Headlines News :
Home » , » Anomali Pendidikan Karakter

Anomali Pendidikan Karakter

Written By Pewarta News on Senin, 01 Mei 2017 | 11.31

"Nak, Apa yang kamu sukai lebih dulu gurunya atau mata pelajarannya?"

Eka Ilham, S.Pd., M.Pd.
PEWARTAnews.com -- Pendidikan karakter adalah membentuk karakter dan kepribadian anak bangsa menjadikan anak-anak bangsa ini memiliki kepribadian yang cakap, inovatif, kreatif dan bermoral. Setiap pendidik memiliki keinginan anak didiknya sukses untuk masa depannya, untuk itu banyak cara yang harus dilakukan untuk membentuk karakter. Hal ini merupakan prioritas utama dalam mengatasi prilaku dan sikap anak didik kita semakin hari semakin jauh dari kata karakter yang baik itu.

Para pendidik mengalami kesulitan dalam menerjemahkan bagaimana sesungguhnya pembinaan pendidikan karakter itu. Begitupun juga stackholder di Dinas Pendidikan selalu menggaungkan tentang pendidikan karakter bagi peserta didik. Pembinaan Imtak sering dilakukan di internal sekolah, tetapi tidak berpengaruh juga pada perubahan prilaku para anak didik kita. Pertanyaannya kenapa seperti itu? Hal ini menjadi pertanyaan kita semua sebagai seorang pendidik. Pendekatan agama memberikan solusi pada perubahan prilaku anak didik kita, tetapi nyatanya hasilnya tidak memenuhi target yang kita inginkan.

Sebagai seorang guru tentunya tidak harus putus asa, 'banyak jalan menuju roma', sebuah kalimat yang pantas untuk kita ungkapkan di kondisi dewasa ini. Pendidikan keluarga adalah pendidikan karakter yang terbaik, peranan orang tua dan lingkungan keluarga menjadi benteng terakhir bagi masa depan anak kita. Orang tua yang baik harus menyadari sepenuhnya bahwa yang bisa mendidik sepenuhnya anak-anak yang diberikan amanah oleh sang pencipta adalah kedua orang tua. Pendidikan karakter tidak mungkin menyerahkan sepenuhnya pada para guru disekolah. Pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan keluarga. Disamping itu guru harus memiliki peranan penting dalam membentuk anak didik kita.

Pendidikan karakter itu salah satunya ada pada ruang seni teater. Disana sesosok manusia diajarkan tentang moral values melalui media seni pertunjukkan. Seni pertunjukkan teater mengajarkan segala bentuk perilaku manusia dengan manusianya, manusia dengan kelompok manusianya, manusia dengan organisasinya, manusia dengan alamnya dan manusia dengan tuhannya dalam sebuah pertunjukkan. Fase pendidikan karakter dimulai sejak pengenalan seni teater. Fase belajar tentang olah vokal, oleh gerak, olah jiwa, dan meditasi bumi. Kita di ajak bercermin diri bahwasannya manusia mempunyai kelemahan dan kelebihan. Melalui pengajaran seni teater pendidikan karakter itu dibentuk. Kita lebih bijak dalam menghadapi persoalan. Itu adalah salah satu alternatif dan media untuk penyaluran bakat dan minat para peserta didik disamping kegiatan yang lainnya.

Mendirikan sebuah ekstrakurikuler di lingkungan sekolah adalah sebuah solusi terbaik dalam mendidik anak kita. Sekolah bukan hanya sekedar bangunan yang manusia-manusianya tidak melahirkan ide-ide kreatif. Sekolah harus mengambil peran untuk memfasilitasi segala aktifitas yang menjurus pada pendidikan karakter, namun fakta dilapangan acap kali kepala sekolah sangat pasif terhadap hal-hal pendidikan karakter yang pada akhirnya sekolah menjadi aktifitas yang membosankan. Guru hadir menggugurkan kewajiban yaitu mengajar siswa, siswa hadir ke sekolah untuk menggugurkan kewajibannya sebagai siswa tanpa ada aksi kreatifitas dalam bentuk kegiatan ekstrakurikulernya. Kepala sekolah hanya sebagai jabatan saja tetapi miskin kreatifitas dan inovasi untuk membangun. Oknum-oknum kepala sekolah hanya kreatif ketika menyangkut proyek sekolah, dana Biaya Operasional Sekolah (BOS), dan perjalanan Dinas, tetapi hasilnya nihil. Perjalanan Dinas lebih banyak unsur liburannya. Hal ini berlaku pada oknum-oknum kepala sekolah yang memang minim prestasi dan ketaladanan yang baik sebelum diangkat menjadi kepala sekolah.

Pendidikan karakter apa yang bisa kita harapkan ditengah kondisi lingkungan sekolah yang tidak kondusif. Guru kreatif, guru berprestasi, guru profesional, guru yang berintegritas dengan berbagai macam sebutannya menjadi tidak memiliki ruang untuk membangun dan kreatif ditengah kondisi lingkungan sekolah seperti ini. Fakta ini banyak kita temukan pada dunia pendidikan di Republik ini. Negara dalam hal ini pemerintah lebih banyak menghabiskan anggaran pendidikan pada hal-hal yang sifatnya normatif. Sekedar menghabiskan anggaran tetapi tidak menyentuh tujuan dari pendidikan itu sendiri. Sesungguhnya pendidikan karakter bukan kita temukan di ruang-ruang seminar, workshop, diklat dan petuah-petuah para intelektual-intelektual dalam balutan konsep dan teoritis. Pendidikan karakter itu aplikatif bukan retorika. Sangat miris sekali kita melihat di kehidupan keseharian kita, pendidikan lebih pada sebatas seminar yang sifatnya teoritis dan tidak aplikatif. Para stackholder pendidikan lebih senang pada slogan bukan aksi? Mengadakan seminar pendidikan karakter yang dihadiri oleh ratusan guru dan kepala sekolah adalah anomali yang tidak ada ujungnya.

Pemateri berbicara dengan retorikanya, guru dan kepala sekolah hanya menjadi pendengar setia bahkan tidak disimak. Bosan rasanya kita selalu berbicara pendidikan karakter di sudut ruang-ruang hampa tapi hasilnya tidak memberi pengaruh yang berarti pada diri peserta didik. Kasus-kasus yang terjadi di dunia pendidikan merupakan tamparan keras bagi Negara yaitu pemerintah sebagai penentu kebijakan pendidikan, para stackholder pendidikan, sekolah dan para pendidik 'pahlawan tanpa tanda jasa'. Tanggung jawab tampa batas tapi minim penghargaan merupakan potret para pendidik dan dunia pendidikan di republik ini. Anggaran pendidikan yang sangat besar di tahun 2017 ini tidak menjamin proses pendidikan sumber daya manusianya memenuhi target yang sesuai dicita-citakan oleh kita semua. Tidak heran di kota-kota besar bermunculan sekolah-sekolah swasta yang berbasis pendidikan alam, dimana ruang alam mereka jadikan sebagai ruang pembelajaran, munculnya sekolah "home scholing', bimbingan belajar (bimbel), Rumah Qur'an yang menawarkan berbagai macam pendidikan karakter yang inovasi dan kreatif. Hal ini menjadikan para wali murid mempercayakan pendidikan pada lembaga-lembaga swasta tersebut untuk mendidik putra-putrinya. Kalaupun kita kaji dan analisis itu adalah sebuah bentuk penolakan terhadap pendidikan formal yang tidak memberi pengaruh pada pendidikan karakter anak-anaknya. Suatu hal yang membahayakan nantinya pada masa yang akan datang kalau pada akhirnya pendidikan formal akan terpinggirkan oleh pendidikan informal. Para orang tua wali lebih percaya pada bimbingan belajar (bimbel), padahal kalau kita lihat yang mengikuti bimbingan belajar itu adalah anak-anak yang pintar artinya mereka masih menganggap belum pintar atau masih merasa kurang dengan apa yang diajarkan oleh guru-gurunya disekolah. Si anak menjadi anak yang tidak merdeka dalam ilmunya, usia yang masih muda tetapi harus dipaksa untuk menyerap semua ilmu pengetahuan. Padahal sesungguhnya pendidikan karakter yang di inginkan bukan hanya menyoal tentang pencapaian kognitifnya (pengetahuan) saja tetapi yang di utamakan dalam pendidikan karakter adalah afektif (sikap/prilaku).

Mengajak anak kita membantu, menolong dan berempati pada sesama adalah salah satu cara menanamkan sikap-sikap dalam pendidikan karakter. Disinilah peran seorang guru dan orang tua mampu membimbing dan melihat potensi dari anak-anak kita. Seorang anak yang tidak bisa satu mata pelajaran belum tetapi si anak itu katakan bodoh. Dia mungkin unggul di segi attitudenya (sikap/prilaku) atau kemampuan psikometrik lainnya entah itu dalam bidang seni, menulis, membaca dan kemampuan lainnya. Disinilah dibutuhkan kejelian pada kita sebagai pendidik dan orang tua. Ketika kita masih menganggap bahwa anak didik kita bukan seperti anak kandung kita maka proses transfer ilmu tidak akan sampai pada peserta didik kita artinya senangilah anak didik kita seperti kita menyenangi anak kita sendiri. Tugas kitalah mengantarkan anak didik kita ini untuk lebih siap menggapai masa depannya dengan memberikan dan menanamkan pendidikan karakter yang bermanfaat.


Penulis: Eka Ilham, S.Pd., M.Si.
Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Bima

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website