Headlines News :
Home » » Cerpen: “Anakku!”

Cerpen: “Anakku!”

Written By Pewarta News on Senin, 16 Januari 2017 | 07.05

Titin Widyawati.
PEWARTAnews.com – “Iya sayang, sabar ya? Saya baru bisa tiba di rumah paling tidak jam dua pagi hari ini,” kata suamiku di balik gagang telepon dengan suara parau sambil menahan isak tangis. Dia baru akan mudik hari ini. Mas Aziz. Itulah suamiku yang bekerja di Cikampek sebagai sekretaris perusahaan tekstil.

“Aku tidak kuat. Ini sakit.” Balasku tak kalah dengan airmata.

“Berdoalah. Saya akan cepat-cepat pulang. Nanti sampai Kutoarjo saya akan mencari taksi saja. Saya tidak tahu kalau akan hari ini. Saya pikir masih sebulan lagi, dan saya akan pulang minggu besok.”

“Cepatlah! Aku tidak kuat, Mas." Kataku terakhir dan aku matikan hapenya. Kuletakkan di atas meja bertaplak putih itu. Aku menatap luar rumah kosong sambil menangis.

Jam sembilan pagi. 13 Oktober 2014.  Perasaanku kacau. Napasku sesak. Perutku rasanya keram. Sudah  delapan kali dari sejak subuh tadi aku mules dan rasanya tidak nikmat. Keringat dingin terus mengalir dan menyemut di keningku. Suamiku tak ada di rumah, dia sedang menghabiskan waktu dalam kursi kereta, lengkap dengan perasaan khawatirnya kepadaku. Perjalanan dari Cikampek menuju Stasion Kutoarjo cukuplah dibilang menghabiskan setengah hari sendiri. Begitu tega waktu membiarkanku sendirian seperti ini, dalam keadaan sakit dan dirajam ketakutan yang luar biasa. Bagaimana jika ada hal buruk yang terjadi kepadaku? Tatkala detik-detik kebahagiaan itu akan datang, kenapa harus pula disambut oleh keresahan batin? Jantungku berdebar-debar tak menentu. Rasa khawatir jika nyawa yang selama ini menjadi harapan keluarga tak bisa kuselamatkan. Ah terlalu pesimis sekali otakku.

Sepertinya tak tepat untuk berpikir protes.  Kedua orangtuaku sedang dalam perjalanan dari Semarang menuju Magelang. Aku harap mereka segera tiba di rumah. Aku orang sederhana, jadi tak pernah terpikirkan olehku bagaimana rasanya melahirkan di rumah sakit. Aku punya JAMPERSAL tapi entah mengapa kurang puas aku jika harus berjuang dengan menggunakan bantuan tersebut. Kata orang-orang pelayanannya terkadang ada yang kurang memuaskan. Jadi selama ini aku mati-matian berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah supaya anakku lahir dengan normal di desa. Bersaksikan kicauan burung nan berendar di udara, dan kala matahari terbit di ufuk Timur. Di saat langit bertaburan dengan warna keemasan nan jelia, bersaksikan gumpalan awan yang indahnya memelok retina. Kala lenggokan dedaunan di ladang-ladang saling bersentuhan dengan okestra alam. Atau pun saat senja beranjak dan kala malam merangkak sementara langit bertaburan manik-manik nan berwana-warni.  Itu adalah harapanku, dan aku akan menamainya Mentari Reifani jika berjenis kelamin perempuan, atau Fatan Purnama jika berjenis lelaki.

Kali ini pukul 10:00 WIB. Tak kuat aku menahannya. Rasanya ingin mengejan tapi entahlah sebabnya. Terasa ada benda berat yang mendorong perutku agar memuntahkan isinya dari bawah. Perasaanku sudah tidak enak. Aku berjalan pelan-pelan menuju kamarku. Kubantali kepalaku dengan tumpukan tiga bantal. Aku terlentang memandang langit-langit kamar. Seprai sewarna langit menemaniku. Bolam lampu yang berpendar di atas wajahku menerangi kegelisahanku. Ruangan yang berukuran tujuh kali delapan meter itu seolah-olah akan menjadi tempat buah hatiku lahir. Tinggal menunggu beberapa jam. Atau malah hanya beberapa menit? Ya Tuhan. Badanku tidak kuat menahan rasa sakit ini.

Kenapa di saat seperti ini aku harus sendiri? Aku tak sempat mengambil ponselku yang ada di ruang tamu, tubuhku sudah terlalu lemah dan letih. Seharusnya aku tak terlalu bodoh! Kuhubungi keluargaku yang ada di Magelang. Tapi inilah watakku. Selalu tidak suka merepotkan orang lain hingga akhirnya aku tersiksa sendiri. Konyol! Dan kenapa waktu juga tidak bisa mengerti perasaanku? Seharusnya ia sadar dan membisikkan di telinga saudaraku. Katakanlah kepada mereka bahwa aku, 'Widya' akan segera melahirkan. Panggilkan aku dukun bayi. Cepat! Segera. Ternyata waktu memang tidak punya hati. Kau tak punya perasaan. Kau jahat! Terlalu gila aku memikirkan semua penderitaan ini.

Seharusnya aku tidak berpikiran seperti itu. Tapi benarkah ini rasanya akan melahirkan? Sakit. Sakiiittt sekali. Perutku sakit. Punggungku sakit seperti mau robek dan rontok. Panas, pegal, seperti ditendang-tendang. Belum bagian bawah perutku yang nyerinya minta ampun. Seorang wanita menstruasi saja kadang sudah berkeluh kesah merasakan sakit yang menghajar punggung dan perutnya. Cobalah andaikan mereka tahu bagaimana rasanya saat ingin melahirkan. Bukan hanya kepada mereka para wanita muda, tapi pria juga. Apakah mereka tetap masih akan tega menyia-nyiakan wanita? Tentulah jika aku menjadi mereka aku akan sangat memuliakan wanita.  Patutnya aku bersyukur karena tercipta menjadi wanita. Rasanya ada sesal saat aku mengingat paras keriput yang kini berusia senja. Apakah begini perjuangan menjadi seorang ibu? Bertaruh sisa oksigen di dunia. Bertaruh tenaga sekuat-kuatnya. Bahkan tak sempat memikirkan hal indah yang dulu pernah dilakukan dengan suami tercinta. Semuanya lebur oleh besarnya perjuangan tatkala melahirkan. Dasyatnya perjuangan tak sebanding tatkala mendengar raungan jeritannya.

Bukan lagi airmata yang akan keluar, tapi bayang-bayang tanah makam. Dan itulah yang aku alami. Rasa sakit yang mengamuk dasyat tubuhku tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Aku ingat dahulu, kala itu aku sering berteriak kasar kepada ibu. Aku ingat dulu kala aku tidak taat kepada perintah ibu. Aku ingat dulu kala ibu sering mencucikan baju-bajuku. Memasakkan untukku. Menyuapiku tatkala sakit. Ibu begadang sampai tengah malam menjagaku. Jika aku merintih kesakitan dan aku sampai menangis, ibu kecup keningku dan kurasakan bulirnya mengalir deras di dahiku.

Tatkala aku menangis dan bersedih. Ibu yang menjadi sandaran kesedihanku. Jika aku lelah, ibu yang memijiti tubuhku. Jika ayah tidak ada dan ibu kehabisan uang untuk membiyayai sekolahku. Ibu mencari hutang ke tetangga-tetangga tanpa kenal rasa malu. Ketika ada makanan lezat aku yang didahulukan. Ibu selalu makan terakhir. Jika ibu lelah, ibu hanya tiduran di kursi tamu namun sorenya kembali memasak makan malam untukku. Ayahku kerja jauh, uang kiriman habis. Ibu bekerja bertaruh tenaga di ladang orang, itu pun juga untukku. Ibu hanya lelah menghidupiku. Tapi ibu tetap sayang kepadaku. Tak pernah ia pikirkan kondisi fisiknya. Sementara aku hanya angkuh dengan egoku.

Katanya, perjuangan ibu melahirkanku sangat besar, jadi ibu tidak akan pernah menyia-nyiakan diriku. Ibu akan selalu berjuang agar mampu membuatku tersenyum. Ibu tak akan pernah rela jika buah hati yang keluar dati rahimnya menangis dan bersedih hati. Jiwa ibu pun akan terluka. Itulah sebabnya kasih sayang seorang ibu dan ayah jauh lebih besar ibu ketimbang ayah. Sosok ibu akan lebih mengerti perasaan buah hatinya ketimbang ayah yang tidak pernah merasakan betapa beratnya perjuangan melahirkan. Jadilah wajar jika di dunia ini ibulah yang patut dihormati pertama kali. Kau tentunya ingat bukan perkataan Rasulullah SAW ketika ada seorang sahabat yang bertanya, 'siapakah orang yang pantas dihormati di dunia ini?' Lantas beliau menjawab. 'Ibu.' Lalu? 'Ibu' lalu? 'Ibu' lalu? 'Ayah'. Barulah ayah diucap setelah kata ibu keluar sebanyak tiga kali.

Dan sekarang. Detik ini. Pada jantung waktu yang berputar di titik 11:03 WIB, di ruang yang luas dan hanya dihuni sourvenir kamar yang mati, almari, meja rias, rak buku karena aku suka membaca, serta selembar permadani merah di lantai yang sering kugunakan untuk lesehan waktu lalu itu, seolah ikut merasakan kemalangan nasibku dalam memperjuangkan satu nyawa dalam rahimku.  Tanpa aku jelaskan tentunya kalian tahu, lubang sekecil itu  harus dilewati bayi mungil yang lumayan besar. Tepat sekali jika ibu-ibu melahirkan berkeluh seperti dihabisi nyawanya dan seolah selangkangannya akan robek. Dan itu luar biasa sakitnya.

Aku merasakan ada cairan yang keluar. Rasanya seperti mau pecah saja perutku. Air ketubanku pecah. Apakah itu benar? Jadi sungguhkah aku akan melahirkan detik ini? Rasanya bertambah sakit parah. Persetan. Aku tidak peduli dengan suamiku lagi. Aku juga tidak memikirkan ibuku yang dalam perjalanan. Kandunganku berumur delapan bulan. Tapi aku sudah yakin kalau anakku akan lahir detik-detik ini. Kaki kubuka lebar-lebar. Kuberi ruang agar anakku mampu keluar dengan selamat.

Di ruangan itu. Di atas ranjang yang dilapisi seprai biru. Aku menjerit lantang dan mengejan kuat-kuat. Sebentar lagi aku akan menjadi ibu. Tentulah aku harus berjuang dan bertahan dengan rasa sakit yang kian kuat menjalar punggungku. Tubuhku serasa mau hancur dan remuk. Pegal! Nyeri! Ngilu! Seperti dipukuli rotan! Ditendang kerbau! Didorong oleh tangan preman dan dibenturkan ke dinding dengan tekanan kuat, atau punggungku sedang ditimpa batu besar dari gunung Sumbing. Sakit. Satu kata yang paling tepat untuk melukiskan betapa menderitanya aku saat ini. Akan aku ingat dan aku abadikan. 13 Oktober 2014.

Aku sudah mengejan tujuh kali tapi anakku tak keluar-keluar. Lelah ya Allah. Rasanya tubuhku lemas sekali. Tak ada pula yang menemani. Aku tidak boleh menyerah. Anakku sudah tak sabar ingin melihat indahnya dunia. Aku haruslah berjuang dan tak boleh mengenal kata putus asa. Kuremas erat-erat bantal di samping kepalaku. Aku mengejan keras sekali sambil berteriak.

“Ibuuuuuu......” tetap belum ada tanda-tanda akan keluar. Rasanya sakit dan semakin bertambah sakit saja. Aku lemas. Aku tidak kuat. Entah mengapa mendadak aku seperti patung yang tak mampu bergerak apa-apa. Aku mengkangkang. Tanganku mencengkeram ujung bantal. Tapi sama sekali tak ada tenaga yang aku keluarkan.

“Anakku, maafkan ibu. Ibu lelah.” Pekikku sambil mengeluarkan airmata. Aku mengharap suamiku ada di sisiku untuk memberiku motivasi. Aku juga ingin ibuku ada di sampingku. Tolonglah kecup keningku seperti dulu. Ibu datanglah untukku. Aku tidak sanggup ibu. Ibu maafkan aku karena dulu aku selalu menyia-nyiakanmu. Aku tahu ibu sangat menderita ketika mengeluarkanku. Dan kini aku baru menyadarinya. Apakah aku akan sekuat ibu? Ya Allah. Keringat membutir semakin deras di tubuhku. Rambutku saja sampai basah kuyup bermandikan keringat. Aku tidak bisa apa-apa sampai pukul 15:00 WIB. Yang kubisa hanya menangis dan berdoa dalam hati. Mengejan pun aku tak kuat. Aku pasrah. Perutku semakin serasa ditendang-tendang tidak nyaman. Punggungku mungkin benar-benar sudah robek. Apakah aku masih hidup? Ya! Antara hidup dan mati. Bukankah begitu perjuangan seorang ibu yang melahirkan?

Aku bingung. Harus berbuat apakah diriku demi anakku. Aku ingat-ingat perjuangan ibu yang tulus menyayangiku. Semakin deras aku menangis. Entah mengapa mendadak bibirku bergerak dan melantunkan syair. “Kasih ibu, kepada beta, terterhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. Bagaikan surya menyinari dunia.” Begitu berkali-kali sampai akhirnya aku mempunyai semangat baru untuk melahirkan.

“Ibuuu....” aku berteriak dan mencengkeram erat-erat seprai biruku. Letaknya pun menjadi acak-acakan. Ranjangku tak rapi lagi. Aku merasakan seperti mau buang air besar. Ada beban yang keluar dari liang vaginaku. Wahai dunia! Anakku keluar! Anakku keluar. Betapa bahagianya aku. Ya Allah terima kasih. Aku kembali mengejan.

“Demi anakku!” jeritku. Lalu mengejan lagi.
“Anakku!”

Kembali aku mengejan dan tak kupedulikan rasa sakit yang menghajar tubuku. “Demi anakku!”

"Anakku! Hidup!" kataku terus menerus.
"Anakku! Fatan!"
"Anakku, Mentari."

"Demi anakkkuuuuuuuuuuuuuuuuuuu......" aku menjerit keras-keras dan seketika itu semua tubuh bayiku keluar. Lega. Lemah. Senang. Puas. Bangga karena bisa melahirkan sendiri. Menjadi adonan perasaan yang sangat indah. Kubanting kepalaku di bantal. Dua menit sebelum akhirnya aku kumpulkan tenaga untuk bangun dan mendengar jeritan anakku yang akan menangis. Sekuat tenaga aku bangkit. Tubuhku memang lemah dan hancur karena baru saja seperti dipukul khodam neraka. Tapi–semangat demi anakku mampu membuat tenagaku tumbuh kembali. Aku tak sabar ingin menimang dan menyusuinya.

Namun, kenapa tidak menangis? Bukankah bayi jika sudah keluar dari rahim ibu akan menangis keras-keras? Kenapa anakku tidak? Oh dia kelelahan berjuang sendirian tadi bersamaku. Aku bangun dan menggendong anakku yang masih berlumuran darah dan masih terhubung dengan ari-ariku. Aku tak bisa memotongnya. Aku harap ibu segera tiba. Darah yang menyelimuti tubuhnya kuusap dengan jari-jari tanganku. Aku tak peduli dengan darah yang menyebar di ranjangku. Kamarku mendadak bau amis. Tapi aku tetap bahagia.

"Anakku, menangislah!" pekikku beriringan dengan perasaan khawatir yang mengancam jiwaku.

"Anakku," aku menyentuh-nyentuh bibir mungilnya. "Sayang," kataku lagi sambil kucium keningnya. Hey dunia, anakku laki-laki. Jadi akan aku beri nama dia Fatan Purnama. Keren bukan? Aku tersenyum dengan luluran airmata.

"Anakku menangislah," pekikku dengan tubuh yang merinding. Akhirnya kuberanikan diri untuk mendengarkan detak jantungnya.

“Anakku! Menangislah!" bibirku bergetar. Nyawaku seolah akan melayang.

Aku takut. Aku takut. Biarlah aku yang pergi jangan Fatan. Kutempelkan hidungku ke hidung anakku yang baru saja lahir. Semoga ada embusan napas yang keluar. Dan–

"Tidaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk...... Anakkkkkuuuuuuuuu....... Anakkkuuu.... Anaakkuuuuuuuuuuuu ...... Kumohon! Menangislah."

"Ibuuuu...anakku."

Aku lemah. Tubuhku berguncang hebat. Napasku sekarat. Beningku mengalir deras bagaikan guyuran air hujan deras dari langit. Hening. Suasana kamarku hening. Tak ada tangisan bayi. Hanya ada sisa perjuangan melahirkan tanpa bukti kehidupan. Oh anakku. Anakku. Aku tidak sanggup. Lemas. Dadaku perih. Jantungku seolah berhenti berdetak. Pandanganku buram. Lambat laun menggelap. Kusadar dunia menelanku hidup-hidup.


Karya: Titin Widyawati
Si Gagis Suka Melamun

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website