Headlines News :
Home » , » Pelatihan DAI NU Kota Yogyakarta, Ahmad Yubaidi: NU Merupakan Organisasi yang Apresiasi Warisan Khazanah Intelektual Islam Klasik

Pelatihan DAI NU Kota Yogyakarta, Ahmad Yubaidi: NU Merupakan Organisasi yang Apresiasi Warisan Khazanah Intelektual Islam Klasik

Written By Pewarta News on Senin, 19 Desember 2016 | 11.59

Suasana saat acara berlangsung.
PEWARTAnews.com – Pengurus Cabang Nahdhatul ‘Ulama Kota Yogyakarta menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Dakwah Agama Islam Nahdhatul ‘Ulama (DAI NU) Kota Yogyakarta, pada hari Sabtu, 10 Desember 2016 di Gedung Dewan Perwakilan Daerah Repblik Indonesia (DPD RI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Acara Pendidikan dan Pelatihan DAI ini mengangkat tema “Dai Progresif Menuju Visi Dakwah Rahmatan Lil'alami”, serta menghadirkan 4 pemateri, diantaranya K.H. Henri Sutopo, K.H. Muzammil, Dr. Suhada, dan H. Edi Musaffa.

Dalam Sambutannya, Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdhatul ‘Ulama Kota Yogyakarta H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., M.H. mengatakan bahwasannya Nahdhatul ‘Ulama (NU) merupakan organisasi keagamaan, yang ideologi dan ajarannya dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam panggung sejarah Indonesia, NU telah terbukti memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa baik itu dalam ranah sosial, politik dan keagamaan. Hal ini tidak terlepas dari sikap keagamaannya yang moderat (tawassuth), sehingga NU tidak terjerembab dalam sikap ekstremisme yang berlebihan. NU memahami Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin, yakni agama yang penuh dengan cinta kasih sehingga dapat merahmati seantero alam. Sikap moderat dan rahmatan lil alamin NU, tidak mungkin memiliki pijakan teologisnormatif. Lebih-lebih NU merupakan organisasi yang sangat mengapresiasi tradisi dan warisan khazanah intelektual islam klasik. “NU merupakan organisasi yang mengapresiasi tradisi dan warisan khazanah intelektual islam klasik,” Ucap Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Yogyakarta H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., M.H. saat memberi sambutan pembukaan acara berlangsung.

Lebih lanjut, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Yogyakarta yang juga sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Ulil Albab ini megatakan bahwsannya, model dakwah yang NU lakukan demi mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin, dimana saat ini, diktum “Islam rahmatan lil alamin” terusik dan rusak citranya akibat arus radikalisme yang mengatasnamakan Islam. Peran NU sebagai organisasi Islam moderat yang mengkampanyekan Islam rahmatan lil alamin sangat diperlukan, sebab dengan dakwah kulturalnya, ia dapat menghadang arus gerakan radikal dan trans-nasional yang mengancam keutuhan NKRI bagaimana sikap NU dalam merespon isu-isu aktual yang berkembang serta gagasannya tentang bagaimana memahami Islam dalam konteks keindonesiaan. NU tidak menentang adanya gagasan tentang pembaharuan Islam, namun pembaharuan harus tetap berpijak pada tradisi, sebab sebagaimana dijelaskan diatas bahwa syari’ah dapat dimengerti dengan melalui tradisi yang telah dulu dikembangkan oleh para ulama’. “Kaidah menjaga tradisi yang baik dan mengambil inovasi-inovasi baru yang lebih baik sangat masyhur dikalangan NU dan masih banyak kaidah-kaidah lain yang menekankan kepada pembaharuan dan kontekstualisasi, bukan kepada kejumudan dan liberalisme.” Ucap Ahmad Yubaidi. [PEWARTAnews]

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website