Headlines News :
Home » » Tumbal Politik "Ahok"?

Tumbal Politik "Ahok"?

Written By Pewarta News on Selasa, 25 April 2017 | 21.23

Eka Ilham. 
PEWARTAnews.com -- ''Kinerja Ahok menurut masyarakat Jakarta 72% memuaskan tetapi munurut hati dan takdir Allah SWT tidak mampu memenangkan Ahok"

"Segala sesuatu dan upaya pada akhirnya takdir Allah SWT yang menentukannya"

Politik adalah berbicara kekuasan siapa yang strategi dan taktiknya mumpuni itu yang akan menjadi pemenang, yang kalah akan menjadi pencundang dan tumbal dari politik itu sendiri. Menurut penulis, pilkada DKI memberi contoh bahwa tumbal politik 'ahok' sangat banyak di tingkat pucuk pimpinan dalam partai, pejabat, artis, dan para penista-penista agama. Dengan kekalahan 'Ahok' yang nota bene dari etnis keturunan China yang dengan congkaknya menistakan agama mayoritas di Indonesia di Kepulauan Seribu Jakarta dalam pertarungan dengan Anies Baswedan dan Sandi Salahudin Uno di Pilkada Jakarta yang menghabiskan banyak energi bagi bangsa ini sedikit nggak memecah konsentrasi pembangunan negeri ini. Pasca kemenangan Anies-Sandi banyak tumbal politik yang berjatuhan. Mereka adalah para petinggi-petinggi dan pesohor negeri ini yang merupakan pasukan Ahok.

Para petinggi itu mengalami kekecewaan atau kehilangan kepercayaan diri, dan ada yang mengalami kondisi kejiwaan serta kebingungan mengenai hasil penghitungan cepat yang sangat jauh 15 % dari pasangan Ahok yang menurut perkiraan mereka tidak sejauh itu kemenangan bagi Anis-Sandi. Mereka hancur dan terkapar setelah Ahok, si penista agama yang mereka jagokan untuk terus menduduki Gubernur Jakarta, yang menurut hasil kepuasaan masyarakat jakarta dalam hal kinerja mendapatkan 72 % kepuasaan, mereka beranggapan tidak ada celah kemenangan bagi Anis-Sandi tetapi realitasnya Ahok kalah telak di pasangan Anies Sandi. Kerja keras tim Ahok pada akhirnya dikalahkan oleh takdir dari Allah SWT.

Para petinggi dan koalisi pro-Ahok yang mengalami kondisi kekecawaan yang sangat berat karena kemenangan Anis-Sandi diluar akal pemikiran mereka, sebut saja antara lain adalah ketua umum PPP yang sedang berkonflik, yaitu Muhammad Romi Romahurmuziy dan Djan Faridz. Pembesar PPP ini yang merupakan pemimpin partai belambang ka'bah ini yang partai yang dibangun oleh tokoh-tokoh islam yang beridoelogi islam dan berbasis massa islam diluar dugaan oleh kader ditingkat grassroot(akar rumput) terang-terangan mendukung Ahok yang nota bene adalah bukan se-iman yang membuat kekuatan PPP terpecah belah dalam pilkada jakarta. Romi dan Djan farid terang-terangan memperkuat dukungan ke Ahok dalam politik pilkada Jakarta.

Pasca kemenangan Anis-Sandi Romi dan Djan dimungkinkan akan ada gerakan dari internal partai dan bassis massanya untuk menggantikan mereka dari posisi ketua umum karena sikap dan tindakan mereka sangat parah menyalahi marwah partai yang berlambang ka'bah. Mereka kemungkinan akan terjadi gesekan atau benturan di tubuh partai PPP. Karena, Romi dan Djan Farid terang-terangan mendukung Ahok berdasarkan keputusan sendiri dan tidak melihat latar belakang dan marwah partai PPP. Sekarang, tampaknya PPP akan segera mencari pengganti Romi dan Djan. Kemungkinan Abraham Lunggana atau Haji Lulung yang sejak awal tidak mendukung Ahok diperkirakan akan menggantikan posisi ketua umum PPP entah melalui mekanisme partai atau penurunan secara paksa.

Tumbal selanjutnya Setya Novanto, ketua umum Golkar. Dukungan Setya Novanto pada Ahok dalam pilkada Ibukota jakarta membuat dia juga mengalami kondisi akut. Karena di internal partai dan sesepuh golkar sebut saja Aburizal Bakrie dan Yusuf Kalla yang tidak setuju Setnov membawa partai itu mendukung Ahok. Bagi mereka sesepuh-sesepuh di Golkar yang memiliki pengalaman dalam hal berpolitik bahwa Golkar mengetahui Ahok tidak bisa memiliki kans untuk memenangkan Pilkada Jakarta mengingat banyaknya persoalan pribadi yang menimpa Ahok dalam hal penistaan agama. Sikap politik Setnov tidak di restui oleh sesepuh-sesepuh Golkar walaupun idoelogi partai adalah nasionalis namun banyak tokoh-tokoh muslim yang berada di partai Golkar yang sejak awal sangat tidak respek pada persoalan penistaan agama.

Diperkirakan, Setnov pun tidak dapat diselamatkan untuk bertahan hidup di kerajaan Golkar. Kemungkinan elit-elit politik dan sesepuh Golkar bersiap-siap untik menumbangkan Setnov dari Ketua Umum Partai Golkar.

Selanjutnya Nusron Purnomo alias Nusron “Wahid”. Kelihatannya akan memerlukan ketenangan jiwa karena sangat terpukul dengan kekalahan Ahok sahabat nasraninya. Nusron yang sejak awal memposikan dirinya adalah pendukung dan pengawal Ahok terkenal dengan mata melototnya yang terang-terangan menghardik ulama” ketika berbicara di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di TVOne. Nusron yang juga katanya adalah dari NU Banser Anshor yang dari awal tidak senang dengan aktifitas FPI dan Demonstrasi Aksi 212 Al-Maidah pada kesempatan Pilkada DKI belum mampu mengkondisikan sahabat-sahabatnya untuk memenangkan Ahok. Nusron akan menjadi sorotan negatif dari para ulama tentang sikap tidak etisnya terhadapa sesepuh ulama.

Kemudian tokoh sentral Surya Paloh, ketua umum Partai NasDem. Tokoh yang mengidentikkan dirinya sebagai Soekarnois sejati pemilik media Metro TV ini jelas sangat kecewa atas kekalahan Ahok. Surya Paloh memberikan dukungan habis-habisan kepada Ahok. Kemungkinan Komandan restorasi menyimpan rasa malu seumur hidup ke anak buahnya di Metro TV yang giat mempropaganda, framing, plintir dan pembalik faktanya sendiri, melalui media yang dia miliki karena semua usaha itu akhirnya dibalas oleh Allah SWT dengan kemenangan Anis-Sandi di Pilkada Jakarta.

Selanjutnya adalah Luhut Binsar Panjaitan. Di dalam pilkada DKI, Luhut terbilang mengalami luka berat yang bakal sulit disembuhkan, karena proyek Reklamasinya kemungkinan besar akan ditolak oleh gubernur baru Anis-Sandi. Luhut sangat kecewa. Luhut inilah yang melakukan lobi ke segala arah untuk menggolkan Ahok menjadi gubernur DKI. Luhutlah negosiator ulung untuk memenangkan Ahok dan melobi para pimpinan partai seperti PPP, PKB, HANURA. Partai ini sebenarnya lahir dan besar karena konstituennya mayoritasnya dari umat islam. Mereka tidak melihat sejarah perjalanan partainya 'lupa sejarah' tapi faktanya kepercayaan konstituen dari umat muslim ini justru melenceng dari keinginan simpatisan umat muslim.

PPP, PKB yang marwah partainya adalah Islam jauh dari kata keberpihakan terhadap Islam. NASDEM, GOLKAR dan HANURA yang memang partainya berkiblat pada nasionalis tetapi tidak dapat dipungkiri konstituen akar rumputnya adalah umat muslim. PAN untuknya partai yang berbasis Islam yang didirikan oleh Prof. Amin Rais ini mampu membaca celah politik kemenangan Anies-Sandi yang sebelumnya PAN berlabuh pada gerbong Agus-Sylvie dan kelompok cikeas. Kekalahan mereka pada putaran pertama membuat elit-elit politik di bawah komando Zulkifi Hasan tidak mau menelan pil pahit dalam kancah perpolitikan, mereka juga menyadari dari awal sikap pendiri partai reformasi ini yaitu Prof. Amin Rais kecenderungannya pada ghirah keumatannya terbukti dengan setiap aksi atas penistaan agama oleh Ahok, Prof. Amin Rais memberikan dukungan penuh terhadap aksi 212, 313 hal ini jugalah yang membuat elit politik PAN berpikir dua kali untuk berselingkuh dengan kelompok Ahokers, Mereka tidak mau menanggung malu ataupun di hujat oleh umat muslim sebagai partai pendukung penista agama. Lain halnya dengan partai DEMOKRAT yang masih selalu menggunakan politik netral SBY yang walaupun di tingkat akar rumput simpatisan Agus-Sylve 70 % kecenderungannya memilih Anies-Sandi daripada Ahok. Hal ini dapat dilihat ditingkat elit partai Demokrat SBY yang sejak dari dulu memang memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan ketua umum PDIP ibu mega. Konon katanya keterlibatan Agus-Sylvie di Pilkada Jakarta adalah upaya strategi dan taktik SBY untuk menjegal politik ibu Mega. Walaupun pada akhirnya masyarakat sangat menyayangkan langkah politik SBY yang mengorbankan karir militer putranya Agus Yudhuyono. Langkah politik SBY paling tidak telah memberikan andil kekalahan terhadap Ahok.

Partai-Partai yang beridoelogi Islam seperti PPP, PKB selalu mengatasnamakan kebhinekaan tetapi tidak melihat suara arus bawah, untungnya PKS dan PAN tidak menjadi bagian dari pendukung Ahok sedikit nggak untuk politik kedepannya partai ini masih ada tempat di hati umat Islam. Sepertinya partai-partai milik para elit saja, pertanyaannya tujuan mendirikan partai untuk apa? untuk apa simbol-simbol Islam di tegakkan pada atribut-atrbut Partai dan visi misi partai yang pada akhirnya melukai para pendiri terdahulu dan konstituennya. Sungguh sebuah diluar akal pemikiran kita yang awam. Berpolitik boleh tetapi jangan lupa identitas dari partai tersebut.

Jenderal Wiranto, Mantan jenderal ini menyerahkan partai Hanura ke koalisi Bu Mega untuk memperkuat kubu Ahok. Tetapi kelihatannya Wiranto hanya mengalami luka ringan sebab dia sejak awal tidak begitu serius mendukung Ahok; hanya bentuk solidaritas saja sekadar menyenangkan Presiden Jokowi yang mengangkatnya menjadi menko. Tampaknya nafsu bertempur bapak satu ini sudah dikebiri entah sejak kapan.Terlihat dalam setiap gerakan Islam, Jendral satu ini selalu berada didepan dalam menegosiasi dengan para ulama karena jendral ini nota bene katanya di negeri antabranta disebut 'Jenderal Hijau'.

Ruhut Sitompul, si poltak raja minyak dari Medan. Salah seorang propaganda ulung? Ahok, juga mengalami guncangan jiwa dalam Pilkada Jakarta karena dia sudah berjanji 'potong kupingku kalau ahok kalah'. Iyah, namanya si poltak raja minyak dari Medan ibarat sinetron yang diperankannya dalam sinetron 'Gerhana' mampu menyusaikan diri ibarat bunglon loncat sana loncat sini. Bagi Ruhut Sitompul politik adalah 'panggung sandiwara' lukanya tidak begitu parah, hanya saja kedua kuping si Ruhut Sitompul hancur berantakan kena sabetan pedang tumpul. Mantan anggota DPR Partai Demokrat yang terkenal suka loncat ke mana-mana untuk bisa bertahan hidup, kemungkinan akan membuat jurus baru dari cara bicaranya untuk mencari tempat loncatan baru atau partai baru sambil menunggu tuntutan rakyat dengan janjinya memotong kuping kalo Ahok kalah.

Selanjutnya yang sangat terluka, korban perasaan yang paling besar tentunya dialami oleh Ibu Megawati yang sangat berkorban untuk membela Ahok dari gempuran-gempuran selama Pilkada Ibu Kota Jakarta. Putra 'mahkota' Ahok harus menelan pahit kekalahannya di Pilkada Jakarta karena ulah dirinya sendiri. Kekalahan Ahok lebih dari sikap pribadinya sendiri. Hal ini di akui sendiri oleh Ahok pada saat di wawancarai oleh kru Metro TV pasca kemenangan Anies-Sandi. Ibu Megawati pasti sangat terpukul karena pembelaan terhadap Ahok sampai sentimen terhadap umat Islam acap kali di ucapkan pada umat Islam yang melukai hati umat salah satunya ucapannya tentang 'Islam bukan berasal dari Arab' memicu kritikan dari umat Islam.

Steven merupakan putra orang terkaya urutan 101 di dunia ini yang dengan arogansinya menghina seoarang ulama gubernur NTB dengan tidak pantas dia lakukan menjadi viral di media dan rakyat Indonesia betapa arogansi itu telah menghancurkan sendi-sendi kebhinekaan. Terlepas dari persistiwa itu paling tidak secara politis mempengaruhi kekalahan Ahok. Ada kesadaran kolektif dari masyarakat Jakarta. Mereka butuh gubernur baru yang bukan hanya pekerja keras tetapi mereka butuh keteladanan dari seorang pemimpin. Belajar dari politik DKI Jakarta kekuatan agama mengalahkan idoelogi-ideologi yang dibangun oleh manusia itu sendiri. Itu masih berlaku di Republik ini.

Nah! kita sekarang lihat kondisi pendukung kotak-kotak ini seperti para pesohor Republik ini seperti para artis pendukung Ahok dengan berbagai ekspresi mereka ungkapkan lewat media atas kekecawaan kekalahan Ahok yang merupakan luka panjang yang harus mereka bawa seumur hidupnya. Mereka terlanjur mempersonifikasikan dirinya sebagai Ahok. Kekalahan Ahok adalah kekalahan dirinya. Bagi mereka Ahok adalah Idolanya bahkan ada yang lebih ekstrim Ahok adalah 'Tuhannya', memilih jalan oposisi, menginginkan pindah kewarganegaraan sampai se ekstrim itu. Lucunya hari ini entah siapa yang memulainya Ahok di gadang-gadang sebagai calon menteri dalam negeri oleh Jokowi. Sungguh kehidupan dunia telah membutakan setiap akal dan pikirannya.

Hari ini kita dihadapkan pada proses hukum Ahok dimana Hakim dan Jaksa Penuntut Umum dipersidangan memberikan tuntutannya satu tahun dan dua tahun masa percobaan pada potret keadilan di Indonesia. Umat merasa pengadilan negeri ini tidak bisa memenuhi rasa keadilan. Luar biasa keadilan di negeri ini sekali ajaib bin ajaib pertimbangan kinerja dan jasa Ahok tiga tahun di Jakarta menjadi pertimbangan Hakin dan Jaksa meringankan hukuman bagi Ahok. Bu Yani pelapor penista menerima hukuman enam tahun dan bapak Dahlan Iskan yang dalam hidupnya penuh kesederhanaan dan telah memberikan sumbangsih yang sangat besar dari republik ini harus menelan pahit keadilan di republik ini.

Penulis dan para pembaca mengambil hikmah dari tulisan ini.

"Sesungguhnya Kerja Keras Tidak Akan Mampu Mengalahkan Takdir Dari Allah SWT". Jadi hidup jangan jumawa, sehebat-hebatnya kita tidak akan mampu menghadapi takdir dari Allah SWT.



Penulis: Eka Ilham, S.Pd., M.Si.
Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Bima.
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website