Headlines News :
Home » » [Cerpen] Bekerja di Surga

[Cerpen] Bekerja di Surga

Written By Pewarta News on Senin, 06 Februari 2017 | 02.59

Titin Widyawati.
PEWARTAnews.com – Aku membuka mata dari kegelapan. Kelopakku mendadak terbuka lebar-lebar. Aku merasa telah tidur lama tapi kenapa waktu masih begitu gelap? Membuat pernapasanku menjadi sesak saja. Kukucek-kucek mataku. Aku duduk setengah badan. Selimut kusibak. Waktu gelap. Suasana bagaikan gua hantu yang sama sekali tak terjamah lentera mentari. Baru aku sadar kala fajar merangkak lampu terpejam.

Oh malapetaka besar! Sudah shubuhkah? Kutengok jam beker yang ada di atas meja samping ranjangku. Kusorot dengan cahaya dari ponselku. Empat lebih lima menit pagi! Aku langsung terlonjat. Pekerjaanku semalam belum selesai. Seharusnya hari ini desain bajuku sudah kelar. Ditambah lampu pakai acara mati segala, bagaimana ini? Laptopku semalam juga belum kuberi bensin listrik. Oh Tuhan! Kutepuk jidadku yang tak berdosa. Bagaimana nanti kalau aku ditanya oleh seniorku desainer baju terpandai se kabupaten, bisa-bisa aku dipecat dari pekerjaan kalau begini. Sabar, kuelus dadaku.

Aku bangun meraba-raba pandang. Gelap itu membuatku kesulitan mencari jalan untuk membuka pintu kamarku. Sudah dua kali aku menabrak benda. Kurasa pertama kali ada almari, yang ke dua kursi belajarku. Aku salah arah. Seharusnya aku berjalan menuju Selatan bukan Utara. Tak ada kompas mentari yang bisa menuntun arah gelapku. Kubalik badan. Kaki melangkah sepuluh jangkah. Tap...tap...tap dan Bruuukkk... apa itu yang jatuh?

Buku-buku dari dalam tas yang tumpah, semula tas itu tergantung di dinding. Ah aku salah lagi. Aku geser ke kiri langkahku. Kali ini tepat. Kuputar kenop pintu dan berjalan keluar. Ruang tamu temaram. Tak ada satu sinar pun yang menampakkan kehidupan. Seolah semuanya terbius oleh malam kegelapan. Membuat tidur ke dua adikku lelap dalam balutan mimpi.

Aku berhasil melewati ruang tamu. Kubuka pintu utama rumahku. Udara di luar dapat kurasakan. Angin menghempaskan tubuhku dengan kesejukan. Kerlipan bintang hanya tampak satu warna, yang lain entah bersembunyi di mana. Dua jam penuh aku duduk di balkon rumahku menyaksikan pergantian malam yang akan diselingkuhi oleh pagi. Lama-lama tubuhku menggigil. Angin seolah ingin mengajakku bergurau dalam candaan embun. Aku cuek. Kusedekapkan tanganku di depan dada. Kuhirup oksigen pagi yang masih murni belum tercampur polusi. Kebetulan samping rumahku ada pabrik keripik singkong. Kalau siang asap mengepul-ngepul di udara menampakkan kesombongan kebebasan tubuhnya. Meliuk-liuk di udara yang luar, terbang menembus langit ke tujuh hingga membuat lapisan ozon di bumi ini galau. Walhasil mereka minder dan memilih untuk membocorkan diri karena murka.

Usai salat subuh aku menyapu rumah dan kembali rebahan di kamar. Tubuh begitu letih setelah sepekan penuh otak ini dikuras untuk mendesain baju-baju pengantin ala Korea. Terlalu pedas mataku memandang layar laptop. Bosan setiap hari disuguhi photoshop, coreldraw dan aplikasi lainnya. Ingin aku menggambar dengan jemariku sendiri, kata managerku, lebih praktis kalau menggunakan laptop, tinggal clik, clik, lalu jadi deh. Aku merasa lelah melototi laptop terus menerus rasanya ingin cari kerjaan lain. Tapi apa?

Aku duduk di bangku pinggiran  desa bersama Paijo. Dia adalah tetanggaku yang sukses. Hidupnya terpenuhi. Rumah mewah. pekerjaannya juga tidak berat, hanya duduk-duduk di beranda rumah. Entahlah dia bekerja apa, aku sendiri kurang paham. Sejelasnya dia adalah orang yang kaya raya. Pohon Mahoni yang daunnya meneduhkan kepalaku menyelamatkanku dari panas mentari yang mengamuk dasyat. Siang itu terik begitu mencekam. Seolah bintang dunia itu sedang marah kepada bumi karena setiap hari kaum berdasi membobol lapisan ozon langit yang biru. Dia ikut serta membalas dendamkan permintaan langit yang murka. Bagaikan dongeng-dongeng seperti aladin saja. Pandanganku lurus ke depan.

"Hari ini kau tidak kerja, Mad?" tanya Paijo usai mengisap rokok Marlioboro mildnya. Dia kepulkan asap rokoknya dengan santai.

"Tidak Jo, aku mbolos satu hari gara-gara desainku belum selesai. Rasanya bosan setiap hari gombar-gambar, gombar-gambar..."  keluhku seraya menatap langit datar. Biru laut itu tajam sekali di mataku. Kulihat satu burung melintas di atas sana dengan kepakan sayapnya yang manja. Ada juga pesawat terbang yang baru saja melintas di langit.

"Mau tidak kau membantuku bekerja? Aku juga sudah bosan dengan pekerjaanku selama ini,"

"Bukankah enak pekerjaanmu? Setiap hari kulihat kau hanya duduk-duduk manis di balkon rumahmu, bagaikan bos yang siap menerima uang." Responku dengan menatap wajahnya yang nampak keriput. Baju batik yang dikenakannya sedikit kusut. Rambutnya juga belum rapi seperti ketika berdandan malam hari. Kantung matanya membesar. Ada warna hitam di bawahnya, sementara bibirnya kering. Otot lengannya kekar. Nampak jelas tonjolan urat-uratnya yang berwarna biru. Membuahkan kesan sangar.

"Ya memang begitu pekerjaanku, tapi entah mengapa aku merasa bosan." Sanggahnya lalu kembali menghisap rokoknya. "Kamu mau kerja?"

Dia menarik perhatianku. Sekilas aku menatap raut wajah keseriusannya. Sial malah dia sebulkan asap rokoknya ke wajahku. Sejenak kupasang kemuramanku. Tapi tak lama aku meleburkannya, dia malah terkikik sendiri bagaikan kuda.

"Mau marah atau mau kerja?" pancingnya membuat emosiku kendor.
"Memangnya kerja apa?"

Paijo mendekatkan mulutnya di depan telingaku. Kurasakan embusan napas hangatnya. Dia berbisik perlahan. Aku mendengarkannya dengan seksama. Keningku berkerut-kerut usai mendengarkan tawaran pekerjaannya. Dadaku berontak. Pokoknya aku tidak mau!

"Bagaimana mau tidak? Uang ngalir loh, kerja tinggal berangkat seminggu sekali kalau tidak ya sebulan sekali itu pun sudah pasti gajinya, empat juta sebulan. Paling kalau berangkat kerja kamu tinggal keluar bensin dari desa sampai kabupaten, tak jauh bukan?"

"Tidak jauh, tapi aku tidak menginginkan pekerjaan itu! Lebih baik aku jadi desainer saja." Seruku antusias. Aku lalu bangkit dan bersiap-siap pulang ke rumahku.

"Kerjanya bagaikan sedang menikmati surga. Apa kau tidak mau?" dia meyakinkan lalu tertawa cekikikan.

"Tidak! Itu bukan jalan hidupku."

Sepulangnya dari tongkrong depan desa kudapati puluhan saudara yang sudah memenuhi rumahku yang sempit. Ada paman ada bibi, nenek, kakek, dan saudaraku yang lainnya. Aku panik. Ada acara apa ini? Perasaan kemarin tidak ada kabar kalau mau mengadakan acara syukuran secara tiba-tiba. Aku lekas masuk ke dalam rumah. Keluargaku duduk di kursi tamu yang umurnya seperti nenekku. Mereka semua melingkari seorang pemuda berambut cepak yang sedang tertidur pulas di pangkuan ibuku. Ah ada-ada saja orang desa ini, adikku tidur pakai acara dijagain. Aku pikir ada acara syukuran. Kebetulan cacing perutku sudah ngamuk dari tadi subuh.

"Ahmaaaddd dari mana saja kamu? Adikmu pingsan kamu tak ada di rumah? Tidak berangkat kerja juga?" hardik paman yang sudah berdiri di sampingku.
"Pingsan kenapa? Bukannya dia sedang tidur?"

"Dia tadi minum oplosan tiba-tiba jatuh pingsan begitu saja. Secepatnya dia harus dibawa ke rumah sakit, ibu takut terjadi apa-apa dengan adikmu Nak," seru Ibu dihiasi dengan isakan tangis yang membuat suaranya menjadi parau.

Tanggal muda. Aku tak punya uang, desainku juga belum selesai ada saja musibah yang menimpa keluargaku.  Salah sendiri main minum oplosan, susah tahu berbahaya masih saja ditenggak.

"Salah siapa minum oplosan diembat, Ahmad tanggal muda tidak punya uang, Bu." Keluhku.
"Bukannya kamu habis gajian?"
"Gajian itu kan buat bayar hutang motor dan hutang kulkas Ibu," rajukku.

Keluargaku hening semua. Di antara mereka hanya aku yang bekerja dan dijadikan tulang punggung keluarga. Tahu sendirilah kakekku sudah tua, rambutnya beruban pula, sementara nenekku punggungnya membungkuk, mereka berdua tinggal menunggu ajalnya saja. Paman dan bibi hanya petani biasa. Mana punya uang cukup untuk membawa adikku ke rumah sakit.

Aku bergeming. Kusorot paras Ibu yang menampakkan kesedihan. Kupahami beliau pasti amat kecewa dengan adikku yang tomboy itu. Perempuan dipotong cepak. Tiap malam kerjaannya kluyuran saja. Disuruh ngaji tidak mau. Hobi minum-minuman. Pasti batin Ibu amatlah teriris. Nana nama adikku itu, sebenarnya baru saja pulang dari kabupaten. Tiap minggu dia pergi untuk kerja menjadi sales motor.

Beberapa saat kemudian kulihat adikku kejang-kejang, ada busa putih yang keluar dari mulutnya. Segera kuingat pekerjaan surga yang ditawarkan oleh Paijo. Aku berhambur keluar tanpa salam. Kuharap Paijo masih di depan desa. Mungkin aku harus melakukan pekerjaan itu dengan amat sangat terpaksa.

Kuatur napasku usai sampai di depan desa. Aku menumpukan ke dua tanganku di lutut. Kulihat sosok Paijo yang masih menikmati harinya di depan desa sana.

"Jo! Terpaksa aku terima tawaranmu, apakah ada order hari ini?"
"Ternyata kau nafsu juga ya?" Paijo terkikik penuh kemenangan.
"Cepatlah, aku butuh uang sekarang,"

"Coba kamu hubungi nomer ini, semalam dia telfon ke aku minta orderan cowok tampan sepertimu, tapi aku belum mendapatkannya." Keluhnya sambil mengulurkan hapenya kepadaku.

Dengan ragu-ragu aku menerimanya. Kupecet tombol call dan tut...tut..tut...
Tidak ada jawaban. Kali ini kupastikan nama kontak yang kupanggil.
"Benar namanya princes tomboy?"

Paijo mengangguk sambil mengepul-ngepulkan asap rokoknya berbentuk huruf O. Sekali-kalilah aku bekerja melayani anak muda. Tak apa yang penting aku dapat uang. Toh ini semua juga demi adikku. Panggilan terjawab. Aku gugup mengangkatnya. Tanganku sampai gemeteran. Itu adalah pertama kalinya aku berbicara dengan cabe-cabean. Pekerjaan yang sempat dibisikkan Paijo tadi adalah melayani anak cabe-cabean yang kesetanan. Aku tahu itu pekerjaan haram walau menurutku nikmat. Tapi...ah aku terpaksa.

"Hallo?"
"Hallo, benarkah ini dengan princes tomboy?" Kataku lirih.
"Princes tomboy siapa, ini dengan nomernya Nana, anak saya sedang kejang karena overdosis minuman oplosan."

Mataku melotot. Napasku tersendat. Hape Paijo jatuh ke tanah. Aku tak percaya. Adikku, Nana yang mengaku bekerja menjadi sales motor ternyata malah punya hubungan gelap dengan Paijo bahkan menyakitkan lagi bahwa selama ini adikku jadi cabe-cabean yang kecanduan hal gelap yang sebagian orang disebut kenikmatan surga bagi orang-orang bejat itu? Oh Tuhan! Dan aku hampir terjerumus ke lembah nista itu untuk menyelamatkan adikku yang tak kutahu bahwa adikku malah yang...sudah tak perlu aku jelaskan yang kutahu aku amat sakit hati. Aku terluka. Aku tak menyangka. Dunia bagaikan roboh menimpaku. Oh Tuhan! Ampuni dosaku.

"Ampuni dosaku, ampuni dosaku, ampuni dosaku, ampuni dosaku!"
"Ampun buat apa Bang? Ampun buat apa? Memangnya Bang Ahmad salah apa sama Nana?"

Kurasa kulit dingin menepuk pipiku. Aku membuka mataku lebar-lebar. Wajah Nana yang anggun dan berjilbab kerudung hitam membuatku tersentak kaget. Aku langsung terlonjat dan duduk memeluk adikku. "Kamu tidak jadi cabe-cabean kan? Kamu tidak kejang kan? Kamu masih sholilah dan tidak sombong,"

"Maksud Bang Ahmad apa?" Nana tidak mengerti.
"Barusan abang mimpi buruk, Na. Buruk sekali, untung hanya mimpi. Abang tidak jadi kerja di surga."
"Maksudnya?"

Nana bingung. Entah tak perlu kuperjelas mimpi burukku itu. Aku bersyukur masih memiliki adik yang sholihah dan baik hati serta lembut perkataannya. Demi Allah aku akan menjaganya setiap saat, tak ada seorang pun yang boleh menyentuh tubuhnya kecuali kalau sudah membayar maharnya. Aku juga tidak ingin mengijinkannya bekerja ke luar kota. Aku akan selalu menjaganya, bagaimana pun itu. Mimpi barusan menyadarkanku akan pentingnya bersyukur. Masih untung aku bekerja menjadi desainer dari pada orang yang di luar sana banyak orang yang bekerja secara tak halal. Hanya Allah yang tahu.

'Dunia yang buta, 2014. Di kamar sambil tiduran. 22 Agustus 17:28.


Karya: Titin Widyawati
Si Gagis Suka Melamun

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website