Headlines News :
Home » » Jangan Sampai Pendidikan menjadi Rutinitas yang Membosankan

Jangan Sampai Pendidikan menjadi Rutinitas yang Membosankan

Written By Pewarta News on Jumat, 07 April 2017 | 09.37

Ilustrasi. Foto: Blogger. 
PEWARTAnews.com -- Pendidikan merupakan sebuah usaha dasar dan terencana untuk meningkatkan sumber daya manusia disebuah Negara (memanusiakan manusia). Hal ini senada dengan cita-cita bangsa yang termuat dalam undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), semua warga Negara memiliki hak yang sama dalam menikmati pendidikan. Pemerintah pun mengupayakan berbagai macam cara untuk mendongkrak pendidikan di Negeri ini, termasuk usaha meningkatkan sarana dan pra sarana sampai pada persoalan penentuan kurikulum.

Namun fenomena pendidikan menjadi wacana yang tadak pernah habis dibincangkan oleh para pakar pendidikan. Baik di tulis maupun dibicarakan oleh para generasi Bangsa yang merupakan komponen penting dalam mewujudkan generasi cerdas yang mampu membawa sebuah perubahan.

Kalau kita bicara tentang pendidikan, terutama pendidikan di Indonesia, tidak bisa kita pungkiri bahwa realita pendidikan kita sekarang masih jauh dari harapan, dari apa yang menjadi cita-cita pendidikan. Masih dikatakan tertinggal jauh dari negara maju lainnya. Banyak solusi yang ditawarkan, yang katanya untuk memperbaiki sistim pendidikan di negeri ini. Tetapi nyatanya sistim itu mudah diganti tanpa ada evaluasi secara menyeluruh sampai di daerah pelosok. Dulu ada kurikulum cara belajar siswa aktif (CBSA) Link end mach, kemudian masa revormasi muncul kurikulum baru lagi, yakni kurikulum berbasis kompetensi manajemen berbasis sekolah. Kemudian tahun 2006 muncul lagi kurikulum baru lagi yakni KTSP. Saat itu guru-guru begitu disibukkan dengan pelatihan serta belajar tentang KTSP. Namun sayangnya belum lama KTSP berjalan, bahkan masih dibilang KTSP belum tuntas sekarang muncul lagi kurikulum baru, yang disebut kurikulum 2013 (K13). Hal ini menunjukan ketidakpastianya pendidikan di Negeri ini. Belum tuntas yang satu muncul lagi yang baru.

Pertanyaan kemudian, apakah pergantian kurikulum ini dapa meningkan pendidikan di Negeri ini? Jawabanya tentu tidak. Justru dengan digonta-gantinya kurikulum ini malah membingungkan para pendidik. Sebab para pendidik harus belajar lagi dari nol. Sebab kurikulum yang hampir di kuasai harus dilepaskan lagi. Sekarang pendidik bukan disibukan untuk mengajar. Malah disibukkan untuk perlunya belajar kurikulum baru, nanti malah imbasnya siswa sendiri.

Kita tidak nafikan bahwa pemerintah memiliki niat yang baik untuk meningkatkan kualiatas pendidikan di Negeri ini. Tapi bukan berarti sistim dan kurikulum itu harus diganti pada setiap pergantian Menteri. Kita harus pahami justru hadirnya kurikulum baru bukanlah solusi kongkrit untuk memajukan pendidikan di negeri ini. Tetapi, seharusnya pemerintah melihat apakah kurikulum ini bisa konek (nyambung) dengan pendidikan yang ada di pelosok Negeri. Seperti contohnya K13 hari ini, yang menuntut harus ada ini, ada itu. Sedangkan sekolah di pelosok, gedung saja hanya mengandalkan swadaya masyarakat. Satu ruangan disulap menjadi 3 ruangan.

Pendidikan di Indonesia tidak bisa kita samakan dengan pendidikan yang ada di America yang sarana dan prasarananya sudah lengkap, yang perlu diperhatikan oleh pemerintah hari ini bagaimana kualitas pendidiknya bukan kurikulumnya. Karena jangan sampai suatu saat nanti pendidikan hanya dijadikan sebagai rutinitas yang membosankan.


Penulis: Amran Albimawi

Share this post :

+ komentar + 1 komentar

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website