Headlines News :
Home » , » Sekelumit tentang Aksi “Pray For Bima”

Sekelumit tentang Aksi “Pray For Bima”

Written By Pewarta News on Jumat, 30 Desember 2016 | 20.13

Nurhaidah sedang melakukan aksi penggalangan dana untuk Bima.
PEWARTAnews.com – “Satu Aksi Menghidupkan Banyak Umat” merupakan kegiatan aksi peduli terhadap Bima, NTB yang kini dilanda musibah banjir bandang kemarin (21/12/2016). Kegiatan tersebut dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia khususnya masyarakat bima yang sedang dirantauan. Peristiwa memilukan itu menggetarkan hati untuk bergerak membantu. Kalau bukan kita siapa lagi?, kalau bukan sekarang kapan lagi yang tergerak hati untuk memfokuskan lebih utama terhadap apa yang telah dialami oleh masyarakat Bima. Maksud dari peristiwa aksi “Pray For Bima” pada dasarnya ingin memberikan dukungan moril terhadap masyarakat yang sedang terkena musibah.

Pada dasarkan kita mengetahui bahwa ini merupakan bagian dari ulahnya manusia yang tidak bertanggung-jawab dan semena-mena melakukan kecerobohan terhadap pertumbuhan yang dicipaan oleh Allah SWT. Berbagaimacam pertanyaan akan muncul dibenak kita masing-masing, namun disisi lain yang harus kita ingat adalah bagaimana caranya agar selalu menghargai pertumbuhan yang telah diciptakan untuk kita oleh Allah SWT. Kita tidak bisa mengelakan apa yang Allah sebutkan didalam Al-Qur’annya tentang kata-kata, bait-bait yang berbunyi “kun fayakun” sesuatu yang akan terjadi maka terjadilah. Lalu dari sisi manakah yang harus kita elakan, toh Allah saja sudah memberikan kode keras namun terkadang kita akan mengabaikannya.

Sesuatu yang harus kita ingat bahwa terkadang air yang menyerang itu kita menganggap adalah keputusan Tuhan yang kejam, hingga kita salahkan Tuhan, jikalau itu kita telah lupa bahwa alam adalah alam yang telah tercipta dari kekosongan. Tuhan menciptakan sebagai sahabat kehidupan, seketika itu kita melupakannya, beberapa orang dari kita (manusia) telah jahil merenggut kelestarian alam itu. Apakah kita  lupa pohon-pohon yang di tebang, hingga hutan berubah tandus dalam kegersangan dan semua sungai mengering. Ataukah kita lupa tentang sampah yang terbuang, hingga sungai penuh dengan sampah dan kotoran yang berbau menyengat. Jika kita lupa bahwa itu adalah kekuasaannya, maka ingatlah wahai umat, untuk selalu sadar tentang pentingnya lingkungan hidup. Kita tidak perlu menunggu banjir menjemput, karena cukuplah yang terjadi, menjadi peringatan dari Tuhan bahwa yang sebenarnya ia ciptakan tidaklah sia-sia dan pernah kita salah gunakan. Bima-ku sabarlah ini adalah peringatan untuk kita agar selalu menjaga kelestarian alam/daerah kita.

Saat ini Bima sedang menagalami kesusahan total terutama bahan makanan pokok, pakaian, tempat tinggal bahkan listrik dan jaringan telepon genggam pun sementara terputus, wallahi semoga Bima dan sekitarnya baik-baik saja. Aamiin.

Dari berbagaimacam aliansi Ormas bergerak hatinya terkhusunya seluruh mahasiswa yang berada diluar Bima, mereka berlomba-lomba untuk melaksanakan penggalangan dana penuh dengan semangat, mereka juga adalah orang-orang hebat yang telah meluangkan waktunya demi kemaslahatan umat lainnya, karna bagi mereka kemaslahatan umat adalah hal yang paling penting yang harus kita perhatikan. Kenapa saya mengatakan itu kemaslahatan umat dikarenakan itu merupakan suatu kata yang sangat mulia untuk mereka yang selalu tergerak hatinya dalam membantu orang-lain. “Sewalau pun dana yang mereka kumpulkan mungkin tidak cukup untuk saudara/i di Bima, namun sangatlah bermanfaat dan sangat membantu sekali untuk mereka saat sekarang ini,” begitu ucapan dari salah satu mahasiswa yang mengikuti aksi penggelangan dana di hari Jum’at 23 Desember 2016.

Kota Bima memang kota kecil, kota yang sangat diabaikan oleh beberapa media namun bagi kami Bima merupakan tempat untuk menimba ilmu sehingga menjadi seperti orang lainnya, dengan begitu kami sebagai mahasiswa Bima harus menggerakkan hati kami untuk melihat dan meresapi apa yang telah terjadi, didalam Al-Qur’an pun memang sesuatu yang terjadi tidak bisa kita elakan karna itu adalah kehendak Allah. Walau pun itu adalah kehendak Allah, tetapi kita sebagai umatnya harus menghargai apa yang telah ia kirimkan untuk kita dan selalulah bersyukur atas apa yang Allah diberikan.

Dari berbagaimacam Organisasi atau secara individu yang ikut serta dalam aksi penggalangan dana, dan ini berlangsung hampir seluruh titik di Yogyakarta kecuali di arah Kulonprogo, Imogiri, Janti. Selain sasaran pengguna jalan, aksi penggalangan untuk membantu korban banjir Bima, juga dengan mendatangi toko dan perkantoran. Penggalangan dana itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat Bima yang sedang ditimpa musibah banjir Bandang, yang telah mengakibatkan ribuan orang terluka akibat banjir yang terjadi Rabu (21/12/2016) siang. Seperti dilansir sebelumnya, banjir bandang melanda Kota Bima, Nusa Tenggara Barat yang menghanyutkan belasan rumah, dan sejumlah mobil, pada Rabu sekitar pukul 13.00 WITA. Banjir diakibatkan oleh meluapnya Sungai Padolo dan air bah kiriman dari Wawo.

Untuk itu penulis mengharapkan agar selalu melestarikan Budaya (Mbojo Mantoi) atau kembalikan adat Bima yang lampau, sekarang dengan kejadian ini juga kita harus saling peduli, mengingatkan demi rasa solidaitas kita terhadap diri kita dan budaya kita. Apa pun yang terjadi itu merupakan kehendaknya, hanya saja bagaimana cara kita umtuk mengambil hikmahnya saja, tak lain dan tak bukan semata-mata mengharap Ridho Allah.

Satu hal yang membuatku merinding saat penggalangan dana berlangsung ketika ada orang/masyarakat yang mengatakan bahwa “mba saya sudah memberinya kemarin” dan lainnya bahkan ada yang tidak respon sama sekali, begitu sakit yang saya sendiri alami tapi saya berfikir, “ah inikan hanya ujian kecil” lalu dengan diam ku menyadarinya dan semangat berjuang demi keluraga yang terkena musibah.

Menjadi orang hebat saja tidak cukup kalau kita tidak meringankan tangan, hati kita untuk orang lain dan sama sekali tak ada artinya untuk masyarakat banyak, ku orang yang tak begitu berkecukupan tapi rasa sosial dan kepedulianku terhadap orang banyak atau orang yang sedang kesusahan itu melekat dan sangat tersentuh dihatiku. Terkadang dikala pengalangan berlangssung rasanya ingin menangis namun apalah daya hanya mampu menahannya dalam diriku mellihat dan mengingat tangisan keluargaku yang terkena musibah.

Kesanku budayakanlah budaya selayaknya budaya yang diamanhkan oleh nenek moyang kita, mereka-mereka telah mengajarkan kepada kita untuk selalu menjaga keharmonisan, keharmonisan tidak hanya untuk dua sejoli yang menjalin hubungan bahagia tetapi yang di maksud disini adalah keharmonisan dalam menjaga lingkungan, misalkan menghargai sesama tetangga, tanaman-tanaman yang kita tanam, ladang kita dan lain sebagainya. Itulah yang dikatankan keharmonisan Budaya. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Jadi maksudnya agar kedapannya tidak terjadi lagi seperti saat sekarang ini, kalau bukan kita lalu siapa lagi yang menjaga kelestarian alam kita dan kalau bukan sekarang kapan lagi kita menikmati keindahan alam sekitar. “Sejenak mengintropeksi diri lebih baik dari pada saling menyalahkan orang lain” karna hidup damai itu indah.


Penulis: Nurhaidah
Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website