Headlines News :
Home » » Menumbuhkan Jiwa Profesi Hukum yang Berkualitas, Berintegritas dan Berwawasan Luas, Demi Kemajuan Organisasi

Menumbuhkan Jiwa Profesi Hukum yang Berkualitas, Berintegritas dan Berwawasan Luas, Demi Kemajuan Organisasi

Written By Pewarta News on Sabtu, 11 Maret 2017 | 15.15

Sugiarto, S.H.
Maju tidaknya mahasiswa yang berprofesi hukum sangat bergantung pada dunia pendidikan hukumnya

PEWARTAnews.com – Mahasiswa pada umumnya dan khususnya mahasiswa fakultas hukum yang saat ini selaku agen perubahan dan sosial kontrol harus bertanggung jawab atas penuh atas dinamika pendidikan yang baik dan harus dilandasi oleh pendidikan hukum yang baik pula. Menurut Asmuni, pendidikan hukum yang berkualitas tidak hanya dibutuhkan dalam konteks pendidikan hukum untuk meraih gelar sarjana hukum. Pendidikan lanjutan setelah S-1 dalam bentuk Pendidikan Khusus Profesi hukum juga harus berkualitas agar pelaku profesi hukum yang dihasilkan juga berintegritas.

Mahasiswa merupakan kelompok intelektual yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dalam dunia pendidikan, di dalamnya pemakaian dengan cara yang benar akan ketrampilan dan keahlian tinggi, hanya dapat dicapai dengan keinginan yang tinggi dimilikinya,penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup akademik profesi yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya; serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut.

Mahasiswa berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter yang kuat dalam menjalankan statusnya.integritas itu sendiri berasal dari kata Latin “integer”, yang berarti: Sikap yang teguh mempertahankan prinsip , tidak mau korupsi, dan menjadi dasar yang melekat pada diri sendiri sebagai nilai-nilai moral.

Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi landasan dalam pergaulan baik dengan organisasi atau masyarakat umumnya maupun dengan sesama mahasiswa, yaitu masyarakat profesional yang di sebut sebagai mahasiswa itu sendiri. Golongan ini sering menjadi pusat perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan tertuang secara tertulis (yaitu kode etik profesi) dan diharapkan menjadi pegangan para anggotanya.

Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian para mahasiswa yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah disepakati bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi kemerosotan etik pada masyarakat tersebut. Sebagai contohnya adalah pada profesi hukum dikenal adanya mafia peradilan, demikian juga pada profesi dokter dengan pendirian klinik super spesialis di daerah mewah, sehingga masyarakat miskin tidak mungkin menjamahnya.Contohnya : Guru, Dosen, Dokter, dll.

Integritas Mahasiswa menurut anggapan kalangan luas merupakan suatu sikap atau perilaku mahasiswa yang diharapkan mampu menjadi sosok panutan bagi masyarakat sebagai intelektual yang cerdas, idealis, dinamis, dan aspiratif dengan ide-ide kreatif. Mahasiswa itu sendiri adalah status yang disematkan pada seseorang yang terdaftar pada suatu perguruan tinggi serta mengikuti proses pembelajaran pada semester berjalan. Sebagai mahasiswa , seseorang dituntut untuk senantiasa menuangkan ide-ide kreatif dan aspiratif, berpikir kristis dalam menyikapi problematika yang berkembang di masyarakat serta menjadi agen perubahan atau sering disebut agent of chance.

Disisi lain, Mahasiswa digambarkan sebagai jiwa muda yang tengah berkobar-kobar dan mudah terpancing oleh isu-isu negatif sehingga terkadang salah dalam mengambil sikap. Hal tersebut merupakan suatu kewajaran mengingat setiap individu mahasiswa memiliki karakteristik dan perbedaan diantara individu yang lain. Perbedaan usia, status sosial, watak, serta kemampuan dasar atau intelegensi terkadang menjadi akar dan penyebab adanya gesekan antar mahasiswa. Akibatnya terjadilah tawuran antar mahasiswa dan aksi anarkisme dalam berbagai macam aksi dan demonstrasi

Maka dari itu peran mahasiswa sangat penting dalam mengevaluasi dinamika saat ini yang alergi dengan organisasi internal maupun eksternal. Idealisme yang dimiliki seorang mahasiswa tentu sangat besar peranannya sebagai pelopor perubahan dalam tatanan masyarakat menuju ke arah yang lebih baik. Ketidakterikatan dengan institusi manapun memberikan ruang gerak yang sangat luas bagi mahasiswa untuk menuangkan pemikiran-pemikiran yang cerdas tanpa adanya kontaminasi dari kepentingan kelompok atau golongan tertentu.

Dengan adanya pelanatikan dan stadium general ini adalah awal dari sebuah proses untuk mengenal jati diri dalam pengembangan intelektual dalam organisasi. Disinilah sangat diperlukan adanya integritas pada diri seorang mahasiswa. Secara tidak langsung mahasiswa berperan sebagai agen perubahan (agent of chance), penjaga nilai (moral force), dan penyampai kebenaran (social control). Mahasiswa yang berintegritas menyadari, memahami, serta menjalankan ketiga fungsinya itu dengan baik. Sehingga mahasiswa tidak lagi besikap kekanak-kanakan dengan tawuran antar mahasiswa sendiri serta melakukan aksi-aksi anarkisme.

Mahasiswa yang berintegritas adalah yang mampu mengontrol dirinya dan mampu membaca situasi serta memperhitungkan dampak yang akan timbul dari aksi yang dilakukan terutama pandangan dari masyarakat luas terhadap dirinya. Selain itu, memadukan nilai moralitas dengan intelektualitas dalam kehidupannya baik di dalam maupun di luar kampus.

Kesimpulannya, Seorang mahasiswa diharapkan memiliki integritas yang tinggi. Berfikir dan bergerak dengan berlandaskan idealisme dan semangat yang berkobar-kobar yang mengarah pada kebaikan dan kebenaran. Menghilangkan sifat individualisme serta mengesampingkan egosentrisme pribadi, sehingga mahasiswa diharapkan mampu melaksanakan fungsinya dengan baik.

Mahasiswa yang disiplin ilmunya sebagai mahasiswa hukum khusunya harus berintegritas mampu menjadi panutan dan tuntunan, bukan menjadi tontotan masyarakat. Tidak akan bertindak ceroboh dengan tawuran dan melakukan aksi anarkisme karena hal inilah yang mengakibatkan terkikisnya nilai integritas dari mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang berintegritas hadir sebagai pembawa perubahan, memberikan sentuhan manis pada setiap tindak tanduknya dengan menampilkan sikap dan moral yang baik, serta menjadi pengontrol sosial masyarakat sebagai sosok yang cerdas dan intelektual.dan meningkatkan semangat jati diri demi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Materi tulisan ini disampaikan pada Pelantikan Kepenguusan Baru Periode 2017-2018 dan Stadium General Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram Yogyakarta dan Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI) Komisariat Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram Yogyakarta, 11 Maret 2017.

Oleh: Sugiarto, S.H.
(Direktur LKBH Pandawa Yogyakarta / Eks Ketua Umum  Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta – DPC PERMAHI DIY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website