Headlines News :
Home » » Sanggar Seni Rimpu Gelar Diksar

Sanggar Seni Rimpu Gelar Diksar

Written By Pewarta News on Kamis, 04 Mei 2017 | 11.20

Suasana saat peserta Diksar mempraktekkan tarian Wura Bongi Monca.
Bantul, PEWARTAnews.com -- Sanggar Seni Budaya Rimpu Bima-Yogyakarta (Sanggar Rimpu) telah melaksanakan kegiatan Didikan Dasar (Diksar) pada hari Jum’at-Minggu, 21-23 April 2017 di Pantai Pelangi, Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Acara yang berlangsung selama tiga hari diikuti 15 orang peserta yang merupakan kiriman dua orang delagasi dari tiap-tiap organisasi dibawah naungan Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta. Hari pertama kegiatan diisi dengan acara resmi dan dilanjutkan dengan perkenalan antar peserta DIKSAR dan senior-senior Sanggar Rimpu dan mengenal sejarah Sanggar Rimpu yang di sampaikan oleh senior-senior Rimpu, pada hari Jumat, 21 April 2017.

Sementara pada hari kedua, Kamis (22/04/2017) di isi dengan empat materi-materi yang menarik dan langsung praktek, dengan pemantiknya yaitu senior-senior Sanggar Rimpu. Adapun materinya tentang : “Kebudayaan” pemantiknya bang Darwis, “Pengenalan Teater” pemantiknya Muhammad Kurniawan Syafrudin selaku Ketua Umum Sanggar Rimpu, “Pengenalan Musik” pemantiknya Nahdatul Islamiyah (biasa disapa Polo), dan terakhir “Pengenalan Tari” dengan pemantiknya Yeni.

Dalam kegiatan itu, Ketua Umum Sanggar Rimpu Muhammad Kurniadin Syafrudin berharap peserta Diksar terus mempelajari budaya Bima. “Semoga peserta Diksar mampu mempelajari budaya Bima di tanah rantauan ini, karena dengan mempelajarinya mampu mengangkat harkat dan martabat budaya Bima,” cetus Muhammad Kurniadin Syafrudin.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Agus Salim yang juga hadir memberikan sambutan dalam acara Diksar Sanggar Rimpu tersebut memberikan tanggapannya terkait perlunya mempelajari budaya dan tradisi Bima. “Harapan saya, jangan sampai anggapan kita terhadap budaya seperti yang kita pelajari saat ini dianggap ketinggalan jaman. Bukan seperti itu, karena sejujurnya bicara budaya itu adalah bicara hari ini, kalau  bicara masa lampau berarti bicara sejarah. Ini ada kaitannya dengan perspektif globalisasi dan modernisasi. Lalu bagaimana daerah kita bisa eksis dan dikenal luas, maka perlu adanya upaya untuk memperkenalkan nilai-nilai tradisi lokal yang kita miliki kepada orang lain di luar Bima,” beber Agus Salim. (Siti Hawa / PEWARTAnews)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website