Headlines News :
Home » » Kristen dalam Muhammadiyah (Kajian Sosiologis)

Kristen dalam Muhammadiyah (Kajian Sosiologis)

Written By Pewarta News on Rabu, 15 Maret 2017 | 03.44

Andri Ardiansyah.
PEWARTAnews.com – Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi yang besar di negeri ini. Organisasi yang memiliki kekentalan pemahaman agama yang di anutnya. Nama Muhammadiyah tidak asing lagi ditelinga rakyat Indonesia, begitu populer dan terkenalnya Muhammadiyah di kalangan sosial dan masyarakat kita. Disdari atau tidak, Muhammadiyah begitu berkembang dan maju di negeri ini, baik dalam pendidikan, ekonomi, budaya, hingga kesehatan, sehingga tidak heran Muhammadiyah dijuluki sebagai gerakan pembaharuan atau biasa di kenal dengan gerakan pencerahan. Mencerahkan anak bangsa dari sebuah ketidaktahuan menuju sebuah pencerahan ilmu.

Muhammadiyah sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia baik di kota hingga pelosok desa, bisa dikatakan Muhammadiyah sudah sedikit menyentuh ranah sukses dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan masyarakat melalui dunia pendidikan yang ada di berbagai tempat di negeri ini. Muhammadiyah memiliki banyak institusi pendidikan yang menjulang tinggi di bumi yang kaya akan alamnya (Indonesia) ini, dari Sabang sampai Merauke, mulai dari TK, SD, SMP, SMA/SMK, hingga PT (Perguruan Tinggi) yang notabenenya mengkaji dan mendalami ilmu-ilmu pengetahuan terutama yang di pegang kuatnya adalah ilmu agama karena sesuai kiblat Muhammadiyah yaitu Qur’an dan Sunnah.

Muhammadiyah sudah banyak memberikan nilai-nilai posistif kepada anak bangsa, terutama dalam pembentukan akhlak dan pembentukan moral sesuai yang diajarkan oleh Islam. Terbukti di berbagai institusi Muhammadiyah menekankan murid-murid/mahasiswa/ mahasiswinya yang muslimat untuk memakai kerudung (jilbab), baik dalam jam sekolah maupun di kehidupan masyarakat luas. Begitu banyak kontribusi Muhammadiyah untuk negeri ini dalam mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikannya, sehingga Muhammadiyah juga dipandang sebagai organisasi yang memiliki jiwa nasionalisme dalam mempertangungjawabkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan pendidikan yang dihadapi oleh anak bangsa.

Sudah satu abad lebih Muhammadiyah menjulang tinggi di bumi pertiwi ini dan terus menelurkan ilmu-ilmu pengetahuan baru yang mengikuti poros kemajuan zaman, selalu menjadi lirikan masyarakat dalam berbagai hal, termasuk orang-orang yang sudah sukses di pentas politik, akademis yang memang dari kader dan simpatisan Muhammadiyah yang sudah menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan, baik daerah maupun pusat. Inilah segelintir alasan dimana Muhammadiyah bisa berdiri tegak dan selalu memberikan yang terbaik untuk kebaikan rakyat Indonesia dan demi kemajuan bangsa.

Pola pikir (mind set) masyarakat luas ketika mendengar nama Muhammadiyah selalu identik dengan Islam, dalam ruang lingkup kampus dan sekolah diharuskan bagi muslimah selalu memakai busana jilbab, disetiap sekolah dan kampus Muhammadiyah yang ada di tanah Jawa mungkin diterapkan dan mengharuskan memakai jilbab bagi perempuannya, tetapi berbeda halnya dengan Kampus Muhammadiyah yang ada di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang didominasi oleh mahasiswa/mahasiswi dari kalangan Kristen.

Mungkin aneh kedengarannya, institusi yang berlambangkan dan bercorakan Islam dihuni dan didominasi oleh mahasiswa-mahasiswi dari kalangan Kristen, betapa tidak demikian, geogrsfis dan keberadaannya pula di tengah-tengah penduduk yang mayoritas Kristen. Dikampus ini berbeda halnya dengan kampus-kampus Muhammadiyah yang ada di daerah lain yang mayoritas mahasiswanya adalah Muslim, di kampus Muhammadiyah Kupang diberikan kebebesan yang sama tanpa melihat ras, suku, budaya, maupun agama, semuanya boleh menuntut ilmu di institusi ini.

Para mahasiswi dari kalangan Kristen diberi kebesan untuk memilih tidak memekai jilbab ketika hendak memasuki halaman kampus, Muhammadiyah juga tidak menekankan harus memakai simbol-simbol Islam lainnya. Melihat ruang gerak kebebesan yang diberikan Muhammadiyah kepada para mahasiswa dari kalangan Kristen yang begitu luas dan begitu bebas, maka tidak heran di setiap tahun ajaran baru di kampus ini lebih dominan teman-teman dari kalangan Kristen yang memenuhi ruang-ruang pendaftaran di kampus tersebut.

Posisi Kristen di kampus Muhammadiyah adalah sama haknya dengan posisi Muslim di kampus Muhammadiyah Kupang, tidak ada intimidasi untuk sebuah kalangan dan kelompok di kampus ini, semuanya merasakan hal yang sama dalam nilai keadilan dan kebebasan, nilai keberagaman dan toleransi di kampus ini dijunjung tinggi oleh semua pihak, baik di kalangan para pimpinan, dosen, maupun para mahasiswanya sehingga tidak ada saling menyindir dan saling menyakiti antara satu sama lain. Bagi para mahasiswa Muslim dan Kristen di kampus ini mereka sudah menganggapnya saudara, keterikatan emosional dan sosiologis adalah hal yang penting bagi Muslim dan Kristen di kampus ini untuk selalu menjaga keharmonisan ikatan tersebut.

Muslim dan Kristen telah lama hidup berdampingan dengan harmonis di kampus Muhammadiyah Kupang, suasana kehidupan beragam pun telah dihirup segar dalam bingkai kebersamaan. Sejak dari dibangunnya kampus Muhammadiya Kupang banyak dari kalangan Kristen yang mensuport dan membangun peradaban pendidikan yang ada dalam tubuh Muhammadiyah Kupang, tidak main-main mereka juga ikut andil menjadi pelaku sejarah dengan menuntut ilmu di kampus tersebut, sehingga bisa berkembang seperti sekarang.

Catatan: Jadilah seperti pelangi yang selalu memberi warna keindahan kepada makhluk lain, yang ketika memandangnya akan selalu terpaut kepada keindahan yang tergabung dari berbagai warna tersebut. Kita berbeda tetapi tetap memberi warna yang indah kepada yang lain, kita tidak sama tetapi kita menyatu.


Penulis: Andri Ardiansyah, S.Pd.I.
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Anggota  Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website