Headlines News :
Home » » Mutiara di Wajah Bangkai

Mutiara di Wajah Bangkai

Written By Pewarta News on Selasa, 17 Januari 2017 | 11.33

Titin Widyawati.
PEWARTAnews.com – Begitu menyapa lengkungan senyumnya akan meranggaskan kemuramam hati mawar yang layu. Gelegar ucapnya yang ramah berperingai teduh dalam menyambut kegersangan batin rakyatnya. Ia tegak seperti tiang bendera di pusar lapangan yang tak doyong diembus angin. Berwibawa dengan bekas baju seragam kantor yang selalu disetrika rapi. Jam tangan melingkari lengannya untuk menepuk kemalasannya agar tak terlambat hadir. Maka saat rakyat berbondong-bondong mengkambinghitamkan tampang malas di rumahnya usai jam kantor, ia akan turut berduka cita, meski tak ada nyawa yang melayang. Uang dihambur dalam tuang meminjamkan. Waktu menjelegar menggosipkannya penuh suka cita. Berwibawa. Ramah tamah. Baik hati. Muaranya suka menolong rakyat miskin.

“Pak Lurah itu baik hati ya? Kemarin saya kehabisan uang untuk biaya sekolah putra saya, terpaksa saya datangi rumah Pak Lurah. Eh kau tahu?” seorang ibu-ibu renta berparas keriput, dengan rambut yang beberapanya tak lagi hitam, meluncurkan satu kalimat pujian. “Beliau meminjamkan uangnya dengan tulus dan tersenyum ramah. Itu indah sekali. Saya bangga menjadi rakyatnya.”

“Beliau memang baik. Peduli dengan rakyat bawah." Janda tiga bulan yang baru saja ditinggal suaminya merantau ke alam baka berkomentar. Tubuhnya belum mengendor, meski sudah berputra dua, kembar pula. Mawar segar masih kalah merah dengan bibirnya, meski ia selalu ditetesi embun kesegaran. Rambutnya yang panjang sepunggung digulung dalam sanggul. Kedua telinganya memakai anting-anting. Tak ada gurat duka di wajahnya, meski waktu mengatakan kepergian suaminya belumlah lama.

Dua gadis tak perawan itu berjalan beriringan menuju pasar kebanggaan kampung Sukajaya. Kedua tangan mereka menjinjing ranjang belanjaan. Beberapa kendaraan berjalan saling kebut di atas aspal. Mengiramai obrolan mereka yang melesat cepat seputar Pak Lurah. Sebut saja beliau Tohar.

"Tapi saya dengar gosip istrinya Pak Lurah pelit." Janda itu memanasi suasana.

"Ah, kau salah paham, Jeng. Tak mungkin Pak Lurah yang baik budiman berumahtangga dengan istri yang pelit. Mungkin kabar itu hanya isu belaka."

"Aku sepakat denganmu, yang menggosipkan itu orang gila." Kata janda tersebut mantap. "Tapi, aku masih kurang yakin jika yang berkata adalah orang gila." Belum sampai beberapa detik berlalu, pendapatnya sudah berubah.

****

Setiap pagi mekar di pegunungan Timur meninggalkan fajar,  usai salat subuh, Pak Lurah memoles aspal dengan telapaknya tanpa alas sendal. Lari kecil-kecil menghirup udara segar yang semalam ditimbun di balik dedaunan rimbun. Menyapa ibu-ibu yang sedang sibuk menggesek-gesek tanah dengan sapu lidinya. Melempar senyum kepada simbah-simbah yang esok hari menikmati kopi pahit di beranda rumah. Berteman siulan burung piaraan warga yang dikurung dalam sangkar. Mengelus bahu putra-putri desa yang sibuk mengangsur langkah menuju sekolahan. Begitulah kesetiaannya setiap pagi masih menguning dalam pelukan mega. Celoteh jago milik tetangga-tetangga pun ikut menjadi saksi pekerjaan Pak Lurah. Barulah saat menit bertengger pada angka tiga puluh, pukul lima, beliau akan kembali pulang, siap-siap ke kantor kelurahan. Begitulah pekerjaan beliau tanpa mengenal bosan. Senyumnya pun tak pernah usang.

"Benar-benar teladan yang baik hati."
"Kita patut mencontoh!"

"Anak kita harus dididik menjadi generasi yang berwibawa dan ramah kepada rakyat seperti Pak Tohar." Tak heran, pujian sering menggaungkan suara merdu di sana sini tanpa jeda.

Hari berlalu, minggu ditimbun waktu, bulan diselingkuhi masalalu, pergantian tahun pun selalu menunggu. Semula musim kemarau, lantas retakan sawah bertebaran di mana-mana. Senyum Pak Lurah tetap tak pernah gersang. Hingga bulan menjemput musim penghujan, bertambah basahlah bibir sang pujaan rakyat jelata.

Bulan Mei rakyat diperpusingkan membakar bahan makanan. Gas elpiji nyaris punah. Harganya melonjak drastis. Rakyat mengadu penuh keluhan. Beliau tentu tak tinggal diam. Sebagai seseorang yang bijaksana tentulah harus segera menangani pokok permasalahan. Kebetulan Bu Lurah juga memiliki toko kelontong di pinggiran pasar. Beraneka macam jajanan tersedia di sana, tak lupa tabung gas tiga kilogram.

"Kalau mau beli jangan lebih dari satu, sisakan kepada orang lain." Seru Bu Lurah bijaksana. Benarlah, tak boleh ada pembeli yang mengambil gas lebih dari satu. Harga yang diberikan cukup mencengangkan tenggorokan orang miskin. "Dua puluh dua ribu lima ratus, gas memang sedang mahal." Tutur Bu Lurah suatu ketika saat ada seseorang yang bertanya. Waktu memekik. 'Apakah Bu Lurah benar bijaksana?'

"Boleh ditawar? Di toko sebelah hanya dua puluh ribu, Bu."

"Tidak boleh." Harga sudah paten. Pembeli yang berpakaian tak rapi dengan sorot mata iba itu pun melenguh panjang. Ia usap keringat yang menyemut di dahinya, lantas beranjak dari toko Bu Lurah. Pulang membawa oleh-oleh kekesalan. Uang dikantong tinggal dua puluh ribuan. Anak dan suami belum makan seharian. Alasan masuk akal, gas elpiji sedang jarang.

"Bagaimana ini? Dulu sewaktu kita masak pakai kayu, pemerintah menyuruh kita memakai kompor gas, giliran rakyat sudah memakai kompor gas, gasnya sulit, harganya mahal pula. Bu Lurah juga pelitnya minta ampun!" Suaranya berkoar di tengah jalan. Ibu-ibu yang setiap senja dibunuh lapar jika tak merumpi, menggerombol di teras rumah milik seorang tetangga. Mulut mereka mengadukan bias kekecewaan.

"Benar kan kata saya dulu, Bu Lurah itu memang pelit, hanya Pak Lurah yang baik hati. Coba lihat saja, Pak Lurah setiap pagi mau berjalan keliling mengitari rumah-rumah penduduk desa Sukajaya, apakah kalian pernah melihat Bu Lurah melakukan hal itu? Senyum pun jarang!" janda beranak kembar itu berkata apa adanya.

"Sudah-sudah! Hanya masalah sepele gas seperti ini kenapa harus diperpusing?" seorang ibu setengah renta yang sering memakai jilbab sebawah dada menengahi. "Lagi pula orang jualan itu kan wajar kalau mencari untung!"

"Tapi gas di Bu Lurah itu mahal sekali, Bu!"

Bu Lurah. Terkenal pelit, juga penjunjung prestise. Auranya di depan rakyat bertolak belakang dari Pak Lurah. Wajahnya putih berbedak impor. Gelang emasnya melingkar bergram-gram. Pakaiannya selalu ber-merk. Tasnya mengkilat-kilat menampakkan harga ratusan ribuan. Senyumnya jarang diumbar. Parasnya selalu menampakkan raut marah dan tegang. Pekerjaan sehari-hari rapat entah macam apa. Seusai siang, loncat ke toko kelontong yang kebetulan tak jauh dari rumahnya. Karyawannya digaji sebulan lima ratus ribu, meski sudah ikut bertahun-tahun menjadi babu, lembaran gaji tetaplah sama. Membuat rona Suminah, si karyawannya itu berwajah masam di muka publik.

Pernah suatu ketika datang gelandangan ingin meminta sebotol minuman mineral. Mulut Bu Lurah langsung monyong lima senti. Gincunya yang melebihi merahnya darah pun terlihat amat menjijikkan diadu dengan air liur. "Beri satu, lalu suruh dia pergi, jangan biarkan dia meminta lagi!" pesannya kepada Suminah. Pembantunya pun taat dan tunduk.

"Lain kali suruh bayar kalau masih kembali!"

'Astaghfirullah, pelit sekali bosku ini.' Gumam Suminah dari dalam hati.

****

Kebiruan langit mulai pudar. Merah-merah menjilat kegelapan. Awan menggulung siang. Ratap penduduk desa Sukajaya belum berhenti untuk pulang. Mereka mencari-cari gas elpiji untuk menyambung kehidupan. Toko Bu Lurah kosong, di toko-toko pinggiran jalan juga melompong. Akhirnya rela mereka tarik gas motor untuk menempuh perjalanan berkilo-kilo meter demi mendapatkan gas elpiji.

"Ya Tuhan, untuk mencari gas saja susahnya minta ampun! Kenapa rakyat bawah selalu menderita?" sebuah pertanyaan yang tak mampu dijawab oleh siapa pun.

Sampai suatu ketika, datang bantuan dari pemerintah. Mobil truk berisi puluhan tabung gas melon terparkir di depan gedung balai desa. Rakyat berbondong-bondong mengantre di sana. Gas tersebut didapat dengan harga enam belas ribu rupiah. Bu Lurah mengetahui kabar tersebut. Secepat mungkin beliau gayuh ponsel nokia tak canggihnya dari saku baju. Mencari kontak suami tercintanya.

"Pak, ada bantuan gas elpiji dari pemerintah di balai desa. Benarkah begitu?" suara itu merayap dalam kecamuk siang yang membakar tenaga kuli bangunan. Dari kantor kelurahan, Pak Lurah menyahut obrolan.

"Iya, Bu. Tapi boleh ambil gasnya dengan syarat satu tabung membawa satu KTP." Turur Pak Lurah lugas.

"Yasudah, tunggu di sana." Bu Lurah memutus hubungan.

Bu Lurah keluar dari toko. Bergegas pulang untuk mengambil KTP keluarga. Tak hanya itu, beliau bahkan meminjam puluhan KTP milik tetangga juga sanak saudara. Warga saling berkerut kening. Ada apakah gerangan? Pertanyaan terlontar tanpa kejelesan yang berarti. Suminah diutus mengusung tabung gas kosong dari toko sampai kelurahan. Berjalan kurang lebih 100 meter bolak-balik membawa beban tiga kilogram, kanan kiri, total enam kilogram. Keringat merembas masuk melalui celah pori kerudung tipisnya yang  laksana saringan tahu. Bibirnya bergumal kesal sementara wajahnya dipasang muram.

"Apa-apaan ini? Nyuruh bawa tabung gas banyak sekali? Gas bantuan dari pemerintah itu kan diperuntukkan bagi orang miskin, kenapa Bu Lurah dan Pak Lurah sepakat membelinya untuk dijual kembali?" Protesnya kepada angin lalu. "Ternyata Pak Lurah yang baik hati itu hanya manis di depan publik, hatinya busuk seperti bangkai!" Celoteh Suminah saat mendapati Pak Lurah mengambil puluhan KTP penduduk dari kantor kelurahan. Ia memberikannya kepada petugas elpiji mengatasnamakan warga desa Sukajaya.

“Hanya untuk orang miskin!” teriaknya seraya membanting tabung gas elpiji di belakang kerumunan warga yang mengantre. Harap-harap telinga Pak Lurah tidak tuli lantas sadar di kemudian hari. "Cuih! Mutiara di wajah bangkai! Di depan manis, ternyata berhati pahit!" umpatnya terakhir kali seraya bergegas kembali ke toko kelontong Bu Lurah. Gas-gas yang sudah diisi diangkut menggunakan mobil pick up. Lantas dijual dengan harga dua puluh dua ribu rupiah kepada warga desa. Suminah semakin muntab. Jika bukan karena terpaksa untuk mempertahankan pekerjaan di desanya yang paling dekat dari rumah, jelaslah ia sudah dari dulu kabur melenyapkan diri menjadi babu Bu Lurah.

“Jangan bilang kalau gasnya dari bantuan pemerintah, jika ada orang yang bertanya ambil dari mana kenapa bisa banyak sekali, jawab saja 'tidak tahu'.” Pesan Bu Lurah kepada Suminah. Jelaslah ia tahu jika sampai warga mendengar berita penimbunan gas oleh Pak Lurah dan Bu Lurah, nama baik Pak Lurah akan menjadi kayu rapuh yang dimangsa rayap. Musnahlah sudah.

Tapi jauh di belakang jiwa Bu Lurah sana.

“Oh Brengsek! Kemarin saya mau ambil gas bantuan malah KTP saya dipinjam oleh Bu Lurah, sialnya sekarang saya harus beli di toko kelontong Bu Lurah.” Janda beranak kembar itu mengadu kepada tetangga-tetangga. “Tak ada beda Pak Lurah dengan Bu Lurah, rupanya mereka berdua sepakat.”

Selesai, Jombor 14 Juni 2015.


Karya: Titin Widyawati
Si Gagis Suka Melamun

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website