Headlines News :
Home » » Telaah Kritis PERMENRISTEK DIKTI Nomor 20 Tahun 2017

Telaah Kritis PERMENRISTEK DIKTI Nomor 20 Tahun 2017

Written By Pewarta News on Jumat, 03 Maret 2017 | 11.15

Arif Bulan.
PEWARTAnews.com – Peraturan yang dikeluarkan oleh Kemenristek Dikti tentang pemberian tunjangan profesi dosen dan tunjangan kehormatan professor tidak begitu saja diterima oleh banyak kalangan, baik itu dosen sebagai Asisten Ahli, Lektor,  Lektor Kepala maupun Professor. Peraturan ini bahkan disinyalir akan melemahkan sisi pengajaran jika dosen harus berfokus pada penelitian dan publikasi.

Baik pengajaran dan penelitian merupakan amanat Tri Darma Perguruan Tinggi yang harus dilakukan oleh para dosen, baik itu asisten ahli, lektor, lektor kepala lebih-lebih guru besar. Salah satu permasalahan dalam kualitas pendidikan tinggi Indonesia saat ini adalah jumlah publikasi ilmiah para dosen yang masih kurang. Dalam presentasinya beberapa waktu lalu, Dirjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan-Teknologi-dan Pendidikan Tinggi, Prof. Ali Ghufron, menyampaikan bahwa posisi Indonesia dalam kancah publikasi internasional secara umum masih sangat rendah, tahun 2014 publikasi ilmiah internasional Indonesia hanya 5.499. masih jauh tertinggal oleh negara tetangga, Malaysia, Singapura dan Thailand.

Ada tren positif ketika pada tahun 2016, publikasi internasional Indonesia naik menjadi 10.463 publikasi walaupun belum mampu menyaingi negara tetangga, padahal Kemenristek Dikti mentargetkan 6.229 publikasi ilmiah yang terindeks scopus. Menurut penulis ini adalah sebuah kebangkitan kesadaran budaya riset para dosen untuk meningkatkan daya saing dan kemajuan bangsa.

Di sisi lain, peraturan kewajiban publikasi internasional yang dikeluarkan oleh kementerian tersebut terkadang memberatkan juga bagi sebagian dosen. Prof. Dr. Idrus Affandi misalnya, ia menganggap bahwa publikasi jurnal internasional merupakan internasionalisasi semu yang justru menjebak dunia pendidikan di Indonesia. Ia melanjutkan bahwa kebijakan mengenai publikasi internasional yang terindeks scopus harus dievaluasi bahkan dihentikan karena menurutnya akan mengarah pada kolonialisasi intelektual dan mengabaikan nasionalisme pendidikan.  Selain itu, ia memandang ada sistem kapitalis yang bermain dalam kewajiban ini, di mana setiap orang yang ingin menerbitkan tulisanya di jurnal internasional terindeks scopus harus membayar dengan biaya yang cukup mahal.

Bukan menjadi rahasia umum juga, bahwa setidaknya dosen atau peneliti harus membayar 12-15 juta rupiah per jurnal yang diterbitkan oleh pengelola jurnal yang terindeks scopus. Penulis beranggapan, bahwa pantas saja jika banyak professor mengatakan bahwa ada praktek kapitalisme di jurnal tersebut. Selain itu, para pembaca yang ingin membaca dan mengakses jurnal tersebut harus membayar jurnal tersebut.

Terkait dengan permasalahan di atas, tentunya kita sebagai mahasiswa harus ambil bagian untuk mendiskusikan masalah ini, setidaknya ada sebentuk kepedulian Tri Darma Perguruan Tinggi yang kita lakukan melalui kajian dan diskusi. Perlu diketahui bahwa tunjangan profesi  diberikan kepada professor apabila minimal menghasilkan 3 karya ilmiah atau publikasi internasional dalam tiga tahun atau minimal 1 kali menerbitkan pada jurnal internasional bereputasi dalam kurun waktu 3 tahun, selain itu juga professor harus mampu menghasilkan paten atau buku dan juga karya monumental. Penulis menilai tuntutan dari kementerian ini sifitnya mungkin agak berat dan memaksa memaksa, namun memang harus seperti itu, dalam hal ini Kementerian harus sedikit memaksa dan mendorong para professor agar mengamalkan peraturan tersebut demi kemajuan perguruan tinggi, bangsa dan negara.

Dadang Rusdiana, Anggota DPR RI, dalam laman resmi Kopertis wilayah Maluku dan Maluku Utara (2017) menilai kebijakan dan kewajiban publikasi itu akan memberatkan professor. Pasalnya professor akan sibuk meneliti saja dan meninggalkan kewajiban mengajar, begitupula yang disampaikan oleh Prof. Watson yang dimuat oleh Koran Pikiran Rakyat (2017), bahwa kebijakan itu akan perpengaruh terhadap jarangnya professor melakukan pengajaran dalam kelas karena sibuk melakukan penelitian.  

Penulis menilai, komentar dari Danang Rusdiana dan Watson tersebut tidak seluruhnya benar, karena itu merupakan pandangan pragmatis saja. Dalam melakukan riset, tidak sepenuhnya guru besar harus meninggalkan kewjiban mengajar. Kita lihat saja contoh para guru besar pada kampus-kampus di UK, mereka aktif melakukan penelitian namun mereka juga tetap taat pada aktifitas mengajar di kampus, lihat juga para professor di Singapura yang begitu aktif meneliti namun tidak lupa pula pada kegiatan pengajarannya. Di Indonesia, telah diamatkan bahwa kampus wajib melakukan Tri Darma Perguruan Tinggi yang tentu kita semua tahu bahwa apa yang dimaksud dengan Tri Darma tersebut yang didalamnya juga tertuang Pengajaran, Penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat. Maka penulis menilai, sangat wajar professor melakukan publikasi internasional karena itu tuntutan Tri Darma Perguruan Tinggi.

Selain itu, jumlah publikasi internasional juga memberikan dampak yang baik terhadap reputasi dunia pendidikan Indonesia. Hal ini tentu sejalan dengan perengkingan kampus yang dilakukan oleh Webometrics Rangking tahun 2015 menempatkan Universitas Gadjah Mada pada urutan ke 518, Universitas Indonesia pada urutan 660 salah satu aspek yang dinilai adalah jumlah publikasi maupun citation index para dosen maupun guru besar.

Saat ini banyak kampus Indonesia mewacakan world class university. Wacana itu tentunya bukan wacana kosong belaka. Banyak kampus sedang mempersiapkan diri, tentu salah satunya harus ditunjang dengan publikasi-publikasi yang memadai dari para dosen bukan saja hanya guru besar tetapi juga para dosen baik itu asisten ahli, lektor, dan lektor kepada. Wacana ini tentunya sudah  didikung oleh pemerintah dalam hal ini Kemenristek Dikti melalui kewajiban riset tersebut.  Ini merupakan upaya pemerintah bersinergi dengan perguruan tinggi demi tercapai world class university.

Indonesia memiliki 4.500 perguruan tinggi. Banyaknya perguruan tinggi seharusnya menjadi modal kemajuan sumber daya manusia Indonesia, dalam hal ini penelitian yang dilakukan oleh para dosenpun sebenarnya dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia malalui temuan-temuan ilmiahnya. Penulis tertarik pada analisis SWOT yang disampaikan oleh Wisnu Jatmiko dalam orasi ilmiahnya pada 4 februari 2017 lalu. Ia memetakan analisis SWOT pada kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Adapun kekuatan yang dimaksud berupa banyaknya perguruan tinggi, mahasiswa, jumlah dosen, dan jumlah peneliti. Kelemahan berupa arah pendidikan, dana riset, sarana dan prasarana riset, dan sinergi pusat riset dan industri. Peluang berupa luasnya area riset dan konsorsium.  Ancaman berupa penggunaan data riset oleh negara lain.

Dari analisis SWOT di atas maka kiranya Kemenristek Dikti harus mampu memetakan serta melakukan manajemen agar ke depan arah pendidikan tinggi Indonesia semakin maju, oleh karena itu instrument penting perguruan tinggi yang berupa Tri Darma Perguruan Tinggi harus didorong kemajuanya melalui, pelatihan peningkatan sumber daya dosen muda agar supaya dosen muda mampu merancang dan merencanakan pembelajaran sesuai dengan standar yang ditentukan oleh perguruan tinggi dan Kemenristek Dikti. Selain itu, pelibatan dosen muda dalam mendapatkan hibah penelitian harus diperbanyak agar tumpuan harapan ke depan dosen muda semakin produktif dalam penelitian yang akan menggantikan dosen yang sudah tua, yang lebih penting lagi adalah Kemenristek Dikti harus mendorong sebanyak-banyaknya dosen muda melanjutkan ke jenjang S3, Hal yang telah disebutkan itu tentunya harus didorong dan ditopang oleh dana yang memadai dari pemerintah.

Sudah saatnya para dosen harus beranjak dan terlepas dari praktek normatif dan konservatif. Dengan kebijakan tersebut maka, harapannya, idealisme para dosen harus melanglang buana ke angkasa demi mewujudkan Tri Darma Perguruan Tinggi yang berkemajuan.


Penulis: Arif Bulan
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta / Tim Kajian Strategis Kebangsaan Mata Garuda LPDP / Anggota Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website