Headlines News :
Home » , » Mengembalikan Jatidiri Pendidikan Kita (Refleksi Hardiknas 2017)

Mengembalikan Jatidiri Pendidikan Kita (Refleksi Hardiknas 2017)

Written By Pewarta News on Senin, 01 Mei 2017 | 00.07

Abdul Barry, S.Pd.
PEWARTAnews.com -- Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi semua orang. Bukti tak terbantahkan bahwa hanya dengan pendidikanlah insan-insan unggul lahir dan mampu mengembangkan kualitas intelektual serta kemanusiaannya.

Pendidikan pada hakekatnya memanusiakan manusia, mendesain manusia menjadi mahluk yang mampu mengenal diri, lingkungan dan orientasi kehidupannya.

Memperhatikan kondisi kehidupan sosial kebangsaan kita saat ini sebagai bagian dari output pendidikan kita selama ini, patut di ajukan kembali satu pertanyaan mendasar, apakah pendidikan yang kita jalankan sekarang masih relevan sebagai tolak ukur bagi lahirnya manusia manusia terdidik, bermoral? Jika masih relevan mengapa sampai hari ini masih dan bahkan bertumpuk penyakit-penyakit sosial serta persoalan-persoalan individu dan bangsa yang belum bisa di carikan solusinya?

Membangun Indonesia raya dengan membangun pendidikan secara serius itu jauh lebih penting di banding mengutamakan bidang lain yang kontribusinya bagi bangsa tidak terlalu signifikan. Pendidikan merupakan investasi besar bagi peradaban bangsa di masa yang akan datang, bahkan the founding father kita, bung Karno dan Bung Hatta pernah menegaskan bahwa membangun sekolah sama dengan membangun bangsa itu sendiri. Artinya membangun peradaban bangsa harus di mulai dari sekolah, build school build nation.

Kondisi yang terjadi saat ini tidak bisa di sangkal bahwa gerbong pendidikan yang kita bangun selama ini kental dengan orientasi serta nilai-nilai materialistis yaitu selalu mengukur kesuksesan pendidikan dengan seberapa bagus pekerjaan dan jabatan yang di raih setelah selesai dari bangku pendidikan.

Sikap yang digambarkan diatas bukan menihilkan peran materi dalam kehidupan, tetapi harus di sadari bahwa pendidikan yang hanya semata mata berorientasi pada pemenuhan hasrat dunia kerja dan meraih jabatan-jabatan tertentu saja serta mengesampingkan tujuan dasar pendidikan yaitu transformasi ilmu dan moral hanya akan melahirkan manusia-manusia yang pintar secara Intelektual tetapi gersang spiritualnya.

Pola pikir pendidikan yang terlalu pragmatis dan materialis seperti itu sebenarnya tidak sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional,sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 yang menegaskan bahwasannya pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Paparan di atas merupakan tujuan pendidikan di Indonesia seperti yang tertulis resmi dalam undang undang. Jika dicermati secara umum tujuan tersebut sangat baik, masalahnya apakah dalam aplikasinya benar-benar di wujudkan untuk mencapai tujuan pendidikan?

Rasanya sulit bagi kita untuk menjawab bahwa hal itu mampu mewujudkan tujuan pendidikan Nasional, karena semua aktifitas dan pengabdian yang dijalankan tak terkecuali pendidikan hanya berorientasi materi (material oriented), bukan pada nilai-nilai moral spiritual. Sikap demikian, akibatnya akan terus tumbuh budaya kerja yang pamrih, mencetak lulusan-lulusan yang pintar dan penuh kompetisi dan miskin nilai. Hasil (out put) pendidikan seperti ini setelah mendapatkan pekerjaan dan jabatan mereka akan mencari kepuasan materi setinggi-tingginya, pengabdian mereka selalu dinilai dengan finansial semata-mata, sehingga lahir budaya kerja yang tidak sehat, persaingan yang tidak manusiawi,, bahkan menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Seperti penyalahgunaan wewenang, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) sebagaimana yang terjadi pada berbagai level dan jenis institusi kerja saat ini, baik itu di institusi pemerintahan maupun swasta.

Sekarang saatnya gerbong serta disorientasi pendidikan kita kembalikan kearah yang benar, kejati dirinya menuju gerbong pendidikan yang selalu memposisikan spiritual value sebagai bagian penting dari tujuan pendidikan nasional kita, yang bermuara pada terciptanya out put pendidikan yang berkualitas, yaitu lahirnya seluruh level profesi yang bermutu. Murid, guru, dosen, birokrat, pengusaha dan lain-lain yang cerdas intelektualnya sekaligus cerdas spiritualnya, sehingga pada akhirnya juga akan tercipta b├╣daya kerja yang ikhlas, bertanggung jawab, jujur, untuk kemajuan pribadi masyarakat dan bangsa, itulah sebenarnya jatidiri dan tujuan utama pendidikan nasional kita.


Penulis: Abdul Barry, S.Pd.
Sekretaris Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Bima

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website