Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Cerpen: "Lembaran Kertas"

    Ilustrasi. Foto: darussalaf.or.id.
    PEWARTAnews.com – Ia membayangkan yang ia remas adalah serpihan mentari retak. Ia merintih di dalam kolam salju menahun. Berusa ha berbiak walau langkah beribu-ribu tumbang. Mengusir perih, meskipun sekarat merayu kematian. Kursi terbalik, meja bergetar. Pandangan berpendar. Dan tak ada seorang pun yang nenjadi kawan. Alam justru menjadi lawan, hujan menghajar ketenangan. Miris, ia mengaduh. Kening berpeluh.  Reruntuhan air dari langit tak mau memberi kesempatan telinga lain mendengar. Egois. Guntur mentertawakan keadaan yang menyesakkan. Kabut mengubur cahaya terang. Pemuda itu nyaris kehilangan kata sadar.

    “T.o.l.o.n.g!” Lirih. Waktu pun nyaris tak mampu mendengar. Cicak di dinding merayap perlahan. Mengamati nyawa yang terkapar di ruang makan. Sendok juga kekasihnya garpu terpelanting di atas lantai. Nasi berserakan. Piring pecah. Darah mengalir dari telapak tangan. Temaram. Guntur bersahut-sahutan. Angin mengembuskan aura kelam di tirai jendela. Bingkai gelap. Lantai marmer semakin mendinginkan tubuh. Menyiksa raga rapuh yang terlempar dari atas kursi kayu. “Aku mohon, Tuhan tolong aku!”

    Dadanya bak dilempari batu dari neraka. Jantungnya dijerat tambang yang tergantung. Napas disumpal tanah hingga mampat. Sekujur tubuh berkeringat dingin. Wajah pias membiru pucat pasi. Jangankan beranjak meminta bantuan pada tetangga, berteriak saja ia sudah kesusahan. Yang renta beranak-pinak uban di atas kepala. Dipermatai arloji seumur senja di tangan kanan. Hidup setia bersama cucu semata wayangnya dan kucing hitam yang sedari tadi meringkuk di depan perapian. Kucing itu terbangun dari tidurnya saat ia jatuh dari kursi. Sendok dan garpu terpelanting menciptakan bunyi yang gaduh. Cucunya sedang berlari menerobos hujan.

    “Meong!”

    “Tolong!” Bergetar Bibirnya. Semakin erat tangan kiri meremas dada kiri. Perih. Sesak. Pening. Ia mempertaruhkan nyawa pada seutas senyum pelangi. Bersusah payah mewarnai kanvas gulita dengan percikan airmata. Berharap semuanya hilang. Ia pun terpejam dari penderitaan. Tempe bacam yang terlempar didekat kucing tak berkutik, saat hidung makhluk itu mengendus tubuhnya.

    Semua rambutnya basah. Air meresap ke celah pori kain. Tubuhnya menggigil. Dan ia terus berlari menyibak hujan di bawah langit yang muram. Mega indah yang biasa mengintip malam tak tampak. Jingga membeku kedinginan. Alam menangis Ia menahan tangis. Membayangkan Ibu dan Ayah yang melesat ke negeri tetangga. Sepuluh tahun dalam kenangan menggendong tubuh kecilnya di punggung terpungkur, maju di masa depan menjadi angin lalu pilu.Tak pernah ada berita tentang kerinduan mereka.

    Sosok yang membuatnya terlahir ke dunia, seolah menguburnya hidup-hidup dengan penderitaan. Ia ditinggalkan sendirian bersama Kakek yang sakit-sakitan. Sehari memakan hasil dari pekerjaannya memulung sampah di emperan selokan, atau di tempat-tempat sampah pertokoan. Masuk tanpa alas ke dalam pasar-pasar induk yang kumuh. Bergerumul setiap waktu dengan teman-temannya lalat dan cacing. Bau busuk menjadi parfumnya. Begitulah takdir yang ditimpakan kepada Karina.

    Senja itu rambutnya menempel erat di punggung. Wajah sembabnya dibasuh oleh ratapan hujan. Ia menggigil di depan apotek kota. Ragu-ragu mendekati apoteker. Menjinjit-jinjit. Tampak menyedihkan. Bibir membiru. Kukunya putih pucat. Tak ada payung yang menaunginya dari tetesan hujan.

    “Bolehkah saya membeli obat?”

    “Obat untuk apa?”

    Umurnya lima belas tahun. Ia tak mengecap bangku sekolah. Kecerdasannya didapatkan dari alam juga masalah-masalah sosial yang sering ditemuinya di jalanan. Ia bahkan tak sanggup membaca, hanya mampu mendengar. Lantas sangat malang, sebab yang didengarkan hanyalah suara-suara menyedihkan. Orang berkelahi merebutkan gadis di sudut malam. Orang yang berebut barang dagangan di pasar-pasar. Mendengar berita-berita politik dari televisi yang biasanya dipsang di ruko-ruko jalanan.. Terakhir orang yang berkeliaran mabuk mengumpat-umpat di trotoar kota.

    “Untuk menyembuhkan penyakit jantung!”

    “Ada resep dari dokter, Dek?”

    “Tidak ada. Saya tidak punya uang cukup untuk membawanya ke dokter, Bu!”

    “Kami tidak sanggup memberikan obat untuk penyakit serius tanpa resep dokter!”

    “Obat yang sanggup menahan rasa sakit!” Ia tak putus asa.

    “Maaf. Dek. Kami tetap tidak bisa. Bawalah orang tersebut ke rumah sakit. Barulah  datang kembali kemari setelah mendapatkan resep dokter!”

    “Dengan apa saya membawanya?”

    “Ada jaminan kesehatan kartu BPJS untuk orang miskin,”

    “Saya tidak membuatnya, kata tetangga kartu itu harus dibayar perbulan, pekerjaan saya sebagai pemulung tidak akan mampu untuk itu.”

    Apatoker dengan rambut yang diikat ke belakang itu mendengus. Iba.

    “Bisakah menolong saya? Saya hanya hidup bersama kakek saya, Ibu dan Ayah merantau ke luar negeri, entah masih hidup atau tidak, dari saya kecil sampai saat ini mereka pergi tak pernah kembali. Jika Kakek saya meninggal.............” ia menahan cairan panas. Bening mengendap di sudut mata. Suaranya serak. Guntur menyambar. Air yang meresap di kainnya luruh, jatuh di atas mamer putih yang bersih. Neon menyorotnya malang. Hari menggelap. Sinar mentari padam.

    “Maaf, Adek.” Kabar buruk terkulai. Tubuh anak itu lemas di tempat. “Saya tidak tahu hendak berbuat apa.”

    Ia mundur. Memecahkan tangisnya. Kembali lari menerobos hujan menuju rumah. Uang sepuluh ribu masih tergenggam erat di tangannya. Ia mengumpat, orang dewasa selalu egois, jarang yang memiliki hati nurani.

    Lelaki tua itu tiga menit lalu tak sadarkan diri. Kucing mondar-mandir di dekat tubuhnya. Mengendus-endus nasi yang tumpah, sesekali mengendus pipi tuannya. Karina mematung di pintu rumah. Ia lari menyadari tubuh kakeknya sudah terkelepar di atas lantai. Ada bercak darah. Ia ketakutan. Menggoyang-goyangkan tubuh Kakek. Memanggil-manggil mengalahkan rintikan hujan. Tak ada gerakan yang berarti. Embusan napas mati.

    Karina terduduk pasrah. Ia memeluk lutut dalam tangis. Membayangkan hidup suram yang akan bertambah kelam. Tirai jendela menjadi saksi malam  yang mengenaskan. Kucing itu tertidur kembali. Perapian mati. Ruangan diselubungi dengan kegelapan. Tak ada percikan sinar rembulan yang menenangkan. Karina terisak.

    “Kakek, jangan meninggalkanku sendirian!”

    “Tuhan mengapa kehidupan orang lemah sepertiku selalu diperjual-belikan dengan selembar kertas? Kami sering tak tertolong! Bagaimana dengan orang-orang yang hidup di bawah neon terang itu? Mereka justru menyia-nyiakannya! Bolehkah aku  mengumpat bahwa hidup yang Engkau berikan itu tidak adil disebabkan lembaran-lembaran kertas duniawi? Mengapa kau tidak menciptakanku agar sanggup mengecam nikmatnya pendidikan, supaya jika besar nanti aku dapat bekerja menjadi dokter untuk menyelamatkan hidup Kakekku! Itu saja tak lebih!” Ia tergugu di hadapan mayat Kakek tercintanya.

    ***

    Kelu batin pemuda yang duduk sendirian meratap di kamarnya. Ia membuka jendela lebar-lebar. Mengusap peluh berkali-kali. Merintih pada hujan yang tidak memberkati perjalanannya menyunting kasih sayang. Perjuangan untuk mendapatkan makna tulus dihancurkan guntur yang riang mengacaukan ketenangan. Jemarinya menggenggam bingkai foto. Sosok berwajah manis sedang tersenyum memandangnya. Ia membayangkan jika perempuan berkerudung putih itu sedang berada di sisinya, menyentuh pipinya lembut, menghapus airmatanya yang menyakitkan. Ilusi. Semuanya hanya mimpi. Pada kenyataannya ruangan itu kosong. Kasur empuk berguling dengan selimut dan bantal. Meja belajar yang diseraki buku-buku perkuliahan hukum menatapnya sangsi. Detik waktu berdetak lamban. Seakan memaksa tuannya menikmati kepedihan.

    “Banyak gadis yang lebih baik darinya, Anakku? Banyak pula gadis yang menginginkanmu? Mengapa hatimu tidak sanggup melupakannya?” Kalimat Ibunya terngiang. Memantung pada dinding yang dicat lautan.

    “Ibu! Aku mencintainya. Ia yang membuat hatiku luluh dan yang selalu aku pikirkan!”

    “Anakku, Ibu tahu perasaanmu, namun Ibu tidak ingin hidupmu menderita!”

    “Aku tidak akan pernah menderita Ibu. Justru hidupku akan kacau jika aku dipisahkan dengannya. Ia adalah gadis yang cerdas meski tidak duduk di bangku sekolah. Ia juga sosok yang selalu menjaga kehormatannya. Tuturnya lembut tidak seperti gadis-gadis yang hanya pandai berdandan di kampus-kampus. Ia adalah figur kesederhanaan namun sejujurnya penuh dengan pesona yang menakjubkan!”

    “Kau selalu membelanya karena kau mencintainya, Anakku. Baik itu datang dari cintamu yang dibutakan!” Ibu melawan. Otot-otot lehernya menegang. “Gadis itu hidup di lingkungan kumuh, ia juga tidak mengecap pendidikan, kau terjual murahan untuknya, Anakku! Cobalah hilangkan perasaan cintamu yang mendalam itu! Cinta hanya kenikmatan sementara waktu, pikirkan masa depanmu! Pikirkan kehidupanmu yang layak dan mulia, Anakku! Bagaimana mungkin Ibu yang sangat mencintaimu membiarkan dirimu melamar gadis miskin yang tidak berpendidikan itu?”

    “Apa gunanya harta jika hidupku menderita, Ibu?”

    “Kau akan mengerti jika sudah beranak-pinak, Anakku!”

    Ia pasrah. Masuk ke dalam kamar. Membanting pintu kuat-kuat. “Tuhan! Kenapa kau tak menciptakanku menjadi orang yang sangat miskin saja agar aku dapat meminang gadis yang aku cintai?” Ia menangis di sisi jendela. Hujan menyaksikannya dari luar. Malam sunyi. Tak ada rintihan kecuali dari batinnya yang dingangakan luka. Gelap itu memantulkan senyum gadis yang dicintainya. Membumbungkan kenangan di depan lautan. Menerbangkan sejuta angan yang dulu pernah diciptakan bersaksikan gulungan ombak-ombak. Ia menggigit bibir.

    “Sebentar lagi aku akan menikahimu, Sayang!”

    “Emmm... sungguh?”

    Lehernya mengangguk yakin. Gadis itu menarik bibir, tersenyum menyenangkan, meneduhkan, melenakan. Lautan indah. Tak tenang sebab ombak menghantam karang. Namun ia tenang usai mengucapkan kalimat yang menyejukkan di dada. Langit memerah. Mentari tinggal setengah tubuh di Barat. Indah jingga menyatu dengan oranye, bercampur birunya langit dan lautan. Burung-burung camar mengepakkan sayap berjalan pulang.

    “Kita akan hidup berdua, Sayang! Tak ada yang akan mengganggu!”

    “Itu suatu kalimat yang indah. Aku berharap takdir menyatukan cinta kita, Mas! Aku amat sangat mencintaimu! Aku tidak ingin kau meninggalkanku!”

    “Percayalah padaku!”

    Cincin masih tersimpan di dalam kotak. Ia memandang kotak hitam di atas meja belajar. Nanar. Ngilu batinnya membayangkan. Kelopak mawar tumbang. Kemeja yang dikenakannya tak lagi menciptakan kata rupawan. Ia terlukis oleh fatamorgana dengan kata menyedihkan. Nirwana hendak menertawakan. Takdir mencemooh. Ia tumbang.

    “Mungkinkah perasaan juga dapat dibeli dengan kertas?”

    “Untuk apa orang bersekolah tinggi, jika ia saja tidak tahu makna pendidikan yang sejujurnya? Untuk apa aku sekolah jika pada akhirnya aku harus dipekerjakan agar sanggup menimbun uang sebanyak-banyaknya? Lebih baik kutanggalkan semuanya!Aku ingin mnjadi orang yang tidak sekolah, agar dipersatukan dengan kekasihku!” Ia menggebrak meja. Kotak cincin terpelanting. Jatuh di atas lantai. Terkulai!

    Ia remas kepalanya. Mengacak rambutnya. Luka bertambah dalam. Aimatanya menitik deras. Guntur menyambar. Hujan terus menyeringai. Ibunya mengintip dari celah pintu yang tak terkunci. Berdiri mematung. Membiarkan putranya terlena dengan luka yang menguliti jantungnya. Ia menggumam, semuanya dilakukan demi kebaikan putranya.

    “Harta telah membutakan perasaan seseorang, bukan cintaku yang buta! Ibuku yang buta dengan harta!”

    Wanita itu menangis. Mengelus dada. “Bagaimana aku sanggup menikah dengan gadis lain? Sementara aku tahu gadis lain belum tentu sebaik dirinya! Ia memang bunga yang tidak tumbuh di taman, ia tumbuh di selokan. Namun tetap indah! Tak ada seorang pun yang berani menyentuhnya!”

    “Anakku! Apa pun yang terjadi, Ibu dan Ayah tidak merestui cintamu dengan gadis miskin itu!” Kata menyakitkan meluncur kembali. Pintu terbuka. Wajah wanita setengah tua tampak jelas sedang menangis. Suaranya bergetar. “Bukan karena Ibu ingin melihatmu hancur seperti ini, Nak! Ibu hanya memikirkan masa depanmu!”

    “Apakah Ibu tahu apa itu masa depan? Mungkinkah masa depan hanya digambarkan dengan kemewahan harta dan sosok gadis mulia yang terjaga nama baiknya oleh harta?”

    Diam. Ibu tak mampu menjawab. “KELUAR! TINGGALKAN AKU SENDIRIAN! MAKAN SAJA UANG YANG KAU TIMBUN, IBU! Aku akan mencari pekerjaan sendiri, dan dengan hasilku aku akan meminang kekasihku!”

    “Nak, sadarlah cintamu itu tidak benar!”

    “Dia gadis solehah, cantik, cerdas, lembut, apa yang dikatakan salah jika aku mengagumi gadis itu?”

    “Sudah! Istirahatlah,” Pintu ditutup rapat.

    Bersamaan itu, telepon satelitnya berdering. “Mas, kau kata hari ini akan datang ke rumah bersama keluargamu untuk meminangku, Ayah dan Ibu masih menunggu. Aku tidak sabar menunggumu!”

    Batinnya menggigil. Bibir tergigit getir.

    ***

    Di pusar lelap. Dedaunan bambu bergesekan dengan angin, menghasilkan simponi alam yang merdu. Angin mengiringi tarian kepakan sayap burung. Penduduk meratap menggendong pupuk atau membawa cangkul ke ladang. Wajah-wajah cokelat tercium bibir mentari langsung. Kulit kusam khas orang pedesaan. Beberapa yang putus asa lari ke kota, menawarkan jasa menjadi tukang cuci, atau pembantu rumah tanga. Miris! Gaji tak sepadan dengan ribuan keringat yang diperasnya setiap hari. Harga diri terbeli kertas. Hidup merantau kebanyakan yang berpendidikan rendah bukan untuk meninggikan pendidikan, justru merendahkan kehormatan, menjadi b.a.b.u. Lugu menerima. Ditipu pun tak berani melawan. Merekalah generasi maju yang masih mundur di kejauhan sana. Adakah tangan pemerintah yang akan membelai letih dan kesah mereka?

    Hujan mengamuk alam. Guntur ikut menyeringai marah pada kekuasaan. Pemuda yang berumur dua lima tahun sedang duduk di gubuk rumahnya. Memandang hujan layu. Segelas kopi tanpa gula menemani. Dua anaknya lelap di pembaringan. Istri duduk manis melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran di dalam kamar. Ia menenggak kopinya nikmat. Pahit terasa menggoyang lidah. Ia telan pahit yang tercipta dalam takdir bijian kopi, seumpama menelan hidup getir menjadi makhluk pribumi.

    “Pak! Bolehkah saya mampir?” Seseorang memakai jas rapi. Mengklakson dirinya. Ia terkejut. Tergagap dari lamunannya memandang hujan yang kosong. Tak disadari mobil mewah telah terpakir di halaman rumahnya. Ia bangkit dari tempat duduknya. Istri menutup Al-Quran. Mengintip dari jendela siapakah gerangan yang datang. Bibirnya membentuk huruf o. Siap-siap menyiapkan segelas teh manis. Mukenah dilepas.

    “Mari! Silakan, Pak!”

    Lelaki berjas turun dari mobil, membiakkan payung transparannya. Gagah ia berjalan. Pandangannya lurus ke depan. Tak sungkan duduk di atas kursi bambu.Rumah terpagari anyaman bambu menjadi bigron yang sangat kontras. Rinai hujan mengiramai.

    “Maaf datang mendadak, Pak!”

    “Iya, tidak papa. Ada yang bisa saya bantu?”

    “Mau silahturahmi sambil berdiskusi dengan Anda,”

    “Diskusi apa ya, Pak?”

    Hening. Lelaki berjas tersungging. Istri keluar membawa teh yang masih mengepulkan asap. Meletakkan di atas meja. Mempersilakan lantas masuk kembali ke dalam rumah.

    “Anda beruntung sekali memiliki istri yang cantik dan santun sepertinya, Pak!” Lelaki berjas berkomentar sambil memandang punggung istrinya. Ada panas yang membakar ulu hatinya. Prasangka buruk terlahir. Yang dipuji justru bersemu merah.

    “Ya... dia istri yang solihah. Ada perlu apa Anda kemari, Pak?”

    Lelaki berjas terkenal dengan kekayaan juga kecerdasannya. Sosoknya murah senyum. Pembawaan nada katanya lembut. Kadang gemulai dalam berkelakar, namun lebih sering melemparkan kalimat yang mencengangkan. Seperti petir menyambar bumi saat mentari sedang berselingkuh dengan lautan. Terang namun ada badai yang tak diundang. Lelaki berjas jebolan universitas ternama di kota. Sudah mendapatkan gelar di belakang namanya.

    Jika sekilas memandangnya kewibaan terpancar dari sinar matanya yang terkadang mencurigakan. Otak kirinya encer, sering dipergunakan untuk mengelabuhi orang-orang yang di bawah kedudukannya. Kampung sering riuh usai kedatangannya dari kota, herannya jika warga berhadapan langsung dengan sosoknya, mulut terkunci rapat-rapat, tak ada yang berani menyela setiap helai kata yang diucapkan. Mungkinkah itu pesona orang berpendidikan? Sarjana Ekonomi. Pandai sekali ia menyuruh warga kampung mendistribusikan usahanya. Cangkul dan pupuk kandang nyaris punah. Padi-padi tak mau merunduk. Karenanya ia mendapatkan julukan orang paling cerdas membual!

    “Saya berniat mengembangkan usaha saya di desa ini, bukankah Bapak mempunyai tanah di pinggiran desa?”

    “Lantas?” Tangkas ia menjawab. Ada aroma busuk yang mulai tercium. Pemuda kampung itu sudah sering mendengar kabar tak menyenangkan dari tetangga. Istri mengintip percakapan dari jendela.

    “Bagaimana jika kita bekerjasama? Saya akan membangun pabrik dan supermarket di sana, tempatnya strategis, di pinggir jalan raya langsung, di kanannya banyak rumah penduduk, dan tanah Bapak juga pembatas kampung sebelah, jika di sana didirikan supermarket tentu yang membeli bukan hanya dari kampung kita saja, namun juga dari kampung luar, selain itu juga akan memberikan keuntungan kepada penduduk supaya tidak jauh-jauh ke pasar tradisional, bukankah itu sangat membantu?”

    “Anda berencana membeli tanah saya?”

    “Tidak, kita hanya bekerjasama. Hasilnya nanti kita bagi menjadi dua!”

    “Kalau tanah saya ditanami semen, bagaimana saya sanggup memberikan makan kepada karyawan negeri di luar kota sana?”

    Tenang saja, masih banyak petani di kampung ini,”

    “Kebanyakan dari mereka keluar kota, bekerja dan menetap di sana. Tanaman padi semakin sedikit, jika negara kita gagal panen, bagaimana nasib perut bangsa?”

    “Negara kita tidak akan kehabisan cara, pemerintah akan mengimpor beras dari luar negeri,”

    “Beras yang kutuan itu? Layakkah dimakan oleh rakyat jelata? Sementara kalian memakan beras yang bagus?”

    Lelaki berjas diam. Ia tenggak teh yang mulai mendingin. Istri menutup tirai jendela.

    “Baiklah saya akan membeli tanah Anda dengan harga yang tinggi,”

    “Anda akan membeli tanahnya Tuhan dengan lembaran kertas? Bukankah pencipta menginginkan tanaman tumbuh di tanah-Nya untuk mencukupi kebutuhan banyak orang? Anda ini bagaimana? Sekolah tinggi namun tidak memahami,”

    “Justru karena saya sekolah, maka saya memikirkan cara untuk mengembangkan perekonomian di kampung kita, saya hendak mendirikan pabrik di kampung ini untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka,”

    “Kata nenek moyang, negara kita negara agraris, bukan negara industri! Kami cukup menjadi petani untuk menyekolahkan anak kami agar ia menjadi pintar ilmu agama.”

    Lelaki berjas mendengus. Ia mengambil dompet. “Saya akan memberi uang muka dua juta,”
    “Singkirkan uang itu! Saya tidak butuh! PERGI! Jangan pernah beli alam dengan kertas pembawa sial itu!”

    “Hati-hati Anda bilang! Uang bukan barang pembawa sial! Ia yang menghidupkan, Anda! Ia yang mencukupi pendidikan anak Anda! Juga ia yang dulu meminang istri Anda!”

    “Oh, begitu rupanya Anda berpikir, uang adalah raja bagi Anda, tapi dia pembantu bagi saya! Saya menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan bukan untuk hidup!” Pemuda itu berdiri. Melotot garang. “PERGI! ANGKAT KAKI ANDA DARI RUMAH SAYA!”

    Maka waktu heran. Jika tetangga selalu bungkam tak berkutik di hadapan lelaki berjas tersebut. Mengapa pemuda kampung yang hanya bekerja menjadi petani lancang mengusirnya? Di mana letak hormat pada orang berpendidikan? Kasakkusuk berembus. Orang berpendidikan lebih mulia dari yang lainnya. Mengapa kini lelaki berjas seperti kepiting rebus?


    Magelang, 13 Januari 2017
    Karya: Titin Widyawati
    Si Gagis Suka Melamun

    Puisi: "Adik Ku Sayang"

    Saturiansyah.
    Wahai adik yang aku sayangi.
    Jadilah adik yang selalu berbakti pada kakaknya.
    Jadilah anak yang selalu berbakti dan taat kepada ayah dan ibu,
    Jangan pernah membuatnya marah atau mengeluarkan kata kasar
    Karena, perkataannya adalah sebagian dari doanya untuk kita
    Dan juga, Kemarahan mereka adalah sebagai tanda kasih dan sayangnya

    Wahai adik yang ku sayangi
    Berbaktilah Kepada kakek dan nenek,
    Dengarkanlah nasihat mereka
    Jadikanlah nasihat-nasihatnya sebagai penuntun jalanmu
    Bahagiakanlah mereka, selagi kau masih di sampingnya
    Jika air matanya jatuh, usaplah.
    Dan Jangan biarkan ia terus bersedih.

    Wahai adik yang aku sayangi
    Jadilah seorang teman yang baik bagi teman-temanmu
    Yang selalu ada di kala mereka membutuhkan
    Karena suatu saat, mereka juga akan melihat jasa mu dan membalasnya

    Wahai adik yang ku sayangi
    Jadilah abang yang selalu menyayangi adik-adikmu
    Sayangilah mereka,
    Jika kau menyayanginya, mereka juga akan menyayangimu
    Berikan harapan yang terbaik untuk mereka
    Karena harapan yang baik akan menghasilkan yang baik pula
    Ajarilah mereka untuk saling membantu
    Karena suatu saat, adik-adikmulah yang akan selalu ada,
    Dan akan selalu membantu di kala kau kesusahan.


    Yogyakarta, 27 Februai 2017
    Karya: Saturiansyah
    Mahasiswi Fakultas Tarbiah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Puisi: "Muara Kasih"

    Nurhaidah.
    Ayah
    Engkau mengajarkanku untuk Beribadah
    Engkau mengajarkanku untuk tetap kuat
    Engkau mengajarkanku untuk merendah
    Engka yang mengarkanku arti kesederhanaan
    Dan engkau juga yang mengajarkanku untuk selalu berbagi kasih

    Ibu
    Engkau memberikan harapan penuh kasih kepadaku
    Engkau yang menambirkan butiran senyuman
    Engkau yang selalu memberikanku kekuatan
    Disaat orang-orang merendahkanku
    Engkau mengajarkanku untuk tetap pada prinsipku

    Ayah dan Ibu
    Dua orang yang sangat berharga
    Dua orang yang bagaikan malaikatku tak bersayap
    Dua orang yang mampu membimbing ribuan anak disekitarnya
    Dua orang Tuhan untuk anak-anaknya

    Ayah
    Disaat engkau mendidik kami dengan cara mu
    Tidak ada yang mampu melawannya
    Tak pernah kami bantah
    Bahkan berkata apapun didepan mu tak pernah
    Karna kami hanya bocah mu yang belum paham akan didikan itu
    Hanyalah bocah yang menuruti semua perintah mu
    Itulah sebab ku mengatakan Ayah adalah Tuhan bagi bocah mu

    Ibu
    Disaat ayah mendidik kami dengan caranya
    Engkaulah surga untuk anak-anakmu
    Engkaulah tempat pelindung yang sangat-sangat
    Tempatku menuaikan air mata
    Curahatan hati yang begitu piluh
    Itulah sebab kenapa ku sebutkan Ibu adalah Tuhanku

    Ayah dan Ibu
    Saat kami menjadi bocah nakal yang tak berkelas
    Dua orang Tuhan ini akan memainkan perannya masing-masing
    Sang bocah yang nakal tak berkelas
    Akan segera mengambil tempat pelindung yang selayaknya ia lindung
    Namun dua orang Tuhan ini tetap akan menuaikan kasih sayang penuh terhadap bocahnya
    Itulah sebab ku sebut dua orang ini adalah Surgaku

    Ayah,
    Saat kami masih bocah kami menganggap bahwa ayah adalah penjahat
    Kami beranggapan bahwa ayah adalah sorang musuh dalam selimut
    Yang sewaktu-waktu akan selalu menghantui kami dengan kekerasan tak berkelas
    Namun ternyata setelah kami beranjak dewasa
    Kami menyimak lalu menyadarkan diri kami
    Bahwa penilaian buruk tentang seorang ayah itu tidaklah benar
    Seorang ayah adalah sejatinya penguatan hidup untuk bocahnya

    Ayah
    Adalah pelindung yang nyata
    Adalah kekuatan diatas kekuatan yang kami miliki
    Adalah pelindung yang sangat abadi
    Adalah guru yang berharga
    Adalah pembimbing sejati yang tak ada disekolah mana pun

    Ibu
    Adalah surga yang nyata
    Adalah teman yang sejati
    Adalah guru yang tak ada duanya
    Adalah pembimbing yang abadi

    Ayah dan Ibu
    Perlu dua malaikat ini ketahui
    Bahwa kami sangat bersyuruk
    Sangat mendambakan dua malaikat ku ini
    Dengan begitu sejati hidup tanpa mereka
    Bagaikan merajut tanpa benang
    Jika ada air mata yang menetes
    Itu adalah air mata yang berharga
    Yang tak mampu ditafsirkan dengan kata-kata
    Lewat suara hati kami akan bersyukur dan sangat bersyukur
    Allah telah menciptakan dua insan yang menyayangi kami penuh dengan tulus
    Dua insan yang tak kalah hebatnya dengan harta dan tahta
    Kesederhanaanlah yang membahagiakan kami

    Tuhan
    Bukan berarti ku menjauhkan engkau dari hatiku
    Pula tak pernah menghianati kekuasaanmu
    Hanya saja sebagai manusia normal akan tetap ada
    Hati yang mendambakan dua malaikan yang engkau kirimkan untuk kami
    Bukan menduakan dan menyamakan engkau sang Khalik dengan ayah dan ibuku
    Karna mereka juga ciptaan mu
    Begitulah seruan hatiku pada Ayah, Ibu, dan juga Tuhanku


    Yogyakarta, 26 Februari 2017
    Karya: Nurhaidah
    Mahasiswi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    Ungkapan Rasa Rindu

    Saturiansyah.
    Ku petik gitar dan ku lantunkan syair-syair cinta nan indah
    Di temani dengan keindahan suasana
    Ku nikmati setiap syair yang ku ucapkan
    Terharu, bahagia, yang ku rasakan.

    Setiap kali jari meluncur
    Saat itulah kenikmatan terpancar
    Mungkin hanya sekedar syair biasa.

    Sederhana pun tidak apa
    Itulah sebuah tanda pengakuan rasa
    Rasa yang tak mampu ku uraikan dengan kata atau kalimat
    Rasa yang terus menjuntai dan menghantui setiap saat.

    Hingga ketika mata ingin terlelap rasa itu akan terus ada
    Mungkin bisa tertahankan jika telah datang waktunya.
    Saat di tengah-tengah lantunan syair-syair
    Dengan mata tertutup ku mulai merasakan dan menghayati.

    Angin datang mengibas rambutku
    Seakan dia yang membelai lembut
    Mungkin inikah rasa rindu akan kehadirannya?
    Akan kehadiran seorang kekasih
    Atau hanya sebatas rindu yang tak tersampai?
    Akupun tak tahu.


    Yogyakarta, 27 Februai 2017
    Karya: Saturiansyah
    Mahasiswi Fakultas Tarbiah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Puisi: "Sang Pengembara Sejati"

    Nurhaidah.
    Sang Pengembara Sejati,
    Akan sampai pada ujung
    Tetap akan bersinar di pagi hari
    Senyuman indah tetap kau pancarkan
    Sudah kau lakukan apa hari ini untuk menyambut hari esok
    Sudah siapkan kau menyambut hari esok
    Ataukah hanya begitu saja tanpa kau bertindak malu

    Wahai sang pengembara sejati
    Begitu banyak gegundahan pada dirimu
    Begitu banyak keluhan yang kau tanamkan
    Begitu banyak impian yang kau mimpikan
    Lalu kapan engaku akan menjawabnya
    Kapan engkau akan bertindak tanpa terintervensi
    Sudahkan engkau sadar dengan apa yang menjadi taruhanmu

    Masih banyak waktu
    Masih ada harapan
    Jauhkan pesimisme
    Hindari ucapan kasar
    Jika itu akan membuatmu lebih tenang
    Jika itu akan membuatmu lebih bergerak

    Wahai sang pengembara sejati
    Genggam eratlah tanganmu
    Luruskan pandanganmu
    Taburkan tinta hitam diatas kertas putih yang belum pernah di nodai
    Lalu ijabkanlah ia menjadi sesuatu yang berkesan penuh makna

    Wahay engkau
    Ijinkanlah aku untuk selalu menaburkan tinta hitam didalamnya
    Dengan begitu ku bisa berimajinasi
    Menaburkan tabir yang terselubung
    Yang masih tersimpan rapat
    Tanpa ada yang bisa membukanya
    Hanya terkecuali engkau wahai sang pengembara

    Wahai sang pengembara
    Dengan mu ku bisa leluasa
    Denganmu ku bisa berpijak
    Dengamu ku bisa melangkah
    Dan dengamulah ku bisa menafsirkan segalanya

    Wahai pengembara sejati
    Bersyukurlah engkau pada sang kholik
    Engkau masih diizinkan untuk berpijak dijalannya
    Nikmatilah yang ia berikan untukmu
    Lalu biarkan ia berjalan dengan seadanya
    Akan berakhir dengan semestinya
    Itulah sejati engkau sang pengembara yang di nantikan


    Yogyakarta, 26 Februari 2017
    Karya: Nurhaidah
    Mahasiswi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    Puisi: "Kerinduan"

    Saturiansyah.
    Saat awan mulai meneteskan air mata
    Saat angin menerpa, membiaskan diri
    Saat matahari mulai memancarkan sinar
    Kala bulan bersama bintang menampakkan wajah
    Kala terang menjadi gelap dan gelap menjadi terang
    Ketika biji yang di tanam mulai tumbuh berbunga serta berbuah
    Ketika kaki mulai memijakkan langkah ke depan
    Diiring tangan melambaikan jemari

    Hingga akhirnya mulut berucap  "aku menginginkanmu"
    Maka saat itulah telinga mulai mendengar
    Hati yang merasakan
    Dan jiwa raga yang melakukan.


    Yogyakarta, 27 Februai 2017
    Karya: Saturiansyah
    Mahasiswi Fakultas Tarbiah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Kota Kupang Bercerita

    Andri Ardiansyah  saat berpose depan Gong Perdamaian Kota Kupang NTT.
    PEWARTAnews.com – Indonesia dikenal dengan kekayaan akan alamnya, baik kekayaan dari segi sektor laut, maupun daratannya, sehingga tidak heran bagi negara penjajah menginginkan kekayaan Indonesia, semua terlena ketika melihat kekayaan negeri ini. Indonesia juga dijuluki negara kepulauan, ada puluhan pulau bahkan ratusan pulau yang terbentang dari sabang sampai merauke, dan terlihat begitu indah dan mempesona negeri ini ketika di kelilingi oleh pulau-pulau yang cantik nan jelita di pandang mata. Di Negeri ini ada sebuah pulau yang unik, indah, cantik, dan menyejukan hati ketika memandangnya, pulau itu bernama pulau Timor.

    Pulau ini berada di ujung bagian selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pulau yang begitu luas daratannya mulai dari Kota Kupang hingga Atambua yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Timor Leste, jarak tempuh dari Kupang ke Atambua pun begitu jauh dan memakan waktu hingga delapan jam lamanya, begitu luas dan panjangnya daratan pulau Timor ini, inilah salah satu tanda kekayaan alam Indonesia yang harus kita jaga dan rawat dengan baik.

    Di pulau ini banyak masyarakat yang hidup selayaknya masyarakat di pulau-pulau lainnya yang berada di bagian barat negeri ini, di pulau ini banyak pendatang-pendatang yang beradu nasib dalam menyambung hidupnya, ada yang dari Alor, Sabu, Rote, Maumere, Ende, Manggarai, Bima dan lain sebagainya, semuanya banyak dari mereka datang ke tempat ini baik datang sebagai pedagang maupun datang sebagai pelajar/mahasiswa. Di pulau Timor ini juga pusat pemerintahan Provinsi NTT ditempatkan, sehingga pulau ini bisa berkembang dan maju baik dari segi ekonomi, pendidikan, sosial maupun budayanya, di pulau timor ini terdapat sebuah kota besar dan dijadikan nama kota Provinsi yaitu kota Kupang.

    Kota Kupang memiliki banyak cerita indah, dari tempat wisata hingga pendidikannya, semuanya ada dan terkumpul disini. kota Kupang juga dijuluki sebagai kota perdamaian sehingga tidak heran bagi masyarakat Kupang memilihara nilai-nilai kearifan dan kabajikan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Kupang adalah masyarakat yang majemuk sosialnya, ada yang Kristen, Katolik, Hindu, dan Islam tetapi mereka bisa hidup berdampingan tanpa saling menyakiti satu sama lain, mereka hidup bagaikan keluarga dalam satu rumah yang penuh harmonis.

    Masyarakat Kupang juga adalah masyarakat yang menjujung tinggi nilai-nilai toleransi, yang memegang erat nilai-nilai multikultur (keberagaman) sehingga mereka paham bagaimana bersosial dam bermasyarakat didalam negara yang penuh perbedaan ini, bagi masyarakat Kupang perbedaan itu adalah fitrah dari Tuhan sehingga perbedaan itu seharusnya menyatukan kita bukan malah memecah belah persaudaraan berbangsa dan bernegara. Berbicara tentang Kupang adalah berbicara tentang pariwisata, Kupang memiliki banyak tempat pariwisata yang cantik dan jelita, sebut saja salah satunya adalah Taman Nostalgia (Tamnos) di taman ini banyak dari kalangan wisatawan yang mengunjungi dan bahkan sekedar foto-foto di tempat ini, taman ini di kelilingi oleh pepohonan yang rindang dan hijau sehingga sejuk dirasakan ketika beristrahat di taman ini.

    Taman ini juga terlihat cantik karena kebersihannya selalu dijaga baik oleh pengunjungnya, penulis sebagai pendatang di kota Kupang ini menyempatkan diri jalan-jalan di taman nostalgia sekedar mengobati rasa penasaran penulis, karena begitu banyak orang yang menceritakan tentang keindahan taman ini, dan benar saja ketika penulis sesampainya di taman itu terlihat cantik dan indah, penulis juga melihat begitu banyak pengujung yang berfoto-foto di taman ini serasa ketika kita berada di taman ini tidak ingin beranjak pulang dari tempat ini karena begitu indah dan cantik pemandangannya.

    Keberadaan taman nostalgia ini memang sangat membantu masyarakat Kupang dalam sektor wisata, dan demi kemajuan tatanan kota Kupang, taman ini strategis berada di jantung kota Kupang sehingga akses jalan untuk ke taman ini tidak terlalu sulit untuk berkunjung, setiap saat di taman ini selalu ramai di kunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun nasional, bagaimana tidak, di taman ini  para pengunjung tidak di pungut tiket masuk (biaya) sehingga selalu ramai pengunjung yang datang di tempat ini, kita hanya cukup bayar parkir dua ribu rupiah saja untuk merasakan sejuk dan indahnya taman nostalgia ini, super bukan?.

    Di taman ini juga terdapat sebuah Gong Perdamaian yang menjulang tinggi dan dibangun sedemikian bagusnya, di Gong itu penulis melihat ada beberapa tanda dari tanda atau identitas yang melekat pada setiap agama yang ada di Indonesia, tanda-tanda itu terlihat jelas menandakan kita sebagai warga Indonesia yang majemuk masyarakatnya dan hidup dalam keberagaman yang harmonis, ini tandanya Kupang cinta perdamaian, cinta toleransi, dan menjujung tinggi nilai-nilai keberagaman. Gong perdamaian adalah salah satu bentuk produktifitas pemerintah kota Kupang/Provinsi dalam mengingatkan kita begitu banyak nilai-nilai nasionalisme dan nilai-nilai edukatif yang terkandung didalamnya.

    Dengan keberadaan Gong Perdamaian yang ada di tengah-tengah taman nostalgia tersebut menandakan Kupang telah memiliki sejarah baru yang akan dikenang sepanjang kehidupan masyarakat Kupang nantinya, penulis mengharapkan kepada pemerintah kota Kupang supaya selalu mempertahankan dan memupuk baik nilai-nilai keberagaman ini sehingga rakyat Indonesia bisa berkaca dan bercermin kepada masyarakat Kupang dengan kekayaan akan nilai-nilai multikulturnya.

     “Kota Kupang punya cerita, kota Kupang punya sejarah, dan kota Kupang punya segalanya”. Disinilah keindahan Indonesia, beragam sosial, masyarakat, budaya, bahkan agamanya, tetapi tetap solid dan hidup berdampingan.

    Salam dariku anak Bima untuk pembaca yang budiman.


    Penulis : Andri Ardiansyah, S.Pd.I.
    Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta.

    Puisi: "Aku"

    Jumratun.
    Sayang,
    Aku tidak secantik Oktavia yang menggoda rahib gereja dari selatan lembah sungai nil,
    Bukan seperti Cleopatra yang merusak kehidupan keluarga Antonius dinegeri para penyair,
    Aku bukan guru Hypatia yang hidup dalam kesepian sampai diujung senja,
    Juga bukan Mariam dan Helena yang melebur dalam kesucian,
    Sehingga Isa dan kaisar konstantin menjadi bukti dari kebenaran,

    Aku bukan dewi Durga,
    Bukan seperti Calon Arang sebab aku tak sepiawai Atena,
    Aku bukan  La Hila, tempat datangnya  para kaisar dan ksatri berpesta,
    Bukan Dasimah dan Nurbayah yang hidup dalam angan-angan tentang kenyataan,
    Aku adalah mahkota dan bunga-bunga,
    Aku juga adalah duri dan sisi hitam dunia mu,

    Sayang,
    Aku hanya aku,
    Bukan mereka ataupun dia,
    Aku Hanya perempuan kotor yang disetubi zaman,
    Mencoba melengkapi gelap dan terang hidupmu adalah jalanku,
    Selendangkan selendang emasku hanya mimpi dan harapan,
    Sedangka kamu menjadi tempat bersandar mimpi dan harapanku.


    Yogyakarta, 26 Februari 2017
    Karya: Jumratun 
    Mahasiswi Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Ketua PUSMAJA Terpilih, CEO Buytiket.com Ucap Selamat

    Khairul Sani.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Sebagai rekan dan sponsor di sejumlah kegiatan Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta, CEO Buytiket.com Khairul Sani mengucapkan selamat atas terpilihnya ketua baru. Menurutnya, terpilihnya M. Saleh atau yang akrab disapa Rendi tersebut melalui aklamasi merupakan tanda kedewasaan berpikir dan berpolitik anggota PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta.

    "Sebagai CEO Buytiket.com, saya mengucapkan selamat kepada ketua terpilih. Dengan adanya semangat baru, harusnya organisasi juga memiliki wajah baru dan lebih kreatif," papar pria yang akrab disapa Irul pada  media ini, Senin (27/2/2017) di Yogyakarta.

    Dia berharap, aktifitas PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta jauh lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat secara umum. Irul dan buytiket.com-nya juga tetap membuka diri untuk kegiatan organisasi di tingkat pascasarjana tersebut.

    "Kami akan tetap membantu, sejauh relevan dengan visi kami," pungkasnya. (Rizalul Fiqry / PEWARTAnews)

    Merindukan Bunda

    Bakdiah.
    Sungguh aku sanggat berdosa kepadamu ibu
    Ibu, aku ingin pulang kerumah sebentar saja ibu
    Karna aku ingin sekali melihat ibu tersenyum bahagia
    Jujur ibu aku sudah sangat rindu serindu rindunya sama ibu

    Aku ingin sekali membelai wajahmu
    Aku ingin bersimpuh dipangkuanmu ibu
    Aku ingin memelukmu dengan sangat erat ibu
    Aku ingin sholat id bareng sama ibu

    Aku ingin aku adalah orang yang pertama kali yang meminta maaf kepada mu ibu
    Bersimpuh dikakimu dan mencium keningmu
    Aku ingin sekali berjalan bergandengan tangan ke masjid
    Untuk menunaikan ibadah sholat id

    Berpakain yang rapih bersih dan harum
    Tidak ada kebahagiaan di dunia ini
    Melainkan kebahagiaan melihat ibu tersenyum bahagia tanpa ada beban
    Aku sayang dan cinta sama ibu
    Salam rindu buatmu ibu


    Yogyakarta, 2 Desember 2016
    Karya: Bakdiah
    Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    Cerpen: "Cicak"

    Titin Widyawati.
    PEWARTAnews.com – "Cicak-cicak di dinding. Diam-diam melayap, datang seekol Nyamuk. Hap! Lalu ditangkap."

    Lagu cicak mengalun asal-asalan dari ke dua daging tak bertulang Rudi. Bocah yang baru berumur pertengahan mentari terbit itu bertepuk tangan riang, seraya melonjat-lonjat histeris di atas kasur kamar orangtuanya. Ia geli melihat Cicak menempel di dinding kamarnya. Bening matanya nan mungil dan masih ingin tahu banyak pengetahuan tentang keindahan dunia itu tersorot lurus ke arah Cicak cokelat yang ada di atas jam dinding. Kepala Cicak menoleh ke bawah, ia seolah sadar jika sedang menjadi bahan hiburan nyawa mungil itu. Nyawa yang cerewet dengan tutur katanya. Yang selalu membuat orang lain bosan dengan ocehannya. Tapi jikalau ia ditelan waktu dalam lelap, rindu saudara mengabuti atmosfer jiwa.

    Rudi. Kesempurnaan tidak melekat di jiwanya. Bicaranya masih cadel. Rambut tipis cepak, dengan belahan di sebelah kiri. Tampan tidak, menggemaskan mengundang pesona nyata. Setiap orang harus diam dan mendengarkan ocehannya, jika tidak. Cubitan kecil akan menyentil mereka dari jemari mungilnya yang suka usil. Rudi baru saja duduk di kelas satu SD. Perawakan tubuhnya tidak terlalu gemuk. Satu hal yang membuat orang lain tak bisa melupakan tatapannya. Dalam kornea matanya seolah mengandung sihir yang sanggup mengusik ketenangan jiwa mereka. Bola mata yang bulat cerah, dengan kelopaknya yang mengombak ke atas. Seolah Rudi pantas jika dibelikan mainan boneka beruang.

    "Anak Mama sudah bangun?" suara Vani, ibu Rudi yang baru saja membuka pintu kamar. Tangan kirinya masih memegang sapu. Bisa kautebak, perempuan setengah muda yang rambutnya diikat ke belakang, memakai kain putih berbahan mudah menyerap keringat itu baru saja selesai mencium lantai dengan tarian rambut sapu. Bibirnya nan pucat bak mawar layu karena tak dipoles gincu merah melengkung riang. Meski ada sebuah cekungan hitam di bawah bola mata Vani, tapi sorot sinar matanya mengundang kasih sayang yang begitu dasyat.

    Ia sandarkan sapunya di samping pintu. Langkah dituntun maju. Tangannya yang mulai kendor kulitnya, mengangkat tubuh Rudi yang masih berbalut baju tidur Ipin-Upin sewarna awan. Ia memutar-mutarkannya. Lentera mentari esok menerobos masuk menyinari mereka melalui celah jendela. Tirai yang belum dibuka membiaskan cahaya cerah beriringan dengan siulan burung Gereja dari atas abses rumah. Lampu belum dimatikan, ia menatap dua darah itu yang sedang tertawa menyeringai penuh cinta.

    "Mama, Mama ada Cicak! Cicaknya dali tadi melototin Ludi melulu, ih nyebelin. Itu Cicak sehalusnya dibunuh, Mama." Kicau Rudi bagaikan Burung Beo seraya menunjuk Cicak yang masih menempel di atas dinding.

    "Mana Cicaknya? Biar Mama usir pakai sapu," sejenak Vani menurunkan bopongannya. Ia berdirikan Rudi di atas kasur. Sementara dirinya mengambil sapu yang akan digunakannya sebagai senjata.

    "Itu, Ma. Itu Mama!" seru Rudi dan tak lelah menunjuk-nunjuk ke atas jam dinding. Vani mendongak ke atas. Ia lantas naik ke atas ranjang, sapu diarahkan ke kepala Cicak. Rudi tertawa renyah. Bibirnya mengalun bagaikan suporter sepak bola dunia. Tepukan nyaring sampai ke ruang tengah. Ayah Rudi, Harman sampai-sampai tak meneruskan cumbuan mesrahnya pada bibir cangkir yang sudah diisi kopi hangat, hasil buah tangan istri tercinta, Vani berteman koran pagi. Ia datang dengan keheranan menuju ke kamar.

    "Ayo Mama! Ayo pukul! Pukul, Mama! Pukul! Bial mampus. Ayo telus! Telus! Teluuuussss!!!" Harman terkekeh di ambang pintu. Ia tak kuasa melihat adegan lucu Vani yang meloncat-loncat menggapai kepala sang Cicak. Hiburan pagi hari amat menggairahkan. Sang Cicak malah mematung tak berkutik, bukannya lari menyelamatkam diri, malah seolah menantang. Rudi semakin gemas.

    "Ayo Mama, Mama pasti bisa. Pasti bisa Mama. Nanti kalau Mama belhasil, Ludi bakal kasih hadiah, lolipop sepuluh bungkus." Harman bertambah terpingkal-pingkal. Ia tak tahan melihat anaknya yang menggemaskan. Vani pun diam-diam terkikik, demi buah hati tercintanya ia siap diperlakukan bagaikan pemburu binatang buruan di hutan. Sapunya adalah sebuah senapan ampuh yang sedang berusaha menyentuh kepala mangsa. Kasur yang diloncati Vani timbul tenggelam. Seprainya jadi berantakan. Bahkan bantal serta guling yang belum sempat dirapikannya sampai jatuh ke jurang lantai yang dingin. Lemari, dalam benak Rudi adalah pegunungan, meja rias adalah pepohonan rindang, sementara lukisan dan foto-foto yang tertempel di dinding ia imajinasikan sebagai burung-burung yang lain.

    "Mama pembulu yang kuat! Ayo Mama. Belusahalah untuk mendapatkan lolipop dali Ludi," anak itu tak berhenti memberi semangat. Sampai akhirnya kepala sapu menyentuh kepala Cicak. Dan mangsa pun lari terbirit-birit menyelinap di balik plafon, usai memutuskan ekornya.

    "Aaaaaaaaa... ekol Cicak. Ekol Cicaknya jalan, ekol, Mama Ludi takut, Mamaaaa....." Rudi bertambah menjerit girang. Harman menghampirinya. Memeluknya dari belakang, lalu membopongnya.

    "Anak Papa pagi-pagi sudah heboh, kenapa sayang?" Harman pura-pura tidak tahu.

    "Itu anakmu, Pa. Pagi-pagi sudah bikin Mama seperti pemburu hebat," Vani turun dari ranjang. Ia naikkan bantal dan guling yang jatuh.

    "Papa, itu ekol cicak. Ekolnya, ekolnya jalan. Hampil dekat di tangan Mama, awas Ma. Awaaaaasssss...."

    Vani bersentuhan dengan ekor Cicak yang masih lari ke sana kemari tak menemukan arah untuk bersembunyi. "Haaaa...." Vani merasa geli. Tubuhnya mendadak merinding. Ia lempar bantal dan gulingnya. Tak hiraukan apa yang akan terjadi. Langsung lari memeluk Harman dari samping. Menenggelamkan kepalanya di bahu Harman.

    "Mas, buang! Buang!"

    "Yah, jagoan Ludi telnyata takut sama ekol Cicak," Rudi kecewa. Ia menampakkan kekesalannya dengan menggelembungkan pipinya.

    "Iya, Mama payah ya sayang,"

    "Sudah, Mas. Cepetan bawa pergi. Buang ke tempat sampah, aku geli ngelihatnya,"

    "Geli-geli kok, pakai aksi mau bunuh pemilik ekornya,"

    Harman menyerahkan Rudi kepada Vani. Ia lalu membawa keluar ekor Cicak dengan tangan kirinya. Vani membuntuti di belakang bersama Rudi. Mereka bertiga berjalan ke belakang rumah. Ada taman kecil yang dekat dengan tempat sampah di sana. Embun masih menyerbuk di atas rumput bonsai. Dedaunan hijau meneteskan mutiara air dari ujung tubuhnya. Udara segar melegakan paru-paru mereka. Harman melempar ekor Cicak itu ke tempat sampah. Ia lantas mengibas-ngibaskan tangannya dan duduk di kursi taman. Vani dan Rudi ikut serta. Keluarga kecil itu lantas menikmati pagi indah bersama-sama. Lihatlah, ufuk Timur sedang merombak langit dengan keemasan. Kokok ayam jago tetangga saling bersahut-sahutan. Pemandangan pegunungan Menoreh di sebelah Selatan terlihat begitu anggun. Sorot sinar mentari menembus pori-pori mereka dengan kehangatan. Harman sejenak melupakan seduhan kopi hangatnya di ruang tengah bersama bacaan korannya. Vani juga melupakan aktivitas paginya yang belum kelar karena Rudi bangun dengan kehebohan.

    "Mama, Papa. Kenapa Cicak bisa memutuskan ekolnya? Memangnya tidak sakit?" Tanya Rudi dengan polosnya.

    "Itu namanya autotomi sayang, Cicak memutuskan ekornya untuk mengelabuhi musuh. Ia seperti itu karena ingin kabur dari musuh. Nah, ekor Cicak beberapa saat mampu berjalan ke mana saja ia mau, tapi tak lama kemudian akan terkulai lemah tak berdaya karena tak punya nyawa,"

    "Loh kok begitu, Pa?"

    "Iya sayang, itu kepandaian Cicak yang suka berbohong agar ekornya dikira dirinya. Jadi musuh akan terpusat pada ekor Cicak, bukan kepada tubuhnya yang dengan leluasa akan kabur begitu saja."

    "Rudi kalau besar jangan suka berbohong ya? Bohong itu tidak baik, nanti dibakar di neraka loh, Rudi mau?" Vina menakut-nakuti.

    "Tidak. Tapi kan Ludi tidak punya ekol,"

    "Bohonganya Rudi beda lagi dengan Cicak sayang, kalau Rudi tidak ngomong yang sesungguhnya itu baru bohong,"

    Rudi mangut-mangut meski sinar matanya menandakan belum paham.

    "Yasudah, sekarang Rudi mandi sama Bu Imah ya? Mama mau beres-beres rumah, hampiri Bu Imah di dapur ya sayang?"

    Walaupun Vani memiliki pembantu di rumahnya, ia masih suka membersihkan rumahnya sendiri. Rudi mengangguk taat. Ia lari ke dalam rumah, meninggalkan Mama dan Papanya yang masih duduk di bangku taman. Ke dua orangtuanya hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan kebanggan. Vani menyandarkan tubuhnya di bahu Harman. "Anak kita, Mas. Lucu sekali,"

    "Iya, aku bangga punya Rudi. Terimakasih sudah kauberikan ia kepadaku," kata Harman sambil mengecup kening Vani.

    "Oh ya, Ma. Tolong ambilkan koran dan kopi Papa di ruang tengah ya?"

    "Iya, Mas." Istri yang baik akan selalu mentaati perintah suaminya. Vani pun beranjak melangkah masuk ke dalam ruang tengah. Tak lama kemudian ia kembali bersama secangkir kopi dan koran sarapan otak suaminya tersebut.

    "Berita hangat hari ini adalah tentang seekor Cicak," seru Harman sambil membuka-buka halaman korannya. Ia ingat-ingat bacaannya tadi.

    "Maksudnya, Mas?"

    "Penjabat ada yang tidak jujur, uang negara yang seharusnya digunakan membangun infrastruktur ekonomi pasar, malah sebagian dikorupsi untuk keperluan pribadi," terang Harman. "Aku terobsesi dengan Cicak gara-gara Rudi tadi, lihatlah ini," Harman menunjukkan berita di halaman 12 tentang kasus penggelapan dana.

    "Menyedihkan sekali. Cicak-cicak negara harusnya dihukum, mereka pandai membuat alasan ketika diintograsi pihak hukum. Di muka publik mengaku sudah menggunakan dana untuk pembangunan secara maksimal, tapi kenyataannya?"

    "Semoga itu menjadi masa lalu saja ya, Pa? 2015 ini negara kita terbebas dari kasus tersebut. Mama harap Presiden dan penjabat menteri tahun ini bisa mengubur kebejatan menteri dahulu kala,"

    "Iya, ya sudah kamu lanjutkan aktivitasmu. Papa mau baca koran di sini saja,"

    "Iya, Mas."

    Harman mencium kening Vina terlebih dahulu sebelum membiarkannya masuk ke dalam rumah. Mentari sudah menyembul ke atas pegunungan Menoreh. Lenteranya menemani Harman menikmati ribuan kutu huruf. Rumput-rumput perlahan mulai mengeringkan embunnya. Udara tak lagi segar. Panas mulai menyengat. Namun Harman tetap setia dengan koran dan kopinya. Tak ada aktivitas lain hari itu, kacuali bersantai di rumah dengan keluarga. Hari minggu, kantornya libur. Waktu yang indah sambil menunggu Rudi kembali ke halaman usai mandi. Berharap topik pembahasan Cicak tak terulang, ia bosan dengan hal itu karena mengingatkannya kepada penjabat yang sewenang-wenang menggelapkan uang rakyat. Memuakkan.


    30 Desember 2014. Marah. Meja kasir. 10:53 WIB.
    Karya: Titin Widyawati
    Si Gagis Suka Melamun

    Puisi: "Pencerahan"

    Bakdiah.
    Aku merasa ada suara lantang dan tegas
    Yang sampai pada telinga sehingga bergetar jiwa
    Ia bersua sangat nyaring dengan syair yang lembut
    Membuat diri ini tak dapat menahan air mata
    Yang mungkin air mata itu tak ada artinya
    Namun tak ada kuasaku untuk menahan tetesan air mata
    Yang tetes demi tetes hendak menuai pipi

    Ribuan cerita penuh makna
    Yang memberi warna dinding putih
    Serpihan masa lalu diurai satu persatu
    Yang menjadikan cermin ternoda

    Pencerahan malam yang membibing langkah tampa resah
    Jika tetesan air mata senantiasa membasahi pipi
    Seperti itulah pencerahan membuka pintu penyesalan
    Yang menerangi langkah kehidupan


    Yogyakarta, 5 Desember 2016
    Karya: Bakdiah
    Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    Bentuk Kebaikan!

    Titin Widyawati.
    PEWARTAnews.com – Nenek itu membungkuk. Jemarinya lihai memasangkan sendal-sendal jepit di hadapannya. Aku mematung di sisi. Nenek mempersilakanku keluar, memberiku ruang untuk melangkah. Ia mengambilkan sandalku, meletakkan di depan kakiku. Mukenahnya melambai ke bawah. Angin pagi mengembuskannya. Tragis, aku berkutik, pasrah, memandang saja. Fisikku mematung. Entah, entah mengapa waktu tak mengizinkanku bergerak sedikit pun.

    Dadaku berdesir. Sungguh mulia renta itu. Ia memuliakan sendal juga memuliakan pemiliknya. Tak sungkan mengambilkannya, tak malu harga dirinya terjatuh di hadapan anak muda. Ia menegakkan tubuh, menatapku tersenyum manis. Lembut. Menentramkan. Matahari yang barusaja tersadar dari alam bakanya pun tersenyum. Sinarnya memerahkan langit.

    Induk burung berlarian meninggalkan sarang di pohon nangka, hendak mencari makan untuk anak-anaknya. Kokok ayam bersahut-sahutan, lantas serentak diam, keluar dari sangkar, memilah-milah sampah, mencari cacing segar.  Kambing melolong. Kucing di atap rumah mengeong, ia barusaja loncat dari tetangga sebelah, menjatuhkan genteng rumah. Acuh, tak mau bertanggungjawab. Kelinci di kandang saling mencicit. Pagi mulai beraktivitas. Terdengar gesekan lidi dan pertempuran di dalam dapur warga. Dan aku, di sini tak bergeming.... Musola hijau yang hening, disambut kejernihan embun pagi, juga menghilangnya siluet kegelapan dari langit. Gemiricik air di tempat wudunya terdengar nyaring.

    “Pakai!” Perintahnya. Aku menurut. Kujepit sandalku. Melangkah maju. Pura-pura acuh dengan perlakuannya yang seperti itu. Ada perasan aneh yang menyangkut di dadaku. Mendadak langkahku terdiam. Jiwaku tersentak. Aku membalik tubuh. Berjalan mendekati sang renta. Hnedak menahannya.

    “Nek, apa visimu melakukan tindakan seperti ini? Bukankah orang lain sanggup mengambil sendal dan merapikannya sendirian?”

    “Visi itu apa?” Kening Nenek berkerut. “Nenek tak sekolah tinggi sepertimu!”

    Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, sajadah kusampirkan di pundak. “Tujuan, Nek!”

    “Anakku,” panggilan yang lembut. Nyaman untuk didengarkan. “Kita berbuat kebaikan hanya  untuk mengharapkan ridho pencipta.”

    “Iya, bukankah ada kebaikan lain yang layak untuk dikerjakan? Sandal itu kotor, nodanya bisa menempel di tangan Nenek!”

    “Membuat orang tersenyum dan senang itu merupakan salah satu dari kebaikan,” ungkapnya sembari menarik bibir retaknya untuk tersenyum. Wajah keriput disamarkan oleh percikan sinar rembulan. Bintang masih ingin menyaksikan tubuh ringkihnya masuk ke dalam rumah, meski pagi mulai menghancurkan pesona kerlipnya di alam malam. “Saat saya menata sendal-sendal ini, pemiliknya tentu senang karena sendal mereka tidak berantakan, tak ditindih sendal yang lain, tidak juga berpisah dari pasangannya!”

    “Iya, Nek. Tapi sendal itu kotor!” Aku membantah.”Sudahlah tidak usah memperlakukan tindakan itu lagi, toh orang-orang juga tidak akan peduli!” Aku menggerutu.

    “Anakku, jangan pernah melihat bentuk kebaikan!” Aku bingung. Kuembuskan napasku yang sedikit berat. Petani mengambil cangkul, bergegas ke ladang. Anak sekolah menyiram tubuh. Wanita tua menggesekkan lidi. Menantu-menantu menanak nasi. Pemuda melirik ponsel di sisi telinga, kemudian menarik selimut kembali. Pegawai kantor sibuk menyetrika seragam dinas. Ayam berkokok angkuh! Tak mau peduli. Seekor kucing mengintai makanan di gerobak tukang bakso yang didorong pagi buta. Burung yang bertengger di kabel-kabel listrikmenggumam, mungkinkah kucing doyan bakso?, lantas para tentara semut di pohon nangka yang sedang bergotong-royong mengangkat bangkai ulat terbahak. ‘Ada-ada saja!’

    “Kebaikan tidak ada yang kecil, tidak ada pula yang besar.”Serunya melanjutkan. Aku menyimak. Satu jamaah keluar dari musola. Memakai sendalnya yang telah berpasang rapi. Tersenyum pada sang nenek lembut, seolah hendak menyampaikan ungkapan terimakasih secara tersirat. Ia menyapa kami berdua sebelum akhirnya berlalu meninggalkan musola. “Kebaikan letaknya di dada yang ikhlas, Anakku. Bentuk kebaikan tidak kotak, persegi, bulat, atau yang lainnya. Namun kebaikan ada di sini,” Nenek menunjuk bibirnya. “Bentuknya di sini, senyuman yang tenang, senyum puas, senyum orang lain yang ikhlas!”

    Aku mengembuskan napas. Tak ada yang salah dari penjelasannya.

    “Bagaimana jika setelahnya kita tidak dihargai, Nek?”

    “Dzat yang di atas, yang menciptakan alam semestah tak akan pernah tinggal diam!”

    Hatiku juga mengiyakan. Bibirku bungkam. “Anakku,” Nenek menepuk bahuku. “Jangan pernah malu dan ragu jika ingin berbuat baik, serahkan semuanya pada Dzat yang menciptakanmu! Semakin banyak kau berbuat kebaikan, maka suatu saat nanti, saat kau dalam keadaan susah, akan ada banyak pula orang yang membantumu,”

    “Nek! Orang ikhlas tidak mungkin mengharapkan imbalan dari orang lain!” Aku membantah sekali  lagi. Nenek tersenyum  menggelengkan kepalanya. Angin menyapu wajahku. Ia seakan hendak menampar diriku yang berbicara dengan nada tinggi pada seorang renta.

    “Ini berbeda dengan mengharapkan imbalan, Anakku.”

    “Lantas?” Aku memotong kalimatnya. Ia melepas sentuhannya di pundakku. Merapikan  rambut yang keluar di keningnya. Gelap nyaris sempurna lenyap. Timur, mulai merah merekah. Kicauanya membuat aktivitas penduduk bergairah. Bola api menyembul semringah. Beberapa burung terbang melintas di hadapannya. Satu jamaah keluar kembali.

    “Perbuatan baik yang kau lakukan suatu saat nanti akan kembali pada dirimu sendiri.”

    “Maksudnya?” Aku tidak paham. Nenek itu menepuk bahuku sekali lagi.

    “Suatu saat kau akan memahaminya. Saya pulang dulu, sudah pagi!” Ia membalik tubuh, melangkah meninggalkanku yang masih bingung dengan kalimatnya. Aku menghelas napas berat. Kutatap punggungya. Langkahnya tertatih-tatih, setengah membungkuk sambil menuntun tongkat, penopang tubuhnya. Nenek itu berbeda dari yang tinggal bersama cucu laki-lakinya di rumah yang lumayan mewah. Anaknya merantau ke luar negeri. Menantunya entah hilang ke alam mana. Jika senja datang, ia akan duduk di beranda rumah, menatap langit yang indah, menunggu cucunya pulang dari sekolah. Seorang pemuda yang hampir duduk di bangku kuliah.

    Akvitas masih sama seperti pagi kemarin..


    29 Desember 2016, 03:30 WIB.
    Karya: Titin Widyawati
    Si Gagis Suka Melamun

    Google Doodle honors Pramoedya Ananta Toer’s 92nd birthday

    “Today’s Doodle celebrates Pram’s birthday with an animation of the industrious novelist seated at his typewriter, hard at work,” Google wrote on its Doodle page. (google.co.id/File)





    Google Indonesia is celebrating the 92nd birthday of one of Indonesia’s most acclaimed writers, Pramoedya “Pram” Ananta Toer, through its homepage doodle on Monday.

    Pram, who passed away in 2006 in Jakarta, was known as a proponent of human rights and freedom of expression who fought against Japanese and Dutch colonialism.

    “Today’s Doodle celebrates Pram’s birthday with an animation of the industrious novelist seated at his typewriter, hard at work,” Google wrote on its Doodle page.

    Through his works, Pram was consistently critical of whatever regime was in power, according to kompas.com. He was imprisoned by the Dutch colonial administration and during the Soeharto regime he spent more than a decade as a political prisoner after being sent to Buru Island, Maluku, in 1969.

    Among his well-known works are the four volumes of Tetralogi Buru (The Buru Quartet), which consists of Bumi Manusia (This Earth of Mankind), Anak Semua Bangsa (Children of All Nations), Jejak Langkah (Steps) and Rumah Kaca (Glass House). Pram wrote the stories during his time as a political prisoner where he was prohibited from using a pen and paper. Because of this he orally shared with his fellow prisoners the story of a Javanese boy named Minke who rejects Indonesia’s hierarchal society in the last years of Dutch colonization.

    Aside from Tetralogi Buru, Pram also wrote Arok Dedes, Mangir, Bukan Pasarmalam (It’s not an All Night Fair), and Gadis Pantai (Girl from the Coast). (wir/kes)

    Sumber: thejakartapost.com (2/2/2017)

    [Puisi] "Suaramu Bukan Suara Kami"

    Ilustrasi. Foto: Dok Kompas.
    Berhenti mengumbar janji angin
    Berhenti sembunyi dibalik topeng
    Berhenti sok baik dan sok perduli
    Hentikan teriakanmu

    Kami muak dengan kepalsuan
    Kami muak diatas namakan
    Untuk ambisi dan nafsu serakahmu

    Hentikan teriakanmu
    Karena kalian bukan bagian dari kami
    Kami bodoh sementara kalian licik
    Kami kelaparan sementara kalian kekenyangan

    Kami tidur dengan alas koran dan beratap langit
    Sementara kalian tidur nyenyak dikasur empuk ditemani wanita malam
    Kami melarat sementara kalian tertawa
    Kami digusur kalian meluncur gagah

    Kami berkeringat darah untuk mencari sesuap nasi
    Sementara kalian berselonjor manja diruangan ber-AC
    Sesambil menunggu uang rakyat sampai dipiring nasi

    Kami menjilat aspal untuk mencari ilmu
    Sementara kalian yang berilmu tapi tidak punya nurani
    Nyatanya kalian bukan bagian kami

    Hentikan teriakanmu
    Busa mulutmu menutupi rezeki kami
    Bau mulutmu menyesakkan nafas kami

    Hentikan!!!
    Hentikan celoteh kepalsuanmu
    Karena nyatanya kalian bukan bagian kami
    Darahmu, nasibmu, nadi hidupmu, tawamu,
    Gayamu, bajumu, serta makananmu
    Tak sama dengan kami


    Yogyakarta, 23 Januari 2017
    Karya: Everdine K. 
    Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

    Partai Politik Berasas Islam

    Fathur Rahman.
    PEWARTAnews.com – Pasca kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, untuk yang pertamakalinya Indonesia mengikuti pemilihan umum yang di selenggarakan oleh kabinet Burhanuddin Harahap (wakil dari Masyumi) pada tanggal 29 September 1955. Peristiwa pemilihan umum ini, kurang lebih 30 Partai terlibat di dalamnya dan mengikuti pemilihan umum secara langsung, umum, bebas, rahasia, dan konstitusional. Partai-patai ini di tinjau dari platform organisasinya dapat di bedakan menjadi tiga, seperti point-point penjelasan dibawah ini.

    Pertama, Plartform Ketuhanan Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia), Partai Nahdlatul Ulama (NU), Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII), Persaatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), Partai Poltik Tarikat Indonesia (PPTI), Partai Kristen Indonesia dan Partai Katolik (PARKINDO).

    Kedua, Platform Kebangsaan Partai Nasional Indonesi (PNI), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Persatuan Indonesia Raya (PIR), Partai Indonesia Raya (PARINDRA), Partai Rakyat Indonesia (PRI), Partai Demokrasi Rakyat/Banteng, Partai Rakyat Nasional (PRN), Partai Wanita Rakyat (PWR), Partai Kebangsaan Indonesia (PARKI), Partai Kedulatan Rakyat (PKR), Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI), Ikatan Nasional Indonesia (INI), Partai Rakyat Djelata (PRD), Partai Tani Indoneia (PTI), Wanita Demoktrat Indonesia (WDI).

    Ketiga, Platform Marxsisme Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Sosialis Indonesia (PSI), Partai Murba Pembela Proklamasi, Partai Buruh dan Permai, Partai Rakyat Marhaen Indonesia.

    Meskipun banyak partai yang memberikan partisipasi politiknya berdasarkan platform masing-masing, kalau dapat  di sederhanakan menjadi tiga kelompok besar berdasarkan prinsip-prinsip aliran ideologinya, yaitu: mencakup  Islam, Sosial-Ekonomi dan Pancasila, yang mana hal ini terlihat dalam wadah konstituante serta tempat dimana para wakil rakyat hasil pemilihan umum 1955 mengadakan sidang-sidangnya.

    Di atas telah di paparkan mengenai kelompok besar  partai-partai yang telah di sederhanakan yaitu mencakup aspek social,ekonomi,pancasila,dan islam.sebenarnya yang seluruh aliran yang idiologinya tersebut kalau di tinjau lebih mendalam bahwasanya semua  aspek kehidupan  telah termuat dalam islam.

    Bila membahas mengenai penetapan Idiologi Negara KH. Muhammad Isa Anshari dalam salahsatu karyanya mengatakan bahwa masyarakat bangsa yang Undang-Undang dan ideologinya tidak bersendikan kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnah rasul, hukumnya adalah kafir, Dzhalim dan fasik, ungkapannya tersebut berlandaskan Q.S. Al-Maidah (5): ayat 44, 45, dan 47. Seseorang menjadi kafir jika orang terrsebut menganggap hukum Allah  (Al-Qur’an dan Sunnah) itu tidak patut dan tidak layak di pakai menjadi Undang-Undang dan Dasar Negara. Isa Anshari mengingatkan pula kepada para Muslim dari partai manapun yang berada dalam majelis konstituante bahwa jangan mencari isme atau aliran dan ideologi selain dari ideologi Islam, dan jangan mengikuti hukum yang tidak sesuai dengan ketentuan syari’ah Islamiyah.

    Sikap Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di bawah kepemimpinan Dja Faridz dan Dimyati Natakusuma, Senin 17 Oktober 2016 beberapa waktu lalu, telah mendeklarasikan dukungan untuk Ahok-Djarot, untuk Pilkada 2017. Tampaknya itu bukan hanya sekadar deklarasi dan dukungan saja, melainkan kehadiran Ahok Djarot juga untuk menandatangani nota kesepahaman ataupun kontrak politiik. “Dimyati mengatakan kontrak politik yang di tandatangani adalah untuk kepentingan masyarakat DKI, khususnya kepada umat Islam dimana tidak ada tendensius kepentingan PPPP. Kontrak politik ini di tandatangani saat deklarasi kemarin, ini bukan untuk kepentingan PPP, tapi kepentingan umat Islam di Jakarta, dimana PPP sebagai partai berasas islam, mencoba menjembatani. jadi sebenarnya Ahok sudah bantu, ini agar ditingkatkan lagi”, ucap Dimyati kepada Liputan6.com, jumat (21/10/2016).

    Penulis memandang, dengan alasan apapun tidak dibenarkan bahwa Islam yang di campur adukkan dengan idiologi-idiologi lainya. Rasulullah pun tidak pernah mencontohkan penggabungan akidah Islam dengan pemahaman-pemahaman orang musyrik dan kafir dalam membangun daulah Islam dengan undang-undang Madinahnya. Walaupun ada yang berusaha untuk mengarahkan kepada arah “baldatun toyyibatun warabun gofuur (Saba-15)”, tetapi karna dalam menuju ke arah Islam telah dicampur adukkan dengan Pancasila, maka suatu hal yang tidak mungkin tercapai tujuan yang di sebut “baldatun toyyibatun wa robbun ghofuur’’(negri yang baik dan (Tuhanmu) adalah tuhan yang maha pengampun). Negri yang baik adalah negeri yang di ridhoi oleh Allah SWT, bukan negeri yang baik menurut manusia dan Pancasilanya.

    Penulis memandang, dengan berdasar pertimbangan diatas, maka menjadi alasan dibalik perpecahan antara kaum Muslimin adalah bukan karna masalah perbedaan kepercayaan kepada Allah, melainkan karena adanya perbedaan pandangan, pikiran, metode, tujuan dan masalah poltik, kekuasaan pemerintahan dan Negara. Semua perbedaan tersebut bukanlah menjadi masalah yang sangat prinsipil, melainkan masalah yang masih bisa diselesaikan dengan jalan musyawarah dan tukar pikiran yang sehat, serta penuh dengan kebijaksanaan. Sehingga pertentangan diantara kelompok organisasi-organisasi, partai-partai yang perjuangannya melibatkan Islam, masih bisa diselamatkan dan diadakan dialog serta kerja sama yang baik, untuk melahirkan fakta pertahanan bersama dalam rangka menuju daulah Islamiyah, yang akan menaungi kaum muslimin khususnya Indonesia dan umumnya yang ada di seluruh Dunia.


    Penulis: Fathur Rahman
    Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Salahsau Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    Hukum Adat (The Living Law)

    Nurul Kiftiah.
    PEWARTAnews.comLiving law, biasa kita sebut dengan istilah “hukum adat”. Hukum adat merupakan hukum yang hidup dilingkungan suatu masyarakat tertentu berupa perilaku-perilaku sosial yang tercipta berdasarkan suatu konvensi dan solidaritas sosial. Hukum adat (the living law) dimaknai sebagai hukum yang hidup dalam masyarakat, bukan ius constitutum dan bukan pula ius constituendum. Ius constitutum merupakan hukum yang berlaku saat ini atau hukum yang telah ditetapkan (hukum positif). Sedangkan, ius constituendum berarti hukum yang dicita-citakan atau yang diangan-angankan di masa mendatang.

    Hukum positif dimaknai sebagai hukum yang diformulasikan oleh institusi negara dan tegas kapan dinyatakan berlaku dan kapan tidak berlaku lagi. Nah, the living law ini gak diformulasikan oleh negara, tetapi hukum itu hidup dalam alam pikiran dan kesadaran hukum masyarakat. Ia berpengaruh dalam kehidupan masyarakat dan kadang-kadang daya pengaruhnya bahkan mengalahkan hukum positif yang diformulasikan oleh negara.

    Hukum yang hidup itu bersifat dinamis sejalan dengan perkembangan masyarakat. Salah satu instrumen yang membuatnya tetap dinamis adalah antara lain melalui fatwa yang dikeluarkan oleh mufti atau institusi lain yang dianggap mempunyai otoritas dalam masyarakat. Fatwa umumnya dikeluarkan untuk menjawab kebutuhan hukum masyarakat yang merasa ada ketidakjelasan terhadap sesuatu yang ada dan berkembang dilihat dari sudut hukum Islam, supaya ada kepastian hukum.

    Lalu, apakah dan bagaimanakah sebaiknya negara bersikap terhadap hukum yang hidup itu?

    Jika negara itu bersifat demokratis, maka akan memformulasikan hukum dengan mengangkat kesadaran hukum masyarakat menjadi hukum positif sesuai kebutuhan hukum masyarakat. Namun seandainya itu tidak atau belum dilakukan, maka negara harus menghormati hukum yang hidup, yang antara lain tercermin dalam fatwa-fatwa yang otoritatif tersebut, dan memfasilitasinya agar hukum yang hidup itu dapat terlaksana dengan baik dalam kehidupan masyarakat.

    Saya berpendapat inilah yang harusnya menjadi sikap pemerintah di negara ini, yang berdasarkan Pancasila. Negara tidak bersifat sekular dan indeferent terhadap hukum agama, melainkan menghormati dan memberikan tempat yang selayaknya dalam kehidupan masyarakat.

    Jika hukum yang hidup itu berkaitan langsung dengan tata peribadatan (khassah) maka negara tidak dapat mengintervensinya, melainkan menghormatinya dan memfasilitasi pelaksanaannya dengan memperhatikan kemajemukan masyarakat.


    Karya: Nurul Kiftiah
    Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    [Cerpen] Nyawa di dalam Sumur

    Titin Widyawati.
    PEWARTAnews.com – Kakinya memijak jalan tandus yang retak-retak. Jalan dengan rerumputan hijau yang tak lagi mencuat. Bebatuan kecil tersebar di mana-mana. Debu yang menyerbuk di udara membuat napasnya sesak. Samping kanan dan kiri jalan hanya ada ribuan pohon mahoni atau pohon pinus. Jalan itu dikelilingi dengan hutan dan ladang jagung yang sangat luas. Keringat membutir di dahinya. Bibirnya mengering dan pecah-pecah. Wajahnya yang tirus berkerut-kerut dengan kantung mata yang besar dan pucat. Bahu kanan, bahu kiri terbebani dua ember air yang dipanggul menggunakan sebilah bambu. Sesekali dia seka keringat yang berseri-seri karena pantulan terik mentari. Dia tarik napas beratnya. Lelah. Desisnya.

    Sebulan lebih kehidupan di kampung Karanganyar itu menderita. Tanah persawahan retak-retak bagaikan seorang wanita malam yang berluluran masker kecantikan dan meretak. Tentunya itu sangat mengerikan di pandangan banyak mata warga. Kekeringan. Itulah kata yang tepat diluncurkan. Setiap detik mentari membakar habis semangat dan tenaga juang mereka untuk mengumpulkan air dari kampung sebelah. Kurang lebih dengan jarak enam kilo meter. Mengerikan sekali.

    Setiap pagi usai keluar dari suaru-surau tua kakek renta, nenek renta, ibu-ibu, bapak-bapak, beberapa anak muda pula berjalan hilir mudik untuk membawa seember air kehidupan. Tragisnya lagi harus mengantre dan kebanyakan warga berjalan kaki. Menyedihkan sekali nasib mereka. Apalagi bagi jiwa tua yang telah pensiun dari masa muda. Eloknya para pemuda malah berjalan menggunakan sepeda motor dengan gagahnya.

    Siang itu tatkala terik berdiri di atas ubun-ubun. Kakek Paiman berumur enam puluh tahun sedang berjuang mati-matian mengangkut dua ember kecil. Air itu akan digunakan untuk mandi sang cucu tercinta, Fitri. Gadis belia yang imut manis dengan kelucuannya. Fitri baru saja masuk sekolah dasar kelas satu. Ke dua orangtuanya merantau ke Malaysia mengurusi kehidupan duniawi untuk menimbun harta. Sejak umur lima tahun Fitri tinggal bersama nenek dan kakek Paiman.

    Malang pula nasib anak itu. Dari kecil sudah kehilangan kasih sayang. Patutnya teman lain bersyukur karena sampai saat ini mereka hidup dengan pelukan orangtua. Sering Fitri bertanya kepada kakek Paiman. Di manakah ibu berada? Kenapa yang memandikan malah kakek? Apakah ibu Fitri kakek? Anak yang polos dan belum mengerti apa-apa.

    "Tiga kilometer lagi." Desis kakek Paiman. Dia membenarkan letak posisi embernya lalu kembali berjalan seperti tadi.

    Warga yang lain pun berbaris mundur di belakang Kakek Paiman. Ada yang bergerombol. Ada pula yang menyendiri seperti Kakek Paiman. Warga Karanganyar bagaikan sedang berlomba memindahkan air dari kampung satu ke kampung lain yang pemenangnya akan mendapatkan piala dahaganya musnah, piagam kesegaran, dan sejumlah uang tunai kepuasan.

    Ah tapi tak ada warga yang tahu kapan hadiah itu akan dibagaikan dan siapa pula pemenangnya. Setiap hari, hampir pula setiap saat mereka berbondong-bondong ke kampung sebelah untuk menimba air. Berebutan pula. Akhirnya mau tidak mau sistim antre harus dilaksanakan. Kasihan kakek Paiman setiap hari datang pagi buta, sampai rumah tatkala terik di ubun-ubun. Air pun terkadang hanya digunakan sebagai wudu saja. Bukan hanya penduduk saja yang kekeringan. Kamar mandi surau pun kering kerontang. Sulit memanen sayur. Sulit mengambil air pula. Tapi kebutuhan sehari-hari menuntut untuk membuang air. Minum, masak, mandi, wudu, mencuci, dan yang lainnya.

    Pernah satu warga bangun malam meminta hujan. Semuanya serempak berbaris rapi di lapangan menggelar sajadah panjang. Kepala disujudkan untuk mencium Bumi. Berdoa dengan sepenuh hati. Sayang, nampak pencipta masih ingin menguji kehidupan mereka. Hujan tak turun. Aktivitas memanggul air dari kampung sebelah pun berjalan rutin.

    "Ayo Kakek! Sebentar lagi sampai rumah." Seru seorang pemuda yang mensejajari langkahnya. Pemuda itu memanggul satu ember air.
    "Kakek juga tahu kalau sebentar lagi akan sampai," balasnya dengan sisa napas yang tersengkal-sengkal.

    "Ya. Semangat Kakek!" pemuda itu berjalan lebih cepat menyalip Kakek Paiman.

    "Dasar anak muda. Mau menghina atau mau apa?" gerutu Kakek Paiman kesal.

    Mendadak tubuhnya terseok. Kakinya menyandung bebatuan. Airnya tumpah. Ember terpelanting ke bawah. Mulutnya mencium tanah. Wajahnya berbedak debu-debu kering. Matanya pedas karena kemasukan debu-debu itu. Dia kerjab-kerjabkan matanya. Duduk setengah badan di pusar jalan. Menatap sayu embernya yang terbalik.

    "Airkuuuuuuuuuuuuuuuu.....Oh Tuhan!" jeritnya lantang. Membuat iba angin yang berembus. Airmatanya seakan-akan meleleh. "Cucuku sudah menunggu sejak pagi tadi. Dia sudah lima hari tidak mandi. Haruskah aku mengulang berjalan lima meter? Oh umurku telah renta. Sehari berjalan dua puluh empat kilo meter. Itu bagaikan bertamasya ke kota saja." Keluhnya sambil mengusap keringat di dahinya. "Airkuuuuu....."

    "Ada apa Kakek?" seorang ibu-ibu separuh baya dengan kebaya cokelat duduk di sampingnya. Ibu itu membawa satu ember kosong.

    "Airku tumpah."

    "Oh, malang." Dia mengambil ke dua ember dan panggul bambu Kakek Paiman lalu memberikannya. "Marilah berangkat bersamaku kembali untuk mengambil air di kampung sebelah."

    "Hmmmm... baiklah. Tak ada pilihan."

    Mereka berjalan berdua menelusuri jalan kering nan menguapkan debu-debu. Ketika bersapaan dengan warga yang pulang membawa air Kakek Paiman hanya tersenyum kecut. Seolah dia telah yakin bahwa dia akan kalah mengikuti lomba menimba air itu. Piagam, piala, uang tunai pun hanya akan menjadi khayalan. "Menyedihkan!" desis Kakek Paiman.

    ******

    "Kami yang membangun sumur itu," sorak warga Karanganyar.
    "Bukan! Tapi kami yang membuatnya." Kata kampung sebelah.

    "Kami! Kami dan warga kami. Setiap pagi kami kemari untuk mengambil air. Itu artinya karena kami tahu kalau sumur itu milik kami, kami tidak mungkin memakan air yang bukan dicari dengan jerih payah kami."

    "Kami yang membuatnya."
    "Kami!"
    "Kami!"

    Kakek Paiman yang baru saja tiba di sumur yang dua bulan lalu dibangun bersama-sama warga Karanganyar menyeka keringatnya. "Cobaan apalagi ini?" dia bersama ibu itu berjalan mendekati kerumunan.

    "Ada apa?" potong Kakek Paiman. Suasana mereda sedikit tenang. Semua mata kini terpusat pada wajah Kakek Paiman yang berlinangan keringat.

    "Warga sebelah mengaku-ngaku membangun sumur kita Kek,"

    "Yah karena memang ini adalah tempat yang paling dekat dengan lahan kampung kami!" seru salah satu pria bertubuh kekar dari kampung sebelah.

    "Berani sekali kau berkata seperti itu. Kami kemarin bercucuran keringat untuk membangun sumur itu. Demi kehidupan kampung kami!"

    "Sudah-sudah biarlah Allah yang menjawab kebenaran. Lebih baik kita mengalah saja. Tapi sebelum kita mengalah, ijinkan kami mengambil seember air untuk kami bawa pulang." Kata Kakek Paiman dengan bijak.

    "Tapi Kek. Kalau sumur itu kita berikan kepada mereka, bagaimana hidup kita nanti?"

    "Kampung kalian kan diberi air bersih dari pemerintah. Kenapa tak digunakan secara baik?"

    "Diberi air bersih dari pemerintah? Omong kosong. Kalau pun iya kami tidak akan susah payah menimba air di sumur ini dengan berjalan enam kilo meter." Seru pemuda Karanganyar dengan bringas.

    "Sudah-sudah tak usah bertengkar. Lebih baik kita mengalah." Kakek Paiman memotong perselisihan mereka.

    "Tidak bisa Kakek? Kita yang iuran untuk membangun sumur ini. Bagaimana nyawa kita akan tetap hidup tanpa air di dalam sumur itu? Apalagi kita juga sudah berjuang mati-matian menghabiskan tenaga dan uang. Apakah baik kalau kita serahkan kepada mereka dengan cuma-cuma?"

    Ibu yang sedari tadi berdiri di samping Kakek Paiman mendekati pemuda itu. Dia lalu berbisik. Tak ada yang bisa mendengarkan kecuali angin yang berembus lancang menguping mereka. "Anggap saja mereka adalah para koruptor yang memakan harta rakyat."

    "Ini jaman modern tak ada koruptor, bodoh! Apa kau mau perjuangan kita dirampas orang lain secara percuma?"

    "Sudahlah ngalah saja, Allah selalu bersama orang yang benar. Tak usah berdemonstrasi seperti ini. Lebih baik kita pulang ke kampung dan gotong-royong membangun sumur yang baru,"

    "Hmmm..."

    "Apa yang kalian bicarakan?" hardik Kakek Paiman. Semua mata memandang mereka berdua dengan tatapan penuh tanda tanya.

    "Anak muda ini ingin kita mengalah, Kakek!" seloroh ibu itu dengan sunggingan senyum yang entah apa maknanya.

    "Kita akan membangun sumur di kampung kita." Tambahnya lagi.

    "Ya! Memang begitu sebaiknya karena ini adalah buatan kami. Kami masih berbaik hati mengijinkan kalian untuk membawa pulang satu ember air untuk yang terakhir, dan jangan pernah datang kembali ke kampung kami!"

    "Silakan Anda makan nyawa kami di dalam sumur itu, lagi pula kami masih punya sumber mata air di kampung kami. Kami akan membuat nyawa kami hidup kembali! Dan tak sudi kami memakan air yang sudah bukan menjadi milik kami lagi!" Kata ibu itu dengan suara tinggi. Dia lalu menarik lengan pemuda yang tadi diajaknya berbisik-bisik. Kakek Paiman berdesis pilu. "Tapi cucuku belum mandi sejak lima hari yang lalu? Haruskah aku pulang dengan tangan kosong?"

    "Sudahlah Kakek, di rumahku masih ada air lima ember bisa kita gunakan secara bersama-sama."

    "Di rumahku masih ada tiga."
    "Punyaku sepuluh,"
    "Di rumahku malah ada satu bak air. Hanya saja sedikit keruh."

    "Kita gunakan untuk mencukupi hidup warga kita dengan berbagi sampai sumur baru kita buat. Bagaimana?" Usul salah satu warga dengan bijak.

    Satu persatu warga berhambur pergi. Ember mereka kosong tak berisi. Kakek Paiman sangat sedih. Bagaimana nasib Fitri cucunya yang malang?

    Sampailah dia di rumahnya yang tua terbuat dari kayu. Dia duduk di teras dengan tenaga yang tersisa. Fitri yang hampir setengah harian menunggu lari menjemput ke datangan Kakek Paiman. Hatinya sudah sangat bahagia. Mimpinya semalam dimandikan oleh seorang ibu. Dia bebas bermain gelembung-gelembung busa yang ditiup dari tangannya.

    "Mana airnya Kakek?"
    "Airnya ada di dalam mimpi." Kata Kakek Paiman putus asa.

    "Oh, berarti ibu dan air itu ada di dalam mimpi ya Kek? Kalau begitu Fitri akan tidur lagi agar bisa mandi. Horeee....." anak itu berteriak lalu lari ke dalam kamarnya.
    Kakek Paiman menggeleng-geleng pilu.

    ****

    Warga Karanganyar tidak kau berlama-lama menderita. Usai menyerahkan sumur buatan mereka dengan keterpaksaan mereka menggali sumur di kampung dengan bergotong-royong. Jika ada warga yang kesusahan mendapatkan air, mereka saling bantu membantu dan berbagi. Tak terasa sebulan sudah berlalu. Sumur baru bisa menghidupkan nyawa mereka. Dan menakjubkan lagi mereka tak perlu mengantre seperti dulu. Tak perlu pula berjalan dua belas kilo meter untuk bolak-balik. Sekarang mereka sadar, uang tunai, piagam, pahala itu akan dimenangkan bagi orang yang berjiwa samudera dan orang yang sabar serta mau mengalah.

    Allah memang tidak menurunkan hujan, tapi Allah memancarkan mata air di sumur baru itu besar-besaran. Tanpa sumur mungkin hidup mereka tak akan bertahan lama. Apalagi jika bulan September datang. Menunggu musim penghujan dan sungai-sungai akan mengalir deras seolah memerlukan ribuan tahun untuk bersabar. Apalagi musim di Indonesia sekarang ini terkadang sulit untuk diprediksi. Tentunya itu sangat menyengsarakan. Itulah sebabnya mengapa warga Karanganyar menyebut bahwa nyawa mereka ada di dalam sumur.

    14 September 2014. Duduk di kamar pada 07:57 WIB.


    Karya: Titin Widyawati
    Si Gagis Suka Melamun

    [Puisi] "Ibu"

    Kalisom.
    Ibu engkaulah ruang untuk anakmu bersandar semasih anak-anakmu masih hidup.

    Ibu saya kangen dengan ocehanmu yang berartikan sebagai sebuah motivasi.

    Ibu anakmu kangen dengan semua pelukan
    Kasih sayang
    Dan sebagai ruang untuk ceritakan masalah kuliah
    Ceritakan masalah cinta
    Ceritakan masalah sakit yang saya alami
    Dan ceritakan masalah kehidupanku
    Selama masih menjalani kehidupan yang penuh dengan dosa.

    Ibu saya kangen tidur bareng sambil memelukmu
    Walaupun itu di pondok kecil di tengah hamparan sawah
    Ibu saya kangen dengan cara didikanmu
    Seperti; “Nak tidak boleh tinggalin sholat 5 (lima) waktu ya, ngaji,  zikir dan belajar”.

    Ibu saya masih ingat sewaktu pulang kampung di bulan ramadhan kemarin
    Engkau selalu mengingatkan
    Ketika tiba adzan subuh engkau sudah membangunkan untuk sholat, makan, mandi dan kerja di sawah.

    Ibu saya lelah dengan semua ini
    Sudah banyak keegoisan yang pernah saya lontarkan kepada orang lain
    Ibu, “memang saya akui dan sadar dengan semua ini”,
    Tapi Ibu...!
    Bagaimana caranya Ibu?
    supaya saya mampu menyampaikan segala sesuatu seperti yang orang lain inginkan!.

    Ibu peluklah daku
    Saya mengerti saat ini keberadaan kita jauh
    Saya di sini nan rantauan dan kini Ibu di tanah leluhur
    Tapi walaupun begitu, peluklah daku dengan suara hatimu Ibu.

    Ibu inikah arti dari didikanmu selama ini?
    Saya berucap, terimakasih untukmu perempuan tegar (ibu).

    Ibu engkaulah sosok yang  paling mulia di dunia ini
    Walaupun beban yang terus menghantui setiap menit
    Setiap langkah dan tidurmu ibu
    Engkau masih selalu sempatkan
    Tuk memikirkan kehidupan anak-anakmu yang tinggal dirantauan.

    Ibu, engkau adalah muara kasihku selamanya
    Saya mencintamu Ibu
    Rasa cinta itu lebih dari segala-galanya rasa.


    Yogyakarta, 16 November 2016

    Karya: Kalisom
    Mahasiswa Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).

    [Cerpen] Bekerja di Surga

    Titin Widyawati.
    PEWARTAnews.com – Aku membuka mata dari kegelapan. Kelopakku mendadak terbuka lebar-lebar. Aku merasa telah tidur lama tapi kenapa waktu masih begitu gelap? Membuat pernapasanku menjadi sesak saja. Kukucek-kucek mataku. Aku duduk setengah badan. Selimut kusibak. Waktu gelap. Suasana bagaikan gua hantu yang sama sekali tak terjamah lentera mentari. Baru aku sadar kala fajar merangkak lampu terpejam.

    Oh malapetaka besar! Sudah shubuhkah? Kutengok jam beker yang ada di atas meja samping ranjangku. Kusorot dengan cahaya dari ponselku. Empat lebih lima menit pagi! Aku langsung terlonjat. Pekerjaanku semalam belum selesai. Seharusnya hari ini desain bajuku sudah kelar. Ditambah lampu pakai acara mati segala, bagaimana ini? Laptopku semalam juga belum kuberi bensin listrik. Oh Tuhan! Kutepuk jidadku yang tak berdosa. Bagaimana nanti kalau aku ditanya oleh seniorku desainer baju terpandai se kabupaten, bisa-bisa aku dipecat dari pekerjaan kalau begini. Sabar, kuelus dadaku.

    Aku bangun meraba-raba pandang. Gelap itu membuatku kesulitan mencari jalan untuk membuka pintu kamarku. Sudah dua kali aku menabrak benda. Kurasa pertama kali ada almari, yang ke dua kursi belajarku. Aku salah arah. Seharusnya aku berjalan menuju Selatan bukan Utara. Tak ada kompas mentari yang bisa menuntun arah gelapku. Kubalik badan. Kaki melangkah sepuluh jangkah. Tap...tap...tap dan Bruuukkk... apa itu yang jatuh?

    Buku-buku dari dalam tas yang tumpah, semula tas itu tergantung di dinding. Ah aku salah lagi. Aku geser ke kiri langkahku. Kali ini tepat. Kuputar kenop pintu dan berjalan keluar. Ruang tamu temaram. Tak ada satu sinar pun yang menampakkan kehidupan. Seolah semuanya terbius oleh malam kegelapan. Membuat tidur ke dua adikku lelap dalam balutan mimpi.

    Aku berhasil melewati ruang tamu. Kubuka pintu utama rumahku. Udara di luar dapat kurasakan. Angin menghempaskan tubuhku dengan kesejukan. Kerlipan bintang hanya tampak satu warna, yang lain entah bersembunyi di mana. Dua jam penuh aku duduk di balkon rumahku menyaksikan pergantian malam yang akan diselingkuhi oleh pagi. Lama-lama tubuhku menggigil. Angin seolah ingin mengajakku bergurau dalam candaan embun. Aku cuek. Kusedekapkan tanganku di depan dada. Kuhirup oksigen pagi yang masih murni belum tercampur polusi. Kebetulan samping rumahku ada pabrik keripik singkong. Kalau siang asap mengepul-ngepul di udara menampakkan kesombongan kebebasan tubuhnya. Meliuk-liuk di udara yang luar, terbang menembus langit ke tujuh hingga membuat lapisan ozon di bumi ini galau. Walhasil mereka minder dan memilih untuk membocorkan diri karena murka.

    Usai salat subuh aku menyapu rumah dan kembali rebahan di kamar. Tubuh begitu letih setelah sepekan penuh otak ini dikuras untuk mendesain baju-baju pengantin ala Korea. Terlalu pedas mataku memandang layar laptop. Bosan setiap hari disuguhi photoshop, coreldraw dan aplikasi lainnya. Ingin aku menggambar dengan jemariku sendiri, kata managerku, lebih praktis kalau menggunakan laptop, tinggal clik, clik, lalu jadi deh. Aku merasa lelah melototi laptop terus menerus rasanya ingin cari kerjaan lain. Tapi apa?

    Aku duduk di bangku pinggiran  desa bersama Paijo. Dia adalah tetanggaku yang sukses. Hidupnya terpenuhi. Rumah mewah. pekerjaannya juga tidak berat, hanya duduk-duduk di beranda rumah. Entahlah dia bekerja apa, aku sendiri kurang paham. Sejelasnya dia adalah orang yang kaya raya. Pohon Mahoni yang daunnya meneduhkan kepalaku menyelamatkanku dari panas mentari yang mengamuk dasyat. Siang itu terik begitu mencekam. Seolah bintang dunia itu sedang marah kepada bumi karena setiap hari kaum berdasi membobol lapisan ozon langit yang biru. Dia ikut serta membalas dendamkan permintaan langit yang murka. Bagaikan dongeng-dongeng seperti aladin saja. Pandanganku lurus ke depan.

    "Hari ini kau tidak kerja, Mad?" tanya Paijo usai mengisap rokok Marlioboro mildnya. Dia kepulkan asap rokoknya dengan santai.

    "Tidak Jo, aku mbolos satu hari gara-gara desainku belum selesai. Rasanya bosan setiap hari gombar-gambar, gombar-gambar..."  keluhku seraya menatap langit datar. Biru laut itu tajam sekali di mataku. Kulihat satu burung melintas di atas sana dengan kepakan sayapnya yang manja. Ada juga pesawat terbang yang baru saja melintas di langit.

    "Mau tidak kau membantuku bekerja? Aku juga sudah bosan dengan pekerjaanku selama ini,"

    "Bukankah enak pekerjaanmu? Setiap hari kulihat kau hanya duduk-duduk manis di balkon rumahmu, bagaikan bos yang siap menerima uang." Responku dengan menatap wajahnya yang nampak keriput. Baju batik yang dikenakannya sedikit kusut. Rambutnya juga belum rapi seperti ketika berdandan malam hari. Kantung matanya membesar. Ada warna hitam di bawahnya, sementara bibirnya kering. Otot lengannya kekar. Nampak jelas tonjolan urat-uratnya yang berwarna biru. Membuahkan kesan sangar.

    "Ya memang begitu pekerjaanku, tapi entah mengapa aku merasa bosan." Sanggahnya lalu kembali menghisap rokoknya. "Kamu mau kerja?"

    Dia menarik perhatianku. Sekilas aku menatap raut wajah keseriusannya. Sial malah dia sebulkan asap rokoknya ke wajahku. Sejenak kupasang kemuramanku. Tapi tak lama aku meleburkannya, dia malah terkikik sendiri bagaikan kuda.

    "Mau marah atau mau kerja?" pancingnya membuat emosiku kendor.
    "Memangnya kerja apa?"

    Paijo mendekatkan mulutnya di depan telingaku. Kurasakan embusan napas hangatnya. Dia berbisik perlahan. Aku mendengarkannya dengan seksama. Keningku berkerut-kerut usai mendengarkan tawaran pekerjaannya. Dadaku berontak. Pokoknya aku tidak mau!

    "Bagaimana mau tidak? Uang ngalir loh, kerja tinggal berangkat seminggu sekali kalau tidak ya sebulan sekali itu pun sudah pasti gajinya, empat juta sebulan. Paling kalau berangkat kerja kamu tinggal keluar bensin dari desa sampai kabupaten, tak jauh bukan?"

    "Tidak jauh, tapi aku tidak menginginkan pekerjaan itu! Lebih baik aku jadi desainer saja." Seruku antusias. Aku lalu bangkit dan bersiap-siap pulang ke rumahku.

    "Kerjanya bagaikan sedang menikmati surga. Apa kau tidak mau?" dia meyakinkan lalu tertawa cekikikan.

    "Tidak! Itu bukan jalan hidupku."

    Sepulangnya dari tongkrong depan desa kudapati puluhan saudara yang sudah memenuhi rumahku yang sempit. Ada paman ada bibi, nenek, kakek, dan saudaraku yang lainnya. Aku panik. Ada acara apa ini? Perasaan kemarin tidak ada kabar kalau mau mengadakan acara syukuran secara tiba-tiba. Aku lekas masuk ke dalam rumah. Keluargaku duduk di kursi tamu yang umurnya seperti nenekku. Mereka semua melingkari seorang pemuda berambut cepak yang sedang tertidur pulas di pangkuan ibuku. Ah ada-ada saja orang desa ini, adikku tidur pakai acara dijagain. Aku pikir ada acara syukuran. Kebetulan cacing perutku sudah ngamuk dari tadi subuh.

    "Ahmaaaddd dari mana saja kamu? Adikmu pingsan kamu tak ada di rumah? Tidak berangkat kerja juga?" hardik paman yang sudah berdiri di sampingku.
    "Pingsan kenapa? Bukannya dia sedang tidur?"

    "Dia tadi minum oplosan tiba-tiba jatuh pingsan begitu saja. Secepatnya dia harus dibawa ke rumah sakit, ibu takut terjadi apa-apa dengan adikmu Nak," seru Ibu dihiasi dengan isakan tangis yang membuat suaranya menjadi parau.

    Tanggal muda. Aku tak punya uang, desainku juga belum selesai ada saja musibah yang menimpa keluargaku.  Salah sendiri main minum oplosan, susah tahu berbahaya masih saja ditenggak.

    "Salah siapa minum oplosan diembat, Ahmad tanggal muda tidak punya uang, Bu." Keluhku.
    "Bukannya kamu habis gajian?"
    "Gajian itu kan buat bayar hutang motor dan hutang kulkas Ibu," rajukku.

    Keluargaku hening semua. Di antara mereka hanya aku yang bekerja dan dijadikan tulang punggung keluarga. Tahu sendirilah kakekku sudah tua, rambutnya beruban pula, sementara nenekku punggungnya membungkuk, mereka berdua tinggal menunggu ajalnya saja. Paman dan bibi hanya petani biasa. Mana punya uang cukup untuk membawa adikku ke rumah sakit.

    Aku bergeming. Kusorot paras Ibu yang menampakkan kesedihan. Kupahami beliau pasti amat kecewa dengan adikku yang tomboy itu. Perempuan dipotong cepak. Tiap malam kerjaannya kluyuran saja. Disuruh ngaji tidak mau. Hobi minum-minuman. Pasti batin Ibu amatlah teriris. Nana nama adikku itu, sebenarnya baru saja pulang dari kabupaten. Tiap minggu dia pergi untuk kerja menjadi sales motor.

    Beberapa saat kemudian kulihat adikku kejang-kejang, ada busa putih yang keluar dari mulutnya. Segera kuingat pekerjaan surga yang ditawarkan oleh Paijo. Aku berhambur keluar tanpa salam. Kuharap Paijo masih di depan desa. Mungkin aku harus melakukan pekerjaan itu dengan amat sangat terpaksa.

    Kuatur napasku usai sampai di depan desa. Aku menumpukan ke dua tanganku di lutut. Kulihat sosok Paijo yang masih menikmati harinya di depan desa sana.

    "Jo! Terpaksa aku terima tawaranmu, apakah ada order hari ini?"
    "Ternyata kau nafsu juga ya?" Paijo terkikik penuh kemenangan.
    "Cepatlah, aku butuh uang sekarang,"

    "Coba kamu hubungi nomer ini, semalam dia telfon ke aku minta orderan cowok tampan sepertimu, tapi aku belum mendapatkannya." Keluhnya sambil mengulurkan hapenya kepadaku.

    Dengan ragu-ragu aku menerimanya. Kupecet tombol call dan tut...tut..tut...
    Tidak ada jawaban. Kali ini kupastikan nama kontak yang kupanggil.
    "Benar namanya princes tomboy?"

    Paijo mengangguk sambil mengepul-ngepulkan asap rokoknya berbentuk huruf O. Sekali-kalilah aku bekerja melayani anak muda. Tak apa yang penting aku dapat uang. Toh ini semua juga demi adikku. Panggilan terjawab. Aku gugup mengangkatnya. Tanganku sampai gemeteran. Itu adalah pertama kalinya aku berbicara dengan cabe-cabean. Pekerjaan yang sempat dibisikkan Paijo tadi adalah melayani anak cabe-cabean yang kesetanan. Aku tahu itu pekerjaan haram walau menurutku nikmat. Tapi...ah aku terpaksa.

    "Hallo?"
    "Hallo, benarkah ini dengan princes tomboy?" Kataku lirih.
    "Princes tomboy siapa, ini dengan nomernya Nana, anak saya sedang kejang karena overdosis minuman oplosan."

    Mataku melotot. Napasku tersendat. Hape Paijo jatuh ke tanah. Aku tak percaya. Adikku, Nana yang mengaku bekerja menjadi sales motor ternyata malah punya hubungan gelap dengan Paijo bahkan menyakitkan lagi bahwa selama ini adikku jadi cabe-cabean yang kecanduan hal gelap yang sebagian orang disebut kenikmatan surga bagi orang-orang bejat itu? Oh Tuhan! Dan aku hampir terjerumus ke lembah nista itu untuk menyelamatkan adikku yang tak kutahu bahwa adikku malah yang...sudah tak perlu aku jelaskan yang kutahu aku amat sakit hati. Aku terluka. Aku tak menyangka. Dunia bagaikan roboh menimpaku. Oh Tuhan! Ampuni dosaku.

    "Ampuni dosaku, ampuni dosaku, ampuni dosaku, ampuni dosaku!"
    "Ampun buat apa Bang? Ampun buat apa? Memangnya Bang Ahmad salah apa sama Nana?"

    Kurasa kulit dingin menepuk pipiku. Aku membuka mataku lebar-lebar. Wajah Nana yang anggun dan berjilbab kerudung hitam membuatku tersentak kaget. Aku langsung terlonjat dan duduk memeluk adikku. "Kamu tidak jadi cabe-cabean kan? Kamu tidak kejang kan? Kamu masih sholilah dan tidak sombong,"

    "Maksud Bang Ahmad apa?" Nana tidak mengerti.
    "Barusan abang mimpi buruk, Na. Buruk sekali, untung hanya mimpi. Abang tidak jadi kerja di surga."
    "Maksudnya?"

    Nana bingung. Entah tak perlu kuperjelas mimpi burukku itu. Aku bersyukur masih memiliki adik yang sholihah dan baik hati serta lembut perkataannya. Demi Allah aku akan menjaganya setiap saat, tak ada seorang pun yang boleh menyentuh tubuhnya kecuali kalau sudah membayar maharnya. Aku juga tidak ingin mengijinkannya bekerja ke luar kota. Aku akan selalu menjaganya, bagaimana pun itu. Mimpi barusan menyadarkanku akan pentingnya bersyukur. Masih untung aku bekerja menjadi desainer dari pada orang yang di luar sana banyak orang yang bekerja secara tak halal. Hanya Allah yang tahu.

    'Dunia yang buta, 2014. Di kamar sambil tiduran. 22 Agustus 17:28.


    Karya: Titin Widyawati
    Si Gagis Suka Melamun

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website