Headlines News :
Home » » Cerpen: "Cicak"

Cerpen: "Cicak"

Written By Pewarta News on Senin, 13 Februari 2017 | 10.42

Titin Widyawati.
PEWARTAnews.com – "Cicak-cicak di dinding. Diam-diam melayap, datang seekol Nyamuk. Hap! Lalu ditangkap."

Lagu cicak mengalun asal-asalan dari ke dua daging tak bertulang Rudi. Bocah yang baru berumur pertengahan mentari terbit itu bertepuk tangan riang, seraya melonjat-lonjat histeris di atas kasur kamar orangtuanya. Ia geli melihat Cicak menempel di dinding kamarnya. Bening matanya nan mungil dan masih ingin tahu banyak pengetahuan tentang keindahan dunia itu tersorot lurus ke arah Cicak cokelat yang ada di atas jam dinding. Kepala Cicak menoleh ke bawah, ia seolah sadar jika sedang menjadi bahan hiburan nyawa mungil itu. Nyawa yang cerewet dengan tutur katanya. Yang selalu membuat orang lain bosan dengan ocehannya. Tapi jikalau ia ditelan waktu dalam lelap, rindu saudara mengabuti atmosfer jiwa.

Rudi. Kesempurnaan tidak melekat di jiwanya. Bicaranya masih cadel. Rambut tipis cepak, dengan belahan di sebelah kiri. Tampan tidak, menggemaskan mengundang pesona nyata. Setiap orang harus diam dan mendengarkan ocehannya, jika tidak. Cubitan kecil akan menyentil mereka dari jemari mungilnya yang suka usil. Rudi baru saja duduk di kelas satu SD. Perawakan tubuhnya tidak terlalu gemuk. Satu hal yang membuat orang lain tak bisa melupakan tatapannya. Dalam kornea matanya seolah mengandung sihir yang sanggup mengusik ketenangan jiwa mereka. Bola mata yang bulat cerah, dengan kelopaknya yang mengombak ke atas. Seolah Rudi pantas jika dibelikan mainan boneka beruang.

"Anak Mama sudah bangun?" suara Vani, ibu Rudi yang baru saja membuka pintu kamar. Tangan kirinya masih memegang sapu. Bisa kautebak, perempuan setengah muda yang rambutnya diikat ke belakang, memakai kain putih berbahan mudah menyerap keringat itu baru saja selesai mencium lantai dengan tarian rambut sapu. Bibirnya nan pucat bak mawar layu karena tak dipoles gincu merah melengkung riang. Meski ada sebuah cekungan hitam di bawah bola mata Vani, tapi sorot sinar matanya mengundang kasih sayang yang begitu dasyat.

Ia sandarkan sapunya di samping pintu. Langkah dituntun maju. Tangannya yang mulai kendor kulitnya, mengangkat tubuh Rudi yang masih berbalut baju tidur Ipin-Upin sewarna awan. Ia memutar-mutarkannya. Lentera mentari esok menerobos masuk menyinari mereka melalui celah jendela. Tirai yang belum dibuka membiaskan cahaya cerah beriringan dengan siulan burung Gereja dari atas abses rumah. Lampu belum dimatikan, ia menatap dua darah itu yang sedang tertawa menyeringai penuh cinta.

"Mama, Mama ada Cicak! Cicaknya dali tadi melototin Ludi melulu, ih nyebelin. Itu Cicak sehalusnya dibunuh, Mama." Kicau Rudi bagaikan Burung Beo seraya menunjuk Cicak yang masih menempel di atas dinding.

"Mana Cicaknya? Biar Mama usir pakai sapu," sejenak Vani menurunkan bopongannya. Ia berdirikan Rudi di atas kasur. Sementara dirinya mengambil sapu yang akan digunakannya sebagai senjata.

"Itu, Ma. Itu Mama!" seru Rudi dan tak lelah menunjuk-nunjuk ke atas jam dinding. Vani mendongak ke atas. Ia lantas naik ke atas ranjang, sapu diarahkan ke kepala Cicak. Rudi tertawa renyah. Bibirnya mengalun bagaikan suporter sepak bola dunia. Tepukan nyaring sampai ke ruang tengah. Ayah Rudi, Harman sampai-sampai tak meneruskan cumbuan mesrahnya pada bibir cangkir yang sudah diisi kopi hangat, hasil buah tangan istri tercinta, Vani berteman koran pagi. Ia datang dengan keheranan menuju ke kamar.

"Ayo Mama! Ayo pukul! Pukul, Mama! Pukul! Bial mampus. Ayo telus! Telus! Teluuuussss!!!" Harman terkekeh di ambang pintu. Ia tak kuasa melihat adegan lucu Vani yang meloncat-loncat menggapai kepala sang Cicak. Hiburan pagi hari amat menggairahkan. Sang Cicak malah mematung tak berkutik, bukannya lari menyelamatkam diri, malah seolah menantang. Rudi semakin gemas.

"Ayo Mama, Mama pasti bisa. Pasti bisa Mama. Nanti kalau Mama belhasil, Ludi bakal kasih hadiah, lolipop sepuluh bungkus." Harman bertambah terpingkal-pingkal. Ia tak tahan melihat anaknya yang menggemaskan. Vani pun diam-diam terkikik, demi buah hati tercintanya ia siap diperlakukan bagaikan pemburu binatang buruan di hutan. Sapunya adalah sebuah senapan ampuh yang sedang berusaha menyentuh kepala mangsa. Kasur yang diloncati Vani timbul tenggelam. Seprainya jadi berantakan. Bahkan bantal serta guling yang belum sempat dirapikannya sampai jatuh ke jurang lantai yang dingin. Lemari, dalam benak Rudi adalah pegunungan, meja rias adalah pepohonan rindang, sementara lukisan dan foto-foto yang tertempel di dinding ia imajinasikan sebagai burung-burung yang lain.

"Mama pembulu yang kuat! Ayo Mama. Belusahalah untuk mendapatkan lolipop dali Ludi," anak itu tak berhenti memberi semangat. Sampai akhirnya kepala sapu menyentuh kepala Cicak. Dan mangsa pun lari terbirit-birit menyelinap di balik plafon, usai memutuskan ekornya.

"Aaaaaaaaa... ekol Cicak. Ekol Cicaknya jalan, ekol, Mama Ludi takut, Mamaaaa....." Rudi bertambah menjerit girang. Harman menghampirinya. Memeluknya dari belakang, lalu membopongnya.

"Anak Papa pagi-pagi sudah heboh, kenapa sayang?" Harman pura-pura tidak tahu.

"Itu anakmu, Pa. Pagi-pagi sudah bikin Mama seperti pemburu hebat," Vani turun dari ranjang. Ia naikkan bantal dan guling yang jatuh.

"Papa, itu ekol cicak. Ekolnya, ekolnya jalan. Hampil dekat di tangan Mama, awas Ma. Awaaaaasssss...."

Vani bersentuhan dengan ekor Cicak yang masih lari ke sana kemari tak menemukan arah untuk bersembunyi. "Haaaa...." Vani merasa geli. Tubuhnya mendadak merinding. Ia lempar bantal dan gulingnya. Tak hiraukan apa yang akan terjadi. Langsung lari memeluk Harman dari samping. Menenggelamkan kepalanya di bahu Harman.

"Mas, buang! Buang!"

"Yah, jagoan Ludi telnyata takut sama ekol Cicak," Rudi kecewa. Ia menampakkan kekesalannya dengan menggelembungkan pipinya.

"Iya, Mama payah ya sayang,"

"Sudah, Mas. Cepetan bawa pergi. Buang ke tempat sampah, aku geli ngelihatnya,"

"Geli-geli kok, pakai aksi mau bunuh pemilik ekornya,"

Harman menyerahkan Rudi kepada Vani. Ia lalu membawa keluar ekor Cicak dengan tangan kirinya. Vani membuntuti di belakang bersama Rudi. Mereka bertiga berjalan ke belakang rumah. Ada taman kecil yang dekat dengan tempat sampah di sana. Embun masih menyerbuk di atas rumput bonsai. Dedaunan hijau meneteskan mutiara air dari ujung tubuhnya. Udara segar melegakan paru-paru mereka. Harman melempar ekor Cicak itu ke tempat sampah. Ia lantas mengibas-ngibaskan tangannya dan duduk di kursi taman. Vani dan Rudi ikut serta. Keluarga kecil itu lantas menikmati pagi indah bersama-sama. Lihatlah, ufuk Timur sedang merombak langit dengan keemasan. Kokok ayam jago tetangga saling bersahut-sahutan. Pemandangan pegunungan Menoreh di sebelah Selatan terlihat begitu anggun. Sorot sinar mentari menembus pori-pori mereka dengan kehangatan. Harman sejenak melupakan seduhan kopi hangatnya di ruang tengah bersama bacaan korannya. Vani juga melupakan aktivitas paginya yang belum kelar karena Rudi bangun dengan kehebohan.

"Mama, Papa. Kenapa Cicak bisa memutuskan ekolnya? Memangnya tidak sakit?" Tanya Rudi dengan polosnya.

"Itu namanya autotomi sayang, Cicak memutuskan ekornya untuk mengelabuhi musuh. Ia seperti itu karena ingin kabur dari musuh. Nah, ekor Cicak beberapa saat mampu berjalan ke mana saja ia mau, tapi tak lama kemudian akan terkulai lemah tak berdaya karena tak punya nyawa,"

"Loh kok begitu, Pa?"

"Iya sayang, itu kepandaian Cicak yang suka berbohong agar ekornya dikira dirinya. Jadi musuh akan terpusat pada ekor Cicak, bukan kepada tubuhnya yang dengan leluasa akan kabur begitu saja."

"Rudi kalau besar jangan suka berbohong ya? Bohong itu tidak baik, nanti dibakar di neraka loh, Rudi mau?" Vina menakut-nakuti.

"Tidak. Tapi kan Ludi tidak punya ekol,"

"Bohonganya Rudi beda lagi dengan Cicak sayang, kalau Rudi tidak ngomong yang sesungguhnya itu baru bohong,"

Rudi mangut-mangut meski sinar matanya menandakan belum paham.

"Yasudah, sekarang Rudi mandi sama Bu Imah ya? Mama mau beres-beres rumah, hampiri Bu Imah di dapur ya sayang?"

Walaupun Vani memiliki pembantu di rumahnya, ia masih suka membersihkan rumahnya sendiri. Rudi mengangguk taat. Ia lari ke dalam rumah, meninggalkan Mama dan Papanya yang masih duduk di bangku taman. Ke dua orangtuanya hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan kebanggan. Vani menyandarkan tubuhnya di bahu Harman. "Anak kita, Mas. Lucu sekali,"

"Iya, aku bangga punya Rudi. Terimakasih sudah kauberikan ia kepadaku," kata Harman sambil mengecup kening Vani.

"Oh ya, Ma. Tolong ambilkan koran dan kopi Papa di ruang tengah ya?"

"Iya, Mas." Istri yang baik akan selalu mentaati perintah suaminya. Vani pun beranjak melangkah masuk ke dalam ruang tengah. Tak lama kemudian ia kembali bersama secangkir kopi dan koran sarapan otak suaminya tersebut.

"Berita hangat hari ini adalah tentang seekor Cicak," seru Harman sambil membuka-buka halaman korannya. Ia ingat-ingat bacaannya tadi.

"Maksudnya, Mas?"

"Penjabat ada yang tidak jujur, uang negara yang seharusnya digunakan membangun infrastruktur ekonomi pasar, malah sebagian dikorupsi untuk keperluan pribadi," terang Harman. "Aku terobsesi dengan Cicak gara-gara Rudi tadi, lihatlah ini," Harman menunjukkan berita di halaman 12 tentang kasus penggelapan dana.

"Menyedihkan sekali. Cicak-cicak negara harusnya dihukum, mereka pandai membuat alasan ketika diintograsi pihak hukum. Di muka publik mengaku sudah menggunakan dana untuk pembangunan secara maksimal, tapi kenyataannya?"

"Semoga itu menjadi masa lalu saja ya, Pa? 2015 ini negara kita terbebas dari kasus tersebut. Mama harap Presiden dan penjabat menteri tahun ini bisa mengubur kebejatan menteri dahulu kala,"

"Iya, ya sudah kamu lanjutkan aktivitasmu. Papa mau baca koran di sini saja,"

"Iya, Mas."

Harman mencium kening Vina terlebih dahulu sebelum membiarkannya masuk ke dalam rumah. Mentari sudah menyembul ke atas pegunungan Menoreh. Lenteranya menemani Harman menikmati ribuan kutu huruf. Rumput-rumput perlahan mulai mengeringkan embunnya. Udara tak lagi segar. Panas mulai menyengat. Namun Harman tetap setia dengan koran dan kopinya. Tak ada aktivitas lain hari itu, kacuali bersantai di rumah dengan keluarga. Hari minggu, kantornya libur. Waktu yang indah sambil menunggu Rudi kembali ke halaman usai mandi. Berharap topik pembahasan Cicak tak terulang, ia bosan dengan hal itu karena mengingatkannya kepada penjabat yang sewenang-wenang menggelapkan uang rakyat. Memuakkan.


30 Desember 2014. Marah. Meja kasir. 10:53 WIB.
Karya: Titin Widyawati
Si Gagis Suka Melamun

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website