Headlines News :
Home » » [Cerpen] Nyawa di dalam Sumur

[Cerpen] Nyawa di dalam Sumur

Written By Pewarta News on Senin, 06 Februari 2017 | 03.16

Titin Widyawati.
PEWARTAnews.com – Kakinya memijak jalan tandus yang retak-retak. Jalan dengan rerumputan hijau yang tak lagi mencuat. Bebatuan kecil tersebar di mana-mana. Debu yang menyerbuk di udara membuat napasnya sesak. Samping kanan dan kiri jalan hanya ada ribuan pohon mahoni atau pohon pinus. Jalan itu dikelilingi dengan hutan dan ladang jagung yang sangat luas. Keringat membutir di dahinya. Bibirnya mengering dan pecah-pecah. Wajahnya yang tirus berkerut-kerut dengan kantung mata yang besar dan pucat. Bahu kanan, bahu kiri terbebani dua ember air yang dipanggul menggunakan sebilah bambu. Sesekali dia seka keringat yang berseri-seri karena pantulan terik mentari. Dia tarik napas beratnya. Lelah. Desisnya.

Sebulan lebih kehidupan di kampung Karanganyar itu menderita. Tanah persawahan retak-retak bagaikan seorang wanita malam yang berluluran masker kecantikan dan meretak. Tentunya itu sangat mengerikan di pandangan banyak mata warga. Kekeringan. Itulah kata yang tepat diluncurkan. Setiap detik mentari membakar habis semangat dan tenaga juang mereka untuk mengumpulkan air dari kampung sebelah. Kurang lebih dengan jarak enam kilo meter. Mengerikan sekali.

Setiap pagi usai keluar dari suaru-surau tua kakek renta, nenek renta, ibu-ibu, bapak-bapak, beberapa anak muda pula berjalan hilir mudik untuk membawa seember air kehidupan. Tragisnya lagi harus mengantre dan kebanyakan warga berjalan kaki. Menyedihkan sekali nasib mereka. Apalagi bagi jiwa tua yang telah pensiun dari masa muda. Eloknya para pemuda malah berjalan menggunakan sepeda motor dengan gagahnya.

Siang itu tatkala terik berdiri di atas ubun-ubun. Kakek Paiman berumur enam puluh tahun sedang berjuang mati-matian mengangkut dua ember kecil. Air itu akan digunakan untuk mandi sang cucu tercinta, Fitri. Gadis belia yang imut manis dengan kelucuannya. Fitri baru saja masuk sekolah dasar kelas satu. Ke dua orangtuanya merantau ke Malaysia mengurusi kehidupan duniawi untuk menimbun harta. Sejak umur lima tahun Fitri tinggal bersama nenek dan kakek Paiman.

Malang pula nasib anak itu. Dari kecil sudah kehilangan kasih sayang. Patutnya teman lain bersyukur karena sampai saat ini mereka hidup dengan pelukan orangtua. Sering Fitri bertanya kepada kakek Paiman. Di manakah ibu berada? Kenapa yang memandikan malah kakek? Apakah ibu Fitri kakek? Anak yang polos dan belum mengerti apa-apa.

"Tiga kilometer lagi." Desis kakek Paiman. Dia membenarkan letak posisi embernya lalu kembali berjalan seperti tadi.

Warga yang lain pun berbaris mundur di belakang Kakek Paiman. Ada yang bergerombol. Ada pula yang menyendiri seperti Kakek Paiman. Warga Karanganyar bagaikan sedang berlomba memindahkan air dari kampung satu ke kampung lain yang pemenangnya akan mendapatkan piala dahaganya musnah, piagam kesegaran, dan sejumlah uang tunai kepuasan.

Ah tapi tak ada warga yang tahu kapan hadiah itu akan dibagaikan dan siapa pula pemenangnya. Setiap hari, hampir pula setiap saat mereka berbondong-bondong ke kampung sebelah untuk menimba air. Berebutan pula. Akhirnya mau tidak mau sistim antre harus dilaksanakan. Kasihan kakek Paiman setiap hari datang pagi buta, sampai rumah tatkala terik di ubun-ubun. Air pun terkadang hanya digunakan sebagai wudu saja. Bukan hanya penduduk saja yang kekeringan. Kamar mandi surau pun kering kerontang. Sulit memanen sayur. Sulit mengambil air pula. Tapi kebutuhan sehari-hari menuntut untuk membuang air. Minum, masak, mandi, wudu, mencuci, dan yang lainnya.

Pernah satu warga bangun malam meminta hujan. Semuanya serempak berbaris rapi di lapangan menggelar sajadah panjang. Kepala disujudkan untuk mencium Bumi. Berdoa dengan sepenuh hati. Sayang, nampak pencipta masih ingin menguji kehidupan mereka. Hujan tak turun. Aktivitas memanggul air dari kampung sebelah pun berjalan rutin.

"Ayo Kakek! Sebentar lagi sampai rumah." Seru seorang pemuda yang mensejajari langkahnya. Pemuda itu memanggul satu ember air.
"Kakek juga tahu kalau sebentar lagi akan sampai," balasnya dengan sisa napas yang tersengkal-sengkal.

"Ya. Semangat Kakek!" pemuda itu berjalan lebih cepat menyalip Kakek Paiman.

"Dasar anak muda. Mau menghina atau mau apa?" gerutu Kakek Paiman kesal.

Mendadak tubuhnya terseok. Kakinya menyandung bebatuan. Airnya tumpah. Ember terpelanting ke bawah. Mulutnya mencium tanah. Wajahnya berbedak debu-debu kering. Matanya pedas karena kemasukan debu-debu itu. Dia kerjab-kerjabkan matanya. Duduk setengah badan di pusar jalan. Menatap sayu embernya yang terbalik.

"Airkuuuuuuuuuuuuuuuu.....Oh Tuhan!" jeritnya lantang. Membuat iba angin yang berembus. Airmatanya seakan-akan meleleh. "Cucuku sudah menunggu sejak pagi tadi. Dia sudah lima hari tidak mandi. Haruskah aku mengulang berjalan lima meter? Oh umurku telah renta. Sehari berjalan dua puluh empat kilo meter. Itu bagaikan bertamasya ke kota saja." Keluhnya sambil mengusap keringat di dahinya. "Airkuuuuu....."

"Ada apa Kakek?" seorang ibu-ibu separuh baya dengan kebaya cokelat duduk di sampingnya. Ibu itu membawa satu ember kosong.

"Airku tumpah."

"Oh, malang." Dia mengambil ke dua ember dan panggul bambu Kakek Paiman lalu memberikannya. "Marilah berangkat bersamaku kembali untuk mengambil air di kampung sebelah."

"Hmmmm... baiklah. Tak ada pilihan."

Mereka berjalan berdua menelusuri jalan kering nan menguapkan debu-debu. Ketika bersapaan dengan warga yang pulang membawa air Kakek Paiman hanya tersenyum kecut. Seolah dia telah yakin bahwa dia akan kalah mengikuti lomba menimba air itu. Piagam, piala, uang tunai pun hanya akan menjadi khayalan. "Menyedihkan!" desis Kakek Paiman.

******

"Kami yang membangun sumur itu," sorak warga Karanganyar.
"Bukan! Tapi kami yang membuatnya." Kata kampung sebelah.

"Kami! Kami dan warga kami. Setiap pagi kami kemari untuk mengambil air. Itu artinya karena kami tahu kalau sumur itu milik kami, kami tidak mungkin memakan air yang bukan dicari dengan jerih payah kami."

"Kami yang membuatnya."
"Kami!"
"Kami!"

Kakek Paiman yang baru saja tiba di sumur yang dua bulan lalu dibangun bersama-sama warga Karanganyar menyeka keringatnya. "Cobaan apalagi ini?" dia bersama ibu itu berjalan mendekati kerumunan.

"Ada apa?" potong Kakek Paiman. Suasana mereda sedikit tenang. Semua mata kini terpusat pada wajah Kakek Paiman yang berlinangan keringat.

"Warga sebelah mengaku-ngaku membangun sumur kita Kek,"

"Yah karena memang ini adalah tempat yang paling dekat dengan lahan kampung kami!" seru salah satu pria bertubuh kekar dari kampung sebelah.

"Berani sekali kau berkata seperti itu. Kami kemarin bercucuran keringat untuk membangun sumur itu. Demi kehidupan kampung kami!"

"Sudah-sudah biarlah Allah yang menjawab kebenaran. Lebih baik kita mengalah saja. Tapi sebelum kita mengalah, ijinkan kami mengambil seember air untuk kami bawa pulang." Kata Kakek Paiman dengan bijak.

"Tapi Kek. Kalau sumur itu kita berikan kepada mereka, bagaimana hidup kita nanti?"

"Kampung kalian kan diberi air bersih dari pemerintah. Kenapa tak digunakan secara baik?"

"Diberi air bersih dari pemerintah? Omong kosong. Kalau pun iya kami tidak akan susah payah menimba air di sumur ini dengan berjalan enam kilo meter." Seru pemuda Karanganyar dengan bringas.

"Sudah-sudah tak usah bertengkar. Lebih baik kita mengalah." Kakek Paiman memotong perselisihan mereka.

"Tidak bisa Kakek? Kita yang iuran untuk membangun sumur ini. Bagaimana nyawa kita akan tetap hidup tanpa air di dalam sumur itu? Apalagi kita juga sudah berjuang mati-matian menghabiskan tenaga dan uang. Apakah baik kalau kita serahkan kepada mereka dengan cuma-cuma?"

Ibu yang sedari tadi berdiri di samping Kakek Paiman mendekati pemuda itu. Dia lalu berbisik. Tak ada yang bisa mendengarkan kecuali angin yang berembus lancang menguping mereka. "Anggap saja mereka adalah para koruptor yang memakan harta rakyat."

"Ini jaman modern tak ada koruptor, bodoh! Apa kau mau perjuangan kita dirampas orang lain secara percuma?"

"Sudahlah ngalah saja, Allah selalu bersama orang yang benar. Tak usah berdemonstrasi seperti ini. Lebih baik kita pulang ke kampung dan gotong-royong membangun sumur yang baru,"

"Hmmm..."

"Apa yang kalian bicarakan?" hardik Kakek Paiman. Semua mata memandang mereka berdua dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Anak muda ini ingin kita mengalah, Kakek!" seloroh ibu itu dengan sunggingan senyum yang entah apa maknanya.

"Kita akan membangun sumur di kampung kita." Tambahnya lagi.

"Ya! Memang begitu sebaiknya karena ini adalah buatan kami. Kami masih berbaik hati mengijinkan kalian untuk membawa pulang satu ember air untuk yang terakhir, dan jangan pernah datang kembali ke kampung kami!"

"Silakan Anda makan nyawa kami di dalam sumur itu, lagi pula kami masih punya sumber mata air di kampung kami. Kami akan membuat nyawa kami hidup kembali! Dan tak sudi kami memakan air yang sudah bukan menjadi milik kami lagi!" Kata ibu itu dengan suara tinggi. Dia lalu menarik lengan pemuda yang tadi diajaknya berbisik-bisik. Kakek Paiman berdesis pilu. "Tapi cucuku belum mandi sejak lima hari yang lalu? Haruskah aku pulang dengan tangan kosong?"

"Sudahlah Kakek, di rumahku masih ada air lima ember bisa kita gunakan secara bersama-sama."

"Di rumahku masih ada tiga."
"Punyaku sepuluh,"
"Di rumahku malah ada satu bak air. Hanya saja sedikit keruh."

"Kita gunakan untuk mencukupi hidup warga kita dengan berbagi sampai sumur baru kita buat. Bagaimana?" Usul salah satu warga dengan bijak.

Satu persatu warga berhambur pergi. Ember mereka kosong tak berisi. Kakek Paiman sangat sedih. Bagaimana nasib Fitri cucunya yang malang?

Sampailah dia di rumahnya yang tua terbuat dari kayu. Dia duduk di teras dengan tenaga yang tersisa. Fitri yang hampir setengah harian menunggu lari menjemput ke datangan Kakek Paiman. Hatinya sudah sangat bahagia. Mimpinya semalam dimandikan oleh seorang ibu. Dia bebas bermain gelembung-gelembung busa yang ditiup dari tangannya.

"Mana airnya Kakek?"
"Airnya ada di dalam mimpi." Kata Kakek Paiman putus asa.

"Oh, berarti ibu dan air itu ada di dalam mimpi ya Kek? Kalau begitu Fitri akan tidur lagi agar bisa mandi. Horeee....." anak itu berteriak lalu lari ke dalam kamarnya.
Kakek Paiman menggeleng-geleng pilu.

****

Warga Karanganyar tidak kau berlama-lama menderita. Usai menyerahkan sumur buatan mereka dengan keterpaksaan mereka menggali sumur di kampung dengan bergotong-royong. Jika ada warga yang kesusahan mendapatkan air, mereka saling bantu membantu dan berbagi. Tak terasa sebulan sudah berlalu. Sumur baru bisa menghidupkan nyawa mereka. Dan menakjubkan lagi mereka tak perlu mengantre seperti dulu. Tak perlu pula berjalan dua belas kilo meter untuk bolak-balik. Sekarang mereka sadar, uang tunai, piagam, pahala itu akan dimenangkan bagi orang yang berjiwa samudera dan orang yang sabar serta mau mengalah.

Allah memang tidak menurunkan hujan, tapi Allah memancarkan mata air di sumur baru itu besar-besaran. Tanpa sumur mungkin hidup mereka tak akan bertahan lama. Apalagi jika bulan September datang. Menunggu musim penghujan dan sungai-sungai akan mengalir deras seolah memerlukan ribuan tahun untuk bersabar. Apalagi musim di Indonesia sekarang ini terkadang sulit untuk diprediksi. Tentunya itu sangat menyengsarakan. Itulah sebabnya mengapa warga Karanganyar menyebut bahwa nyawa mereka ada di dalam sumur.

14 September 2014. Duduk di kamar pada 07:57 WIB.


Karya: Titin Widyawati
Si Gagis Suka Melamun

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website