Headlines News :
Home » » Kontroversi Sang "Ulama"

Kontroversi Sang "Ulama"

Written By Pewarta News on Senin, 22 Mei 2017 | 12.46

Muammar Kadafi. 
PEWARTAnews.com – Akhir-akhir ini cukup banyak kita menghabiskan tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yang tidak produktif. Satu sisi kita mengeluh dengan kondisi bangsa yang tak kunjung maju, tapi di sisi lain justru kita sendiri yang menghambat kemajuan itu. Kondisi yang terbaru terkait dengan dukungan terhadap seorang "Ulama" yang pada akhirnya akan berujung pada aksi yang mengganggu stabilitas dan hak-hak orang lain. Saya sebenarnya tidak mendukung siapa pun. Saya hanya selalu menilai sesuatu secara kritis dan objektif. Bagi saya, apapun yang terjadi, toh hidup kita hanya bergantung pada diri kita sendiri. Di akhirat pun kita akan mempertanggung jawabkan perbuatan kita masing-masing.

Beberapa hari belakangan ini banyak yang menyerukan aksi "Bela Ulama". Ulama yang dimaksud tentu saja yang sekarang sedang menjalani proses hukum terkait dengan kasus yang membelitnya. Saya sering bertanya, apakah orang-orang yang membuat status dan menyerukan orang-orang untuk meng-copy paste status tersebut sudah berusaha untuk berpikir sejenak sebelum melakukan itu?

Seperti apakah sebenarnya kriteria seseorang agar bisa disebut Ulama? Ulama itu bukan titel yang didapat dari bangku kuliah. Ulama itu bukan masalah sorban dan janggut semata. Bukan juga karena pandai berceramah dan memiliki banyak pengikut. Ulama itu pewaris para nabi. Apakah anda tahu bagaimana sifat-sifat Nabi? Itulah seharusnya sifat seseorang yang pantas disebut Ulama. Jika Nabi sudah dijamin masuk surga, maka Ulama juga seperti itu. Bagaimana mungkin seseorang disebut Ulama jika sifatnya jauh dari sifat-sifat Nabi? Bagaimana mungkin sebutan Ulama disematkan pada seseorang yang tidak mampu menjaga tutur katanya?

Apakah pernah terdengar keluar dari mulut Nabi kata-kata kotor seperti an**ng atau bang**t? (itu hanya beberapa kata yang saya dengar langsung dari video). Jika pewaris Nabi disematkan pada seseorang yang seperti itu, sungguh rendah derajat Nabi di mata anda.

Saya sampai detik ini tidak mau menyerukan kata-kata "bela Ulama" jika Ulama yang dimaksudkan adalah orang yang saya anggap belum pantas disebut Ulama.

Wallahu a'lam bissawab.
Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.


Yogyakarta, 21 Maret 2017
Penulis: Muammar Kadafi

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website