Headlines News :
Home » , , » Menyoal tentang Kata “Intelektual”

Menyoal tentang Kata “Intelektual”

Written By Pewarta News on Minggu, 02 April 2017 | 01.27

Dedi Purwanto.
PEWARTAnews.om – Intelektual merupakan kosa kata yang mainstream bagi kalangan mahasiswa/mahasiswi, apalagi bagi setiap kita yang menyandang status sebagai seorang akademisi dalam mengarungi samudera pengetahuan.  Tentu didalam pengembaraan itu sebelum kita memfokuskan pada point tentang intelektual. Seorang pengembara perlu memandang berdasarkan pada standar-standar ilmiah atupun non ilmiah. Perlu juga dibangun berdasarkan sikap yang heterogen maupun homogen. Heterogen dalam arti pengetahuan merupakan suatu bangunan struktur dari dasar komponen yang berbeda-beda, kemudian melahirkan suatu bentuk yang satu (deduktif-induktif), sedangkan homogen merupakan satu colak pandang yang melihat bahwa semua adalah satu kesatuan mutlak meskipun akan melahirkan struktur-struktur yang berbeda-beda (induktif-deduktif). Semua metodelogi, dasar analisis, rumusan masalah dan kompleksitas adminitrasi lainya wajib dijadikan sebagai cara untuk merumuskan dan merelisakan sebuah pengetahuan bagi setiap kita yang ingin sampai pada sebuah pencapaian.

Secara bahasa Intelektual berasal dari kata intelectus yang berarti cerdik, cerdas (latin) pikiran. Intelektual dapat diartikan juga berasal dari intelensia yang berarti kecerdasan. Menurut Ari Kinajar kecerdasan adalah persepsi tentang yang nyata dan a fortiori, persepsi tentang yang nyata itu sendiri. Sesuai kenyataannya, ia adalah pembeda antara yang nyata dan yang tidak nyata. Kemudian dia membagi kecerdasarkan menjadi dua bagian yaitu kecerdasan emosional (EQ) dan spiritual (SQ) (Ari Ginanjar, 2007). Berdasarkan paparan tersebut diatas dapat Penulis memberikan inklusi bahwa kecerdasan (intelektual) merupakan satu kesatuan yang utuh antara dimensi-dimensi yang berkaitan dengan emosional dengan sesuatu yang berkaitan dengan spiritualitas. hematnya dalam menganalis, berargumentasi dan menyampaikan suatu pengetahuan kita harus fasih dan baik namun di waktu yang bersamaan dibutuhkan peran atau keterikatan dengan dimensi etika, nilai, dan norma yang utuh supaya pengetahuan yang kita gagaskan dan aksi kan berbuah estetika.

Dari kaca mata yang berbeda, Penulis akan mencoba menguraikan intelektual menurut Antonio Gramsci. Sebelum kita bergulat dengan pemikirannya, Gramsci merupakan seorang tokoh politik dan filsuf Italia yang sangat terkenal di era 1920-1930an. Dia adalah filsuf post-marxisme yang memberikan kritik secara konstruktif terhadap pandangan marxisme dalam menganalisis fenomena sosial politik.  Gramsci memberikan pemaknaan yang luas tentang definisi “intelektual”. Menurutnya intelektual bukan hanya aktivitas berpikir saja seperti pemikir tetapi intelektual mencakup ke semua hal yang mencakup suatu keahlian tertentu. Gramsci membagi kaum intelektual menjadi dua model, yakni intelektual tradisional dan intelektual organik. Inteletual tradisional merupakan inteletual yang hanya terpusat pada dimesi teori saja, sedangkan intelektual organik adalah intelektual yang mampu mengkolaborasi dan memadukan antara teori dengan realitas sosial. Intelektual organik dengan demikian adalah intelektual yang dengan sadar dan mampu menghubungkan teori dan realitas sosial yang ada (Roger Simon, 1999: 19-20). Ada hubungan yang erat antara Negara, politik, hukum dan inteletual. Gramsci berpendapat bahwa intelektual organik sangat berperan sekali dalam suatu negara untuk meneguhkan hegemoni (suatu kuasa dalam menjalankan kekuasaan nya dengan cara kekerasan dan persuasi).

Gambaran yang terlihat dari uraian-uraian diatas, dapat kita tarik suatu kesepakatan sederhana bahwa intelektual merupakan kerja-kerja yang komplek dan menyeluruh, baik dimulai pada lingkungan keluarga (primer) maupun dalam konteks Negara. Menyangkut juga hal-hal yang bersifat indrawi maupun ukhrawi, idealis maupun materialis. Dari fungsi-fungsi yang kompleks ini sudah semestinya kita sebagai seorang yang bersandar pada bahu intelektualitas, mulai membicarakan kembali status, sifat, dan peran intelektual dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maupun beragama. Karena inteletual tidak hanya menyangkut suatu kalimat ilmiah akan tetapi juga menyoalkan tentang fungsi-fungsi ilmiah dan sosial, fungsi-fungsi etika, nilai, maupun norma secara keseluruhan. Dalam membangun suatu peradaban yang beradab, kesadaran organik menjadi hal yang mendasar agar tumbuh dan berdaya nya suatu inteletualitas. Kesadaran organik merupakan suatu struktur kesadaran yang terbangun dari kekecewaan terhadap realitas, kekecewaan yang lahir dari kepekataan rasa dan kepekaan sosial (filsafat, yuridis, dan sosiologi). Bukan yang lahir dari berandai-andai dalam meng-andai-kan suatu kenyataan. Kerja inteletual adalah kerja yang menyeluruh.

Selamat berpetualangan di dalam rimba pengetahuan.


Penulis: Dedi Purwanto
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta  / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website