Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Jangan Malu untuk Mengucapkan Terima Kasih

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com – Kata “terima kasih” tentu sering kita dengar dalam keseharian kita. Umumnya dua kata tersebut sering diucapkan setelah kita mendapat bantuan dari orang lain. Entah itu bantuan berupa barang maupun jasa, bantuan berupa tindakan maupun hanya sekedar nasihat. Baik kepada orang yang kita kenal maupun kepada orang yang tidak kita kenal.

    Mengucapkan terima kasih tidak hanya sebagai formalitas saja. Namun, ucapan terima kasih kita kepada orang yang telah membantu kita, itu dampaknya sangat besar. Dengan mengucapkan terima kasih, barangkali akan membuat orang lain merasa dihargai, misalnya atas pemberiannya, dan sebagainya. Hal demikian, istilahnya sebagai tanda bahwa kita telah menghargai bantuan yang mereka berikan kepada kita.

    Di sisi lain juga, mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah membantu kita, setidaknya orang tersebut akan merasa senang dan bisa saja memicunya untuk terus dan selalu termotivasi untuk berbuat baik semampunya lagi. Sebab apa yang telah ia lakukan ternyata mendapat apresiasi dari orang lain. Artinya, apa yang ia lakukan tidak sia-sia.

    Setiap orang akan merasa senang bilamana bisa berbuat baik kepada orang lain, apalagi ditambah dengan ucapan terima kasih, hati orang itu akan lebih merasa senang dari sebelumnya. Setidaknya kita bisa membiasakan diri untuk mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang telah berbuat baik kepada diri kita atau pun yang telah membantu kita. Karena mengucapkan terima kasih sangatlah berdampak positif bagi kedua belah pihak.

    Ada satu hasil penelitian yang sangat menarik terkait dengan dampak dari ucapan terima kasih ini. Penelitian tersebut telah dilakukan oleh Robert A. Emmons, seorang profesor psikologi di University of California. Hasil penelitian tersebut menunjukkan, bahwa ternyata ucapan terima kasih yang kita berikan kepada seseorang mampu memberikan manfaat bagi kesehatan diri kita sendiri. Sebab secara simultan pikiran kita akan membawa kesehatan pada tubuh kita karena merasakan kepuasan batin dan pikiran.

    Wallahu a’lam.


    Oleh: Gunawan

    Puisi: "Tuan Presiden (Refleksi Hardiknas 2017)"

    Eka Ilham. 
    Dear... Tuan Presiden
    Selamat pagi menjelang siang Tuan Presiden
    Hari ini kami yang dipanggil guru pahlawan tanpa tanda jasa
    Tempat tanggal 2 Mei 2017 kami merayakan Hari Pendidikan Nasional
    Kami merayakan dengan penuh suka cita berdiri diterik matahari mendengarkan sambutan dari pemimpin daerah kami

    Dear... Tuan Presiden
    Katanya kami ini pahlawan tampa tanda jasa
    Memang pantas kami mendapatkan panggilan itu
    Di hari ini kami menyampaikan ada teman-teman kami yang disebut guru pahlawan tanpa tanda jasa mengandalkan selembar izajah sekolah guru mengajar di tanah terpencil

    Dear...Tuan Presiden
    Sampai dihari pendidikan ini kami belum menerima gaji sepeserpun
    Kami memberikan sesuap nasi untuk anak dan istri
    Mengandalkan penghasilan sebagai tukang ojek, buruh tani, pembantu rumah tangga, dan pekerja serabutan
    Kepala sekolah kami di daerah terpencil harus belajar tipu menipu
    Kejujuran sudah tidak berlaku lagi
    Kepala sekolah kami membayar gaji kami dari potongan dana beasiswa miskin

    Dear... Tuan Presiden
    Dana  beasiswa itu seharusnya untuk anak didik kami
    Kepala sekolah terpaksa membayarkan gaji kami dengan beasiswa miskin
    Tidak seberapa kami guru terpencil dapatkan cukup untuk pengganjal perut kami
    Mungkin ini sebuah ketidakadilan bagi kami

    Kami bukan pegawai negeri sipil
    Kami hanya seorang guru sukarela yang berada di daerah terpencil
    Kami hanya mengabdi dengan sebuah semangat agar suatu saat nanti di angkat pegawai negeri sipil.

    Dear... Tuan Presiden
    Bagi kami guru sukarela harapan itu tetap ada
    Sudilah tuan... Mewujudkan mimpi kami
    Mewujudkan asa kami
    Mewujudkan mimpi anak-anak kami agar bangsa ini mau memuliakan guru di negeri  tanah sendiri

    Dear... Tuan Presiden
    Cukuplah ini asa kami
    Cukuplah ini mimpi kami
    Cukuplah ini keinginan kami
    Cukuplah ini suara hati kami

    Dear... Tuan Presiden
    Apakah tuan mau mendengarkan?

    Dari buku kumpulan puisi Serikat Guru Indonesia (SGI) Bima
     “Guru Itu Melawan”


    Karya: Eka Ilham

    Refleksi Hardiknas 2017: Menata Ulang Pendidikan di Kabupaten Bima

    Damhuji, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, menjelaskan bahwa “Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jadi, fokus utama pendidikan nasional tersebut adalah terwujudnya kualitas peserta didik yang mencakup aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. Upaya yang perlu dilakukan untuk menghasilkan peserta didik yang berkualitas, tentu dipengaruhi oleh berbagai aspek, tetapi faktor yang paling utama adalah berkat  didikan dari guru yang berkualitas pula. Sehingga tujuan akhir pendidikan nasional adalah terciptanya masyarakat yang cerdas dan peradaban bangsa yang bermartabat. Kalau kita cermati penyelenggaraan pendidikan di Kabupaten Bima akhir-akhir ini jauh dari tujuan pendidikan nasional tersebut. Penulis melihat belum ada kemajuan yang berarti, miskin inovasi, tidak ada terobosan dan terkesan hanya menjadi sebuah rutinitas.

    Oleh karena itu, Kita perlu menata ulang dunia pendidikan di Kabupaten Bima karena keadaannya sudah sangat memprihatinkan dan sembrawut. Menurut hemat Penulis, bahwa faktor utama kenapa pendidikan di Kabupaten Bima sulit untuk maju dan tidak beranjak dari posisi terbelakang di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) karena persoalan penataan yang buruk. Coba kita bayangkan, berdasarkan data tahun 2015/2016 bahwa nilai UKG di Kabupaten Bima terrendah di NTB dengan nilai rata-rata 44,65. Saya menyadari bahwa tidak semata persoalan penataan yang buruk sebagai penyebab rendahnya mutu pendidikan di Kabupaten Bima, tetapi ada banyak faktor, antara lain: Ketersediaan data based pendidikan yang belum valid, penataan dan pemerataan siswa pada satuan pendidikan, buruknya birokrasi pendidikan, rendahnya anggaran pendidikan, buruknya perencanaan pendidikan, sarana prasarana yang tidak memadai, mutasi dan rotasi jabatan yang tidak sesuai prosedur, kurangnya penghargaan terhadap kualitas, korupsi dana pendidikan, pungli pada lembaga pendidikan, dan kualitas guru dan kepala sekolah yang rendah karena pola rekrutmen yang tidak tepat.

    Beberapa problematika di atas, juga penting untuk segera dibenahi dan dicarikan solusinya. Tetapi problematika pendidikan di Kabupaten Bima yang harus menjadi perioritas untuk dibenahi adalah penataan dan pemerataan guru dan siswa secara proporsional berdasarkan karakter wilayahnya. Secara nasional bahwa aturan dan prosedural tentang penataan dan pemerataan guru dan siswa sudah diatur sedemikian rupa oleh pemerintah pusat melalui Undang-undang, PP, Permendikbud, dan Peraturan Bersama Mentri sebagai petunjuk teknis penataan pendidikan di daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota. Tetapi dalam prakteknya, bahwa antara prosedur dari pemerintah pusat dengan yang diterapkan di daerah jauh panggang dari api. Ada banyak aturan dan prosedur yang tidak maksimal dijalankan di daerah dalam penataan pendidikan, misalnya Peraturan Bersama 5 Mentri tahun 2011 tentang Petunjuk Teknis Penataan dan Pemerataan Guru dan Siswa Sekolah Dasar. Dalam peraturan ini dijelaskan bahwa kebutuhan guru sekolah dasar harus berdasarkan jumlah rombongan belajar, jika pada satuan pendidikan sekolah dasar jumlah rombongan belajar nya 6 (enam) maka jumlah guru yang dibutuhkan adalah 6 (enam) orang guru kelas, 1 (satu) orang guru agama, 1 (satu) orang guru Olahraga, dan 1 (satu) orang kepala sekolah. Artinya, bahwa pada setiap satuan pendidikan sekolah dasar yang jumlah rombongan belajar nya 6 (enam), maka jumlah guru yang dibutuhkan adalah 9 (sembilan) orang dengan kepala sekolahnya.

    Peraturan bersama 5 (lima) Mentri tentang petunjuk teknis penataan dan pemerataan guru dan siswa ini sudah sangat jelas dan detail pengaturannya, tetapi faktanya di daerah sangat bertolak belakang. Penataan dan pemerataan guru dan siswa sekolah dasar di Kabupaten Bima sangat tidak sesuai dengan peraturan tersebut. Berdasarkan hasil survey di beberapa sekolah di Kabupaten Bima menunjukkan bahwa jumlah guru di setiap satuan pendidikan kelebihan dan bahkan kelebihannya di atas 50 %. Misalnya, dalam survey tersebut ditemukan, bahwa pada satuan pendidikan sekolah dasar yang jumlah rombongan belajar nya 6 (enam) memiliki jumlah guru sebanyak 20 (dua puluh) orang. Artinya, jika kita mengikuti peraturan bersama lima mentri di atas, maka pada satuan pendidikan sekolah dasar tersebut kelebihan 11 (sebelas) orang guru. Kalau kita analisis, kelebihan guru pada satuan pendidikan ini akan berimbas pada kurangnya jumlah beban kerja guru yang mengharuskan 24 (dua puluh) jam per-minggu. Kelebihan guru ini, juga berdampak langsung pada kinerja dan tingkat kedisiplinan guru yang ada pada satuan pendidikan tersebut. Dalam beberapa kasus ditemukan bahwa untuk memenuhi 24 (dua puluh empat) jam 3-minggu, para guru merekayasa jumlah jam mengajarnya dan kami juga menemukan ada sebagian dari guru PNS yang melimpahkan tugasnya kepada guru honor dengan diimingi sekian persen dari dana sertifikasinya.

    Kita baru berbicara tentang satu hal mengenai potret penataan dan pemerataan guru dan siswa pada satuan pendidikan sekolah dasar. Saya meyakini bahwa kondisi yang sama juga terjadi pada satuan pendidikan sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Dengan melihat potret pendidikan kita seperti ini maka diharapkan ketegasan dan keberanian kepala daerah dan Kadis Dikbudpora untuk melakukan penataan dan pemerataan guru pada setiap satuan pendidikan. Apabila persoalan penataan dan pemerataan guru dan siswa ini dilakukan dengan baik, maka saya yakin cita-cita kita untuk meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Bima akan segera tercapai. Di samping itu, setelah penataan dan pemerataan guru dan siswa pada satuan pendidikan dilakukan, maka pengukuran kinerja guru menjadi lebih mudah, pengaturan data based guru semakin simple dan selanjutnya kita bisa melakukan banyak hal untuk peningkatan mutu guru melalui pelatihan, workshop dan studi lanjut. Mustahil kita meningkatkan mutu pendidikan di tengah carut marut nya penataan dan pemerataan guru dan siswa pada satuan pendidikan.

    Kalau kita perhatikan secara seksama, betapa ribet dan barbarnya urusan pendidikan di Kabupaten Bima. Hampir setiap hari kita mendengar keluh kesah dari para guru tentang ribetnya data urusan sertifikasi dan mandeknya sebagian tunjangan guru terpencil. Belum lagi ada keluhan dari para guru tentang adanya praktek pungli di lingkungan Dinas Dikpudpora dan penyalahgunaan dana bos oleh beberapa oknum kepala sekolah karena pengelolaannya yang tidak transparan, akuntabel dan tidak kolaboratif demokratis. Peristiwa yang tidak kalah meresahkan akhir-akhir ini adalah terciumnya pola transaksional dalam melakukan mutasi dan rotasi jabatan kepala sekolah. Ada yang mengatakan bahwa untuk mendapatkan jabatan kepala sekolah harus setor puluhan juta rupiah kepada oknum tertentu atau kepada oknum yang mengaku sebagai tim sukses bupati dan wakil bupati. Kondisi yang lebih memprihatinkan lagi adalah adanya ulah beberapa tim sukses yang menyegel sekolah karena tidak dilantiknya kepala sekolah yang mereka jagokan. Kejadian semacam ini masif dan hampir terjadi di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Bima.

    Langkah yang mestinya dilakukan adalah promosi terbuka terhadap pejabat pendidikan seperti Kepala Dinas, Kepala Sekolah, Kepala Bidang, dan Kepala Seksi sebagai jabatan strategis dunia pendidikan yang memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap bawahan. Oleh karena itu, hendaknya penempatan pejabat ini benar-benar dilakukan secara professional. Sayangnya, jabatan-jabatan itu sering berbau politis. Kepala sekolah sering diisi oleh guru yang tidak berasal dari guru berprestasi. Bagaimana mungkin sekolah itu dapat meraih prestasi sedangkan pimpinan sekolahnya belum pernah meraih prestasi? Bukankah air mengalir ke bawah? Pejabat pendidikan pun perlu diisi oleh tenaga-tenaga pendidikan yang benar-benar memahami dunia pendidikan. Dunia pendidikan harus dihindarkan dari keinginan balas budi pimpinan daerah karena pernah dibantu saat pemilihan kepala daerah. Sekali lagi, untuk mendapatkan pejabat-pejabat yang qualified itu, perlu diadakan promosi terbuka atau ‘lelang jabatan’ secara terbuka dengan melibatkan pihak ketiga yang independen; bahwa semua guru yang memenuhi persyaratan kepangkatan boleh mengikuti seleksi dan hasilnya diumumkan secara transparan pula.


    Penulis: Damhuji, M.Pd., M.A.
    Dosen STKIP Taman Siswa Bima, Dewan Kehormatan SGI Kabupaten Bima,
    dan Pengurus Dewan Pendidikan Kabupaten Bima.


    Majelis Sholawatan Muhyin Nufuus Gelar Agenda Perdana di Masjid Sultoni

    Nunuk Ridjodjo Adi saat memimpin sholawatan. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Majelis Sholawatan Muhyin Nufuus Yogyakarta menyelenggarakan shalawatan, zikir dan do'a bersama  di Masjid Sultoni, Komplek Kepatihan Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Jum'at, 28 April 2017 pukul 20.00-22.00 WIB.

    Wakil Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta yang juga sekaligus sebagai Ketua Majelis Sholawatan Muhyin Nufuus, yakni H. Nunuk Ridjodjo Adi, S.Ag., M.Ag. mengatakan bahwasannya kegiatan ini merupakan agenda perdana yang di selenggarakan Majelis Sholawatan Muhyin Nufuus. Mulai saat ini dan kedepannya kegiatan ini akan dilaksanakan secara rutin setiap tanggal 28 pada tiap bulannya.

    "Agenda ini merupakan kegiatan perdana Majelis Sholawatan Muhyin Nufuus. Bulan depan dan seterusnya kita akan selenggarakan pada tanggal 28. Informasi ini sekaligus jadi undangan agar seluruh hadirin dapat hadir kembali pada bulan berikutnya. Jangan lupa ajak semua warga yang belum berkesempatan hadir pada saat ini," beber Nunuk Ridjodjo Adi usai acara majelis sholawatan berakhir sembari para hadirin menyicipi snack dan makanan yang disediakan panitia.

    Pantauan PEWARTAnews.com saat acara berlangsung, jamaah yang hadir kurang lebih 100 orang. Hadir juga dalam kegiatan tersebut diantaranya, salahsatu pengurus LAZISNU Kota Yogyakarta M. Jamil, S.H., ketua Wirausaha Muda Kota Yogyakarta Rochmad, pengurus LP Ma'arif Kabupaten Gunung Kidul Arif Kusnadi, Banser Kota Yogyakarta kang Dawam. (PEWARTAnews)

    Suasana saat acara berlangsung. 

    DPR Gunakan Hak Angket, Ini Dia Pernyataan Desk Hukum dan Antikorupsi LAKPESDAM PBNU terkait Angket KPK

    Suasana ruang DPR saat sidang hak angket. foto: viva.co.id.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) melalui sidang paripurna menyetujui hak angket terhadap KPK yang diusulkan oleh Komisi III pada Jumat, 28 April 2017.

    Aturan legal formal mengenai hak angket dapat ditemukan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 Tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Dewan Perwakilan Daerah (UU MD3). Pasal 79 ayat 3 UU MD3, menyebutkan bahwasannya hak angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang dan/atau kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Selain hak angket, DPR memiliki hak interpelasi dan hak menyatakan pendapat.

    Terkait DPR RI menggunakan hak angket, dibawah ini kita dapat melihat pernyataan desk hukum dan antikorupsi LAKPESDAM PBNU terkait angket KPK yang diunggah Hifdzil Alim, S.H., M.H. (Pegiat Anti Korupsi di Pusat Kajian Anti Korupsi UGM / Dosen FH UGM / Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Menurut informasi yang tertera dari status facebooknya, Hifdzil Alim merupakan salahsatu yang bertanggungjawab (menandatangani) pernyataan tersebut. Selengkapnya, silahkan baca dengan seksama pernyataan dibawah ini.

    PERNYATAAN DESK HUKUM DAN ANTIKORUPSI LAKPESDAM PBNU TERKAIT ANGKET KPK
    Jumat, 28 April 2017, DPR memutuskan penggunaan hak angket terhadap KPK. Mesti mendapatkan banyak penolakan, pimpinan DPR, khususnya saudara Fahri Hamzah bersikukuh untuk memuluskan penggunaan hak angket terhadap KPK. Atas hal tersebut, DESK HUKUM DAN ANTIKORUPSI LAKPESDAM PBNU menyampaikan pandangan sebagai berikut:
    1. Hak angket terhadap KPK tidak sesuai dengan Pasal 79 ayat (3) UU nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD. hak angket hanya ditujukan ke pelaksanaan undang-undang dan/atau kebijakan pemerintah. KPK tidak termasuk dalam ketentuan pasal tersebut.
    2. Proses pengambilan keputusan paripurna dalam hak angket yang diadakan pada Jumat 28 April 2017 tidak memenuhi quorum. Oleh karena itu, hak angket terhadap KPK adalah batal demi hukum.
    Atas fakta tersebut, DESK HUKUM DAN ANTIKORUPSI LAKPESDAM PBNU menyatakan sikap sebagai berikut:
    1. Mengecam sikap DPR terhadap penggunaan hak angket yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
    2. Mendesak DPR untuk menghentikan intervensi dan manuver politik yang kontra-produktif terhadap pemberantasan korupsi.
    3. Mendukung KPK untuk tidak memenuhi panggilan angket karena batal demi hukum.
    Jakarta, 28 April 2017
    DESK HUKUM DAN ANTIKORUPSI LAKPESDAM PBNU
    Rumadi Ahmad
    Marzuki Wahid
    Hifdzil Alim

    Berkaitan dengan sikap LAKPESDAM yang di tulis dalam  status facebook Hifdzil Alim diatas, banyak komentar dari netizen, yang intinya mendukung sikap tersebut. "Sangat mendukung sikap dan pernyataan Desk Hukum dan Antikorupsi Lakpesdam PBNU," komentar akun Yuda Kusumaningsih. Selain itu ada juga yang ingin memfiralkan. "VIRALKAN status ini, agar Hak Angket tidak berhak melemahkan hak KPK," komentar netizen berakun facebook Muhammad Satibi. (PEWARTAnews)

    FIMNY Gelar Yasinan dan Doa Bersama di Kediaman Sesepuh

    Keluarga FIMNY saat gelar yasinan dan do'a bersama (27/04/2017).
    Sleman, PEWARTAnews.com -- Keluarga besar Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) selenggarakan Yasinan dan Do'a Bersama di rumah kediaman sesepuh FIMNY Muhtar, S.E. pada hari Kamis, 27 April 2017 pukul 20.00-22.00 WIB, beralamat di Ketulan, Candibinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Sesepuh FIMNY Muhtar, S.E. menghimbau sekaligus mengingatkan kepada seluruh keluarga FIMNY untuk selalu menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti yang tengah dilangsungkan (yasinan dan do'a bersama). "Adik-adik dan anak-anak ku sekalian, momen ini merupakan salahsatu cara kita untuk terus menjalin silaturrahmi antar sesama dan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah sang pencipta. Kita harus sering laksanakan agenda seperti ini. Jadikanlah agenda seperti ini menjadi rutinan wajib FIMNY," ucap Muhtar saat memberikan arahan dan wejangan dalam kegiatan tersebut.

    Belum lama ini beberapa keluarga FIMNY, Faturrahman dan Uswatun Hasanah Iriani mengalami sakit, hingga mengharuskan opname di Rumah Sakit Islam (RSI) Hidayatullah. Dalam kesempatan yasinan dan do'a bersama tersebut, Eks Ketua Umum sekaligus senior FIMNY saudara Ismail, S.H.I. mengatakan bahwasannya acara ini merupakan momentum untuk mendoakan saudari-saudari FIMNY yang beberapa hari lalu mengalami sakit.

    "Beberapa waktu lalu saudara kita sakit. Mudah-mudahan mereka cepat diangkat oleh Allah penyakitnya, dan kita semua keluarga FIMNY selalu diberikan kesehatan dan umur panjang, dilancarkan studinya selama di Jogja." cetus Ismail seraya serentak para keluarga FIMNY yang hadir mengamini.

    Hadir juga dalam kegiatan tersebut diantaranya, Eks Ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta M. Jamil, S.H., Ketua Umum FIMNY Mulyadin, para senior FIMNY (Ismail, S.H.I., Sulaiman, Syamsul, Salahudin Joko, Bukhari Muslim), dan seluruh keluarga besar FIMNY yang lainnya. (PEWARTAnews)

    Suasana saat acara berlangsung. 

    Putra Enrekang Terpilih Ketua Kelurga Mahasiswa Notariat UGM

    Suasana usai pemilihan ketua KMN.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Jauh merantau dari tanah kelahiran bukan menjadi penghalang untuk sukses. Terbukti salah satu putra kelahiran Enrekang Jawaruddin, S.H. menahkodai Keluarga Mahasiswa Notariat UGM (KMN UGM) Periode 2017-2018.

    Kegiatan ini terselenggara di bawah pengawasan komisi pemilihan umum (KPU) KMN dengan melalui beberapa tahapan seleksi yang ketat termasuk fit and proper test. Pemilihan ini dilaksanakan di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada  26/04/2017. Sekitar 500 daftar pemilih aktif (DPA), namun hanya dihadiri sebanyak 240 pemilih untuk memperebutkan satu kursi dari empat calon. Jawaruddin, S.H. kandidat nomor empat menang telak dengan memperoleh 76 suara mengalahkan tiga rivalnya yang lain.

    Kemenangan ini tidak terlepas dari arahan dan bimbingan sosok Kardiansyah Afkar, S.H., M.H. yang merupakan mentor politik dalam memenangkan pemilihan ini. Selain itu kemenangan juga tak terlepas dari kerja keras A Mirza Dwitama, S.H. selaku ketua tim pemenangan ketua terpilih.

    "Saya bangga terhadap proses pemilihan ini, semuanya berlangsung sangat demokratis. Ini merupakan contoh demokrasi bagi lembaga mahasiswa lainnya khususnya pada tingkatan Pascasarjana," ungkap Kardiansyah Afkar.

    Selain itu, ketua terpilih Jawaruddin, S.H. mengatakan bahwa kemenangan ini adalah langkah awal untuk membangun negeri ditengah hiruk pikuk masalah bangsa.

    "Alhamdullilah terimakasih. Pemilu KMN UGM 2017 ini telah sukses, hasil Pemilu ini menjadi kemenangan bersama dan ucapan terimakasih kepada seluruh mahasiswa MKN bahwa ini awal kita untuk membangun negeri," ungkapnya.

    Semoga kita mampu mengeratkan tali persaudaraan sesama anak bangsa.


    Penulis: Haerul Hamka
    Mahasiswa UGM

    Tumbal Politik "Ahok"?

    Eka Ilham. 
    PEWARTAnews.com -- ''Kinerja Ahok menurut masyarakat Jakarta 72% memuaskan tetapi munurut hati dan takdir Allah SWT tidak mampu memenangkan Ahok"

    "Segala sesuatu dan upaya pada akhirnya takdir Allah SWT yang menentukannya"

    Politik adalah berbicara kekuasan siapa yang strategi dan taktiknya mumpuni itu yang akan menjadi pemenang, yang kalah akan menjadi pencundang dan tumbal dari politik itu sendiri. Menurut penulis, pilkada DKI memberi contoh bahwa tumbal politik 'ahok' sangat banyak di tingkat pucuk pimpinan dalam partai, pejabat, artis, dan para penista-penista agama. Dengan kekalahan 'Ahok' yang nota bene dari etnis keturunan China yang dengan congkaknya menistakan agama mayoritas di Indonesia di Kepulauan Seribu Jakarta dalam pertarungan dengan Anies Baswedan dan Sandi Salahudin Uno di Pilkada Jakarta yang menghabiskan banyak energi bagi bangsa ini sedikit nggak memecah konsentrasi pembangunan negeri ini. Pasca kemenangan Anies-Sandi banyak tumbal politik yang berjatuhan. Mereka adalah para petinggi-petinggi dan pesohor negeri ini yang merupakan pasukan Ahok.

    Para petinggi itu mengalami kekecewaan atau kehilangan kepercayaan diri, dan ada yang mengalami kondisi kejiwaan serta kebingungan mengenai hasil penghitungan cepat yang sangat jauh 15 % dari pasangan Ahok yang menurut perkiraan mereka tidak sejauh itu kemenangan bagi Anis-Sandi. Mereka hancur dan terkapar setelah Ahok, si penista agama yang mereka jagokan untuk terus menduduki Gubernur Jakarta, yang menurut hasil kepuasaan masyarakat jakarta dalam hal kinerja mendapatkan 72 % kepuasaan, mereka beranggapan tidak ada celah kemenangan bagi Anis-Sandi tetapi realitasnya Ahok kalah telak di pasangan Anies Sandi. Kerja keras tim Ahok pada akhirnya dikalahkan oleh takdir dari Allah SWT.

    Para petinggi dan koalisi pro-Ahok yang mengalami kondisi kekecawaan yang sangat berat karena kemenangan Anis-Sandi diluar akal pemikiran mereka, sebut saja antara lain adalah ketua umum PPP yang sedang berkonflik, yaitu Muhammad Romi Romahurmuziy dan Djan Faridz. Pembesar PPP ini yang merupakan pemimpin partai belambang ka'bah ini yang partai yang dibangun oleh tokoh-tokoh islam yang beridoelogi islam dan berbasis massa islam diluar dugaan oleh kader ditingkat grassroot(akar rumput) terang-terangan mendukung Ahok yang nota bene adalah bukan se-iman yang membuat kekuatan PPP terpecah belah dalam pilkada jakarta. Romi dan Djan farid terang-terangan memperkuat dukungan ke Ahok dalam politik pilkada Jakarta.

    Pasca kemenangan Anis-Sandi Romi dan Djan dimungkinkan akan ada gerakan dari internal partai dan bassis massanya untuk menggantikan mereka dari posisi ketua umum karena sikap dan tindakan mereka sangat parah menyalahi marwah partai yang berlambang ka'bah. Mereka kemungkinan akan terjadi gesekan atau benturan di tubuh partai PPP. Karena, Romi dan Djan Farid terang-terangan mendukung Ahok berdasarkan keputusan sendiri dan tidak melihat latar belakang dan marwah partai PPP. Sekarang, tampaknya PPP akan segera mencari pengganti Romi dan Djan. Kemungkinan Abraham Lunggana atau Haji Lulung yang sejak awal tidak mendukung Ahok diperkirakan akan menggantikan posisi ketua umum PPP entah melalui mekanisme partai atau penurunan secara paksa.

    Tumbal selanjutnya Setya Novanto, ketua umum Golkar. Dukungan Setya Novanto pada Ahok dalam pilkada Ibukota jakarta membuat dia juga mengalami kondisi akut. Karena di internal partai dan sesepuh golkar sebut saja Aburizal Bakrie dan Yusuf Kalla yang tidak setuju Setnov membawa partai itu mendukung Ahok. Bagi mereka sesepuh-sesepuh di Golkar yang memiliki pengalaman dalam hal berpolitik bahwa Golkar mengetahui Ahok tidak bisa memiliki kans untuk memenangkan Pilkada Jakarta mengingat banyaknya persoalan pribadi yang menimpa Ahok dalam hal penistaan agama. Sikap politik Setnov tidak di restui oleh sesepuh-sesepuh Golkar walaupun idoelogi partai adalah nasionalis namun banyak tokoh-tokoh muslim yang berada di partai Golkar yang sejak awal sangat tidak respek pada persoalan penistaan agama.

    Diperkirakan, Setnov pun tidak dapat diselamatkan untuk bertahan hidup di kerajaan Golkar. Kemungkinan elit-elit politik dan sesepuh Golkar bersiap-siap untik menumbangkan Setnov dari Ketua Umum Partai Golkar.

    Selanjutnya Nusron Purnomo alias Nusron “Wahid”. Kelihatannya akan memerlukan ketenangan jiwa karena sangat terpukul dengan kekalahan Ahok sahabat nasraninya. Nusron yang sejak awal memposikan dirinya adalah pendukung dan pengawal Ahok terkenal dengan mata melototnya yang terang-terangan menghardik ulama” ketika berbicara di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di TVOne. Nusron yang juga katanya adalah dari NU Banser Anshor yang dari awal tidak senang dengan aktifitas FPI dan Demonstrasi Aksi 212 Al-Maidah pada kesempatan Pilkada DKI belum mampu mengkondisikan sahabat-sahabatnya untuk memenangkan Ahok. Nusron akan menjadi sorotan negatif dari para ulama tentang sikap tidak etisnya terhadapa sesepuh ulama.

    Kemudian tokoh sentral Surya Paloh, ketua umum Partai NasDem. Tokoh yang mengidentikkan dirinya sebagai Soekarnois sejati pemilik media Metro TV ini jelas sangat kecewa atas kekalahan Ahok. Surya Paloh memberikan dukungan habis-habisan kepada Ahok. Kemungkinan Komandan restorasi menyimpan rasa malu seumur hidup ke anak buahnya di Metro TV yang giat mempropaganda, framing, plintir dan pembalik faktanya sendiri, melalui media yang dia miliki karena semua usaha itu akhirnya dibalas oleh Allah SWT dengan kemenangan Anis-Sandi di Pilkada Jakarta.

    Selanjutnya adalah Luhut Binsar Panjaitan. Di dalam pilkada DKI, Luhut terbilang mengalami luka berat yang bakal sulit disembuhkan, karena proyek Reklamasinya kemungkinan besar akan ditolak oleh gubernur baru Anis-Sandi. Luhut sangat kecewa. Luhut inilah yang melakukan lobi ke segala arah untuk menggolkan Ahok menjadi gubernur DKI. Luhutlah negosiator ulung untuk memenangkan Ahok dan melobi para pimpinan partai seperti PPP, PKB, HANURA. Partai ini sebenarnya lahir dan besar karena konstituennya mayoritasnya dari umat islam. Mereka tidak melihat sejarah perjalanan partainya 'lupa sejarah' tapi faktanya kepercayaan konstituen dari umat muslim ini justru melenceng dari keinginan simpatisan umat muslim.

    PPP, PKB yang marwah partainya adalah Islam jauh dari kata keberpihakan terhadap Islam. NASDEM, GOLKAR dan HANURA yang memang partainya berkiblat pada nasionalis tetapi tidak dapat dipungkiri konstituen akar rumputnya adalah umat muslim. PAN untuknya partai yang berbasis Islam yang didirikan oleh Prof. Amin Rais ini mampu membaca celah politik kemenangan Anies-Sandi yang sebelumnya PAN berlabuh pada gerbong Agus-Sylvie dan kelompok cikeas. Kekalahan mereka pada putaran pertama membuat elit-elit politik di bawah komando Zulkifi Hasan tidak mau menelan pil pahit dalam kancah perpolitikan, mereka juga menyadari dari awal sikap pendiri partai reformasi ini yaitu Prof. Amin Rais kecenderungannya pada ghirah keumatannya terbukti dengan setiap aksi atas penistaan agama oleh Ahok, Prof. Amin Rais memberikan dukungan penuh terhadap aksi 212, 313 hal ini jugalah yang membuat elit politik PAN berpikir dua kali untuk berselingkuh dengan kelompok Ahokers, Mereka tidak mau menanggung malu ataupun di hujat oleh umat muslim sebagai partai pendukung penista agama. Lain halnya dengan partai DEMOKRAT yang masih selalu menggunakan politik netral SBY yang walaupun di tingkat akar rumput simpatisan Agus-Sylve 70 % kecenderungannya memilih Anies-Sandi daripada Ahok. Hal ini dapat dilihat ditingkat elit partai Demokrat SBY yang sejak dari dulu memang memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan ketua umum PDIP ibu mega. Konon katanya keterlibatan Agus-Sylvie di Pilkada Jakarta adalah upaya strategi dan taktik SBY untuk menjegal politik ibu Mega. Walaupun pada akhirnya masyarakat sangat menyayangkan langkah politik SBY yang mengorbankan karir militer putranya Agus Yudhuyono. Langkah politik SBY paling tidak telah memberikan andil kekalahan terhadap Ahok.

    Partai-Partai yang beridoelogi Islam seperti PPP, PKB selalu mengatasnamakan kebhinekaan tetapi tidak melihat suara arus bawah, untungnya PKS dan PAN tidak menjadi bagian dari pendukung Ahok sedikit nggak untuk politik kedepannya partai ini masih ada tempat di hati umat Islam. Sepertinya partai-partai milik para elit saja, pertanyaannya tujuan mendirikan partai untuk apa? untuk apa simbol-simbol Islam di tegakkan pada atribut-atrbut Partai dan visi misi partai yang pada akhirnya melukai para pendiri terdahulu dan konstituennya. Sungguh sebuah diluar akal pemikiran kita yang awam. Berpolitik boleh tetapi jangan lupa identitas dari partai tersebut.

    Jenderal Wiranto, Mantan jenderal ini menyerahkan partai Hanura ke koalisi Bu Mega untuk memperkuat kubu Ahok. Tetapi kelihatannya Wiranto hanya mengalami luka ringan sebab dia sejak awal tidak begitu serius mendukung Ahok; hanya bentuk solidaritas saja sekadar menyenangkan Presiden Jokowi yang mengangkatnya menjadi menko. Tampaknya nafsu bertempur bapak satu ini sudah dikebiri entah sejak kapan.Terlihat dalam setiap gerakan Islam, Jendral satu ini selalu berada didepan dalam menegosiasi dengan para ulama karena jendral ini nota bene katanya di negeri antabranta disebut 'Jenderal Hijau'.

    Ruhut Sitompul, si poltak raja minyak dari Medan. Salah seorang propaganda ulung? Ahok, juga mengalami guncangan jiwa dalam Pilkada Jakarta karena dia sudah berjanji 'potong kupingku kalau ahok kalah'. Iyah, namanya si poltak raja minyak dari Medan ibarat sinetron yang diperankannya dalam sinetron 'Gerhana' mampu menyusaikan diri ibarat bunglon loncat sana loncat sini. Bagi Ruhut Sitompul politik adalah 'panggung sandiwara' lukanya tidak begitu parah, hanya saja kedua kuping si Ruhut Sitompul hancur berantakan kena sabetan pedang tumpul. Mantan anggota DPR Partai Demokrat yang terkenal suka loncat ke mana-mana untuk bisa bertahan hidup, kemungkinan akan membuat jurus baru dari cara bicaranya untuk mencari tempat loncatan baru atau partai baru sambil menunggu tuntutan rakyat dengan janjinya memotong kuping kalo Ahok kalah.

    Selanjutnya yang sangat terluka, korban perasaan yang paling besar tentunya dialami oleh Ibu Megawati yang sangat berkorban untuk membela Ahok dari gempuran-gempuran selama Pilkada Ibu Kota Jakarta. Putra 'mahkota' Ahok harus menelan pahit kekalahannya di Pilkada Jakarta karena ulah dirinya sendiri. Kekalahan Ahok lebih dari sikap pribadinya sendiri. Hal ini di akui sendiri oleh Ahok pada saat di wawancarai oleh kru Metro TV pasca kemenangan Anies-Sandi. Ibu Megawati pasti sangat terpukul karena pembelaan terhadap Ahok sampai sentimen terhadap umat Islam acap kali di ucapkan pada umat Islam yang melukai hati umat salah satunya ucapannya tentang 'Islam bukan berasal dari Arab' memicu kritikan dari umat Islam.

    Steven merupakan putra orang terkaya urutan 101 di dunia ini yang dengan arogansinya menghina seoarang ulama gubernur NTB dengan tidak pantas dia lakukan menjadi viral di media dan rakyat Indonesia betapa arogansi itu telah menghancurkan sendi-sendi kebhinekaan. Terlepas dari persistiwa itu paling tidak secara politis mempengaruhi kekalahan Ahok. Ada kesadaran kolektif dari masyarakat Jakarta. Mereka butuh gubernur baru yang bukan hanya pekerja keras tetapi mereka butuh keteladanan dari seorang pemimpin. Belajar dari politik DKI Jakarta kekuatan agama mengalahkan idoelogi-ideologi yang dibangun oleh manusia itu sendiri. Itu masih berlaku di Republik ini.

    Nah! kita sekarang lihat kondisi pendukung kotak-kotak ini seperti para pesohor Republik ini seperti para artis pendukung Ahok dengan berbagai ekspresi mereka ungkapkan lewat media atas kekecawaan kekalahan Ahok yang merupakan luka panjang yang harus mereka bawa seumur hidupnya. Mereka terlanjur mempersonifikasikan dirinya sebagai Ahok. Kekalahan Ahok adalah kekalahan dirinya. Bagi mereka Ahok adalah Idolanya bahkan ada yang lebih ekstrim Ahok adalah 'Tuhannya', memilih jalan oposisi, menginginkan pindah kewarganegaraan sampai se ekstrim itu. Lucunya hari ini entah siapa yang memulainya Ahok di gadang-gadang sebagai calon menteri dalam negeri oleh Jokowi. Sungguh kehidupan dunia telah membutakan setiap akal dan pikirannya.

    Hari ini kita dihadapkan pada proses hukum Ahok dimana Hakim dan Jaksa Penuntut Umum dipersidangan memberikan tuntutannya satu tahun dan dua tahun masa percobaan pada potret keadilan di Indonesia. Umat merasa pengadilan negeri ini tidak bisa memenuhi rasa keadilan. Luar biasa keadilan di negeri ini sekali ajaib bin ajaib pertimbangan kinerja dan jasa Ahok tiga tahun di Jakarta menjadi pertimbangan Hakin dan Jaksa meringankan hukuman bagi Ahok. Bu Yani pelapor penista menerima hukuman enam tahun dan bapak Dahlan Iskan yang dalam hidupnya penuh kesederhanaan dan telah memberikan sumbangsih yang sangat besar dari republik ini harus menelan pahit keadilan di republik ini.

    Penulis dan para pembaca mengambil hikmah dari tulisan ini.

    "Sesungguhnya Kerja Keras Tidak Akan Mampu Mengalahkan Takdir Dari Allah SWT". Jadi hidup jangan jumawa, sehebat-hebatnya kita tidak akan mampu menghadapi takdir dari Allah SWT.



    Penulis: Eka Ilham, S.Pd., M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Bima.

    PCNU Kota Yogyakarta Gelar Khitanan Massal Gratis di Masjid Baitussalam Pajeksan Kota Yogyakarta

    Peserta, panitia dan para tokoh saat khitanan massal.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta telah sukses gelar ‘khitanan massal secara gratis untuk warga Daerah Istimewa Yogyakarta’ pada hari Minggu, 23 April 2017 mulai jam 08.00-12.00 di jantung kota Yogyakarta yang terletak di Masjid Baitussalam Pajeksan, Jl. Dagen, Pajeksan, GT I/509, Kota Yogyakarta.

    Acara khitanan massal ini merupakan salahsatu agenda yang diselenggarakan PCNU Kota Yogyakarta dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad S.A.W. dan hari lahir Nahdlatul Ulama yang ke-94 tahun 2017. Terselenggara atas kerjasama PCNU Kota Yogyakarta dengan MWC NU Gedongtengen, SMP-SMA Maarif, dan Takmir Masjid Baitussalam Pajeksan.

    Acara khitanan massal ini difailitas gratis, dan terbuka untuk masyarakat umum yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Peserta yang daftar berjumlah 30 orang. Banyak fasilitas yang telah dipersembahkan untuk peserta, diantaranya, disunat secara gratis, diberi uang saku, sarung, kopiah, baju koko, makan, dan lain-lain.

    Ketua Tanfizdiah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta K.H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., C.N., M.H. mengatakan bahwasannya Khitanan Massal ini dilakukan untuk memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad S.A.W. dan hari lahir Nahdlatul Ulama yang ke-94 tahun 2017. Selain itu, peserta yang ikut tidak hanya dari Kota Yogyakarta, ada juga dari Sleman, Bantul, dan Gunungkidul. Selain peserta yang secara fisik normal, ada juga salahsatu peserta yang secara fisik penyandang difabel. “Sunatan Massal ini diselenggarakan untuk menyambut Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad S.A.W. dan hari lahir NU. Selain itu, acara ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan syiar agama. Agama yang rahmatan lil alamin, serta bersendikan ahlusunnah wal jamaah. Peserta tidak hanya berasal dari Kota Yogyakarta, ada juga di Sleman, Bantul, dan Gunungkidul, ada juga peserta yang secara fisik tidak normal” ungkap Ketua Tanfizdiah PCNU Kota Yogyakarta Ahmad Yubaidi di sela-sela acara berlangsung.

    Dalam kesempatan itu, hadir pula anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta Drs. H. A. Hafidh Asrom, M.M. Selain sebagai anggota DPD RI perwakilan DIY, A. Hafidh Asrom juga sebagai Ketua Yayasan Asram yang membawahi Al Azhar Yogyakarta. Nahdlatul Ulama  mempunyai Lembaga Pendidikan Maarif. Dalam sambutannya Hafidh Asrom memberikan peluang dan ruang yang sebesar-besarnya kepada LP Maarif untuk melakukan studi banding di Al-Azhar demi mengembangkan Maarif sebagai lembaga pendidikan warga nahdiyin. “Kami sangat membuka diri apabila Maarif mau studi banding ke Al Azhar. Yang baiknya bisa diadopsi dan buruknya jangan diadopsi,” ucap A. Hafidh Asrom saat memberikan sambutan dalam acara khitanan massal tersebut.

    Para tokoh yang juga hadir diantaranya, Ketua PW LP Maarif DIY Prof. Dr. H. Sugiyono, M.Pd., Sekretaris PCNU Kota Yogyakarta Abd. Su’ud, M.Si., Wakil Rais PCNU Kota Yogyakarta  H. Abd. Halim, S.Ag., Bendahara PCNU Kota Yogyakarta H. Abdul Halim Saiful Mujab, Wakil Bendahara PCNU Kota Yogyakarta H. Zaidun Syarifudin, Wakil Katib PCNU Kota Yogyakarta H. Nunuk Ridjodjo Adi, S.Ag., M.Ag., Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Ach. Tahir, S.H.I., S.H., M.A., LL.M., Ketua Takmir Masjid Baitussalam Pajeksan Drs. H. Muslimin Hamid, Kepala Sekolah SMK Maarif I Yogyakarta Drs. Suharyanto, Kepala Sekolah SMP Maarif Yogyakarta Drs. Anasruddin, Ketua MWC NU Gedongtengen sekaligus sebagai ketua panitia Ahmad Sidiq, dan para tokoh masyarakat setempat. (PEWARTAnews)

    Anies-Sandi Menang, Ansor dan Banser Diperintah Tetap Siaga Satu Komando

    Ketua Umum PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas. Foto: tribunnews.
    Jakarta - Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran kedua telah berakhir. Berdasarkan hasil hitung cepat, pasangan Calon Gubernur-Wakil Gubernur Nomor Urut III, Anies Baswedan-Sandiaga Uno unggul.

    Ketua Umum PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, mengimbau supaya menjaga kondisi kondusif sekaligus progresif bagi pembangunan Jakarta yang bersahabat.

    "Saya memerintahkan seluruh sahabat, kader, anggota dan pengurus Ansor maupun Banser tetap siaga satu komando menjaga kondisi kondusif sekaligus progresif bagi pembangunan Jakarta yang inklusif dan bersahabat," tutur Yaqut, Rabu (19/4/2017).

    GP Ansor mengaku siap bekerjasama dan membantu pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang ramah, merangkul dan rakyat kecil dan siapa pun yang berbeda pandangan agama maupun politik.

    Terpilihnya Anies-Sandi, dia menitipkan harapan besar agar DKI Jakarta menjadi rumah bersama, di mana nilai-nilai Islam Nusantara yang toleran, penuh rahmat, dan jauh dari nilai-nilai radikalisme.

    Selain itu bisa tumbuh semakin subur, bersemai bersama nilai-nilai kebangsaan, Pancasila, dan kebhinnekaan yang sudah lama hadir sejak republik ini berdiri dan diperjuangkan.

    "GP Ansor mengucapkan selamat atas terpilihnya Mas Anies dan Mas Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI 2017-2022," kata dia.

    GP Ansor juga menganalisa dan memantau berita dan media sosial di War Room Ansor. Hasilnya, pasangan Anies-Sandi memenangkan Pilkada DKI putaran kedua dengan selisih suara yang cukup signifikan.

    Sumber: tribunnews.com

    PCNU Kota Yogyakarta Akan Selenggarakan “Khitanan Massal Gratis”, Yuuk Segera Daftarkan Anak Anda!

    Panitia usai melakukan rapat di masjid Baitussalam, belum lama ini.
    Yogyakarta, PewartaNews.com – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta beberapa hari lagi akan menyenggarakan ‘Khitanan Massal Secara Gratis Untuk Warga Daerah Istimewa Yogyakarta’ pada hari Minggu, 23 April 2017 mulai jam 08.00-Selesai di Masjid Baitussalam (Jl. Dagen, Pajeksan, GT I/509, Kota Yogyakarta / Daerahnya sekitar Barat Ramai Mall Malioboro).

    Acara ini merupakan salahsatu agenda yang terangkai dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad S.A.W. dan hari lahir Nahdlatul Ulama yang ke-91 tahun 2017.

    Acara khitanan massal ini gratis, dan terbuka untuk masyarakat umum yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Yuuk buruan daftar, karena peserta terbatas hanya 50 orang, sewaktu-waktu pendaftaran akan tutup apabila kuota terpenuhi. Pesertanya akan dipersembahkan berbagai macam fasilitas, diantaranya ‘uang saku, sarung, kopiah, makan, dan lain-lain’.

    Apabila para orangtua berminat untuk berpartisipasi dalam acara ini untuk meng-KHITAN anaknya, ikuti ketentuan. [Ketik DAFTAR, SUNATAN MASSAL NU JOGJA 2017, NAMA ANAK, ALAMAT, NO. HP ORANGTUA. Kirim SMS/WA ke: 083840341730 (pak Sidiq). Contoh: DAFTAR, Khitanan MASSAL NU JOGJA 2017, Arif Rahman, 6 TAHUN, PAJEKSAN, 087777666666. Lalu kirim ke nomor 083840341730 / 087777792666].

    Ketua Tanfizdiah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta mengatakan bahwasannya Khitanan Massal ini dilakukan untuk memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad S.A.W. dan hari lahir Nahdlatul Ulama yang ke-91 tahun 2017. “Sunatan Massal ini diselenggarakan untuk menyambut hari lahirnya Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad S.A.W. dan hari lahir NU. Selain itu, acara ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan syiar agama. Agama yang rahmatan lil alamin, serta bersendikan ahlusunnah wal jamaah,” ungkap Ketua Tanfizdiah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta K.H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., C.N., M.H. pada saat melaksanakan rapat di Masjid Baitussalam,  Pajeksan, Kota Yogyakarta belum lama ini. [Jul / PewartaNews]
    Informasi Khitanan Massal PCNU Kota Yogyakarta.

    Ibu Kandung Ketua Tanfidziyah Meninggal, PCNU Kota Yogyakarta Berduka

    Suasana Sholat Ghaib untuk Hj. Siti Khafsah binti Chumaidi, berlangsung di Masjid Sultoni komplek Kepatihan (20/04/2017).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta, Kamis, 20 April 2017 dikejutkan dengan informasi meninggalnya Hj. Siti Khafsah binti Chumaidi (ibu kandung Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Yogyakarta K.H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd. C.N., M.H.)

    Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Yogyakarta H. Ahmad Yubaidi menginformasikan berita duka tersebut kepada warga NU Kota Yogyakarta. “Innaa lillahi wainnaa ilahi rojiun. Telah meninggal dunia Hj Siti Khafsah binti Chumaidi. Pada hari kamis tanggal 20 April 2017 pukul 5.45 pagi di rumah sakit Kanjuruhan Kepanjen Kab Malang Jawa Timur. Semoga diampuni dosanya dan diterima amal ibadahnya.” beber K.H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd. C.N., M.H.

    Terkait peristiwa meninggalnya ibu kandung Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Yogyakarta, salahsatu wakil Katib PCNU Kota Yogyakarta H. Nunuk Ridjodjo Adi, S.Ag., M.Ag. berinisiatif dan melakukan sholat ghaib, yasinan dan tahlil atas meninggalnya Hj. Siti Khafsah binti Chumaidi. “Kita sebagai sesama muslim harus saling mendoakan. Ini semata-mata bukan karena hari ini ibu dari ketua NU (Kota Yogyakarta - red) meninggal dunia, tapi semata-mata kita sebagai sesama muslim sudah menjadi kewajiban saling mendoakan,” ucap H. Nunuk Ridjodjo Adi, S.Ag., M.Ag. saat memimpin Yasinan dan Tahlil usai melakukan shalat ghaib teruntuk Hj. Siti Khafsah binti Chumaidi (ibu kandung Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Yogyakarta K.H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd. C.N., M.H.) di Masjid Sultoni komplek Kepatihan, Kota Yogyakarta.

    “Alhamdulillah, para pengasong Malioboro yang di bina pak Nunuk melakukan  shalat ghaib  setelah sholat Maghrib berjamaah. Usai shalat ghaib dilangsungkan bacaan surah Yaasiin dan  tahlil wabil khususun untuk Ibunda pak Ahmad Yubaidi,” ucap Rochmad salahsatu warga NU Kota Yogyakarta tidak lama setelah sama-sama melakukan shalat ghaib di Masjid Sultoni komplek Kepatihan, Kota Yogyakarta. (Jul / PEWARTAnews)

    PWNU Jateng Gelar Istighosah & Apel Akbar, PCNU Kota Yogyakarta Kirim Peserta 3 Mobil untuk Ramaikan

    Beberapa perwakilan PCNU sebelum pemberangkatan ke lokasi.  
     Kebumen, PEWARTAnews.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah telah sukses menggelar Istigasah dan Apel Kesetiaan terhadap NKRI dan Pancasila.

    Istighosah beserta apel akbar digelar pada hari Sabtu-Minggu, 15-16 Maret 2017 di Pantai Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

    Sekitar puluhan ribu peserta memadati pantai Petanahan. Peserta yang hadir tidak hanya dari PWNU Jawa Tengah, seluruh perwakilan pengurus cabang dari PWNU DIY dan daerah lain juga turut hadir memadatinya. Salahsatu cabang yang mengutus peserta diantaranya Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta.

    "Sejumlah perwakilan kader luar Jawa Tengah juga hadir sebagai undangan khusus seperti dari Yogyakarta, Jatim, DKI Jakarta, Jabar, Sumsel, Lampung dan sejumlah wilayah lain," kata M. Muzammil selaku ketua Panitia yang juga Wakil Ketua PWNU Jateng, sebagaimana diwartakan Tribun Jateng belum lama ini.

    Publikasi sebelum pemberangkatan.
    Ketua Tanfizdiyah PCNU Kota Yogyakarta K.H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., C.N., M.H. mengatakan bahwasannya PCNU Kota Yogyakarta hadir dan mengirim peserta di pantai Petanahan Kebumen merupakan bukti nyata kecintaannya kepada Nahdlatul Ulama, Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Koordinator tim dari PCNU Kota Yogyakarta, M. Jamil, S.H. membeberkan bahwasannya peserta dari PCNU Kota Yogyakarta berjumlah puluhan peserta dengan menggunakan 3 mobil. “Kami dari PCNU Kota Yogyakarta menggunakan 3 mobil untuk hadir dan memeriahkan acara di pantai Petanahan Kebumen ini,” beber M. Jamil beberapa lama setelah samai di pantai Petanahan Kebumen pada hari Sabtu, 15 April 2017.

    Hadir sebagai tim mewakili PCNU Kota Yogyakarta diantaranya K.H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., C.N., M.H. (Ketua Tanfizdiyah), H. Zainal Arifin (A’wan PCNU Kota Yogyakarta), Muhammad Yazid Afandi, M.Ag.  (A’wan PCNU Kota Yogyakarta), Dr. Adi Suprapto, M.Si. (Wakil Ketua Tanfizdiyah PCNU Kota Yogyakarta) dan puluhan lainnya.  (Jul / PEWARTAnews)

    Ketua PCNU Kota Yogyakarta, Ahmad Yubaidi saat acara Istighosah.

    Dalam Lumpur Kenistaan & Kuburanku [2 Puisi]

    Amran Albimawi.
    Puisi 1: “Dalam Lumpur Kenistaan”

    Kulalui kehidupan dengan kecongkakan bangga diri dengan kegemerlapan
    Kurbejalan bebas tak ingat kematian
    Waktu ku lalui tak kenal kenistaan

    Hari ini aku lalui mungkin esok telah usai
    Aspudar sudah lama tertuai di akhirat, mungkin mati terantai
    Lalui dunia ingat akhirat
    Jangan sampai di kubur nanti terasa penat

    Hamba sekarang mulai ingat-ingat
    takut siksaan yang amat sangat

    Wahai diri yang tak pernah sabar
    Ingatlah kehidupan hanya sebentar
    Saat rubuh masih terasa segar
    Ayolah kawan kita sadar


    Puisi 2: “Kuburanku”

    Maut telah menjemputku
    Mengakhiri kehiduapan penat
    Wajah kaku dalam akhir hayat
    Terbungkus kafan rapi terikat
    Hari itu tampak sedih memilukan
    keluarga, sahabat, dan handai taulan melayat
    Mengelilingi tubuh tak bertuan
    Karena enpunya telah meninggalkan fananya kehidupan

    Saat itu hanya terlihat pusara kuburan tampak tertulis sebuah nama
    Sahabat dan saudaraku tak ada yang dapat aku titipkan padamu
    Laksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya itulah pesanku
    Do'a-do'amu adalah harapanku
    Bila suatu saat, jiarahi kuburanku sumbangkan aku Al-fatihah


    Karya-karya: Amran Albimawi

    Mataharinya di Ruang Kelas

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com – Guru merupakan salah satu penentu keberhasilan anak didiknya di sekolah. Artinya, bahwa jika gurunya berkualitas dan profesional maka Insya Allah akan lahir anak didiknya yang berkualitas dan profesional pula. Mari kita sama-sama perhatikan ilustrasi berikut ini! Jika kita ibaratkan ruangan kelas dengan segala isi yang ada di dalamnya, termasuk para anak didik adalah tata surya, maka mataharinya adalah guru itu sendiri. Dengan demikian, guru merupakan central di mana seluruh planet berputar mengelilinginya. Ia yang akan membawa suasana terang atau gelap gulita. Ia yang menciptakan iklim dan musim. Dan yang mengatur eskalasi rotasi sehingga dapat bergerak lebih cepat atau lambat adalah dirinya. Semua energi yang ada tidak akan berarti apa-apa di kala ia tidak ada. Sekali lagi, guru merupakan mataharinya.

    Oleh karenanya, para guru mestinya harus menyadari betul bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam ruangan kelas sangat tergantung kepadanya. Di saat itulah, guru akan menjadi pusat perhatian para anak didiknya.

    Seluruh mata para anak didiknya tertuju padanya. Pakaian yang ia pakai, jenis parfum yang ia pakai, gaya bicaranya di ruang kelas, gerak-geriknya, singkatnya semuanya tak akan lepas dari tatapan mata dan penilaian para anak didiknya.

    Oleh karena itu, sangatlah wajar kalau guru disebut sebagai ujung tombak terhadap perubahan para generasi bangsa. Pembentukan karakter para generasi bangsa bergantung pada sosok yang bernama “guru.” Wahai para guru, Andalah mataharinya. Jadilah figur paripurna!

    Wallahu a’lam.

    Ditulis pada hari Rabu, 1 Februari 2017
    Oleh: Gunawan

    Puisi: "Cinta Anak Statistika"

    Juraidah.
    Cina
    Bukanlah perihal matematis
    Namun biasanya hal statistis, membutuhkan suku error untuk mencakup perihal yang tak terduga
    Memerlukan keahlian khusus untuk menghasilkan estimator cinta yang blue

    Perjalanan panjang yang kulalui layaknya ilmu statistika

    Ku perlu statistika deskriptif tuk  menemukanmu

    Meskipun populasi pria begitu banyak

    Entah mengapa kaulah yang ku jadikan sebagai sampel

    Sampel pedoman kebahagiaanku

    Cinta
    Kenapa kau tak normal saja?
    Atau butuh banyak sampel cinta untuk merujukmu kepada CLT?
    Atau butuh transformasi cinta untuk menjadi t’student distribution dalam mencinta?
    Fisher mendefinisikan cinta itu rasio dua insan yang berdistribusi chi square dengan masing-masing dof

    Menurutmu apa itu cinta?
    Topik kelar, skripsi lancar, seminar sukses, sidang lulus, wisuda bareng dia
    Seperti itukah cinta?
    Atau bagaimana seharusnya?

    Ku sadari terdapat batas kelas yang memisahkan kita
    Namun  di samping itu
    Juga terdapat titik tengah kelas yang menyatukan kita berdua

    Cintaku tak serupa zaman ponsel pintar
    Media belum mau bersosial
    Cintaku adalah cinta tanpa kata

    Rata-rata kulihat cinta tak terdefinisikan

    Karna canda tawamu selalu hadir dalam mean hariku

    Dan kau bagaikan modus dalam mimpiku

    Grafik histogram hubungan kita semakin meningkat

    Semua data indah tersebut, kan ku klasifikasikan kedalam distribusi frekuensi


    Yogyakarta, 18 April 2017
    Karya: Juraidah
    Mahasiswi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Puisi: "Tanah Kelahiranku"

    Amran Albimawi. 
    Di Negeri ini aku dilahirkan
    Negeri yang penuh kepalsuan dan kepura-puraan
    Suburkan maling dan koruptor
    Jayakan imperialisme baru
    Datangkan serigala-serigala hitam yang berkedok kemanusiaan

    Di tanah kelahiranku
    Kusaksikan begitu banyak wajah-wajah peradaban barat
    Yang ingin menjadikan budak dan sarana yang harus melayani kepentingan mereka

    Tanah kelahiranku
    Yang begitu damai dan alam yang bersahabat
    Kini mau diubah menjadi lautan neraka
    Yang akan merengut jiwa orang-orang yang tidak berdosa

    Dimanakah letak keadilan negeri ini?
     Jika rakyat dijadikan korban arogansi barat!


    Lambu, 10 Januari 2010.
    Karya: Amran Albimawi

    Puisi: "Dalam Diamku"


    Juraidah
    Diam
    Heningnya tak terungkap
    Terpatri dalam hati
    Terselimuti angin malam

    Diamku
    Tak ada patah kata
    Namun bermakna

    Tertawa
    Ku ingin terus tertawa riang
    Biar aku tak merasa sendirian

    Bukan tertutup
    Hanya mencoba untuk bangkit
    Bukan lari
    Hanya belajar menata diri kembali!

    Air mata hanya ungkapan jiwa
    Bukan tanda kelemahan
    Tidak juga tanda kehancuran semata
    Bisa di kata hanya hal yang perlu di keluarkan

    Aku, tetaplah aku yang mencoba tegar
    Memahami kehidupan dalam segi mana pun
    Tak harus hancur meski harus kecewa
    Pasti ku bisa melakukannya

    Allah yang tau bagaimana aku
    Bagaimana gelisahku
    Bagaimana sakitku
    Bagaimana tawaku
    Apa arti setiap air mataku

    Sebab hanya Dia-lah yang pasti didalam hidupku


    Yogyakarta, 18 April 2017
    Karya: Juraidah
    Mahasiswi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Undang-Undang Dasar Sebagai Dasar Hukum, Panacasila Sebagia Landasan

    Amran Al-Bimawi.
    PEWARTAnews.com – Salah satu pokok pikiran dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 (UUD 45) bunyinya yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan dasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Pembukaan UUD 45 ini diterima semua aliran karena mengandung pengertian negara persatuan, negara yang melindungi dan meliputi segenap bangsa seluruhnya. Jadi negara mengatasi segala paham golongan yang ada dan paham perseorangan. Negara menurut pengertian pembukaan,menghendaki persatuan yang meliputi segenap bangsa Indonesia seluruhnya. Inilah suatu dasar Negara yang tidak bisa di lupakan oleh kita semua sebagai genersi penerus, dan  kita dituntut untuk taat dalam menjalankan amanah Pancasila dan UUD 45 yang telah diwariskan oleh para the fonding father.

    Negara dibangun diatas segala paham dan semua golongan. Namaun pada kenyataanyan yang dirsakan masyarakat saat ini, Negara seakan dikendalikan oleh segelintir orang yang berkepentingan didalamnya, hingga nilai-nilai Pancasila dan UUD 45 maknanya seakan hilang ditelan bumi. Perjalan bangsa ini terlalu banyak yang menyabotase hingga melaju diluar rel seharusnya, sebagai mana yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa. Hal inilah yang membuat bangsa ini semakin terpuruk hingga jatuh pada kubangan kemiskinan.

    Bangsa yang begitu besar dan sumber daya alam yang melimpah ruah, namun diterka oleh kemiskinan yang begitu sulit untuk dimengerti, seakan-akan hal ini dibuat tanpa solusi yang konngkrit oleh pelaku pengambil kebijakan di negeri ini. Hingga rakyat merasa keadilan dan kemerdekaan harus direbut dengan darah. Hingga tak jarang NKRI digoyangkan oleh sekelompok masyarakat diberbagai daerah yang berujung pada konflik yang berkepanjangan.

    Hal inilah yang harus dipahami dan diawasi oleh kita semua. Lihatlah situasi ekonomi, politik, sosial budaya nasional kekinian. Kondisinya sudah mengkristal menjadi sisitim sosial yang mensyaratkan secara material, masih dibawah penindasan, dan penghisapan manusia atas manusia. Sistim itu tiada lain kapitalisme yang bergerak memuncak sampai dengan level yang tertinggi, hingga dewasa ini telah sampai di tingkat daerah.

    Kenyataan itu ditambah lagi keadaan objektif tatanan sosial politik Indonesia yang makin hari makin tidak menunjukan keberpihakannya pada rakyat. Rakyat hanya dijadikan objek kepentingan semata, konstituennya manakala rezim komperadom yang berkuasa dalam tindak tanduk politiknya masih mempraktekan apa saja yang diperintahkan oleh kaum pemodal yang berpusat di negeri-negeri kapitalis maupun di lembaga-lembaga moneter internasional. Sehingga arus demokratisasi yang bergerak sejak revormasi digulirkan terinterupsi dan dibuata semakin mendekat kesistem yang liberal.

    Imperealisme yang membangun persekutuan di negeri ini, dengan para komperadomnya sejak kekuatan tangan besi (orde baru) hingga sampai hari ini mereka masih memainkan mesin-mesin pendindasanya. Oleh karena itulah sudah menjadi suatu keharusan bagi kita sebagai generasi bangsa yang mengisi kemerdekaan ini dengan penuh tanggung jawab dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesi. Sudah saatnya kita harus bergerak agar mengimbangi langkah dan tindakan mereka yang hegemonik dan sistimatis. Dengan membuat dan mempersiapkan kemudian menjalankan sistim pendidikan yang progrsif (teori maupun praktek) kepada masyarakat agar dapat menghancurkan ilusi sesat dalam pikiran mereka. Sudah saatnya kita menyatukan prsepsi dan merapatkan barisan untuk menggapai perubahan serta membangun kembali NKRI berdasarkan nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 45.

    Tindakan agar perubahan itu dapat terwujud, pemerintah harus mampu melakukan berbagai upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Disertai dengan pemerintahan berdasarkan pada proses politik yang demokratis di semua aspek tatanan pemerintahan.

    Krisis multidimensional yang kini terjadi dapat menjadi daya dorong jika upaya-upaya kearah pertumbuhan keadilan dan demokrasi dilaksanakan secara konsisten serta dasar moral, dan yang paling penting adalah pemerintah harus meletakan budaya sosial, politik, hukum, dan ekonomi  secara manusiawi.

    Panglima revolusi mengharapkan agar kita generasi dapat menyatukan persepsi untuk mengisi kemerdekaan dalam mengurus negeri ini. Tentu dalam hal ini bukan hanya pada konseptual saja, namun lebih  pada implementasi yang ril hingga dapat melanjutkan manifesto intelektual Bung Karno cs,  agar dapat mewujudkan keadilan merata di negeri pertiwi ini.

    Dalam hal ini tentu kita membutuhkan semangat intelektual yang kuat dalam menghadirkan solusi aplikatif, karna perjuangan fisik sampai kapan pun jikalau penyelenggara selanjutnya masih dengan sifat dan tabiat didikan lama serta sistim yang sama serta tradisi dan budaya yang diulangnya, pastinya akan mirip-mirip juga hingga dapat menimbulkan kekecewaan gaya baru lagi. Tapi bila greand Pancasila telah melahirkan negara Pancasila semuanya sudah keadaan terbungkus hakiki dalam pancasila.

    Walaupun gerakan saat ini beda dengan gerakan Bung Karno Cs saat itu yang musuhnya sudah jelas, sedangkan musuh kita saat ini tidak jelas mana kawan dan mana lawan. Tetapi bila kita mampu menanamkan ideologi Pancasila pada anak negeri, maka kita mampu bangkit menyempurnakan NKRI hingga terciptanya tatanan baru yang berideologi pancasila, dan kita akan menjadi pembaharuan sekaligus tungku pembakar bagi kemajuan negeri yang adil dan makmur.

    Walaupun kita berenang dalam trend zaman ke zaman, namun ideologi Pancasila dan cita-cita berbangsa tetap ada dalam diri dan sanubari setiap anak negeri yang telah diwariskan indah oleh peradaban luhur genersi Bung Karno cs.    

    Bung Karno mengatakan dalam bukunya “Di Bawah Bendera Revolusi” yaitu: Asas-asas, perjuangan, dan taktik. Banyak orang di dalam pergerakan, yang belum paham tiga perkataan yang tertulis di atas ini. Asas di campur dengan asas perjuangan, asas perjuangan di selipkan pada taktik, asas perjuangan di kiranya asas, asas dikiranya perjuangan.misalnya; non kooperation di sebutkan asas padahal non kooperation itu adalah suatu asas perjuangan sebagaimana dulu pernah saya uraikan.

    Apakah asas? Apakah asas perjuangan? Dan apakah taktik?

    Asas adalah dasar atau “pegangan” kita walau sampai lebur kiamat terus menentukan sikap kita, terus menentukan nyawa kita. Asas tidak boleh kita lepaskan, tidak boleh kita buang walau kita sudah mencapai Indonesia merdeka, bahkan malahan sesudah tercapainya Indonesia merdeka itu harus menjadi dasar cara kita untuk menyusun masyarakat. Sebab justru sesudah Indonesia merdeka itu timbulah pertanyaan; bagaimanakah kita menyusun kita punya pergaulan hidup? Dengan asas atau cara bagaimanakah kita menyusun kita punya pergaulan hidup? Cara monarchie? Cara repoblik? Cara kapitalitis? Cara sama rasa sama rata? Semua pertanyaan-pertanyaan ini, dari sekarang sudalah harus terjawab oleh asas kita.

    Esensi Manusia Individual
    Karakteristik dasar manusia sebagai mahluk personal pertama-tama memuat dimensi jasmaniah dan rohaniah. Dimensi individual sosial disetiap manusia adalah individu tertentu yang merupakan suatu kesatuan yang tak terbagi (gestalt) unik dan otonom.

    Disamping sebagai mahluk individual, manusia juga merupakan mahluk sosial (ada dalam kebersamaan) dengan yang lain. Hal ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, namun terjadi secara struktural dan hakiki terjalin dengan keberadaanya sebagai manusia.

    Dalam hal ini kita sebagai manusia yang hidup dalam suatu Bangsa, dituntut untuk selalu bersama dalam membangun sebuah ide dan konsep yang mengedepankan nilai-nilai kemnusiaan agar dapat memberikan keadilan yang merata.


    Penulis: Amran Al-Bimawi

    Penderita Kanker Hati Meninggal, Muchtar: Tolong Kami Butuh Ambulance

    Munawir bin Arsyad (Alm.) penderita kanker hati. Foto: Muchtar.
    Mataram, PEWARTAnews.com – Warga desa Tolo Uwi RT/RW 06/02 kecamatan Monta, kabupaten Bima, Munawir bin Arsyad (penderita Kanker Hati) meninggal dunia pada 17 April 2017 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Informasi meninggalnya Munawir bin Arsyad didapati melalui status facebook Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial dan Anak (LKSA) LPEPM Bima. “Tolong Kami Butuh Ambulance. Innalillahi wainnailahirajiun. Kami tim relawan kemanusiaan LKSA LPEPM Bima membutuhkan pertolongan ambulance untuk warga Miskin atas nama Munawir bin arsyad... Meninggal karena Kanker Hati yang menimpanya.” beber Muchtar melalui akun facebooknya Muchtar Mbozo pada 17 April 2017 sekitar pukul 22.09 WITA.

    Lebih lanjut Muchtar menulis, saat ini sedang membutuhkan Ambulance untuk membawa pula jenazah dari Mataram menuju Bima, NTB. Muchtar juga mengharapkan bantuan dari pemerintah kabupaten Bima atas beristiwa menimpa warga desa Tolo Uwi ini. “Semoga allah memberikan kemudahan. Mungkin Pemda Bima BISA membantu,” tulisnya. (PEWARTAnews)

    Jerit Indah Para Pendidik

    Eka Ilham, S.Pd., M.Si.
    PEWARTAnews.com – Berbicara tentang pendidikan tidak akan ada habis-habisnya.  Persoalan pendidikan menyangkut tentang politik anggaran pendidikan yang cukup fantastis pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 tetapi realitasnya di lapangan anggaran pendidikan tidak memenuhi rasa keadilan di masyarakat terutama di pelosok-pelosok terpencil bahkan di perkotaan.

    Persoalan Sarana dan prasarana pendidikan, hak guru, perlindungan guru dan problematika siswa. Suara para pendidik dalam beberapa tahun lantang dan kritis. Mengatakan banyak hal yang selama ini tampaknya ingin diredam: tentang sertifikasi, guru honorer hingga persoalan pendidikan karakter siswa yang semakin merosot. Potret itu begitu buram sehingga kita dibayang-bayangi oleh banyak kemelut yang tak mudah diselesaikan. Terasa jujur karena ini adalah para pendidik yang hidup dengan “gaji terbatas” tetapi dengan tanggung jawab “tanpa batas” pendidik yang mendidik menempatkan guru sebagai teladan bagi murid-muridnya, inspirator, motivator, fasilitator dan katalisator tetapi tidak seimbang dengan gaji yang diterima oleh guru terutama guru-guru terpencil dan honorer. Muncullah perlawanan-perlawanan dari guru bahkan siswa itu sendiri dalam kondisi bangsa hari ini.

    Guru honorer yang memperjuangkan nasibnya yang belum di angkat-angkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), penghasilan guru sukarela/honorer yang tidak sesuai dengan upah minimum regional (UMR) dan rasa kemanusian, prilaku siswa yang diluar dari harapan pendidikan karakter, sertifikasi guru non pns tahun 2016 di bima yang belum terbayarkan sampai hari ini, persoalan dapodik sertikasi yang belum sinkron, kendala teknis Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMA/SMK, persoalan mutasi/rotasi yang tidak memuaskan beberapa pihak. Ini fakta yang menyakitkan tentang pendidikan nasib guru, gajinya tak cukup untuk hidup layak dan harus mempertaruhkan kehormatan guna memenuhi kebutuhan. Tak hanya itu profesi guru kerap kali dijadikan alat kekuasaan politik sesaat. Sepertinya profesi ini dibuat bukan untuk mendidik siswa yang berkarakter tetapi memberi teladan tentang ketidak-pedulian. Paras sesat itu pendidikan berjalan seperti alam buta:selalu berubah-ubah dan tak pernah mampu membahagiakan siswanya. Maka muncullah pendidikan perlawanan seperti jeritan luka yang mengorek apa yang selama ini dipendam.

    Para pendidik yang disakiti, dianiaya, dan dibiarkan tenggelam dalam kesengsaraan. Sebuah perlawanan teriakan dan kemarahan pada situasi hari ini. Guru-guru ditekan untuk memenuhi kepentingan kekuasaan. Sudah barang tentu jerit ini jadi kekuatan yang agung karena diperankan oleh guru. Mereka yang terbiasa diam ketika kurikulum baru diterapkan, pasrah atas ketentuan pendidikan yang berubah-ubah dan tak banyak sanksi pada apa yang mereka ajarkan. Sedari awal memang tampaknya kebijakan guru diarahkan bukan untuk 'memotivasi' peran sebagai misi pendidikan yang mendidik tapi meneguhkan peran sebagai penyampai misi. Mirip dengan pipa, guru-guru hanya menjadi penyalur kepentingan-kepentingan yang ada diluar dirinya: penerbit yang mau bukunya laku, pemerintah yang ingin kekuasaannya lestari dan orang tua yang mau anaknya sukses.

    Pendidikan yang mendidik dan melawan ini mengembalikan peran sebagai seorang pendidik. Bukan diam melihat ketidakadilan dan tidak begitu saja membiarkan pendidikan ini hanya sebagai proses seorang guru mentransfer ilmu dimana guru selalu sebagai sumber ilmu yang benar dan murid sebagai pendengar setia dari wejangan guru. Celakanya guru di anggap tidak pernah salah dan selalu benar. Pendidikan yang mendidik dan melawan tidak seperti ini tetapi pendidikan sesungguhnya melahirkan siswa-siswa yang kritis, inovasi, inovatif, dan berkarakter. Untuk itu peran guru meneguhkan sebuah posisi. Kalau guru bukan ranting yang ada dalam pohon kekuasaan serta tidak menjadi payung kalau keadaan sosial terancam.

    Selamanya guru adalah pendidik: memberikan inspirasi pada anak didik untuk jadi yang terbaik dan memberi ruang yang luas bagi anak didik untuk meniupkan ide-idenya. Selama guru bisa menyalakan api semangat itu maka pendidikan yang kusam akan tetap membawa rasa optimis. Optimis kalau memang pendidikan itu apapun tujuannya tetap berhamba pada akal sehat dan merawat kesadaran kritis. Akal sehat akan menjadi pendidikan tetap memiliki logika pengetahuan dan kesadaran kritis akan membawa pendidikan dalam semangat  tidak mudah percaya begitu saja. Barangkali karena itu pendidikan itu harus mengentaskan guru terlebih dahulu: bukan saja kesehjahteraannya tetapi kepasrahannya untuk menerima keadaan. Tema pendidikan yang mendidik dan melawan seperti ucapan doa bahwa guru tak bisa selamanya seperti ini, mesti ada yang diubah dan berubah. Pada tepi harapan seperti itulah tema ini menawarkan sebuah simpul tentang dunia pendidikan di republik ini. Mungkin itulah guru: mengajari kita untuk tahu kepalsuan dan mengajari kita bagaimana melawannya “Guru Mendidik Itu Melawan”.


    Penulis: Eka Ilham, S.Pd., M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima / Penulis Buku Kumpulan Puisi “Guru Itu Melawan”

    Jelajahi FORKASY Cup, PUSMAJA FC Harus Puas Raih Posisi IV

    Keluarga PUSMAJA usai berhasil meraih Juara 4.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Turnamen Futsal "FORKASY CUP" yang dihelat belum lama ini begitu meriah. Puluhan club mendaftar dan ikut bertanding untuk memperebutkan piala bergilir. Tidak ketinggalan, tim futsal utusan Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta juga turut andil dalam kompetisi mempermainkan si kulit bundar itu. Akhir pertandingan, PUSMAJA FC harus puas hanya dengan menduduki peringkat IV.

    "Ini merupakan pencapaian yang luar biasa. Biasanya tim kami hanya mampu bermain diputaran pertama, kemudian kalah. Ini adalah pencapaian yang luar biasa baik," tutur Wahyu Hidayat, Ketua Bidang Minat dan Bakat yang sekaligus Kapten Pertandingan pada media PEWARTAnews.com di Yogyakarta (17-4-2013).

    Dirinya optimis, akan mampu meraih posisi tertinggi di pertandingan selanjutnya.

    Hal serupa juga disampaikan Ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta, M. Saleh Ahalik. Pencapaian tersebut dianggapnya sebagai imbalan dari kerja keras dan latihan intens timnya sebelum turnamen. (Rizalul Fiqry / PEWARTAnews)

    Puis: "Gubernur Kami Jangan di Hina"

    Eka Ilham (Ketua SGI Kab. Bima)
    Gubernur kami jangan di hina
    Dia teladan bagi kami
    Leluhurnya telah menancapkan kebaikan
    Pada tanah kami
    Tiap jengkal tanah kami adalah restunya

    Gubernur kami jangan di hina
    Dia ulama bagi kami
    Dia pemimpin bagi kami
    Di tanah ini kami menghormatinya
    Di tanah ini kami ingin mengikuti jejaknya
    Dia peletak peradaban tanah kami
    Tanah kami tanah seribu masjid

    Gubernur kami jangan di hina
    Kami tak pernah mengganggu kalian
    Kami tak pernah utang budi pada kalian
    Kami mempersilahkan kalian menumpang hidup di tanah kami
    Kami rakyatnya tersakiti
    Tidak pantas kalian menghina gubernur kami
    Salah apa?
    Kau hujamkan kata-katamu
    Dia pemimpin kami
    Dia memaafkanmu
    Tapi kami memintamu datang ke tanah kami
    Atau kami jemput
    Maaf, Maaf, Maaf,
    Ah! Dari dulu kalian seperti itu
    Pembohong!


    Bima, 14 April 2017

    Karya: Eka Ilham
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupater Bima

    Tuan Guru Bajang di Hina, Ini Pernyataan Sikap ketua Himpunan Mahasiswa NW Cabang Persiapan Yogyakarta

    TGB. Foto: detik.com
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari seorang calon penumpang asal Indonesia saat berada di Bandara Changi, Singapura. Dia dihina dengan kata-kata kasar.

    Seperti diberitakan detik.com pada pagi tadi (Jumat, 14 Apr 2017), dikatakan bahwa peristiwa ini terjadi pada hari Minggu (9/4/2017) lalu sekitar pukul 14.30 waktu setempat. Saat itu, Zainul atau yang biasa disapa Tuan Guru Bajang (TGB) dan istrinya tengah antre di counter Batik Air yang ada di Bandara Changi. TGB hendak bertolak menuju Jakarta.

    Melihat semakin berkembang dan menyebarnya pemberitaan terkait dengan kasus penghinaan terhadap TGB Dr M Zainul Majdi tersebut, ketua Himpunan Mahasiswa Nahdatul Wathan Cabang Persiapan Yogyakarta saudara Arif Bulan, S.Pd. membeikan pernyataan sikap untuk hal tersebut, sesuai dengan press rilisnya yang diterima PEWARTAnews.com 14 April 2017 malam, tertuang seperti dibawah ini.

    Menanggapi Penghinaan yang dilakukan oleh Steven HS. Kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat TGKH. Dr. Zainul Majdi, MA, yang sekaligus ulama dan ketua umum pengurus besar Nahdatul Wathan di Bandara Changi Singapura merupakan hal yang sangat keterlaluan. Walaupun TGKH. Dr. Zainul Majdi, MA sudah memaafkannya namun kami Himpunan Mahasiswa Nahdatul Wathan cabang persiapan Yogyakarta tetap mendorong pihak kepolisian untuk menyelesaikan masalah ini.
    Ini bukan soal maaf memaafkan, tapi ini adalah masalah penghinaan umat. Sebagai bentuk efek jera, kasus ini sebenarnya tidak boleh selesai pada ranah minta maaf saja karena dikemudian hari akan mudah bagi sebagian orang tertentu akan menghina etnis lain dengan perkataan kotor dan berbau rasis seperti yang diucapkan oleh Steven HS kemudian hanya selesai pada materai 6000 saja.
    Oleh karena itu, kami meminta kepada pihak kepolisian agar konsisten dalam menjaga marwah kebinekaan dengan mengacu kepada KUHP pasal 315 tentang penghinaan etnis sebagaimana diundangkan dalam UU No. 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis. Dengan merujuk pada itu, penghinaan tersebut bukan masuk pada ranah delik aduan. Maka sudah sepatutnya pihak kopolisian tetap menindaklanjutinya.
    Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, dan demi menjaga ketertiban umum agar terhindar dari hal-hal yang menyinggung SARA maka kami meminta dengan hormat kepada Kapolri untuk tetap menyelesaikan masalah ini.
    Wallahulmuafik walhadi ilasyabilirrasyad, wassalamualaikum Wr. Wb.
    Ketua HIMMAH NW Cabang Persiapan Yogyakarta, Arif Bulan, S.Pd. 
    (PEWARTAnews)

    Puisi: "Debu dan Hujan"

    Nurhaidah.
    Deruhnya butiran hujan dari langit kelam
    Menyapu kembali kepingan memori
    Yang telah lama ku buang kedalam dasar lautan
    Memutar kembali piringan hitam kenangan cinta di masa senja silam
    Membangkitkan ingatan abadi kain asmara yang tersulam

    Senyum yang kau tuju hanya untuk ku
    Yang telah tersimpan kokoh dalam palung lautan
    Telah hilang tersapu hujan
    Cinta yang menghangatkan kalbu
    Menyala selalu di prapian kelabu
    Kini terpendam dinginnya salju
    Telah hilang seluruh karangan puisi
    Yang telah ku bingkai indah didalam hati

    Telah lenyap seluruh asa yang ku punya
    Sirna hampa tak bermakna
    Tanpa hadirnya cahaya penuh cinta
    Cahaya yang begitu terang
    Cahaya yang begitu memiluhkan hati seorang penyair
    Cahaya yang mampu meneburkan alunan gelap dimasa silam

    Masa lalu yang dahulu teduh
    Masa lalu yang begitu gelap
    Masa lalu yang begitu pahit walau dalam alunan cinta
    Masa lalu dimana seorang diri tidak mampu untuk berteduh
    Masa lalu yang hanya menebur luka
    Tapi dari peristiwa masa lalu, ku mampu bertahan dan berteduh dari pilunya hidup

    Saat kita berdua saling menebur
    Saat kita berdua saling menyapa
    Saat kita berdua saling acuh-tak acuh
    Saat dimana kita belum mampu untuk menyatu
    Saat hati masih rapuh
    Saat hati masih lugu
    Sa'at itulah kita mampu untuk berfikir lebar

    Dalam bahtera bahagia bersama
    Dimana kita saling menyapa
    Bercanda tertawa berdua
    Berjanji setia sehati sejiwa
    Senyum sapa, semua telah sirna

    Kini kenangan itu telah sirna
    Bak butiran debu
    Terusir tetesan ujan
    Tetesan ujan yang mampu memiluhkan kenangan lalu
    Karena kenangan itulah yang sampai sekarang, dari kamu dan aku menjadi kita

    Bahagia ku telah kembali
    Bahagia ku telah menyinari hidupku
    Bahagia kita tidak terhempas ombak diatas karang
    Lenyap itu pun telah hilang dalam bayang-bayang hitam



    Yogyakarta, 14 April 2017
    Karya: Nurhaidah


    Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).
     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website