Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    FIMNY Sukses Adakan Penyambutan Mahasiswa Baru

    Para Maba saat berfoto dengan Ketua Umum FIMNY.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) telah sukses melaksanakan kegiatan penyambutan mahasiswa baru periode 2017-2018, pada hari Rabu, 24 Mei 2017 yang bertema “Menciptakan Geneasi Muda yang Berpendidikan Berbudaya dan Berahlakul Qarimah”, berlangsung di Aula Golkar Yogyakarta.

    Selain peyambutan mahasiswa baru, pengurus FIMNY juga merangkaikannya dengan sosialisasi program kerja selama kepegurusan FIMNY periode 2017-2018, dan diadakan juga Dialog Publik yang menghadirkan tiga pemateri yang berkompeten dibidangnya.

    Pada awal pembukaan acara, Ketua Panitia Ainul Rofik dalam sambutanya menyampaikan terimakakasih kepada seluruh hadirin yang berkesempatan hadir dalam kegiatan tersebut. “Terima kasih kepada semua anggota FIMNY, baik itu pengurus maupun senior. Karena telah menghadiri acara penyambutan mahasiswa baru ini, selamat datang kepeda teman-teman mahasiswa baru, selamat datang di kota Yogyakarta,” beber mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

    Pemateri pertama yaitu saudara  Dedi Purwanto (Mantan Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta [DPC PERMAHI DIY] / Mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dengan materi yang di sampaikan tentang “kebudayaan”. Saat peyampaian  materi beliau megatakan bahwa,  “Budaya itu sendiri tercipta dari akumulasi Rasa, Cipta, cinta juga nilai nilai yang di anggap baik dan buruk.  Rasa itu apa yang terkontrusi di dalam jiwa, sedangkan cipta itu sesuatu yang dilihat dengan kasat mata,” bebernya.

    Pemateri kedua disampaikan oleh Ketua Umum Keluarga Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta saudara Agus Salim, dengan materi yang di samapaikan tentang “Pergaulan”, menurut beliau pergaulan adalah suatu interaksi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan interaksi dengan kelompok dan kelompok. “Pergaulan juga mampu menggerakkan mahasiswa sebagai agen yang megontrol dan agen yang membawa suatu perubahan,” tutur mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. 

    Pemateri ketiga adalah Mantan Ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta, saudara M. Jamil, S.H. dengan materi yang disampaikan tentang “Pendidikan”. Pendidikan menurut beliau merupkan suatu proses pembentukan karakter seseorang secara intelektual. “Pendidikan merupakan suatu proses pembentukan karakter seseorang secara intelektual dan emosional yang diwariskan dari generasi ke generasi,” beber Mahasiwa Pascasarjana Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

    Para pemateri, kanan ke kiri (M. Jamil, S.H., Agus Salim, Dedi Purwanto) dan moderator Abdurrahman Ismail.
    Ketiga pemateri tampil dalam satu panggung, untuk memperlanjar berjalannya dikusi maka didampingi oleh moderator Abdurahman Ismail (Mahasiswa Universitas Widya Mataram Yogyakarta).

    Acara berjalan lancar, saat diskusi pun terlihat meriah karena terjadi interaksi yang aktif antara peserta yang hadir dan para pemateri. Kegitan tersebut dihadiri semua pengururus, anggota, dan senior-senior FIMNY.


    Penulis: Jumratun
    Bidang Hubungan Masyarakat Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Ambaarukmo Yogyakarta (STIPRAM).

    Kontroversi Sang "Ulama"

    Muammar Kadafi. 
    PEWARTAnews.com – Akhir-akhir ini cukup banyak kita menghabiskan tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yang tidak produktif. Satu sisi kita mengeluh dengan kondisi bangsa yang tak kunjung maju, tapi di sisi lain justru kita sendiri yang menghambat kemajuan itu. Kondisi yang terbaru terkait dengan dukungan terhadap seorang "Ulama" yang pada akhirnya akan berujung pada aksi yang mengganggu stabilitas dan hak-hak orang lain. Saya sebenarnya tidak mendukung siapa pun. Saya hanya selalu menilai sesuatu secara kritis dan objektif. Bagi saya, apapun yang terjadi, toh hidup kita hanya bergantung pada diri kita sendiri. Di akhirat pun kita akan mempertanggung jawabkan perbuatan kita masing-masing.

    Beberapa hari belakangan ini banyak yang menyerukan aksi "Bela Ulama". Ulama yang dimaksud tentu saja yang sekarang sedang menjalani proses hukum terkait dengan kasus yang membelitnya. Saya sering bertanya, apakah orang-orang yang membuat status dan menyerukan orang-orang untuk meng-copy paste status tersebut sudah berusaha untuk berpikir sejenak sebelum melakukan itu?

    Seperti apakah sebenarnya kriteria seseorang agar bisa disebut Ulama? Ulama itu bukan titel yang didapat dari bangku kuliah. Ulama itu bukan masalah sorban dan janggut semata. Bukan juga karena pandai berceramah dan memiliki banyak pengikut. Ulama itu pewaris para nabi. Apakah anda tahu bagaimana sifat-sifat Nabi? Itulah seharusnya sifat seseorang yang pantas disebut Ulama. Jika Nabi sudah dijamin masuk surga, maka Ulama juga seperti itu. Bagaimana mungkin seseorang disebut Ulama jika sifatnya jauh dari sifat-sifat Nabi? Bagaimana mungkin sebutan Ulama disematkan pada seseorang yang tidak mampu menjaga tutur katanya?

    Apakah pernah terdengar keluar dari mulut Nabi kata-kata kotor seperti an**ng atau bang**t? (itu hanya beberapa kata yang saya dengar langsung dari video). Jika pewaris Nabi disematkan pada seseorang yang seperti itu, sungguh rendah derajat Nabi di mata anda.

    Saya sampai detik ini tidak mau menyerukan kata-kata "bela Ulama" jika Ulama yang dimaksudkan adalah orang yang saya anggap belum pantas disebut Ulama.

    Wallahu a'lam bissawab.
    Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.


    Yogyakarta, 21 Maret 2017
    Penulis: Muammar Kadafi

    PUSMAJA Raih Tropi Juara II dalam Turnamen Futsal IPM-LU

    Keluarga besar PUSMAJA usai meraih piala Juara II. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Tim Futsal Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta mengantongi tropi Juara II dalam ajang turnamen futsal yang diselenggarakan Ikatan Pelajar Mahasiswa Lombok Utara (IPM-LU) Yogyakarta pada tanggal 19-20 Mei 2017.

    Ketua umum PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta M. Saleh Ahalik, S.Pd. mengatakan prestasi yang di dapat PUSMAJA kali ini merupahan hasil keringat dan semangatnya tim PUSMAJA melatih jauh-jauh hari sebelum turnamen diselenggarakan. "Trophy yang kami dapatkan pada hari ini belum membuat kami merasa puas, namun kami bangga atas prestasi yang sudah kami raih. Prestasi ini semata mata karena kerja keras dan latihan yang rutin oleh teman-teman PUSMAJA. Semoga turnament selanjutnya PUSMAJA mampu membawa pulang trophy lagi," ucapnya pada PEWARTAnews.com tidak lama setelah mengantongi tropi juara II.

    Atas kemenangan yang di raih PUSMAJA, mantan Ketua Umum PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta M. Jamil, S.H. juga turut bangga dan mengucapkan selamat atas pencapaian tersebut. "Saya ucapkan selamat buat PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta yang telah sukses meraih Juara II dalam turnamen yang diselenggarakan oleh teman-teman IPM-LU. Tetap semangan menjalankan komunikasi dan kolaborasi dengan lembaga lain, salahsatunya dengan keikutsertaan turnamen seperti ini. Kalau pun membawa pulang tropy seperti hari ini, itu menjadi nilai plus saja, tidak dijadikan tujuan paling utama. Namun kalau sudah rezekinya meraih juara, sebagai keluarga besar PUSMAJA saya juga ikut merasa bangga dengan ini," beber M. Jamil.

    Juara II yang di raih tidak terlepas dari kerja keras dan semangat para pemainnya. Berikut para pemain PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta yang dimaksud: (1) Ian (sebagai Kiper), (2) Wahyu, (3) Farid, (4) Lubis, (5) Fiul, (6) Nanang, (7) Iwan, (8) Afif, (9) Yan, dan (10) Enos. (PEWARTAnews)

    HMP UGM Gelar Workshop Kesehatan Nasional

     Direktur Sekolah Pascasarjana UGM ibu Prof. Ir. Siti Malkhamah M. Sc., Ph.D. didampingi oleh Ketua HMP UGM Muhammad Takbir Malliongi, S.Phil., S.Pd., M.Phil., M.Pd. saat membuka Workshop Kesehatan Nasional. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (HMP-UGM) menggelar workshop kesehatan nasional pada hari Kamis, 11 Mei 2017 dengan mengangkat tema "Tantangan Pelayanan Kesehatan Primer dalam Rangka Mensukseskan Program Indonesia Sehat Berbasis Pendekatan  Keluarga".

    Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama HMP-UGM dengan Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) dengan menghadirkan dua pembiciara utama, diantaranya dr. Anung Sugihantoro, M.Kes beliau adalah kepala Direktorat Jenderal kesehatan masyarakat Kementerian Kesehatan serta Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D. selaku ketua PPPKMI D.I. Yogyakarta.

    Kegiatan ini terlaksana di Hotel Cordela Kartika Dewi Yogyakarta dan dibuka langsung oleh Direktur Sekolah Pascasarjana UGM ibu Prof. Ir. Siti Malkhamah M. Sc., Ph.D. didampingi oleh Ketua HMP UGM Muhammad Takbir Malliongi, S.Phil., S.Pd., M.Phil., M.Pd.

    Dalam sambutannya beliau menyampaikan apresiasi kepada pengurus HMP-UGM telah berhasil menghadirkan kepala seksi Promkes dan kepala Puskesmas mewakili Sabang sampai Merauke.

    "Baru kali ini pengurus HMP UGM menggelar kegitan seperti ini, ini sangat baik dan kami sangat mendukung," ungkapnya.

    Selain agenda workshop, peserta Kepala Puskesmas dan Dinas Kesehatan mewakili Sabang sampai Merauke melalukan fieldtrip ke dua tempat yaitu Kampung Hijau Gambiran dan Desa Sukunan. "Kita memilih kedua tempat ini sebagai role model pencegahan penyakit berbasis pendekatan keluarga serta contoh pengelolaan sampah yang bernilai ekonomis," ungkap ketua panitia Ari Kurniadi, SKM.

    Selain itu, ketua HMP UGM Muhammad Takbir Malliongi, S.Phil., S.Pd., M.Phil., M.Pd. dalam sambutannya berharap bahwa organisasi Pascasarjana mampu menampung ide dan kreativitas mahasiswa. Dalam hal ini organisasi berperan aktif untuk menyampaikan permasalahan di masyarakat lewat sebuah forum, seminar, dan workshop, dimana hal tersebut tentu sangat didukung oleh UGM.


    Penulis: Haerul Hamka
    Mahasiswa Pascasarjana UGM.

    Menyoal tentang Cara Komunikasi dalam Lingkungan Sekolah

    Eka Ilham. 
    PEWARTAnews.com – Sekolah adalah unit terkecil dalam membangun sumber daya manusia, namun dalam faktanya acap kali seorang kepala sekolah dan guru dalam berkomunikasi dengan lingkungan sekolahnya mengalami kendala baik itu secara lisan, tertulis dan gesture tubuh. Hal ini menimbulkan dampak yang sangat buruk sekali dalam mengelola pendidikan. Kepala sekolah tidak mengetahui berkomunikasi yang baik dengan gurunya begitupun gurunya memaknai komunikasi tersebut adalah hal yang tidak baik disampaikan oleh seorang kepala sekolah pada gurunya sehingga menimbulkan komunikasi tidak tersampaikan dengan baik sesuai dengan pesan yang di inginkan.

     Dampak negatifnya siswa ikut meniru cara komunikasi kepala sekolah dan gurunya karena melihat sebuah lingkungan sekolah yang komunikasinya sangat buruk.

    Komunikasi adalah kunci keberhasilan berinteraksi dalam kehidupan dunia kerja, terutama di sekolah. Bila komunikasi berjalan dengan efektif, maka arus informasi dalam dinamika kerja pun akan berjalan lancar, sehingga dapat mempercepat proses penyelesaian suatu pekerjaan. Sebaliknya, bila komunikasi terhambat, arus informasi pun tersendat, dan akibatnya tentu akan membuat suatu pekerjaan juga terlambat diselesaikan. Kondisi dalam konteks dunia pendidikan, arus komunikasi antara kepala sekolah dengan guru dan lingkungan sekolahnya akan sangat berdampak pada kinerja semua unsur yang ada di lingkungan sekolahnya tersebut. Oleh karena itu, baik itu kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan dan siswa harus menyadari dan memahami pentingnya efektifitas komunikasi dalam menjalin hubungan yang sehat di lingkungan tempatnya beraktifitas.

    Fakta yang terjadi, di lingkungan sekolah masih banyak kepala sekolah sebagai pimpinan di unit kerja, cara berkomunikasinya dengan guru maupun lingkungan sekolahnya menimbulkan konflik dan ketidaksukaan pada cara berkomunikasinya. Orang yang dipimpin (bawahannya) menerjemahkan komunikasi pimpinannya sebagai suatu ancaman dan intimidasi. Dampak yang akan terjadi adalah hubungan antara kepala sekolah, guru dan lingkungan sekolahnya menjadi disharmoni karena persoalan kepala sekolah yang tidak bisa menyampaikan dengan baik. Untuk itu, kepala sekolah maupun guru, komunikator dalam menyampaikan pesan/informasi/berita harus memperhatikan dengan siapa dia berkomunikasi, apa yang dia sampaikan, dan bagaimana cara menyampaikannya.

    Upaya yang harus dilakukan dalam menyampaikan pesan, kepala sekolah atau guru harus mampu menginterpresentasikan pesan dengan berbagai cara. Disharmoni yang terjadi disekolah antara kepala sekolah dan guru karena Kurangnya kemampuan dalam berkomunikasi dengan baik dampaknya hubungan kerja menjadi tidak baik. Kelihatan kecil tetapi mempengaruhi kinerja dalam lingkungan sekolah karena komunikasi yang tidak baik antara bawahan dan atasan.

    Konflik di internal sekolah sering terjadi di akibatkan cara komunikasi yang tidak baik antara atasan dan bawahan. Mempelajari kultur atau budaya, habit atau kebiasaan atasan dan bawahan perlu diperhatikan dalam berkomunikasi. Apabila itu dilakukan dengan baik maka suasana kerja dilingkungan sekolah akan lebih harmonis, capaian-capaian kerja yang ditargetkan akan selaras apabila komunikasi kepala sekolah dan bawahannya mampu memberikan suasana yang baik pada lingkungan sekolahnya.

    Apa yang harus dilakukan oleh kepala sekolah dan guru di unit kerjanya?, dibawah ini Penulis mencoba memberikan jawaban terkait pertanyaan tersebut.

    Pertama, mengetahui audience/mitra bicara, seorang kepala sekolah dam guru yang paham dalam berkomunikasi harus sangat sadar dengan siapa kita bicara, apakah dengan kepala sekolah, guru, siswa dan tenaga kependidikan. Dengan mengetahui audience kita, kita harus cerdik dalam memilih kata-kata yang digunakan dalam menyampaikan informasi atau buah pikiran kita baik itu dalam sebuah rapat maupun dalam keseharian disekolah. Berbicara dengan kepala sekolah tentu akan berbeda berbicara pada guru atau teman sederajat.

    Kedua, tujuan kita berkomunikasi akan sangat menentukan cara kita menyampaikan informasi. Ketiga, memperhatikan konteks, bisa saja keadaan sekolah dan lingkungan sekolah pada saat berkomunikasi. Jangan sampai seorang kepala sekolah mengucapkan dengan nada tinggi pada bawahannya termasuk pada siswanya. Keempat, mempelajari kultur dan kebiasaan kepala sekolah dan guru dilingkungan sekolahnya. Yang penting adalah dalam berkomunikasi harus memahami kultur mitra bicaranya sehingga timbul saling pengertian dan penyesuain gaya komunikasi dapat terjadi.

    Kelima, bahasa menunjukkan jati diri, seorang kepala sekolah ataupun guru akan dihormati dilingkungan sekolahnya apabila mampu memahami bahasa orang lain berarti berusaha menghargai orang lain.

    Prinsip-prinsip inilah yang harus kita miliki sebagai seorang kepala sekolah pada gurunya, guru pada kepala sekolahnya, kepala sekolah dan guru pada siswa-siswanya. Persoalan komunikasi adalah kunci kesuksesan dalam membangun pendidikan di sekolah. Peserta didikpun ikut melihat dan meneladani apa yang dilakukan oleh bapak/ibu gurunya disekolah.


    Penulis: Eka Ilham, S.Pd., M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Bima.

    Resolusi untuk Kepala Daearah Kabupaten Tangerang Agar Lebih Gemilang di Tahun 2018


    Anri Saputra Situmeang, S.H.
    PEWARTAnews.com – Pemerintah Daerah di Indonesia adalah penyelenggara pemerintahan daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana dimaksud sesuai Pasal 18 Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD 45). Apalagi, Negara Indonesia akan menggelar pesta demokrasi Pada tahun 2018, khususnya masyarakat Kabupaten Tangerang dalam rangka memilih kepala daerah.

    Penulis berharap kepada masyarakat Kabupaten Tangerang untuk memilih kepala daerah yang bisa melayani masyarakat bukan dilayani dan mempunyai Integritas tinggi/jiwa antirasuah (anti korupsi). Harapan lebih jauh untuk calon kepala daerah yang akan mengajukan diri sebagai kepala daerah, bila kelak terpilih harus mengoptimalkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP), seperti yang tertuang didalam Pasal 3 huruf d yang berbunyi “mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik, yaitu yang transparan, efektif dan efisien, akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan;”. Jika kepala daerah Kabupaten Tangerang mengindahkan UU KIP, itu semata-mata sebagai wujud dari salah satu pemimpin kepala daerah yang mempunyai integritas tinggi dalam anti korupsi.

    Penulis memandang, saat ini Kabupaten Tangerang memerlukan kepada daerah yang bisa melakukan point-point penting dibawah ini.

    Pertama, Pemerintah Kabupaten Tangerang memberikan edukasi kesadaran dalam hukum (KADARKUM) kepada masyrakat kabupaten Tangerang, sebab Negara Indonesia adalah Negara Hukum, sesuai amanah yang tercantum dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 45.

    Kedua, Menjamin hak masyarakat Kabupaten Tangerang untuk mengetahui rencana pembuatan kebijakan publik, program kebijakan publik, dan proses pengambilan keputusan publik, serta alasan pengambilan suatu keputusan publik.

    Ketiga, Melibatkan dan mendorong partisipasi masyarakat Kabupaten Tangerang dalam proses pengambilan kebijakan publik.

    Keempat, Meningkatkan peran aktif pada masyarakat Kabupaten Tangerang dalam pengambilan kebijakan publik dan pengelolaan Badan Publik yang baik.

    Kelima, Mewujudkan penyelenggara pemerintah daearah kabupaten tangerang yang baik.

    Keenam, Masyarakat Kabupaten Tangerang harus mengetahui alasan kebijakan publik yang memengaruhi hajat hidup orang banyak.

    Ketujuh, mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencerdaskan kehidupan anak di Kabupaten Tangerang.

    Kedelapan, meningkatkan pengelolaan dan pelayanan informasi di lingkungan badan publik untuk menghasilkan layanan informasi yang berkualitas dan tidak susah masyarakat untuk mengetahui kinerja kepala daerah Kabupaten Tangerang.

    Kesembilan, Mengarahkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), salah satu perangkat Pemerintah Daerah untuk ikut mengoptimalkan pelayanan yang baik demi terwujudnya Good Governance.

    Ketika semua akan dilaksanakan oleh kepala darah Kabupaten Tangerang yang akan terpilih nanti pada tahun 2018, akan melahirkan perubahan positif sebagai wujud nyata Kabupaten Tangerang yang gemilang (bercahaya terang) bukan lagi hanya sebagai mimpi belaka.


    Penulis: Anri Saputra Situmeang, S.H.
    (Direktur Eksekutif Organisasi Penimbang Hukum / Direktur Eksekutif LBH SITUMEANG)

    Agenda Bulan Ramadhan, PCNU Kota Yogyakarta akan Turba Keliling MWC

    Suasana saat rapat PCNU Kota Yogyakarta. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta selenggarakan rapat pada 3 Mei 2017 sore, membahas agenda untuk bulan Ramadhan yang berlangsung di Pondok Pesantren Ulil Albab, Balirejo Kota Yogyakarta.

    Rapat itu diikuti oleh pengurus PCNU Kota Yogyakarta, perwakilan seluruh Majelis Wakil Cabang (MWC), lembaga dan banom NU yang berada di Kota Yogyakarta.

    Salahsatu agenda terpenting yang digagas PCNU Kota Yogyakarta untuk bulan ramadhan adalah melakukan turba keliling diseluruh MWC yang berada di Kota Yogyakarta. Ada 14 MWC yang berada dibawah komando PCNU Kota Yogyakarta, diantanya MWC Danurejan, MWC Gedong Tengen, MWC Gondokusuman, MWC Gondomanan, MWC Jetis, MWC Kotagede, MWC Kraton, MWC Mantrijeron, MWC Mergangsan, MWC Ngampilan, MWC Pakualaman, MWC Tegalrejo, MWC Umbulharjo, dan MWC Wirobrajan. "PCNU Kota Yogyakarta dalam momentum ramadhan tahun 2017 ini akan melakukan turba keliling setiap MWC yang ada," beber Ketua Tanfidziah PCNU Kota Yogyakarta K.H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., M.H. usai rapat berlangsung.

    Lebih lanjut lelaki energik yang juga sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Kota Yogyakarta ini mengatakan bahwa warga NU di kota Yogyakarta sebenarnya banyak, namun yang disayangkan warga NU kebanyakan tidak mau atau malu mengakui ke-NU-annya, kalau semua warga warga NU mengakuinya maka NU di kota Yogyakarta akan besar dan kebih berjaya lagi. "Orang kalau tidak malu mengakui dirinya NU, maka NU kota Yogyakarta akan maju," ucapnya. Lebih jauh Ahmad Yubaidi mengatakan pengurus PCNU dan banomnya harus lebih kreatif dan sering membuat agenda serta gebrakan besar untuk membangun kesadaran warga NU untuk mengakui NU. "Kita harus bersama membangun kesadaran warga NU untuk mau mengakui ke-NU-annya," ajaknya.

    Salahsatu upaya yang dilakukan untuk bangun kesadaran warga NU yakni dengan sering adakan kegiatan dan juga menanamkan pemahaman pada seluruh takmir masjid di kota Yogyakarta yang nadzirnya NU. "Dalam waktu dekat kita akan kumpulkan takmir Masjin yang nadzirnya NU. Potensi NU kota itu banyak, diantaranya Maarif dan masjid yang nadzirnya NU," ketus Ahmad Yubaidi. (PEWARTAnews)
    Suasana saat berlangsungnya rapat PCNU Kota Yogyakarta. 


    Batik Lasem, Kreasi Limited Edition Asal Rembang


    Ilustrasi Batik Lasem.
    Rembang, PEWARTAnews.com – Rembang Jawa Tengah memiliki ciri khas seni lukis yang berbeda dari daerah-daerah lain, salahsatunya yaitu batik tulis. Batik tulis Rembang yang sudah dikembangkan sejak abad ke 6 sebelum masehi. Batik ini di kembangkan oleh orang keturun Cina asli.
    Sehingga motif dan warnanya berbeda dengan batik-batik lainnya. Batik Rembang ini biasa dikenal dengan nama Batik Tulis Lasem. Ciri khas warna Batik Tulis Lasem adalah abang gethi pithik atau bisa disebut merah darah ayam.

    Kekhasan batik tulis lasem lainnya adalah pada penamaan desain batiknya yang mengacu pada tata warna, yaitu bang-bangan, kelengan, bangbiru, bangbirjo.

    Ada juga motif batik tulis lasem sekar jagad, kendoro, kendiri, gringsing, kricak/watu pecah, pasiran, lunglungan, gunung ringgit, pring pringan, pasiran kawung, kawung melathi, endok walong, bledak mataram, bledak cabe, kawung babagan, parang rusak, parang tritis, latohan, ukel, alge, ceplok piring, ceplok benik, sekar srengsengan, kembang kamboja, dan sido mukti.

    Motif Fauna, diantaranya: burung hong (phoenix), naga (liong), kilin, ayam hutan, ikan emas, kijang,  kelelawar, kupu-kupu, kura-kura, ular, udang, kepiting, dan lain-lain.

    Motif Flora, diantaranya bunga seruni, peoni, mangnolia, sakura, bamboo, dan sebagainya.

    Motif lainnya adalah kipas, banji, delapan dewa, koin uang, dewa bulan.

    Batik Lasem ini ternyata limited edition lho! Gak percaya? Makannya beli segera, sebelum keburu habis. Alasan kenapa bisa dibilang limited edition, karena dimana para pembatik membatiknya dengan menggunakan canthing dan dengan pola bebas/kreatif. Sehingga bila stock batik ini habis, maka batik ini tidak bisa dibuat lagi. Meskipun bisa dibuat lagi tapi hasil, bentuk, warna, corak, motif tidak akan bisa sama persis.

    Para pecinta batik, tidak perlu risau bila mau mencuci batik lasem, tenang saja, batik lasem ini bila dicuci, aman tidak akan bisa melunturkan warna dan morifnya.

    Untuk para pecinta batik, bila ingin memiliki batik-batik asli Rembang, salahsatu pengepulnya bisa dihubungi via, CP: 082134685520, Instagram: nikensari17, BBM: D9EB2AE4, Line: niken2804. (Nisar / PEWARTAnews)
    Batik lasem. 

    Batik lasem.  

    Batik lasem. 



    SGI Bima Tanggapi Seleksi Guru Honorer SMA/SMK Provinsi NTBEk

    Eka Ilham (baju merah).
    Bima, PEWARTAnews.com – Dewan Pengurus Daerah Serikat Guru Indonesia (SGI) Bima menanggapi langkah pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk menyeleksi guru honorer layaknya seperti test Calob Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

    SGI Bima melalui ketua umumnya Eka Ilham, S.Pd., M.Si. mengatakan bahwasannya langkah yang di ambil Pemprof NTB tersebut harus dibarengi dengan ketentuan guru honorer yang layak mengikuti seleksi tersebut berdasarkan SK Pengabdian atau berlaku untuk seluruh guru honorer yang menurut data Pemprov NTB berjumlah 9.000 guru SMA/SMK akan dirasionalisasi menjadi 3.000 guru honorer yang layak untuk mendapatkan SK dan gaji dari Pemprov NTB melalui anggaran APBD Pemprov NTB. "Langkah yang dilakukan oleh Pemprov NTB harus melihat kebutuhan dari SMA/SMK baik itu guru honorer produktif maupun adaptif. Pada khususnya guru honorer di SMK banyak didominasi oleh guru-guru adaptif (umum), hal ini menyebabkan penumpukan pada satu sekolah sehingga guru produktif sangat kurang sekali," beber Eka Ilham.

    Lebih jauh dia mengatakan, "Contohnya SMK Kelautan hampir dipastikan sarjana yang berlatarbelakang ilmu kelautan sangat kurang. Untuk itu SGI Bima meminta kepada Pemprov NTB melihat kebutuhan guru-guru berdasarkan laporan dapodik atau data base disetiap sekolah di NTB," bebernya.

    Lebih lanjut Eka Ilham mengatakan, jika Pemprov NTB akan merasionalisasi guru yang berjumlah 9.000 orang otomatis ada 6.000 guru honorer yang di PHK karena yang diterima sebagai guru provinsi NTB hanya 3.000 orang. Hal ini sangat menyedihkan apabila diantara 9.000 ribu guru honorer tersebut telah memiliki pengabdian yang sangat lama di sekolah tersebut.

    "Untuk itu SGI Bima memberikan saran kepada Pemprov NTB sebagai organisasi profesi guru untuk membuat sebuah peraturan atau surat yang mengikuti seleksi guru honorer harus melihat indikator-indikator yang penting. Pertama, melihat kebutuhan guru disetiap sekolah. Kedua, guru produktif untuk SMK diperbanyak. Ketiga, bagi guru honorer daerah yang selama ini sebelum peralihan ke Provinsi yang di gaji dan di SK kan oleh Pemkab/Pemkot yang menjadi guru di SMA/SMK apakah termasuk untuk mengikuti seleksi karena hampir sebagian besar mereka menanyakan kejelasan statusnya bahkan mereka sudah bersertifikasi lagi." cetus Eka Ilham

    Beberapa anggota Serikat Guru Indonesia yang berstatus honorer daerah menginginkan proses seleksi tidak berlaku bagi mereka, mengingat mereka sudah mengikuti seleksi UKG, PLPG dan telah mendapatkan sertifikasi guru profesional termasuk dari sisi pengabdian mereka yang sudah cukup lama terhitung Januari 2005-sekarang.

    SGI Bima mendapatkan masukan dan pertanyaan dari guru yang berstatus honorer daerah (honda). Ketua umum SGI Bima melalui siaran press rilisnya mengatakan Pemprov NTB harus mengedepankan transparansi dan akuntabilitas terhadap seleksi ini karena ini menyangkut nasib guru-guru honorer di NTB. Mereka ini adalah guru juga dari sisi pengabdian sama-sama memberikan kontribusi seperti para abdi negara (PNS/ASN).

    Kalaupun Pemprov NTB hanya menerima 3.000 guru honerer dari jumlah 9.000 guru honerer harus melihat dari kebutuhan dari sekolah-sekolah di NTB. "Semoga pendidikan di NTB dapat meningkatkan kualitas atau mutunya agar tidak tertinggal oleh provinsi-provinsi di daerah lainnya." harapnya. (PEWARTAnews)



    Dilema Menjadi Guru

    Gunawan. 
    PEWARTAnews.com – Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari postingan salah satu anggota grup FacebookForum Guru Indonesia beberapa hari lalu. Postingan tersebut pada intinya berisi tentang harapan sebagai seorang guru kiranya pemerintah memperhatikan kesejahteraan guru honorer dan guru tidak tetap. Menurut postinganya tersebut, ia hanya mendapatkan gaji/hari sebanyak delapan ribu rupiah.

    Memang kalau dihitung-hitung gajinya tersebut tidak bisa mencukupi kebutuhan atau keperluan sehari-harinya. Mulai dari kebutuhan pokok, seperti makan dan minum,keperluan anaknya yang sudah duduk di bangku sekolah, dan lain-lain.

    Sebenarnya fenomena seperti ini terjadi juga di kampung tempat saya berasal. Di kampung saya bahkan lebih parah lagi kalau mau dihitung masalah gajinya per hari. Gajinya tidak genap enam ribu rupiah. Tentu untuk keperluan sehari-harinya mereka tidak bisa mengandalkan gajinya tersebut. Mereka mau tidak mau harus bekerja sampingan, seperti bekerja di sawah, di ladang, bahkan ada yang menjadi tukang ojek demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

    Miris memang kondisi seperti yang tersebut di atas. Di sinilah muncul berbagai dilema dari para guru. Di satu sisi guru dituntut pengabdiannya untuk selalu memberikan yang terbaik kepada anak-anak didiknya, namun di sisi lain gaji/kesejahteraan mereka kurang bahkan tidak diperhatikan.

    Satu hal yang membuat saya bangga bahwa mereka (baca: para guru) khususnya di kampung saya walau memang gaji tidak seberapa, mereka tetap setia untuk membimbing para anak didiknya. Mereka tetap memberikan yang terbaik buat anak-anak didiknya. Karena mereka tahu bahwa di tangan merekalah ujung tombak pembentuk dan pencetak generasi bangsa ini (berkualitas atau tidak, berakhlak baik atau sebaliknya).

    Tentu secara pribadi, saya berharap khususnya kesejahteraan para guru honorer dan guru tidak tetap wajib diperhatikan oleh pemerintah. Jangan hanya menuntut para guru untuk tetap selalu menjalankan tanggung jawab dan kewajibannya. Tetapi, hak mereka (para guru) juga harus dipenuhi dan diperhatikan. Dan juga semoga para guru di tanah air yang tercinta ini tetap setia dan ikhlas dalam mengajar, membimbing, melatih, dan mendidik para anak didiknya, sehingga mampu melahirkan generasi yang berilmu dan berakhlak baik. Aamiin.

    Wallahu a’lam.

    Ditulis pada hari Senin, 6 Februari 2017


    Penulis: Gunawan

    FIMNY Sukses Gelar Mubes Ke-VI sekaligus Pelantikan Pengurus Baru Periode 2017-2018

    Ketua Demisioner FIMNY Mulyadin saat serah terima jabatan kepada Ketua FIMNY terpilih Gajali. 
    Sleman, PEWARTAnews.com – Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) telah melaksanakan kegiatan Musyawarah Besar (Mubes) Ke-VI pada hari Jum’at-Minggu 05-07 Mei 2017 di Yayasan Tauhidul Ummah Pusat Yogyakarta yang beralamat di Candibinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak lama setelah Mubes berlangsung, dilanjutkan dengan acara pelantikan pengurus baru periode 2017-2018.

    Acara berlangsung selama 3 hari yang diikuti oleh seluruh aggota FIMNY hari pertama di buka dengan acara resmi dan di lanjutkan dengan pembahasan pleno-pleno. Pleno satu membahas tentang Tata Tertib Musyawarah Besar, berlangsung Jum’at, 05 Mei 2017.

    Sementara hari kedua di lanjutkan dengan acara pembahasan pleno 2, tentang  Laporan Pertanggung Jawabang (LPJ) kepengurusan Periode 2015-2017, dilanjutkan dengan pleno 3 dan pleno 4. Pleno 3 membahasan AD/ART, GBPK dan Rekomendasi, untuk pleno  4 pemilihan ketua baru FIMNY periode 2017-2018. Acara pemilihan ketua berlangsung secara damai dan tertib.

    Ada 3 orang yang menjadi Kandidat dalam pemilihan ketua umum FIMNY, diantaranya, Gajali, Fahrul Maulana Akbar, dan Nursuciyati. Prosesi pemilihan ketua berlangsung selama satu jam, dan yang terpilih menjadi Ketua Umum FIMNY adalah saudara Gajali.

    Pemilihan ketua telah selesai, selang beberapa jam langsung dilanjutkan dengan acara  pelantikan pengurus baru FIMNY periode 2017-2018, pada hari Minggu, 07 Mei 2017 mulai pukul 20.00 WIB.

    Saat acara pelantikan berlangsung, Ketua Umum terpilih saudara Gajali menyampaikan terimakasih kepada seluruh keluarga FIMNY. "Terima kasih banyak atas kepercayaan rekan-rekan semua. Kepercayaan ini saya akan jaga dan melakukan dengan sebaik-baik mungkin sampai pada akhir kepengurusan periode 2017-2018. Satu yang tidak bisa kita hindari, berbicara FIMNY sebenarnya tidak bergantung pada seorang pemimpin saja, tapi bergantung pada kita semua khususnya pengurus dan warga FIMNY pada umumnya agar ikut berlomba-lomba menuangkan ide dan gagasannya untuk mengembangkan FIMNY dan memajukan FIMNY kedepannya," bebernya.

    Lebih lanjut ketua yang baru saja dilantik ini mengharapkan partisipasi keluarga FIMNY untuk ikut andil mensukseskan satu periode kepengurusannya. "Harapan saya selaku ketua terpilih pada seluruh anggota FIMNY, mari kita mengindahkan kepengurusan nanti yang akan kita pilih sebagai sesuatu yang membawa FIMNY lebih jaya lagi kedepannya, karena tanpa partisipasi kawan-kawan semua, saya selaku ketua FIMNY sangat tidak mungkin membawa nama baik FIMNY seorang diri,” ketus Gajali.

    Salahsatu senior FIMNY M. Jamil, S.H. mengungkapkan harapannya pada pengurus baru. “Harapan saya untuk kepengurusan 2017-2018, mudah-mudahan lembaga kita lebih lancar program kerjanya dan lebih baik lagi dari sekarang, mengingat saat ini anime masyarakat FIMNY itu sangat tinggi dalam berlembaga. Maka harapannya kepengurusan sekarang ini lebih intensif lagi mengembangkan potensi yang ada dalam masyarakat FIMNY, dan terus berkolaborasi dengan lembaga-lembaga lain. Kalau hanya kita berkecimpung dalam lembaga sendiri, lembaga kita tidak akan berkembang. Maka untuk kepengurusan sekarang harus bisa melebarkan sayapnya dengan lembaga-lembaga lain, bukan hanya lembaga di bawah naungan KEPMA. Tapi juga lembaga diluar Bima bahkan lembaga yang lebih besar lagi, jangan takut melebarkan sayap, karena saya percaya kepengurusan selanjutnya ini mampu dan bisa mewujudkan itu semua," ucapnya

    Lebih lanjut mantan ketua umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta ini mengatakan, "Kalau terkait program kerja, buat program kerja yang bisa dan mampu teman-teman laksanakan. Satu atau dua agenda dalam satu bidang pun tak masalah. Kalaupun nanti pada saat pelaksanaanya lebih dari agenda yang direncanakan itu malah lebih baik. Yang penting program kerja yang disahkan dalam Raker mampu teman-teman pengurus selesaikan dalam satu periode itu. Akhir kata, Mudah-mudahan kepengurusan periode ini lebih baik lagi,” ucap M. Jamil.

    Mantan Ketua FIMNY periode 2013-2014 Buhari Muslim menekankan pengurus baru membangun hubungan konslidasi antara lembaga-lembaga lain untuk membangun jaringan kelembagaan. “Untuk pengurus Periode 2017-2018 harus membangun hubungan konslidasi antara lembaga, supaya jaringan-jaringan lembaga bisa di gunakan untuk generasi-generasi selanjutnya, kemudian terkait mengenai program kerja terukur, terarah dan mungkin bisa di laksanakan jangan prioritaskan program yang terlalu besar sehingga meniadakan program-program kecil yang manfaatnya lebih tinggi, dan tekuni bidang-bidangnya masing-masing, lebih perbanyak kajian-kajian ilmiah maupun karya-karya semacam tulisan yang telah menjadi roh lembaga FIMNY” beber Buhari.

    Ketua Umum Demisioner periode 2015-2017 FIMNY Mulyadin berharap pengurus baru mampu bertindak tegas, dan bertindak
    profesional dalam menghadapi kemungkinan permasalahan kedepannya. “Semoga ketua terpilih kedepannya mampu membawa FIMNY lebih baik lagi, bisa membawa FIMNY kearah yang lebih progresif lagi, dan apabila ada persoalan mampu menyelesaikannya secara pribadi maupun secara lembaga. Semoga mampu bertindak tegas dan bertindak
    profesional dalam menghadapi permasalahan pada kepengurusan,” harap Mulyadin.

    Pembina FIMNY Muchtar, S.Pd. dalam sambutannya menaruh harapan besar pada pengurus yang baru agar mampu menjadikan FIMNY sebagai contoh untuk lembaga-lembaga Bima yang ada di seluruh Nusantara. “Kita harus lebih semangat lagi dalam membangun FIMNY ini menjadi kiblatnya orang-orang Ncera yang ada di seluruh Indonesia. Kepengurusan 2017-2018 ini harus ada perubahan untuk membangun FIMNY kedepannya. Mudah-mudahan kedepannya apabila ada perselisihan dan persoalan yang ada di lembaga FIMNY, sekecil apapun itu kita harus menyelesaikannya dengan secara baik-baiknya secara rel kelembagaan. Apabila kedepan ditemui masalah, ketua harus mampu mengambil alih atau mampu menyelesaikan semua masalah itu dengan baik,” ucap Muchtar.

    Ketua Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta Agus Salim yang diwakili sekretarisnya Muhamnad Akhier mengharapkan kepada pengurus baru mampu bertindak cerdas dalam membawa lembaga maupun menyelesaikan semua persoalan kelembagaan FIMNY. “Semoga FIMNY semakin maju kedepannya, dan bisa bertindak cerdas,” harap Akhier saat menyampaikan sambutan mewakili ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta. (Siti Hawa / PEWARTAnews)
    Suasana saat Mubes Ke-VI FIMNY dan Pelantikan Pengurus baru FIMNY periode 2017-2018.  

    Sugiarto Resmi Pimpin LKBH PANDAWA

    Direktur LKBH PANDAWA, Sugiarto, S.H., M.H.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Sugiarto, S.H., M.H. resmi pimpin Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) PANDAWA setelah sukses dilantik pada hari Minggu pagi, 7 Mei 2017, bertempat di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Yogyakarta.

    Mantan Ketua II Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) M. Jamil, S.H. yang juga hadir dalam acara itu turut memberikan selamat atas pelantikan Sugiarto. "Selamat dan sukses kepada Sugiarto, S.H. M.H. yang telah resmi dilantik menjadi Direktul LKBH PANDAWA, semoga dapat mengemban amanah ini dengan baik, dan semoga mampu membawa LKBH ini menjadi lebih bermartabat lagi, yakni dengan secara terus menerus membela masyarakat yang lemah," ucap M. Jamil, S.H.

    Usai pelantikan, dirangkaikan juga dengan seminar nasional, kerjasama LKBH PANDAWA dengan DPC PERMAHI DIY, mengangkat tema "Quovadis Reformasi 98 Dalam Mewujudkan Penegakan Hukum dan HAM".

    Saat seminar nasional menghadirkan narasumber yang berkompeten dengan tema yang diangkat, diantaranya, Adian Napitupulu (Sekjen PENA 98 / Anggota DPR RI), Eko Prasetiyo, S.H. (Penulis dan Pendiri Social Movement Institute), dan Hendro Pleret (Aktivis 98 dan Budayawan), didampingi oleh Agus Bintoro, S.IP. sebagai moderator.

    Pada kesempatan itu, Anggota DPR RI Adian Yunus Yusak Napitulu yang biasa dikenal luas oleh publik dengan nama Adian Napitupulu mengatakan bahwasannya saat ini ideologi negara yang mampu mempersatu dan merawat perbedaan hanyalah ideologi Pancasila. "Yang terbukti merawat perbedaan di Indonesia ya Pancasila." cetus Adian Napitupulu saat seminar nasional berlangsung. (PEWARTAnews)

    Para pengurus LKBH PANDAWA yang dilantik (07/05/2017).

    DPC PERMAHI DIY dan LKBH Pandawa Gelar Semnas

    Dari kiri ke kanan, para pemateri Adian Napitupulu, Eko Prasetyo, Hendro Pleret, dan moderator Agus Bintoro. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) bekerja sama dengan Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) PANDAWA selenggarakan Seminar Nasional pada hari Minggu, 7 Mei 2017, Pukul 09:00- 13:00 WIB, bertempat di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Yogyakarta.

    Acara ini terselenggara dalam rangka  "Peringatan 19 Tahun Reformasi 98", dengan mengangkat tema "Quovadis Reformasi 98 Dalam Mewujudkan Penegakan Hukum dan HAM".

    Kegiatan ini menghadirkan narasumber yang berkompeten dengan tema yang diangkat, diantaranya, Adian Napitupulu (Sekjen PENA 98 & Anggota DPR RI), Eko Prasetiyo, S.H. (Penulis dan Pendiri Social Movement Institute), dan Hendro Pleret (Aktivis 98 dan Budayawan), didampingi oleh Agus Bintoro, S.IP. sebagai moderator.

    Indonesia kaya akan suku bangsa. Terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia. Selain itu, beragam Agama yang di anut Indonesia. Pemerintah secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Ragam agama tersebut diakui secara legal formal oleh konstitusi kita. Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa "tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya" dan "menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya".

    Pada kesempatan itu, Anggota DPR RI Adian Yunus Yusak Napitulu yang biasa dikenal luas oleh publik dengan nama Adian Napitupulu mengatakan bahwasannya saat ini ideologi negara yang mampu mempersatu dan merawat perbedaan hanyalah ideologi Pancasila. "Yang terbukti merawat perbedaan di Indonesia ya Pancasila." cetus Adian Napitupulu.

    Selain seminar nasional, acara ini juga sekaligus dirangkaikan dengan "Pelantikan pengurus LKBH PANDAWA", dengan direkturnya yakni Sugiarto, S.H., M.H. Sebelum menjabat sebagai Direktur LKBH PANDAWA, Sugiarto juga sempat memimpin DPC PERMAHI DIY. "Selamat buat DPC PERMAHI DIY dan LKBH PANDAWA yang telah sukses selenggarakan seminar nasional. Saya juga ucapkan selamat dan sukses kepada Sugiarto, S.H. yang telah resmi dilantik menjadi Direktul LKBH PANDAWA, semoga dapat mengemban amanah ini dengan baik, dan semoga mampu membawa LKBH ini menjadi lebih bermartabat lagi, yakni dengan secara terus menerus membela masyarakat yang lemah," ucap M. Jamil, S.H. yang juga sempat menjadi salahsatu pengurus harian DPC PERMAHI DIY.  (PEWARTAnews)

    Suasana di acara Semnas DPC PERMAHI DIY kerjasama dengan LKBH PANDAWA.  

    DPD SGI Bima Audensi dengan Kepala Dinas DIKBUDPORA Kabupaten Bima

    Pengurus SGI Bima usai beraudiensi dengan Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima.   
    Bima, PEWARTAnews.com – Dewan Pengurus Daerah Serikat Guru Indonesia (SGI) Bima mendatangi kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bima di Godo Kecamatan Woha pada hari Senin, 8 Mei 2017 untuk beraudensi langsung dengan Kepala Dinas Drs. H. Supratman, M.Si. tentang persoalan-persoalan di dunia pendidikan pada khususnya di Kabupaten Bima.

    Eka Ilham, S.Pd., M.Si. (Ketua SGI Bima), melalui press realese yang diterima PEWARTAnews.com pada Senin, 8 Mei 2017, memaparkan ada beberapa hal yang perlu menjadi indikator sebagai acuan terhadap penanganan pendidikan di Kabupaten Bima, sebagaimana yang tertera dibawah ini.

    Pertama, Pendidikan Karakter. SGI Bima memberikan solusi agar pendidikan karakter di sekolah-sekolah dengan mengoptimalkan pendidikan ekstrakurikulernya di perbanyak sebagai media pembentukan karakter pada siswa. Contohnya Imtak, Osis, KIR, 02SN, Pramuka, Sispala, Sanggar Seni dan Budaya, Kelompok Debat Bahasa Inggris dan Indonesia, Seni Musik. Dikbudpora disarankan untuk mengeluarkan surat kepada sekolah-sekolah agar ekstrakurikuler diatas ada di sekolah-sekolah di Kabupaten Bima dan dimaksimalkan anggaran Dana Biaya Operiosional Sekolah digunakan sepenuhnya untuk kegiatan ekstrakuler tersebut.

    Kedua, SGI Bima meminta kepada Dikbudpora Kabupaten Bima agar pelayanan dilingkup dinas yang berhubungan dengan kepentingan pendidikan baik itu administrasi guru, sertifikasi, kenaikan pangkat dan berurusan dengan kepentingan guru dan kepala sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten Bima harus meniru sistem pelayanan di bank-bank, yakni "senyum sapa salam", sehingga pelayanan betul-betul dari hati yang ikhlas dalam melayani dan menjalankan tugas sebagai abdi negara yang digaji oleh rakyat.

    Ketiga, transparansi dan akuntabilitas terhadap proses pelayanan agar betul-betul menghindari budaya pungli.

    Keempat, SGI Bima meminta kepada kepala Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima agar organisasi profesi seperti SGI Bima untuk dilibatkan dalam pengembangan pendidikan di Kabupaten Bima.

    Kelima, SGI Bima meminta kepada kepala Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima untuk menjadi bagian kelas inspirasi yang di adakan oleh SGI Bima sebagai bentuk aplikasi dari pendidikan karakter itu sendiri.

    Keenam, SGI Bima meminta bahwa organisasi profesi adalah mitra kerja Dikbudpora Kabupaten Bima dan mendukung segala aktifitasi yang bertujuan untuk memajukan dunia pendidikan.

    Eka Ilham mengatakan bahwasannya audensi yang dilakukan oleh SGI Bima mendapat sambutan yang ramah dari Kepala Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima Drs. H. Supratman, M.Si. Hal yang dilakukan SGI bima ini merupakan catatan bagi Dikbudpora sebagai leading sector dalam pengembangan pendidikan di Kabupaten Bima. Usai audensi tersebut berlangsung, di akhiri dengan pemberian buku "Guru Itu Melawan" karya Eka Ilham. (PEWARTAnews)

    Mencoba Mengamalkan Nasihat dari Prof. Dr. Gunawan, M.Pd.

    Gunawan. 
    PEWARTAnews.com – Prof. Dr. Gunawan, M.Pd. merupakan dosen bahasa Inggris saya. Beliau merupakan salah satu dosen favorit saya. Umur beliau sudah tidak muda lagi. Umur beliau di atas tujuh puluh tahun. Walaupun sudah tua, namun beliau masih sangat bersemangat untuk membimbing kami selaku mahasiswanya. Tidak pernah beliau merasa lelah apalagi sampai bosan membimbing kami.


    Beliau tidak pernah alpa untuk membimbing kami. Yang menarik juga menurut saya dari beliau adalah bahwa setiap kali pertemuan selalu memberikan motivasi sekaligus nasihat kepada kami untuk terus belajar, belajar, dan belajar. Cara mengajar beliau sangat menyenangkan dan seru, karena setiap pertemuan selalu ada sesuatu yang baru yang disuguhkan kepada kami. Istilahnya sekarang adalah model dan metode ajar beliau setiap pertemuan selalu asyik.


    Ada satu nasihat beliau yang masih saya ingat sampai sekarang. Beliau mengatakan bahwa“semua orang sebenarnya punya potensi yang sama untuk bisa berbahasa Inggris, cuma masalahnya apakah ia mau atau tidak.” Itulah nasihat beliau yang cukup membuat saya tetap termotivasi untuk terus belajar. Sebenarnya menurut saya, nasihat tersebut tidak hanya dalam hal bisa berbahasa Inggris, namun lebih dari itu. Ya, semuanya kita punya potensi untuk bisa mengetahui segala sesuatu, asalkan kita mau belajar dengan sungguh-sungguh dan konsisten.


    Alhamdulillah, itulah yang saya lakukan sekarang. Yaitu mencoba mengamalkan nasihat beliau tersebut. Salah satunya, saya terus mencoba untuk tetap belajar menulis tiap harinya walau sederhana. Tentu saya selalu berusaha dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Semoga saja nasihat tersebut tetap membekas di kepala saya. Sehingga apa pun yang saya lakukan bisa membuahkan hasil dan bernilai ibadah di sisi-Nya. Aamiin.


    Wallahu a’lam.


    Oleh: Gunawan


    Sambut Hardiknas 2017, KEPMA Bima-Yogyakarta Gelar Kajian Ilmiah

    Ketua KEPMA Bma-Yogyakarta Agus Salim saat kajian ilmih (30/04/2017)
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta telah sukses melaksanakan kegiatan Kajian Ilmiah pada hari Minggu, 30 April 2017 mulai 16.00-selesai, berlangsung di Aula Asrama Keluarga Pelajar Mahasiswa Bima "Putra Abdul Kahir" Yogyakarta.

    Kegiatan ini terselenggara dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknad) yang jatuh pada 2 Mei 2017. Agenda ini diracik dengan apik dan mengangkat tema "Hakekat Pendidikan Sebagai Humanisasi atau Komersialisasi?", menghadirkan pemantik Irsyad Arifin selaku aktivis Serikat Mahasiswa Indonesia Cabang Yogyakarta.

    Selaku ketua umum KEPMA Bima-Yogyakarta, Agus Salim bersyukur atas suksesnya acara untuk menyambut Hardiknas ini. "Dengan terselenggaranya kegiatan KEPMA Bima-Yogyakarta oleh Bidang Kajian Ilmiah ini, saya merasa bersyukur, bahwa ruang-ruang kajian masih tetap ada dan mudah-mudahan akan terus hidup. Kajian ilmiah yang dilaksanakan untuk menyambut momen pendidikan nasional ini, sebenarnya lebih memiliki banyak manfaat. Karena terdapat aspek reflektif terhadap sejarah pendidikan, membongkar dan merekonstruksi hakikat pendidikan dengan harapan secara perlahan dapat mencerahkan persepsi kita tentang pendidikan. Karena pada dasarnya, tidak sebatas apa itu pendidikan, melainkan yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi realitas pendidikan saat ini. Sehingga, pada saatnya pendidikan akan mampu menjadi salah satu institusi sosial yang menyadarkan akan pentingnya nalar kritis dan transformatif terhadap realitas sosial yang ada." beber Agus Salim.

    Suasana saat acara kajian ilmiah berlangsung (30/04/2017).
    Tidak hanya itu, mewakili lembaga KEPMA Bima-Yogyakarta Agus Salim juga mengucapkan terimakasih kepada pemantik kajian, karena telah luangkat waktu sempitnya untuk membersamai dalam kajian ilmiah ini. "Terakhir, secara kelembagaan saya mengucapkan terima kasih kepada Irsyad Arifin selaku pemantik kajian, yang telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk berdialektika bersama kami. Semoga silaturahmi antar kita akan tetap terjalin." ketusnya. (PEWARTAnews)

    Hakekat Pendidikan Sebagai Humanisasi atau Komersialisasi?

    Asrizal. 
    PEWARTAnews.com -- Pendidikan adalah proses pencapaian cita cita ke-Negara-an. Sebagaimana yang tertuang dalam pembukaan Undang Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) alinea ke-4, "Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,".

    Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu dari tujuan pokok dibentuknya sistem pemerintahan Indonesia. Tujuan kenegaraan tersebut kemudian dielaborasi dalam pasal 31 UUD 1945 ayat 1-5, dari bunyi pasal tersebut dapat kita tarik kesimpulan, bahwa pendidikan adalah hak warga negara dan menimbulkan kewajiban negara untuk memfasilitasi pendidikan yang layak dan bermutu. Lebih lanjut dijelaskan, bahwa negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari Alokasi Anggaran Pendapat Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapat Belanja Daerah (APBD) untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

    Pendidikan dewasa ini menjadi isu vital dalam problematika kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagaimana tidak, massifnya privatisasi dalam sektor instansi pendidikan menjadi kegalauan sebagian besar kalangan, karena sulitnya mengakses pendidikan, terutama masyarakat dari kalangan ekonomi menengah kebawah. Alih-alih memperluas dan mempermudah proses jalannya pendidikan, privatisasi atau swastanisasi kerap menjadi lahan bisnis segelintir kapital (pengusaha) sehingga hakikat pendidikan terdistorsi oleh kondisi Realitasnya.

    Sejarah Singkat Perkembangan Pendidikan di Indonesia
    Sejarah perkembangan pendidikan Indonesia telah melwati beberapa fase perkembangan. Diantaranya, fase feodalisme, fase kolonialisme, fase orde lama, dan fase orde baru.

    Fase Pertama, Fase Feodalisme
    Pada fase feodalisme pendidikan adalah sebuah barang mewah yang hanya dapat dinikmati oleh para keturunan bangsawan, priyayi, raja atau keturunan para penguasa. Tidak ada sedikitpun peluang yang dimiliki oleh golongan kaum pribumi dengan ekonomi menengah kebawah untuk dapat mengenyam dunia pendidikan. Ciri utama dari pendidikan pada fase tersebut ialah pendidikan yang diskriminatif.

    Fase Kedua, Fase Kolonialisme
    Kondisi dalam fase kolonialisme, penulis paparkan pada masa penjajahan Belanda dan masa penjajahan Jepang.
    Masa Penjajahan Belanda
    Pendidikan di era penjajahan Belanda menggunakan mekanisme pendidikan yang terkenal dengan jargon "pendidikan politik etis" atau politik balas Budi.

    Dalam perkembangannya terdapat 3 politik etis yang dikembangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda, diantaranya :
    Poin Pertama, Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian. Tujuannya untuk mempercepat dan memperlancar eksploitasi Sumber Daya Alam nusantara

    Poin Kedua, Emigrasi, yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi. Menarik tenaga kerja dari desa-desa untuk dipekerjakan secara paksa ditempat atau wilayah yang menjadi rencana eksploitasi.

    Poin Ketiga, Edukasi, yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan. Tujuannya adalah untuk memperoleh tenaga administrasi yang cakap dan murah. Pendidikan diskriminatif, pendidikan hanya diperuntukkan untuk anak-anak keturunan bangsawan dan orang orang yang bertahta.

    Masa Penjajahan Jepang
    Pendidikan pada fase Jepang diarahkan pada penguatan kekuatan pertahanan Jepang. Militerisasi adalah basis pendidikan kolonial Jepang. Pemuda pemuda pribumi dibekali dengan pendidikan militer guna mengamankan pertahanan Jepang dari upaya agresi militer yang dilakukan oleh Belanda dan Portugis yang ingin kembali menguasai nusantara.

    Fase Ketiga, Fase Orde Lama
    Pada fase ini Sejarah perkembangan pendidikan Indonesia dimulai, Pemerintahan Soekarno memulai dari penghapusan sistem pendidikan peninggalan Kolonel yang diskriminatif dan membangun landasan landasan pondasi dalam penyelenggaraan pendidikan nasional yang merata, adil, bermutu dan berintegritas dengan prinsip sosialisme pendidikan. Sosialisme pendidikan bertujuan untuk menghilangkan indoktrinasi pendidikan peninggalan Kolonel dan membentuk kurikulum yang Berlandas pada pandangan falsafah bangsa yakni Pancasila.

    Fase Keempat, Fase Orde Baru
    Pada masa orde baru sistem pendidikan pun memasuki era baru dalam perkembangannya dan banyak menyisahkan akar rumput masalah yang dihadapi sampai sekarang. Lahirnya regulasi regulasi yang membuka peluang untuk mengkomersialisasikan sektor pendidikan, memberikan kebebasan penuh kepada pihak swasta dapat pengawasan dan pengontrolan oleh negara untuk mengelola sektor pendidikan adalah awal dari semua kegalauan dan kegelisahan saat ini. Pendidikan pada masa ini kerap menjadi alat komoditi yang menguntungkan. Negara bahkan berafiliasi dengan organisasi-organisasi internasional guna membuka keran untuk meliberalisasikan sektor pendidikan secara masif.
     
    Keempat fase tersebut diatas adalah hal hal yang mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan nasional. Fase orde baru lagi lagi dalam hal ini mendapat perhatian khusus, maraknya praktik komersialisasi pendidikan saat ini disinyalir adalah berakar dari pondasi dasar yang dibangun oleh Pemerintahan orde baru. Kendati demikian, di era rezim Pemerintahan pasca reformasi praktik kapitalisasi pendidikan semakin gencar didorong dengan memperkuat pondasi komersialisasi dalam aspek regulasi yang kian menjauhkan hakekat pendidikan dari realitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Ironisnya, guna melancarkan sistem tersebut, kurikulum pendidikan didesain sedemikian rupa dengan mengacu pada sistem pendidikan di belahan dunia barat yang Berlandas pada paradigma liberal. Sehingga tidak heran kurikulum pendidikan kian jauh dari budaya lokal dan falsafah kehidupan bangsa, hal ini yang kemudian menghambat proses pencapaian cita cita mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Hakekat pendidikan sebagai instrumen memanusiakan manusia atau yang biasa disebut sebagai proses humanisasi, kontemporer kerap berlawanan arah menjadi dehumanisasi akibat saratnya kepentingan kapitalis yang mengubah wajah pendidikan menjadi sebuah lahan industri kepentingan pemodal sebagai alat  komersial.

    Pendidikan dimana pun berada haruslah mampu mendorong kesadaran yang ilmiah dan mampu menjawab problematika dalam tatanan kehidupan sosial.

    Suasana usai kajian KEPMA Bima-Yogyakarta.
    Tulisan ini merupakan review dari hasil Diskusi Bidang Kajian ilmiah Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) BIMA-Yogyakarta, yang diselenggarakan pada hari Minggu, 30 April 2017 di Aula Asrama Keluarga Pelajar Mahasiswa Bima "Putra Abdul Kahir" Yogyakarta.


    Penulis: Asrizal
    Kabid Kajian Ilmiah KEPMA BIMA-Yogyakarta

    Sanggar Seni Rimpu Gelar Diksar

    Suasana saat peserta Diksar mempraktekkan tarian Wura Bongi Monca.
    Bantul, PEWARTAnews.com -- Sanggar Seni Budaya Rimpu Bima-Yogyakarta (Sanggar Rimpu) telah melaksanakan kegiatan Didikan Dasar (Diksar) pada hari Jum’at-Minggu, 21-23 April 2017 di Pantai Pelangi, Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Acara yang berlangsung selama tiga hari diikuti 15 orang peserta yang merupakan kiriman dua orang delagasi dari tiap-tiap organisasi dibawah naungan Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta. Hari pertama kegiatan diisi dengan acara resmi dan dilanjutkan dengan perkenalan antar peserta DIKSAR dan senior-senior Sanggar Rimpu dan mengenal sejarah Sanggar Rimpu yang di sampaikan oleh senior-senior Rimpu, pada hari Jumat, 21 April 2017.

    Sementara pada hari kedua, Kamis (22/04/2017) di isi dengan empat materi-materi yang menarik dan langsung praktek, dengan pemantiknya yaitu senior-senior Sanggar Rimpu. Adapun materinya tentang : “Kebudayaan” pemantiknya bang Darwis, “Pengenalan Teater” pemantiknya Muhammad Kurniawan Syafrudin selaku Ketua Umum Sanggar Rimpu, “Pengenalan Musik” pemantiknya Nahdatul Islamiyah (biasa disapa Polo), dan terakhir “Pengenalan Tari” dengan pemantiknya Yeni.

    Dalam kegiatan itu, Ketua Umum Sanggar Rimpu Muhammad Kurniadin Syafrudin berharap peserta Diksar terus mempelajari budaya Bima. “Semoga peserta Diksar mampu mempelajari budaya Bima di tanah rantauan ini, karena dengan mempelajarinya mampu mengangkat harkat dan martabat budaya Bima,” cetus Muhammad Kurniadin Syafrudin.

    Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Agus Salim yang juga hadir memberikan sambutan dalam acara Diksar Sanggar Rimpu tersebut memberikan tanggapannya terkait perlunya mempelajari budaya dan tradisi Bima. “Harapan saya, jangan sampai anggapan kita terhadap budaya seperti yang kita pelajari saat ini dianggap ketinggalan jaman. Bukan seperti itu, karena sejujurnya bicara budaya itu adalah bicara hari ini, kalau  bicara masa lampau berarti bicara sejarah. Ini ada kaitannya dengan perspektif globalisasi dan modernisasi. Lalu bagaimana daerah kita bisa eksis dan dikenal luas, maka perlu adanya upaya untuk memperkenalkan nilai-nilai tradisi lokal yang kita miliki kepada orang lain di luar Bima,” beber Agus Salim. (Siti Hawa / PEWARTAnews)

    Hanya Engkau!

    Juraidah.
    Remang-remang yang kini terpampar menghadang jalan kehidupan
    Habis gelap datanglah gulita
    Hidup penuh nestapa bagaimana riang tenggelam
    Dalam pekat liku riak gelombang
    Bergulung-gulung menerjang nan segala biasa tegak
    Mengandung derita melahirkan sengsara

    Saat hati ini tertindih
    Menangis dan merintih
    Hanya Engkaulah yang mampu menghibur
    Menghibur hati yang hancur

    Saat jiwa ini bimbang
    Mengingat masa yang mengenang
    Hanya Engkaulah tempatku bersandar
    Bersandar dengan rasa sabar

    Setiap debar didadaku mengesakan-Mu
    Mengikrarkan  Laa Ilaaha Illallah
    Janji yang begitu menggetarkan
    Mengguncangkan lorong-lorong jiwa yang paling dalam
    Ketakutan akan hisab-Mu yang pasti

    Pada guratan hidup yang telah ditandatangani
    Mengharapkan cinta-Mu  semata

    cukup Engkau

    Dan hanya Engkau saja bagiku


    Yogyakarta, 2 Mei 2017
    Karya: Juraidah
    Mahasiswi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta / Srikandi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Membaca adalah Kunci Kesuksesan Hidup

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com – Bagi umat Islam tentu tahu bahwa surat yang pertama turun adalah surat Al-Alaq ayat 1-5, yang mana isinya mengajarkan umat manusia untuk “iqra” (bacalah). Membaca merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Siapa yang dapat  membaca akan bisa memahami kehidupan ini, begitupun sebaliknya, siapa yang tidak mampu membaca tidak akan bisa memahami kehidupan ini. Siapa saja yang mampu membaca realitas maka apapun persoalan hidup akan bisa terselesaikan. Saya teringat dengan sebuah cerita, sebagai berikut:

    Saat itu perang dunia sedang berkecamuk. Yakub adalah seorang Yahudi yang ditahan pihak Nazi. Ia dikurung dalam ruangan gelap dan pengap. Berbulan-bulan ia tidak dapat mengetahui informasi dunia luar, maklum saja di penjara. Suatu malam ia sedang duduk di sebuah teras penjara yang sepi akan penjagaan. Ia menatap langit. Tampak sebuah pesawat terbang sedang menyebarkan selebaran. Selebaran itu melayang di sekitar atap penjara. Yakub mencoba untuk mengejarnya. Tapi selebaran itu berada di daerah terlarang. Yakub nekad menerjang. Akhirnya ia dapatkan selebaran itu dan langsung membacanya. Saat asyik membaca, penjaga penjara datang memergoki Yakub. Yakub ditangkap dan diberi hukuman yang berat, bahkan terancam hukuman mati.

    Demikian penggalan adegan film modern yang menggambarkan kehausan seseorang untuk membaca. Demi membaca ia pertaruhkan hidupnya.

    Seperti yang saya singgung di awal bahwa membaca adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Demikian pentingnya membaca, hingga mukjizat terbesar Nabi Muhammad sekaligus kitab suci diberi nama Al-Qur’an, yang secara harfiah berarti bacaan.

    Dengan kemampuan kita membaca, akan membantu untuk membuka cakrawala yang tiada batasnya (unlimited). Itulah sebabnya, pelajaran yang pertama kita dapatkan di sekolah adalah pelajaran membaca yang kemudian menulis. Dengan membaca, kita akan banyak mendapatkan ilmu pengetahuan  serta cakrawala berpikir. Bahkan dengan membaca, kita akan menjadi orang yang kreatif, kritis, dan bijak, atau sekurang-kurangnya kita bisa hijrah dari orang yang tidak tahu menjadi orang yang mengetahui.

    Para pembaca yang budiman, menurut saya generasi ke depan harus dibekali dengan  kemampuan membaca terhadap keberadaan dirinya sendiri, lingkungan, dan alam semesta. Kita harus semakin sadar, bahwa secara empirik, orang-orang yang pintar membaca, mereka itulah yang sukses. Sebaliknya, kebanyakan orang gagal adalah oleh karena mereka gagal di dalam membaca kehidupan ini.

    Sebagai contoh lagi, bahwa orang yang berhasil membaca seluk beluk ekonomi, maka merekalah yang berhasil mengembangkan usaha ekonomi. Demikian pula, orang yang mampu membaca politik, hukum, pendidikan, sosial, dan lain-lain akan mendapatkan keuntungan dari kepandaiannya membaca itu. Begitu pula yang gagal, sebenarnya hanya karena tidak mampu membaca. Hematnya, siapa yang mampu membaca keadaan ia pasti akan mendapatkan seperti yang diinginkan.

    Selain dari cerita di atas, ada lagi contoh konkrit mengenai kehidupan salah satu ilmuwan zaman dahulu, berkat membaca, di antara ceritanya adalah sebagai berikut:

    Ini merupakan cerita tentang seorang ilmuwan yang diminta untuk menghitung volume mahkota raja, yang waktu itu belum ada rumusnya. Ceritanya: ada seorang Raja Sisilia memiliki sebuah mahkota yang terbuat dari emas murni. Sang Raja bingung, karena tidak mengetahui berapa volume dari mahkota emas miliknya itu. Lingkaran mahkota itu penuh dengan ukiran-ukiran, sehingga mustahil untuk bisa diukur. Kemudian Sang Raja tersebut memerintahkan salah seorang ilmuwan untuk mengukur berapa volume dari mahkota tersebut. Sang ilmuwan tersebut harus berusaha mencari jawabannya. Tetapi sangat sulit mengukur berapa volume mahkota yang sangat sarat dengan ukiran itu. Ia hampir putus asa. Bagaimana tidak, segala upaya telah dilakukannya, tetapi tidak juga berhasil menemukan jawaban yang memuaskan. Lebih lagi bahwa ini merupakan sebuah perintah dari seorang raja yang sangat dihormati, serta sangat berkuasa kala itu.

    Ketika ia sedang mandi berendam sambil merenungi tugas yang diterimanya, tiba-tiba pada saat ia bergerak, air di dalam bak mandinya tumpah. Dia perhatikan hal itu, air yang tumpah itu. Kemudian ia keluar dari bak mandi tersebut, dan ia mengisinya kembali dengan air sampai penuh, lalu dia mencelupkan kakinya, kembali airnya tumpah. Diperhatikannya air yang tumpah itu dengan seksama. Ia tidak merasa puas, kemudian merendamkan seluruh badannya, air yang tumpah semakin banyak. Aha! Dia menemukan jawabannya. Tiba-tiba saja Sang ilmuwan itu berteriak-teriak sambil berlari keluar dari kamar mandi sampai ke jalan raya, dan berteriak-teriak: “Eureka!” (saya dapat!), “Eureka!” (saya dapat!). Saking girangnya, dia lupa bahwa dia masih dalam keadaan telanjang bulat.

    Para pembaca yang budiman, tentu Anda tahu bahwa ilmuwan yang dimaksud dari cerita di atas bernama Archimedes, yang kemudian namanya diabadikan untuk mengingat hukum: Berat Jenis sama dengan Berat dibagi Volume.

    Dari cerita di atas, kenapa Archimedes dapat melakukan itu? Jawabannya jelas, karena beliau bisa “membaca”, membaca pesan alam semesta. Pertanyaan kemudian adalah bisakah kita seperti beliau? Jawabannya menurut saya adalah bisa, karena kita sejak lahir sudah dibekali sebuah potensi yang sangat besar, namun bagaimana cara mengeksplornya, itu tergantung dari masing-masing pribadi kita. Jadi, baca, baca, dan bacalah!

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan

    Pendidikan Setengah Hati

    Ardi. 
    PEWARTAnews.com -- Dalam kurun waktu yang lama, sistem pendidikan di Indonesia telah menganut suatu sistem sentralisasi yang berdampak pada semua aspek kebijakan termasuk salah satunya adalah aspek kebijakan pendidikan hingga ke daerah bahkan sampai di sekolah-sekolah. Setiap kebijakan pendidikan dan pengelolaan pelaksanaan pendidikan di atur oleh tingkat pusat mulai dari petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis tanpa diperkenankan untuk diperlakukan perubahan, penambahan atau pengurangan sejumlah ketentuan yang telah ditetapkan meskipun tidak sesuai dengan kondisi, potensi dan kebutuhan sekolah dan masyarakat lokal.

    Dengan kata lain, manajemen pendidikan Nasional yang bersifat sentralistis mendorong tertutupnya kran demokratisasi dan desentralisasi penyelenggara pendidikan di tingkat sekolah, sehingga terjadi uniform yang cenderung mematikan partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan (Depdiknas, 2003). Terjadinya gerakan reformasi dan desentralisasi, termasuk dalam dunia pendidikan merupakan respon terhadap gerakan manajemen pendidikan yang bersifat sentralistik sebelumnya. Reformasi dan desentralisasi sebelumnya memberikan peluang kepada para pengelola (manajemen) pendidikan agar tanggap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dan melakukan gerakan inovatif dalam rangka memberdayakan diri dan komunitasnya secara inovatif, kreatif dan dinamis sesuai dengan kondisi dan nilai-nilai lokal serta tetap mengacu pada dinamika Nasional dan perkembangan global.

    Kebijakan desentralisasi memberikan kewenangan kepada semua pihak agar terlibat dalam perumusan manajemen pendidikan dalam arti luas, yang meliputi manajemen kelembagaan dan kurikulum, sumber daya manusia, pembiayaan dan sarana dan prasarana yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan local (local needs) (Jalal dan Supriadi, 2001), berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundangan-undangan (Sonhadji, 2003).

    Implikasi desentralisasi tersebut adalah terjadinya perubahan struktur dan fungsi kelembagaan dalam lingkungan pendidikan baik dalam lingkungan departemen pendidikan maupun departemen Agama yang menyangkut manajemen berbasis sekolah (school based management), kurikulum berbasis kompetensi (competency-based education)  dan segala rambu-rambunya, yang menuntut pengetahuan dan ketrampilan dari para pelaku pendidikan, mulai dari pembuat kebijakan pendidikan (education policy maker) hingga pada pelaksanaan kebijakan pendidikan di lapangan (sekolah-sekolah).

    Melihat realitas dan tataran global serta kondisi nyata yang dihadapi bangsa ini, pemerintah Indonesia mulai menyadari bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia kita harus segera dibenahi melalui perbaikan sistem pendidikan Nasional kita. Hal ini tercermin pada penentuan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD, sebagaimana tertuang  dalam UUD 1945 secara khusus memuat mandat tentang pendidikan, utamanya yang termaktub pada Pasal 31 ayat 1 sampai ayat 3 yang secara tegas disebutkan: (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan; (2) setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; (3) pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan Nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang.

    Ketiga ayat tersebut mendedahkan hak, kewajiban, tugas dan tanggungjawab antara warga negara (civil society) dan Negara (state). Dalam tafsir konstitusionalnya, proporsi hak dan kewajiban warga negara untuk mendapatkan pendidikan seharusnya seimbang dengan kewenangan Negara yang bertanggungjawab sebagai fasilitator, bukan diktator. Sementara pada Pasal 31 ayat (4), dimana negara memprioritaskan anggaran 20 persen dari APBN untuk kebutuhan penyelenggaraan pendidikan Nasional, merupakan representasi kewajiban negara sebagai penyelenggara dan penjamin efektifitas proses pendidikan bagi warga negara. Amanat melaksanakan pendidikan tersebut merupakan representasi dari mandat  “untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa”.

    Maka muncul pertanyaan bahwa apakah tujuan pendidikan Nasional seperti yang diamanatkan oleh UU tersebut telah diterapkan? Tentu saja tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, mengingat kualitas Pendidikan Nasional beserta berbagai kebijakan yang melingkupinya masih jauh dari harapan masyarakat.

    Pendidikan Nasional yang diamanatkan oleh UU tersebut diatas masih jauh dari harapan masyarakat, bahwa pengelolaan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah Daerah yang semestinya tau kondisi sekolah dilapangan justru saat ini pengelolaanya tidak jelas. Hal ini disebabkan dalam pengambilan keputusan pemerintah daerah belum mampu menerapkan konsep pendidikan dengan pemerataan baik dari sarana dan prasarananya maupun tenaga pendidik dan kependidikannya, ini menunjukkan bahwa fakta dilapangan pemerintah dalam pelaksanaanyan pemerataan akses masih sangat diskriminatif, terbukti bahwa siswa yang ada di daerah terpencil masih belum bisa menikmati pendidikan yang layak sesuai amanat UU tersebut. Misalkan pemerintah daerah dalam penempatan Guru  belum merata atau tidak adil, sebab guru disekolah yang dekat dengan kota numpuk karena pola penempatan yang dilakukan oleh pemerintah daerah tidak melihat analisis kebutuhan akan tetapi yang dilakukan oleh pemerintah daerah adalah berdasarkan pendekatan atau ibaratkan seperti boking tiket pesawat (siapa yang cepat itu yang dapat) artinya bagi guru- guru yang tidak mau di buang jauh-jauh dari kota maka mereka harus mengeluarkan uang di kantongnya untuk membayar penempatan itu minimal 3 sampai 5 juta.

    Sementara pemerintah Daerah membuka sekolah di desa-desa terutama sekolah Satu Atap (SATAP) untuk SMP.  Tujuannya  agar masyarakat disekitar itu tidak harus pergi jauh-jauh untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMP dan SMA. Tetapi pemerintah jarang menindaklanjuti sekolah yang telah dibuka tersebut dengan membangun gedung, sebab gedung yang digunakan sebagai proses kegiatan belajar mengajar masih meminjam Gedung SD bagi SMP  dan Gedung SMP bagi siswa SMA, belum lagi penempatan Guru PNS yang tidak merata sebagai tenaga pengajar pada sekolah tersebut, hanya dipenuhi oleh Guru sukarela. Melihat kondisi seperti ini bahwa tujuan dibangunnya sekolah ini hanya untuk membagi-bagi kekuasaan bagi kepala daerah sebagai bentuk balas jasa dan ucapan terimakasih kepada para pendukungnya. Nah kalau kita mengacu pada  UU Sisdiknas diatas masih jauh dari harapan padahal semua warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, namun kenyataan dilapangan yang dilakukan oleh pemerintah adalah pemerataan akses pendidikan masih sangat diskriminatif. Terbukti bahwa siswa yang ada di daerah daerah terutama daerah terpencil masih sulit untuk mengakses pendidikan berkualitas karena disamping kualitas guru yang tidak memadai serta sarana dan prasarana yang tidak mendukung dalam proses kegiatan belajar mengajar.


    Penulis: Ardi
    Ketua 1 Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima / Guru pada SMA Negeri 1 Lambitu Kabupaten Bima.
     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website