Headlines News :
Home » » Jogja dalam Perspektif Anak Timur

Jogja dalam Perspektif Anak Timur

Written By Pewarta News on Rabu, 01 Februari 2017 | 22.05

Andri Ardiansyah, S.Pd.I.
PEWARTAnews.com – Berbicara tentang Yogyakarta, juga berbicara apa yang ada di dalamnya, Jogja (begitu sapaan untuk Yogyakarta), memiliki Ikon yang sangat kental, baik budaya maupun tradisinya, maka tidak heran budaya-budaya Jogja pun masih di emban baik oleh rakyat dan masyarakat Jogja. Salah satu contoh kecil budaya yang masih dilestarikan oleh masyarakat Jogja ialah Andong yang bersusun rapi di Malioboro. Andong-Andong itu beroperasi setiap hari di Malioboro, kadang penulis juga bertanya dalam kesendirian, betapa bisa dan mampunya masyarakat Jogja memupuk dan melestarikan budayanya sampai hari ini masih eksis dan masih menjadi lirikan jutaan orang yang datang ke Jogaja? Yang uniknya Andong ini memiliki bentuk yang berbeda dengan Andong-Andong di daerah lain, baik dari segi tempat duduknya maupun dari orang yang bawa (jukinya) semua terlihat berbeda dengan Andong dan orang yang bawanya di daerah-daerah lain. Jogja itu memang unik, terlihat jelas dari pengendara Andong memakai pakaian adat Jawa (ala Jogja-nya), dari blankon hingga celana batik yang memang budaya Jogja yang sudah lama di lestarikan. Tidak sedikit wisatawan yang terbius oleh keadaan Jogja, dimana semboyan Jogja juga adalah “Jogja Berhati Nyaman”, mampu memikat orang untuk salalu ingin ke Jogja bahkan kepingin tinggal di Jogja, dengan nyamannya tersebut seolah ada tarikan seperti makhnet yang mengajak dan terus untuk mencicipi dan merasakan sejuknya kota Jogja.

Keunikan Jogja tidak hanya di Andong saja, tapi masih banyak lagi keunikan lainya, salahsatu diantaranya yaitu becak, becak biasanya banyak berjejeran di pinggir Malioboro, yang dimana pemilik becak tersebut menawarkan kepada wisatawan untuk mengelilingi tiga tempat di sekitaran dan tidak jauh dari Malioboro dengan harga yang unik pula yaitu sebesar lima-sepuluh ribu rupiah, murah bukan?. Malioboro adalah tempat dimana ribuan orang berkumpul dan sekedar berbelanja setiap harinya, bahkan nyaris tidak di temukan hari yang sepi di Malioboro tanpa di penuhi oleh aktifitas orang-orang berbelanja dan aktifitas lainnya. Malioboro juga tempat dimana para ilmuan dan akademisi berbincang-bincang (berdiskusi) bersama di 0 KM, semuanya kompleks di tempat ini.

Saya sebagai anak Timur (BIMA-NTB) melihat dan memaknai Jogja adalah sangat realistis keberadaanya, karena mengingat Jogja dijuluki sebagai kota budaya memang patut di apresiasi, semuanya bernilai budaya dari hal yang kecil hingga hal yang besar seklipun, dari cara berkomunikasinya yang sangat lembut tuturkatanya sampai ke wilayah sosial yang sangat menghargai perbedaan suku dan ras, sehingga semua orang yang datang ke Jogja baik yang berstatus sebagai Pelajar/Mahasiswa maupun orang yang sekedar singgah berbelanja di Jogja merasa senang dan aman, seperti kita tidak bisa jauh dari Jogja walaupun kita sudah jauh dari Jogja seolah ada makhnet yang menarik kita untuk ingin kembali lagi ke Jogja.

Kota Gudeg Jogja, selain di juluki sebagai kota budaya, juga di juluki sebagai kota Pelajar,  begitu banyak para Pelajar dan Mahasiswa dari berbagai daerah dari luar Jogja yang datang ke Jogja untuk menuntut ilmu di kota berhati nyaman ini. Jogja sudah banyak menghasilkan orang-orang cerdas dan bahkan menghasilkan pemimpin negeri ini sekalipun sudah terbukti ia alumni Jogja, dengan begitu banyaknya orang-orang cerdas yang ada di Jogja, akan berpengaruh dalam dunia pendidikan, sehingga tidak heran meluapnya para mahasiswa datang menuntut ilmu di kota ini. Jogja sudah berhasil dalam memberi kontribusi untuk negeri ini, dari melahirkan orang-orang cerdas untuk memimpin negeri ini hingga mejaga alam negeri ini. Salah satu kontribusi kecilnya jogja untuk negeri ini yaitu memupuk baik alamnya, dimana Jogja bisa merubah dan memodifikasi dari alam yang tidak di pakai menjadi alam yang penuh warna dan maanfaat sebagai tempat wisata buat banyak orang tanpa merusak sedikitpun alam tersebut. Jogja sudah berhasil menyihir jutaan para wisatawan supaya datang ke temapat tersebut baik dalam Negeri maupun dari luar Negeri. Hampir setiap hari alam/tempat wisata yang ada di Jogja di penuhi oleh para wisatawan baik wisata laut maupun wisata gunungnya, dan harga tiket masuknya pun relatif murah, bisa di nikmati oleh semua kalangan, baik kalangan bawah juga kalangan atas.

Jogja memang unik untuk di perbincangkan dari segala segi, baik sejarahnya, budayanya, wisatanya, hingga pendidikannya semua kompleks di sini. Keunikan yang paling Penulis sukai yaitu Jogja memiliki raja yang dimana tidak terdapat di daerah-daerah lain, dan satu-satunya raja yang kepemimpinannya tidak digantikan oleh orang lain kecuali anak keturunannya sendiri. Bagi Penulis, ini adalah keunikan yang sangat edukatif yang belum pernah Penulis dapatkan di daerah manapun di Indonesia,  mengingat  rakyat Jogja juga menghoramti rajanya dan juga rajanya menghargai rakyatnya. Nilai edukatif yang dimiliki raja dan rakyatnya sangat sinkron dan sangat relevan dengan keadaan rakyatnya.

Berbicara tentang Jogja tidak ada habis-habinya untuk di perbincangkan, kedamaian, sifat toleransi, demokratis dan lain sebagainya ada disini yaitu di Jogja berhati nyaman. Nyaman berkomunikasi, nyaman bersosial, dan nyaman dalam segala hal. Semua yang berkaitan dengan kenyamanan tidak ada yang mampu tandingi dengan kenyamananya Jogja. Jogja berhati nyaman, dan Jogja tetap istimewa.


Penulis : Andri Ardiansyah, S.Pd.I.
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Peneliti pada Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website