Headlines News :
Home » , , » Undang-Undang Dasar Sebagai Dasar Hukum, Panacasila Sebagia Landasan

Undang-Undang Dasar Sebagai Dasar Hukum, Panacasila Sebagia Landasan

Written By Pewarta News on Senin, 17 April 2017 | 10.40

Amran Al-Bimawi.
PEWARTAnews.com – Salah satu pokok pikiran dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 (UUD 45) bunyinya yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan dasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pembukaan UUD 45 ini diterima semua aliran karena mengandung pengertian negara persatuan, negara yang melindungi dan meliputi segenap bangsa seluruhnya. Jadi negara mengatasi segala paham golongan yang ada dan paham perseorangan. Negara menurut pengertian pembukaan,menghendaki persatuan yang meliputi segenap bangsa Indonesia seluruhnya. Inilah suatu dasar Negara yang tidak bisa di lupakan oleh kita semua sebagai genersi penerus, dan  kita dituntut untuk taat dalam menjalankan amanah Pancasila dan UUD 45 yang telah diwariskan oleh para the fonding father.

Negara dibangun diatas segala paham dan semua golongan. Namaun pada kenyataanyan yang dirsakan masyarakat saat ini, Negara seakan dikendalikan oleh segelintir orang yang berkepentingan didalamnya, hingga nilai-nilai Pancasila dan UUD 45 maknanya seakan hilang ditelan bumi. Perjalan bangsa ini terlalu banyak yang menyabotase hingga melaju diluar rel seharusnya, sebagai mana yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa. Hal inilah yang membuat bangsa ini semakin terpuruk hingga jatuh pada kubangan kemiskinan.

Bangsa yang begitu besar dan sumber daya alam yang melimpah ruah, namun diterka oleh kemiskinan yang begitu sulit untuk dimengerti, seakan-akan hal ini dibuat tanpa solusi yang konngkrit oleh pelaku pengambil kebijakan di negeri ini. Hingga rakyat merasa keadilan dan kemerdekaan harus direbut dengan darah. Hingga tak jarang NKRI digoyangkan oleh sekelompok masyarakat diberbagai daerah yang berujung pada konflik yang berkepanjangan.

Hal inilah yang harus dipahami dan diawasi oleh kita semua. Lihatlah situasi ekonomi, politik, sosial budaya nasional kekinian. Kondisinya sudah mengkristal menjadi sisitim sosial yang mensyaratkan secara material, masih dibawah penindasan, dan penghisapan manusia atas manusia. Sistim itu tiada lain kapitalisme yang bergerak memuncak sampai dengan level yang tertinggi, hingga dewasa ini telah sampai di tingkat daerah.

Kenyataan itu ditambah lagi keadaan objektif tatanan sosial politik Indonesia yang makin hari makin tidak menunjukan keberpihakannya pada rakyat. Rakyat hanya dijadikan objek kepentingan semata, konstituennya manakala rezim komperadom yang berkuasa dalam tindak tanduk politiknya masih mempraktekan apa saja yang diperintahkan oleh kaum pemodal yang berpusat di negeri-negeri kapitalis maupun di lembaga-lembaga moneter internasional. Sehingga arus demokratisasi yang bergerak sejak revormasi digulirkan terinterupsi dan dibuata semakin mendekat kesistem yang liberal.

Imperealisme yang membangun persekutuan di negeri ini, dengan para komperadomnya sejak kekuatan tangan besi (orde baru) hingga sampai hari ini mereka masih memainkan mesin-mesin pendindasanya. Oleh karena itulah sudah menjadi suatu keharusan bagi kita sebagai generasi bangsa yang mengisi kemerdekaan ini dengan penuh tanggung jawab dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesi. Sudah saatnya kita harus bergerak agar mengimbangi langkah dan tindakan mereka yang hegemonik dan sistimatis. Dengan membuat dan mempersiapkan kemudian menjalankan sistim pendidikan yang progrsif (teori maupun praktek) kepada masyarakat agar dapat menghancurkan ilusi sesat dalam pikiran mereka. Sudah saatnya kita menyatukan prsepsi dan merapatkan barisan untuk menggapai perubahan serta membangun kembali NKRI berdasarkan nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 45.

Tindakan agar perubahan itu dapat terwujud, pemerintah harus mampu melakukan berbagai upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Disertai dengan pemerintahan berdasarkan pada proses politik yang demokratis di semua aspek tatanan pemerintahan.

Krisis multidimensional yang kini terjadi dapat menjadi daya dorong jika upaya-upaya kearah pertumbuhan keadilan dan demokrasi dilaksanakan secara konsisten serta dasar moral, dan yang paling penting adalah pemerintah harus meletakan budaya sosial, politik, hukum, dan ekonomi  secara manusiawi.

Panglima revolusi mengharapkan agar kita generasi dapat menyatukan persepsi untuk mengisi kemerdekaan dalam mengurus negeri ini. Tentu dalam hal ini bukan hanya pada konseptual saja, namun lebih  pada implementasi yang ril hingga dapat melanjutkan manifesto intelektual Bung Karno cs,  agar dapat mewujudkan keadilan merata di negeri pertiwi ini.

Dalam hal ini tentu kita membutuhkan semangat intelektual yang kuat dalam menghadirkan solusi aplikatif, karna perjuangan fisik sampai kapan pun jikalau penyelenggara selanjutnya masih dengan sifat dan tabiat didikan lama serta sistim yang sama serta tradisi dan budaya yang diulangnya, pastinya akan mirip-mirip juga hingga dapat menimbulkan kekecewaan gaya baru lagi. Tapi bila greand Pancasila telah melahirkan negara Pancasila semuanya sudah keadaan terbungkus hakiki dalam pancasila.

Walaupun gerakan saat ini beda dengan gerakan Bung Karno Cs saat itu yang musuhnya sudah jelas, sedangkan musuh kita saat ini tidak jelas mana kawan dan mana lawan. Tetapi bila kita mampu menanamkan ideologi Pancasila pada anak negeri, maka kita mampu bangkit menyempurnakan NKRI hingga terciptanya tatanan baru yang berideologi pancasila, dan kita akan menjadi pembaharuan sekaligus tungku pembakar bagi kemajuan negeri yang adil dan makmur.

Walaupun kita berenang dalam trend zaman ke zaman, namun ideologi Pancasila dan cita-cita berbangsa tetap ada dalam diri dan sanubari setiap anak negeri yang telah diwariskan indah oleh peradaban luhur genersi Bung Karno cs.    

Bung Karno mengatakan dalam bukunya “Di Bawah Bendera Revolusi” yaitu: Asas-asas, perjuangan, dan taktik. Banyak orang di dalam pergerakan, yang belum paham tiga perkataan yang tertulis di atas ini. Asas di campur dengan asas perjuangan, asas perjuangan di selipkan pada taktik, asas perjuangan di kiranya asas, asas dikiranya perjuangan.misalnya; non kooperation di sebutkan asas padahal non kooperation itu adalah suatu asas perjuangan sebagaimana dulu pernah saya uraikan.

Apakah asas? Apakah asas perjuangan? Dan apakah taktik?

Asas adalah dasar atau “pegangan” kita walau sampai lebur kiamat terus menentukan sikap kita, terus menentukan nyawa kita. Asas tidak boleh kita lepaskan, tidak boleh kita buang walau kita sudah mencapai Indonesia merdeka, bahkan malahan sesudah tercapainya Indonesia merdeka itu harus menjadi dasar cara kita untuk menyusun masyarakat. Sebab justru sesudah Indonesia merdeka itu timbulah pertanyaan; bagaimanakah kita menyusun kita punya pergaulan hidup? Dengan asas atau cara bagaimanakah kita menyusun kita punya pergaulan hidup? Cara monarchie? Cara repoblik? Cara kapitalitis? Cara sama rasa sama rata? Semua pertanyaan-pertanyaan ini, dari sekarang sudalah harus terjawab oleh asas kita.

Esensi Manusia Individual
Karakteristik dasar manusia sebagai mahluk personal pertama-tama memuat dimensi jasmaniah dan rohaniah. Dimensi individual sosial disetiap manusia adalah individu tertentu yang merupakan suatu kesatuan yang tak terbagi (gestalt) unik dan otonom.

Disamping sebagai mahluk individual, manusia juga merupakan mahluk sosial (ada dalam kebersamaan) dengan yang lain. Hal ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, namun terjadi secara struktural dan hakiki terjalin dengan keberadaanya sebagai manusia.

Dalam hal ini kita sebagai manusia yang hidup dalam suatu Bangsa, dituntut untuk selalu bersama dalam membangun sebuah ide dan konsep yang mengedepankan nilai-nilai kemnusiaan agar dapat memberikan keadilan yang merata.


Penulis: Amran Al-Bimawi

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website