Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Resensi Buku Cerita Depta, Me(maksa)lepas

    Cover Buku "Cerita Depta, me(maksa)lepas".
    PEWARTAnews.com -- Satu lagi karya anak bangsa yang patut kita apresiasi. Seorang remaja berasal dari Desa Tawali, Kec. Wera, Kab. Bima yang bernama Khairul Farid atau biasa dipanggil Bang Farid yang merupakan anak pertama dari 4 bersaudara. Ia menyelesaikan studinya sebagai perawat disalah satu kampus swasta di Kota Yogyakarta. Lewat karya sastra yang ia tuangkan dalam bentuk buku membuka reaksi dan ekspresi kita sebagai anak bangsa untuk melihat sebuah realitas dalam mewujudkan semangat muda dengan berkarya. Ingat, racun segala perubahan ketika diri kita merasa nyaman dalam mewujudkan eksistensi sikap keberanian membuat kita bertahan dalam situasi apapun.

    Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa anak-anak maupun remaja hidup dalam masa perkembangan yang pesat, terutama perkembangan fisik dan perkembangan mental. Adanya sastra dapat menjadi sarana kontribusi penunjang untuk perkembangan fisik dan mental anak-anak maupun remaja tersebut. Karya sastra juga dapat memberikan nilai-nilai tinggi bagi perkembangan bahasa, kognitif, personalitas dan sosial, lebih-lebih dapat mengembangkan kemampuan imajinasi.

    Bang Farid menulis novel “Cerita Depta me(maksa)lepas”yang diangkat dari kisah nyata seorang lelaki bernama Depta Saskara Prakasra atau akrab dipanggil Depta yang memperjuangkan kebahagiaanya pada seorang perempuan bernama Mita Desti salviani atau yang biasa dipanggil Mita. Bang Farid begitu pandai meramu alur cerita dalam novel ini, dimulai dari kelucuan perkenalan, keromantisan ke dua tokoh utama selama berpacaran, hingga ending cerita begitu terharu sampai menitikan airmata. Pembaca pun merasa tidak bosan dengan isinya.

    Sinopsis: Mita menyandarkan kepalanya di bahu Depta. Depta kembali terdiam. Terbayang lagi pikiran tadi. Tapi kini ia cukup tenang. Setidaknya keberadaan Mita di sisinya, membangunkan keyakinannya yang kokoh. Bahwa mencintai hanya persoalan yakin. Seseorang yang mencintai seperti petani, menanam benih dan terus memupuk kesetiaan pada bumi. Depta menarik napas dalam-dalam setiap kali pikiran itu menghadang. Digenggamnya tangan kekasihnya, dilihatnya selintas wajah yang bening kemuning sesekali disinari lampu senja. Dingin berembus didalam kereta. Peluit masinis kembali melengking. Depta bergumam, "Mungkin aku menuntut semua kejelasan dengan begitu cepat. Kenyamanan, keterbukaan, kecemasan bahkan ketakutan sekalipun. Aku tidak pernah menyalahkan semuanya, karena semua itu soal rasa. Aku sudah berada pada titik ini. Titik yang membuatku tidak ingin berpaling pada keadaan yang lain. Semoga kamu juga merasakan hal yang sama, yaitu cinta."

    Buku ini merekam lebih jauh dari yang kita kira. Siapa sangka, lima menit paling berharga untuk masa depan hubungan mereka terenggut oleh keegoisan salah seorang di antara keduanya. Lalu bagaimana mereka bertahan, ketika perpisahan menguntit di belakang mereka? Me(maksa)lepas adalah jalan yang paling mungkin untuk menemukan jawabannya.

    Awal dari kisah novel ini yaitu Bima Adira Prakarsa atau yang biasa disebut Bima yang diangkat oleh Bang Farid sebagai tokoh yang menceritakan tentang kedua tokoh utama Depta dan Mita. Depta merupakan seorang mahasiswa disalah satu universitas swasta di jogja. Ia bertemu dengan seorang mahasiswi yang bernama Mita, Depta Dan Mita ternyata satu naungan di universitas yang sama, hanya saja berbeda jurusan. Depta awalnya dikenalkan dengan Mita oleh Cindy. Cindy adalah teman kos-kosan dan teman satu jurusan dengan Mita. Kebetulan Cindy adalah pacarnya Rifan yang teman dekatnya Depta. Karena Rifan sering mengajak Cindy ke kontrakan Depta akhirnya muncul keakraban antara Cindy dengan Depta. Berawal dari itu mereka berkenalan, menjalin hubungan, saling mengucap satu janji kebahagiaan dan berikrar untuk saling tak ingkar. Saat itu juga Depta merasa ada yang harus diperjuangkan dalam hidupnya.

    Seseorang yang tidak hanya menemaninya susah ataupun senang, tapi menjadi bagian dari mimpi-mimpi dan masa depannya. Buku ini tidak hanya mengisahkan tentang gentingnya hubungan mereka, tapi terdapat kisah menarik mengenai arti sebuat persahabatan dan kekeluargaan. Terasa beberapa Tahun lamanya kekompakan serta keserasian mereka menjalin hubungan membuat percaya untuk mengikat dalam sebuah keseriusan. Depta dikenal sebagai sosok yang cerewet, alim, kreatif, humoris, narsis, dinamis dan proaktif. Sedangkan Mita dikenal sebagai sosok perempuan penyabar, kalem, alim dan baik hati.

    Setelah Depta selesai penempuh pendidikan, selang satu tahun dengan Depta Mita pun telah selesai pendidikan di universitas yang sama. Depta saat itu bekerja disalah satu Instansi swasta di Jogja sedangkan Mita bekerja disalah satu bank swasta juga di Jogja. Karena masing-masing sudah begitu dekat Depta dengan orangtua dan keluarga Mita dan sebaliknya Mita dengan orangtua dan keluarga Depta, mereka menyepakati keseriusan hubungannya. Saat itu juga Depta memperjuangkan tidak hanya meyakinkan Mita dan kedua orangtuanya tetapi Depta juga berjuang meyakinkan kedua orangtua dan menyatukan semua pemikiran keluarganya. Adanya kata keseriusan, hubungan mereka semakin romantis. Beberapa tempat di Kota Jogja menyimpan kenangan tersendiri bagi mereka. Kota yang tiap sudutnya mengisahkan keromantisan hubungan mereka. Tidak hanya di Jogja, Kota Bandung pun pernah menjadi tempat liburan ke dua tokoh utama tersebut. Hampir selama 5 tahun lamanya juga mereka pacaran berbagai masalah selalu menghadang. Tidak hanya mereka, saya ataupun kita yang menjalin hubungan selalu dihadapkan berbagai masalah. Salah satu kutipan yang menarik pada buku ini ialah "perlu diketahui, semua pasangan mempunyai masalah tersendiri. Hanya saja mereka berani menghadapi, bijak menyikapi tanpa mengakhiri". (Hal.175).

    Sosok seorang ibunda depta menjadi sorotan penting dalam novel ini sebagai maha guru kehidupan sebenarnya. Selama Depta tumbuh dewasa, belum pernah mendapati nasihat yang berisi untuk melepas anaknya memilih sosok perempuan yang akan mendampingi hidupnya. Akhirnya hubungan mereka disetujui oleh kedua orangtua dan keluarga masing-masing.  Hingga tahun ke 5, Mita dengan tiba-tiba mengakhiri hubungan tanpa alasan yang jelas. Masalah yang sebenarnya dianggap biasa dan tidak dipermasalahkan sama sekali tidak bisa terselesaikan dengan baik dan bijak. Depta terus mencoba mempertahankan hubungan yang selama ini ia bangun bertahun-tahun. Mita tetap saja kokoh pada pendiriannya untuk tidak bisa melanjutkan hubungannya dengan Depta.

    Alasan yang paling genting dan masih diterka oleh seorang Depta ialah Mita yang kembali meragukan depta mengenai jarak. Pada waktu yang bersamaan Mita saat itu dengan sadar menyatakan bahwa dari awal ayahnya tidak menyetui kedekatan Depta denganya karena depta orang jauh berasal dari Jakarta sedangkan mita berasal dari Jawa Tengan tepatnya Klaten. Ayahnya tidak ingin jika menikah nanti Depta membawa Mita ke Jakarta dikarenakan mita merupakan anak tunggal. Padahal dari awal sebelum persetujuan kedua belah pihak, Depta, orangtua dan keluarganya telah mengalah jika Depta akan tinggal dan mengikuti Mita.

    Muncul berbagai penyataan dari beberapa orang terdekat Mita yang salah satu teman-temanya bahwa Mita kembali menjalin hubungan dengan seseorang yang pernah mendiaminya dimasa lalunya. Depta pun mendapati hal serupa bahwa Mita memang menjalin kembali hubungan dengan seseorang dimasa lalunya. Depta kembali mempertanyakan hal tersebut dan mita selalu mengelak bahwa ia tidak menjalin kembali hubungan seseorang yang mendiaminya dimasa lalunya. Hingga pada akhirnya Depta tengah pasrah dengan kisahnya. Depta mulai menyadari bahwa semakin ia mengejar dan memaksa sosok perempuan yang pernah menenangkannya walau sesaat maka semakin jauh dan dibenci oleh perempuanya itu.

    Kelebihan buku ini ialah Penyajian bahasa tidak bertele-tele, sangat hidup dan mengalir serta mudah dipahami. Quotes pada setiap bab sangat menarik. Beberapa foto yang dilampirkan membuat pembaca penasaran dengan bab selanjutnya. Ajaran dan ajakam tentang bijaknya dalam menghadapi sebuah masalah juga sangat terasa dalam novel ini.

    Kekurangan buku ini ialah beberapa penulisan masih ada yang salah. Kutipannya juga masih ada yang sama pada beberapa bab.

    Saran diusahakan untuk menyajikan konflik yang lebih bervariasi serta konflik yang sebenarnya terjadi. Novel ini ialah kisah yang mengajarkan kita tentang arti dari juang yang sebenarnya, wajib membaca buku ini karena sangat bijak dalam menghadapi masalah.

    Satu hal yang saya tekankan bahwa sastra merupakan pengalaman, pikiran, perasaan ide-ide, semangat dan keyakinan dalam bentuk gambaran kongkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa sebagai medianya. Pentingnya kesadaran untuk berkarya dengan semangat kemandirian yang berkontribusi bagi lingkungan dan masyrakatnya. Semua pencapaian yang dilakukan adalah proses panjang perkuliahan yang matang, yang dijalani dengan sungguh-sungguh dengan niat baik dan semangat membangun yang kuat. Hal tersebutlah yang ingin dibagi dan ditularkan bagi anak-anak maupun remaja saat ini. Seorang penulis yang memiliki latar belakang unik sepanjang prosesnya menuntaskan masa kuliahnya.

    Jangan istirahatkan kata-katamu, sebab,ia harus tetap bersuara. Jangan kau padam didasar kepala, sebab ia berhak menjalankan peranya dengan kemauan yang keras dan senantiasa menggelora dalam dirinya. Mampu menular kedalam jiwa daerah, menjadi harapan keluarga, harapan daerah, harapan bangsa dan harapan negara.

    Identitas Buku
    Judul Novel : Cerita Depta, me(maksa)lepas
    Penulis : Khairul Farid
    Penerbit                 : Kaki Kata
    Jumlah Bab : 16 Bab
    Tebal Buku : 216 hlm.
    Ukuran : 13x19 cm
    Sampul : Soft Cover Embos
    Cetakan Pertama : April 2017
    Harga Buku          : Rp. 55.000,-
    ISBN                     : 978-602-9922-96-5


    Peresensi: Aksan Pramoedya
    Mahasiswa Administrasi Negara UWMY, Pecinta Kesustraan

    Ujaran Kebencian Syaifuddin Ibrahim Viral di Medsos, Ini Reaksi LBH Hanura

    Syaifuddin Ibrahim. Foto: detikku.com.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum DPP Partai Hanura Rio Ramabaskara memuji kerja cepat Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri dalam menangkap Syaifuddin Ibrahim alias Abraham Ben Moses (52), terkait kasus ujaran kebencian berbau Suku Agama Ras dan Antar golongan (SARA) melalui media sosial.

    Dalam videonya yang viral di Facebook, twitter dan YouTube tersebut, Syaifuddin Ibrahim tampak berbincang dengan seorang sopir taksi online. Rio menggambarkan, dalam pembicaraan tersebut, Syaifuddin sempat menanyakan agama sopir tersebut.

    Lalu, ia mengutip salah satu ayat dalam keyakinan agama sang sopir terkait pernikahan. Tak sampai di situ, ia kemudian melecehkan Nabi Muhammad yang dianggapnya tidak konsisten dengan ucapannya, dan melanggar perintah agamanya. Syaifuddin Ibrahim juga menghasut sang sopir agar mau pindah agama. Dengan kata lain ada hinaan yang ia lakukan kepada agama Islam dan mengajak sopir tersebut untuk berpindah agama.

    "Bagi saya, menjadi murtad itu hak Syaifuddin Ibrahim, tapi mengajak orang lain untuk ikut dia dan menghina agama lain, maka di situ letak masalahnya," ujar Rio dalam siaran persnya, Kamis, 7 Desember 2017.

    Rio yang telah menyaksikan video tersebut berkali-kali menjelaskan, bahwa sebelumnya Syaifuddin Ibrahim dikenal di media sosial dengan mendaulat dirinya sebagai seorang yang paham Islam dan dengan sembarangan mengutip ayat suci Alquran sebagai dasar memperdaya masyarakat untuk berpindah keyakinan.

    Dalam video tersebut, lanjut Rio, Syaifuddin kemudian juga menunjuk seorang wanita di belakangnya. Ia menyebutkan bahwa wanita itu seorang artis keturunan Arab yang sudah dia murtadkan.

    Selain melakukan penghinaan terhadap Islam, Syaifuddin Ibrahim selalu membawa bawa nama-nama Bima (salah satu kabupaten di NTB), di mana diketahui bahwa NTB sebagai provinsi dengan mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Hal ini dilakukan oleh Syaifuddin Ibrahim dengan patut diduga sebagai upaya untuk semakin meyakinkan calon targetnya dan masyarakat umum bahwa ia benar-benar selain mempunyai pemahaman yang mendalam soal Islam, juga karena lahir dan besar di lingkungan mayoritas Islam.

    Sebagai masyarakat NTB di Jakarta, Rio berharap kepada Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim untuk benar-benar memperoses kasus tersebut dan menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak melakukan hal-hal serupa.

    "Untuk itu, kami mengharapkan penyidik Polri dalam hal ini Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim benar-benar memproses kasus ini. Selain agar Syaifuddin Ibrahim mempertanggungjawabkan perbuatannya, juga menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia agar tidak melakukan hal-hal serupa. Di mana hal tersebut selain bertentangan dengan hukum juga akan menjadi upaya memperkeruh hubungan baik antar umat beragama di Indonesia," ujar dia.

    Syaifuddin Ibrahim ditangkap oleh Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Selasa, 5 Desember 2017, sekitar pukul 22.00 WIB di kediamannya Jalan KH. Hasyim Ashari No. 27 RT 01 RW 04 Buaran Indah, Kota Tangerang, Banten. Atas perbuatannya tersebut, Syaifudin Ibrahim alias Abraham Ben Moses disangkakan telah melanggar Pasal 28 ayat 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang ITE. (PEWARTAnews)

    LKBH Pandawa gelar Panggung Budaya

    Informasi kegiatan. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Pandawa menyelenggarakan Gebyar Panggung Budaya pada hari Kamis, 07/17/2017 di halaman kantol LKBH Pandawa di Jln. Sultan Agung Nomor 69 Yogyakarta.

    Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 dalam Pasal 32 Ayat (1) dijelaskan bahwasannya “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”.

    Direktur LKBH Pandawa, Sugiarto, S.H., M.H. membeberkan bahwa budaya merupakan salah satu aspek penting dari kehidupan yang kerap kali dianggap sebelah mata. "Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Kebudayaan mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain," bebernya

    Lebih jauh, Sugiarto mengatakan apabila manusia hidup sendiri, maka tak akan ada manusia lain yang merasa terganggu oleh tindak-tindakannya.

    Sugiarto pun membeberkan pentingnya kebudayaan bagi manusia dan masyarakat. Pertama, "Menentukan identitas suatu bangsa tersebut, misalnya ada tarian Klonorojo yang identik dengan tarian jawa klasik gaya yogyakarta," sebutnya.

    Kedua, "Budaya merupakan sumber inspirasi, kebanggan dan sumber daya menghasilkan komoditi ekonomi, misalnya: wisata budaya, produk budaya," bebernya.

    Ketiga, "Sebagai warisan, budaya disosialisasikan dan diajarkan ke generasi berikutnya," harapnya.

    Keempat, "Sebgai pola perilaku, budaya berisi norma tingkah laku dan menggariskan batas-batas toleransi sosial," cuitnya.

    Kelima, "Sebagai mekanisme adaptasi terhadap perubahan, proses budaya dalam pembangunan sebagai perubahan social yang berencana," inginnya.

    Berdasar pada pentingnya kebudayaan bagi masyarakat, begitulah Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Pandawa dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-2 menyelenggarakan kegiatan ini dengan mengusung tema “Gebyar Panggung Budaya” sebagai pemicu kesadaran masyarakat akan pentingnya pengetahuan budaya itu sendiri yang dikemas dalam bentuk kegiatan-kegiatan menampilkan lagu-lagu daerah yang ada diseluruh Indonesia, Tarian Klonorojo, Orasi Budaya, pembacaan Puisi, dan Orasi Budaya. (PEWARTAnews)

    Roeang Bermaulid: Menguatkan dan Mempersatukan Bangsa

    Suasana saat kegiatan roeang bermaulid
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Sejumlah warga dari berbagai elemen masyarakat, LSM, dan Organisasi Kemahasiswaan dan Pemuda memadati dan mengikuti acara Maulid Nabi Muhammad SAW, yang diselenggarakan oleh ROEANG inisiatif pada Rabu (06/12/2017) malam setelah isya'.

    Direktur ROEANG inisiatif Arif Rahman dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan Maulid Nabi ini bertemakan ROEANG bermaulid yang bertujuan untuk memperingati hari lahir dan meneladani suri tauladan Baginda Muhammad SAW. "Acara ini sebagai ajang silaturrahim dan mempersatukan bangsa yang hari ini sedang digerogoti paham radikalisme," ujarnya.

    Lebih jauh, Arif membeberkan bahwasannya kegiatan ini melibatkan warga setempat dan juga lembaga-lembaga kepemudaan lainnya. "Kita Mengundang Aparat Desa, RT dan RW, masyarakat dan elemen Organisasi Kepemudaan," imbuhnya.

    Adanya acara ini, ketua RT dan RW setempat mengapresiasi dan berharap menjadi contoh masyarakat sekitar. "Harapannya kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini menjadi contoh untuk masyarakat khususnya pemuda, pemuda yang sekarang krisis moral bisa menjadikan Kanjeng Nabi Muhammad SAW sebagai Panutannya," ujar pak RW dalam sambutannya.

    Adapun kegiatan ini berisi pembacaan shalawat yang di meriahkan oleh hadrah Nurul Qollbi dan ditutup dengan doa bersama. Kegiatan ini  bertempat di Sekretariatan ROEANG inisiatif Jl. Bima Sokowaten, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (PEWARTAnews)

    LKBH PANDAWA Gelar Penyuluhan Hukum

    Suasana saat penyuluhan hukum LKBH pandawa. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Suasana dalam menapak usia yang ke-2 tahun ini, LKBH PANDAWA melakukan penyuluhan hukum pada Hari Selasa, 5 Desember 2017 di Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mengangkat 2 tema sekaligus yaitu: "Upaya Pencegahan dalam Rumah Tangga dan Pentingnya Sertifikasi Tanah Bagi Masyarakat".

    Terkait pertanahan dan sertifikasi hingga saat ini masih menjadi duri dalam daging bagi kehidupan di masyarakat. Kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya sertifikasi dan segala hal terkait pertanahan menjadi salah satu sumber konflik di masyarakat itu sendiri.

    Cara-cara tradisional yang masih dianut oleh masyarakat terkait kepemilikan atas tanah berbanding terbalik dengan kebutuhan masyarakat akan tanah menjadi salah satu “pekerjaan rumah” pemerintah dan lembaga hukum dalam mensosialisasikan sertifikasi tanah.

    Penyuluhan hukum merupakan salah satu mata rantai bagi LKBH PANDAWA dalam melakukan pengabdian hukum. Dalam memperingati 2 tahun LKBH PANDAWA ini melaksanakan seminar nasional, penyuluhan hukum dan gelar panggung budaya.

    Pendekatan secara kultur kepada masyarakat menjadi cara LKBH PANDAWA dalam membumikan hukum dan keadilan. Pelayanan hukum merupakan hak bagi masyarakat dan pendekatan secara kultur kepada masyarakat merupakan langkah LKBH PANDAWA dalam merangkul masyarakat yang membutuhkan hukum dan keadilan.

    “Berbudaya keadilan untuk rakyat (cultured justice for the people) merupakan nafas LKBH PANDAWA dalam menunaikan amanatnya dalam pengabdian hukum di masyarakat,” kata pembina LKBH Pandawa Mohamad Novweni, S.H. (Sugiarto)   

    Dukamu RohingyaI

    Ilustrrasi Duka Rohingya. Foto: radarbangka.co.id.
    Percikan darah tak terbendung
    Bau anyir nanah merebah kemana-mana
    Nyanyian para pendosa diatas tanah
    Negerimu tak lagi ramah

    Disana!
    Disana ribuan muslim di bantai berlumuran darah
    Disana ribuan muslim diperkosa dan dihujat bagaikan binatang liar
    Dengarkanlah jeritanya….!!!
    Saudaraku Rohingya…!!

    Lantunan ayat sucimu tak lagi kami dengar
    Alunan suaramu menyebut asma-Nya, kini berubah menjadi buah tangisan
    Apa sebenarnya yang terjadi saudaraku ?

    Dukamu telah kami dengar
    Kebahagiaanmu telah di rampas oleh manusia biadab bersenjata
    Langkah kakimu lenyap diterpan yanyian dewa kematian
    Candamu yang menguap, berubah menjadi bisingnya kesedihan

    Saudaraku Rohingya…!!!
    Kekejaman Myanmar telah tertampak dimatamu
    Mengapa tak kau lawan??
    Mengapa ??

    Engkau takut, karena kau tak bersenjata sedang mereka penuh dengan peluru nan pedang
    Untukmu saudaraku Myanmar
    Dimana letak hati nuranimu
    Tidakkah kau lihat tangisan penuh dara yang terpancar di wajahnya

    Tidakkah kau merasa iba dengan lantunan jeritanya
    Saudaraku..!!!
    Belum cukupkah kebiadabmu terhadapnya
    Sampai kapan suara pelurumu melukai mereka yang tak berdaya

    Mereka bukanlah makhluk atau binatang yang terus selalu kau tendang tersungkur jatuh di hujani pedang menunggu ajal hanya di pandang
    Ya tuhan…..!!!
    Sampai kapan duka mereka berakhir ??
    Kapan ya Tuhan


    Karya : Fatahullah
    Pemuda Asal Bima NTB

    Kebijakan Trump Akui Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel Kontraproduktif

    Presiden AS Donald Trump. Foto: wikipedia. 
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Wakil Ketua Badan Kerjasama Antarparlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Rofi Munawar menilai rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendukung pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem sangat kontrproduktif dalam penyelesaian konflik Palestina. Selain bertentangan dengan resolusi internasional, disisi lain akan membuat ketegangan memuncak di timur tengah.

    "Memindahkan ibukota Israel ke Yerusalem sesungguhnya akan semakin meningkatkan konflik dan ketegangan yang berkepanjangan di Timur Tengah. Hal ini disebabkan karena Yerusalem merupakan salah satu epicentrum perjuangan utama bagi bangsa Palestina, karena adanya Al Quds" disampaikan Rofi Munawar dalam keterangan pers yang disampaikan kepada media pada hari senin (4/11) di Jakarta.

    Legislator asal Jawa Timur ini menambahkan, relokasi kedutaan besar AS bersamaan dengan rencana menetapkan Yerusalem sebagai ibukota Israel merupakan salah satu janji kampanye Trump saat pemilihan Presiden. Tapi ironisnya kebijakan luar negeri AS ini secara faktual sangat merugikan dan tidak mempertimbangkan kepentingan Palestina.

    "Trump selama ini telah secara jelas menjadikan Yerusalem dan Palestina sebagai komoditas kampanye dalam pemilihan presiden, hal ini dilakukan sebagai cara mencari dukungan dari kalangan Yahudi" sesal Anggota DPR RI ini.

    Rofi juga menjelaskan sejumlah alasan mengapa Yerusalem tidak bisa dijadikan ibukota oleh israel, diantaranya resolusi yang telah dikeluarkan oleh Komite Warisan Budaya Organisasi Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) yang memutuskan hilangnya kedaulatan Israel atas Kota Al-Quds (Yerusalem) yang diduduki. Selain itu juga, bagi umat Islam keberadaan Yerusalem memiliki sejarah panjang dalam proses perjuangan melawan israel.

    "Komunitas internasional dan PBB harus bersikap tegas terhadap rencana Donald Trump ini. Adapun OKI harus mengambil inisiatif yang lebih proaktif dalam menanggapi isu ini" pungkas Rofi.

    Sebagaimana diketahui, Menteri Luar Negeri Palestina Riad al-Maliki pada Ahad (3/12) mendesak Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) segera menggelar rapat untuk membahas situasi politik terkini di Yerusalem. Seruan tersebut ia sampaikan menyusul laporan yang menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump kini sedang bersiap untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. (Heryadi Silvianto)


    Israel Pasang Metal Detector, Picu Situasi Makin Memburuk di Al Aqsha

    Masjid Al-Aqsha. Foto: weheartit.com.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Wakil Ketua Badan Kerjasama Antarparlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Rofi Munawar menyesalkan tindakan Israel yang semakin menjadi-jadi di Komplek Mesjid Suci Al Aqsha Palestina. Mesjid Al Aqsha meski sudah dibuka kembali secara bertahap untuk umum (16/7), namun pengamanan yang dilakukan terlampau berlebihan dan kelewat batas untuk warga palestina yang hendak beribadah. Kebijakan terbaru dengan memasang cctv dan metal detector.

    "Pihak Israel pasca kejadian penembakan polisi seakan punya beribu alasan untuk membatasi dan bahkan melakukan tindakan kekerasan kepada warga Palestina yang hendak beribadah di Mesjid Al Aqsha" kecam Rofi Munawar dalam keterangan pers yang disampaikan kepada pihak media pada hari selasa (25/7) di jakarta.

    Legislator asal Jawa Timur ini memberikan pesan tambahan, Israel alih-alih meminta maaf dan bertanggung jawab atas penembakan mufti besar Imam Mesjid Al Aqsha, saat ini justru melakukan tindakan-tindakan yang kontraproduktif dalam upaya mencari usaha damai.

    "Kebijakan pembatasan yang berlebihan sejatinya akan semakin menumbuhkan konflik yang berkepanjangan dan membawa kondisi krisis di Al Aqsha semakin memburuk" tegas Rofi.

    Sikap Israel pada dasarnya telah melanggar kedaulatan masyarakat Palestina untuk beribadah, karena telah membatasi dengan semena-mena akses terhadap situs suci Mesjid Al Aqsha.

    Rofi juga menyesalkan atas lambatnya sikap tegas Perserikatan Bangsa - Bangsa (PBB) terhadap rangkaian kekerasan yang dilakukan oleh pihak Israel dalam kurun waktu satu bulan ini.

    "Sikap PBB ini sangat disayangkan dan secara pasti kondisi tersebut semakin meneguhkan posisi Israel yang sewenang-wenang." jelas Rofi.

    Terakhir, dirinya mendorong komunitas internasional untuk berperan aktif dalam mewujudkan kondisi kondusif di Mesjid Al aqsha.

    Sebagaimana diketahui sikap Indonesia terhadap kedaulatan Palestina jelas dan tegas, hal ini sesuai dengan nilai-nilai politik luar negeri Indonesia yang menentang segala bentuk penjajahan di muka bumi. Sejalan dengan sikap itu sudah banyak ratifikasi yang ditorehkan oleh Indonesia, seperti menginisiasi Piagam Dukungan Palestina di Konferensi Asia Afrika (KAA) dan mendukung resolusi terbaru UNESCO terkait Mesjid Al Aqsha. *

    Pemimpin Ideal

    PEWARTAnews.com -- Secara etimologi, pemimpin dapat diartikan sebagai khilafah, imamah, atau imarah, yang berarti memiliki daya/kemampuan memimpin. Sedangkan secara terminologi, berarti kemampuan untuk mengajak orang lain agar mencapai tujuan-tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Pemimpin, menurut Emha Ainun Najib, ia harus mempunyai daya angon atau daya mengembalakan, kesanggupan untukngemong (mengasuh) semua pihak, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara, sesama bangsa (tanpa membedakan suku, ras, dan agama).

    Di dalam sebuah organisasi, misalnya perlu ada namanya seorang pemimpin. Pemimpin dalam sebuah organisasi ibarat kepala. Umumnya, baik buruknya sebuah organisasi tergantung siapa pemimpinnya. Sebagai contoh, sebuah negara akan disegani oleh negara lain, bilamana pemimpinnya (Presidennya) berintegritas, cerdas, disukai oleh rakyat, amanah, dan lihai dalam mengambil keputusan atau kebijakan. Karena memang dalam sebuah organisasi keputusan tertinggi ada di tangan pemimpinnya.

    Menjadi pemimpin yang selalu diidolakan oleh rekan-rekan atau siapa saja yang dipimpinnya memang tidaklah mudah. Ia harus belajar, belajar, dan belajar. Oleh karena itu, agar seorang pemimpin dapat menjalankan kepemimpinannya dengan baik, ia harus mempunyai kelebihan atau keunggulan tertentu. Paling tidak ada tiga sifat, menurut Dr. Ruslan Abdul Gani, yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yakni: pertama,intellectual power, yaitu keunggulan pikiran dan rasio, tahu tujuan organisasi, tahu asas organisasi, tahu cara mencapai tujuan organisasi; kedua, mental power, yakni keunggulan rohaniah (kuat kemauan, tabah, berbudi luhur, berdedikasi, tidak mudah patah semangat); dan ketiga, physical power, yakni keunggulan fisik (tahan untuk bekerja keras, tidak sakit-sakitan).

    Di samping sifat-sifat di atas, menurut saya pemimpin ideal itu harus selalu mau mendengar atas orang yang dipimpinnya. Mendengar merupakan kunci kepemimpinan. Namun kenyataannya, banyak orang cenderung lebih senang membicarakan dirinya sendiri dibandingkan mendengarkan orang lain. Padahal “menjadi pendengar yang baik” itu memiliki nilai yang luar biasa. Ya, mendengar merupakan sesuatu yang sebenarnya memiliki nilai dahsyat bagi seseorang. Baik ia merupakan seorang pemimpin maupun bukan pemimpin. Kemampuan mendengarkan secara cerdas merupakan kunci untuk dapat mempengaruhi orang lain. Sebab, mendengarkan dapat memberikan manfaat dalam membangun sebuah hubungan, meningkatkan pengetahuan, membangkitkan ide-ide, membangun sebuah loyalitas, dan menunjukkan rasa hormat kepada orang lain.

    Sejatinya, seorang pemimpin merupakan seorang pelayan. Maka seorang pemimpin tugasnya memberi pelayanan terhadap masyarakat dengan sebaik-baiknya. Jadi, seorang pemimpin harus memiliki kepekaan terhadap keperluan yang dibutuhkan oleh orang yang dipimpinnya. Agar seorang pemimpin berhasil dan sukses dalam kepemimpinannya, menurut Octavia Pramono, ia harus belajar melalui keteladanan atau contoh pemimpin yang telah meraih sukses dan mampu menyejahterakan rakyat atau bawahannya. Keteladanan merupakan sesuatu hal yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh.

    Harus diingat, bahwa seorang pemimpin harus menjauhkan pikirannya bahwa ia pasti lebih baik dari orang (tim) yang dipimpinnya. Dengan merasa bahwa ia (baca: pemimpin) belum tentu lebih baik daripada orang yang dipimpinnya, maka ia tentu akan sampai pada kemauan untuk belajar dari orang-orang yang dipimpinnya. Bahkan, pikiran dan perasaan demikian akan menjauhkan dirinya dari kepongahan dan sifat “arogan” yang sangat tidak disukai oleh orang-orang yang dipimpinnya.

    Perlu diingat juga, bahwa semua orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dalam organisasi itu sendiri maupun di hadapan Sang Khalik. Oleh karenanya, jadilah pemimpin yang amanah, pemimpin yang memiliki “jiwa kepemimpinan”, pemimpin yang bisa menjadi model (panutan), dan pemimpin yang mau dan terus belajar dari siapa pun orangnya.

    Wallahu a’lam.

    Penulis: Gunawan

    "Rindu", By Muhammad Ali

    Muhammad Ali. 
    Musim telah pergi
    Musim berkata "aku akan pergi bersama impianmu"
    Musim berkata "aku akan pergi bersama semua harapanmu"
    Dia pergi disana, di ujung penantian
    Bersama dengan kegundahan dalam hatiku

    Rindu yang salama ini ku pendam mencair sudah
    Di kala air mata menjadikannya lebih berarti
    Rindu ini seperti air mata kesedihan tanpa pelangi ataupun tanpa angin
    Ku telusuri dinginnya malam ini yang berselimutkan bayang-bayang eloknya wajahmu
    Rindu ini kadang tak menentu, semakin malam akhirnya semakin membuatku tau arti dari kesunyian itu

    Lewat sunyi, kau jadi sering datang dalam imajinasiku lalu menimbun rinduku yang sepi
    Kini, hanya rindu yang mampu mengutarakan rasa ini padanmu
    Biarkan nestapa yang mengajarkan kita tentang cara untuk sling merindui

    Jika air mata adala sebuah pembenaran, maka rindu hanyalah sebuah bayangan semu
    Karena kesedihan bukanlah sebuah kutukan dalam perihal merindu
    Karenanya, dia mengajarkanku tentang cara untuk menahan rasa rindu yg kehilangan arah dan tujuannya.

    Wahai sang angin, sampaikan salam rinduku padanya
    Hembuskanlah nafas kehidupan padanya
    Agar dia selalu bisa bernapas tanpa aku
    Di kala jarak menjadi dinding pemisah
    Yang pada akhirnya, waktu akan mempertemukan kita di hari yang baik


    Karya: Muhammad Ali
    Pemuda asal Bima NTB

    Puisi: "Rindu"

    Nursuciyati. 
    Aku ingin bercerita tentang rindu yang sudah lama aku timbun dalam semestaku
    Tentang ketidakmampuanku membiarkan rinduku liar dalam sepiku

    Aku harus bagaimana?
    Duniamu tidak dapat aku jangkau dengan duniaku
    Semestamu menolak jinakku yang sebelumnya liar akan itu
    Kamu terlalu jauh
    Bagiku, kita adalah dua ufuk yang saling menolak tentang pertemuan

    Merinduimu adalah isak yang sedang aku nikmati
    Saat aku menunggu dengan yakin lalu kau berlalu begitu saja dan meninggalkanku dalam gelap seorang diri
    Saat kamu berkata "aku ingin pulang"


    Karya: Nursuciyati
    Mahasiswi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta 

    Alam Bercurhat

    Kini diriku semakin kurus dan kempes
    Mau minta tolong, tetapi pada siapa
    Bulu-buluku selalu dipangkas
    aku merintih kesakitan, tetapi tidak didengar

    Dagingku tiap hari dipahat
    Mau marah, tetapi takut berdosa
    Perutku tiap hari selalu dikeruk
    Ingin menangkis, tetapi aku tidak punya daya

    Aku mengeluarkan cairan tidak bermanfaat
    Mereka anggap aku tidak sakit
    Tiap tebing aku terkupas
    Terkupas karena tidak ada yang memikatku

    Kini hidupku terancam
    Terancam karena sang surya selalu menerka
    Aku mau bertanya, apakah ada cara supaya selalu awet
    Pertanyaanku tidak didengarkan

    Aku ingin melindungi diriku
    Kekuatan yang aku miliki tidak punya
    Aku ingin jauh darinya
    Kendaraan yang aku miliki tidak ada

    Aku memang ditakdirkan untuknya
    Bukan berarti mereka lepas tangan
    Aku mungkin makhluk yang paling sabar
    Kesabaranku dianggap bukan dosanya

    Kini hidupku hanyalah berpasrah
     Berpasrah menunggu habisnya usiaku
    Biarlah mereka terus menyiksa
    Aku hanya bisa berpasrah pada-Nya


    Karya: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Dosen STIE Muhammadiyah Berau / Dosen STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB / saharudin.yuas178@gmail.com

    KEPMA Bima-Yogyakarta Gelar Kuliah Tamu, Jena Teke Dihadirkan

    Foto bersama usai acara berlangsung. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Keluarga Pelajar Mahasiswa Pelajar (KEPMA) Bima-Yogyakarta telah menyelenggarakan kuliah tamu dengan tema “Membaca Sejarah Kesultanan Bima Perspektif Jena Teke”, pada hari Rabu, 29/11/2017 pukul 15:00 WIB yang berlangsung di caffee Kethek Ogleng, Gowok, Yogyakarta.

    Yogyakarta merupakan kota yang dikenal sebagai kota budaya yang sebagian besar komposisi penduduknya adalah mahasiswa/i. Masyarakat Jogja sampai saat ini masih sangat menjaga kearifan kebudayaan lokal, bisa dilihat dari acara-acara yang terselenggara misalnya: wayang Jawa, upacara sekaten, dll.

    Acara ini digelar dalam rangka kuliah tamu yang kali ini KEPMA Bima-Yogyakarta berhasil menghadirkan putra kesultanan Bima yaitu Muhammad Putra Ferryandi (Dae Yandi), putra dari H. Ferry Zulkarnain (alm) (Mantan Bupati Bima). Saat ini Dae Yandi sedang menduduki jabatan sebagai putra mahkota atau dalam istilah Bima dikenal sebagai “Jena Teke”, untuk mengatur jalannya acara di pandu oleh moderator Rifaid, S.IP. (Mahasiswa Pascasarjana UMY).

    Adanya kegiatan seperti ini, Jena Teke merasa senang dan bangga karena bisa sekaligus dijadikan forum berbagi dan bersilaturrahim. “Alhamdulillah tentu saja saya sangat senang dengan adanya kuliah tamu ini, dalam artian kita tidak hanya menyerap ilmu yang sesuai dengan tema kita hari ini, akan tetapi kita juga dapat berkumpul kembali untuk mempererat tali silahturahim kita. Mungkin sudah lama tidak pernah ketemu akhirnya kita dapat bertemu dengan diadakannya acara ini, saya juga baru pertama kali menjadi narasumber disini (Yogyakarta) untuk saling membagi ilmu agar ilmu tidak berhenti di saya saja supaya bisa bermanfaat untuk orang lain juga," tutur Jena Teke.

    Lanjutannya, "Pesan saya untuk mahasiswa di Jogja tidak begitu banyak tapi tidak sedikit juga. Jadi, kita semua hidup didunia ini tidak bisa melupakan sejarah karena kita semua berawal dari budaya-budaya, kebiasaan-kebiasaan yang dari dulu sudah diajarkan, jangan sampai kita melupakanya karena memang ada beberapa yang harus kita terapkan sehingga bisa kita lihat kembali sisi positif dan negatifnya bagaimana perkembangan dunia pada saat sekarang ini,” harap Jena Teke

    Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Agus Salim menggambarkan bahwasannya sejarah dan kebudayaat sudah mendarah dan mendaging menjadi sebuah identitas Bima. “Harapannya acara diskusi terkait sejarah dan kebudayaan akan tetap terus ada dan bermunculan. Karena bagaimanapun juga, sejarah dan kebudayaan merupakan bagian dari identitas kita sebagai makhluk sosial karena kita semua adalah anak sejarah,” tutur Agus Salim yang juga sebagai mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

    Dalam momentum yang sama, ketua panitia kuliah tamu, Ruslin yang biasa dikenal dengan nama Arlan ini mengatakan bahwasannya dia berterimakasih kepada Jena Teke karena telah sempatkan waktu berbagi dan berdiskusi dengan mahasiswa Yogyakarta. “Saya selaku ketua panitia mengucapkan terimakasih banyak kepada Muhammad Putra Ferriyandi yang telah meluangkan waktunya menjadi juru bicara dalam diskusi kita kali ini, saya juga ingin memberitahukan bahwa acara kuliah tamu yang kami adakan sudah memenuhi target dan sudah sesuai standar yang kami targetkan sebelumnya,” tutur Arlan

    Acara ini berjalan dengan lancar, terlihat menarik karena terjadi interaksi dialogis yang aktif antara pemateri dan para peserta. Kesuksesan dan kelancaran acara ini tidak terlepas dari kerjasama dari pengurus/panitia KEPMA Bima-Yogyakarta dan seluruh warga masyarakat Bima yang ada di Yogyakarta.


    Yogyakarta, 29 November 2017
    Penulis: Nursuciyati
    Mahasiswi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta 

    Pernikahan Dini “Antara Kenikmatan dan Kemudaratan” (Sebuah Refleksi Praktek Pernikahan Dini di NTB)

    PEWARTAnews.com -- Pernikahan dini adalah sebuah kalimat yang syarat makna kenikmatan dan kemudaratan, betapa tidak, dengan menikah maka sesuatu yang haram seketika menjadi halal termaksud berhubungan intim dengan pasangan dan sungguh ini adalah kenikmatan yang luar biasa akan tetapai akan enjadi sebuah kemudaratan apabila kenikmatan itu diraih pada usia yang belum matang (menikah dini), kenapa ini menjadi kemudaratan karena sekara fisik dan psikis seseorang yang melakukan pernikahan dini akan berada pada posisi yang dilematis antara dunia anak-dan dunia kedewasaan, ditambah lagi dengan hadirnya seorang anak dari tali kasih yang masih belia tentu akan membawa dampak tersendiri bagi buah hati yang dilahirkan serta bagi masyarakat.

    Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah provinsi dengan peringkat kedua setelah Sulawesi barat yang menyumbang anka pernkahan dini atau dibawah usia matang dan tentu ini menjadi sebuah warning bagi pemerintah dan segenap lapisan masyarakat didalamnya mengingat dampak dari pernikahan dini yang begitu kompleks. Pernikahan dini bisa dimaknai sebagai praktek pernihan dibawah usia matang yang dilakukan oleh muda mudi yang masih polos dan lugu dengan wajahnya yang masih imut. Berdasarkan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 BAB 2 Pasal 7 ayat 1 bahwa seorang anak laki-laki diperbolehkan menikah apabila sudah menginjak usia 19 tahun dan usia 16 tahun bagi perempuan, pemerintah provinsi NTB sendiri pada tahun 2015 mengeluarkan surat edaran dimana surat edaran gubernur ini adalah salah satu upaya untuk pendewasaan usia pernikahan dengan membatasi usia minimum bagi peremouan untuk menikah adalah usia 21 tahun dan bagi laki-laki adalah 23 tahun,  akan tetapi undang-undang dan surat edaran  ini seakan kehilangan taring melihat realitas pernikahn dini yang marak terjadi di NTB secara khusus dan di Indonesia secara umum.

    Secara global praktek pernikaha dini menjadi trend tersendiri, di Afrika dan asia jumlah anak perempuan yang menikah dibawah usia 18 tahun lebih dari 700 juta dengan skema 250 juta menikah dibawah usia 15 tahun (new York. UNFPA 2002). Sedangkan di Indonesia berdasarkan data SUNSENAS 2012 bahwa ada sekitar 11,13% anak perempuan menikah pada usia 10-15 tahun dan sekitar 32,10% menikah pada usia 16-18 tahun. Di NTB, Berdasarkan data BPS NTB 2015 bahwa ada 34,90% perempuan yang melakukan pernikahan pertama pada usia 10-19 tahun, dengan skema, Kota Mataram 26,32%, Lobar 36,37%, Loteng 40,80%, Lotim 41,66%, KLU 35,57%, Sumbawa 23,60%, KSB 28,23 %, Dompu 30,67%, Bima 22,86% dan Kota Bima 23,49 %, tentu ini bukanlah angka yang menggembirakan bagi kita semua. Seperti yang ditulis oleh penulis sebelumnya bahwa pernikahan dini syarat akan dampak negative yang kompleks tidak hanya bagi subjek akan tetapi juga bagi masyarakat dan pemerintah. Menurut Gunilla kepala perwakilan Unicef di Indonesia, bahwa subjek pernikahan dini beresiko tinggi putus sekolah, untuk anak perempuan resikonya adalah mengandung pada usia muda dan sangat berbahaya bagi kesehatan, lebih jauh dari itu pernikahan dini menyeret pada kemiskinan yang struktural dan ini akan menjadi beban tersendiri bagi keluarga, masyarakat dan pemerintah.

    Lalu apa sebenarnya penyebab massifnya praktek pernikahan dini di NTB dan di Indonesia, tentu sangat bervariatif. Ada beberapa akar permasalahan menurut Penulis, seperti yang gambarkan pada point-point dibawah ini.

    Pertama, Masalah ekonomi, dimana ada banak praktek pernikahan dini yang bermotif ekonomi, tidak sedikit orang tua yang mau menikahkan anak belianya dengan seseorang yang memiliki ekonomi yang kuat dengan harapan kelak anaknya dan keluargnya mampu memperbaiki kehidupannya secara ekonomi, ada banyak kasus menurut Penulis salah satunya adalah yang terjai di Lombok Timur  dimana seorang laki-laki berusia 60-an tahun menikahi perempuan yang berusia 12 tahun dan tentu masih banyak contoh lainnya di NTB dan Indonesia secara luas.

    Kedua, Masalah struktur sosial, suka tidak suka bahwa struktur sosial kita khusunya di NTB saat ini menjadi kanalisasi pernikahan dini, maksudnya adalah bawah masyarakat kita seakan kehilangan fungsi sosial didalam mengawasi pergaulan anak-anak remaja khusunya, begitu banyak anak-anak dibawah umur yang bergaul secara bebas, minum alkohol ditempat terbuka bahka bersama orang-orang tua, orang dewasa yang seharusnya memainkan fungsi sosialnya untuk menjadi contoh bagi regenerasi, kemudian anak-anak bebas berpacaran sampai pada waktu dan tempat yang tidak seharusnya dan kembali struktur masyarakat seakan menutup mata melihat realitas ini sehingga ada banyak kasus pernikahan dini yang terpaksa dilakukan karena kecelaan (hamil diluar nikah), kita semua mungkin masih ingat cerita orang tua kita dulu, dimana mereka sangat sulit untuk bertemu dan bergaul dengan teman sejenis dan lawan jenis sesuka hati mereka karena pengawasan orang tua dan masyarakat sangat kuat dengan kata lain bahwa struktur sosial orang terdahulu terbentuk dan fungsinya berjalan dengan baik sehingga ada ketakutan bagi seorang anak jaman dulu untuk melakukan tindakan abnormal, dan itu sangat berbeda dengan struktur sosial jaman sekarang yang begitu terbuka dengan segala sikap masa bodohnya.

    Ketiga, Masalah pendidikan,  secara formal pendidikan di NTB rasio guru dan murid masih sangat tinggi berdasarkan data BPS 2016 bahwa untuk pendidikan dasar rasio guru dan siswa adalah 23.00, SMP adalah 19,44 dan SMA adalah 19,33, kenapa rasio ini perlu dibahas karena menurut Penulis bahwa pendidikan formal kita di NTB tidak maksimal memainkan perannya dimana berdasarkan rasio bahwa satu orang guru mengajar lebih dari 10 siswa mulai dari SD, SMP dan SMA dengan jam mengajar yang terbatas ini artinya bahwa di NTB perlu mendesain pendidikan formal yang lebih ideal lagi baik dalam konteks pengajaran dalam ruangan maupun ekstrakurikuler agar para siswa tidak memiliki waktu luang yang banyak untuk berhura-hura dengan teman-temannya tetapi berkonsentrasi penuh untuk bekajar mengembangkan potensi diri. Kemudian disisi lain juga bahwa di Indonesia khusunya di NTB pendidikan belum sepenuhnya menjangkau semua masyarakat dan ini harus menjadi perhatian khusus, harus ada inovasi dalam dunia pendidikan seperti salah satu contoh di Halmahera Selatan dengan program gerakan desa cerdas yang diinisiasi oleh pemuda penggerak desa, kegitannya adalah mengirim tenaga pengajar ke semua pelosok desa yang memiliki sekolah dasar sehingga hasilnya adalah semua desa dan sekolah dasar mendapatkan guru pengajar yang professional, hal ini menurut Penulis sangat bisa kita adopsi dan dikembangankan di NTB.  Terciptanya generasi yang berkualitas tentu tidak cukup dengan memperbaiki pendidikan secara formal akan tetapi pendidikan nonformal (lingkungan) dan pendidikan informal (dalam keluarga) juga perlu diperbaiki agar ada singkronisasi pendidikan dalam membentuk karakter dan kualitas generasi kedepannya.

    Beberapa hal diatas tentu harus menjadi musuh bersama bagi kita semua dan oleh karena itu keterlibatan semua lapisan masyarakat, stakeholders dan semua instansi pemerintah memiliki probabilitas dan menjadi factor determinative dalam menekan angka pernikahan usia dini menuju pendewasaan usia pernikahan di NTB khususnya karena walau bagaimanapun pernikahan dini lebih banyak mendatangkan kemudaratan bagi pelaku dan masyarakat. Apalagi mengingat bahwa sekaran pada era millennia kita menghadapi globalisasi (westernisasi, modernisasi) yang tentu ini akan menjadi tantangan bersama kedepanya, ini menjadi penting karena globalisasi juga secara umum menjadi faktror perubahan prilaku masyarakat (tua dan muda) tidak terkecuali di NTB, betapa tidak dengan pengaruh globalisasi struktur sosial masyarakat menjadi lebih terbuka, hampir semua anak-anak di Indonesia bahkan di dunia terpengaruh dengan budaya orang barat, mulai dari cara berpakaian, perilaku sampai dengan gaya berpacaran yang begitu fulgar (seks bebas), para orang tua semakin sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga melalaikan tugas sebagai orang tua, tidak ada lagi pengawasan terhadap kehidupan anak-anak mereka, ini harus menjadi perhatian bersama kedepannya agar terciptanya generasi emas di NTB sesuai program yang dicanangkan oleh pemrintah NTB.


    Penulis: Bung Akbar Jafar
    Dosen Universitas Muhammadiyah Mataram / Alumni PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta

    ROEANG Peduli Bencana di Yogyakarta

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- ROEANG inisiatif bekerja sama dengan beberapa komunitas tanggap bencana  membentuk Tim Penggalangan dan Penyerahan Bantuan Bencana Alam di  Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Bersama dengan GNB Zelma, Karang Taruna Parikesit dan IKPM Jember, ROEANG inisiatif menyerahkan hasil pengumpulan bantuan  berupa pakaian layak pakai, sembako, obat-obatan, dana dan beberapa kebutuhan lainnya di wilayah Semanu dan Nglipar, Gunungkidul.

    Tim gabungan tanggap bencana tersebut membentuk tiga Posko yang berlokasi di Gunungkidul, Sleman dan Bantul bagian utara. Tim ini mulai bergerak sejak terjadinya bencana alam dan sampai saat ini masih dibuka untuk mengumpulkan dan diberikan kembali pada korban bencana alam.

    "Saat ini korban bencana masih membutuhkan banyak sembako, selimut, senter, obat-obatan, perlengkapan mandi, perlengkapan sekolah dan dana". tutur Arif Rahman selaku Direktur ROEANG inisiatif.

    Sebagaimana dikutip dari halaman BMKG Yogyakarta, setelah menyusutnya Badai Tropis Cempaka, akan muncul lagi Badai Tropis Dahlia. Walaupun, titik badai sudah bergeser ke wilayah barat, Pulau Jawa bagian selatan termasuk Yogyakarta akan tetap merasakan dampaknya.

    "Kita akan terus membuka posko dan mengumpulkan barang bantuan, sampai situasi dan korban benar-benar pulih" tambah pria yang sekaligus sebagai ketua posko tim gabungan tanggap bencana tersebut.

    Hujan selama 3 hari berturut-turut di Yogyakarta berdampak terjadinya banjir dan tanah longsor. Akibatnya, terjadi kerusakan sejumlah bangunan rumah, harta benda, rusaknya sawah dan hilangnya hewan ternak. Gunung Kidul dan Bantul bagian selatan adalah daerah yang terkena dampak langsung bencana.

    Sementara Eko yang mewakili warga Semanu mengucapkan banyak terimakasih. "Saya mewakili warga Semanu mengucapkan banyak terima kasih kepada mas-mas dan mbak-mbak, kami tidak bisa berbuat apa-apa dan semoga Allah membalas atas kebaikan mas-mas dan mbak-mbak" ucap Eko dengan penuh haru.

    Diabetes Melitus, Ancaman Kesehatan Global

    Sukesi. 
    Mengenal Diabetes melitus (DM)
    PEWARTAnews.com -- World Health Organization (WHO) memperkirakan adanya peningkatan jumlah penderita DM yang menjadi salah satu ancaman kesehatan global (WHO, 2016).  Data International Diabetes Federation (IDF) Atlas pada 2015, mencatat bahwa ada 415 juta orang dewasa dengan DM. Angka ini merupakan kenaikan 4 kali lipat dari 108 juta pada tahun 1980an. Pada tahun 2040 diperkirakan jumlahnya akan menjadi 642 juta (IDF, 2015, 1).

    Di Indonesia, WHO memprediksi kenaikan jumlah penderita DM dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah penderita DM sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2035. Sedangkan IDF memprediksi kenaikan jumlah penderita DM dari 9,1 juta pada tahun 2014 menjadi 14,1 juta pada tahun 2035. DM merupakan penyebab kematian terbesar nomor 3 di Indonesia dengan persentase sebesar 6,7%, setelah stroke sebesar 21,1% dan penyakit jantung koroner sebesar 12,9% (Kementerian kesehatan, 2014). Ironisnya, satu dari dua orang dengan diabetes tidak tahu dirinya memiliki diabetes (WHO, 2016, 1).

    DM adalah kelompok penyakit metabolik dikarakterisasikan dengan tingginya tingkat glukosa didalam darah (hiperglikemia) yang terjadi akibat defek sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya (American Diabetes Association (ADA), Expert Committee on the Diagnosis and Classification of Diabetes mellitus, 2003) dalam Tarwoto, et al., (2012, hlm. 151). Sedangkan, menurut Smeltzer dan Bare, (2013, hlm. 1220), DM adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia yang disebabkan oleh kemampuan tubuh untuk bereaksi terhadap insulin menurun atau pankreas dapat menghentikan sama sekali produksi insulin. Gejala awal DM ditunjukkan dengan adanya banyak makan (polifagia), banyak minum (polidipsia), dan banyak kencing (poliuria) atau disingkat 3P (Atun, 2010, hlm. 11).

    Jenis diabetes yang paling sering terjadi adalah DM Tipe II, mencakup 85% pasien diabetes (Greenstein & Wood, 2010, hlm. 86). Pada DM Tipe II terdapat dua masalah yang berhubungan dengan insulin, yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin (Wijaya & Putri, 2013, hlm. 6). Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor keturunan, faktor kegemukan (obesitas)  dan faktor demografi (Soegondo, et al., 2013, hlm. 8).

    Obesitas merupakan faktor utama penyebab timbulnya DM Tipe II (LeMone, et al., 2016, hlm. 654). Obesitas terjadi akibat perubahan gaya hidup dari tradisional ke gaya hidup barat, makan berlebihan, hidup santai, dan kurang gerak badan. Kategori obesitas yaitu indeks massa tubuh (IMT) 25,0-29,9 (WHO dalam Soegondo, et al., 2013). Pada obesitas, khususnya obesitas visceral (lemak abdomen) dikaitkan dengan resistensi insulin (LeMone, et al., hlm. 656). Pada keadaan kegemukan respon sel beta pankreas terhadap peningkatan kadar gula darah berkurang. Selain itu reseptor insulin pada target sel di seluruh tubuh termasuk otot berkurang jumlah dan keaktifannya (kurang sensitif) sehingga keberadaan insulin di dalam darah kurang atau tidak dapat dimanfaatkan (Ernawati, 2013, hlm. 16). 

    Peran Transformasi Leadership dalam Pencegahan dan Pengelolaan DM
    Kepemimpinan transformasi merupakan kemampuan kepemimpinan yang komprehensif dan terpadu yang diperlukan bagi individu, kelompok, maupun organisai untuk menghasilkan transformasi yang ditandai dengan perubahan pada setiap tahapan kegiatan (Hacker & Roberts, 2004). Essensi kepemimpinan transformasi tampak pada proses menginspirasi, mengembangkan, dan memberdayakan pengikutnya (Yulk, 2010).

    DM Tipe II merupakan penyakit menahun yang akan disandang seumur hidup. Oleh karena itu perlu pencegahan dan pengelolaan DM Tipe II menurut PERKENI, (2015). Pencegahan DM Tipe II meliputi pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer ditujukan untuk kelompok beresiko yang dapat dilakukan dengan penyuluhan tentang pola hidup sehat melalui program penurunan berat badan untuk mencapai berat badan ideal, latihan jasmani, dan hentikan kebiasaan merokok maupun intervensi farmakologis.

    Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit pada pasien yang telah terdiagnosis DM. Pencegahan sekunder meliputi pengendalian kadar glukosa dan faktor resiko penyulit, melakukan deteksi dini adanya penyulit dan program penyuluhan yang memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani program pengobatan sehingga mencapai target terapi yang diharapkan.

    Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penderita diabetes yang telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut serta meningkatkan kualitas hidup. Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin, sebelum kecacatan menetap. Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan pada pasien dan keluarga. Materi penyuluhan termasuk upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal. Pencegahan tersier memerlukan pelayanan kesehatan komprehensif dan terintegrasi antar disiplin yang terkait, terutama di rumah sakit rujukan.

    Pengelolaan DM Tipe II bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes, meliputi menghilangkan keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup, mengurangi resiko komplikasi akut, mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati dan makroangiopati, dan turunnya morbiditas dan mortalitas DM. Penyakit serebrovaskular, penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah tungkai, gangguan pada mata, ginjal dan syaraf merupakan penyulit menahun akibat penyakit DM yang tidak dikelola dengan baik. Pengelolaan DM Tipe II meliputi umum dan khusus.

    Pengelolaan umum: perlu dilakukan evaluasi medis yang lengkap pada pertemuan pertama, yang meliputi: riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, riwayat komplikasi. Pengelolaan khusus meliputi: edukasi, terapi nutrisi medis (penderita DM perlu diberikan penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin), latihan jasmani (secara teratur 3-5 hari seminggu selama sekitar 30-45 menit, dengan total 150 menit perminggu, dengan jeda antar latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut, latihan jasmani yang dianjurkan yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang seperti jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan berenang), dan  intervensi farmakologis (oral dan bentuk suntikan).

    PERKENI secara terus menerus memberikan informasi baru tentang pencegahan dan pengelolaan DM di Indonesia sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi terkini. Namun, data-data yang ditunjukkan oleh WHO, IDF, maupun Riskedas memperlihatkan  bukti bahwa jumlah penderita DM di Indonesia masih sangat besar. Dan adanya perkiraan terjadi peningkatan jumlah penyandang DM di masa yang akan datang menjadi beban berat sekaligus tantangan bagi semua tenaga kesehatan yang ada. Oleh karena itu perlu peran yang optimal dari semua pihak, baik tenaga kesehatan, masyarakat maupun pemerintah, dalam usaha penanggulangan DM khususnya dalam upaya pencegahan.


    Penulis: Sukesi
    Mahasiswi Magister Keperawatan Universitas Diponegoro, Semarang.

    Transformasional Leadership dalam Meningkatkan Kepatuhan Perawat melakukan Cuci Tangan (Hand Hygiene)

    Ilustrasi Perawat. Foto: idnations.com.
    PEWARTAnews.com -- Rumah Sakit merupakan sarana prasarana layanan kesehatan yang menjadi pusat utama yang berhubungan erat dengan peningkatan derajad kesehatan. Rumah Sakit menjadi rujukan utama bilamana ada seseorang yang mengalami gangguan kesehatan baik secara fisiologis mauupun psikologis. Konsumen yang berkunjung ke rumah sakit terdiri dari konsumen internal dan konsumen eksternal. Konsumen internal meliputi semua orang yang berkerja di organisasi layanan kesehatan, pemilik, pimpinan dan seluruh karyawan rumah sakit. Konsumen eksternal meliputi pasien/klien serta keluarganya. Klien-klien yang datang ke Rumah Sakit tentunya memiliki gangguan kesehatan yang bervariasi, baik yang jenisnya menular maupun tidak menular dan kondisinya kronis ataupun akut. Bervariasinya jumlah kunjungan klien maka terjadi kontak antar klien dengan petugas layanan kesehatan, antar klien dengan klien dan antar klien dengan lingkungan Rumah Sakit. Dari hal tersebut membuat Rumah Sakit juga merupakan salah satu agen pencetus yang dapat menyebabkan penyebaran infeksi. Infeksi yang terjadi di Rumah Sakit biasanya dikenal dengan istilah “infeksi nosokomial”.

    Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang diperoleh atau dialami pasien selama dia dirawat di Rumah Sakit. Data menunjukan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari eropa menunjukkan adanya infeksi nosokomial. Asia Tenggara sebanyak 10,0% (WHO, 2002). Kasus infeksi nosokomial di Indonesia berdasarkan data dari Rumah Sakit DKI Jakarta 9,8% perawat rawat inap mendapatkan infeksi baru, di RSUP Dr. Sadjito Surabaya 7,3% (Nugraheni, 2012).

    Dampak infeksi nosokomial antara lain meningkatkan ketidakberdayaan fungsional, tekanan emosional dan ada beberapa kasus yang mengakibatkan kecacatan sehingga menurunkan kualitas hidup, infeksi nosokomial juga menyebabkan peningkatan biaya pelayanan kesehatan karena meningkatnya lama rawat inap di rumah sakit dan terapi dengan obat-obat mahal. Infeksi juga merupakan salah satu penyebab kematian. Infeksi nosokomial saat ini diubah penyebutannya menjadi Infeksi Terkait Layanan Kesehatan “HAIs” (Healthcare-Associated Infections). Untuk mengatsi HAIs, WHO menyusun program untuk mengatasi  dengan memberlakukannya penanggulangan dan pengendalian infeksi. Di Indonesia dalam pengupayaan menurunkan angka kejadian infeksi, mencegah dan meminimalkan terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung dan masyarakat sekitar, dibentukanya suatu badan pengendalian dan penanggulangan infeksi, yang biasa dikenal dengan istilah Pengendalian dan Penanggulagan Infeksi (PPI). Pembentukan PPI sesuai dengan pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas layanan kesehatan yang diatur dalam  Permenkes Nomor 27 Tahun 2017. PPI memiliki programkerja/sasaran kerja (SNARS, 2017) kebersihan tangan, surveilans risiko infeksi, investigasi wabah (outbreak) penyakit infeksi, meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan antimikrob secara aman, asesmen berkala terhadap risiko, menetapkan sasaran penurunan risiko serta mengukur dan me-review risiko infeksi. Teknik dasar yang paling penting dalam mencegah dan penanggulangan penularan infeksi adalah dengan mencuci tangan (Potter & Perry, 2005).

    Kepatuhan Cuci Tangan
    Cuci tangan adalah menjaga kondisi tangan tetap bersih dan mengangkat mikroorganisme yang ditangan sehingga dapat mencegah terjadinya  infeksi silang (Cross Infection). Cuci tangan dilakukan untuk membantu layanan kesehatan dalam mencegah infeksi silang dari pasien ke petugas kesehatan maupun sebaliknya dari petugas ke pasien (Nursalam, 2007). Mencuci tangan dapat dilakukan dengan menggunakan sabun dan air mengalir atau menggunakan alkohol (alcohol-based handrubs). Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir memiliki 12 langkah dengan waktu yang dibutuhkan 40-60 detik dan cuci tangan menggunakan alkohol memiliki 6 langkah dengan waktu 20-30 detik (WHO, 2009).

    Indikasi untuk melakukan cuci tangan ini didasarkan 5 momen yaitu, Sebelum kontak pasien, sebelum tindakan aseptik, setelah kontak darah dan cairan tubuh, setelah kontak pasien dan setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien (Permenkes No. 27, 2017). Proses mencuci tangan ini sudah menjadi hal paling sering dilakukan di Rumah Sakit. Namun, tidak semua langkah cuci tangan dan momen perlakukan cuci tangan dilakukan secara tepat. Disini dapat dilihat adanya unsur ketidakpatuhan perawat dalam proses cuci tangan. Hal tersebut menjadi fenomena dilapangan karena masih kurangnya perawat dalam kepatuhan mencuci tangan.

    Kepatuhan adalah suatu sikap individu yang sifatnya positif dengan menunjukkan adanya suatu perubahan yang bermakna sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai atau yang telah ditetapkan. Kepatuhan perawat adalah suatu perilaku perawat melakukan suatu tindakan, prosedur atau peraturan yang seharus dilakukan serta ditaati (Notoatmodjo, 2007). Ketidakpatuhan mencuci tangan didukung oleh penelitian (Pratama, 2015) menujukkan hasil rata-rata kepatuhan hand hygiene pada perawat sebesar 36% dengan kepatuhan tertinggi pada sebelum tindakan aseptis 50% dan terendah pada setelah menyentuh sekitar pasien 20%. Kepatuhan berkaitan erat dengan perilaku.

    Lawrence Green mengatakan bahwa  perilaku dipengruhi oleh tiga faktor yaitu, faktor predisposisi, faktor pendukung dan faktor pendorong (Noorkasiani, 2009). Pertama, Faktor predisposisi adalah mencakup pengetahuan individu, sikap, kepercayaan, tradisi, norma sosial  dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat. Kedua, Faktor pendukung ialah tersedianya sarana layanan kesehatan dan kemudahan mencapainya. Ketiga, Faktor pendorong ialah sikap dan prilaku petugas kesehatan yang perlu didukung dari pimpinan. Baik dengancara supervisi maupun pengawasan.

    Langkah pengupayaan peningkatan kepatuhan perawat dalam melakukan cuci tangan dapat dipengaruhi dengan adanya pemimpin yang dapat mengkoordinir serta memantau kinerja bawahannya. Ada beberapa gaya kepemimpinan, salah satunya kepemimpinan tranformasional.

    Transformasional Leadership
    Kepemimpinan transformasional  merupakan keadaan dimana pemimpin menjadi sosok yang mengispirasi bagi anggotanya pada situasi melakukan hal yang melebihi kepentingan pribadi malainkan kepentingan perusahaan dan mampu memberikan dampak mendalam dan luar biasa kepada para karyawan dari pola pikir yang menyelesaikan masalah dengan cara baru yang lebih baik. Pengaruh pemimpin di layanan kesehatan khususnya keperawatan juga mampu memberikan motivasi kepada staf perawat agar bekerja dengan disiplin, teliti, rasa percaya diri dan menjalin kerjasama dengan tim kerja. Memberikan kebebasan, status profesional, tuntutan tugas, memfasilitasi hubungan interpersonal yang adekuat, memfasilitasi interaksi antara perawat dengan pasien maupun tim kerja ((Luthans, 2006); (Robbins, 2008) & (Bass B.M. & & Avolio B. J., 1990)).

    Pemimpin transformasional juga  mampu membuat karyawan bergairah dalam bekerja, membangkitkan semangat dan membuat karyawan melakukan upaya ekstra untuk mencapai tujuan perusahaan. Di layanan kesehatan Rumah Sakit pemimpin perlu mengupayakan pengembangan sebuah visi yang jelas dan menarik seperti, Penyusunan Visi, Misi, filosofi, tujuan serta kebijakan di unit layanan keperawatan yang merujuk pada Visi, Misi tujuan Rumah Sakit. Hal ini juga di dukung oleh pernyataan Thyler (2003) bahwa perawat memegang peranan untuk mengubah sistem layanan kesehatan, karena pendekatan transformasional pada kepemimpinan akan cocok pada profesi layanan kesehatan yang paling baik berfungsi dalam lingkungan berbasis tim dengan menggunakan tingkat komunikasi yang tinggi. Staf perawat dalam Rumah Sakit perawat mempersiapkan kepala perawat sebagai orang yang mendemonstrasikan model kepemimpinan transformasional ( (Borkowski, 2011); (Luthans, 2006); (Robbins, 2008) & (Bass B.M. & & Avolio B. J., 1990)).

    Kepemimpnan transformasional merupakan suatu kekuatan yang mesti dimiliki pemimpin, dengan hal itu pemimpin akan mempunyai pengaruh bagi bawahan ataupun mempengaruhi bawahan. Kepemimpinan transformasional akan membuat bawahan merasa dipercaya, dihargai, loyal dan respek kepada pimpinannya. Menerapkan kepemimpinan sebagai instruktur dengan belief analytical person untuk menemukan pendekatan-pendektan baru, mengetahui proses memimpin dan dapat mengukur prosesnya serta dapat menentang prosesnya. Dari hal tersebut maka bawahan akan termotivasi untuk melakukan lebih dari yang di harapkan. Membuat target yang menantang bagi semua pengikut, meningkatkan sistem agar tercapai standart lebih tinggi dari sebelumnya, melakukan semua yang terbaik dengan membuat perencanaan secara teratur untuk pengembangan diri perawat dalam hal peningkatan kemampuan interpersonal dan intrapersonal ((Luthans, 2006); (Robbins, 2008) & (Bass B.M. & & Avolio B. J., 1990)).

    Pemimpin tranformasional menggunakan karisma, pertimbangan individual dan stimulus intelektual untuk menghasilkan upaya yang besar, efektivitas dan kepuasan bagi bawahannya ((B.L Marquis & C.J. Huston, 2010) & (Hartiti, 2013)).

    Transformational Leadership dalam Meningkatkan Kepatuhan Cuci Tangan
    Kepemimpinan tranformasional dapat kita pergunakan dalam meningkatkan kepatuhan perawat melakukan cuci tangan. Terbentuknya sosok pemimpin yang berkualitas  maka bawahan juga akan terpengaruhi. Ketika pemimpin dan bawahan sudah menjalin hubungan yang baik dalam satu lingkup kerja maka akan menghasilkan kinerja yang baik pula. Hal ini di dukung dengan penelitian (Murtiningsih, 2015), kepemimpinan transformasional berpengaruh  signifikan dan positif terhadap kinerja. Transformasional leadership juga merupakan salah satu metode kepemimpinan yang dapat diaplikasikan dalam layanan kesehatan khusunya keperawatan. Berdasarkan karakteristik kepemimpinan transformasional dapat dijadikan sebuah bagan yang menghubungkan aplikasi tranformasional leadership terhadap kepatuhan perawat dalam melakukan cuci tangan (hand hygiene).



    Berdasar bagan di atas bahwasannya kita ketahui dalam pengupayaan peningkatan kepatuhan perawat dalam melakukan cuci tangan perlu sosok pemimpin yang memiliki kemampuan tranformasional leadership. Dimana nilai-nilai yang terdapat dalam pembentukan tranformasional leadership akan membentuk seorang pemimpin yang karismatik, inspiratif, mampu memberikan stimulus intelektual dan melakukan / memperhatikan individu ataupun bawahan.

    Peran karismatik pemimpin perlu guna meningkatkan mutu layanan kesehatan yang salah satu tujuannya adalah untuk menanggulangi dan pengendalian infeksi Rumah Sakit. Untuk mencapai tujuan itu pemimpin perlu malakukan penyusunan Visi dan Misi dalam pencapai sasaran. Setelah Visi dan Misi terbentuk maka perlu adanya sounding atau pemaparan. Sehingga perawat ataupun staf yang berkerjasama dalam satu kepemimpinannya bisa mengerti dan memahami serta mampu menjalakan Misi yang telah ditetapkan.

    Peran Inspiratif pemimpin menjadi sorotan bawahan dalam proses kerja. Hal ini perlu menjadikan pemimpin yang tersorot nilai positif dengan pemimpin mampu membentuk ide-ide baru dan dapat menjadi penyalur bagi bawahan sehingga terjalin hubungan interpersonal antar perawat dengan perawat  dan antar perawat dengan pasien menjadi lebih baik. Dengan begitu maka pemimpin harus teliti terhadap kinerja bawahan dan juga harus percaya diri tidak mudah terpengaruh. Terbentuknya sebuah ide-ide baru mengenai bagaimana cara meningkatkan kepatuhan perawat dalam mencuci tangan, tentunya akan mempermudah realisasi perlakuan cuci tangan yang lebih baik.

    Peran stimulus intelektual perlu adanya metode pendekatan yang baik antara pemimpin dengan perawat pelaksanan yang melanggar atau pun tidak patuh melakukan cuci tangan. Mencari sumber apa saja yang menyebabkan hal ketidakpatuhan itu dapat terjadi sehingga pemimpin membentuk suatu formulasi yang bisa dijadikan indikator penilai terhadap kinerja perawat dalam melakukan cuci tangan. Pemimpin juga perlu demokratis dalam memecahkan konflik kepatuhan melihat dari sudut pandang bawahan mengkritisasi program yang dijalankan pemimpin. Hal ini akan membuat bawahan merasa dianggap ada dan dihargai.

    Permimpin juga perlu memiliki peran yang memperhatikan individu dengan adanya peran ini, maka perawat yang bekerja sama akan merasa dianggap dan akan terstimulus antar perawat satu dengan lainnya. Sehingga perhatian ini bisa menjadikan suati kompetitif yang positif diatara perawat dalam meningkatkan nilai kepatuhan mencuci tangan. Hal ini akan lebih baik bila pemimpin menekankan aturannya dengan punishment (hukuman) terhadap ketidakpatuhan ataupun sebaliknya mebuat reward bagi yang patuh.


    Penulis: Ns. M. Martono Diel, S.Kep.
    Pembimbing: Dr. Luky Dwiantoro, S.Kp., M.Kep.

    Aplikasi Kepemimpinan Transformasional dalam Meningkatkan Profesionalisme Perawat Lulusan SPK

    Ilustrasi perawat. Foto: idntimes.com 
    PEWARTAnews.com -- Instansi pelayanan kesehatan mengemban tugas utama untuk memberikan pelayanan kesehatan berkualitas dan aman bagi seluruh lapisan masyarakat. Peran perawat sebagai pemberi asuhan mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap keberhasilan pelayanan kesehatan yang paripurna kepada klien. Keberhasilan perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan perlu didukung dalam upaya peningkatan profesionalisme. Salah satunya adalah melalui pengembangan karir perawat, dimana jenjang karir adalah sebuah sistem yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan profesionalisme, dengan cara peningkatan kompetensi perawat yang bisa ditempuh dengan pendidikan formal berjenjang maupun pendidikan informal.

    Seorang perawat diakui sebagai seorang perawat apabila telah lulus dari pendidikan tinggi keperawatan yang diakui oleh negara, yaitu diperoleh minimal dengan menyelesaikan program diploma tiga keperawatan. Namun, pada kenyataannya masih banyak tenaga perawat yang hanya berkualifikasi lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan tahun 2017 melaporkan masih banyak tenaga perawat dengan kualifikasi lulusan SPK  yang didayagunakan di fasilitas-fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia, yaitu sebanyak 19.201 perawat. Masih banyaknya perawat yang hanya lulusan SPK ini, tidak terlepas dari motivasi perawat itu sendiri untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dan juga dukungan pemimpin sebagai pemberi ijin atau pemberi motivasi, sehingga dapat dikatakan pemimpin dengan gaya kepemimpinan yang tepat dibutuhkan untuk menyesaikan fenomena ini.

    Gaya kepemimpinan transformasional merupakan gaya kepemimpinan yang menjadi pilihan yang ideal, dimana seorang pemimpin tranformasional adalah seorang pemimpin sekaligus agen perubahan yang menginspirasi dan memotivasi bawahan untuk berubah dan menyampingkan kepentingan pribadi demi mencapai meningkatkan kemampuan yang dimiliki agar tercapai tujuan dari visi organisasi.Pemimpin transformasional dalam bidang keperawatan dapat berupa seorang Kepala Ruang maupun Kepala Bidang Keperawatan.

    Seorang pemimpin transformasional yang baik akan menjelaskan, mengarahkan dan membimbing perawat, bagaimana strategi agar visi dan misi keperawatan dapat tercapai bersamaan dengan menumbuhkan keyakinan dalam diri perawat bahwa mereka dapat melakukannya.  Pemimpin memberikan motivasi yang menginspirasi perawat berkomitmen tinggi mengedepankan mutu dan kualitas sesuai standar dalam memberikan asuhan keperawatan.

    Khususnya bagi perawat SPK, motivasi ini dapat berupa sebuah motivasi untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi dengan harapan dapat meningkatkan profesionalisme, mengupgrade ilmu keperawatan dan meningkatkan jenjang karir. Bukan hanya itu, pemimpin transformasional juga merupakan seorang mentor yang menstimulus bawahannya tidak terkecuali perawat SPK dalam peningkatan kemampuan dan mengupdate bidang keilmuan di bidang keperawatan melalui bimbingan atau diikutkan pelatihan-pelatihan sesuai dengan kebutuhan pelayanan di rumah sakit. Bukan hanya itu, pemimpin tranformasional juga akan memberikan pemahaman terkait kualifikasi pendidikan minimal yang harus ditempuh perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan adalah Diploma keperawatan, sehingga bagi bawahannya yang masih berkualifikasi perawat lulusan SPK akan diarahkan, dimotivasi dan di beri dukungan untuk mengelanjutkkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Motivasi dan dukungan dapat berupa pemberian ijin tugas belajar, dukungan moral dan pemberian beasiswa.

    Peran pemimpin transformasional dalam memotivasi dan memberi dukungan untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi ini, sejalan dengan pengadaan Perkuliahan Jarak Jauh (PJJ) yang diatur dalam Permendikhub no. 108 tahun 2013 tentang penyenggaraan pendidikan jarak jauh. Pemimpin dapat lebih mudah memotivasi dan meyakinkan perawat SPK untuk melanjutkan pendidikan melalui PJJ ini, dikarenakan PJJ merupakan sebuah solusi yang sengaja disediakan Kemenkes dalam upaya pemerataan dan peningkatan kualifikasi tenaga kesehatan termasuk perawat.

    PJJ memungkinkan mahasiswa mengikuti pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan layanan kesehatan, dikarenakan PJJ menerapakan sistem pembelajaran elektronik yang merupakan sitem pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang dapat diakses di manapun dan kapanpun.

    Aplikasi kepemimpinan transformasional di bidang keperawatan yang melihat pentingnya kualifikasi perawat SPK perlu diupgrade dengan cara memotivasi dan memberi dukungan serta diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, diharapkan pada tahun 2020 semua perawat sudah berkualifikasi minimal pendidikan diploma tiga sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan, sehingga menjawab permintaan akan kebutuhan tenaga perawat yang profesional.


    Penulis :
    Ns. Fhandy Aldy Mandaty, S.Kep
    Ns. Henni Kusuma, S.kep.,M.Kep.Sp.KMB

    KEPMA Bima-Yogyakarta akan Hadirkan Jena Teke untuk Isi Kuliah Tamu di Jogja

    Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Agus Salim. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Muhammad Putra Ferryandi, Jena Teke (Putra Mahkota) Bima direncanakan akan mengisi Kuliah Tamu di Kethek Ogleng, Komplek Polri Gowok, Sleman, D.I. Yogyakarta Rabu (29/11/2017) pukul 15.00-17.00 WIB. Kegiatan yang tergolong insidental ini dilaksanakan oleh Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta.

    Ketua panitia pelaksana Ruslin, yang biasa di sapa Arlan ini mengungkapkan bahwa agenda kuliah tamu dibuat untuk mengetahui secara umum sejarah Kesultanan Bima, "Kami akan menggelar Kuliah Tamu dengan judul materi, Garis Besar Sejarah Kesultanan Bima dari Perspektif Jena Teke," papar Arlan di Yogyakarta, 27/11/2017.

    Lebih lanjut dia memaparkan, konsep acara adalah semi formal dan lebih cair. "Itulah kenapa kami mengadakannya di salah satu caffe di Jogja," tambahnya.

    Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta, Agus Salim mengutarakan hal senada. Menurutnya, kedatangan Putra Mahkota ke Jogja haruslah disambut dengan cara yang mencitrakan Jogja sebagai kota pendidikan. "Jogja adalah kota pendidikan. Kota budaya. Kenapa tidak kita menyambutnya dengan diskusi budaya yang langsung disampaikan putra mahkota. Saya rasa, warga Bima di Jogja cukup haus akan point-point sejarah dan budaya Bima," jelasnya.

    Untuk diketahui, kedatangan pria yang kesehariannya disapa Yandi tersebut dalam rangka mendaftarkan diri di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta untuk melanjutkan studi S2 di Kosentrasi Ketatanegaraan. Selain di Jogja, incarannya juga adalah Kampus UNPAD di Bandung. (Rizalul Fiqry / PEWARTAnews)

    LKBH Pandawa gelar Seminar Kebudayaan

    Suasana saat berlangsungnya Seminar. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Pandawa menyelenggarakan Seminar Kebudayaan pada hari Senin, 27/11/2017, berlangsung di Teatrikal Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Acara ini di gelar dalam rangka memperingati hari ulang tahun LKBH Pandawa yang ke-2, dengan mengangkat tema "Merawat Kebudayaan dalam Kebhinekaan untuk Mewujudkan Keadilan Sosial".

    Acara seminar menghadirkan pemateri yang sangat kompeten di bidangnya, yakni Wadir Bimas Polda DIY Gunawan Trijambodo, S.IK., penyuluh Hukum Madya Kanwil Kemenkum dan HAM DIY Sarjiwo, S.H., M.H., Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto, S.T., M.Si., dan Kabis Sejarah Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan DIY erlina Hidayah Sumardi, S.IP., M.M., serta untuk memperlancar berjalannya acara dimoderatori oleh Agus Bintoro, S.IP.

    Direktur LKBH Pandawa Sugiarto, S.H., M.H. mengatakan bahwasannya agenda ini dilaksanakan berangkat dari situasi dan fakta sosial mengenai toleransi atas keberagaman yang sebetulnya merupakan kekayaan budaya Indonesia. Namun hal ini nampaknya tidak disambut baik oleh seluruh masyarakat Indonesia. Keberagaman budaya di Indonesia merupakan sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. "Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, kebudayaan bisa dilihat dari keberagaman suku, bahasa, dan agama yang ada di bumi Indonesia," beber Sugiarto.

    Lebih jauh Sugiarto memandang bahwa hadirnya keberagaman tersebut tidak terlepas dari peran manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki sebuah ideologi. Sebuah pemikiran yang melandasi segala aktivitas, tingkah laku dan pola fikir yang akhirnya tercipta keharmonisan didalamnya.

    "Indonesia adalah Negara yang ideologinya berasaskan Pancasila, dan sebagai warga negara kita diharuskan untuk mengerti, menghayati, mengamalkan dan mengamankannya. Karena Pancasila merupakan landasan terkuat yang tersusun dari berbagai aspek dasar kehidupan," ucapnya.

    Lanjutnya, begitu pun dengan keberagaman budaya yang kita miliki merupakan keniscayaan yang ada di bumi Indonesia dengan masyarakat yang tersebar diberbagai pulau dengan berbagai budaya yang berbeda disetiap pulau tersebut, "Sehingga memberikan wujud keharusan kita untuk terus mempertahankan keberagaman budaya tersebut," harap Sugiarto.

    Beragam peserta yang hadir dalam kesempatan ini, ada mahasiswa, Organisasi Bantuan Hukum, Paguyuban Angklung Yogyakarta, Komunitas Masyarakat Arus Bawah, serta masyarakat umum.

    Acara berjalan lancar, dan terjadi interaksi yang alot antara peserta dan para pemateri. Kemeriahan dan kelancaran acara ini tidak terlepas dari kerjasama antara LKBH Pandawa, Yayasan Garda Pandawa, Paguyuban Angklung Yogyakarta, dan Lembaga Pers Mahasiswa ADVOKASIA Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (PEWARTAnews)

    Rindu Ibu

    Ibu…
    Merana hatiku ketika menjauh darimu
    Pilu hatiku ketika senyumanmu pudar
    Sedih hatiku ketika bayanganmu muncul
    Mengingatmu mengucurkan air mataku

    Ibu…
    Dirimulah pelita hidupku
    Dirimulah surga disaat aku susah
    Dirimulah penghapus sedih dan rinduku
    Dirimulah pemotivasi hidupku

    Ibu…
    Hari-hariku penuh dengan bayanganmu
    Masihkah ibu di sana terus memikirkanku
    Masihkah ibu di sana terus mendoakanku
    Masihkah ibu di sana terus merindukanku

    Ibu…
    Doaku selalu menyertaimu
    Mengharap kita masih bisa bercanda
    Mengharap kita masih bisa makan bersama
    Mengharap ada waktu untuk memelukmu

    Ibu…
    Nasehatmu terusku ingat jadi pegangan hidupku
    Berharaplah terus untuk kesuksesanku ibu
    Ibulah pelurus doa dan harapan
    Mimpiku terus berkobar untuk membahagiakanmu


    Karya: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Dosen STIE Muhammadiyah Berau / STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB /saharudin.yuas178@gmail.com

    PSIM Gelar Aksi Damai

    Sejumlah massa supported PSIM saat aksi damai. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Berawal dari ketidakpastian manajemen PSIM terhadap tuntutan suporter yang disampaikan sebelumnya, suporter PSIM kembali melakukan aksi damai menuntut kepastian, Minggu (26/11/2017)
    Suporter kembali menanyakan tentang kejelasab badan hukum PSIM sendiri yang masih belum menemui kejelasannya sampai saat ini. Tidak hanya tentang badan hukum yang tidak jelas, yang mengakibatkan tersendatnya pendanaan diinternal, menurut koordinator aksi.

    Salah satu massa aksi juga menyebut sangat banyak masalah yang dihadapi oleh PSIM seperti kepemilikan saham yang menurutnya suporter juga berhak dilibatkan dalam hal kepemilikan saham. Sebagai salah satu elemen penting sepakbola di Indonesia maupun di dunia, suporter adalah elemen yang setia kepada timnya dalam kondisi apapun yang dihadapi tim. Maka tidak salah bahwa salah satu ketertarikan dalam dunia sepakbola adalah solidaritas yang dimiliki oleh suporternya dan bahkan loyalitas.

    Bentuk aksi yang dilakukan oleh suporter ini adalah bagian dari rasa cinta yang teramat sangat kepada timnya yaitu PSIM. Tuntutan yang disuarakan merupakan harapan untuk dipenuhi agar PSIM menjadi kuat dan lebih baik lagi.

    Ada hal lain yang juga disorot oleh massa aksi yaitu persoalan munculnya calo tiket pada setiap pertandingan yang jumlahnya lebih tinggi dari pada tiket diloket-loket resmi, ini sudah menjadi rahasia umum yang juga bukan dirasakan oleh suporter akan tetapi masyarakat secara luas yang memcintai sepakbola dalam negeri.

    "Maka dari itu, harapan kami bahwa pengelolaan PSIM ditata lebih baik lagi. Diperlukan transparansi menyoal anggaran yang didapati oleh tim," ujar koordinator aksi.

    Dan tuntutan terakhir adalah kejelasan penyelesaian status pre order jersey salvo yang hingga saat ini belum diselesaikan pihak manajemen.

    Seluruh persoalan yang dihadapi harus segera diselesaikan, pengelolaan serta transparasi dana merupakan hal yang segera dilaksanakan dan diperbaiki oleh pihak manajemen. Aksi yang berakhir di lokasi PSIM Store dan tanpa ditemui oleh pihak manajemen tim. (Hilful Fudhul)

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website