Headlines News :
Home » , » Jerit Indah Para Pendidik

Jerit Indah Para Pendidik

Written By Pewarta News on Senin, 17 April 2017 | 09.07

Eka Ilham, S.Pd., M.Si.
PEWARTAnews.com – Berbicara tentang pendidikan tidak akan ada habis-habisnya.  Persoalan pendidikan menyangkut tentang politik anggaran pendidikan yang cukup fantastis pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 tetapi realitasnya di lapangan anggaran pendidikan tidak memenuhi rasa keadilan di masyarakat terutama di pelosok-pelosok terpencil bahkan di perkotaan.

Persoalan Sarana dan prasarana pendidikan, hak guru, perlindungan guru dan problematika siswa. Suara para pendidik dalam beberapa tahun lantang dan kritis. Mengatakan banyak hal yang selama ini tampaknya ingin diredam: tentang sertifikasi, guru honorer hingga persoalan pendidikan karakter siswa yang semakin merosot. Potret itu begitu buram sehingga kita dibayang-bayangi oleh banyak kemelut yang tak mudah diselesaikan. Terasa jujur karena ini adalah para pendidik yang hidup dengan “gaji terbatas” tetapi dengan tanggung jawab “tanpa batas” pendidik yang mendidik menempatkan guru sebagai teladan bagi murid-muridnya, inspirator, motivator, fasilitator dan katalisator tetapi tidak seimbang dengan gaji yang diterima oleh guru terutama guru-guru terpencil dan honorer. Muncullah perlawanan-perlawanan dari guru bahkan siswa itu sendiri dalam kondisi bangsa hari ini.

Guru honorer yang memperjuangkan nasibnya yang belum di angkat-angkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), penghasilan guru sukarela/honorer yang tidak sesuai dengan upah minimum regional (UMR) dan rasa kemanusian, prilaku siswa yang diluar dari harapan pendidikan karakter, sertifikasi guru non pns tahun 2016 di bima yang belum terbayarkan sampai hari ini, persoalan dapodik sertikasi yang belum sinkron, kendala teknis Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMA/SMK, persoalan mutasi/rotasi yang tidak memuaskan beberapa pihak. Ini fakta yang menyakitkan tentang pendidikan nasib guru, gajinya tak cukup untuk hidup layak dan harus mempertaruhkan kehormatan guna memenuhi kebutuhan. Tak hanya itu profesi guru kerap kali dijadikan alat kekuasaan politik sesaat. Sepertinya profesi ini dibuat bukan untuk mendidik siswa yang berkarakter tetapi memberi teladan tentang ketidak-pedulian. Paras sesat itu pendidikan berjalan seperti alam buta:selalu berubah-ubah dan tak pernah mampu membahagiakan siswanya. Maka muncullah pendidikan perlawanan seperti jeritan luka yang mengorek apa yang selama ini dipendam.

Para pendidik yang disakiti, dianiaya, dan dibiarkan tenggelam dalam kesengsaraan. Sebuah perlawanan teriakan dan kemarahan pada situasi hari ini. Guru-guru ditekan untuk memenuhi kepentingan kekuasaan. Sudah barang tentu jerit ini jadi kekuatan yang agung karena diperankan oleh guru. Mereka yang terbiasa diam ketika kurikulum baru diterapkan, pasrah atas ketentuan pendidikan yang berubah-ubah dan tak banyak sanksi pada apa yang mereka ajarkan. Sedari awal memang tampaknya kebijakan guru diarahkan bukan untuk 'memotivasi' peran sebagai misi pendidikan yang mendidik tapi meneguhkan peran sebagai penyampai misi. Mirip dengan pipa, guru-guru hanya menjadi penyalur kepentingan-kepentingan yang ada diluar dirinya: penerbit yang mau bukunya laku, pemerintah yang ingin kekuasaannya lestari dan orang tua yang mau anaknya sukses.

Pendidikan yang mendidik dan melawan ini mengembalikan peran sebagai seorang pendidik. Bukan diam melihat ketidakadilan dan tidak begitu saja membiarkan pendidikan ini hanya sebagai proses seorang guru mentransfer ilmu dimana guru selalu sebagai sumber ilmu yang benar dan murid sebagai pendengar setia dari wejangan guru. Celakanya guru di anggap tidak pernah salah dan selalu benar. Pendidikan yang mendidik dan melawan tidak seperti ini tetapi pendidikan sesungguhnya melahirkan siswa-siswa yang kritis, inovasi, inovatif, dan berkarakter. Untuk itu peran guru meneguhkan sebuah posisi. Kalau guru bukan ranting yang ada dalam pohon kekuasaan serta tidak menjadi payung kalau keadaan sosial terancam.

Selamanya guru adalah pendidik: memberikan inspirasi pada anak didik untuk jadi yang terbaik dan memberi ruang yang luas bagi anak didik untuk meniupkan ide-idenya. Selama guru bisa menyalakan api semangat itu maka pendidikan yang kusam akan tetap membawa rasa optimis. Optimis kalau memang pendidikan itu apapun tujuannya tetap berhamba pada akal sehat dan merawat kesadaran kritis. Akal sehat akan menjadi pendidikan tetap memiliki logika pengetahuan dan kesadaran kritis akan membawa pendidikan dalam semangat  tidak mudah percaya begitu saja. Barangkali karena itu pendidikan itu harus mengentaskan guru terlebih dahulu: bukan saja kesehjahteraannya tetapi kepasrahannya untuk menerima keadaan. Tema pendidikan yang mendidik dan melawan seperti ucapan doa bahwa guru tak bisa selamanya seperti ini, mesti ada yang diubah dan berubah. Pada tepi harapan seperti itulah tema ini menawarkan sebuah simpul tentang dunia pendidikan di republik ini. Mungkin itulah guru: mengajari kita untuk tahu kepalsuan dan mengajari kita bagaimana melawannya “Guru Mendidik Itu Melawan”.


Penulis: Eka Ilham, S.Pd., M.Si.
Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima / Penulis Buku Kumpulan Puisi “Guru Itu Melawan”

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website