Headlines News :
Home » » Cerpen: "Sisa"

Cerpen: "Sisa"

Written By Pewarta News on Jumat, 27 Januari 2017 | 18.10

PEWARTAnews.com – Di ujung senja hanya mengenangkan perca-perca kehidupan yang kini telah mengusang. Dia berjalan di akhir dan enggan lagi mengenggam dunia. Jika dihadapkan dengan seni politik yang pandai membalik telapak tangan dia pasti akan terkikik dan enggan berkomentar. Katanya masalah itu sudah pernah dimabukkan waktu dulu, kini semuanya tinggal tersisa kenangan di dalam benak yang melambung nista bersama penyesalan angan. Jikalau kau bertanya adakah sebekas cinta yang sangat indah?

Dia pun akan menjawab, semuanya hanya menyisakan kisah dalam romantisme yang hadir ketika umurnya menyenja. Dia adalah sosok yang terakhir berdandan di kamar yang kini telah hampa menyisakan puing-puing cinta yang telah lama buta. Terlelap dalam rekahan sisa malam yang panjang. Namun akan terbangun tatkala malam menyisakan kenangan. Kau pasti heran dan bingung dengan dirinya. Aku pun begitu. Tapi biarlah waktu yang menjawabnya.

Setiap waktu aku mendengar suara yang tak pernah dikehendaki oleh banyak orang. Kepalaku akan berputar-putar jika aku mendengarkan desahannya lagi. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap saat, aku dimabukkan oleh waktu. Suara itu bagaikan akan menerkam nyawaku di usia yang tak patut tuk meratapi hidup. Seharusnya aku berfoya-foya dengan dunia. Tapi entahlah masa diniku tak berakhir dengan senyuman. Heranku senja saja masih mampu menyembunyikan keindahan sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya dalam pelukan malam. Kenapa aku malah sering dihantui oleh suara-suara menyeramkan itu? Kenapa?

Aku pasti hanya akan menjadi pengintip adegan menyeramkan di balik pintu dari celah engsel kunci pintu itu seperti waktu ini. Lihatlah, aku bagaikan tikus yang bersembunyi dari seekor kucing yang akan sigap memakanku hidup-hidup. Tubuhku menggigil ketakutan. Keringat dingin mengalir di keningku. Darah seolah mengguyur deras di otakku. Aku takut kejadian seperti waktu lalu terulang kembali. Aku tak akan sanggup melihatnya. Aku tidak ingin menoleh ke belakang. Tak akan! Sayangnya waktu tidak akan mengerti perasaanku.

Seperti biasa dari balik pintu kuintip, seorang bertangan kekar dengan janggut panjang yang terurai menutupi jakunnya nan naik turun itu datang mengetuk rumahku, lalu duduk di ruang tak terlalu luas yang hanya dihuni empat kursi bambu dan satu meja bertaplak kain berendra bunga di sudut-sudutnya. Ruang yang berlampu neon lima watt tanpa sebuah lukisan dan figura foto di dindingnya yang berpoles cat sewarna awan itu dihuni dua manusia yang menurutku menyeramkan. Rambutnya gondrong, bibirnya kering mengepul-ngepulkan asap di udara.

Tangan dan tubuh kekar serta kulihat dia juga lumayan gemuk. Postur tubuhnya laksana petinju yang kulihat di televisi bulan lalu, sebelum benda elektronik satu-satunya penghiburku itu dibawa pergi. Malam ini dia memakai jaket hitam berasal dari kulit buaya. Dalam khayalanku dia seperti musuhnya spiderman yang menyeramkan. Tak boleh didekati dan diganggu. Nanti kalau marah akan melakukan seperti itu.

Praaannnggg………

Yah setiap malam suara itu membuat telingaku ingin pecah. Satu jam aku melihat adegan action yang membuatku terkagum-kagum dan ingin sekali bertepuk tangan. Hore-hore! Jeritku dari balik pintu usai kulihat Ibu berhasil mengusir sosok menyeramkan itu. Aku langsung membuka pintu dan lari menghambur ke peluk Ibu. Jika lelaki itu sudah pergi aku tidak takut lagi. Aku yakin Ibu pun merasakan yang sama. Masalah suara tadi tak usah dipikirkan. Sttt... begitulah kata Ibu ketika aku ingin bertanya, 'kenapa lelaki itu sering sekali datang ke rumah kita Ibu?' beliau yang rambutnya hampir menguban dan malam ini dibalut kain batik Sidomuncul dengan warna cokelat itu akan meletakkan jemari telunjuknya di depan bibir mungilku, lalu berdesis. 'Sttt... lelaki itu jatuh cinta kepada Ibu, tapi Ibu tolak.'

Jatuh cinta? Apakah itu jatuh cinta? Aku pun tak peduli. Yang jelas sekarang aku tidak gemetar karena dihantui rasa takut lagi. Aku berjingkrak-jingkrak mengelilingi ruang tamu dan berteriak. Hore-hore! Ibuku hebat. Mampu mengalahkan musuh spiderman. Itu adalah halunasi masa lalu. Lihatlah! Aku sekarang pun masih terpaku dan terus mengintip apa yang akan terjadi di luar ruangan itu. Sekali lagi, akaku tidak berani menoleh ke belakang. Aku takut. Aku merinding.

Umurku beranjak dewasa. Tapi kelakuanku yang selalu mengintip tak pernah mau beranjak pergi. Bergetar tubuhku pun seolah akan abadi. Suara itu, suara yang semakin hari bertambah menyeramkan. Selalu hadir setiap malam ketika perutku diamuk lapar. Cacing-cacing sekarat seiring menggigilnya tubuhku dalam ketakutan. Beratus-ratus kali kejadian itu terulang. Sosok lelaki bertubuh kekar masuk ke dalam rumah membawa sebuah poster dan nama agung. Pakaiannya rapi dan berdasi. Mulutnya dipoles dengan rayuan layaknya Bang Napi. Jas hitam menampakkan kegagahan kekuasaannya. Apalagi ditambah lambang bendera merah putih di samping kanan pecisnya yang hitam.

Kulihat dia duduk dengan sopan di depan Ibu yang tangannya keriput dan berhias wajah tirus mengkerut-kerut. Menyodorkan sebuah kertas bertuliskan rentetan huruf alvabet yang entah kutahu apa maknanya. Ibu tersenyum mengambil kertas itu. Membacanya sekilas dan mengangguk paham. Lalu lelaki yang tak berjenggot seperti waktu dulu itu mengambil selembar kertas yang dapat ditukarkan dengan beras.

Aku tidak lagi berpakaian putih merah. Sekarang aku berpakaian biru putih di kelas menengah pertama. Baru saja masuk kemarin. Tentulah aku sangat berharap Ibu menerima uluran uang itu. Aku jadi bisa meminta Ibu membelikan sepeda baru untuk menggayuh langkah menuju sekolah.  Tahu sendiri jalan raya menuju sekolahanku rusak tapi belum dibenahi. Atau aku bisa makan enak malam ini. Yah malam ini, kawan. Hore! Aku akan makan enak. Tapi mendadak.

Praaannng. Aku lihat meja digebrak oleh lelaki itu. Entahlah apa sebabnya. Ibu tertawa lebar. Membungkukkan badan dan berdiri di depan pintu untuk menatap kepergiannya yang berubah airmukanya. Semula orangnya ramah tamah, mendadak berwajah masam dan tak indah. Aku keluar dari kamar. Kuhampiri Ibuku yang berbalut kain daster hitam itu sementara rambutnya disanggul. 'Mengapa orang itu marah Ibu?' Lagi-lagi ibu meletakkan jari telunjuknya dan berdesis. 'Sttt...jangan keras-keras. Dia sedang patah hati karena Ibu tolak cintanya. Istirahatlah, malam sudah jelas.'

'Tapi aku lapar, Ibu.' Protesku dengan irama yang melas.
'Kita besok masak telur yang ada di dalam tanah.'
'Bukankah telur itu dari ayam?'
'Sttt...itu kejutan besok.' Kata Ibu.

Aku yang sudah duduk di kelas menengah pertama seolah tak mampu ditipu lagi. Aku bukan anak kecil lagi. Ibu hanyalah memalingkan perhatianku agar aku tak merengek meminta jatah makan malam. Aku tahu yang dimaksud telur dari tanah itu sebuah batu. Menyebalkan. Entahlah. Sejelasnya aku tenang karena lelaki itu telah pergi.

Hari selanjutnya Ibu kembali mengurungku di dalam kamar. Ada seorang bertubuh kurus kering dengan pakaian compang camping masuk ke dalam rumahku ini. Rumah yang berdinding ayaman bambu dan beratap tanah lempung yang dipanggang di atas api itu seolah membuat kakek-kakek terkesima dengan keindahan ruangannya. Bisa kuintip dari dalam kalau kakek itu tertunduk lesu. Berbisik di depan Ibu. Entah apa bisikannya aku pun tidak terlalu mendengar. Tapi udara malam membantuku menangkap satu makna. 'Adakah nasi untukku?' Lalu Ibu membalas. 'Nasinya sudah dimakan perut di atas sana,' kata Ibu lembut lalu melengkungkan senyuman manis. Maksud Ibu apa? Ah Ibu bagaikan seniman yang pintar mengotak-atik suatu hal. Atau malah tepatnya seorang penulis yang pandai bermain kata?

Bukan! Ibu hanya pencuci baju tetangga yang sehari dibayar lima belas ribu untuk membeli beras. Aku mendengar suara kikikan aneh dari ruangan itu. Terkesan sedikit berbeda dari suara-suara sebelumnya tapi tetap saja aku takut. Entahlah apa sebabnya tubuhku terus bergetar dan aku dihunus perasaan takut yang merajam jantungku. Aku tidak ingin menoleh ke belakang. Sering keringat dingin mengalir sampai di punggungku. Seperti ada tanda-tanda buruk dari suara itu. Suara yang menyimpan kedengkian dan entahlah jelasnya apa kedengkian itu. Tampaknya tak perlu aku perpusingkan. Secepatnya aku ingin segera keluar dari kamar engap yang membuatku sesak napas ini. Aku tidak tahan. Ingin segera memeluk Ibu dan tidur di kamar Ibu.

'Besok kita basmi hama desa kita itu ya? Kita bunuh dengan santet! Kau tahu? Dia kemarin masuk ke dalam bui. Tapi bisa keluar dan jalan-jalan ke surga.' Kata kakek-kakek itu.

'Kita bunuh yang jelek seperti tikus, lalu kita abadikan yang baik agar desa kita makmur, dan aku bisa memberimu sepiring nasi untuk berpesta.' Kata Ibuku.

'Aku setuju.' Ibu dan kakek-kakek itu mengaitkan jari kelingking.

Untunglah kakek itu segera pergi. Aku lalu keluar dari kamar menghambur pelukan Ibu. Dan seperti biasa aku mengeluarkan  pertanyaan. 'Siapakah kakek-kakek itu? Apakah teman Ibu?'

'Sttt...jangan berisik, itu adalah mantan Ibu yang sedang curhat.' Kata Ibu membuat kepalaku berdenyut-denyut. Entahlah aku acuh. Ibu menuntunku masuk ke dalam kamarnya dan aku tidur bersebelahan dengannya. Mendadak ada suatu beban yang ingin aku ceritakan kepada Ibu tentang kamar itu. Kamar yang bertahun-tahun menyekapku dengan kebodohan belaka dan membungkam mulutku agar tak bersuara. Enaknya orang dewasa bisa berkeluh kesah kepada siapa saja yang baru dikenal. Tapi aku? Bahkan untuk membuka dan menceritakan isi kamar itu belum juga berani. Setiap kali aku ingin memulai pembicaraan. Ibu meletakkan jemari telunjuknya di depan bibirnya.

'Sttt...jangan berisik, nanti menganggu orang tidur di kamar sebelah itu.' Baiklah aku menghela pasrah. Aku tidur di atas kasur yang tak empuk. Berselimut sarung tak hangat dalam pelukan Ibu. Umurku memang sudah cukup lumayan besar. Tapi tak ada kamar tersisa yang ada di rumahku, hanya kamar sebelah dan kamar Ibu, jadi mau tak mau aku tidur saja bersama Ibuku. Seharusnya kamar sebelah itu adalah kamarku waktu dulu, tapi semenjak Bapak pulang malam bersama perempuan yang katanya saudaranya itu. Aku disuruh tidur bersama Ibuku untuk sementara waktu. Katanya takut mengganggu pesta dengan saudaranya itu yang akan meriah dalam balutan malam.

Apa itu pesta? Aku juga belum terlalu paham. Sejelasnya wanita itu sangatlah cantik. Tapi...sttt jangan bilang-bilang yah? Ada satu rahasia tentang Bapak yang belum terbongkar. Kutahu perempuan itu adalah selingkuhan Bapak. Sttt..jangan bilang-bilang ya? Nanti Ibuku marah. Walau mungkin sebenarnya Ibu lebih tahu dari pada diriku. Tapi entahlah, sebagai anak yang belum dewasa mungkin aku harus diam dan tak berbuat apa-apa.

Kali ini aku benar-benar dewasa. Kau tahu bagaimana dewasanya aku? Aku kuliah di sebuah universitas favorit di kotaku. Lihatlah kata cewek-cewek kampus aku cowok terindah yang pernah mereka lihat. Itu pujian yang menakjubkan. Duniaku sempurna. Kau tahu kenapa? Jangan bilang-bilang ya? Setiap malam aku bisa main bersama cewek-cewekku sampai puas loh. Hihihi... aku mencontoh perilaku Bapak. Semasa kecil aku sering melihat adegan itu di dalam kamar. Adegan yang tak layak untuk dibahas panjang lebar. Kau tahu apa itu bukan? Sttt..jangan keras-keras berbicaranya. Nanti ketahuan Ibu.

Yang jelas itu adalah sensasi cinta yang menggairahkan dan tak akan pernah terlupakan. Sewaktu pulang ke kampung, aku bertanya kepada Ibu. 'Ibu pernahkah mendapatkan keindahan cinta dalam hidup?' Beliau membalas. 'Semuanya hanya tinggal menjadi kenang-kenangan yang menyisakan puing-puimg derita Nak. Kau tahu bukan Bapakmu dulu selingkuh?' Kata Ibu iba. Yah kasihan sekali nasib Ibu. Dia sudah bangun pagi untuk memasak makanan. Bersih-bersih rumah. Mengurusi diriku pergi ke sekolah. Malamnya seharusnya melayani Bapak di dalam kamar tempatku dikurung itu. Sayang malah Ibu digantikan tugasnya untuk menemui tamu-tamu Bapak yang tidak penting.

Aku dengar ada demontrasi besar-besaran di Jakarta mengenai partai politik. Ketika pulang aku mengingat masalalu Ibu. Apakah ketika kecil juga ada kejadian seperti itu? Dengar-dengar juga ada suap-menyuap uang dalam politik. Aku bertanya apakah juga ada? 'Ketika kecil, adakah suap menyuap uang politik, Ibu?' Ibu menjawab. 'Tentunya ada, bukankah malam itu kamu mengintipnya?'

Aku memutar klise masa lalu dalam benakku. Oh ya! Waktu itu. Benar sekali, tatkala seorang lelaki berjas mengulurkan beberapa lembar kertas.

'Jadi sasarannya adalah orang lemah dan tak mampu yang mudah dibodohi. Sebelum itu masa muda Ibu dulu pernah mau menerima uang itu, tapi malam itu Ibu menolak. Tampaknya tak perlu Ibu indahkan dunia ini dengan permata. Kau tahu Nak? Umur Ibu tersisa kenangan saja.'

Ah Ibu terlalu membuatku merinding. Tak enak sekali ucapan Ibu. Aku duduk di ruang tamu yang dulu pernah diduduki beberapa lelaki yang tak kukenal itu. Kualihkam topik Ibu yang mengerikan. Aku ingin meminta ijin kepada Ibu agar boleh membawa pulang satu perempuan ke dalam rumah. Kau tahu? Aku cukup dewasa saat ini. Dan aku sudah pantas menempati kamar yang dipakai Bapak berpesta dulu itu. Ibu tak mengijinkan. Aku marah! Kutampar Ibuku hingga sudut pipinya berlumuran darah. Aku kabur dari rumah. Di kota kulampiaskan emosiku ketika hasrat bercintaku menggebu.

Bertahun-tahun aku tidak pulang ke rumah. Di kota aku semakin gila menikmati dunia. Tiap malam melayang-layang, esoknya otakku terbang dengan ramuan ganja. Ah sialnya hari ini aku ditangkap polisi. Perasaanku sungguhlah hancur berkeping-keping. Bukan karena ditahan dalam penjara. Melainkan karena Ibu yang kusuruh menebusku keluar malahan eloknya berkata, 'rasakan saja dengan syukur karena menikmati dunia.'

Aku memekik 'bangsat' Ibu macam apa membiarkan anaknya di dalam penjara. Aku tak akan pernah mengampuni dosa Ibu. Biarlah kukubur dukaku dalam derita senja. Berbicara soal senja? Umur Ibuku mendekati senja. Kata tetangga yang kemarin menengokku di penjara. Bapakku telah lama insyaf. Kau tahu bukan? Sekarang dia sudah rajin pergi sembahyang. Syukurlah kalau begitu, setidaknya di usia senja ini Bapakku akan pergi dengan pahala. Aku tak mengira jika kabar menyedihkan pun akan datang ketika aku di penjara. Memang kabar Bapakku bagus. Tapi sebaliknya dengan Ibuku. Kau tahu? Ibuku menyisakan kenang-kenangan umurnya di waktu renta. Dia meningglkan aku. Di saat aku dipenjara dan di saat aku juga didiagnosis menderita penyakit HIV AIDS. Betapa menderitanya hati ini, apakah kau tahu? Dunia seolah rontok menimbunku hidup-hidup. Aku tersiksa saat ini. Aku menderita. Ingin aku memulai kehidupan baru yang lebih menyenangkan. Sayang aku tak lain berbeda dengan para penguasa berdasi biru yang menyisakan penyesalan bahagia dalam hidupnya.

Hidup yang dulu pernah diukir Ibuku agar menjadi lebih mapan, malah menyisakan sebuah harapan palsu. Aku kuliah tak serius. Berfoya-foya menggunakan uang Ibu yang dihasilkan dari sisa-sisa tenaga rentanya. Bapak yang kuharap bisa mendidikku menjadi baik malah tak mampu mekukiskan kebaikan itu. Semuanya tinggallah sisa dari arti kehidupan yang sementara. Apakah kau masih bingung dengan perkataan sewaktu lelaki itu datang dan beliau bilang, menolak cintanya itu? Sampai sekarang pun aku belum tahu jawabannya yang pasti. Ibuku telah menyisakan hidupnya dalam bongkahan misteri kalimat-kalimat yang tak kupahami.

Aku tersungkur dan rapuh dalam penjara ini. Aku menunggu sisa umurku yang sebentar lagi akan dicekik malaikat maut. Yang jelas jangan contoh hidupku ya? Kau tahu mengapa? Karena semuanya hanya akan menyisakan kenangan yang pahit. Tak elok sekali jika kau contoh perilakuku yang bejat. Biarlah sisa kesuraman hidupku ini tersimpan dalam memori ingatan senja. Kau tahu kapan senja punya ingatan? Entahlah aku juga bingung. Memikirkan nasib sisa hidupku yang dirundung penyakit mematikan ini saja aku sudah pusing tujuh keliling, apalagi memikirkan senja mempunyai memori. Entahlah! Buat apa aku perpusingkan. Satu hal yang kuminta dari kalian... sttt... jangan bilang-bilang sama cewekku ya kalau aku dipenjara. Baiklah kita mengikat janji. Selamat malam kawan. Semoga harimu indah.


Di kamar, 02 Oktober 2014

Karya: Titin Widyawati
Si Gagis Suka Melamun

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website