Headlines News :
Home » » Cerpen: "Lembaran Kertas"

Cerpen: "Lembaran Kertas"

Written By Pewarta News on Selasa, 28 Februari 2017 | 05.06

Ilustrasi. Foto: darussalaf.or.id.
PEWARTAnews.com – Ia membayangkan yang ia remas adalah serpihan mentari retak. Ia merintih di dalam kolam salju menahun. Berusa ha berbiak walau langkah beribu-ribu tumbang. Mengusir perih, meskipun sekarat merayu kematian. Kursi terbalik, meja bergetar. Pandangan berpendar. Dan tak ada seorang pun yang nenjadi kawan. Alam justru menjadi lawan, hujan menghajar ketenangan. Miris, ia mengaduh. Kening berpeluh.  Reruntuhan air dari langit tak mau memberi kesempatan telinga lain mendengar. Egois. Guntur mentertawakan keadaan yang menyesakkan. Kabut mengubur cahaya terang. Pemuda itu nyaris kehilangan kata sadar.

“T.o.l.o.n.g!” Lirih. Waktu pun nyaris tak mampu mendengar. Cicak di dinding merayap perlahan. Mengamati nyawa yang terkapar di ruang makan. Sendok juga kekasihnya garpu terpelanting di atas lantai. Nasi berserakan. Piring pecah. Darah mengalir dari telapak tangan. Temaram. Guntur bersahut-sahutan. Angin mengembuskan aura kelam di tirai jendela. Bingkai gelap. Lantai marmer semakin mendinginkan tubuh. Menyiksa raga rapuh yang terlempar dari atas kursi kayu. “Aku mohon, Tuhan tolong aku!”

Dadanya bak dilempari batu dari neraka. Jantungnya dijerat tambang yang tergantung. Napas disumpal tanah hingga mampat. Sekujur tubuh berkeringat dingin. Wajah pias membiru pucat pasi. Jangankan beranjak meminta bantuan pada tetangga, berteriak saja ia sudah kesusahan. Yang renta beranak-pinak uban di atas kepala. Dipermatai arloji seumur senja di tangan kanan. Hidup setia bersama cucu semata wayangnya dan kucing hitam yang sedari tadi meringkuk di depan perapian. Kucing itu terbangun dari tidurnya saat ia jatuh dari kursi. Sendok dan garpu terpelanting menciptakan bunyi yang gaduh. Cucunya sedang berlari menerobos hujan.

“Meong!”

“Tolong!” Bergetar Bibirnya. Semakin erat tangan kiri meremas dada kiri. Perih. Sesak. Pening. Ia mempertaruhkan nyawa pada seutas senyum pelangi. Bersusah payah mewarnai kanvas gulita dengan percikan airmata. Berharap semuanya hilang. Ia pun terpejam dari penderitaan. Tempe bacam yang terlempar didekat kucing tak berkutik, saat hidung makhluk itu mengendus tubuhnya.

Semua rambutnya basah. Air meresap ke celah pori kain. Tubuhnya menggigil. Dan ia terus berlari menyibak hujan di bawah langit yang muram. Mega indah yang biasa mengintip malam tak tampak. Jingga membeku kedinginan. Alam menangis Ia menahan tangis. Membayangkan Ibu dan Ayah yang melesat ke negeri tetangga. Sepuluh tahun dalam kenangan menggendong tubuh kecilnya di punggung terpungkur, maju di masa depan menjadi angin lalu pilu.Tak pernah ada berita tentang kerinduan mereka.

Sosok yang membuatnya terlahir ke dunia, seolah menguburnya hidup-hidup dengan penderitaan. Ia ditinggalkan sendirian bersama Kakek yang sakit-sakitan. Sehari memakan hasil dari pekerjaannya memulung sampah di emperan selokan, atau di tempat-tempat sampah pertokoan. Masuk tanpa alas ke dalam pasar-pasar induk yang kumuh. Bergerumul setiap waktu dengan teman-temannya lalat dan cacing. Bau busuk menjadi parfumnya. Begitulah takdir yang ditimpakan kepada Karina.

Senja itu rambutnya menempel erat di punggung. Wajah sembabnya dibasuh oleh ratapan hujan. Ia menggigil di depan apotek kota. Ragu-ragu mendekati apoteker. Menjinjit-jinjit. Tampak menyedihkan. Bibir membiru. Kukunya putih pucat. Tak ada payung yang menaunginya dari tetesan hujan.

“Bolehkah saya membeli obat?”

“Obat untuk apa?”

Umurnya lima belas tahun. Ia tak mengecap bangku sekolah. Kecerdasannya didapatkan dari alam juga masalah-masalah sosial yang sering ditemuinya di jalanan. Ia bahkan tak sanggup membaca, hanya mampu mendengar. Lantas sangat malang, sebab yang didengarkan hanyalah suara-suara menyedihkan. Orang berkelahi merebutkan gadis di sudut malam. Orang yang berebut barang dagangan di pasar-pasar. Mendengar berita-berita politik dari televisi yang biasanya dipsang di ruko-ruko jalanan.. Terakhir orang yang berkeliaran mabuk mengumpat-umpat di trotoar kota.

“Untuk menyembuhkan penyakit jantung!”

“Ada resep dari dokter, Dek?”

“Tidak ada. Saya tidak punya uang cukup untuk membawanya ke dokter, Bu!”

“Kami tidak sanggup memberikan obat untuk penyakit serius tanpa resep dokter!”

“Obat yang sanggup menahan rasa sakit!” Ia tak putus asa.

“Maaf. Dek. Kami tetap tidak bisa. Bawalah orang tersebut ke rumah sakit. Barulah  datang kembali kemari setelah mendapatkan resep dokter!”

“Dengan apa saya membawanya?”

“Ada jaminan kesehatan kartu BPJS untuk orang miskin,”

“Saya tidak membuatnya, kata tetangga kartu itu harus dibayar perbulan, pekerjaan saya sebagai pemulung tidak akan mampu untuk itu.”

Apatoker dengan rambut yang diikat ke belakang itu mendengus. Iba.

“Bisakah menolong saya? Saya hanya hidup bersama kakek saya, Ibu dan Ayah merantau ke luar negeri, entah masih hidup atau tidak, dari saya kecil sampai saat ini mereka pergi tak pernah kembali. Jika Kakek saya meninggal.............” ia menahan cairan panas. Bening mengendap di sudut mata. Suaranya serak. Guntur menyambar. Air yang meresap di kainnya luruh, jatuh di atas mamer putih yang bersih. Neon menyorotnya malang. Hari menggelap. Sinar mentari padam.

“Maaf, Adek.” Kabar buruk terkulai. Tubuh anak itu lemas di tempat. “Saya tidak tahu hendak berbuat apa.”

Ia mundur. Memecahkan tangisnya. Kembali lari menerobos hujan menuju rumah. Uang sepuluh ribu masih tergenggam erat di tangannya. Ia mengumpat, orang dewasa selalu egois, jarang yang memiliki hati nurani.

Lelaki tua itu tiga menit lalu tak sadarkan diri. Kucing mondar-mandir di dekat tubuhnya. Mengendus-endus nasi yang tumpah, sesekali mengendus pipi tuannya. Karina mematung di pintu rumah. Ia lari menyadari tubuh kakeknya sudah terkelepar di atas lantai. Ada bercak darah. Ia ketakutan. Menggoyang-goyangkan tubuh Kakek. Memanggil-manggil mengalahkan rintikan hujan. Tak ada gerakan yang berarti. Embusan napas mati.

Karina terduduk pasrah. Ia memeluk lutut dalam tangis. Membayangkan hidup suram yang akan bertambah kelam. Tirai jendela menjadi saksi malam  yang mengenaskan. Kucing itu tertidur kembali. Perapian mati. Ruangan diselubungi dengan kegelapan. Tak ada percikan sinar rembulan yang menenangkan. Karina terisak.

“Kakek, jangan meninggalkanku sendirian!”

“Tuhan mengapa kehidupan orang lemah sepertiku selalu diperjual-belikan dengan selembar kertas? Kami sering tak tertolong! Bagaimana dengan orang-orang yang hidup di bawah neon terang itu? Mereka justru menyia-nyiakannya! Bolehkah aku  mengumpat bahwa hidup yang Engkau berikan itu tidak adil disebabkan lembaran-lembaran kertas duniawi? Mengapa kau tidak menciptakanku agar sanggup mengecam nikmatnya pendidikan, supaya jika besar nanti aku dapat bekerja menjadi dokter untuk menyelamatkan hidup Kakekku! Itu saja tak lebih!” Ia tergugu di hadapan mayat Kakek tercintanya.

***

Kelu batin pemuda yang duduk sendirian meratap di kamarnya. Ia membuka jendela lebar-lebar. Mengusap peluh berkali-kali. Merintih pada hujan yang tidak memberkati perjalanannya menyunting kasih sayang. Perjuangan untuk mendapatkan makna tulus dihancurkan guntur yang riang mengacaukan ketenangan. Jemarinya menggenggam bingkai foto. Sosok berwajah manis sedang tersenyum memandangnya. Ia membayangkan jika perempuan berkerudung putih itu sedang berada di sisinya, menyentuh pipinya lembut, menghapus airmatanya yang menyakitkan. Ilusi. Semuanya hanya mimpi. Pada kenyataannya ruangan itu kosong. Kasur empuk berguling dengan selimut dan bantal. Meja belajar yang diseraki buku-buku perkuliahan hukum menatapnya sangsi. Detik waktu berdetak lamban. Seakan memaksa tuannya menikmati kepedihan.

“Banyak gadis yang lebih baik darinya, Anakku? Banyak pula gadis yang menginginkanmu? Mengapa hatimu tidak sanggup melupakannya?” Kalimat Ibunya terngiang. Memantung pada dinding yang dicat lautan.

“Ibu! Aku mencintainya. Ia yang membuat hatiku luluh dan yang selalu aku pikirkan!”

“Anakku, Ibu tahu perasaanmu, namun Ibu tidak ingin hidupmu menderita!”

“Aku tidak akan pernah menderita Ibu. Justru hidupku akan kacau jika aku dipisahkan dengannya. Ia adalah gadis yang cerdas meski tidak duduk di bangku sekolah. Ia juga sosok yang selalu menjaga kehormatannya. Tuturnya lembut tidak seperti gadis-gadis yang hanya pandai berdandan di kampus-kampus. Ia adalah figur kesederhanaan namun sejujurnya penuh dengan pesona yang menakjubkan!”

“Kau selalu membelanya karena kau mencintainya, Anakku. Baik itu datang dari cintamu yang dibutakan!” Ibu melawan. Otot-otot lehernya menegang. “Gadis itu hidup di lingkungan kumuh, ia juga tidak mengecap pendidikan, kau terjual murahan untuknya, Anakku! Cobalah hilangkan perasaan cintamu yang mendalam itu! Cinta hanya kenikmatan sementara waktu, pikirkan masa depanmu! Pikirkan kehidupanmu yang layak dan mulia, Anakku! Bagaimana mungkin Ibu yang sangat mencintaimu membiarkan dirimu melamar gadis miskin yang tidak berpendidikan itu?”

“Apa gunanya harta jika hidupku menderita, Ibu?”

“Kau akan mengerti jika sudah beranak-pinak, Anakku!”

Ia pasrah. Masuk ke dalam kamar. Membanting pintu kuat-kuat. “Tuhan! Kenapa kau tak menciptakanku menjadi orang yang sangat miskin saja agar aku dapat meminang gadis yang aku cintai?” Ia menangis di sisi jendela. Hujan menyaksikannya dari luar. Malam sunyi. Tak ada rintihan kecuali dari batinnya yang dingangakan luka. Gelap itu memantulkan senyum gadis yang dicintainya. Membumbungkan kenangan di depan lautan. Menerbangkan sejuta angan yang dulu pernah diciptakan bersaksikan gulungan ombak-ombak. Ia menggigit bibir.

“Sebentar lagi aku akan menikahimu, Sayang!”

“Emmm... sungguh?”

Lehernya mengangguk yakin. Gadis itu menarik bibir, tersenyum menyenangkan, meneduhkan, melenakan. Lautan indah. Tak tenang sebab ombak menghantam karang. Namun ia tenang usai mengucapkan kalimat yang menyejukkan di dada. Langit memerah. Mentari tinggal setengah tubuh di Barat. Indah jingga menyatu dengan oranye, bercampur birunya langit dan lautan. Burung-burung camar mengepakkan sayap berjalan pulang.

“Kita akan hidup berdua, Sayang! Tak ada yang akan mengganggu!”

“Itu suatu kalimat yang indah. Aku berharap takdir menyatukan cinta kita, Mas! Aku amat sangat mencintaimu! Aku tidak ingin kau meninggalkanku!”

“Percayalah padaku!”

Cincin masih tersimpan di dalam kotak. Ia memandang kotak hitam di atas meja belajar. Nanar. Ngilu batinnya membayangkan. Kelopak mawar tumbang. Kemeja yang dikenakannya tak lagi menciptakan kata rupawan. Ia terlukis oleh fatamorgana dengan kata menyedihkan. Nirwana hendak menertawakan. Takdir mencemooh. Ia tumbang.

“Mungkinkah perasaan juga dapat dibeli dengan kertas?”

“Untuk apa orang bersekolah tinggi, jika ia saja tidak tahu makna pendidikan yang sejujurnya? Untuk apa aku sekolah jika pada akhirnya aku harus dipekerjakan agar sanggup menimbun uang sebanyak-banyaknya? Lebih baik kutanggalkan semuanya!Aku ingin mnjadi orang yang tidak sekolah, agar dipersatukan dengan kekasihku!” Ia menggebrak meja. Kotak cincin terpelanting. Jatuh di atas lantai. Terkulai!

Ia remas kepalanya. Mengacak rambutnya. Luka bertambah dalam. Aimatanya menitik deras. Guntur menyambar. Hujan terus menyeringai. Ibunya mengintip dari celah pintu yang tak terkunci. Berdiri mematung. Membiarkan putranya terlena dengan luka yang menguliti jantungnya. Ia menggumam, semuanya dilakukan demi kebaikan putranya.

“Harta telah membutakan perasaan seseorang, bukan cintaku yang buta! Ibuku yang buta dengan harta!”

Wanita itu menangis. Mengelus dada. “Bagaimana aku sanggup menikah dengan gadis lain? Sementara aku tahu gadis lain belum tentu sebaik dirinya! Ia memang bunga yang tidak tumbuh di taman, ia tumbuh di selokan. Namun tetap indah! Tak ada seorang pun yang berani menyentuhnya!”

“Anakku! Apa pun yang terjadi, Ibu dan Ayah tidak merestui cintamu dengan gadis miskin itu!” Kata menyakitkan meluncur kembali. Pintu terbuka. Wajah wanita setengah tua tampak jelas sedang menangis. Suaranya bergetar. “Bukan karena Ibu ingin melihatmu hancur seperti ini, Nak! Ibu hanya memikirkan masa depanmu!”

“Apakah Ibu tahu apa itu masa depan? Mungkinkah masa depan hanya digambarkan dengan kemewahan harta dan sosok gadis mulia yang terjaga nama baiknya oleh harta?”

Diam. Ibu tak mampu menjawab. “KELUAR! TINGGALKAN AKU SENDIRIAN! MAKAN SAJA UANG YANG KAU TIMBUN, IBU! Aku akan mencari pekerjaan sendiri, dan dengan hasilku aku akan meminang kekasihku!”

“Nak, sadarlah cintamu itu tidak benar!”

“Dia gadis solehah, cantik, cerdas, lembut, apa yang dikatakan salah jika aku mengagumi gadis itu?”

“Sudah! Istirahatlah,” Pintu ditutup rapat.

Bersamaan itu, telepon satelitnya berdering. “Mas, kau kata hari ini akan datang ke rumah bersama keluargamu untuk meminangku, Ayah dan Ibu masih menunggu. Aku tidak sabar menunggumu!”

Batinnya menggigil. Bibir tergigit getir.

***

Di pusar lelap. Dedaunan bambu bergesekan dengan angin, menghasilkan simponi alam yang merdu. Angin mengiringi tarian kepakan sayap burung. Penduduk meratap menggendong pupuk atau membawa cangkul ke ladang. Wajah-wajah cokelat tercium bibir mentari langsung. Kulit kusam khas orang pedesaan. Beberapa yang putus asa lari ke kota, menawarkan jasa menjadi tukang cuci, atau pembantu rumah tanga. Miris! Gaji tak sepadan dengan ribuan keringat yang diperasnya setiap hari. Harga diri terbeli kertas. Hidup merantau kebanyakan yang berpendidikan rendah bukan untuk meninggikan pendidikan, justru merendahkan kehormatan, menjadi b.a.b.u. Lugu menerima. Ditipu pun tak berani melawan. Merekalah generasi maju yang masih mundur di kejauhan sana. Adakah tangan pemerintah yang akan membelai letih dan kesah mereka?

Hujan mengamuk alam. Guntur ikut menyeringai marah pada kekuasaan. Pemuda yang berumur dua lima tahun sedang duduk di gubuk rumahnya. Memandang hujan layu. Segelas kopi tanpa gula menemani. Dua anaknya lelap di pembaringan. Istri duduk manis melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran di dalam kamar. Ia menenggak kopinya nikmat. Pahit terasa menggoyang lidah. Ia telan pahit yang tercipta dalam takdir bijian kopi, seumpama menelan hidup getir menjadi makhluk pribumi.

“Pak! Bolehkah saya mampir?” Seseorang memakai jas rapi. Mengklakson dirinya. Ia terkejut. Tergagap dari lamunannya memandang hujan yang kosong. Tak disadari mobil mewah telah terpakir di halaman rumahnya. Ia bangkit dari tempat duduknya. Istri menutup Al-Quran. Mengintip dari jendela siapakah gerangan yang datang. Bibirnya membentuk huruf o. Siap-siap menyiapkan segelas teh manis. Mukenah dilepas.

“Mari! Silakan, Pak!”

Lelaki berjas turun dari mobil, membiakkan payung transparannya. Gagah ia berjalan. Pandangannya lurus ke depan. Tak sungkan duduk di atas kursi bambu.Rumah terpagari anyaman bambu menjadi bigron yang sangat kontras. Rinai hujan mengiramai.

“Maaf datang mendadak, Pak!”

“Iya, tidak papa. Ada yang bisa saya bantu?”

“Mau silahturahmi sambil berdiskusi dengan Anda,”

“Diskusi apa ya, Pak?”

Hening. Lelaki berjas tersungging. Istri keluar membawa teh yang masih mengepulkan asap. Meletakkan di atas meja. Mempersilakan lantas masuk kembali ke dalam rumah.

“Anda beruntung sekali memiliki istri yang cantik dan santun sepertinya, Pak!” Lelaki berjas berkomentar sambil memandang punggung istrinya. Ada panas yang membakar ulu hatinya. Prasangka buruk terlahir. Yang dipuji justru bersemu merah.

“Ya... dia istri yang solihah. Ada perlu apa Anda kemari, Pak?”

Lelaki berjas terkenal dengan kekayaan juga kecerdasannya. Sosoknya murah senyum. Pembawaan nada katanya lembut. Kadang gemulai dalam berkelakar, namun lebih sering melemparkan kalimat yang mencengangkan. Seperti petir menyambar bumi saat mentari sedang berselingkuh dengan lautan. Terang namun ada badai yang tak diundang. Lelaki berjas jebolan universitas ternama di kota. Sudah mendapatkan gelar di belakang namanya.

Jika sekilas memandangnya kewibaan terpancar dari sinar matanya yang terkadang mencurigakan. Otak kirinya encer, sering dipergunakan untuk mengelabuhi orang-orang yang di bawah kedudukannya. Kampung sering riuh usai kedatangannya dari kota, herannya jika warga berhadapan langsung dengan sosoknya, mulut terkunci rapat-rapat, tak ada yang berani menyela setiap helai kata yang diucapkan. Mungkinkah itu pesona orang berpendidikan? Sarjana Ekonomi. Pandai sekali ia menyuruh warga kampung mendistribusikan usahanya. Cangkul dan pupuk kandang nyaris punah. Padi-padi tak mau merunduk. Karenanya ia mendapatkan julukan orang paling cerdas membual!

“Saya berniat mengembangkan usaha saya di desa ini, bukankah Bapak mempunyai tanah di pinggiran desa?”

“Lantas?” Tangkas ia menjawab. Ada aroma busuk yang mulai tercium. Pemuda kampung itu sudah sering mendengar kabar tak menyenangkan dari tetangga. Istri mengintip percakapan dari jendela.

“Bagaimana jika kita bekerjasama? Saya akan membangun pabrik dan supermarket di sana, tempatnya strategis, di pinggir jalan raya langsung, di kanannya banyak rumah penduduk, dan tanah Bapak juga pembatas kampung sebelah, jika di sana didirikan supermarket tentu yang membeli bukan hanya dari kampung kita saja, namun juga dari kampung luar, selain itu juga akan memberikan keuntungan kepada penduduk supaya tidak jauh-jauh ke pasar tradisional, bukankah itu sangat membantu?”

“Anda berencana membeli tanah saya?”

“Tidak, kita hanya bekerjasama. Hasilnya nanti kita bagi menjadi dua!”

“Kalau tanah saya ditanami semen, bagaimana saya sanggup memberikan makan kepada karyawan negeri di luar kota sana?”

Tenang saja, masih banyak petani di kampung ini,”

“Kebanyakan dari mereka keluar kota, bekerja dan menetap di sana. Tanaman padi semakin sedikit, jika negara kita gagal panen, bagaimana nasib perut bangsa?”

“Negara kita tidak akan kehabisan cara, pemerintah akan mengimpor beras dari luar negeri,”

“Beras yang kutuan itu? Layakkah dimakan oleh rakyat jelata? Sementara kalian memakan beras yang bagus?”

Lelaki berjas diam. Ia tenggak teh yang mulai mendingin. Istri menutup tirai jendela.

“Baiklah saya akan membeli tanah Anda dengan harga yang tinggi,”

“Anda akan membeli tanahnya Tuhan dengan lembaran kertas? Bukankah pencipta menginginkan tanaman tumbuh di tanah-Nya untuk mencukupi kebutuhan banyak orang? Anda ini bagaimana? Sekolah tinggi namun tidak memahami,”

“Justru karena saya sekolah, maka saya memikirkan cara untuk mengembangkan perekonomian di kampung kita, saya hendak mendirikan pabrik di kampung ini untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka,”

“Kata nenek moyang, negara kita negara agraris, bukan negara industri! Kami cukup menjadi petani untuk menyekolahkan anak kami agar ia menjadi pintar ilmu agama.”

Lelaki berjas mendengus. Ia mengambil dompet. “Saya akan memberi uang muka dua juta,”
“Singkirkan uang itu! Saya tidak butuh! PERGI! Jangan pernah beli alam dengan kertas pembawa sial itu!”

“Hati-hati Anda bilang! Uang bukan barang pembawa sial! Ia yang menghidupkan, Anda! Ia yang mencukupi pendidikan anak Anda! Juga ia yang dulu meminang istri Anda!”

“Oh, begitu rupanya Anda berpikir, uang adalah raja bagi Anda, tapi dia pembantu bagi saya! Saya menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan bukan untuk hidup!” Pemuda itu berdiri. Melotot garang. “PERGI! ANGKAT KAKI ANDA DARI RUMAH SAYA!”

Maka waktu heran. Jika tetangga selalu bungkam tak berkutik di hadapan lelaki berjas tersebut. Mengapa pemuda kampung yang hanya bekerja menjadi petani lancang mengusirnya? Di mana letak hormat pada orang berpendidikan? Kasakkusuk berembus. Orang berpendidikan lebih mulia dari yang lainnya. Mengapa kini lelaki berjas seperti kepiting rebus?


Magelang, 13 Januari 2017
Karya: Titin Widyawati
Si Gagis Suka Melamun

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website