Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Cerpen: "Sisa"

    PEWARTAnews.com – Di ujung senja hanya mengenangkan perca-perca kehidupan yang kini telah mengusang. Dia berjalan di akhir dan enggan lagi mengenggam dunia. Jika dihadapkan dengan seni politik yang pandai membalik telapak tangan dia pasti akan terkikik dan enggan berkomentar. Katanya masalah itu sudah pernah dimabukkan waktu dulu, kini semuanya tinggal tersisa kenangan di dalam benak yang melambung nista bersama penyesalan angan. Jikalau kau bertanya adakah sebekas cinta yang sangat indah?

    Dia pun akan menjawab, semuanya hanya menyisakan kisah dalam romantisme yang hadir ketika umurnya menyenja. Dia adalah sosok yang terakhir berdandan di kamar yang kini telah hampa menyisakan puing-puing cinta yang telah lama buta. Terlelap dalam rekahan sisa malam yang panjang. Namun akan terbangun tatkala malam menyisakan kenangan. Kau pasti heran dan bingung dengan dirinya. Aku pun begitu. Tapi biarlah waktu yang menjawabnya.

    Setiap waktu aku mendengar suara yang tak pernah dikehendaki oleh banyak orang. Kepalaku akan berputar-putar jika aku mendengarkan desahannya lagi. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap saat, aku dimabukkan oleh waktu. Suara itu bagaikan akan menerkam nyawaku di usia yang tak patut tuk meratapi hidup. Seharusnya aku berfoya-foya dengan dunia. Tapi entahlah masa diniku tak berakhir dengan senyuman. Heranku senja saja masih mampu menyembunyikan keindahan sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya dalam pelukan malam. Kenapa aku malah sering dihantui oleh suara-suara menyeramkan itu? Kenapa?

    Aku pasti hanya akan menjadi pengintip adegan menyeramkan di balik pintu dari celah engsel kunci pintu itu seperti waktu ini. Lihatlah, aku bagaikan tikus yang bersembunyi dari seekor kucing yang akan sigap memakanku hidup-hidup. Tubuhku menggigil ketakutan. Keringat dingin mengalir di keningku. Darah seolah mengguyur deras di otakku. Aku takut kejadian seperti waktu lalu terulang kembali. Aku tak akan sanggup melihatnya. Aku tidak ingin menoleh ke belakang. Tak akan! Sayangnya waktu tidak akan mengerti perasaanku.

    Seperti biasa dari balik pintu kuintip, seorang bertangan kekar dengan janggut panjang yang terurai menutupi jakunnya nan naik turun itu datang mengetuk rumahku, lalu duduk di ruang tak terlalu luas yang hanya dihuni empat kursi bambu dan satu meja bertaplak kain berendra bunga di sudut-sudutnya. Ruang yang berlampu neon lima watt tanpa sebuah lukisan dan figura foto di dindingnya yang berpoles cat sewarna awan itu dihuni dua manusia yang menurutku menyeramkan. Rambutnya gondrong, bibirnya kering mengepul-ngepulkan asap di udara.

    Tangan dan tubuh kekar serta kulihat dia juga lumayan gemuk. Postur tubuhnya laksana petinju yang kulihat di televisi bulan lalu, sebelum benda elektronik satu-satunya penghiburku itu dibawa pergi. Malam ini dia memakai jaket hitam berasal dari kulit buaya. Dalam khayalanku dia seperti musuhnya spiderman yang menyeramkan. Tak boleh didekati dan diganggu. Nanti kalau marah akan melakukan seperti itu.

    Praaannnggg………

    Yah setiap malam suara itu membuat telingaku ingin pecah. Satu jam aku melihat adegan action yang membuatku terkagum-kagum dan ingin sekali bertepuk tangan. Hore-hore! Jeritku dari balik pintu usai kulihat Ibu berhasil mengusir sosok menyeramkan itu. Aku langsung membuka pintu dan lari menghambur ke peluk Ibu. Jika lelaki itu sudah pergi aku tidak takut lagi. Aku yakin Ibu pun merasakan yang sama. Masalah suara tadi tak usah dipikirkan. Sttt... begitulah kata Ibu ketika aku ingin bertanya, 'kenapa lelaki itu sering sekali datang ke rumah kita Ibu?' beliau yang rambutnya hampir menguban dan malam ini dibalut kain batik Sidomuncul dengan warna cokelat itu akan meletakkan jemari telunjuknya di depan bibir mungilku, lalu berdesis. 'Sttt... lelaki itu jatuh cinta kepada Ibu, tapi Ibu tolak.'

    Jatuh cinta? Apakah itu jatuh cinta? Aku pun tak peduli. Yang jelas sekarang aku tidak gemetar karena dihantui rasa takut lagi. Aku berjingkrak-jingkrak mengelilingi ruang tamu dan berteriak. Hore-hore! Ibuku hebat. Mampu mengalahkan musuh spiderman. Itu adalah halunasi masa lalu. Lihatlah! Aku sekarang pun masih terpaku dan terus mengintip apa yang akan terjadi di luar ruangan itu. Sekali lagi, akaku tidak berani menoleh ke belakang. Aku takut. Aku merinding.

    Umurku beranjak dewasa. Tapi kelakuanku yang selalu mengintip tak pernah mau beranjak pergi. Bergetar tubuhku pun seolah akan abadi. Suara itu, suara yang semakin hari bertambah menyeramkan. Selalu hadir setiap malam ketika perutku diamuk lapar. Cacing-cacing sekarat seiring menggigilnya tubuhku dalam ketakutan. Beratus-ratus kali kejadian itu terulang. Sosok lelaki bertubuh kekar masuk ke dalam rumah membawa sebuah poster dan nama agung. Pakaiannya rapi dan berdasi. Mulutnya dipoles dengan rayuan layaknya Bang Napi. Jas hitam menampakkan kegagahan kekuasaannya. Apalagi ditambah lambang bendera merah putih di samping kanan pecisnya yang hitam.

    Kulihat dia duduk dengan sopan di depan Ibu yang tangannya keriput dan berhias wajah tirus mengkerut-kerut. Menyodorkan sebuah kertas bertuliskan rentetan huruf alvabet yang entah kutahu apa maknanya. Ibu tersenyum mengambil kertas itu. Membacanya sekilas dan mengangguk paham. Lalu lelaki yang tak berjenggot seperti waktu dulu itu mengambil selembar kertas yang dapat ditukarkan dengan beras.

    Aku tidak lagi berpakaian putih merah. Sekarang aku berpakaian biru putih di kelas menengah pertama. Baru saja masuk kemarin. Tentulah aku sangat berharap Ibu menerima uluran uang itu. Aku jadi bisa meminta Ibu membelikan sepeda baru untuk menggayuh langkah menuju sekolah.  Tahu sendiri jalan raya menuju sekolahanku rusak tapi belum dibenahi. Atau aku bisa makan enak malam ini. Yah malam ini, kawan. Hore! Aku akan makan enak. Tapi mendadak.

    Praaannng. Aku lihat meja digebrak oleh lelaki itu. Entahlah apa sebabnya. Ibu tertawa lebar. Membungkukkan badan dan berdiri di depan pintu untuk menatap kepergiannya yang berubah airmukanya. Semula orangnya ramah tamah, mendadak berwajah masam dan tak indah. Aku keluar dari kamar. Kuhampiri Ibuku yang berbalut kain daster hitam itu sementara rambutnya disanggul. 'Mengapa orang itu marah Ibu?' Lagi-lagi ibu meletakkan jari telunjuknya dan berdesis. 'Sttt...jangan keras-keras. Dia sedang patah hati karena Ibu tolak cintanya. Istirahatlah, malam sudah jelas.'

    'Tapi aku lapar, Ibu.' Protesku dengan irama yang melas.
    'Kita besok masak telur yang ada di dalam tanah.'
    'Bukankah telur itu dari ayam?'
    'Sttt...itu kejutan besok.' Kata Ibu.

    Aku yang sudah duduk di kelas menengah pertama seolah tak mampu ditipu lagi. Aku bukan anak kecil lagi. Ibu hanyalah memalingkan perhatianku agar aku tak merengek meminta jatah makan malam. Aku tahu yang dimaksud telur dari tanah itu sebuah batu. Menyebalkan. Entahlah. Sejelasnya aku tenang karena lelaki itu telah pergi.

    Hari selanjutnya Ibu kembali mengurungku di dalam kamar. Ada seorang bertubuh kurus kering dengan pakaian compang camping masuk ke dalam rumahku ini. Rumah yang berdinding ayaman bambu dan beratap tanah lempung yang dipanggang di atas api itu seolah membuat kakek-kakek terkesima dengan keindahan ruangannya. Bisa kuintip dari dalam kalau kakek itu tertunduk lesu. Berbisik di depan Ibu. Entah apa bisikannya aku pun tidak terlalu mendengar. Tapi udara malam membantuku menangkap satu makna. 'Adakah nasi untukku?' Lalu Ibu membalas. 'Nasinya sudah dimakan perut di atas sana,' kata Ibu lembut lalu melengkungkan senyuman manis. Maksud Ibu apa? Ah Ibu bagaikan seniman yang pintar mengotak-atik suatu hal. Atau malah tepatnya seorang penulis yang pandai bermain kata?

    Bukan! Ibu hanya pencuci baju tetangga yang sehari dibayar lima belas ribu untuk membeli beras. Aku mendengar suara kikikan aneh dari ruangan itu. Terkesan sedikit berbeda dari suara-suara sebelumnya tapi tetap saja aku takut. Entahlah apa sebabnya tubuhku terus bergetar dan aku dihunus perasaan takut yang merajam jantungku. Aku tidak ingin menoleh ke belakang. Sering keringat dingin mengalir sampai di punggungku. Seperti ada tanda-tanda buruk dari suara itu. Suara yang menyimpan kedengkian dan entahlah jelasnya apa kedengkian itu. Tampaknya tak perlu aku perpusingkan. Secepatnya aku ingin segera keluar dari kamar engap yang membuatku sesak napas ini. Aku tidak tahan. Ingin segera memeluk Ibu dan tidur di kamar Ibu.

    'Besok kita basmi hama desa kita itu ya? Kita bunuh dengan santet! Kau tahu? Dia kemarin masuk ke dalam bui. Tapi bisa keluar dan jalan-jalan ke surga.' Kata kakek-kakek itu.

    'Kita bunuh yang jelek seperti tikus, lalu kita abadikan yang baik agar desa kita makmur, dan aku bisa memberimu sepiring nasi untuk berpesta.' Kata Ibuku.

    'Aku setuju.' Ibu dan kakek-kakek itu mengaitkan jari kelingking.

    Untunglah kakek itu segera pergi. Aku lalu keluar dari kamar menghambur pelukan Ibu. Dan seperti biasa aku mengeluarkan  pertanyaan. 'Siapakah kakek-kakek itu? Apakah teman Ibu?'

    'Sttt...jangan berisik, itu adalah mantan Ibu yang sedang curhat.' Kata Ibu membuat kepalaku berdenyut-denyut. Entahlah aku acuh. Ibu menuntunku masuk ke dalam kamarnya dan aku tidur bersebelahan dengannya. Mendadak ada suatu beban yang ingin aku ceritakan kepada Ibu tentang kamar itu. Kamar yang bertahun-tahun menyekapku dengan kebodohan belaka dan membungkam mulutku agar tak bersuara. Enaknya orang dewasa bisa berkeluh kesah kepada siapa saja yang baru dikenal. Tapi aku? Bahkan untuk membuka dan menceritakan isi kamar itu belum juga berani. Setiap kali aku ingin memulai pembicaraan. Ibu meletakkan jemari telunjuknya di depan bibirnya.

    'Sttt...jangan berisik, nanti menganggu orang tidur di kamar sebelah itu.' Baiklah aku menghela pasrah. Aku tidur di atas kasur yang tak empuk. Berselimut sarung tak hangat dalam pelukan Ibu. Umurku memang sudah cukup lumayan besar. Tapi tak ada kamar tersisa yang ada di rumahku, hanya kamar sebelah dan kamar Ibu, jadi mau tak mau aku tidur saja bersama Ibuku. Seharusnya kamar sebelah itu adalah kamarku waktu dulu, tapi semenjak Bapak pulang malam bersama perempuan yang katanya saudaranya itu. Aku disuruh tidur bersama Ibuku untuk sementara waktu. Katanya takut mengganggu pesta dengan saudaranya itu yang akan meriah dalam balutan malam.

    Apa itu pesta? Aku juga belum terlalu paham. Sejelasnya wanita itu sangatlah cantik. Tapi...sttt jangan bilang-bilang yah? Ada satu rahasia tentang Bapak yang belum terbongkar. Kutahu perempuan itu adalah selingkuhan Bapak. Sttt..jangan bilang-bilang ya? Nanti Ibuku marah. Walau mungkin sebenarnya Ibu lebih tahu dari pada diriku. Tapi entahlah, sebagai anak yang belum dewasa mungkin aku harus diam dan tak berbuat apa-apa.

    Kali ini aku benar-benar dewasa. Kau tahu bagaimana dewasanya aku? Aku kuliah di sebuah universitas favorit di kotaku. Lihatlah kata cewek-cewek kampus aku cowok terindah yang pernah mereka lihat. Itu pujian yang menakjubkan. Duniaku sempurna. Kau tahu kenapa? Jangan bilang-bilang ya? Setiap malam aku bisa main bersama cewek-cewekku sampai puas loh. Hihihi... aku mencontoh perilaku Bapak. Semasa kecil aku sering melihat adegan itu di dalam kamar. Adegan yang tak layak untuk dibahas panjang lebar. Kau tahu apa itu bukan? Sttt..jangan keras-keras berbicaranya. Nanti ketahuan Ibu.

    Yang jelas itu adalah sensasi cinta yang menggairahkan dan tak akan pernah terlupakan. Sewaktu pulang ke kampung, aku bertanya kepada Ibu. 'Ibu pernahkah mendapatkan keindahan cinta dalam hidup?' Beliau membalas. 'Semuanya hanya tinggal menjadi kenang-kenangan yang menyisakan puing-puimg derita Nak. Kau tahu bukan Bapakmu dulu selingkuh?' Kata Ibu iba. Yah kasihan sekali nasib Ibu. Dia sudah bangun pagi untuk memasak makanan. Bersih-bersih rumah. Mengurusi diriku pergi ke sekolah. Malamnya seharusnya melayani Bapak di dalam kamar tempatku dikurung itu. Sayang malah Ibu digantikan tugasnya untuk menemui tamu-tamu Bapak yang tidak penting.

    Aku dengar ada demontrasi besar-besaran di Jakarta mengenai partai politik. Ketika pulang aku mengingat masalalu Ibu. Apakah ketika kecil juga ada kejadian seperti itu? Dengar-dengar juga ada suap-menyuap uang dalam politik. Aku bertanya apakah juga ada? 'Ketika kecil, adakah suap menyuap uang politik, Ibu?' Ibu menjawab. 'Tentunya ada, bukankah malam itu kamu mengintipnya?'

    Aku memutar klise masa lalu dalam benakku. Oh ya! Waktu itu. Benar sekali, tatkala seorang lelaki berjas mengulurkan beberapa lembar kertas.

    'Jadi sasarannya adalah orang lemah dan tak mampu yang mudah dibodohi. Sebelum itu masa muda Ibu dulu pernah mau menerima uang itu, tapi malam itu Ibu menolak. Tampaknya tak perlu Ibu indahkan dunia ini dengan permata. Kau tahu Nak? Umur Ibu tersisa kenangan saja.'

    Ah Ibu terlalu membuatku merinding. Tak enak sekali ucapan Ibu. Aku duduk di ruang tamu yang dulu pernah diduduki beberapa lelaki yang tak kukenal itu. Kualihkam topik Ibu yang mengerikan. Aku ingin meminta ijin kepada Ibu agar boleh membawa pulang satu perempuan ke dalam rumah. Kau tahu? Aku cukup dewasa saat ini. Dan aku sudah pantas menempati kamar yang dipakai Bapak berpesta dulu itu. Ibu tak mengijinkan. Aku marah! Kutampar Ibuku hingga sudut pipinya berlumuran darah. Aku kabur dari rumah. Di kota kulampiaskan emosiku ketika hasrat bercintaku menggebu.

    Bertahun-tahun aku tidak pulang ke rumah. Di kota aku semakin gila menikmati dunia. Tiap malam melayang-layang, esoknya otakku terbang dengan ramuan ganja. Ah sialnya hari ini aku ditangkap polisi. Perasaanku sungguhlah hancur berkeping-keping. Bukan karena ditahan dalam penjara. Melainkan karena Ibu yang kusuruh menebusku keluar malahan eloknya berkata, 'rasakan saja dengan syukur karena menikmati dunia.'

    Aku memekik 'bangsat' Ibu macam apa membiarkan anaknya di dalam penjara. Aku tak akan pernah mengampuni dosa Ibu. Biarlah kukubur dukaku dalam derita senja. Berbicara soal senja? Umur Ibuku mendekati senja. Kata tetangga yang kemarin menengokku di penjara. Bapakku telah lama insyaf. Kau tahu bukan? Sekarang dia sudah rajin pergi sembahyang. Syukurlah kalau begitu, setidaknya di usia senja ini Bapakku akan pergi dengan pahala. Aku tak mengira jika kabar menyedihkan pun akan datang ketika aku di penjara. Memang kabar Bapakku bagus. Tapi sebaliknya dengan Ibuku. Kau tahu? Ibuku menyisakan kenang-kenangan umurnya di waktu renta. Dia meningglkan aku. Di saat aku dipenjara dan di saat aku juga didiagnosis menderita penyakit HIV AIDS. Betapa menderitanya hati ini, apakah kau tahu? Dunia seolah rontok menimbunku hidup-hidup. Aku tersiksa saat ini. Aku menderita. Ingin aku memulai kehidupan baru yang lebih menyenangkan. Sayang aku tak lain berbeda dengan para penguasa berdasi biru yang menyisakan penyesalan bahagia dalam hidupnya.

    Hidup yang dulu pernah diukir Ibuku agar menjadi lebih mapan, malah menyisakan sebuah harapan palsu. Aku kuliah tak serius. Berfoya-foya menggunakan uang Ibu yang dihasilkan dari sisa-sisa tenaga rentanya. Bapak yang kuharap bisa mendidikku menjadi baik malah tak mampu mekukiskan kebaikan itu. Semuanya tinggallah sisa dari arti kehidupan yang sementara. Apakah kau masih bingung dengan perkataan sewaktu lelaki itu datang dan beliau bilang, menolak cintanya itu? Sampai sekarang pun aku belum tahu jawabannya yang pasti. Ibuku telah menyisakan hidupnya dalam bongkahan misteri kalimat-kalimat yang tak kupahami.

    Aku tersungkur dan rapuh dalam penjara ini. Aku menunggu sisa umurku yang sebentar lagi akan dicekik malaikat maut. Yang jelas jangan contoh hidupku ya? Kau tahu mengapa? Karena semuanya hanya akan menyisakan kenangan yang pahit. Tak elok sekali jika kau contoh perilakuku yang bejat. Biarlah sisa kesuraman hidupku ini tersimpan dalam memori ingatan senja. Kau tahu kapan senja punya ingatan? Entahlah aku juga bingung. Memikirkan nasib sisa hidupku yang dirundung penyakit mematikan ini saja aku sudah pusing tujuh keliling, apalagi memikirkan senja mempunyai memori. Entahlah! Buat apa aku perpusingkan. Satu hal yang kuminta dari kalian... sttt... jangan bilang-bilang sama cewekku ya kalau aku dipenjara. Baiklah kita mengikat janji. Selamat malam kawan. Semoga harimu indah.


    Di kamar, 02 Oktober 2014

    Karya: Titin Widyawati
    Si Gagis Suka Melamun

    Banjir Amarah Penguasa

    Ismail Aljihadi, S.H.I.
    Mengapa Ratusan, Ribuan dan Jutaan Rumah,
    Jalan serta gedung-gedung yang megah luluh lanta.
    Diguncang oleh puluhan badai ambisi manusia yang serakah.
    Manusia yang begitu lalai  dengan kehinaan yang mendunia
    Hingga runtuhan itu berkeping-keping berserakan di pingir jalan.

    Oooh sampai-sampai,
    Mengapa sawah, ladangku kini kering kerontang.
    Tanamanpun tiap hari makin menipis, tak terpandang  oleh mata.
    Kini anak-ku menangis kelaparan di siang hari, dan kehausan di malam hari kesunyian.

    Mata airpun tak tersisa walau setetes kehidupanku.
    Tertimbun oleh gelombang  badai amarahmu yang begitu tinggi.
    Amarahmu setinggi gunung himalaya, tapi serendah sampah di kakimu
    Tersisa oleh makanan dan minuman hati buasmu.

    Wah wah wah, ha ha ha.
    Katanya kau adalah pemimpinku, pelindungku, junjunganku.
    Hebatnya kau memimpin seluruh tanah kayaan hidup, melalui hati yang tak hidup.
    Kau Mengusai seluruh mata pencaharianku, tapi mata hatimu tertutup  amarahmu yang kau pimpin.
    Hingga kau sendiri terjatuh  dibawa arus  banjir amarahmu sendiri.


    Yogyakarta 30 Desember 2016

    Karya: Ismail Aljihadi, S.H.I.
    Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Salahsatu Pendiri Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta.

    Kelas Inspirasi Bima #3, Ini Dia "Surat Panggilan-nya"

    Kelas Inspirai Dana Mbojo. Foto: Min.
    PEWARTAnews.com – Saya menulis surat ini dengan keyakinan kita semua punya mimpi yang besar untuk masa depan Indonesia dan optimisme untuk bisa mewujudkannya.

    Hari ini sebagian dari kita telah mendapatkan kesempatan untuk berprofesi yang baik dan hidup lebih sejahtera. Hadirnya kaum profesional adalah salah satu bukti nyata bahwa pendidikan adalah pembuka pintu kesempatan; pendidikan adalah eskalator sosial ekonomi.

    Bila kita ambil jeda sebentar saja dari kesibukan untuk mengingat berapa banyak teman sekelas di SD dulu yang berhasil melewati pendidikan tinggi, barangkali jumlahnya bervariasi.

    Kami undang Anda yang sudah berkarier di dunia profesional untuk ambil cuti dan menjadi guru Sekolah Dasar selama satu hari.

    Di SD-SD yang telah ditentukan ini mungkin Anda akan menyaksikan bahwa hitungan jarak kilometernya memang amat dekat dengan tempat Anda bekerja, tapi hitungan jarak kesejahteraan, jarak pengetahuan, jarak wawasan terlihat amat jauh.

    Pada hari itu Anda tidak mengajar matematika, bahasa Indonesia atau Ilmu Pengetahuan Alam. Hari itu Anda menceritakan tentang profesi Anda. Anda hadir untuk menjadi sumber inspirasi. Kita menyebutnya sebagai Kelas Inspirasi.

    Anda hadir di sana untuk membangkitkan mimpi anak-anak di SD itu. Baju mereka bisa amat sederhana, rumah mereka bisa panas dan kumuh tapi ajaklah mereka untuk bermimpi, untuk punya cita-cita besar. Anda hadir di kelas itu menanamkan bibit mimpi mulia bagi saudara sebangsa. Sejauh apapun jarak kesejahteraannya, wawasannya, atau pengetahuannya mereka adalah amat dekat; mereka saudara kita, saudara sebangsa.

    Mimpi adalah cermin pengetahuan, cermin wawasan. Anda datanglah untuk membukakan pengetahuan dan wawasan lalu biarkan mimpi mereka terbang amat tinggi, sambil ingatkan mereka bahwa lewat kerja keras nan cerdas dan didampingi doa, mereka bisa meraih dan melampaui mimpi itu!

    Di kelas itu Anda akan menyaksikan mata berbinar, senyum lebar dan wajah ceria anak-anak itu. Mereka adalah wajah masa depan bangsa ini. Di ruang kelas itu Anda mulai mencicipi suasana Indonesia di masa depan. Potret masa depan Indonesia ada di ruang-ruang kelas.

    Di kelas itu, anak-anak akan melihat Anda dengan penuh semangat. Guru seharinya adalah orang baru. Izinkan mereka mengingat Anda, mungkin mereka pulang ke rumah, menyongsong orang tuanya sambil bertutur betapa inginnya dia bisa seperti guru-guru di Kelas Inspirasi, seperti Anda.

    Secara fisik kehadiran Anda cuma sehari, tapi bekasnya bisa langgeng. Ya, cerita Anda, pengetahuan, inspirasi, semangat dan pencerahan dari Anda bisa hadir secara amat permanen dalam hati dan mimpi mereka.

    Anda memang diharuskan mengambil cuti pada hari itu tapi kami tidak mengajak Anda untuk berkorban, kami menawarkan kepada Anda kehormatan untuk mewakili kita semua hadir di kelas-kelas membangkitkan mimpi.

    Menyumbang uang itu baik, memberikan buku itu bermanfaat, membangun fasilitas pendidikan itu mulia, tapi sesungguhnya iuran terbesar dan terpenting dalam pendidikan adalah kehadiran. Ya, hadirnya inspirator adalah Iuran terbesar dalam pendidikan. Kini lewat Kelas Inspirasi Anda bisa beri iuran terbesar itu yaitu hadir sebagai inspirator.

    Kami pun yakin sehari di ruang kelas itu akan memberikan wawasan lain, membuka perspektif baru tentang bangsa kita tercinta. Anda akan bertemu guru, kepala sekolah yang berdedikasi menyiapkan masa depan. Mereka pun akan belajar tentang Anda. Melalui Kelas Inspirasi itu semua akan belajar.

    Seselesainya jadi pengajar di Kelas Inspirasi Anda akan punya perasaan yang berbeda, Anda telah senyatanya ikut turun tangan mengubah wajah masa depan Indonesia.

    Lewat kelas Inspirasi ini Anda turun tangan, bergandeng tangan dengan para profesional di berbagai kota di Indonesia, semua sama-sama ikut melunasi janji kemerdekaan kita: mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Kami tunggu kehadiran Anda beserta pengalaman Anda di Kelas Inspirasi
    Salam hangat
    Anies Baswedan
    Kelas Inspirasi Bima #3
    Mari kau ditunggu Bit.ly/daftarkibima3
    Pendaftaran terakhir 28 Januari
    Pengumuman Relawan 1 Januari
    Briefing Relawan 5 Februari
    Sampai Jumpa, Selamat berbagi di Hari Inspirasi 11 Februari. [Min / PEWARTAnews]

    Mutiara di Wajah Bangkai

    Titin Widyawati.
    PEWARTAnews.com – Begitu menyapa lengkungan senyumnya akan meranggaskan kemuramam hati mawar yang layu. Gelegar ucapnya yang ramah berperingai teduh dalam menyambut kegersangan batin rakyatnya. Ia tegak seperti tiang bendera di pusar lapangan yang tak doyong diembus angin. Berwibawa dengan bekas baju seragam kantor yang selalu disetrika rapi. Jam tangan melingkari lengannya untuk menepuk kemalasannya agar tak terlambat hadir. Maka saat rakyat berbondong-bondong mengkambinghitamkan tampang malas di rumahnya usai jam kantor, ia akan turut berduka cita, meski tak ada nyawa yang melayang. Uang dihambur dalam tuang meminjamkan. Waktu menjelegar menggosipkannya penuh suka cita. Berwibawa. Ramah tamah. Baik hati. Muaranya suka menolong rakyat miskin.

    “Pak Lurah itu baik hati ya? Kemarin saya kehabisan uang untuk biaya sekolah putra saya, terpaksa saya datangi rumah Pak Lurah. Eh kau tahu?” seorang ibu-ibu renta berparas keriput, dengan rambut yang beberapanya tak lagi hitam, meluncurkan satu kalimat pujian. “Beliau meminjamkan uangnya dengan tulus dan tersenyum ramah. Itu indah sekali. Saya bangga menjadi rakyatnya.”

    “Beliau memang baik. Peduli dengan rakyat bawah." Janda tiga bulan yang baru saja ditinggal suaminya merantau ke alam baka berkomentar. Tubuhnya belum mengendor, meski sudah berputra dua, kembar pula. Mawar segar masih kalah merah dengan bibirnya, meski ia selalu ditetesi embun kesegaran. Rambutnya yang panjang sepunggung digulung dalam sanggul. Kedua telinganya memakai anting-anting. Tak ada gurat duka di wajahnya, meski waktu mengatakan kepergian suaminya belumlah lama.

    Dua gadis tak perawan itu berjalan beriringan menuju pasar kebanggaan kampung Sukajaya. Kedua tangan mereka menjinjing ranjang belanjaan. Beberapa kendaraan berjalan saling kebut di atas aspal. Mengiramai obrolan mereka yang melesat cepat seputar Pak Lurah. Sebut saja beliau Tohar.

    "Tapi saya dengar gosip istrinya Pak Lurah pelit." Janda itu memanasi suasana.

    "Ah, kau salah paham, Jeng. Tak mungkin Pak Lurah yang baik budiman berumahtangga dengan istri yang pelit. Mungkin kabar itu hanya isu belaka."

    "Aku sepakat denganmu, yang menggosipkan itu orang gila." Kata janda tersebut mantap. "Tapi, aku masih kurang yakin jika yang berkata adalah orang gila." Belum sampai beberapa detik berlalu, pendapatnya sudah berubah.

    ****

    Setiap pagi mekar di pegunungan Timur meninggalkan fajar,  usai salat subuh, Pak Lurah memoles aspal dengan telapaknya tanpa alas sendal. Lari kecil-kecil menghirup udara segar yang semalam ditimbun di balik dedaunan rimbun. Menyapa ibu-ibu yang sedang sibuk menggesek-gesek tanah dengan sapu lidinya. Melempar senyum kepada simbah-simbah yang esok hari menikmati kopi pahit di beranda rumah. Berteman siulan burung piaraan warga yang dikurung dalam sangkar. Mengelus bahu putra-putri desa yang sibuk mengangsur langkah menuju sekolahan. Begitulah kesetiaannya setiap pagi masih menguning dalam pelukan mega. Celoteh jago milik tetangga-tetangga pun ikut menjadi saksi pekerjaan Pak Lurah. Barulah saat menit bertengger pada angka tiga puluh, pukul lima, beliau akan kembali pulang, siap-siap ke kantor kelurahan. Begitulah pekerjaan beliau tanpa mengenal bosan. Senyumnya pun tak pernah usang.

    "Benar-benar teladan yang baik hati."
    "Kita patut mencontoh!"

    "Anak kita harus dididik menjadi generasi yang berwibawa dan ramah kepada rakyat seperti Pak Tohar." Tak heran, pujian sering menggaungkan suara merdu di sana sini tanpa jeda.

    Hari berlalu, minggu ditimbun waktu, bulan diselingkuhi masalalu, pergantian tahun pun selalu menunggu. Semula musim kemarau, lantas retakan sawah bertebaran di mana-mana. Senyum Pak Lurah tetap tak pernah gersang. Hingga bulan menjemput musim penghujan, bertambah basahlah bibir sang pujaan rakyat jelata.

    Bulan Mei rakyat diperpusingkan membakar bahan makanan. Gas elpiji nyaris punah. Harganya melonjak drastis. Rakyat mengadu penuh keluhan. Beliau tentu tak tinggal diam. Sebagai seseorang yang bijaksana tentulah harus segera menangani pokok permasalahan. Kebetulan Bu Lurah juga memiliki toko kelontong di pinggiran pasar. Beraneka macam jajanan tersedia di sana, tak lupa tabung gas tiga kilogram.

    "Kalau mau beli jangan lebih dari satu, sisakan kepada orang lain." Seru Bu Lurah bijaksana. Benarlah, tak boleh ada pembeli yang mengambil gas lebih dari satu. Harga yang diberikan cukup mencengangkan tenggorokan orang miskin. "Dua puluh dua ribu lima ratus, gas memang sedang mahal." Tutur Bu Lurah suatu ketika saat ada seseorang yang bertanya. Waktu memekik. 'Apakah Bu Lurah benar bijaksana?'

    "Boleh ditawar? Di toko sebelah hanya dua puluh ribu, Bu."

    "Tidak boleh." Harga sudah paten. Pembeli yang berpakaian tak rapi dengan sorot mata iba itu pun melenguh panjang. Ia usap keringat yang menyemut di dahinya, lantas beranjak dari toko Bu Lurah. Pulang membawa oleh-oleh kekesalan. Uang dikantong tinggal dua puluh ribuan. Anak dan suami belum makan seharian. Alasan masuk akal, gas elpiji sedang jarang.

    "Bagaimana ini? Dulu sewaktu kita masak pakai kayu, pemerintah menyuruh kita memakai kompor gas, giliran rakyat sudah memakai kompor gas, gasnya sulit, harganya mahal pula. Bu Lurah juga pelitnya minta ampun!" Suaranya berkoar di tengah jalan. Ibu-ibu yang setiap senja dibunuh lapar jika tak merumpi, menggerombol di teras rumah milik seorang tetangga. Mulut mereka mengadukan bias kekecewaan.

    "Benar kan kata saya dulu, Bu Lurah itu memang pelit, hanya Pak Lurah yang baik hati. Coba lihat saja, Pak Lurah setiap pagi mau berjalan keliling mengitari rumah-rumah penduduk desa Sukajaya, apakah kalian pernah melihat Bu Lurah melakukan hal itu? Senyum pun jarang!" janda beranak kembar itu berkata apa adanya.

    "Sudah-sudah! Hanya masalah sepele gas seperti ini kenapa harus diperpusing?" seorang ibu setengah renta yang sering memakai jilbab sebawah dada menengahi. "Lagi pula orang jualan itu kan wajar kalau mencari untung!"

    "Tapi gas di Bu Lurah itu mahal sekali, Bu!"

    Bu Lurah. Terkenal pelit, juga penjunjung prestise. Auranya di depan rakyat bertolak belakang dari Pak Lurah. Wajahnya putih berbedak impor. Gelang emasnya melingkar bergram-gram. Pakaiannya selalu ber-merk. Tasnya mengkilat-kilat menampakkan harga ratusan ribuan. Senyumnya jarang diumbar. Parasnya selalu menampakkan raut marah dan tegang. Pekerjaan sehari-hari rapat entah macam apa. Seusai siang, loncat ke toko kelontong yang kebetulan tak jauh dari rumahnya. Karyawannya digaji sebulan lima ratus ribu, meski sudah ikut bertahun-tahun menjadi babu, lembaran gaji tetaplah sama. Membuat rona Suminah, si karyawannya itu berwajah masam di muka publik.

    Pernah suatu ketika datang gelandangan ingin meminta sebotol minuman mineral. Mulut Bu Lurah langsung monyong lima senti. Gincunya yang melebihi merahnya darah pun terlihat amat menjijikkan diadu dengan air liur. "Beri satu, lalu suruh dia pergi, jangan biarkan dia meminta lagi!" pesannya kepada Suminah. Pembantunya pun taat dan tunduk.

    "Lain kali suruh bayar kalau masih kembali!"

    'Astaghfirullah, pelit sekali bosku ini.' Gumam Suminah dari dalam hati.

    ****

    Kebiruan langit mulai pudar. Merah-merah menjilat kegelapan. Awan menggulung siang. Ratap penduduk desa Sukajaya belum berhenti untuk pulang. Mereka mencari-cari gas elpiji untuk menyambung kehidupan. Toko Bu Lurah kosong, di toko-toko pinggiran jalan juga melompong. Akhirnya rela mereka tarik gas motor untuk menempuh perjalanan berkilo-kilo meter demi mendapatkan gas elpiji.

    "Ya Tuhan, untuk mencari gas saja susahnya minta ampun! Kenapa rakyat bawah selalu menderita?" sebuah pertanyaan yang tak mampu dijawab oleh siapa pun.

    Sampai suatu ketika, datang bantuan dari pemerintah. Mobil truk berisi puluhan tabung gas melon terparkir di depan gedung balai desa. Rakyat berbondong-bondong mengantre di sana. Gas tersebut didapat dengan harga enam belas ribu rupiah. Bu Lurah mengetahui kabar tersebut. Secepat mungkin beliau gayuh ponsel nokia tak canggihnya dari saku baju. Mencari kontak suami tercintanya.

    "Pak, ada bantuan gas elpiji dari pemerintah di balai desa. Benarkah begitu?" suara itu merayap dalam kecamuk siang yang membakar tenaga kuli bangunan. Dari kantor kelurahan, Pak Lurah menyahut obrolan.

    "Iya, Bu. Tapi boleh ambil gasnya dengan syarat satu tabung membawa satu KTP." Turur Pak Lurah lugas.

    "Yasudah, tunggu di sana." Bu Lurah memutus hubungan.

    Bu Lurah keluar dari toko. Bergegas pulang untuk mengambil KTP keluarga. Tak hanya itu, beliau bahkan meminjam puluhan KTP milik tetangga juga sanak saudara. Warga saling berkerut kening. Ada apakah gerangan? Pertanyaan terlontar tanpa kejelesan yang berarti. Suminah diutus mengusung tabung gas kosong dari toko sampai kelurahan. Berjalan kurang lebih 100 meter bolak-balik membawa beban tiga kilogram, kanan kiri, total enam kilogram. Keringat merembas masuk melalui celah pori kerudung tipisnya yang  laksana saringan tahu. Bibirnya bergumal kesal sementara wajahnya dipasang muram.

    "Apa-apaan ini? Nyuruh bawa tabung gas banyak sekali? Gas bantuan dari pemerintah itu kan diperuntukkan bagi orang miskin, kenapa Bu Lurah dan Pak Lurah sepakat membelinya untuk dijual kembali?" Protesnya kepada angin lalu. "Ternyata Pak Lurah yang baik hati itu hanya manis di depan publik, hatinya busuk seperti bangkai!" Celoteh Suminah saat mendapati Pak Lurah mengambil puluhan KTP penduduk dari kantor kelurahan. Ia memberikannya kepada petugas elpiji mengatasnamakan warga desa Sukajaya.

    “Hanya untuk orang miskin!” teriaknya seraya membanting tabung gas elpiji di belakang kerumunan warga yang mengantre. Harap-harap telinga Pak Lurah tidak tuli lantas sadar di kemudian hari. "Cuih! Mutiara di wajah bangkai! Di depan manis, ternyata berhati pahit!" umpatnya terakhir kali seraya bergegas kembali ke toko kelontong Bu Lurah. Gas-gas yang sudah diisi diangkut menggunakan mobil pick up. Lantas dijual dengan harga dua puluh dua ribu rupiah kepada warga desa. Suminah semakin muntab. Jika bukan karena terpaksa untuk mempertahankan pekerjaan di desanya yang paling dekat dari rumah, jelaslah ia sudah dari dulu kabur melenyapkan diri menjadi babu Bu Lurah.

    “Jangan bilang kalau gasnya dari bantuan pemerintah, jika ada orang yang bertanya ambil dari mana kenapa bisa banyak sekali, jawab saja 'tidak tahu'.” Pesan Bu Lurah kepada Suminah. Jelaslah ia tahu jika sampai warga mendengar berita penimbunan gas oleh Pak Lurah dan Bu Lurah, nama baik Pak Lurah akan menjadi kayu rapuh yang dimangsa rayap. Musnahlah sudah.

    Tapi jauh di belakang jiwa Bu Lurah sana.

    “Oh Brengsek! Kemarin saya mau ambil gas bantuan malah KTP saya dipinjam oleh Bu Lurah, sialnya sekarang saya harus beli di toko kelontong Bu Lurah.” Janda beranak kembar itu mengadu kepada tetangga-tetangga. “Tak ada beda Pak Lurah dengan Bu Lurah, rupanya mereka berdua sepakat.”

    Selesai, Jombor 14 Juni 2015.


    Karya: Titin Widyawati
    Si Gagis Suka Melamun

    Notaris dalam Jeratan Pidana!

    Rudi Krisyantho Lema Killa, S.H.
    PEWARTAnews.com – Didalam ketentuan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris menyatakan bahwa Notaris adalah  Pejabat Umum yang berwenang untuk membuat akta-akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud didalam undang-undang Jabatan Notaris dan undang-undang lainnya. Didalam pembuatan akta seperti yang kita ketahui bersama bahwa pembuatan akta notaris menurut doktrin terdiri dari 2 (dua) bentuk akta yakni relas akta atau akta pejabat atau disebut ambtelijke akta dan akta para pihak atau Partij akta. Hal mana konsekuensi hukum akibat dibuatkanya akta tesebut berbeda yakni pertanggung jawaban hukum melekat pada Notaris manakala Notaris membuat ambtelijke akta atau relas dan pertanggung jawaban melekat pada para pihak jika dibuatkan partij akta.

    Ketentuan lebih lanjut didalam Undang-Undang Jabatan Notaris tidak mengatur sanksi pidana berkaitan dengan tugas jabatan Notaris. Untuk itu, ketika terjadi tindak pidana berkaitan dengan jabatan Notaris maka yang dijadikan rujukan adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan hukum pidana materiil lainnya. Tidak dipungkiri bahwa Notaris didalam praktek sering dijadikan sebagai tersangka di pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara dengan tuduhan bahwa Notaris yang melakukan (Pleger), menyuruh melakukan (Doenpleger), turut serta melakukan (Medeplegen), penganjur (Uitlokker), pembantuan (Medeplichtige) suatu tindak pidana didalam akta yang dibuatkannya (Teguh Prasetyo, 2010: 2006-2010). Dengan demikian maka sebenarnya Notaris tidak hanya bertanggung jawab secara formil terhadap akta yang dibuatnya tetapi lebih jauh daripada itu dapat  dimintai pertanggungjawaban hukum terhadap materi muatan didalam akta yang dibuatnya. Berangkat dari pemahaman sederhana diatas, maka penting untuk melakukan telaan berkaitan dengan kecenderungan Notaris dipidanakan dengan kasus Pemalsuan Surat berdasarkan KUHP yakni dalam ketentuan Pasal  236 ayat (1) dan Memasukan Keterangan Palsu dalam Akta Autentik Pasal 266 ayat (1) dan, (2) dikaitkan dengan ketentuan Pasal 55 tentang Penyertaaan. Pertanyaannya adalah  mungkinkah seorang Notaris yang membuat Akta Para Pihak (Partij Akta) dapat di jatuhi hukuman pidana?

    Notaris dan Pemalsuan Akta?
    Pemalsuan Surat diatur didalam ketentuan Pasal 263  ayat (1), yakni surat (Akta) merupakan buah pikir atau pikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan atau rangkaian kata-kata atau tanda-tanda tertentu yang mempunyai makna, unsur pemalsuannya harus memenuhi keterangan yang isinya tidak benar dan keterangannya benar tetapi pernyataan yang menandatanganinya tidak benar. Jika dilihat obyeknya,yaitu: (1) surat yang menimbulkan hak, surat yang menimbulkan perikatan, surat yang menimbulkan pembebasan hutang, dan surat yang dipergunakan sebagai bukti tentang sesuatu hal. Terhadap pemakaian surat yang dapat menimbulkan kerugian diancam dengan ancaman pidana paling lama 6 (enam) tahun. Selanjutnya, didalam ketentuan Pasal 266 ayat (1) KUHP, berbunyi “Barang siapa menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik mengenai sesuatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta itu, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akta itu seolah-olah keterangannya sesuai dengan kebenaran, jika pemakaian itu dapat menimbulkan kerugian diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.” Selanjutnya, didalam ketentuan Pasal 55 ayat (1) ke-1  KUHP, berbunyi, Dipidana sebagai pelaku tindak pidana mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan. Maka dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur  dari keterkaitan pasal-pasal diatas antara lain, yaitu: (a) Barang siapa, (b) Menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam suatu akta autentik; (c) Dengan maksud memakai atau menyuruh orang lain memakai akta itu seolah-olah    keterangan sesuai dengan kebenaran; (d) Pelakunya: Mereka yang melakukan;, Mereka yang menyuruh melakukan, Mereka yang turut melakukan.

    Berdasarkan ketentuan Pasal 263 ayat (1), Pasal 266 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, kemudian jika dikaitkan dengan Notaris yang terjerat hukuman berdasarkan Pasal 266 ayat (1) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, dapat dikemukakan, “barangsiapa” sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 266 ayat (1) KUHP dan pelaku tindak pidana sebagaimana yang disebut dalam Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tersebut adalah  mereka yang menyuruh melakukan dalam hal ini adalah para pihak, bukan Notaris. Selanjutnya, Ketentuan Pasal 266 ayat (1) KUHP, yang menjadi subyek (pelaku), yaitu “yang menyuruh memasukkan keterangan palsu”, dan kata “menyuruh” merupakan bagian yang sangat penting (bestanddeel) dari Pasal 266 ayat (1) KUHP. Pembuat akte dalam hal ini Notaris, ia (notaris) bukan sebagai subyek (pelaku) dalam Pasal 266 ayat (1) KUHP, akan tetapi para pihak pembuat akta autentik tersebutlah yang sebagai subyek (pelaku), karena merekalah yang sebagai menyuruh memasukkan keterangan palsu.

    Pejabat notaris tidak dapat dinyatakan sebagai pelaku (menyuruh melakukan) menurut Pasal 266 ayat (1) KUHP, akan tetapi ia hanyalah “orang yang disuruh melakukan”. Kemudian, berdasarkan Pasal 266 ayat (1) KUHP, tindakan subjek (pelaku) yaitu menyuruh memasukkan suatu keterangan palsu ke dalam suatu akta autentik, sehingga kata “menyuruh” dalam Pasal 266 ayat (1) KUHP ditafsirkan bahwa kehendak itu hanya ada pada si penyuruh (pelaku/subjek atau para pihak), sedangkan pada yang disuruh tidak terdapat kehendak untuk memasukkan keterangan palsu dan seterusnya.

    Penutup
    Berdasarkan konstruksi hukum Kenotariatan, tugas jabatan Notaris yaitu “memformulasikan keinginan/tindakan para penghadap ke dalam bentuk akta autentik, dengan demikian maka Notaris fungsinya hanya mencatat/menuliskan sesuai ketentuan hukum apa yang dikehendaki dan dikemukakan oleh para pihak yang menghadap notaris tersebut. Notaris hanya memiliki tanggung jawab moril dengan prinsip kehati-hatian untuk menyelidiki secara materil  yang dikemukakan oleh penghadap di hadapan notaris tersebut”;

    Dengan demikian, perbuatan notaris dalam melaksanakan kewenangan membuat akta sebagai perbuatan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 266 ayat (1) KUHP, tanpa memperhatikan aturan hukum yang berkaitan dengan tata cara pembuatan akta, menunjukkan telah terjadi kesalahanpahaman atau salah menafsirkan tentang kedudukan notaris dan juga akta notaris adalah sebagai alat bukti dalam Hukum Perdata.

    Keterangan atau pernyataan dan keinginan para pihak yang diutarakan dihadapan notaris merupakan bahan dasar bagi notaris untuk membuat akta sesuai dengan keinginan para pihak yang menghadap notaris, tanpa ada keterangan atau pernyataan dan keinginan dari para pihak tidak mungkin notaris untuk membuat akta. Kalaupun ada pernyataan atau keterangan yang diduga palsu dicantumkan dimasukkan ke dalam akta autentik, tidak menyebabkan akta tersebut palsu, serta tidak berarti notaris memasukkan atau mencantumkan keterangan palsu ke dalam akta notaris. Secara materil kepalsuan atas hal tersebut merupakan tanggungjawab para pihak yang bersangkutan, dan tindakan hukum yang harus dilakukan adalah membatalkan akta yang bersangkutan melalui gugatan perdata.

    Daftar Pustaka:
    Undang-Undang No 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris
    Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
    Teguh Prasetyo, 2010, Hukum Pidana edisi revisi, PT. Grafindo Persada, Jakarta.


    Penulis: Rudi Krisyantho Lema Killa, S.H.
    Mahasiswa Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta


    Cerpen: “Anakku!”

    Titin Widyawati.
    PEWARTAnews.com – “Iya sayang, sabar ya? Saya baru bisa tiba di rumah paling tidak jam dua pagi hari ini,” kata suamiku di balik gagang telepon dengan suara parau sambil menahan isak tangis. Dia baru akan mudik hari ini. Mas Aziz. Itulah suamiku yang bekerja di Cikampek sebagai sekretaris perusahaan tekstil.

    “Aku tidak kuat. Ini sakit.” Balasku tak kalah dengan airmata.

    “Berdoalah. Saya akan cepat-cepat pulang. Nanti sampai Kutoarjo saya akan mencari taksi saja. Saya tidak tahu kalau akan hari ini. Saya pikir masih sebulan lagi, dan saya akan pulang minggu besok.”

    “Cepatlah! Aku tidak kuat, Mas." Kataku terakhir dan aku matikan hapenya. Kuletakkan di atas meja bertaplak putih itu. Aku menatap luar rumah kosong sambil menangis.

    Jam sembilan pagi. 13 Oktober 2014.  Perasaanku kacau. Napasku sesak. Perutku rasanya keram. Sudah  delapan kali dari sejak subuh tadi aku mules dan rasanya tidak nikmat. Keringat dingin terus mengalir dan menyemut di keningku. Suamiku tak ada di rumah, dia sedang menghabiskan waktu dalam kursi kereta, lengkap dengan perasaan khawatirnya kepadaku. Perjalanan dari Cikampek menuju Stasion Kutoarjo cukuplah dibilang menghabiskan setengah hari sendiri. Begitu tega waktu membiarkanku sendirian seperti ini, dalam keadaan sakit dan dirajam ketakutan yang luar biasa. Bagaimana jika ada hal buruk yang terjadi kepadaku? Tatkala detik-detik kebahagiaan itu akan datang, kenapa harus pula disambut oleh keresahan batin? Jantungku berdebar-debar tak menentu. Rasa khawatir jika nyawa yang selama ini menjadi harapan keluarga tak bisa kuselamatkan. Ah terlalu pesimis sekali otakku.

    Sepertinya tak tepat untuk berpikir protes.  Kedua orangtuaku sedang dalam perjalanan dari Semarang menuju Magelang. Aku harap mereka segera tiba di rumah. Aku orang sederhana, jadi tak pernah terpikirkan olehku bagaimana rasanya melahirkan di rumah sakit. Aku punya JAMPERSAL tapi entah mengapa kurang puas aku jika harus berjuang dengan menggunakan bantuan tersebut. Kata orang-orang pelayanannya terkadang ada yang kurang memuaskan. Jadi selama ini aku mati-matian berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah supaya anakku lahir dengan normal di desa. Bersaksikan kicauan burung nan berendar di udara, dan kala matahari terbit di ufuk Timur. Di saat langit bertaburan dengan warna keemasan nan jelia, bersaksikan gumpalan awan yang indahnya memelok retina. Kala lenggokan dedaunan di ladang-ladang saling bersentuhan dengan okestra alam. Atau pun saat senja beranjak dan kala malam merangkak sementara langit bertaburan manik-manik nan berwana-warni.  Itu adalah harapanku, dan aku akan menamainya Mentari Reifani jika berjenis kelamin perempuan, atau Fatan Purnama jika berjenis lelaki.

    Kali ini pukul 10:00 WIB. Tak kuat aku menahannya. Rasanya ingin mengejan tapi entahlah sebabnya. Terasa ada benda berat yang mendorong perutku agar memuntahkan isinya dari bawah. Perasaanku sudah tidak enak. Aku berjalan pelan-pelan menuju kamarku. Kubantali kepalaku dengan tumpukan tiga bantal. Aku terlentang memandang langit-langit kamar. Seprai sewarna langit menemaniku. Bolam lampu yang berpendar di atas wajahku menerangi kegelisahanku. Ruangan yang berukuran tujuh kali delapan meter itu seolah-olah akan menjadi tempat buah hatiku lahir. Tinggal menunggu beberapa jam. Atau malah hanya beberapa menit? Ya Tuhan. Badanku tidak kuat menahan rasa sakit ini.

    Kenapa di saat seperti ini aku harus sendiri? Aku tak sempat mengambil ponselku yang ada di ruang tamu, tubuhku sudah terlalu lemah dan letih. Seharusnya aku tak terlalu bodoh! Kuhubungi keluargaku yang ada di Magelang. Tapi inilah watakku. Selalu tidak suka merepotkan orang lain hingga akhirnya aku tersiksa sendiri. Konyol! Dan kenapa waktu juga tidak bisa mengerti perasaanku? Seharusnya ia sadar dan membisikkan di telinga saudaraku. Katakanlah kepada mereka bahwa aku, 'Widya' akan segera melahirkan. Panggilkan aku dukun bayi. Cepat! Segera. Ternyata waktu memang tidak punya hati. Kau tak punya perasaan. Kau jahat! Terlalu gila aku memikirkan semua penderitaan ini.

    Seharusnya aku tidak berpikiran seperti itu. Tapi benarkah ini rasanya akan melahirkan? Sakit. Sakiiittt sekali. Perutku sakit. Punggungku sakit seperti mau robek dan rontok. Panas, pegal, seperti ditendang-tendang. Belum bagian bawah perutku yang nyerinya minta ampun. Seorang wanita menstruasi saja kadang sudah berkeluh kesah merasakan sakit yang menghajar punggung dan perutnya. Cobalah andaikan mereka tahu bagaimana rasanya saat ingin melahirkan. Bukan hanya kepada mereka para wanita muda, tapi pria juga. Apakah mereka tetap masih akan tega menyia-nyiakan wanita? Tentulah jika aku menjadi mereka aku akan sangat memuliakan wanita.  Patutnya aku bersyukur karena tercipta menjadi wanita. Rasanya ada sesal saat aku mengingat paras keriput yang kini berusia senja. Apakah begini perjuangan menjadi seorang ibu? Bertaruh sisa oksigen di dunia. Bertaruh tenaga sekuat-kuatnya. Bahkan tak sempat memikirkan hal indah yang dulu pernah dilakukan dengan suami tercinta. Semuanya lebur oleh besarnya perjuangan tatkala melahirkan. Dasyatnya perjuangan tak sebanding tatkala mendengar raungan jeritannya.

    Bukan lagi airmata yang akan keluar, tapi bayang-bayang tanah makam. Dan itulah yang aku alami. Rasa sakit yang mengamuk dasyat tubuhku tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Aku ingat dahulu, kala itu aku sering berteriak kasar kepada ibu. Aku ingat dulu kala aku tidak taat kepada perintah ibu. Aku ingat dulu kala ibu sering mencucikan baju-bajuku. Memasakkan untukku. Menyuapiku tatkala sakit. Ibu begadang sampai tengah malam menjagaku. Jika aku merintih kesakitan dan aku sampai menangis, ibu kecup keningku dan kurasakan bulirnya mengalir deras di dahiku.

    Tatkala aku menangis dan bersedih. Ibu yang menjadi sandaran kesedihanku. Jika aku lelah, ibu yang memijiti tubuhku. Jika ayah tidak ada dan ibu kehabisan uang untuk membiyayai sekolahku. Ibu mencari hutang ke tetangga-tetangga tanpa kenal rasa malu. Ketika ada makanan lezat aku yang didahulukan. Ibu selalu makan terakhir. Jika ibu lelah, ibu hanya tiduran di kursi tamu namun sorenya kembali memasak makan malam untukku. Ayahku kerja jauh, uang kiriman habis. Ibu bekerja bertaruh tenaga di ladang orang, itu pun juga untukku. Ibu hanya lelah menghidupiku. Tapi ibu tetap sayang kepadaku. Tak pernah ia pikirkan kondisi fisiknya. Sementara aku hanya angkuh dengan egoku.

    Katanya, perjuangan ibu melahirkanku sangat besar, jadi ibu tidak akan pernah menyia-nyiakan diriku. Ibu akan selalu berjuang agar mampu membuatku tersenyum. Ibu tak akan pernah rela jika buah hati yang keluar dati rahimnya menangis dan bersedih hati. Jiwa ibu pun akan terluka. Itulah sebabnya kasih sayang seorang ibu dan ayah jauh lebih besar ibu ketimbang ayah. Sosok ibu akan lebih mengerti perasaan buah hatinya ketimbang ayah yang tidak pernah merasakan betapa beratnya perjuangan melahirkan. Jadilah wajar jika di dunia ini ibulah yang patut dihormati pertama kali. Kau tentunya ingat bukan perkataan Rasulullah SAW ketika ada seorang sahabat yang bertanya, 'siapakah orang yang pantas dihormati di dunia ini?' Lantas beliau menjawab. 'Ibu.' Lalu? 'Ibu' lalu? 'Ibu' lalu? 'Ayah'. Barulah ayah diucap setelah kata ibu keluar sebanyak tiga kali.

    Dan sekarang. Detik ini. Pada jantung waktu yang berputar di titik 11:03 WIB, di ruang yang luas dan hanya dihuni sourvenir kamar yang mati, almari, meja rias, rak buku karena aku suka membaca, serta selembar permadani merah di lantai yang sering kugunakan untuk lesehan waktu lalu itu, seolah ikut merasakan kemalangan nasibku dalam memperjuangkan satu nyawa dalam rahimku.  Tanpa aku jelaskan tentunya kalian tahu, lubang sekecil itu  harus dilewati bayi mungil yang lumayan besar. Tepat sekali jika ibu-ibu melahirkan berkeluh seperti dihabisi nyawanya dan seolah selangkangannya akan robek. Dan itu luar biasa sakitnya.

    Aku merasakan ada cairan yang keluar. Rasanya seperti mau pecah saja perutku. Air ketubanku pecah. Apakah itu benar? Jadi sungguhkah aku akan melahirkan detik ini? Rasanya bertambah sakit parah. Persetan. Aku tidak peduli dengan suamiku lagi. Aku juga tidak memikirkan ibuku yang dalam perjalanan. Kandunganku berumur delapan bulan. Tapi aku sudah yakin kalau anakku akan lahir detik-detik ini. Kaki kubuka lebar-lebar. Kuberi ruang agar anakku mampu keluar dengan selamat.

    Di ruangan itu. Di atas ranjang yang dilapisi seprai biru. Aku menjerit lantang dan mengejan kuat-kuat. Sebentar lagi aku akan menjadi ibu. Tentulah aku harus berjuang dan bertahan dengan rasa sakit yang kian kuat menjalar punggungku. Tubuhku serasa mau hancur dan remuk. Pegal! Nyeri! Ngilu! Seperti dipukuli rotan! Ditendang kerbau! Didorong oleh tangan preman dan dibenturkan ke dinding dengan tekanan kuat, atau punggungku sedang ditimpa batu besar dari gunung Sumbing. Sakit. Satu kata yang paling tepat untuk melukiskan betapa menderitanya aku saat ini. Akan aku ingat dan aku abadikan. 13 Oktober 2014.

    Aku sudah mengejan tujuh kali tapi anakku tak keluar-keluar. Lelah ya Allah. Rasanya tubuhku lemas sekali. Tak ada pula yang menemani. Aku tidak boleh menyerah. Anakku sudah tak sabar ingin melihat indahnya dunia. Aku haruslah berjuang dan tak boleh mengenal kata putus asa. Kuremas erat-erat bantal di samping kepalaku. Aku mengejan keras sekali sambil berteriak.

    “Ibuuuuuu......” tetap belum ada tanda-tanda akan keluar. Rasanya sakit dan semakin bertambah sakit saja. Aku lemas. Aku tidak kuat. Entah mengapa mendadak aku seperti patung yang tak mampu bergerak apa-apa. Aku mengkangkang. Tanganku mencengkeram ujung bantal. Tapi sama sekali tak ada tenaga yang aku keluarkan.

    “Anakku, maafkan ibu. Ibu lelah.” Pekikku sambil mengeluarkan airmata. Aku mengharap suamiku ada di sisiku untuk memberiku motivasi. Aku juga ingin ibuku ada di sampingku. Tolonglah kecup keningku seperti dulu. Ibu datanglah untukku. Aku tidak sanggup ibu. Ibu maafkan aku karena dulu aku selalu menyia-nyiakanmu. Aku tahu ibu sangat menderita ketika mengeluarkanku. Dan kini aku baru menyadarinya. Apakah aku akan sekuat ibu? Ya Allah. Keringat membutir semakin deras di tubuhku. Rambutku saja sampai basah kuyup bermandikan keringat. Aku tidak bisa apa-apa sampai pukul 15:00 WIB. Yang kubisa hanya menangis dan berdoa dalam hati. Mengejan pun aku tak kuat. Aku pasrah. Perutku semakin serasa ditendang-tendang tidak nyaman. Punggungku mungkin benar-benar sudah robek. Apakah aku masih hidup? Ya! Antara hidup dan mati. Bukankah begitu perjuangan seorang ibu yang melahirkan?

    Aku bingung. Harus berbuat apakah diriku demi anakku. Aku ingat-ingat perjuangan ibu yang tulus menyayangiku. Semakin deras aku menangis. Entah mengapa mendadak bibirku bergerak dan melantunkan syair. “Kasih ibu, kepada beta, terterhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. Bagaikan surya menyinari dunia.” Begitu berkali-kali sampai akhirnya aku mempunyai semangat baru untuk melahirkan.

    “Ibuuu....” aku berteriak dan mencengkeram erat-erat seprai biruku. Letaknya pun menjadi acak-acakan. Ranjangku tak rapi lagi. Aku merasakan seperti mau buang air besar. Ada beban yang keluar dari liang vaginaku. Wahai dunia! Anakku keluar! Anakku keluar. Betapa bahagianya aku. Ya Allah terima kasih. Aku kembali mengejan.

    “Demi anakku!” jeritku. Lalu mengejan lagi.
    “Anakku!”

    Kembali aku mengejan dan tak kupedulikan rasa sakit yang menghajar tubuku. “Demi anakku!”

    "Anakku! Hidup!" kataku terus menerus.
    "Anakku! Fatan!"
    "Anakku, Mentari."

    "Demi anakkkuuuuuuuuuuuuuuuuuuu......" aku menjerit keras-keras dan seketika itu semua tubuh bayiku keluar. Lega. Lemah. Senang. Puas. Bangga karena bisa melahirkan sendiri. Menjadi adonan perasaan yang sangat indah. Kubanting kepalaku di bantal. Dua menit sebelum akhirnya aku kumpulkan tenaga untuk bangun dan mendengar jeritan anakku yang akan menangis. Sekuat tenaga aku bangkit. Tubuhku memang lemah dan hancur karena baru saja seperti dipukul khodam neraka. Tapi–semangat demi anakku mampu membuat tenagaku tumbuh kembali. Aku tak sabar ingin menimang dan menyusuinya.

    Namun, kenapa tidak menangis? Bukankah bayi jika sudah keluar dari rahim ibu akan menangis keras-keras? Kenapa anakku tidak? Oh dia kelelahan berjuang sendirian tadi bersamaku. Aku bangun dan menggendong anakku yang masih berlumuran darah dan masih terhubung dengan ari-ariku. Aku tak bisa memotongnya. Aku harap ibu segera tiba. Darah yang menyelimuti tubuhnya kuusap dengan jari-jari tanganku. Aku tak peduli dengan darah yang menyebar di ranjangku. Kamarku mendadak bau amis. Tapi aku tetap bahagia.

    "Anakku, menangislah!" pekikku beriringan dengan perasaan khawatir yang mengancam jiwaku.

    "Anakku," aku menyentuh-nyentuh bibir mungilnya. "Sayang," kataku lagi sambil kucium keningnya. Hey dunia, anakku laki-laki. Jadi akan aku beri nama dia Fatan Purnama. Keren bukan? Aku tersenyum dengan luluran airmata.

    "Anakku menangislah," pekikku dengan tubuh yang merinding. Akhirnya kuberanikan diri untuk mendengarkan detak jantungnya.

    “Anakku! Menangislah!" bibirku bergetar. Nyawaku seolah akan melayang.

    Aku takut. Aku takut. Biarlah aku yang pergi jangan Fatan. Kutempelkan hidungku ke hidung anakku yang baru saja lahir. Semoga ada embusan napas yang keluar. Dan–

    "Tidaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk...... Anakkkkkuuuuuuuuu....... Anakkkuuu.... Anaakkuuuuuuuuuuuu ...... Kumohon! Menangislah."

    "Ibuuuu...anakku."

    Aku lemah. Tubuhku berguncang hebat. Napasku sekarat. Beningku mengalir deras bagaikan guyuran air hujan deras dari langit. Hening. Suasana kamarku hening. Tak ada tangisan bayi. Hanya ada sisa perjuangan melahirkan tanpa bukti kehidupan. Oh anakku. Anakku. Aku tidak sanggup. Lemas. Dadaku perih. Jantungku seolah berhenti berdetak. Pandanganku buram. Lambat laun menggelap. Kusadar dunia menelanku hidup-hidup.


    Karya: Titin Widyawati
    Si Gagis Suka Melamun

    PUSMAJA Mbojo-Yoyakarta Gelar Sarasehan Scholarship di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    M. Jamil, S.H. saat sambutan acara Sarasehan Scholarship.
     Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta menyelengarakan kegiatan “Sarasehan Scholarship” yang berlansung pada hari Sabtu, 14 Januari 2017 pukul 08:00-13:00 di gedung Teatrikal Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan mengangkat tema “Studi dan Riset serta Peluang Mendapat Beasiswa S2/S3 di Luar Negeri”.

    Kegiatan yang terselenggara atas kerjasama dengan Dewan Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menghadirkan  Dr. Rer. Nat. Arifudin Idrus, S.T., M.T. (Ketua Program Studi Geologi Fakultas Tekhnik, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta / Alumni RWTH Aachen University, Germany) sebagai pembicara dan menghadirkan Prof. dr. H. Abdul Salam M. Sofro, Ph.D., SpKT(P) (Salah Satu Tim Penilai Calon Profesor di Kemenristekdikti / Guru Besar Universitas YARSI, Jakarta) sebagai keynote speaker, didampingi oleh Arif Bulan, S.Pd. (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta) sebagai moderator.

    Ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta M. Jamil, S.H. mengungkapkan bahwasannya tujuan dari kegiatan ini merupakan upaya untuk mencoba berbagi informasi dan memberikan motivasi terkait beasiswa dan seluk beluk kondisi kehidupan di luar negeri kepada seluruh civitas akademika Mbojo dan masyarakat umum  yang berada di Yogyakarta. “Acara ini bertujuan memberikan informasi secara  detail kepada mahasiswa, baik persoalan studi, riset dan bagaimana tips dan trik mendapat beasiswa S2/S3 di luar negeri.” beber M. Jamil, S.H. usai acara berlangsung.

    Suasana saat acara Sarasehan Scholarship, 14-01-2017.
    Dalam kesempatan yang sama, M. Jamil, S.H. mengatakan bahwasannya kegiatan ini merupakan salahsatu cara untuk mengejawantahkan visi dan misi PUSMAJA Mbojo-Yoyakarta. “Acara ini sejalan juga dengan visi PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta sebagai wadah bersama untuk mengelola kapasitas sumber daya manusia yang cerdas, profesional, dan kontributif.” ungkapnya.

    Hadir dalam acara tersebut diantaranya Ketua Forum Silaturrahmi Weki Ndai Mbojo Yoyakarta Bukhari, S.T., Wakil Dekan III Bidang Kerjasama dan Kemahasiswaan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr. Sri Wahyuni, S.Ag., S.H., M.Ag., M.Hum., Ketua Dewan Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Ach. Mudzakki Mabrur.

    Acara “Sarasehan Scholarship” ini berjalan dengan lancar, yang mana terjadi interaksi yang intens antara Pemateri dan Peserta.

    Pelajari Peluang Study dan Riset, PUSMAJA Mbojo-Yoyakarta akan Gelar Sarasehan Akademik

    Muhammad Habbibullah Aminy. Foto: Koleksi pribadi.
     PEWARTAnews.com  – Duta pelajar, itulah yang tergambar dari kumpulan mahasiswa pascasarjana asal Bima Dompu yang berada di Yogyakarta. Terkumpul dalam wadah bernama Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta, berbagai kegiatan berhasil dicetuskan. Baik bertema pendidikan maupun minat dan bakat. Salah satunya adalah sarasehan akademik yang bertema "Studi dan Riset serta Peluang Mendapat Beasiswa S2/S3 di Luar Negeri".

    Kegiatan yang akan dilakukan Sabtu (14/1/2017)  di gedung Teatrikal Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu akan menghadirkan  Dr. Rer.nat. Arifudin Idrus, S.T., M.T. (Kaprodi Geologi Fakultas Tekhnik, UGM / Alumni RWTH Aachen University, Germany) sebagai pembicara dan keynote speaker oleh Prof. dr. H. Abdul Salam M. Sofro, Ph.D., SpKT(P) (Salah Satu Tim Penilai Calon Profesor di Kemenristekdikti / Guru Besar Universitas YARSI, Jakarta)

    "Kegiatan yang kami gelar ini bertujuan untuk merekatkan tali silaturahmi antara civitas akademika asal Bima dan Dompu yang berada di Yogyakarta. Selain itu, tentu saja diharapkan membuka wawasan mengenai studi riset dan peluang beasiswa. Terutama di luar negeri," jelas Ketua Panitia Pelaksana, Muhammad Habbibullah Aminy pada media ini, Kamis (12/1/2017) di Yogyakarta.
     
    Mahasiswa Pascasarjana Fakutas Ekonomi UII semester akhir dan juga telah menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta ini juga mengharapkan kegiatan tersebut bisa menjadi wadah seluruh mahasiswa Bima dan Dompu yang ada di Yogyakarta dalam meningkatan kualitas akademiknya.

    "Kegiatan ini sudah direncanakan sekitar 1 bulan yang lalu. Kami bekerjasama dengan Dewan Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, Forum Silaturrahmi Weki Ndai Mbojo-Yogyakarta dan juga KEPMA Bima-Yogyakarta," pungkasnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta M. Jamil, S.H. mengungkapkan bahwasannya kegiatan ini merupakan salahsatu cara untuk mengejawantahkan visi dan misi PUSMAJA Mbojo-Yoyakarta. “Acara ini sejalan juga dengan visi PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta sebagai wadah bersama untuk mengelola kapasitas sumber daya manusia yang cerdas, profesional, kontributif, demokrasi dan religius.” bebernya. (Rizalul Fiqry / PEWARTAnews)

    Informasi Acara PUSMAJA.

    Terkumpul Rp 314 Juta untuk Korban Banjir, KEPMA Bima-Yogyakarta Sampaikan Terimakasih pada Warga Yogyakarta

    Suasana saat pelepasan pengiriman barang untuk korban banjir Bima.
    www.pusmajambojojogja.or.id – Menyusul Bencana Banjir bandang yang melanda Kota Bima dan sebagai kecamatan di Kabupaten Bima, Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta membuka posko penggalangan dana dan penyaluran bantuan yang berpusat di Asrama Bima “Sultan Abdul Kahir” Yogyakarta, beralamat Jln. Gondosuli, GK IV No 155, Baciro, Kota Yogyakarta. Berbagai organisasi tingkat desa maupun kecamatan andil untuk melakukan penggalangan dana baik di jalan, kampus maupun instansi pemerintahan.

    Per tanggal 8 Januari 2017, setidaknya Rp.314.873.200,- berhasil dihimpun untuk disalurkan ke korban banjir bandang. Aliran donasi masih terus mengalir. Tidak hanya berupa uang, bantuan berupa pakaian layak juga berhasil dihimpun untuk kemudian disalurkan. Untuk ekspedisi tahap awal, sekitar 58 koli dikirim via truk. Sedangkan tahap kedua, dikirim via pos dengan jumlah keseluruhan mencapai 50an koli.

    “Atas nama warga Bima, kami menyampaikan rasa terimakasih kepada warga Yogyakarta atas tanggapannya yang positif terhadap aksi penggalangan yang kami lakukan. Terlebih lagi pada sejumlah organisasi kampus maupun kedaerahan yang juga terpanggil untuk melakukan penggalangan dana,” ujar Munazar, koordinator 1 aksi penggalangan dana posko Yogyakarta, Minggu (8/1/2017).

    Aksi solidaritas dengan turun ke jalan dilakukan dalam empat hari, dari tanggal 22 sampai 25 Desember 2016. Sedangkan penerimaan bantuan berupa transfer via rekening relawan masih tetap dibuka. Aksi solidaritas tanggap bencana tersebut juga tidak hanya dilakukan oleh pelajar asal Bima, sejumlah organisasi dan elemen daerah lain juga ikut andil.

    Lembaga atau elemen yang turut andil dalam koordinasi Posko KEPMA Bima-Yogyakarta diantaranya, Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta; Forum Intelektual Muda Ncera (FIMNY); FORMASI-Sila; Kimia UGM; Fisika UAD Kelas A; FORMAL-Langgudu; IMARA; HIMAWI; PERKASA-Kore; IPMLY-Lambu; HMTA STTNAS; PM-Kobi; Mandholo Kota Bima; Bima-Dompu UAD; IKPM-Dompu; Mahasiswa AMAYO (BIMA + DOMPU); NAGANURI-Sape; HMNY-Ngali; Sanggar Nusantara; Kaligrafi UKM JQH Al-Mizan; Mahasiswa Bima STIKES Aisyah; Kampus IBS STEIY; FORKASY-Tente Woha; Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Mesjid Nurul Asri; IMBIGAMA; Mahasiswa Surya Global; PASAKA-Samili Kalampa; AMAYO (IKBM NTB); Universitas Respati Yogyakarta; Persatuan Sampela Mbojo (PSM) UII; FKMK; FORSMAWI; Sastra Indonesia UAD; Alumni SMA 3 Rangkas Blitung 2002; Forum NTB UMY; Matematika UAD; Keluarga Pelajar Mahasiswa SULUT; Fakultas Peternakan UGM; Komunitas Pengajian Herbal; Tekhnik Kimia UAD; HIMMAH NW Yogyakarta; Ikatan Mahasiswa Hu'u Lakey Yogyakarta; Ikatan Pelajar Mahasiswa Kerinci Yogyakarta (IPMKY); BEM FKM UAD; HMI UII; Sanggar Melanesia; HMTA STTNAS; Mahasiswa Woja Dompu; LEM FMIPA UII; Dosen Statistik UII; Mahasiswa Bima APMD; Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung; Kabupaten Meranti dan Kuansing, Riau; Mahasiswa STIKES Aisyiah; Keluarga Wera UNJ; Tim Sukses Pak Hariyadi; Mahasiswa/BEM UMY; Masjid Pangeran Diponegoro Balaikota Yogyakarta; PMII Rayon Pondok Syahadat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; DPD KNPI DIY; Komunitas Musik & Seni Koba (KOMUBA) Bangka Tengah;  Mahasiswa Sulawesi UAD; Forum Mahasiswa NTB UMY; Jogja Blues Forum, Resque Band Dkk; IPMLU-Yogyakarta; Hamba Allah; Hirzan; Abdullah M. Ali.

    Kepercayaan penyaluran bantuan tersebut tidak hanya datang dari donatur yang berdomisili di D.I.Y., dating juga dari daerah lain, seperti Solo, Makassar, Malang, Bandung juga mempercayakan pengiriman bantuannya pada posko KEPMA Bima-Yogyakarta. Untuk memastikan bantuan sampai kepada sasaran, KEPMA Bima-Yogyakarta membuka posko di Talabiu, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima. Sejumlah relawan juga berangkat terjun langsung ke lokasi untuk melakukan aksi penyaluran bantuan.

    “Sejauh ini ada beberapa hal yang dilakukan tim Relawan Posko Talabiu Bima yaitu pembagian makanan siap saji, Sembako, air bersih, keperluan bayi, keperluan wanita, seragam sekolah, perlengkapan sekolah dan pakaian layak pakai, dan pelengkapan tempat ibadah. Selain itu, di beberapa lokasi relawan juga membagikan uang tunai.” beber Arif Rahman, Ketua Demisioner KEPMA Bima-Yogyakarta, Minggu (8/1/2017).

    Seperti diketahui, bencana banjir bandang menenggelamkan hampir semua wilayah kota Bima dan tiga kecamatan di Kabupaten Bima, yaitu Ambalawi, Wawo dan Sape. Besarnya banjir memaksa sebagian besar warga Kota Bima mengungsi ke tempat-tempat yang dirasa aman. Tidak hanya itu, penyaluran bantuan sempat terganggu karena beberapa titik jalan penghubung Kabupaten-Kota ‘dikuasai’ air, beberapa jembatan juga tumbang diterjang air. Puluhan posko kemudian bersinergi dengan pemerintah kota untuk membantu normalisasi keadaan. (Rizalul Fiqry / PEWARTAnews)


    Perempatan Kota

    Edi Muhamad Roni Herman.
    Lihat anak yang duduk di perempatan kota
    Menunggu uang receh penyambung nyawa
    Dia menghampiri mobil-mobil yang berhenti
    Oleh lampu jalan yang silih berganti

    Memasang muka dengan penuh harap
    Terhadap mobil-mobil mewah yang mengkikap
    Kadang yang di dalam mobil tak menghiraukannya
    Meski mereka melihat di balik kaca

    Tak ada mobil yang membuka kaca
    Sejenak ia menghelus dada, karena tak ada uang receh yang diterima
    Sering kali ia mengusap peluh dikeningnya, sambil menatap matahari
    Sambil mengadu tentang perutnya yang belum berisi di hari ini

    Dia nampak pulang dengan kecewa
    Langkah pulang dengan hati yang luka
    Karena tak ada uang receh yang terkumpul
    Itu pertanda asap dapur tak akan mengepul


    Yogyakarta 24 Desember 2016
    Karya: Edi Muhamad Roni Herman

    Refleksi Akhir Tahun 2016, PBNU: Pudarnya Semangat Toleransi dan Kebhinekaan

    Logo Nahdlatul Ulama.
    REFLEKSI AKHIR TAHUN 2016
    PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA
    No.: 1135/A.II.03/12/2016

    Pudarnya Semangat Toleransi dan Kebhinekaan

    السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

    بسم الله الرحمن الرحيم

    اللهم صل على سيدنا محمد


    Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah menjaga dan melindungi bangsa Indonesia hingga dapat melalui Tahun 2016 dengan selamat. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, yang setia menjaga dan merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai mu’âhadah wathaniyyah (konsensus nasional), berdasarkan Pancasila sebagai tali pengikat (kalimatun sawa’) seluruh komponen bangsa yang ber-Bhineka Tungga Ika.

    Sebagai negeri Muslim terbesar di dunia yang menganut demokrasi, bangsa Indonesia harus bersatu padu di tengah konstelasi dunia yang kian bergolak, dengan mengencangkan ikatan tali persaudaran sesama umat Islam (ukhuwwah Islâmiyyah), sesama warga bangsa (ukhuwwah wathaniyyah), dan persaudaraan kemanusiaan universal (ukhuwwah insâniyyah).

    Ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih sejak resesi tahun 2008. Perebutan pengaruh dua negara adikuasa, Amerika dan Tiongkok, akan menyeret kawasan Laut China Selatan sebagai daerah bergolak. Negeri-negeri mayoritas Muslim di Timur Tengah terbelit spiral kekerasan dan perang saudara yang belum berhenti sejak gelombang Arab Spring meletup tahun 2010. Bangsa Indonesia, pemerintah dan rakyatnya, harus merespons pelbagai isu dunia ini dalam kaca mata kepentingan nasional (national interest).

    Simpati, solidaritas, dan perhatian terhadap konflik di Timur Tengah dalam rangka ukhuwwah Islâmiyyah harus senafas dengan upaya memperkuat NKRI dan merekatkan persaudaraan kemanusiaan. Kecenderungan mengimpor konflik Timur Tengah ke dalam negeri harus dihentikan. Adu domba dengan kabar-kabar bohong (hoax) untuk memantik permusuhan tidak sejalan dengan upaya memupuk persatuan nasional yang sudah diletakkan dasar-dasarnya oleh founding fathers.

    PBNU mengingatkan seluruh elemen bangsa untuk merefleksikan terus menerus kesepakatan-kesepakatan dasar bangsa Indonesia yang mencakup Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Seluruh ikhtiar mengisi pembangunan harus dijiwai dan diorientasikan untuk memperkuat konsensus nasional, bukan malah untuk mempertajam perbedaan. Takdir bangsa Indonesia sebagai bangsa majemuk, plural, multietnis dan multiagama, harus disyukuri sebagai berkah untuk saling berlomba memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara, bukan menuntut yang lebih banyak.

    Menutup lembaran tahun 2016, PBNU menyampaikan butir-butir refleksi pemikiran mencakup berbagai isu kebangsaan sebagai berikut:

    1. Politik Kebangsaan
    Tahun 2016 diwarnai narasi penonjolan politik identitas yang rentan menggerogoti sendi-sendi konsensus nasional berdasarkan Pancasila sebagai kalimatun sawa’. Perhelatan politik Pilkada DKI dan konflik Timur Tengah dieksploitasi sebagai bahan bakar untuk menyulut benih-benih perpecahan antarelemen bangsa. Media sosial tidak menjelma sebagai arena pertarungan opini yang konstruktif, tetapi justru malah menjadi panggung provokasi fitnah dan kebencian. Polarisasi tersebut melibatkan penggunaan sentimen SARA untuk tujuan politik yang sesungguhnya berbahaya bagi kelangsungan sendi-sendi konsensus nasional.

    PBNU mengingatkan semua pihak untuk kembali kepada jati diri bangsa yang mengakui kemajemukan, dalam wadah perjanjian yang diikat dengan semangat Bhineka Tunggal Ika. Perbedaan adalah tambahan energi untuk melipatgandakan kekuatan, bukan benih untuk menumbuhkembangkan perpecahan.

    PBNU mengingatkan bahwa demokrasi yang tengah dikonsolidasikan sebagai sistem untuk mengalokasikan kesejahteraan publik berpotensi dibajak oleh gerakan fundamentalisme agama dan ideologi fundamentalisme pasar. Kebebasan telah memberikan panggung kepada kelompok radikal mengekspresikan pikiran dan gerakannya yang berpotensi menggerogoti NKRI melalui isu SARA, provokasi permusuhan, dan terorisme.

    Dunia maya berkembang pesat sedemikian rupa menjadi panggung penyebaran kabar-kabar bohong dan berita-berita palsu untuk mengadu domba antarelemen bangsa dan mengobarkan permusuhan antargolongan.

    PBNU melihat pemerintah gagap membangun counter-narrative sehingga radikalisme dapat tumbuh subur di dunia maya. Moderatisme dan toleransi digempur setiap hari oleh tayangan dan konten radikal yang begitu mudah disebar dan viral di media sosial.

    PBNU mengimbau kepada netizen untuk bijak dan arif dalam menggunakan media sosial sebagai arena berbagi ilmu dan kebaikan, bukan wahana penyebaran fitnah dan kontes permusuhan. Gerakan digital literacy (melek digital) perlu digalakkan, termasuk melalui instrumen pendidikan formal, agar dunia maya berfungsi konstruktif sebagai agen kohesi sosial.

    Di sisi lain, fundamentalisme pasar telah ‘memperalat’ demokrasi sebagai sistem yang melayani kepentingan modal. Demokrasi berubah menjadi demokrasi pasar yang menempatkan modal sebagai tuan, bukan rakyat yang datang ke bilik suara dalam pemilu. Rakyat memang telah memilih pemimpin dan wakil-wakil mereka secara langsung, tetapi episentrum kebijakan masih berpusat di tangan pemilik kapital. Regulasi dibuat tidak sepenuhnya mengabdi kepada kepentingan rakyat, tetapi kepada pemilik modal. Rakyat tetap di pinggir dan tak berdaya di tengah sumber daya alam yang habis terkikis. Hutan-hutan gundul, flora-fauna rusak, air tercemar limbah, dan suhu bumi naik karena pemanasan global.

    Fundamentalisme pasar menyisakan ketimpangan sosial. Ketimpangan langgeng di dalam sistem pasar bebas yang membiarkan konsentrasi kekayaan di tangan segelintir orang yang menguasai aset-aset ekonomi dan alat-alat produksi. Di semua negara, radikalisme tumbuh bersemi di tempat yang gagal mengatasi kemiskinan, pengangguran, dan juga ketimpangan.

    2. Ekonomi dan Kesejahteraan
    PBNU melihat orientasi pembangunan ekonomi belum sepenuhnya dijiwai oleh ruh konstitusi untuk memajukan kesejahteraan umum dan menciptakan kemakmuran bagi sebesar-besar rakyat Indonesia. Pembangunan ekonomi belum inklusif karena menyisakan trilogi ketimpangan yaitu ketimpangan antarindividu, antarwilayah, maupun antarsektor ekonomi.

    Kue ekonomi nasional masih dinikmati oleh segelintir orang yang menempati 20 persen teratas dari struktur piramida ekonomi nasional dan 40 persen kelas menengah. Secara regional, pembangunan memusat di Jawa dan Sumatera, yang menyumbang 81% PDB nasional meninggalkan pulau-pulau yang lain.

    Dalam kaca mata sektor ekonomi, pembangunan ditopang bukan oleh sektor penghasil barang yang padat karya (tradable), tetapi oleh sektor jasa dan keuangan yang padat modal (non tradable). Sektor pertanian, lapangan usaha penyerap tenaga kerja terbesar (sekitar 38 juta orang), mengalami involusi dan menjadi lumbung kemiskinan. Jumlah keluarga tani menyusut menjadi 26 juta, dua pertiganya adalah petani gurem yang terpuruk karena penyusutan lahan, hancurnya infrastruktur pertanian, dan minimnya hubungan pertanian dengan kesejahteraan.

    Kue ekonomi tumbuh, tetapi tidak merata. Koefisien gini masih cukup tinggi yaitu 0,4 dan 0,6 untuk rasio gini penguasaan tanah. Secara nominal, kekayaan 50 ribu orang terkaya setara dengan gabungan kepemilikan 60 persen aset penduduk Indonesia. Segelintir orang mendominasi kepemilikan atas jumlah simpanan uang di bank, saham perusahaan dan obligasi pemerintah, serta penguasaan tanah.

    Padahal al Quran jelas dan tegas mengatakan (Al-Hasyr:7):

    كي لايكون دولة بين الأغنياء منكم (الأيــة)

    “Janganlah harta itu berputar-putar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian”.

    Untuk mengurangi ketimpangan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama merekomendasikan agar Pemerintahan memberi perhatian lebih kepada pertanian. Upaya pembenahan sektor pertanian harus dimulai dari reforma agraria yang pada intinya redistribusi tanah untuk petani.

    Pemerintah dapat mencetak lahan-lahan pertanian baru dari sekitar 23 juta hektar lahan kering yang ‘nganggur’ dan membagikannya kepada petani sebagai kebijakan afirmasi. Langkah berikutnya adalah meningkatkan produktivitas lahan, memperbaiki dan merevitalisasi infrastruktur irigasi, memproteksi harga pasca panen, memperbaiki infrastruktur pengangkutan untuk mengurangi biaya logistik, dan menekan impor pangan, terutama yang bisa dihasilkan sendiri di dalam negeri. Tanpa upaya sungguh-sungguh, Indonesia tidak akan mencapai swasembada pangan. Kebutuhan akan terus dipasok dari impor dan Indonesia akan tergantung kepada bangsa lain untuk memenuhi hajat hidup rakyatnya.

    3. Hukum dan Keadilan
    Tidak ada demokrasi tanpa keadilan dan kepastian hukum. Pengurus PBNU melihat hukum di Indonesia masih bermasalah baik di tingkat substansi, struktur, maupun kultur.

    Di tingkat substansi, banyak produk hukum dan perundang-undangan yang dibuat dengan mengingkari dasar, semangat, dan filosofi bernegara sebagaimana termuat dalam pembukaan UUD 1945 yang sekaligus merupakan politik hukum nasional. Dampaknya, banyak produk perundang-undangan tercerabut dari nilai agama, budaya, adat-istiadat dan tradisi yang dianut dan dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia, serta dimintakan uji materi (judicial review) ke Mahkamah Konstitusi.

    Di tingkat struktur, Indonesia belum mempunyai institusi penegak hukum yang berwibawa yang ditandai dengan banyaknya kasus mafia peradilan dan korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum, sehingga semakin memperlemah efektivitas penegakan hukum. Selain itu, rumitnya birokrasi penegakan hukum juga makin memperjauh masyarakat pencari keadilan untuk mendapat keadilan hukum.

    Di tingkat budaya, hukum gagal mendapat tempat dalam kerangka budaya masyarakat karena hukum dibuat berbeda dengan aspirasi rakyat. Akibatnya tingkat kepatuhan terhadap hukum rendah dan gagal menjadi instrumen tertib sosial karena hukum tidak berdaulat dan tumpul ke atas tajam ke bawah.

    PBNU mendesak peningkatan mutu regulasi yang dijiwai ruh konstitusi, penuntasan reformasi institusi penegak hukum, dan penegakan hukum yang tegas terutama di tiga bidang yang menyangkut kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu korupsi, terorisme, dan penyalahgunaan narkoba.

    PBNU mendukung perluasan norma hukum dalam revisi Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang memungkinkan aparat melakukan tindak pre-emptif untuk mencegah terjadinya terorisme.

    4. Kehidupan Beragama
    Gejala menurunnya toleransi beragama di Indonesia dapat meretakkan konstruksi NKRI yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Gangguan terhadap kebebasan menjalankan ajaran agama dan keyakinan masih kerap terjadi dan dilakukan oleh kelompok-kelompok intoleran. Tanpa ketegasan pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menindak aksi-aksi intoleran, negara akan kalah oleh kelompok yang menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak.

    Sampai saat ini, diakui atau tidak, kita sebagai pribadi maupun sebagai sebuah bangsa belum bisa beranjak dari kegusaran tema radikalisme beragama. Radikalisme beragama dalam bahasa yang paling sederhana adalah tindakan kekerasan, eksklusif, rigid, sempit, dan juga memonopoli kebenaran.

    Gerakan radikalisme adalah satu langkah dan pintu masuk bagi tindakan terorisme. Teror yang sedemikain menjamur adalah pekerjaan rumah besar bagi negara untuk lebih intens sekaligus serius dalam usaha-usaha kontra radikalisme dan juga deradikalisasi atau usaha-usaha peredaman teror lainnya. Sebab tanpa usaha itu berarti negara sudah “tidak hadir” di kehidupan rakyatnya.

    تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة

    “Kebijakan pemimpin harus didasarkan kepada kemaslahatan rakyat”

    Sikap intoleran sejatinya juga merupakan cermin gagalnya pemeluk agama dalam memahami maqashid al-syar’iah. Alih-alih melaksanakan ubudiyah, namun justru terjebak pada simbol-simbol keagamaan saja.

    PBNU menyerukan pemerintah dan aparat penegak hukum menindak tegas kelompok intoleran yang melanggar hukum dan juga ketertiban sosial.

    Selamat menyongsong pergantian tahun. Semoga kita selalu senantiasa dalam lindungan Allah SWT untuk bisa menapaki kehidupan yang lebih sejuk, aman, tenteram, dan damai.

    شكراً ودمتم في الخير والبركة والنجاح

    والله الموفق إلى أقوم الطريق
    والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته

     ttd

    Dr. KH. Ma’ruf Amin
    Rais Aam
    KH. Yahya Cholil Staquf
    Katib Aam
    Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA
    Ketua Umum
    Dr. Ir. H. A. Helmy Faishal Zaini
    Sekretaris Jenderal

    Bima Berduka, Ini Keluhan Hati Salahsatu Mahasiswi Jogja

    Suasana usai penggalangan dana di titik Nol KM. [Foto: PUSMAJA]
    PEWARTAnews.com – Dunia sangat luas, dan manusia merupakan makhluk sosial yang menepati dunia, manusia menikmati alam, manusia berkuasa atas semua yang ada dialam ini, termasuk binatang dan tumbuhan, manusia menikmati tumbuhan, terkadang manusia enggan untuk merawatnya. Manusia berkuasa akan hewan, memangsanya tanpa enggan untuk memperkembang biakkan.

    Hingga tiba pada akhirnya, Allah murka dengan dunia ini. Allah memberi kita musibah seperti yang terjadi di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Allah menciptkan, Allah juga yang akan menghancurkannya. Orang-orang sosial berjalan kesana kemari, kepanasan berkeringat tanpa mengenal lelah untuk membantu mereka, bertahan hidup tapi akan tetapi kesadaran masyarakat kurang akan hal itu, mereka memandang remeh kita yang berjalan mengumpulkan uang receh buat kebahagiaan Bima. Mereka tertawa melambaikan tangan, seolah-olah meledek kita, tapi hati kita tidak berhenti disitu. Kita berjalan dan terus berjalan, hingga menemukan seseorang yang berhati yang mau menyumbangkan sedikit uangnya buat mereka.

    Percuma kita kaya, percuma kita punya banyak usaha, akan tetapi mata kita tertutup akan berbuat baik. Sesungguhnya Tuhan yang memberi kita rezeki, jangan takut bila rezeki kita akan habis bila kita membantu orang, justru Tuhan akan memberikan rezeki yang berlipat-lipat kepada kita yang mau bersedekah uang kecil yang menurut kita tidak berarti. Tapi menurut warga Bima, uang itu sangat membantu apakah hati kalian tertutup, bila melihat orang-orang berteriak menjerit meminta pertolongan, apakah kalian akan berdiam diri dan menggengam erat erat uang kalian.

    Bukalah mata dan hati kalian, janganlah kalian menggenggam erat-erat uang kalian, jika uang kalian akan bermanfaat buat orang yang membutuhkan, Tuhan yang akan membalas semua kabaikan kalian. Jika otak kita berfikir terbalik, seandainya kita yang mendapatkan musibah itu, apakah kita tanpa bantuan orang lain kita bisa makan? Kita bisa tidur? Kita bisa mendirikan posko, belum tentu kita bisa berdiri sendiri tanpa ada orang dibelakang kita. Nah, uang seribu dua ribu tak akan ada artinya jika kita berdiam diri tanpa melihat orang-orang yang menderita itu.

    Mohon bantuanya untuk kita mengingat akan korban bencana yang terjadi di Bima, NTB. Sisihkan uang kita sedikit buat mereka yang membutuhkan pertolongan kita.Saya memang bukan mahasiswi asal Bima, NTB, tapi saya hanya mencoba melakukan secuil upaya untuk pemulihan kondisi musibah banjir yang terjadi di Bima, walau upaya itu hanya berbentuk ikut partisipasi dalam penggalangan dana beberapa waktu lalu bersama rekan-rekan KEPMA Bima-Yogyakarta di titik Nol KM Malioboro.


    Oleh: Aprilia Nikensari 
    Salahsatu Mahasiswi Kampus Swasta di Yogyakarta


    Kreasi Tangan Sang Pendosa

    Nurhaidah.
    Lambat waktu mengalir
    Memainkan dunia dengan sandiwara
    Seperti tangan manusia yang berdosa
    Yang hanya mmpermainkan kekuasaan-Mu

    Inikah luka yang kau berikan
    Agar kami tahu betapa sakitnya duka
    Inikah janji yang kau ucapkan
    Agar kami tahu betapa sakitnya

    Engkau yang kami abaikan
    Apakah ini arti kebahagiaan
    Yang kemudian menjadi jurang penderitaan
    Apakah ini impian yang ingin kau tunjukan
    Penderitaan dan duka yang lara

    Ya Tuhan,
    Apakah engkau meberikan pelajaran agar kami bersabar
    Tapi kesabaran itu menjadi langkah untuk mewujudkan sakit
    Ujian ini telah membuatku pengertian
    Tapi pengertian ini membebaskan kami untuk berfikir
    Kekuasaan-Mu begitu membuatku percaya
    Hingga separoh alam-Mu pun engkau hancurkan

    Sakit wahai Tuhan
    Tidurkan kami sekejap
    Hingga rasa sakit itu hilang dari jiwa
    Menguap apa yang telah terjadi

    Buat kami hilang ingatan
    Agar tak tersisa segala kehancuran yang telah kami buat
    Sangat letih Tuhan
    Memohon belas kasihmu dengan hati perih
    Kami tidak meminta kota mungil kami untuk seperti semula
    Tapi kami meminta agar semua yang terjadi engkau maafkan

    Ya Tuhan
    Kami sangat menyesal
    Sewalaupun penyesalan itu tak ada artinya untuk-Mu
    Karna yang terjadi hanyalah kejahatan tangan kotor kami
    Kenakalan mata dan telinga kami
    Sehingga semua yang terjadi adalah hasil kreasi konyol kami

    Ya Tuhan
    Engkau sang penguasa berhak marah
    Sang pencipta sangat marah, marah dan marah
    Engkau memberikan kami pelajaran yang sangat berharga
    Semoga saja tangan, mata dan telinga kami tidak begitu nakal lagi
    Lalu akan merawat apa yang telah engkau ciptakan untuk kami

    Tangan kotorku tak pantas untuk menulis
    Tangan kotorku tak patas untuk mengetik
    Tangan kotorku ini hanya membawa kehancuran semata
    Dan tangan kotorku ini juga bagian dari kekuasaanmu


    Yogyakarta, 29 Desember 2016
    Karya: Nurhaidah
    Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST).


     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website