Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Informasi Diskusi Pariwisata FIMNY

    Informasi Diskusi Pariwisata FIMNY.
    Assalamualaikum Wr. Wb.

    #SalamFIMNY

    Mengundang seluruh keluarga besar Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) dan Umum untuk menghadiri Diskusi Pariwisata, dengan tema:
    "Membaca Master Plan Pengembangan Pariwisata di Desa Ncera"

    Pemantik:
    1. Imam​ Supardi, S.H. (penempuh studi Pendidikan Khusus Profesi Advokat--PKPA di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia), menyampaikan "Kajian dari Sudut Pandang Hukum"
    2. Buhari​ Muslim (Mahasiswa Informatika di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta), menyampaikan "Kajian dari Sudut Pandang Master Plan Informasi dan Tekhnologi"
    3. Nur Kurniati / Nhia​ (Mahasiswi Pariwisata di Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo Yogyakarta), menyampaikan "Kajian dari Sudut Pandang Pariwisata"

    Waktu pelaksanaan:
    Jum'at, 31 Maret 2017, jam 19.00 WIB-Selesai
    Tempat: Sekretariat FIMNY (Jln. Arimbi, RT 17/RW 17, Nomor 479, Babadan, Banguntapan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta)

    Info Lanjut:
    HP/WA: 082327767990 / 082341436125
    FB: Fimny Jogja​
    Email: fimnyjogja@gmail.com
    Twitter: @FIMNYJOGJA
    Instagram: fimnyjogja

    #SaveBima
    #SaveNcera
    #SaveBomboNcera
    #SavePariwisataBima
    #BomboNcera
    #SavePesonaNTB
    #PesonaIndonesia
    #WonderfullIndonesia
    #WisataSejarah
    #WisataBudaya
    #WisataAlam
    #PemudaNcera
    #PemudaKreatif

    Unsur Instrinsik Novel

    Julkifli.
    PEWARTAnews.com – Unsur intrinsik artinya unsur pembangun sastra dalam atau yang ada dalam sastra itu sendiri. Unsur intrinsik meliputi; tema, tokoh, penokohan, latar, alur, amanat, dan sudut pandang.

    Pertama, Tema. Ide Pokok yang menjiwai seluruh cerita. Tema dapat berupa sosial, keluaga, remaja, percintaan, religius, dan lain sebagainya.

    Kedua, Tokoh. Tokoh juga disebut orang yang ada dalam novel tersebut. Ada 3 macam tokoh yaitu tokoh utama dengan ciri : sering muncul, banyak masalah, berwatak protagonis.

    Ketiga, Penokohan. Penokohan juga disebut karakter. Setiap tokoh mempunyai karakter yang berbeda. Ada 2 macam karakter yaitu Protagonis dan Antagonis. Protagonis yaitu watak yang baik. Biasanya dimiliki oleh tokoh utama. Antagonis yaitu watak yang tidak baik (penentang kebaikan).

    Keempat, Latar. Latar meliputi 3 hal yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar suasana.

    Kelima, Alur. Alur yaitu urutan peristiwa. Ada 2 macam alur yaitu alur maju dan alur mundur. Alur maju yaitu cerita yang peristiwanya sekarang dan kedepan. Alur mundur yaitu cerita yang peristiwanya telah berlalu.

    Keenam, Amanat. Pesan yang disampaikan pengarang secara tersirat. Amanat diambil dari effek samping dari sebuah peristiwa. Pesan biasanya bersifat positif.

    Ketujuh, Sudut pandang. Cara memposisikan diri pengarang terhadap hasil karyanya. Ada 2 macam sudut pandang yaitu: (1) Sudut orang pertama (akuan) apabila pengarang ikut terlibat dalam cerita tersebut. Pengarang ikut berperan aktif; (2) sudut porang ketiga (diaan) apabila pengarang berada di luar cerita. Cerita ini biasanya menggunakan nama orang sebagai tokoh.


    Penulis: Julkifli
    Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Pamulang, Tangerang, Banten.

    Puisi: "Perempuan Senja"

    Jumratun (sang perempuan senja).
    Tulisan ku tidaklah se rapi kata dalam kalimat
    Yang menjadikannya bahasa diriku
    Tidaklah selihai dan sepiawai nada
    Yang membungkam gejolak amarah mu

    Kata-kata ku tidaklah selincah dan seindah ungkapan-ungkapan dari langit
    Ma’afkanlah pedihku yang menjerumuskan mu
    Dalam kaki yang kaku tanpa arah

    Aku hanya ingin terus berimajinasi nyata
    Senyata larut didalam mimpi
    Sebab imajinasiku kadang suram bagai kematian yang menghantui

    Mimpiku terkadang dekat
    Sedekat buku dan pena
    Mimpiku kadang jauh sejauh bumi dan langit
    Tapi aku percaya bahwa hidup bukan tentang suatu permulaan
    Atau akhir hidup adalah tentang menyelami kenyataan

    Banyak tanda tanya dalam hidupku
    Jawaban dan soal adalah tawar-menawar untuk sebuah kepastian
    Namun aku juga bukanlah suatu kepastian
    Bagaimana mungkin aku berhasil dalam mimpi dan kenyataan
    Membedakan perempuan dan wanita bukanlah hal yang kutau
    Apalagi bersanding dengan mu didalam setiap cita

    Ma’afkan aku awan
    Ma’afkan aku angin
    Ma’afkan aku hujan
    Dan ma’afkan embun

    Ma’afkan aku yang belum bisa membedakan segala hal
    Karena aku bukanlah ilmuan besar
    Atau bukan Allah yang tahu segala hal
    Aku hanyalah perempuan senja yang telah diasingkan jaman
    Yang ingin terus menerus mencerna hidup dan kehidupan
    Agar lebih nyata dan menjadi kenyataan


    Yogyakarta, 28 Maret 2017
    Karya: Jumratun 
    Mahasiswi Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Tak Hanya Sekedar Berteori

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com – Guru merupakan salah satu profesi yang mulia. Umumnya, orang mengetahui bahwa guru tugasnya hanya seputar di lingkungan sekolah. Padahal, sesungguhnya tidak demikian. Di samping bertindak sebagai pengajar/pendidik di lingkungan sekolah, guru juga bertindak sebagai pengajar/pendidik di lingkungan masyarakat di mana ia tinggal.

    Karena itu, menjadi seorang guru tidaklah gampang. Menjadi seorang guru, tidak hanya sekedar pintar berteori dan berbusa-busa di depan para anak didiknya. Tapi lebih dari itu. Ia harus menjadi teladan buat para anak didiknya dan warga sekolah lainnya. Ia juga menjadi teladan dan panutan di lingkungan masyarakatnya. Segala tindak-tanduknya dinilai oleh masyarakat. Itulah, mengapa guru merupakan seseorang yang digugu dan ditiru.

    Memang pada dasarnya, untuk menjadi seorang guru sudah diatur dalam undang-undang. Walaupun sudah melewati proses yang panjang dan memakan waktu yang cukup lama sehingga memperoleh predikat guru, namun dalam pelaksanaan di lapangan tidaklah gampang. Sekali lagi, seorang guru di samping sebagai pengajar juga harus bisa menjadi teladan, baik bagi anak-anak didiknya maupun masyarakat di sekitarnya.

    Wallahu a’lam.

    Ditulis pada hari Senin, 31 Januari 2017
    Oleh: Gunawan
    Penulis Buku "SMART Solution"

    Puisi: "Pray For Bima"

    Julkifli.
    Hancurlah nyawa para pendosa
    Hancur pulalah  para malaikat alam

    Keindahan adalah pembatasan dari kehancuran
    Yang dimana kehancuran melukiskan ketuhanan manusia akan alam

    Apakah ini kutukan sahabat?
    Tidak!
    Jiwa yang lunak menjadi keras
    Atau puisi-puisi jiwa yang kotor

    Kini hanyalah harapan
    Dan harapan itu pasti bukanlah pembebasan

    Melainkan syair-syair sejarah panjang
    Hancurlah..
    Hancurlah..
    Hancurlah..
    Wahai sang penyair-penyair jalanan


    Depok, 27 Maret 2017
    Karya: Julkifli
    Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Pamulang, Tangerang, Banten.

    Hukuman Tuhan

    Banjir yang terjadi di Bima (26-03-2017).
    Jangan kau sangka air yang menyerang itu
    Adalah keputusan tuhan yang kejam
    Hingga kau salahkan Tuhan
    Saat bergelimang nyawa melayang membubung awan

    Kala itu, kau telah lupa
    Alam mu adalah alam yang telah tercipta dari kekosongan
    Dicipta sebagai sahabat kehidupan
    Ketika itu kau pun lupa

    Tangan tangan jahilmu merenggut kelestariannya
    Masihkah kau lupa pohon pohon yang kau tebang
    Hingga hutan berubah tandus dalam kegersangan
    Masihkah kau lupa tentang sampah yang terbuang
    Hingga sungaimu keruh dalam kotoran?

    Ingatlah wahai sahabat
    Untuk sadar tentang pentingnya lingkungan
    Tak perlu menunggu banjir menjemput
    Karena Cukuplah yang terjadi
    Menjadi peringatan dari TUhan!


    Jakarta, 26 Maret 2017
    Karya: Dwi Komalasari

    Tak Selamanya (Hanyalah Sementara)

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com – Semua orang pasti mengetahuinya, bahwa hidup ini tak selamanya senang. Hidup ini juga tak selamanya susah. Senang dan susah pasti datang silih berganti. Kadang tiba masa-masa sulit, yang kadang membuat hidup ini terasa penuh kepedihan. Namun, kadang tiba masa-masa kegembiraan, yang membuat hidup terasa ringan dan terang.

    Sesungguhnya kesedihan, kekecewaan, kegembiraan, kesenangan, dan lainnya hanyalah sementara. Sebagaimana sesaatnya malam ditelan siang. Bila Anda merasa senang dengan sesuatu maka boleh-boleh saja, akan tetapi jangan terlarut dalam kesenangan itu. Sebaliknya, bila Anda merasa kecewa terhadap sesuatu yang mungkin membuat Anda kecewa, maka janganlah sampai terlarut dalam hal itu. Sekali lagi, itu hanyalah sementara.

    Bukankah Allah pernah menjelaskan di dalam Kitab Suci-Nya, bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan? Ya, karena memang begitulah hidup ini. Semuanya merupakan ujian dari-Nya. Dia mau melihat, siapa di antara hamba-hamba-Nya yang mampu melewati ujian itu. Yang paling penting adalah bahwa Dia mau melihat, siapa di antara hamba-hamba-Nya yang tetap merasa bersyukur atas segala ujian tersebut. Karena memang semuanya hanyalah sementara.

    Wallahu a’lam.


    Ditulis pada hari Senin, 30 Januari 2017
    Oleh: Gunawan

    Puisi: "Mengapa?"

    Banjir bandang di Bima (Maret 2017).
    Mengapa sungai kian dangkal
    Sementara bumi kian rapuh
    Dalam alirannya yang kian mengeruh
    Menjajah lekukan bumi yang menua
    Diseberang sana, ada harapan tentang kehidupan
    Yang kemudian terluluh lantakkan karena keserakahan

    Hutan kian kikis
    Hijau pemandangan kian menipis
    Di seberang sana,
    Tanah yang tandus menua dalam kegersangan
    Terkejut saat hujan melanda
    Hanya bisa diam menyaksikan badai dan air menerjang segala

    Saat itu,
    Ribuan manusia baru sadar
    Aku bersalah telah mengrusak alam
    Dan sesaat setelah itu
    Mereka lupa pada kenyataan

    Apakah hanya sebatas alam dan kelestarian?
    tidak!!!
    Kesadaran untuk saling merangkul
    Untuk saling melindungi
    Untuk saling membimbing
    Semakin menuju keangka 0

    Pembunuhan, pengedar, aborsi, keegoisan
    Pembegalan, dan kemaksiatan lainnya
    Semakin meningkat
    Siapa yg harus disalahkan?

    Apakah hanya pemimpin
    Ataukah kita sbagai masyarakat
    Ataukah Yang Kuasa
    Tidak!!!

    Lalu siapa yg salah?
    Tanyakan pada diri kita masing-masing
    Maka kita akan menemukan jawabannya
    Renungi dengan hasil nyata
    Untuk siapa?
    Jawabannya, untuk "KITA"


    Jakarta, 26 Maret 2017
    Karya: Dwi Komalasari

    Daffa ke Bali, Fitrah: Terimkasih Para Relawan Daffa

    Daffa ketika di Bandara Bima, hendak diterbangkan ke Bali, (24/3/2017).
    Dompu, PEWARTAnews.com – Akhirnya, Muhammad Daffa (3,8 tahun) penderita kanker otak asal Dompu, NTB diterbangkan ke Bali pada 24 Maret 2017 untuk berobat. Rasa syukur dan ucapan terimakasih terus terlempar dari keluarga atas kerja para relawan peduli Daffa.

    "Ucapan terimakasih yang tak terhingga untuk saudara ku, adik-adik ku para relawan yang berhati malaikat yang tidak bisa saya sebut satu persatu. Biarlah Allah yang memberikan upah dari jerih payah kalian," ujar salah satu keluarga Daffa, Fitra Andank  via akun facebooknya, Jumat (24/3/2017).

    Salah satu keluarga Daffa, Fitra Andank.
    Ucapan tersebut kembali di khususkan pada keluarga besar peduli Daffa yang ada di sejumlah titik di Indonesia. Antara lain, Jogja, Semarang, Papua Barat, Jakarta, Mataram, Dompu, Bima dan Sumba Timur. "Special buat keluarga besar Papua, Semarang, Jogja, Mataram, Bima, PUSMAJA, IMBIPU, dan lain-lain," tandas suami wanita berakun Herawati Fitra itu.


    Muhammad Jufrin, Ketua Posko Peduli Daffa Dompu juga berucap hal yang sama. Lebih khusus kepada Muchtar Mbojo beserta yayasan sosialnya. "Terimakasih kami sampaikan pada Pak Muchtar. Karena beliau yang insya Allah akan mendampingi pengobatan Daffa di Bali," ujarnya.

    Seperti diketahui, Daffa menderita kanker otak yang diketahui pada 2016 lalu. Rasa peduli kemudian lahir dari sejumlah komunitas peduli Daffa. (Rizalul Fiqry)

    Puisi: "Marah"

    Titin Widyawati.
    Senyummu menundukkanku akan perih yang mengiris
    Air beningku pun membuahkan sungai kecil, di pelupuk iris
    Bilamana, akal sehat ini histeris menjeritkan namamu
    Inginku marah mendupak langit, atau mencakar tiang-tiang egomu
    Lantas kan kuhajar kebodohanmu yang mengelupas cintaku
    Seperti tikus sawah, yang terlumat habis sang ular kelaparan
    Anganku, menjadikanmu abu, lebur termakan api kekecewaan
    Nampak kau, rapuh tertunduk akan asmaramu yang sekarat
    Genggaman bungamu, sudah tak lekat
    Paras rupawanmu, sudah melebur menjadi keparat
    Engganlah sang senja, menatapmu tragis
    Membuangmu  tanpa seberkas ketulusan yang pernah kau kikis
    Impianmu membangun gubuk rindu yang indah
    Melemparkan duka, hingga mampu menumbangkan cintaku yang bersahaja
    Perkataan busukmu akan rayuan, serta dustamu dalam setia
    Itulah yang membuatku marah, dan mengubur cintaku yang telah bersemi dahulu kala


    Karya: Titin Widyawati
    Si Peremuan Suka Melamun

    Mencoba untuk “Berhenti” Menulis

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com – Seperti yang saya tuliskan di salah satu artikel singkatku yang berjudul “Awal Mula-ku Tertarik di Dunia Menulis”, bahwa awal mulanya saya tertarik di dunia tulis-menulis adalah pada tahun 2011 ketika saya diamanahkan untuk menjadi Ketua Umum MATRIX SC UIN Alauddin Makassar. Waktu itu, saya mulai mencoba belajar untuk menulis buku penunjang pendidikan (Matematika SMA). Rutinitas saya waktu itu adalah seputar organisasi, kuliah, dan menulis.

    Hari demi hari, saya selalu menyempatkan diri untuk menulis walau hanya satu sampai dua halaman. Kadang saya menulis di buku tulis, kadang juga saya pinjam laptop teman-teman. Sesekali juga saya mengunjungi warnet terdekat. Sampai akhirnya, tahun 2013 saya memberanikan diri untuk mengikuti Program Unggulan Rektor UINAM yaitu Gerakan Seribu Buku (GSB) Tahap III. Program tersebut salah satu tujuannya adalah untuk menumbuhkan semangat menulis di seluruh warga kampus, baik di kalangan mahasiswa, maupun para dosen dan guru besar. Setiap tahap program tersebut, menghasilkan 250 buku (karya tulis terbaik). Awalnya, saya lolos di tahap verifikasi, namun tersingkir di tahap terakhir.

    Begitu pun di tahun 2014, saya mencoba lagi untuk mengikuti Program Unggulan Rektor UINAM tersebut. Kali ini merupakan tahap terakhir dari Program GSB tersebut. Seperti pada tahap III sebelumnya, tahap terakhir juga saya tersingkir. Maklumlah, para kompetitornya mayoritas guru besar dan para dosen. Jadi, sudah pasti yang tersingkir adalah mahasiswa-mahasiswanya. Hehehe.

    Tetapi, sekali lagi, itu menjadi motivasi besar buat saya untuk tetap dan selalu belajar menulis, menulis, dan menulis. Sampai sekarang pun saya masih menjalani rutinitas tersebut. Yaitu mencoba untuk menyisihkan sedikit waktu tiap harinya untuk menulis, walau sesederhana apa pun itu.

    Namun, ada sedikit yang aneh yang muncul di benak saya Minggu siang, 29 Januari 2017. Tiba-tiba muncul pikiran sejenak untuk “berhenti” menulis. Entah mengapa pikiran tersebut muncul tiba-tiba. Saya juga tidak tahu mengapa pikiran tersebut bisa muncul di benak saya. Saya yakin Anda juga pasti tidak mengetahuinya. Hehehe.

    Akibat daripada pikiran yang muncul tiba-tiba tersebut (baca: mencoba untuk “berhenti” menulis), kepala saya bertambah beratnya. Seolah-olah ada beban yang menerobos dan masuk ke kepala saya. Semakin saya memikirkan hal tersebut, semakin bertambah berat pula kepala saya.

    Waduh, penyakit apalagi yang mencoba menimpa saya ini? Itu gumamku dalam hati kecil. Lalu saya mencoba berkontemplasi. Mungkin karena ini efek dari berbagai ide yang ada di dalam benak saya yang belum tersalurkan melalui tulisan.

    Hmmm, dan ternyata hipotesa saya benar. Beban yang ada di kepala saya, sedikit demi sedikit mulai berkurang ketika saya mencoba untuk memulai menulis lagi.

    Ingin rasanya untuk mencoba istirahat dan berhenti menulis walau dalam beberapa hari ke depan. Namun, apa daya, tangan ini tak mau berhenti menari-nari di atas keyboard. Saya juga khawatir penyakit tersebut di atas kambuh lagi. Hehehe.

    Wallahu a’lam.

    Ditulis pada hari Minggu, 29 Januari 2017
    Oleh: Gunawan
    Penulis Buku "SMART Solution"

    Puisi: "Ajal"

    Ilustrasi. Foto: metal-archives.com.
    Aku berpijak namun tak menapak
    Aku terpejam namun igauan melawak
    Pukulan di kepala menjambak
    Uluh hatiku serasa sesak

    Harapan hidup sudah tak nampak
    Kabut kematian mendupak
    Ketakutan pun memuncak
    Sementara dosa membengkak

    Walau mimpi bergejolak
    Lambat asa beranak
    Berpadu meleburkan semangat menjadi lunak
    Pesan kematianku telah nampak

    Berteriak di runcingnya asa tombak
    Langkah sudah tak menapak
    Meraba umur muda yang sudah tak layak
    Ajalku pun merangkak


    Yogyakarta, 2014

    Karya: Titin Widyawati
    Si Peremuan Suka Melamun

    “Lucu” Tidak Segampang “Tidak Lucu”

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com – "Lucu" tidak segampang "tidak lucu." Tidak lucu ya gampang, ya tinggal tidak lucu aja. Hehehe. Ya, itulah yang pernah saya dengar dari seorang Komika ketika dia berbicara di salah satu stasiun Televisi swasta. Lucu bukan hanya sebuah kata yang terdiri dari empat huruf yang tak mempunyai arti yang jelas. Tetapi jauh lebih dari itu. Banyak orang mengatakan, bahwa ketika kita “ketawa” dalam artian ada sesuatu hal yang lucu maka muka kita akan tambah segar. Bahkan, ada juga hasil penelitian orang yang pernah saya baca, dia mengatakan bahwa orang yang sering kali "ketawa" akan kelihatan awet muda.

    Namun, saya sempat berpikir bagaimana mungkin dengan modal ketawa saja seseorang akan kelihatan awet muda? Apa yang menyebabkan hal demikian? Mungkin yang dimaksud dari hasil penelitian tersebut adalah ketika kita “ketawa” maka muka kita akan terasa segar serasa tidak ada beban dan masalah apapun.

    Ternyata memang benar. Ketika saya diperhadapkan dengan sebuah masalah yang menurut saya awalnya agak rumit penyelesaiannya, namun ketika datang teman saya untuk menghibur saya dan kemudian saya terhibur dengan apa yang diceritakannya. Nah, di situlah kepala saya serasa tidak ada beban apa pun. Dan betul saja, bahkan pikiran saya mulai terbuka kembali dengan menghasilkan solusi dari permasalahan yang tadinya saya tidak bisa selesaikan. Betul-betul manjur. Hehehe.

    Dengan bermodal dari hasil penelitian yang pernah saya baca itu, saya sering membayakan: ”Jika seandainya semua pemimpin suatu komunitas atau organsisasi bisa memberikan sesuatu hal yang bisa membuat warga atau masyarakat yang dipimpinnya terasa plong (tidak merasa terbebani) terhadap segala apa yang telah dihadapi dalam hidupnya, maka komunitas atau organsisasi tersebut boleh dikata menjadi sangat luar biasa.” Bahkan pemimpin tersebut akan selalu diingat dan dirindukan oleh masyarakatnya kapan dan di mana pun dia berada.

    Dalam memimpin suatu komunitas atau organisasi, menurut saya seorang pemimpin tidak boleh hanya bermodalkan pengetahuan atau kecerdasan dalam hal memimpin seperti biasanya. Tetapi lebih dari itu, ia harus mempunyai kecerdasan yang bersifat menghibur dalam artian positif, sehingga ketika ia (pemimpin) berhadapan langsung dengan masyarakatnya akan terasa nikmat dan selalu bahagia Begitu pun sebaliknya, dari masyarakat terhadap pemimpinnya.

    Namun, ada hal yang perlu diingat ketika kita berbicara/bercerita di depan umum (publik). Kita tidak boleh menceritakan sesuatu hal yang berbau negatif karena nanti efeknya bisa menjadi hal yang tidak baik, apalagi mungkin yang berprofesi sebagai guru. Yang berprofesi sebagai seorang guru misalnya, ia harus pandai memilih cerita yang sesuai dengan kebutuhan peserta didiknya. Karena dengan hal demikian, maka suasana pembelajaran di ruang kelas akan merasa terbantu. Lebih dari itu, para peserta didik pasti akan merasa nyaman ketika diajar oleh guru tersebut. Begitu pun sebaliknya, sebagai seorang guru pasti dalam menyampaikan bahan pelajarannya tidak akan terhambat alias lancar.

    Hidup mungkin akan terasa hampa bila tak dibarengi dengan sesuatu yang "humor." Dan bahkan mungkin ada juga yang mengatakan, bahwa hidup tanpa “humor” bagaikan rumah tanpa atap. Musim hujan dan kemarau sama-sama tak nyaman. So, bergembiralah bagi siapa saja yang masih bisa merasakan manfaat “humor.” Hehehe.

    Wallahu a’lam.


    Oleh: Gunawan
    Penulis Buku "SMART Solution"

    Puisi: "Salah Siapa?"

    Ilustrasi. Foto: YouTube.
    Dengki dan berbagai macam bentuk hati yang rusak
    Amarah yang kembali bangkit
    Menerpa bangsa ini
    Adakah kita didalamnya?
    Salah siapa?
    Mereka (para provokator) muncul dan naik kepermukaan
    Lalu mengotori bagai serigala berbulu domba
    Yang memicuh amarah, rasa dengki, dan menebarnya sesuai kebutuhan sendiri

    Mengalaskan kebenaran
    Pada kebencian, sungguh
    Inikah yang kita inginkan?
    Inikah yang diinginkan-Nya?

    Ada bahkan banyak yang tertindas
    Keadilan seahkan pergi menjauh
    Ibaratkan debu dan angin
    Ya.. Debu selalu tumbang oleh angin..

    Salah siapa?
    Salah siapa?
    mungkin jawabannya
    kita harus bercermin!


    Karya: Eferdine K.
    Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

    Ajaklah dan Ajarilah, Jangan Menyuruh!

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com – Mengajak dan menyuruh merupakan dua hal yang berbeda. Mengajak merupakan tindakan melakukan sesuatu secara bersama-sama. Artinya, bahwa seseorang yang mengajak orang lain juga ikut terlibat dalam hal itu. Sedangkan, menyuruh merupakan tindakan memerintah orang lain tanpa dirinya (penyuruh tersebut) ikut terlibat.

    Untuk mempermudah memahami kedua istilah tersebut, saya akan mencoba memberikannya beberapa contoh. Misalnya, orang tua yang menginginkan anak-anaknya supaya rajin shalat berjama’ah di masjid, maka ia harus mengajak anak-anaknya tersebut untuk sama-sama berangkat melaksanakan shalat berjama’ah di masjid tiap kali waktunya tiba. Bukan hanya sekedar menyuruh anak-anaknya untuk pergi shalat berjama’ah ke masjid. Akan tetapi, ia ((baca: orang tua) juga ikut serta. Dalam mengajak itu pula mengandung unsur mengajar. Dengan demikian, anak-anaknya Insya Allah akan senantiasa melaksanakan shalat berjama’ah di masjid.

    Contoh lain, misalnya seorang guru dan siswanya dalam hal kegiatan tulis-menulis. Untuk membangkitkan motivasi dan semangat siswa untuk bisa menulis (cerpen, puisi, dan lain-lain), maka guru tersebut harus mengedepankan ajakan dan mengajarkan siswanya untuk menulis, bukan menyuruh. Dengan demikian, siswanya pun ikut termotivasi dan semakin bersemangat untuk menulis, karena diajak dan dibimbing/diajar langsung oleh gurunya (bukan menyuruh).

    Saya berpendapat, bahwa rendahnya kemampuan siswa untuk berkarya dalam bentuk tulisan, salah satunya disebabkan oleh rendahnya motivasi dan kurangnya ajakan dari gurunya. Kebanyakan guru, hanya menyuruh saja siswanya untuk menghasilkan karya tulis tanpa ia ikut terlibat di dalamnya apalagi mengajari mereka.

    Semoga saja kita semua bisa menjadi inspirasi buat orang lain. Lebih dari itu, kita bisa mengajak orang lain untuk melakukan suatu kebajikan sekecil apa pun itu dan mengajari mereka, bukan hanya sekedar menyuruh.

    Wallahu a’lam.


    Ditulis pada hari Sabtu, 28 Januari 2017
    Oleh: Gunawan
    Penulis Buku "SMART Solution"

    Puisi: "Mata Mata Airmata"

    Titin Widyawati.
    Mataku terang
    Lalu lalang lentera alam benderang
    Likuk melikuk, ruang yang tenang
    Nostalgianya kelam, namun tak tenggelam

    Angkara mengumbar, melembar, menyambar, melontar
    Langkahku pudar, lensaku nanar
    Terhanyut arus sungai, dari hulu ke hilir
    Dalam tepian menopang kehidupan sang lir-ilir

    Namun duniaku dirobek angkara dusta
    Alamku menangis karena terluka
    Kala jutaan pohon mabuk dalam kepulan asap bangsawan
    Matrial dalam, mengamuk, mencambuk, merengkuk
    Kelahiran cintaku terkubur dalam ranah perkotaan

    Tak kujumpai lagi Sang Belalang
    Yang ada hanya kemilauan lentera benderang
    Hiduplah daun singkong dalam sejarah
    Menyeruaklah pendesah-pendesah nafsu dalam balutan syurgawi palsu
    Dikejar hedonisme, disanjung gengsi pri bumi

    Dan aku, budak tanpa harga diri
    Ditendang, oleh majikan tak berperi
    Kuasaku dicuri-curi
    Alamku diperjual beli
    Lembar-lembar kertasku pun, dipermainkan sang Kancil berdasi
    Dan miskin itu adalah kehidupan sejati

    Aku adalah pecundang bangsa pandai menyembunyikan makna
    Namun aku adalah mata-mata
    Dan mata-mataku menyimpan airmata
    Airmata yang bermakna karena mata-mata
    Airmata, yang mematai sebuah makna

    Dan kau
    Kutangkap kau dalam airmata karena aku mata-mata
    Kau, kembalikan bumi pertiwiku
    Kau, kembalikan lembaran kertasku!
    Yang kau sembunyikan di balik dasi.


    Yogyakarta, di teras, seraya terkantuk-kantuk, 14-05-14
    Karya: Titin Widyawati
    Si Peremuan Suka Melamun

    Menangkal Radikalisme, Membumikan Islam Nusantara

    Agoes Soejadhi.
    PEWATAnews.com – Saat ini masih dengan mudah kita temui perdebatan-perdebatan kusir di kolom-kolom internet dan media sosial, khususnya tentang agama. Perdebatan dari wilayah antar agama Islam hingga merangkak dan berkembang ke antar agama. Contoh fenomena seperti ini mudah kita temui pada masa Ahok (Basuki Tjahaya Purnama) menggantikan Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ujaran kebencian atau semacam soft provokatif ini kerap kali kita temui di internet dan media sosial, bahkan di khotbah Jumat dan pengajian. Dan puncak dari pertumbuhan aktifitas semacam ini di Indonesia pada akhir Tahun 2016 dan awal Tahun 2017 yang ditandai dengan demo dari sebagian kelompok umat Islam. Entah itu bermotif sebagai model berpikir agama Islam atau agama dijadikan alat politik. Yang pasti, fenomena seperti ini menunjukkan satu hal, yaitu tumbuh kembangnya radikalisme.

    Melalui sejarah dapat kita temui Islamisasi berslogan “Islam adalah solusi” di Indonesia, yaitu depolitisasi era Soeharto pada Tahun 1978 yang di mulai dari kampus-kampus dengan menerapkan kebijakan pembatasan yang dikenal sebagai normalisasi kehidupan kampus, bahwa mahasiswa dilarang memainkan peran aktif dalam politik. Kebijakan ini mendorong dan meningkatnya jumlah mahasiswa untuk beralih ke kegiatan dakwah Islam (Turner: 2009), meskipun tidak semua mahasiswa beralih ke kegiatan dakwah Islam. Paham yang ditumbuh kembangkan adalah kembali pada model kehidupan Nabi Muhammad SAW dan contoh generasi pertama umat Islam (Salaf al-Salih) yang dianggap sebagai bentuk murni Islam.

    Banyak penelitian mengenai sejarah masuknya paham radikalisme ke Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa awal masuknya bermula dari Timur-tengah dengan Wahabismenya, kekaguman terhadap Khomeini, depolitisasi era Soeharto, bahkan kebebesan pasca-Orba, yaitu era kepemimpinan Gus Dur dengan pluralismenya. Meski begitu, term dan aktifisme radikalisme saat ini sudah mengakar dan tumbuh berkembang di bumi Nusantara.

    Dalam hal ini saya tidak memaksudkan dan mendiskreditkan bahwa paham radikalisme merupakan term negatif, sebab slogan “NKRI Harga Mati” dari beberapa golongan moderat di Indonesia juga termasuk paham radikalisme. Namun, radikalisme di sini adalah masifnya dakwah Islam yang radikal dan penyebarannya pada benih-benih penerus bangsa yang mengancam Negara dengan tidak mengindahkan ideologi Pancasila. Dengan demikian, nilai-nilai ideologi, budaya, dan peradaban bangsa yang sudah terbangun melalui peran awal dakwah Islam di Nusantara dan pendiri bangsa Indonesia  menjadi taruhan dalam kancah kehidupan era sekarang dan mendatang.

    Ancaman yang sering kita dengar adalah model bid'ah, khurafat, syirik, dan tahayul. Pepatah Jawa kuno mengatakan, “runtuhnya nilai-nilai peradaban suatu bangsa tanda hancurnya Negara itu”. Dan peradaban yang dimiliki Indonesia saat ini terkenal moderatnya, di kancah dunia internasional sering disebut-sebut sebagai Islam Nusantara. Untuk term Islam Nusantara alm. Gus Dur mempunyai istilah sendiri, yaitu pribumisasi Islam, menurutnya Islam telah menyebar ke Indonesia untuk tidak menghancurkan kekayaan tradisi dan budaya lokal Indonesia dan hak-hak minoritas serta menjadi bagian dari tradisi dan budaya, yang bersama-sama berfungsi untuk meperkuat identitas nasional Indonesia (Wahid: 1998).

    Islam Nusantara mempunyai wataknya sendiri dibanding dengan corak Islam di kebanyakan Negara lain, yaitu melebur dan kawinnya nilai-nilai Islam dan budaya Nusantara. Eksistensi Islam Nusantara untuk menjaga keutuhan kehidupan yang paling mendasar, yakni dari kehidupan sehari-hari dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Di samping itu, keberadaan Islam Nusantara juga sebagai kawah candradimuka penggemblengan intelektual dan nilai moral generasi penerus peradaban Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan Islam Nusantara berjalan searah dengan keinginan masyarakat yang berkeinginan dalam bertoleransi, berdamai dan berkasih sayang antara satu orang dengan orang lain, dengan bangsa satu dengan bangsa yang lain, dengan umat beragama satu dengan umat beragama yang lain. Dengan kata lain, Islam Nusantara secara implisit memiliki hubungan tidak hanya historisitas manusia, agama dan Negara tertentu, melainkan historisitas peradaban secara keseluruhan di masa mendatang.

    Jadi, Islam Nusantara diharapkan tidak hanya memahami sosial-keagamaan dan bernegara secara tekstual, namun lebih dari itu, yaitu pengejawantahan nilai-nilai filosofis agama Islam dan budaya bangsa. Perpaduan ini dapat menjadi akar peradaban yang kuat dalam bersikap, berpikir, dan bertindak demi kemajuan dan kejayaan umat manusia seutuhnya. Oleh karena itu, Islam Nusantara sebagai paham lama yang beristilah baru harus dibumikan untuk mencegah paham radikalisme demi menjaga keutuhan NKRI: ideologi Pancasila; sosial dan budaya; adat dan tradisi; nilai-nilai lama yang indah bangsa Indonesia serta rekonstruksi-rekonstruksi nilai-nilai tersebut dan masih terlingkup dalam watak Islam Nusantara.


    Oleh: Agoes Soejadhi*
    Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    * Tulisan ini disampaikan dalam kegiatan rutin ROEANG Remboeg Senin Wage, tanggal 20 Maret 2017 di Sekretariat ROEANG inisiatif (Jln. Bima, RT 06 RW 13 Nomor 14 Sokowaten, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Semua Orang Itu Cerdas

    Gunawan.
    PEWATAnews.com – Pada dasarnya semua orang itu cerdas. Tidak ada satu orang pun yang tidak cerdas. Karena memang kita semua sama-sama diberikan otak (akal) untuk berpikir. Namun, untuk mengukur kecerdasan seseorang tidak bisa dengan hanya menggunakan satu parameter saja. Setiap orang diberikan kelebihan tersendiri. Istilah lainnya, beda kepala beda otak, begitu pula isinya.

    Mengutip pendapat Laurel Schmidt, bahwa kecerdasan itu tidak statis dan tidak ditentukan sejak lahir. Seperti halnya otot, kecerdasan dapat berkembang sepanjang hayat, asalkan terus dibina dan ditingkatkan.

     Ada sebuah anekdot populer yang menurut saya sangat bagus untuk dijadikan sebagai bahan renungan bagi kita semuanya:

    Suatu saat, diadakanlah sebuah pameran otak. Setiap otak yang mewakili negara-negara sedunia itu masing-masing di tempatkan dalam sebuah tabung kaca dengan alasan agar para pengunjung bisa dengan jelas melihat dan mengamatinya. Ada salah seorang pengunjung merasa penasaran dengan beberapa otak yang dilihatnya. Karena merasa penasaran, kemudian ia bertanya kepada si penjaga pameran tersebut:
    Pengunjung: “Itu kok ada otak yang tampak gelap kusam, memangnya otak orang mana?”
    Penjaga: “Oh, itu otaknya orang Jepang, Nyonya.”
    Pengunjung: Kalau itu, yang sedikit kumal dan seperti ada yang robek?”
    Penjaga: “Itu otaknya orang Amerika.”
    Pengunjung: “Terus yang itu, kok ada otak yang masih terlihat segar dan masih bagus, memang otaknya orang mana?”
    Penjaga: “Oow, yang itu. Kalau itu otaknya orang Indonesia, Nyonya.”
    Pengunjung: “Kok bisa masih bagus dan segar begitu, rahasianya apa?”
    Penjaga: “Sebenarnya sederhananya saja, Nyonya. Itu otak memang masih jarang dipakai oleh yang punya.”
    Pengunjung: “Haaa???” 

    Saya merasa Anda semua pasti bisa menafsirkan apa yang dimaksud dari anekdot singkat di atas.

    Perlu kita ketahui, bahwa kemampuan otak setiap orang  pada dasarnya tak terbatas. Selama kita mau belajar, selama itu pula koneksi antar sel otak terbentuk. Hasilnya, kita bisa lebih cerdas dan semakin cerdas. Dengan kata lain, bahwa semua orang berpotensi cerdas manakala mau memaksimalkan fungsi otaknya. Itulah mengapa Allah memilih dan menjadikan manusia sebagai khalifah (untuk memimpin dunia ini).

    Wallahu a’lam.


    Ditulis pada tanggal 27 Januari 2017
    Oleh: Gunawan
    Penulis Buku "SMART Solution"

    ROEANG inisitif gelar ROEANG Remboeg sebagai Upaya Menangkal Radikalisme & Upaya Membumikan Islam Nusantara

    Suasana saat ROEANG Remboeg (20/3/2017).
    Yogyakarta, PEWATAnews.com – Akhir-akhir ini kerap ditemukan perseteruan berpangkal agama, baik di media sosial atau konflik horizontal di masyarakat. Hal ini disebabkan kurangnya tabayyun masyarakat terhadap informasi yang diterima (hoax).

    ROEANG Remboeg merupakan kegiatan diskusi pemuda yang diselenggarakan setiap senin wage sebagai salah satu upaya sharing pemikiran dan penguatan intelektual pemuda untuk membentengi diri dari berita-berita hoax.

    Dalam kegiatan rutin tersebut (20/3/2017), ROEANG inisitif selaku penyelenggara mengangkat tema “Menangkal Radikalisme, Membumikan Islam Nusantara”, dan menghadirkan Agoes Soejadhi sebagai pemantik.

    Dalam paparannya Agoes menjelaskan, Islam masuk ke Indonesia melalui jalur kultur dan ditempuh dengan damai serta menghargai berbagai perbedaan. Hal ini yang menjadi identitas keislaman di Indonesia. “Islam Nusantara diharapkan tidak hanya memahami sosial-keagamaan dan bernegara secara tekstual, namun lebih dari itu, yaitu pengejawantahan nilai-nilai filosofis agama Islam dan budaya bangsa. Perpaduan ini dapat menjadi akar peradaban yang kuat dalam bersikap, berpikir, dan bertindak demi kemajuan dan kejayaan umat manusia seutuhnya” cetus Agoes Soejadhi.

    Sementara, Arif Rahman (Direketur ROEANG inisiatif) dalam pendapatnya, “semua agama mengajarkan perdamaian dan menghargai perbedaan. Namun saat ini miris, masyarakat gemar mengujar kebencian dan mengkafirkan satu sama lain.” beber Arif Rahman

    Dalam kesempatan yang sama, Wakil Direketur ROEANG inisiatif, Wahyudi mengungkapkan bahwasannya Indonesia sebagai negara berideologikan Pancasila, menempatkan perbedaan sebagai keniscayaan. “Dalam Pasal 28 E UUD 1945 memberikan kebebasan masyarakat untuk meyakini dan memeluk agamanya masing-masing. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak menghargai masing-masing keyakinan apalagi mentakfiri.” ujar Wahyudi.

    Sebagai penegasan, Islam Nusantara diharapkan tidak hanya memahami sosial-keagamaan dan bernegara secara tekstual, namun lebih dari itu, yaitu pengejawantahan nilai-nilai filosofis agama Islam dan budaya bangsa. Perpaduan ini dapat menjadi akar peradaban yang kuat dalam berpikir dan bertindak demi kemajuan dan menangkal berbagai gerakan radikalisme.

    Beberapa waktu lalu Indonesia kehilangan ulama sekaligus tokoh yang menjunjung tinggi Pancasila (pancasilais), sebut saja Kyai Hasyim Muzadi. Sebelum membuka ROEANG Remboeg tersebut, ROEANG inisiatif juga menyelenggarakan tahlil dan doa bersama untuk Kyai Hasyim Muzadi dengan penuh khusyu. (PEWATAnews)

    Berguru pada Ayam

    Gunawan.
    PEWATAnews.com – Satu lagi makhluk ciptaan Allah yang bisa kita tiru dan ambil pelajaran dari kehidupannya, yaitu ayam. Sama halnya dengan makhluk lainnya, ayam juga diciptakan oleh-Nya pasti mempunyai tujuan dan manfaat, khususnya bagi umat manusia.

    Tentu kita semua mengetahuinya, bahwa ayam merupakan salah satu makanan favorit umat manusia. Namun, pada kesempatan kali saya tidak akan menjelaskan manfaat ayam bila kita mengkonsumsnyai. Saya hanya akan menjelaskan, kira-kira pelajaran apa saja yang bisa kita petik dari pola kehidupan ayam tersebut.

    Jika kita mau menggali dan mengkaji pola kehidupan ayam, maka akan terdapat banyak manfaatnya, khususnya buat umat manusia. Karena saya berasal dari desa yang notabenenya hampir seluruh kepala keluarga memelihara ayam, maka saya akan mencoba memaparkan bagaimana sebenarnya kehidupan ayam (yang bisa kita tiru).

    Ada beberapa hal yang menarik, jika saya memperhatikan pola kehidupan ayam, di antaranya: pertama, berhubungan dengan konsep pendidikan anak. Menarik ketika si Induk Ayam merawat anak-anaknya. Waktu anak ayam masih kecil, si Induk Ayam dengan kesabaran dan kewaspadaan tinggi benar-benar menjaga kelangsungan hidup anaknya. Induk ayam selalu memberikan perlindungan terhadap berbagai ancaman yang akan membahayakan anak-anaknya dari serangan musuh. Kita bisa memperhatikan betapa kuat pembelaan induk ayam kepada anak-anaknya. Pernah suatu saat di kampung, saya dipatok oleh induk ayam gara-gara saya mencoba memegang anaknya. Hal ini, menandakan bahwa manakala anak-anaknya terancam bahaya, induk ayam langsung bertindak memberikan perlawanan demi keselamatan anak-anaknya.

    Kedua, dalam hal makanan, Induk Ayam lebih mengutamakan anaknya ketimbang dirinya. Ya betul, Induk ayam lebih mengutamakan anak-anaknya dalam hal makan. Ini bisa kita lihat manakala ia mendapatkan makanan, ia panggil anak-anaknya untuk memakan makanan yang ia dapatkan. Ia selalu sabar mencarikan makanan buat anak-anaknya. Dari sini, bisa saya simpulkan, bahwa sebagai orang tua sudah merupakan kewajiban untuk menafkahi anak-anaknya, sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang. Makanan yang diberikan pun harus melalui proses yang halal dan layak untuk dikonsumsi.

    Ketiga, Induk Ayam selalu mengajari anak-anaknya supaya bisa mandiri sejak kecil. Di samping mencari makanan buat anak-anaknya, induk ayam selalu menyempatkan dirinya untuk mengajari anak-anaknya bagaimana caranya mencari makanan sendiri. Jika kita perhatikan, ketika anak ayam semakin bertambah usianya, si induk ayam akan mengajari anak-anaknya bagaimana caranya mendapatkan makanan dan memilih makanan yang layak dikonsumsi. Mengajari bagaimana cara menggunakan cakar yang ada di kakinya. Begitu seterusnya, sampai anaknya tersebut bisa hidup mandiri, termasuk mencari kebutuhan perut sendiri. Sungguh mulia hati ibunya. Inilah pola pendidikan anak yang unik dan hebat dari makhluk yang bernama “ayam” ini.

    Keempat, ayam pandai dalam mengatur waktu (manajemen waktu). Di pagi hari sampai siang biasanya anak ayam diajak oleh induknya untuk belajar hidup di dunia ini, untuk mencari pengalaman hidup sebanyak-banyaknya. Namun, ketika waktu sudah mulai sore, maka si ibunya mengajak anak-anaknya pulang dan istirahat bersama. Mereka tidak boleh keluar lagi, dan berlindung di bawah tubuh si ibunya ketika malam tiba.

    Kelima, pada waktu sepertiga malam yang terakhir, biasanya ayam selalu berkokok. Hal ini menggambarkan bahwa mereka tidak hanya larut dalam tidur saja, tetapi mereka juga menyempatkan waktunya untuk beribadah pada Yang Maha Kuasa. Ini memberikan pelajaran bagi kita selaku umat manusia, bahwa dalam suasana  sunyi senyap merupakan waktu yang paling tepat untuk bermunajat kepada Allah, seperti melaksanakan sholat-sholat sunah atau memperbanyak dzikir. Sehingga dengan perilaku yang seperti itu, kita termasuk hamba yang benar-benar tunduk, taat dan pandai bersyukur atas berbagai nikmat yang diberikan oleh-Nya.

    Semoga dari beberapa pola kehidupan ayam yang tersebut di atas, bisa kita tiru dan kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena bagaimana pun juga, alam merupakan bagian pelajaran hidup yang sangat bagus buat kita, termasuk ayam.

    Wallahu a’alam.


    Ditulis pada tanggal 26 Januari 2017
    Oleh: Gunawan
    Penulis Buku "SMART Solution"

    Yang Lain Kamu Anggap Apa?

    Dedi Purwanto.
    Kalau merasa tau, kamu ingin menindas
    Kalau merasa pintar, kamu anggap diri mu pantas
    Kalau merasa Hatam akan ilmu, kamu anggap diri mu hakim
    Kalau merasa diri mu cantik, kamu anggap banyak yang kecantol
    Lalu yang lain kamu anggap apa?

    Ketika orang marah kepada mu, kamu anggap kamu lagi di hina
    Ketika orang menyangjung mu, kamu anggap itu pujian
    Ketika orang mencaci mu, kamu anggap itu kutukan
    Ketika orang menasehati, kamu anggap itu lelucon
    Ketika ditanya tentang lelucon, kamu hanya tertawa
    Ketika ditanya apa itu tertawa, kamu hanya melanjutkan tertawa
    Makhluk apa kita ini?

    Sudah berapa sen kebaikan yang pernah kita buat?
    Sudah berapa kali tangan kanan memberi kebaikan tetapi tangan kiri tidak mengetahui nya?

    Kalau masih belum baik, jangan menggap diri baik
    Berarti kalau menganggap diri tidak baik
    Kemungkinan besar kita masih bisa menerima masukan, kritikan dan apapun bentuknya yang datang dari orang lain tanpa mereka kecil hati dan sebagainya


    Yogyakarta, 19 Maret 2017
    Oleh: Dedi Purwanto

    Gotong Royong Ala Masyarakat Desa

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com – Penduduk Indonesia dikenal sebagai penduduk yang ramah di mata bangsa lain. Di samping itu juga, Indonesia terkenal dengan budaya gotong royong, khususnya di pedesaan. Budaya gotong royong sangat kental dengan masyarakat desa. Gotong royong (solidaritas sosial) merupakan bentuk kepedulian atau keprihatinan seseorang terhadap orang lain, sehingga ia rela memberikan waktu, tenaga atau pikirannya untuk orang lain. Budaya inilah yang masih dipegang oleh masyarakat desa di Indonesia pada umumnya. Sebagai contoh, di desa tempat saya berasal (Bumi Pajo, Donggo-Bima).

    Biasanya, ketika ada salah satu tetangga yang sedang membuat/membangun rumah (sebagai tempat tinggal), pasti tetangga-tetangga di sekitarnya tidak tinggal diam. Mereka berbondong-bondong datang untuk membantu mulai dari anak-anak sampai orang tua. Mereka akan membantu dan tidak mengharapkan upah sama sekali. Singkatnya, jika terdapat suatu kegiatan yang diadakan oleh si A misalnya, yang lainnya turut serta untuk membantunya. Entah itu membantu dengan materi, pikiran, maupun tenaganya. Sungguh, mulia hati mereka. Mau membantu dan berbagi antar sesama.

    Contoh lain, ketika ingin membangun/merenovasi tempat ibadah. Yang terlihat adalah semangat mereka untuk bekerja sangat luar biasa. Mulai dari anak-anak sampai orang tua semuanya pasti ikut terlibat. Bahkan, yang membuat saya bangga terhadap kebiasaan masyarakat desa adalah para perempuan juga ikut andil. Remaja putri dan ibu-ibu, biasanya menyediakan makanan untuk para lelaki yang bekerja tersebut. Namun, ada juga yang membantu mengangkut pasir, batu bata, dan bahan materil lainnnya. Dengan adanya budaya gotong royong ini, maka hubungan persaudaraan dan kekeluargaan di antara mereka pun semakin terjalin harmonis.

    Saya membayangkan, bagaimana seandainya kebiasaan-kebiasaan tersebut dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Tak terkecuali masyarakat kota (karena memang budaya gotong royong di masyarakat kota sekarang kelihatannya sudah mulai luntur). Sungguh indah dan bahagia rasanya. Jika hal demikian bisa direalisasikan dan menjadi kebiasaan, maka bisa jadi gejala-gejala, seperti: kekerasan, sikap apatis (acuh tak acuh), siapa lho siapa gue, dan lainnya bisa diminimalisir bahkan mungkin tidak ada.

    Dalam ajaran Islam bahwa sikap seperti ini, sebenarnya telah dianjurkan. Islam mengajarkan, agar setiap manusia untuk saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Hal demikian, jelas sekali diterangkan dalam Surat Al-Maidah, ayat 2, sebagai berikut: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” Sungguh ajaran yang sempurna.

    Tentu secara pribadi, saya berharap semoga desa mampu menjadi penjaga pilar kejayaan Pancasila dengan tetap menjaga semangat kegotong-royongan di dalam kehidupan bermasyarakatan yang sekarang sudah masuk era modernisasi.

    Wallahu a’lam.

    Ditulis pada tanggal 25 Januari 2017
    Oleh: Gunawan
    Penulis Buku "SMART Solution"

    Terlantik, Bangun Budaya Dialektika

    Pengurus lama dan baru, M. Saleh Ahalik (batik merah, nomor 2 dari kiri, berdiri).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Terlantiknya pengurus baru Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta diharapkan melahirkan energi positif yang baru. Dalam sambutannya, ketua terlantik, M. Shaleh Ahalik menyampaikan keinginan untuk membangun budaya dialektika.

    "Insya Allah saya akan berusaha menjadi sosok yang amanah. Kami akan berusaha juga membangun budaya dialektika," ujarnya saat menyampaikan orasi ilmiah di tempat pelantikan, gedung Golkar DIY, Minggu (19/3/2017).

    Menurutnya, budaya dialektika merupakan cara yang baik untuk meningkatkan produktifitas organisasi. Dirinya berharap kerja sama yang baik diantara pengurus untuk mencapai visi dan misi organisasi.

    "Saya berharap kita (pengurus, red) saling bahu membahu untuk mensukseskan PUSMAJA. Kami juga berharap dukungan dan suport dari Sesepuh Weki Ndai Mbojo di Jogja," ungkapnya. (Rizalul Fiqry / PEWARTAnews)

    Berguru pada Semut

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com – Seperti halnya makhluk-makhluk lainnya, semut juga merupakan salah satu ciptaan Allah yang berdiam di muka bumi ini. Makhluk yang bernama semut ini, umumnya selalu hidup berkelompok/berkoloni. Kehidupan semut sangat jauh berbeda dengan kehidupan manusia. Namun, kehidupan semut ini kadang membuat manusia yang menyaksikannya tercengang.

    Tidaklah berlebihan, jika saya mengatakan bahwa mari kita mencoba untuk berguru pada semut. Karena memang belajar tidak mengenal tempat, waktu, dan sumber. Belajar bisa di mana saja, kapan saja, dan dari siapa atau apa saja, termasuk semut. Dengan kata lain, belajar itu tidak hanya ditempuh di bangku sekolah atau perguruan tinggi, tetapi pelajaran yang alami adalah ada di alam sekitar kita.

    Meski pun secara fisik semut itu kecil, namun ada beberapa hal yang bisa kita petik sebagai pelajaran hidup dari kehidupan makhluk yang bernama semut ini. Pelajaran pertama, semut sangat menjunjung tinggi budaya gotong royong. Saya sering melihat budaya semut yang seperti ini. Saya rasa Anda juga sering melihat sifat semut yang satu ini. Jika belum pernah melihatnya, coba Anda lemparkan misalnya sebutir nasi di tempat di mana semut itu berada. Anda akan melihat bagaimana mereka (baca: semut) menggotong makanan tersebut sampai ke sarangnya secara bersama-sama. Mereka akan mengerubuti makanan tersebut dari semua arah dan berusaha membawanya bersama-sama. Bahkan, jika makanan yang mereka peroleh mungkin terlalu besar, mereka merobeknya menjadi bagian terkecil sehingga mereka mampu menggotongnya. Tidak ada istilah senior atau junior dalam kehidupan semut. Semuanya saling bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Sungguh kebiasaan yang patut kita tiru.

    Pelajaran kedua, semut tidak pernah menyerah terhadap berbagai rintangan yang dihadapi. Pernah di kampung dahulu, saya menginjakkan kaki di atas jalan setapak yang dilalui oleh sekelompok semut. Karena jalan dilewati olehnya saya injak, para semut tersebut berusaha mencari jalan lain bahkan menaiki kaki saya untuk bisa meneruskan perjalanannya. Walau pun dihalangi terus-menerus, mereka tetap mencari jalan lain untuk ia lewati. Mungkin Anda juga pernah melakukan hal demikian. Jika belum, coba dipraktikkan, dan lihat apa yang terjadi.

    Pelajaran ketiga, saling menghormati satu sama lain. Jika kita perhatikan segerombolan semut, maka ada satu kebiasaan unik yang selalu mereka lakukan. Semut jika bertemu atau berpapasan dengan sahabatnya atau semut lain, mereka saling menegur dan saling menyapa satu sama lain. Inilah tradisi semut, sebagai bentuk perwujudan untuk saling menghormati satu sama lain. Hal demikian, mencerminkan sebuah persaudaraan yang sangat bagus.

    Pelajaran keempat, pola kehidupan semut itu teratur dan disiplin. Mari kita coba perhatikan jika sekelompok semut sedang berjalan. Yang terlihat adalah keteraturan dan kedisiplinan yang tinggi. Segerombolan semut akan berjalan dengan teratur, antri, tidak saling mendahului apalagi saling injak satu sama lain. Sungguh pola kehidupan yang sangat bagus.

    Pelajaran kelima, bahwa semut itu merupakan binatang yang kreatif dan selalu bergerak. Makhluk yang satu ini tidak kenal lelah, apalagi bermalas-malasan dan berpangku tangan. Tidak akan ditemui seekor semut yang tidur pulas, apalagi dalam waktu yang lama.

    Jadi, sekali lagi tidaklah berlebihan jika saya mengatakan bahwa semestinya kita bisa meniru sekaligus berguru pada semut, tentang berbagai pola kehidupannya. Kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari seperti yang digambarkan dari kehidupan semut di atas.

    Wallahu a’lam.      


    Ditulis pada tanggal 24 Januari 2017
    Oleh: Gunawan
    Penulis Buku "SMART Solution"

    Mahasiswa NTB di Semarang menyambut Farouk Muhammad (Senator Senayan)

    Prof. Dr. Farouk Muhammad saat pertemuan dengan mahasiswa NTB di Semarang.
    PEWARTAnews.com – Suasana penuh hangat dalam pertemuan semalam (17 Maret 2017) dengan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Prof. Dr. Farouk  Muhammad, S.H., yang merupakan senator berasar dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat (NTB) pukul 21.17 sampai 22.45 WIB di Hotel Grand Candi Semarang.

    Saya dan beberapa kawan-kawan mahasiswa NTB lainnya termasuk salah satunya adalah Muh. Iksanul Yakin (Pengurus Besar HMI MPO Ketua Komisi ESDM), dan Mantan Presiden BEM UNNES Ahmad Fauzy dari Sumbawa NTB menyambut beliau sekaligus berdiskusi tentang isu-isu Nasional, kondisi NTB (regional), dan yang penting juga terkait eksistensi serta peran mahasiswa yang mengenyam Pendidikan di Kota dan Kabupaten Semarang untuk menyiapkan diri sebagai generasi penerus yang membawa perubahan-perubahan di NTB nantinya.

    Kondisi badan tidak terlalu fit, beliau masih menyempatkan diri untuk menerima kedatangan kami di penginapannya sekaligus mendengarkan keluh kesah serta gagasan-gagasan kami sebagai anak-anak daerahnya yang merantau/studi di Semarang.

    Pertemuan ini diawali kontak via  Facebook saya dengan beliau Kamis, 17 Maret pkl 22.45 WIB kemarin. Isi penyampaian saya dalam komunikasi tersebut, saya meminta beliau sebagai pemateri dlm Seminar Nasional yang nanti akan diadakan mahasiswa NTB di Semarang dan Sekaligus melantik pengurus Ikatan Mahasiswa Bima-Dompu (IMBIPU) Semarang periode 2017-2018. Beliau dengan bangga merespon, "Bagus, saya Sabtu malam 19 Maret 2017 ada acara menyampaikan sambutan dalam peluncuran Buku di Semarang, nanti bisa kontak lagi", ungkap beliau. Mendengar itu saya langsung menyampaikan berita bagus ini kepada kawan-kawan yang lain. Kemudian Saya teruskan komunikasi dengan Ajudan beliau, pak Hadi untuk mengatur pertemuan. Usai beliau menyampaikan sambutannya dalam acara yang dihadirinya, kami langsung mengatur pertemuan, melalui ajudannya kami diarahakan langsung ke kamar bliau, yang sedang baring dengan kondisi lemas, kurang fit di Hotel Grand Candi Semarang. Terkait rencana Seminar Nasional yang akan kami adakan nanti, kami akan mengangkat tema sesuai kondisi Bangsa dan Negara hari ini; ada dua grand tema yaitu "Urgensi Penguatan Lembaga DPD RI dalam Pembangunan Nasional melalui Percepatan Pembangunan Daerah" dan "Ketahanan Pangan dan Energi Nasional".

    Beliau mengindahkan, beliau akan siap hadir dan tampil sebagai Narasumber di Acara Seminar Nasional bersama pemerintah provinsi Jawa Tengah (dalam konfirmasi) yang akan kami adakan nanti sekaligus melantik Aminurrahman, Ketua terpilih bersama pengurus Ikatan Mahasiswa Bima Dompu (IMBIPU) Semarang yang sudah dibentuknya, awal Mei 2017 nanti. Saya juga akan berkoordinasi dengan pengurus Forum Persaudaraan Antar Etnis Nusantara (PERANTARA) Jawa Tengah untuk menyampaikan ke 25 Organisasi Daerah tingkat Propinsi di Semarang sebagai peserta acara seminar dan pelantikan tersebut. Selain dari pada seluruh Mahasiswa Bima, Dompu, Sumbawa, Lombok yang tergabung dalam Ikatan Silaturahmi Mahasiswa (ISMA) NTB-Semarang dalam hal ini pengurus ISMA NTB sebagai penyelenggara kegiatan tersebut.


    Semarang, 18 Maret 2017
    Oleh: Adhar Malaka
    Mantan Ketum ISMA NTB
    Sekretaris UMUM Forum PERANTARA Jawa Tengah
    Kordum IFK SAJAWA

    Belajar dari Kehidupan Lebah

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com – Salah satu makhluk ciptaan Allah di muka bumi ini adalah lebah. Lebah merupakan salah satu jenis serangga yang ukuran tubuhnya kecil. Ukurannya kira-kira 2-3 cm. Kehidupan hewan yang satu ini sangat unik jika kita perhatikan secara saksama. Semua ciptaan-Nya di muka bumi ini memang tidak ada yang sia-sia, termasuk lebah. Lebah memang salah satu makhluk Allah yang istimewa, ia dapat memberikan manfaat dan kenikmatan, terutama bagi umat manusia.

    Makhluk yang hidupnya selalu berkelompok ini, memiliki berbagai sifat yang unik, di antaranya: Pertama, lebah selalu hinggap di tempat yang bersih dan  hanya makan/menyerap yang bersih pula. Luar biasa hewan yang satu ini. Ia hanya memakan dan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat lainnya yang bersih. Sungguh, pilihan yang mulia. Lebah selalu selektif dalam memilih makanan. Alangkah bagusnya, jika kita sebagai manusia bisa meniru kehidupan lebah ini yaitu hanya menyantap sesuatu yang bersih dan yang baik. Lebah tidak pernah belajar ilmu kesehatan layaknya seseorang yang kuliah di fakultas kesehatan/kedokteran. Akan tetapi, ia bisa menjaga kesehatannya dengan hanya memakan sesuatu yang bersih. Ia tahu mana yang bersih dan mana yang tidak.

    Kedua, lebah selalu mengeluarkan yang bersih. Karena lebah hanya menyantap sesuatu yang bersih maka yang keluar dari perutnya pun adalah sesuatu yang bersih pula. Ya, lebah mengeluarkan madu, dan manfaatnya juga baik untuk kesehatan manusia. Sungguh luar biasa. Lebah mampu memproduksi sebanyak mungkin madu, yang tidak hanya untuk kepentingannya sendiri, akan tetapi bermanfaat juga buat makhluk-makhluk lainnya, terutama manusia.

    Ketiga, lebah tidak merusak tempat di mana pun ia hinggap. Memang kalau kita perhatikan, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang ia hinggapi. Betapa santunnya hewan ini hingga dalam bergaul ia tidak menyakiti/merusak apa pun dan senantiasa menjaga kedamaian dalam setiap suasana. Setidaknya, manusia juga bisa menirukan sifatnya yang satu ini yaitu tidak melakukan pengrusakan terhadap lingkungan atau alam sekitar.

    Keempat, lebah tidak pernah mengganggu/melukai siapa pun kecuali kalau diganggu terlebih dahulu. Lebah juga punya harga diri yaitu ia tidak akan pernah mengganggu orang lain atau apa pun itu selama kehormatan dan harga dirinya dihormati. Namun bila harga dirinya dizalimi, ia akan siap menyengat pengganggunya. Bahkan, untuk mempertahankan kehormatan kelompoknya, ia rela mati dengan melepas sengatannya di tubuh siapa dan apa pun yang menyerang atau mengganggunya.

    Kelima, lebah selalu hidup berkelompok dan saling menjaga satu sama lain. Dalam hal apa pun lebah selalu berkelompok. Mencari makanan selalu berkelompok. Bahkan, menjaga keamanan sekali pun selalu berkelompok.

    Bilamana beberapa sifat lebah tersebut di atas ditiru oleh setiap manusia, yakinlah bahwa akan terbentuk masyarakat yang berkualitas dalam segala lini kehidupan. Dengan demikian, akan terwujudlah kehidupan yang berkeadilan, makmur, dan sejahtera. Lebih dari itu, kebiasaan mengeksploitasi kekayaan alam dan sesama manusia tidak lagi terjadi.

    Wallahu a’lam.


    Ditulis pada tanggal 23 Januari 2017
    Oleh: Gunawan
    Penulis Buku "SMART Solution"

    Nasehat Sesepuh Mbojo, dr. Aisyah: Berhenti Merokok, Perbanyak Ibadah

    dr. Sitti Aisyah Sahidu, S.U. (jilbab merah) 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Kegiatan pelantikan pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta periode 2017/2018 yang digelar di gedung Golkar DIY pada Minggu (19/3/2017) mendapat dukungan dari sesepuh Weki Ndai Mbojo. Saat menyampaikan sambutan, dr. Sitti Aisyah Sahidu, S.U. menekankan agar anggota PUSMAJA Mbojo-Yogyakatra dah seluruh undangan untuk berhenti merokok.

    "Nah, ini tugas saya. Kalian harus berhenti merokok. Aku tuh orang yang sangat tidak suka dengan orang yang merokok," tegasnya saat memberikan sambutan.

    Menurutnya, budaya rokok merupakan hal yang kurang tepat. Di sisi lain, dr. Sitti Aisyah Sahidu menegur gaya rambut gondorong.

    "Kalau aku ketemu sama yang gondrong, akan aku pangkas. Aku juga bisa jadi tukang cukur. Jangan main-main," tukas dr. Sitti Aisyah Sahidu diikuti gelak tawa khasnya. (Rizalul Fiqry / PEWARTAnews)

    Khidmat, Pelantikan PUSMAJA Dihadiri Sesepuh Mbojo

    Bukhari, ST. (baju putih), dr. Sitti Aisya Sahidu (jilbab merah).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Acara pelantikan pengurus Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018 yang dgelar di gedung Golkar DIY pada Minggu (19/3/2017) berlangsung Khidmat. Kegiatan komunitas berlatarbelakang akademis tersebut dihadiri oleh sesepuh Mbojo (Bima-Dompu), Weki Ndai Mbojo. Beberapa sesepuh yang hadir diantaranya, Bukhari, S.T., CFP. (selaku Ketua Forum Silaturrahim Weki Ndai Mbojo-Yogyakarta sekaligus salahsatu dewan Pembina PUSMAJA MbojoYogyakarta), dr. Sitti Aisya Sahidu, S.U. (Sesepuh Mbojo sekaligus salahsatu dewan Pembina PUSMAJA MbojoYogyakarta).

    Pantauan media ini, selain dihadiri Sesepuh, kegiatan dihadiri puluhan anggota PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta dan sejumlah perwakilan dari organisasi yang diundangan. Selain itu, mlalui laporannya, Ketua Panitia Pelaksana, Jaeni, S.H. mengucapkan terimakasih atas dukungan moril dan materil yang diberikan.

    "Terimakasih kepada sesepuh Weki Ndai Mbojo yang bersedia hadir dalam kegiatan yang kami gelar," ucap Jaeni, S.H. di tempat kegitaan. (Rizalul Fiqry / PEWARTAnews)

    Prihatin, Rapat, Putuskan untuk Prioritaskan Daffa: “Rapat Singkat KEPMA Bima-Yogyakarta”

    Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta, Agus Salim.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Siapa yang tidak tersentuh ketika melihat seorang balita harus mengalami penderitaan yang sangat berat. Yah, balita itu adalah Daffa (3,8 tahun) anak dari Firman (38 tahun) warga Desa O’o, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, NTB. Sahabat sahabat Daffa terus lahir, tidak ketinggalan juga dari Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta. Mendapat kabar dari chat pribadi, ketua langsung mengumpulkan pengurus untuk rapat.

    “Kami mendapatkan informasi dari chat pribadi tentang penyakit yang diderita Daffa. Sekitar dua jam setelah membaca dan mempertimbangkan secara pribadi, saya memutuskan untuk mengirim ke grup pengurus. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan usulan dan pertembangan dari pengurus lainnya,” tutur Ketua KEPMA Bima-Yogyakarta, Agus Salim pada media ini via akun Whatsapp-nya, Sabtu (18/3/2017).

    Saat rapat dengan pengurus, lanjutnya, atas dasar pertimbangan kemanusiaan dan rasa empati, pengurus menyetujui untuk menyalurkan seluruh anggaran yang diamanahkan kepada organisasinya untuk disalurkan ke Daffa. “Anggarannya sekitar 4 jutaan tersebut akan serelatif cepat mungkin untuk ditrasfer oleh bendahara,” paparnya.

    Disisi lain, pihaknya juga akan melakukan koordinasi dengan sejumlah organisasi kedaerahan tingkat desa dan kecamatan wilayah Kabupaten dan Kota Bima yang ada di Yogyakarta untuk melakukan aksi penggalangan dana.

    Seperti diketahui, Daffa (3.8 tahun) anak dari Firman (38 tahun) warga Dusun Kala Timur, Desa O'o, Kecamatan Dompu, Dompu, NTB, didiagnosa menderita kanker otak sejak 2016. Operasi yang dirujuk ke Bali. Anggaran yang dibutuhkan setidaknya 80an juta, hal inilah yang dirasa berat bagi keluarga. (Rizalul Fiqry / PEWARTAnews)

    Lagi, Sahabat Daffa Muncul di Jogja: “PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Duduki Titik 0”

    Ketua terpilih PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta, M. Saleh Ahalik, S.Pd.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Penggalangan dana untuk Daffa (3,8 tahun) warga Desa O’o kecamatan Dompu, kabupaten Dompu, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus menjalar. Jika kemarin Semarang, sekarang sahabat Daffa muncul di kota gudeg Yogyakarta. Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA)  Mbojo-Yogyakarta akan melakukan aksi penggalangan dana di Titik 0 pada 18 dan 19 Maret 2017.

    “Kegiatan penggalangan dana ini merupakan salah satu bentuk dari solidaritas PUSMAJA terhadap masyarakat. Penderita kanker yang berasal dari Dompu ini (Daffa, red) wajib untuk dibantu. Maka dari itu PUSMAJA berusaha bergerak cepat untuk melakukan penggalanan di lampu merah Titik 0 KM,” jelas Ketua terpilih PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta, M. Saleh Ahalik, S.Pd. di Yogyakarta (18/3/2017).

    Dirinya berharapan, organisasi lain bisa bekerjasama dan terinspirasi dalam hal kebaikan. Aksi penggalangan dana tersebut, lanjut pria yang akrab disapa Rendi itu, semata-mata bentuk kepedulian untuk mewujudkan PUSMAJA berjiwa sosial. “Kegiatan ini dimulai dari tgl 18-19 Maret,” tukasnya.

    Seperti diketahui, Daffa (3.8 tahun) anak dari Firman (38 tahun) warga Dusun Kala Timur, Desa O'o, Kecamatan Dompu, Dompu, NTB, didiagnosa menderita kanker otak sejak 2016. Operasi yang dirujuk ke Bali. Anggaran yang dibutuhkan setidaknya 80an juta, hal inilah yang dirasa berat bagi keluarga. (Rizalul Fiqry / PEWARTAnews)

    BPTP dan Gempita NTT Kuatkan Pertanian Perbatasan

    Kupang, PEWARTAnews.com – Komitmen dan Kesadaran Pemuda yang terhimpun dalam Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita) akan memberdayakan lahan tidur di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan lahan sebesar 100 ribu hektar  khusus berada di 5 kabupaten di NTT yang berbatasan langsung dengan Timor Leste. 

    Untuk diketahui sehari sebelumnya, (14/03/2017) Gempita melaporkan progress Kegiatannya saat berkesempatan Silaturahmi dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Hotel Grand Aston, Yogyakarta disela kunjungan Mentan ke perbatasan NTT. 

    Hal itu disampaikan Daniel Nalle selaku koordinator wilayah NTT  dalam Acara Workshop Gempita, di Aula Balai BPTP Balitbangtan Kementan NTT, Naibonat kabupaten Kupang, Rabu 15 Maret 2017. 

    Daniel menjelaskan, secara khusus, tindak lanjut program Menteri Andi Amran Sulaiman menguatkan Ekonomi Daerah perbatasan  melalui penambahan areal pertanian sekaligus mencetak pelanjut Pertanian di NTT.

    “Kita kerjasama dengan dinas-dinas pertanian propinsi maupun kabupaten. Program ini sangat positif, selain membantu ekonomi pedesaan dan perbatasan, juga memberdayakan Generasi Muda NTT untuk aktif mengambil bagian dalam perberdayaan pemuda melalui lahan tidur,” ucapnya.

    “Kementerian Pertanian akan membantu kawan-kawan yang mau bertani berupa benih jagung, Pupuk, corn transplanter (Alat Tanam), hand traktor, Pompa air, dll kepada pemuda,” tambahnya.

    Mantan Calon Komisioner KPK 2015 Akhmad Bumi selaku  Ketua Dewan Pembina Gempita NTT menegaskan, kalangan pemuda  perlu dirangkul berdayakan lahan tidur yang jumlahnya ratusan ribu hektar di NTT,  sehingga sejak dini berpeluang sejahtera. Sejahtera berarti kualitas hidupnya mandiri ekonominya dan bermanfaat secara sosial.

    Lanjutnya, mayoritas penduduk NTT adalah petani, sehingga perlu penguatan teknologi tepat guna. Karena hal ini terkait pertanian dan berkaitan dengan pangan, maka dibutuhkan lahan, air dan bibit, teknologi sebagai syarat kedaulatan pangan. Ketiga hal itu sudah ada di NTT, tinggal manfaatkan dukungan teknologi, tenaga muda terampil,  turun didesa untuk menopang kerja-kerja pertanian.

    “Program ini digerakkan oleh pemuda-pemuda desa yang peduli pertanian,  yang tadinya pemuda hanya bekerja disektor buruh, industri maupun bisnis, dengan program ini pemuda menjadi aktif. Pertanian adalah lahan bisnis menjanjikan kesejahteraan. Kita bangun moral ekonomi NTT dari desa dengan kekuatan air, tanah  dan idealisme, ketangguhan pemuda,” Ungkap Akhmad Bumi.

    Hal senada disampaikan Amiruddin Pohan kepala Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) Balitbangtan NTT, hasil pemetaan kami, ada 1400 titik daerah NTT memiliki Potensi Air dan Lahan tidur. Ini peluang yang sangat menggiurkan untuk dikembangkan Oleh Pemuda NTT.

    "Keberadaan Gempita sebagai Mitra  strategis dalam rangka mendiseminasi dan pemanfaatan hasil-hasil penelitian BPTP yang sudah siap dinikmati Petani," tukas Amir.

    Kami bangga bisa Support Generasi Muda yang Akan menjadi Pelanjut Pertanian, melatih dan perkaya keterampilan Gempita maka Kami optimis NTT bisa Mandiri pangan melalui Pemuda yang didukung Teknologi. Pungkas Amir. (Soe Gie / PEWARTAnews)

    Aksi Sosial, HMPS P.FIS UAD Buat Kotak Peduli Daffa

    Ketua HMPS P. FIS UAD, Wahyu Hidayat, S.Pd.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Solidaritas untuk balita penderita kanker otak asal Desa O'o Kecamatan Dompu Kabupaten Dompu, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) lahir juga dalam lingkungan akademis. Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Fisika Universitas Ahmad Dahlan (HMPS P.FIS UAD) berniat melakukan aksi kotak sosial untuk Daffa. Rencana itu jelaskan Ketua HMPS P. FIS UAD, Wahyu Hidayat, S.Pd.
    "Rencananya kami akan buat kotak peduli Daffa. Hanya saja di sekitar kampus kami (UAD, red) saja," ujarnya pada media ini di kampus 2 UAD, Jumat (17/3/2017).

    Daffa (3,8 tahun), bocah penderita kanker otak.
    Aksi tersebut menurutnya harus terus terlahir, karena akan berpengaruh pada kecintaan pada sesama manusia. Program seperti itu juga menurutnya linier dengan organisasi yang dipimpinnya saat ini.
    "Kami (HMPS P. FIS, red) juga memiliki program kerja yang bertema peduli sosial. Sebagai bentuk kepedulian terhadap nasib kurang baik yang menimpa sesama," kata pria yang akrab disapa Wahyu itu.
    Kegiatan itu akan dirapatkan secara internal dalam kepengurusan. "Secepatnya akan kami laksanakan rencana ini," tandanya.
    Seperti diketahui, Daffa (3.8 tahun) anak dari Firman (38 tahun) warga Dusun Kala Timur, Desa O'o, Kecamatan Dompu, Dompu, NTB, didiagnosa menderita kanker otak sejak 2016. Operasi yang dirujuk ke Bali. Anggaran yang dibutuhkan setidaknya 80an juta, hal ini lah yang dirasa berat bagi keluarga. (Rizalul Fiqry / PEWARTAnews)

    Sahabat Daffa di Semarang, Bergerak

    Formatur IMBIPU Semarang, Adhar Malaka.
    Semarang, PEWARTAnews.com – Aksi kemanusian memang tidak mengenal rupa, status dan jarak. Hal itulah yang tergambar dari komunitas Ikatan Keluarga Forum Mahasiswa Sape se-Jawa (FIKM Sa-Jawa) Wilayah Semarang. Melalui akun Facebook miliknya, Adhar Malaka menyuarakan partisipasinya dalam penggalangan dana untuk Daffa (3.8 tahun) yang didiagnosa menderita kanker.
    "Keterbatasan ekonomi Daffa butuh doa dan ukuran tangan kita," tulis Adhar yang diunggah tanggal 16 Maret 2017.

    Daffa (3,8 tahun), bocah penderita kanker otak.
    Menurutnya, aksi solidaritas tersebut merupakan panggilan jiwa sebagai sesama manusia. Rencananya, aksi yang berporos di Tugu Muda Semarang itu akan dilakukan Jumat - Sabtu (17 - 18 Maret 2017).
    "Atas nama solidaritas dan kemanusian! Saya sebagai formatur IMBIPU (Ikatan Mahasiswa Bima Dompu) Semarang dan anggota  IKFM SA-JAWA mengajak seluruh mahasiswa Bima dan Dompu se-Semarang untuk andil," tulisnya lagi.
    Seperti diketahui, Daffa (3.8 tahun) anak dari Firman (38 tahun) warga Dusun Kala Timur, Desa O'o, Kecamatan Dompu, Dompu, NTB, didiagnosa menderita kanker otak sejak 2016. Operasi yang dirujuk ke Bali. Anggaran yang dibutuhkan setidaknya 80an juta, hal ini lah yang dirasa berat bagi keluarga. (Rizalul Fiqry / PEWARTAnews)

    Perlunya Budaya Menegur

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com – Sebenarnya, saya tulis artikel singkat ini pada dasarnya untuk mengevaluasi sekaligus menegur pribadi saya sendiri. Karena memang saya adalah manusia yang tidak luput dari dosa dan kesalahan. Semoga dengan adanya artikel singkat ini, bisa menjadi alarm buat pribadi saya khususnya, dan pembaca sekalian umumnya, agar kita bisa untuk saling menegur satu sama lain di kala ada yang berbuat salah.

    Orang bilang, sahabat yang paling baik adalah sahabat yang berani menegur kita dengan keras, di kala kita berbuat salah. Akan tetapi, Anda mungkin sadar, betapa sulitnya melakukan itu. Yang banyak terjadi adalah ketika kita menegur sahabat kita, maka persahababatan akan terancam rusak. Benar kan? Ini pernah saya alami dari sekolah dahulu sampai sekarang ketika saya masih kuliah. Gara-gara menegur demi kebaikan bersama, namun seolah-olah ini salah di matanya. Tapi sekali lagi, ini hanyalah dari sudut pandang saya.

    Menurut saya, salah satu penyebab mengapa banyak hal buruk yang terjadi di masyarakat kita adalah karena tidak ada orang yang menegur di kala orang lain berbuat salah. Ketika ada orang yang berbohong, tidak ada orang yang menegur. Ketika ada orang yang berbuat curang, tidak ada orang yang menegur. Jangan-jangan ketika ada orang yang membunuh orang lain, kita juga tidak menegurnya. Ketika ada orang korupsi, kita tidak berani menegur, bahkan mungkin ikut-ikutan korupsi. Hmmm.

    Pertanyaan kemudian adalah, apa yang diperlukan untuk menegur orang lain? Paling tidak ada beberapa hal, di antaranya: keberanian untuk menegur, kehendak atau niat yang baik, dan dengan cara yang baik dan tepat pula.

    Pertama, keberanian. Keberanian memang tetap diperlukan. Keberanian yang dimaksud di sini adalah keberanian untuk menegur, bukan keberanian untuk bertengkar di jalan dengan orang lain. Kita perlu untuk berani menegur ketika terjadi kesalahan, baik besar atau kecil, di depan mata kita. Keberanian untuk menegur diri sendiri di kala berbuat salah juga sangat diperlukan.

    Kedua, kehendak atau niat yang baik. Sama seperti keberanian, kehendak atau niat baik pun sangat diperlukan dalam menegur. Jangan sampai ada niat untuk menyakiti apalagi menyinggung perasaan. Sebelum menegur orang yang berbuat salah, kita harus sungguh-sungguh yakin, bahwa kehendak kita itu baik.

    Ketiga, cara yang baik dan tepat. Walaupun keberanian sudah ada, dan kehendak sudah baik, kita juga harus memperhatikan “cara” kita menegur. Yang pasti, kita harus menegur dengan cara yang sopan. Kita juga harus menggunakan bahasa yang halus, sopan, namun tegas, dan jelas. Itulah mungkin beberapa cara yang perlu kita ketahui jika ingin menegur seseorang di kala berbuat salah. Mungkin Anda mempunyai cara lain, selain cara yang disebut di atas. Silahkan diamalkan!

    Budaya saling menegur harus kita bangun, jika salah seorang dari kita berbuat salah. Sebagai contoh, warga masyarakat harus berani menegur pemimpinnya jikalau berbuat salah, begitu pula sebaliknya. Teguran sangatlah penting, supaya kesalahan tidak berlanjut, dan merusak lebih dalam serta lebih luas. Kita berharap, semoga dengan saling menegur, hidup bersama kita akan lebih nyaman dan membahagiakan.

    Wallahu a’lam.

    Ditulis pada hari Minggu, 22 Januari 2017
    Oleh: Gunawan
    Penulis Buku "SMART Solution"

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website