Headlines News :
Home » , , » Menangkal Radikalisme, Membumikan Islam Nusantara

Menangkal Radikalisme, Membumikan Islam Nusantara

Written By Pewarta News on Selasa, 21 Maret 2017 | 09.31

Agoes Soejadhi.
PEWATAnews.com – Saat ini masih dengan mudah kita temui perdebatan-perdebatan kusir di kolom-kolom internet dan media sosial, khususnya tentang agama. Perdebatan dari wilayah antar agama Islam hingga merangkak dan berkembang ke antar agama. Contoh fenomena seperti ini mudah kita temui pada masa Ahok (Basuki Tjahaya Purnama) menggantikan Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ujaran kebencian atau semacam soft provokatif ini kerap kali kita temui di internet dan media sosial, bahkan di khotbah Jumat dan pengajian. Dan puncak dari pertumbuhan aktifitas semacam ini di Indonesia pada akhir Tahun 2016 dan awal Tahun 2017 yang ditandai dengan demo dari sebagian kelompok umat Islam. Entah itu bermotif sebagai model berpikir agama Islam atau agama dijadikan alat politik. Yang pasti, fenomena seperti ini menunjukkan satu hal, yaitu tumbuh kembangnya radikalisme.

Melalui sejarah dapat kita temui Islamisasi berslogan “Islam adalah solusi” di Indonesia, yaitu depolitisasi era Soeharto pada Tahun 1978 yang di mulai dari kampus-kampus dengan menerapkan kebijakan pembatasan yang dikenal sebagai normalisasi kehidupan kampus, bahwa mahasiswa dilarang memainkan peran aktif dalam politik. Kebijakan ini mendorong dan meningkatnya jumlah mahasiswa untuk beralih ke kegiatan dakwah Islam (Turner: 2009), meskipun tidak semua mahasiswa beralih ke kegiatan dakwah Islam. Paham yang ditumbuh kembangkan adalah kembali pada model kehidupan Nabi Muhammad SAW dan contoh generasi pertama umat Islam (Salaf al-Salih) yang dianggap sebagai bentuk murni Islam.

Banyak penelitian mengenai sejarah masuknya paham radikalisme ke Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa awal masuknya bermula dari Timur-tengah dengan Wahabismenya, kekaguman terhadap Khomeini, depolitisasi era Soeharto, bahkan kebebesan pasca-Orba, yaitu era kepemimpinan Gus Dur dengan pluralismenya. Meski begitu, term dan aktifisme radikalisme saat ini sudah mengakar dan tumbuh berkembang di bumi Nusantara.

Dalam hal ini saya tidak memaksudkan dan mendiskreditkan bahwa paham radikalisme merupakan term negatif, sebab slogan “NKRI Harga Mati” dari beberapa golongan moderat di Indonesia juga termasuk paham radikalisme. Namun, radikalisme di sini adalah masifnya dakwah Islam yang radikal dan penyebarannya pada benih-benih penerus bangsa yang mengancam Negara dengan tidak mengindahkan ideologi Pancasila. Dengan demikian, nilai-nilai ideologi, budaya, dan peradaban bangsa yang sudah terbangun melalui peran awal dakwah Islam di Nusantara dan pendiri bangsa Indonesia  menjadi taruhan dalam kancah kehidupan era sekarang dan mendatang.

Ancaman yang sering kita dengar adalah model bid'ah, khurafat, syirik, dan tahayul. Pepatah Jawa kuno mengatakan, “runtuhnya nilai-nilai peradaban suatu bangsa tanda hancurnya Negara itu”. Dan peradaban yang dimiliki Indonesia saat ini terkenal moderatnya, di kancah dunia internasional sering disebut-sebut sebagai Islam Nusantara. Untuk term Islam Nusantara alm. Gus Dur mempunyai istilah sendiri, yaitu pribumisasi Islam, menurutnya Islam telah menyebar ke Indonesia untuk tidak menghancurkan kekayaan tradisi dan budaya lokal Indonesia dan hak-hak minoritas serta menjadi bagian dari tradisi dan budaya, yang bersama-sama berfungsi untuk meperkuat identitas nasional Indonesia (Wahid: 1998).

Islam Nusantara mempunyai wataknya sendiri dibanding dengan corak Islam di kebanyakan Negara lain, yaitu melebur dan kawinnya nilai-nilai Islam dan budaya Nusantara. Eksistensi Islam Nusantara untuk menjaga keutuhan kehidupan yang paling mendasar, yakni dari kehidupan sehari-hari dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Di samping itu, keberadaan Islam Nusantara juga sebagai kawah candradimuka penggemblengan intelektual dan nilai moral generasi penerus peradaban Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan Islam Nusantara berjalan searah dengan keinginan masyarakat yang berkeinginan dalam bertoleransi, berdamai dan berkasih sayang antara satu orang dengan orang lain, dengan bangsa satu dengan bangsa yang lain, dengan umat beragama satu dengan umat beragama yang lain. Dengan kata lain, Islam Nusantara secara implisit memiliki hubungan tidak hanya historisitas manusia, agama dan Negara tertentu, melainkan historisitas peradaban secara keseluruhan di masa mendatang.

Jadi, Islam Nusantara diharapkan tidak hanya memahami sosial-keagamaan dan bernegara secara tekstual, namun lebih dari itu, yaitu pengejawantahan nilai-nilai filosofis agama Islam dan budaya bangsa. Perpaduan ini dapat menjadi akar peradaban yang kuat dalam bersikap, berpikir, dan bertindak demi kemajuan dan kejayaan umat manusia seutuhnya. Oleh karena itu, Islam Nusantara sebagai paham lama yang beristilah baru harus dibumikan untuk mencegah paham radikalisme demi menjaga keutuhan NKRI: ideologi Pancasila; sosial dan budaya; adat dan tradisi; nilai-nilai lama yang indah bangsa Indonesia serta rekonstruksi-rekonstruksi nilai-nilai tersebut dan masih terlingkup dalam watak Islam Nusantara.


Oleh: Agoes Soejadhi*
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

* Tulisan ini disampaikan dalam kegiatan rutin ROEANG Remboeg Senin Wage, tanggal 20 Maret 2017 di Sekretariat ROEANG inisiatif (Jln. Bima, RT 06 RW 13 Nomor 14 Sokowaten, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website