat “penghinaan” dan telah dianggap sebagai kitab yang membodohi umatnya. Penghinaan dan anggapan tersebut merupakan alasan utama, mengapa ratusan ribu umat Islam yang datang dari berbagai Daerah – baik atas nama ormas Islam maupun atas nama individu – rela mengorbankan materi, waktu dan tenaga untuk menuntut pelaku dan mempertanggung jawabkan perbuatannya dihadapan hukum, serta menuntut pihak yang berwenang untuk segera menjalankan proses hukum dengan adil  dan konsekuen.

Solidaritas Islam, telah terjadi sejak kedatangannya 15 abad silam di Jazirah Arab. Bahkan proses perjalanan sejarah Indonesia hingga menjadi sebuah Negara yang merdeka, tidak bisa lepas dari peran serta umat Islam sebagai penduduk mayoritas. Menyadari Indonesia sebagai sebuah Negara-Bangsa yang Pluralistik, tokoh-tokoh utama dari kalangan muslim dengan hati yang lapang, menerima Negara Indonesia sebagai Negara yang tidak berdasarkan pada hukum Islam (syari’ah) – misalnya, menghilangkan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Walaupun sebenarnya, mereka (tokoh Islam) menyadari  bahwa Indonesia mayoritas penduduk Muslim. Sikap yang diambil oleh pemuka-pemuka Agama tersebut patut diteladani oleh pemimpin saat ini, sebagai dasar modal sosial  dalam menjalankan roda kepemimpinannya.

Aksi solidaritas ratusan ribu umat Muslim tersebut merupakan suatu fenomena  yang wajar. Dikatakan wajar, karena kitab suci yang telah “dibela” dan dijunjung tinggi selama beraba-abad, kini telah dianggap membohongi umatnya. Menariknya, pernyataan Al-qur’an sebagi kitab suci yang membohongi umatnya, dilakukan oleh seorang Gubernur non-aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang sedang melakukan kampanye untuk Pilkada 2017. Suatu tindakan yang sangat tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang public figure sekaligus pemimimpin (Gubernur) di rumah ibu pertiwi – Indonesia – yang didalam hidup ekosistem kebudayaan, suku, ras, bahasa, dan agama yang sangat pluralistik. Apa yang dilakukan Ahok terkesan sengaja memicu konflik Agama dan memojokkan salah satu Agama untuk kepentingan politik.

Selama 71 tahun, sejak Indonesia sebagai sebuah Bangsa di proklamirkan oleh founding fathers yang diwakili oleh Dwi-Tunggal Soekarno-Hatta pada 1945. Telah mengakui ke-Bhineka-an Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa yang Pluralistik dalam hal budaya, suku, ras, dan Agama. Tiap tahun kita sering menyaksikan 17 Agustus-an, serta yang cukup menarik adalah sosialisasi empat pilar Bangsa, salah satu di dalamnya adalah Bhineka Tunggal Ika. Bhineka Tunggal Ika yang telah di bela habis-habisan dengan air mata, darah, dan bahkan nyawa. Kini, secara semena-mena ingin dikacaukan dalam sekejap. Sangat di sayangkan, tindakan memecah belah rakyat dalam rumah Indonesia justru dilakukan oleh orang-orang yang secara sah di akui oleh undang-undang sebagai pemimimpin dan Public Figure. Suatu gambaran pemimimpin yang minim akan modal sosial (social capital), apalagi ditengah kehidupan yang plural mensaratkan tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai toleransi dan sikap saling menghargai dalam berbagai aspek sosial kehidupan, terutama dalam soal budaya dan paling utama agama.

Maka apa yang dilakukan oleh Ahok merupakan sesuatu yang tidak pantas, baik sebagai rakyat Indonesia maupun sebagai seorang Gubernur (non-Aktif). Terutama sebagai Gubernur, yang seharusnya menjadi corong utama untuk terus menyuarakan nilai-nilai plural dalam kehidupan, dan sikap saling menghargai dalam hal Agama – sesuatu yang hampir setiap orang rela mengorbankan nyawa untuk “membelanya”, Altruistic. Semoga kedepannya, kita rakyat Indonesia semakin dewasa dan bijaksana dalam menjalani kehidupan didalam rumah kita bersama, Indonesia. Terutama, public figure dan para pemimpin, sebaiknya sesekali melakukan refleksi kedalam (introspeksi diri) tentang kekacauan yang meresahkan rakyat, yang tidak jarang kekacauan itu akibat buah tingkah laku dan perkataan dari Anda sekalian.

Jika pemimimpin tidak mampu lagi menjadi teladan bagi masyarakat untuk menghidupkan nilai-nilai toleransi dan sikap saling menghargai di rumah pertiwi, Indonesia. Maka sebaiknya, secara terhormat mengundurkan diri dari kursi jabatan, itupun kalau masih memiliki rasa kemanusiaan dan rasa malu sebagai manusia”.

Wallahu ‘alam.


Penulis: A.S. Mechy
Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website