Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Like Fun Page Kami

    Politik Itu Mulia (Perspektif Hukum Islam)

    Mustafa, S.E., M.M.
    PEWARTAnews.com – Politik merupakan ‘ilmu pemerintahan’ atau ‘ilmu syiasyah dalam Islam’, yaitu ‘ilmu tata negara’ dalam hukum politik adalah melayani masyarakat sepenuh hati. Sedangkan pengertian dan konsep politik atau syiasyah dalam Islam sangat berbeda dengan pengertian dan konsep yang digunakan oleh orang-orang yang bukan Islam.

    Politik dalam Islam menjuruskan kegiatan ummah kepada usaha untuk mendukung dan melaksanakan syari’at Allah melalui sistem kenegaraan dan pemerintahan. Ia bertujuan untuk menyimpulkan segala sudut Islam yang syumul melalui satu institusi yang mempunyai syahksiyyah untuk menerajui dan melaksanakan undang-undang.

    Firman Allah yang artinya:
    Artinya: “Dan Katakanlah: Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”. (AI Isra’: 80).

    Maksudnya: memohon kepada Allah supaya kita memasuki suatu ibadah dan selesai daripadanya dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan serta bersih dari ria dan dari sesuatu yang merusakkan pahala. Ayat ini juga mengisyaratkan kepada nabi supaya berhijrah dari Mekah ke Madinah. Ada juga yang menafsirkan: memohon kepada Allah s.w.t. supaya kita memasuki kubur dengan baik dan keluar daripadanya waktu hari-hari berbangkit dengan baik pula. Berdasarkan landasan di atas inilah para ‘ulama’ menyatakan bahawa: “Allah menghapuskan sesuatu perkara melalui kekuasaan pemerintahan (negara) apa yang tidak dihapuskan-Nya melalui al-Qur’an”

    Sistem Politik Islam
    Ada beberapa sistem politik Islam, diantaranya Hakimiyyah Ilahiyyah, Risalah dan  Khalifah. Beberapa sistem politik Islam yang telah disebutkan diatas, dibawah ini penulis coba uraikan satu-persatu.

    Pertama: Hakimiyyah Ilahiyyah atau memberikan kuasa pengadilan dan kedaulatan hukum tertinggi dalam sistem politik Islam hanyalah hak mutlak Allah. Bahwasanya Allah adalah Pemelihara alam semesta yang pada hakikatnya adalah Tuhan yang menjadi Pemelihara manusia, dan tidak ada jalan lain bagi manusia kecuali patuh dan tunduk kepada sifat Ilahiyyah-Nya Yang Maha Esa. Bahwasanya hak untuk menghakimi dan mengadili tidak dimiliki oleh sesiapa kecuali Allah. Oleh kerana itu, manusia wajib ta’at kepada-Nya dan beribadat kepada-Nya. Bahawasanya hanya Allah saja yang memiliki hak mengeluarkan hukum sebab Dialah satu-satu-Nya pencipta. Bahwasanya hanya Allah saja yang memiliki hak mengeluarkan peraturan-peraturan, sebab Dialah satu-satu-Nya Pemilik. Bahwasanya hukum Allah adalah sesuatu yang benar sebab hanya Dia saja yang mengetahui hakikat segala sesuatu, dan di tangan-Nya saja penentuan hidayah dan penentuan jalan yang selamat dan lurus. Tidak mungkin Ianya menjadi milik siapapun selain Allah dan tidak ada siapapun yang memiliki suatu bahagian daripadanya. Sebagaimana Firman Allah yang Artinya:

    Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan-Nya, dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”. (Al-Furqan: 2).

    Maksudnya: segala sesuatu yang dijadikan Tuhan diberi-Nya perlengkapan-perlengkapan dan persiapan-persiapan, sesuai dengan naluri, sifat-sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup. Jadi manusia tidak punya alasan lagi untuk tidak melayani antara satu dengan yang lainnya, karena manusia adalah makhluk sosial yang saling dan sangat membutuhkan bantuan dan pertolongan manusia yang lainnya, sehingga dalam kita berkelompok, bermusawarah untuk mencapai mufakatpun selalu dianjarkan untuk saling menghormati, menghargai dan memperjuangkan yang benar serta meniadakan yang salah (amar makruf nahi mungkar), tetapi kebanyakan musyawarah dalam politik, menetapkan hukum, serta melaksanakan kebijakan pemerintahan tidak lagi memperhatikan unsur-unsur, yang terdapat dalam Islam, padahal semuanya bersumber dari Islam.

    Seperti Firman Allah dibawah ini yangArtinya:
    Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan hukum dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. (A1 Qashash: 70).

    Maksudnya: Allah sendirilah yang menentukan segala sesuatu dan ketentuan-ketentuan itu pasti berlaku dan dia pulalah yang mempunyai kekuasaan yang mutlak. Ketentuen hukum (penetapannya) hanyalah miliki mutlak Allah, maka sebagai seorang muslim kita harus bersikap dan bertindak serta menetapkan sebuah keputusan dalam hukum, tentunya menetapkan dengan cara-cara yang adil, sesuai dengan anjuran Islam. Sementara kita lihat dewasa ini para, hakim, dalam menetapkan hukum sudah jauh menyimpang dari ketetapan hukum Allah. Selain itupula kekuasaan yang mutlak hanyalah milik Allah, sehingga para anggota legislatif, eksekutif dan yudikatif, merupakan alat negara yang melayani masyarakat dengan baik, berdasarkan politik, hukum, maupun ekonomi islam, juga tidak terlepas dengan kaidah yang ada dalam UUD 1945, sebagai dasar negara kita.

    Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya Aku berada di atas hujjah yang nyata (Al-Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan dia pemberi keputusan yang paling baik”. (A1 An'am: 57).

    Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. mempunyai bukti yang nyata atas kebenarannya hukum, karena sesuanggunya keputusan suatu hukum dan kekuasaan yang tertinggi adalah Allah. Sehingga kita sebagai hamba Allah, dan juga ummat  Muhammad, tentu bersikap dan bertindak bijak dalam menegakkan hukum dan memberikan keputusan yang adil. Karena manusia secara naluri membutuhkan keadilan yang nyata. Keadilan merupakan tuntunan hati nurani manusia, oleh karenanya, Islam sebagai jalan yang benar, amat menekankan agar dalam hubungan antar manusia selalu ditegakkan nilai-nilai keadilan.

    Kedua: Risalah. Jalan kehidupan para rasul diiktiraf oleh Islam sebagai sunan al-huda atau jalan-jalan hidayah. Jalan kehidupan mereka berlandaskan kepada segala wahyu yang diturunkan dari Allah untuk diri mereka dan juga untuk umat-umat mereka. Para rasul sendiri yang menyampaikan hukum hukum Allah dan syari’at syari’at-Nya kepada manusia. Risalah berarti bahwa kerasulan beberapa orang lelaki di kalangan manusia sejak nabi Adam hingga kepada nabi Muhammad s.a.w adalah satu asas yang penting dalam sistem politik Islam. Melalui landasan risalah inilah maka para rasul mewakili kekuasaan tertinggi Allah di dalam bidang perundangan dalam kehidupan manusia.

    Para rasul menyampaikan, mentafsir dan menterjemahkan segala wahyu Allah dengan ucapan dan perbuatan mereka. Dalam sistem politik Islam, Allah telah memerintahkan agar manusia menerima segala perintah dan larangan Rasulullah s.a.w. Manusia diwajibkan tunduk kepada perintah perintah Rasulullah s.a.w dan tidak mengambil selain daripada Rasulullah s.a.w untuk menjadi hakim dalam segala perselisihan yang terjadi di antara mereka. Sebagaimana firman-Nya:

    Artinya: “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”. (Al Hasyr: 7).

    Artinya: “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (An Nisa’: 64).

    Maksudnya: berhakim kepada selain Nabi Muhammad s.a.w., adalah keputusan yang salah, atau penetapan hukum yang keliru, dan tidak dibenarkan dalam islam, oleh karena itu, setiap hakim, polisi, makhkam agung, pengadilan apapun yang ada di Indonesia ini sudah seharusnya memiliki nilai-nilai keislaman dalam menetapkan hukum di masyarakat. Karena mengingat masyarakat Indoesia mayoritas, tapi itulah realitas di Indonesia, bahwa dengan mayoritas masyarakat Islam para penguasa belum mampu mengibarkan bendera Islam ditataran kenegaraan yang berdaulat.

    Adapaun pendapat orang islam sendiri, bahwa negara kita adalah bukan negara Islam, memang benar negara Indonesia adalah negara demokrasi, tetapi melihat dari mayoritas Islam di Indonesia, mengapa para penguasa tidak mampu menerapkan hukum Islam, mari kita lihat di provinsi Klantan Malaysia, disana mayoritas muslim, tapi orang-orang China, Budha dan agama lain, mereka merasa nyaman dengan penerapan nilai Islam di Klantan, karena kerusakan-kerusakan, perjudian, minuman keras, tidak terdapat di mana-mana, sehingga orang Klatan mau minuman keras saja harus keluar dari provinsi tersebut. Sebenarnya pemerintah Indonesia tidak ada alasan lagi untuk tidak menerapkan UUD Islam.

    Ketiga: Khalifah berarti perwakilan, dengan pengertian ini, ia bermaksud bahwa kedudukan manusia di atas muka bumi ialah sebagai wakil Allah. Ini juga bermaksud bahwa di atas kekuasaan yang telah diamanahkan kepadanya oleh Allah, maka manusia dikehendaki melaksanakan undang-undang Allah dalam batas-batas yang ditetapkan. Di atas landasan ini, maka manusia bukanlah penguasa atau pemilik, tetapi ia hanyalah khalifah atau wakil Allah yang menjadi pemilik yang sebenarnya. Sebagaimana firmannya:

    Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (QS. Al Baqarah: 30).

    Artinya: “Kemudian kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat”. (QS. Yunus: 14).

    Maksudnya: Seorang khalifah hanya menjadi khalifah yang sah selama mana ia benar-benar mengikuti hukum-hukum Allah. Oleh karena itu khilafah sebagai asas ketiga dalam sistem politik Islam menuntut agar tugas tersebut dipegang oleh orang-orang yang memenuhi syarat-syarat berikut: Pertama: Mereka mestilah terdiri dari orang-orang yang benar-benar menerima dan mendukung prinsip-prinsip tanggungjawab yang terangkum di dalam pengertian khilafah. Kedua: Mereka tidak terdiri dari orang-orang zalim, fasiq, fajir dan lalai terhadap Allah serta bertindak melanggar batas-batas yang ditetapkan oleh-Nya. Ketiga: Mereka mestilah terdiri dari orang-orang yang berilmu, berakal sehat, memiliki kecerdasan, kearifan serta kemampuan intelek dan fizikal. Keempat: Mereka mestilah terdiri dari orang-orang yang amanah sehingga dapat dipikulkan tanggungjawab kepada mereka dengan aman dan tanpa keraguan.

    Prinsip-Prinsip Utama Sistem Politik Islam
    Ada beberapa prinsip-prinsip utama sistem politik Islam, diantaranya musyawarah, keadilan, kebebasan, persamaan dan  hak menghisab pihak pemerintah. Beberapa prinsip-prinsip utama sistem politik Islam yang telah disebutkan diatas, dibawah ini penulis coba uraikan satu-persatu.

    Pertama: Musyawarah, sebagai prinsip pertama dalam sistem politik Islam ialah musyawarah berkenaan dengan pemilihan kepala negara dan orang-orang yang akan menjalankan tugas-tugas utama dalam pengabdian ummah. Asas musyawarah yang kedua pula adalah berkenaan dengan penentuan jalan dan cara perlaksanaan undang-undang yang telah dimaktubkan di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Asas musyawarah yang seterusnya ialah berkenaan dengan jalan jalan menentukan perkara perkara baru yang timbul di kalangan ummah melalui proses ijtihad.

    Kedua: Keadilan, merupakan pondasi utama dalam sistem politik Islam, karena keadilan menyangkut dengan sosial yang dijamin oleh sistem politik tatanegara dan sistem politik ekonomi Islam. Keduanya memenuhi hajat hidup orang banyak. Keadilan di dalam bidang-bidang sosio ekonomi tidak mungkin terlaksana tanpa terwujudnya kuasa politik yang melindungi dan mengembangkannya. Di dalam perlaksanaannya yang luas, prinsip keadilan yang terkandung dalam sistem politik Islam meliputi dan menguasai segala jenis perhubungan yang berlaku di dalam kehidupan manusia, termasuk keadilan di antara rakyat dan pemerintah, di antara dua pihak yang bersengketa di hadapan pihak pengadilan, di antara pasangan suami isteri dan di antara ibu bapak dan anak-anaknya. Oleh sebab kewajiban berlaku adil dan menjauhi perbuatan zalim adalah merupakan di asas utama dalam sistem sosial Islam, maka menjadi peranan utama sistem politik Islam untuk memelihara asas tersebut. Pemeliharaan terhadap keadilan merupakan prinsip nilai nilai sosial yang utama kerana dengannya dapat dikukuhkan kehidupan manusia dalam segala aspeknya.

    Ketiga: Kebebasan, prinsip ketiga dalam sistem politik Islam ialah kebebasan. Kebebasan yang dipelihara oleh sistem politik Islam ialah kebebasan yang berteraskan kepada ma’ruf dan kebajikan. Menegakkan prinsip kebebasan yang sebenarnya adalah di atas tujuan tujuan terpenting bagi sistem politik dan pemerintahan Islam serta asas asas bagi undang undang perlembagaan negara Islam.

    Keempat:  Persamaan, dalam sistem politik Islam ialah persamaan atau musawah. Persamaan di sini terdiri daripada persamaan dalam mendapat dan menuntut hak-hak, persamaan dalam memikul tanggungjawab menurut peringkat-peringkat yang ditetapkan oleh undang-undang perlembagaan dan persamaan berada di bawah taklukan kekuasaan undang-undang.

    Kelima:   Hak Menghisab Pihak Pemerintah dalam sistem politik Islam ialah hak rakyat untuk menghisab pihak pemerintah dan hak mendapat penjelasan terhadap tindak tanduknya. Prinsip ini berdasarkan kepada kewajiban pihak pemerintah untuk melakukan musyawarah dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan dan pertimbangan negara dan ummah. Hak rakyat untuk disuarakan adalah kewajiban setiap anggota di dalam masyarakat untuk menegakkan kebenaran dan menghapuskan kemungkaran. Hak ini dalam pengertian yang luas juga berarti hak untuk mengawasi dan menghisab tindak tanduk dan keputusan-keputusan pihak pemerintah. Prinsip ini berdasarkan kepada firman Allah:

    Artinya: “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.”  (QS. Al-Baqarah: 205).

    Artinya: “Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”. (QS. Shaad : 26).

    Maksudnya: Ungkapan Ini adalah ibarat dari orang-orang yang berusaha menggoncangkan iman orang-orang mukmin dan selalu mengadakan pengacauan, karena sesungguhnya kerusakan itu datang dan di undang oleh manusia itu sendiri, lalu kemudian Allah memenuhi undangan hambanya tersebut, sehingga Allah pun mengirim angin topan, gunung meletus, pesawat jatuh, dll.

    Kemudian ketika kita manusia memberikan keputusan berdasarkan hawa nafsu kita, maka kita telah melakukan kesalahan besar, kita melakukan kesalahan besar berarti kita telah melupakan perhitungan dari Allah. Jadi apa saja yang terjadi dimuka bumi ini, bukan kirimin Allah semata, tetapi kejadian-kejadian tersebut, atas dasar undangan kita kepada Allah, dengan kita melakukan kerusakan, di darat, dilaut dan diudara.

    Tujuan Politik Menurut Islam
    Tujuan sistem politik Islam ialah untuk membangunkan sebuah sistem pemerintahan dan kenegaraan yang tegak di atas dasar untuk melaksanakan seluruh hukum syari’at Islam. Tujuan utamanya ialah untuk menegakkan sebuah negara Islam atau darul Islam. Dengan adanya pemerintahan yang mendukung syari’ah, maka akan tertegaklah ad-Din dan berterusanlah segala urusan manusia menurut tuntutan-tuntutan ad-Din tersebut.

    Para fuqaha Islam telah menggariskan sepuluh perkara penting sebagai tujuan kepada sistem politik dan pemerintahan Islam. Pertama: Memelihara keimanan menurut prinsip-prinsip yang telah disepakati oleh ‘ulama’ salaf dari kalangan umat Islam. Kedua: Melaksanakan proses pengadilan di kalangan rakyat dan menyelesaikan masalah di kalangan orang-orang yang berselisih. Ketiga: Menjaga keamanan daerah-daerah Islam agar manusia dapat hidup dalam keadaan aman dan damai. Keempat: Melaksanakan hukuman-hukuman yang ditetapkan syara’ demi melindungi hak-hak asasi manusia. Kelima: Menjaga perbatasan negara dengan berbagai persenjataan untuk menghadapi kemungkinan serangan dari pihak luar. Keenam: Melancarkan jihad terhadap golongan yang menentang Islam. Ketujuh: Mengendalikan urusan pengutipan cukai, zakat dan sedekah/pajak sebagai mana yang ditetapkan oleh syara’. Kedelapan: Mengatur anggaran belanja dan perbelanjaan dari perbendaharaan negara agar tidak digunakan secara boros ataupun secara kikir. Kesembilan: Mengangkat pegawai-pegawai yang cakap dan jujur bagi mengawal kekayaan negara dan mengurus hal ihwal berkaitan dengan negara. Kesepuluh: Menjalankan pengaulan dan pemeriksaan yang rapi di dalam hal ihwal aman demi untuk memimpin negara dan melindungi ad-Din.

     Dari tulisan ini memberikan kesadaran, pemahaman, konsep politik islam yang sebenarnya, kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat bima, bahwasanya politik dalam Islam adalah suatu kewajiban, dan sangat mulia, barangsiapa yang mengatakan politik tidak boleh dikaitkan dengan Islam, maka sesungguhnya orang tersebut telah kafir, keluar dari Islam, mengapa penulis menegaskan hukum kafir terhadap orang-orang yang memandang politik tidak ada kaitan dengan islam, karena penulis mendasari Firman Allah dan Hadist Rasulullah tersebut diatas. Sehingga politik dalam islam adalah sangat dimuliahkan, karena melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi manusia, yang di gembar-gemborkan selama ini, bahwasanya Islam adalah agama yang sangat mulia dan rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam).


    Penulis: Mustafa, S.E., M.M.
    Pimpinan Yayasan Tauhidul Ummah / Kandidat Doktor Hukum Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

    Mengenal Pondok Pesantren Tauhidul Ummah Pusat-Yogyakarta

    Logo Yayasan Tauhidul Ummah Pusat Yogyakarta.
    Sleman, PEWARTAnews.com – Pada awal sejarah berdirinya Negara Indonesia tidak terlepas dari peran serta Pondok Pesantren sehingga melahirkan para Tokoh-Tokoh Nasional dalam membangun Agama, Bangsa dan Budaya, hasil dari perjuangan para Pahlawan itu sehingga bisa dikenal oleh Negara-negara lain dalam membangun Harkat dan Martabat Bangsa.

    Pada saat sekarang  beberapa Pondok Pesantren  di berbagai daerah di Indonesia yang mengalami kemajuan yang  sangat besar, dan itu semua merupakan sebuah basis bagi Bangsa Indonesia untuk menjawab persoalan agama, Bangsa dan Budaya yang begitu maraknya dengan  perbedaan perspektif terhadap penterjemah fiqh/tata cara pelaksanaan Ibadah,  sehingga akan melahirkan konflik horisontal kelompok. dan Indonesia merupakan Bangsa yang varian Agamanya sangat besar, maka tuntutan Bangsa Indonesia kepada umatnya untuk saling menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan saling menghormati antara Agama yang satu dengan Agama yang lain, sehingga akan melahirkan harmonisasi kehidupan antar ummat.

    Maka dari itu kehadiran pondok pesantren itu memberikan kontribusi positif kepada Agama, Bangsa dan Budaya dalam melakukan “Gerak Amal Mak’ruf Nahi Mungkar” dalam menjawab perbedaan Perspektif atau Ideologi kehidupan sosial, dan harapan kami kedepan dalam merumuskan kebijakan agar memperhatikan Pondok Pesantren.

    Tauhidul Ummah mempunyai Akta pendirian yang jelas, yaitu dengan Akta Notaris ; Nomor 01/27 April 2011, yang dikeluarkan oleh Syarafi, S.H. M.Kn dan telah terdaftar juga di Kementerian Hukum dan HAM RI dengan No: AHU.2-AH.01.01-5317.

    Pondok Tauhiduk Ummah beralamat Jln.  Palagan Tentara Pelajar KM 14 Ketulan RT04/02, Candibinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta-Indonesia, 55582. 082242014117 (Sulaiman). Sangat dekat dengan kampus Pusat UII (Jln. Kaliurang).

    Adapun Pimpinan Pondok Pesantren Tauhidul Ummah Pusat-Yogyakarta adalah Ustad Mustafa,SE.,MM. bagi para donator atau para dermawan yang ingin menyumbang demi keberlangsungan Yayasan Tauhidul Ummah Pusat-Yogyakarta bisa mengunjungi langsung alamat diatas atau hubungi nomor yang tertera diatas. 

    Berkat Facebook

    Ilustrasi facebook. Foto: techmalak.com.
    PEWARTAnews.com – Saya membuat akun facebook pada tahun 2010. Mulanya, saya hanya memanfaatkan akun ini untuk berkomunikasi dengan teman-teman, khususnya yang berada di kejauhan. Kadang saya hanya memasang/menulis status yang tidak jelas. Pokoknya, saya hanya menggunakannya kepada hal-hal yang kurang bermanfaat. Bertahun-tahun, saya melakukan hal demikian. Saya belum terpikirkan untuk menggunakan ke hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti sebagai media untuk menyebarkan informasi-informasi yang bermutu, menyebarkan ilmu-ilmu, maupun tulisan-tulisan.

    Mulailah tahun 2012, saya mencoba berteman dengan beberapa penulis di Indonesia. Dari situ, saya mulai melirik status-status beliau. Luar bisa memang, status-statusnya semua berbobot. Beliau-beliau, selalu meng-update statusnya dengan berbagai tulisan, seperti ungkapan-ungkapan motivasi. Ada juga yang memanfaatkan media tersebut sebagai media dakwah, dan menyebarkan tulisan (seperti artikel singkat, puisi, cerpen).

    Berdasarkan berbagai motivasi dan inspirasi dari status facebook beliau-beliau ini, mulailah saya memanfaatkan media tersebut untuk menyebarkan informasi-informasi yang bermanfaat atau sekadar men-share berita-berita dari akun teman-teman yang lain. Sesekali juga saya men-share tulisan-tulisan singkat saya.

    Tahun 2016, merupakan tahun yang sangat berharga buat saya. Karena di tahun ini, saya mulai melebarkan sayap untuk mencoba berteman dengan berbagai penerbit di Indonesia. Berkat pertemanan itulah, saya juga bisa menerbitkan dua buah buku karya saya sendiri (karya solo). Andaikata saya tidak berteman denganya, mungkin sampai sekarang saya belum bisa menerbitkan buku tersebut. Padahal, naskahnya saya tulis sejak tahun 2011.

    Akhir 2016, saya mengikuti event penulisan buku “Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid 8” oleh Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Alhamdulillah, naskah profil saya lolos dan siap diterbitkan dalam buku “EPI Jilid 8” tersebut. Berkat pertemanan lewat akun facebook juga, Alhamdulillah, saya diterima sebagai keluarga besar Komunitas Aku Bisa Menulis, yang dirintis oleh M. Husnaini. Semua itu berkat facebook.

    Alhamdulillah juga, pada akhir Desember 2016 lalu, saya mulai menyebarkan berbagai tulisan singkat saya, salah satunya lewat facebook. Tentu, dengan harapan, tulisan-tulisan tersebut bisa dibaca dan dinikmati oleh orang lain. Semoga ini menjadi amal jariyah buat saya ke depannya. Aamiin. Sampai sekarang, saya berusaha untuk konsisten menyebarkan setiap apa yang saya tulis setiap harinya. Harapan lain juga, semoga orang-orang yang membaca tulisan saya termotivasi untuk memulai menulis, dan menyebarkan berbagai pengetahuan dan ilmu yang diketahuinya. Sayang, jika hanya dinikmati oleh seorang diri.

    Di akhir tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan, mari kita sama-sama memanfaatkan media facebook, whatsapp, line,  atau media lainnya untuk menebar kebaikan. Usahakan untuk tidak memasang/menulis status-status yang tidak bermanfaat, apalagi sampai menyebarkan informasi yang tidak jelas (hoax). Hindari status-status yang bisa menyebabkan kita saling mem-fitnah dan bermusuhan satu sama lain. Karena apa pun yang kita lakukan, semuanya akan kembali kepada diri kita sendiri dan nantinya kita sendiri yang akan mempertanggungjawabkannya.

    Wallahu a’lam.

    Ditulis pada hari Kamis, 16 Februari 2017

    Oleh: Gunawan

    Refleksi Pilkada Serentak 2017

    Ilustrasi. Foto: liputan6.com
    PEWARTAnews.com – Rabu, 15 Februari 2017 lalu, beberapa daerah di Indonesia serentak melakukan pemilihan kepala daerah (Pilkada), baik di tingkat kabupaten/kota maupun propinsi. Semua mata tertuju pada ajang pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Tak terkecuali, masyarakat yang bukan pemilih sekali pun ikut membicarakan ajang ini. Berbagai media pun tak pernah luput untuk memberitakannya, bahkan jauh hari sebelum pemilihan tersebut berlangsung. Karena bagi media, pesta demokrasi yang diselenggarakan sekali dalam lima tahun ini merupakan salah satu santapan bergizi bagi mereka.

    Pesta demokrasi ini pun, membawa dampak yang sangat besar bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi daerah yang bersangkutan. Ya, karena di sinilah mereka akan memilih pemimpin yang mampu membawa perubahan ke arah yang positif dari segala bidang. Tentu juga masyarakat berharap, kiranya pemimpin yang terpilih (menang) adalah pemimpin yang betul-betul memiliki jiwa kepemimpinan. Pemimpin yang mau mendengar, pemimpin yang mau melihat, dan pemimpin yang mau merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya.

    Ajang lima tahunan ini juga, menurut saya sangat menarik. Siang menjelang sore hari setelah beberapa media televisi memberitakan bahwa perhitungan suara di beberapa TPS sudah selesai, saya menyempatkan diri untuk membuka facebook. Bukan main, sebagian besar status teman facebook saya juga menyorot masalah pesta demokrasi ini. Bahkan, masyarakat facebook yang bukan berada di daerah pemilihan sekali pun. Semuanya mempunyai jagoannya masing-masing. Adu argumen pun tak terhindarkan. Parahnya lagi, ada yang saling mencaci satu sama lain. Untung saja mereka tidak berdebat face to face. Mungkin bisa berakibat lain.

    Di lain tempat, saya perhatikan, mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek tak mau ketinggalan juga. Mereka juga ikut berkomentar terkait dengan pesta lima tahunan ini. Hematnya, mulai dari para politisi, akademisi, maupun masyarakat biasa lainnya tak mau ketinggalan dari perhelatan pesta demokrasi lima tahunan kali ini.

    Seperti yang dijelaskan di atas, pesta demokrasi ini bertujuan untuk memilih kepala daerah dengan masa jabatan lima tahun ke depan. Masa jabatan atau masa kekuasaan yang bisa dibilang cukup lama. Semua pasangan calon (paslon) tentunya menginginkan hal yang sama, yaitu kemenangan. Ya, hanya satu kata itulah yang ada dibenak mereka, yaitu “kemenangan.” Tidak ada kata lain. Demikian juga, para pendukung dan tim suksesnya masing-masing. Saya yakin menginginkan hal yang sama.

    Akibat adanya hasrat ingin menang (baca: ingin berkuasa) inilah, jauh-jauh hari sebelum pemilihan berlangsung, masing-masing pasangan calon tentu saja mempersiapkan berbagai trik, taktik, dan strategi politik yang mumpuni agar bisa menjadi jawara yang nantinya akan berkuasa. Semuanya berlomba-lomba mempersiapkan diri untuk mendapatkan kursi kekuasaan yang dimaksud. Misalnya saja, modal yang dibutuhkan tidaklah sedikit, dan tidak kecil. Segala modal dipertaruhkan untuk membuat kursi kekuasaan bertekuk lutut di hadapannya, dan menjadi layaknya sebuah mainan dalam genggaman tangannya. Sungguh tak terkirakan akibat negatifnya jika keinginan untuk berkuasa dan segera terpenuhi.

    Tentu, sebagai warga bangsa, saya berharap siapa pun yang terpilih dalam pesta demokrasi serentak kali ini, kiranya mampu memimpin masyarakatnya ke arah yang lebih baik. Memenuhi semua janji-janji politiknya. Dan mau merangkul seluruh paslon yang kalah untuk sama-sama membangun bangsa ini ke depan. Demikian juga, bila nantinya sudah diputuskan siapa yang menjadi jawara, tentu yang kalah harus legowo. Harus mau menerima kekalahannya dengan hati yang lapang, demi persatuan dan kesatuan bangsa ini ke depan.

    Wallahu a’lam.

    Ditulis pada hari Rabu, 15 Februari 2017

    Oleh: Gunawan

    Umat Islam desa Ncera menyambut suka cita Perayaan Idul Fitri 1438 Hijriah

    Sejumlah warga ramai mengikuti takbir keliling di desa Ncera, Belo, Bima, NTB. 
    Bima, PEWARTAnews.com – Umat Islam yang twrletak di desa Ncera, kecamatan Belo, kabupaten Bima, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menyambut suka cita Perayaan Idul Fitri 1438 Hijriah. Salah satu bentuk kegembiraannya, dengan melakukan takbir keliling pada hari Sabtu malam, 24 Juni 2017, mengitari berbagai sudut kampung dengan cara jalan kaki dari ujung desa sampai keliling melewati gang-gang desa.

    Berbagai komponen umat Muslim tumpah ruah memenuhi jalanan. Beberapa elemen masyarakat lainnya pun ditugaskan di berbagai titik guna mengatur jalannya arus lalu lintas. Lantunan takbir pun saling bersahutan.

    Dengan dikawal oleh koordinator, takbiran keliling berjalan aman dan lancar. Kepala Desa Ncera Anwar Ibrahim, Tamrin selaku Sekertaris Desa, bersama beberapa pejabat lainnya pun ikut takbiran mengelilingi perkampungan. Tidak kalah menariknya, sejumlah perempuan, baik ibu-ibu dan anak muda pun ramai-ramai memakai adat Rimpu dalam takbir keliling tersebut.

    Takbiran yang difasilitasi secara mandiri oleh warga itupun berjalan dengan lancar. Start dimulai setelah Shalat Isya dan berakhir sekitar pukul 22.30 Wita. (Jumratun / PEWARTAnews)

    Embun Ncera Jadi Tempat Ngabuburit Paling Favorit Warga Sekitar

    Suasana pemandangan petang di Embun Ncera. 
    Bima, PEWARTAnews.com – Embun Ncera, yang terletak dikawasan Ncera, Belo, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Indonesia, kini resmi jadi tempat yang asik buat tongrongan, paling asik buat menikmati angin sore, bila masa ramadhan sering kita sebut ngabuburit.

    Tiap sore ratusan masyarakat memadati embung Ncera yang terletak sebelah timur Ncera, tidak jauh dari lokasi wisata bombo Ncera. Sebagian hanya duduk memandang air  yang tenang serta matahari yang sedang berjalan ke titik terendah di sisi barat. Di sudut lain, beberapa pemuda asyik memancing.

    Pengunjung lainnya memanfaatkan waktu sore dengan berfoto, mengabadikan setiap moment mereka berwisata di sana. "Seru, tentunya. Nunggu buka puasa sambil menikmati sunset dan melihat pemandang nan hijau dan air embung yang tenang bersama teman-teman," kata seseorang pengunjung bernama Muslimah (20) ketika PEWARTAnews.com menyapa dan bingcang-bincang ringan dengannya pada 19 Juni 2017.

    Dari semua pengunjung yang ada, sepengamatan PEWARTAnews.com, ada pengunjung yang datang bersama pacar dan sahabat lebih banyak, ketimbang bersama keluarga. Terlebih di jembatan Condo, yang letaknya tidak jauh dari Embun Ncera, dimana di jembatan Condo terlihat puluhan orang ramai-ramai duduk berjejeran megikuti panjangnya jembatan. Kini, pengunjung dan masyarakat sekitar menyebut jembatan Condo dengan sebutan Jembatan Cinta. (Jumratun / PEWARTAnews)

    Pengasuh PP UAB Membagikan 200 Paket Lebaran didampingi LAZISNU Kota Yogyakarta

    Panitia saat mengambil bingkisan untuk dibagikan.  
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo (UAB), H. Ahmad Yubaidi, S.H., M.H. dan istrinya Hj. Siti Arum H.,  membagikan 200 Paket Lebaran pada hari Minggu, 18 Juni 2017, jam 09.00-11.00 WIB, bertempat di Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo, Muja Muju,  Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Paket dibagikan pada warga di sekitar pesantren dan Pengurus NU Kota Yogyakarta. H. Ahmad Yubaidi, yang juga sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Yogyakarta, menegaskan paket ini adalah zakat pribadi dan istrinya. Untuk memastikan tepat sasaran, LAZISNU Kota Yogyakarta digandeng sebagai pendamping dan pengarah pembagian tersebut.

    "Alhamdulillah hari ini 200 paket sembako dan sarung sudah tersalurkan dengan baik. Warga NU di Kota Yogyakarta itu banyak. Penataan organisasi yang sudah ditempuh optimis akan membuahkan hasil optimal, yakni warga NU Yogya yang sehat rohani, jasmani, dan ekonomi," ucapnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris PC LAZISNU Kota Yogyakarta Ahmad Subari berharap seluruh masyarakat kota Yogyakarta mau menyalurkan Zakat, Infaq dan Shadaqahnya melalui LAZISNU Kota Yogyakarta.  "Saya menghimbau masyarakat nahdliyin dan seluruh masyarakat kota Yogyakarta mau menyalurkan Zakat melalui LAZISNU, atau cukup dalam pendampingan atau supervisi LAZISNU Kota Yogyakarta, sehingga tidak melanggar ketentuan hukum yang ada," bebernya.

    Subari menegaskan, sebagai contoh Ketua PCNU Kota Yogyakarta yang saat ini zakat pribadinya disalurkan sendiri kepada pihak yang ditentukan sendiri, akan tetapi dia minta didampingi dan dilaporkan ke LAZISNU Kota Yogyakarta. (PEWARTAnews)
    Susana saat pembagian bingkisan lebaran. 


    Ketua PCNU Kota Yogyakarta Bagikan 200 Paket Bingkisan Lebaran didampingi LAZISNU Kota Yogyakarta

    Suasana saat pembagian paket bingkisan lebaran. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Ketua Tanfidziah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta KH. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., M.H. membagikan 200 paket bingkisan lebaran pada hari Minggu, 18 Juni 2017, jam 09.00-11.00 WIB, bertempat di Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo, Muja Muju,  Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Bulan Penuh berkah, bulan penuh ampunan, Bulan Ramadhan. Di bulan suci ramadhan ini Ketua PCNU Kota Yogyakarta menggandeng Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kota Yogyakarta untuk memastikan pembagiannya tepat sasaran.

    "Alhamdulillah hari ini 200 paket sembako dan sarung dibagikan untuk masyarakat di sekitar lingkungan Pondok Pesantren Ulul Albab dan masyarakat nahdliyin serta pengurus Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta," beber ketua  PCNU Kota Yogyakarta Ahmad Yubaidi.

    Lebih lanjut Ahmad Yubaidi mengatakan, pada dasarnya warga NU di Yogyakarta itu banyak, tinggal di masifkan untuk lebih terorganisir untuk membangun dan mengembangkan masyarakat kota Yogyakarta.

    Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris PC LAZISNU Kota Yogyakarta Ahmad Subari berharap seluruh masyarakat kota Yogyakarta dapat menyalurkan Zakat, Infaq dan Shadaqahnya melalui LAZISNU Kota Yogyakarta. “Saya menghimbau masyarakat nahdliyin dan seluruh masyarakat kota Yogyakarta mau menyalurkan Zakat melalui LAZISNU,” cetusnya. (PEWARTAnews)

    Menulis dan Kenikmatannya

    Gunawan. 
    PEWARTAnews.com – Menulis merupakan salah satu kemampuan dalam berbahasa. Kemampuan yang satu ini sebenarnya sudah kita dapatkan sejak duduk di bangku SD. Mungkin kalau yang pernah belajar di PAUD/TK, aktivitas ini juga pernah diperolehnya. Ya, walaupun pada saat itu masih belum seberapa. Hematnya, kemampuan menulis sesungguhnya sudah pernah kita dapatkan ketika duduk di bangku sekolah, baik sekolah dasar maupun sekolah menengah. Karena memang setiap mata pelajaran selalu ada kaitannya dengan menulis. Walaupun hanya sebatas mengikuti tulisan guru yang ada di papan tulis atau pun sejenisnya.

    Menulis sehingga bisa menghasilkan sebuah karya tulis yang bagus apalagi menghasilkan buku memang tidaklah mudah. Namun, bukan berarti tidak bisa. Semuanya bisa tercapai bilamana kita mau konsisten dan sungguh-sungguh dengan apa yang kita lakukan. Itu menurut saya kunci utamanya.

    Awalnya memang sulit khususnya bagi saya untuk menulis sehingga bisa menghasilkan karya tulis seperti, artikel atau buku. Namun, seiring dengan berjalannya waktu,Alhamdulillah semuanya terasa ringan. Menulis bukanlah sebuah teori tetapi langsung ke praktiknya. Jadi, tidak perlu banyak pikir. Langsung saja beraksi. Tulis apa saja yang terlintas di pikiran kita. Mengenai ide sebagai bahan untuk menulis, sebenarnya ada di mana-mana. Bisa kita dapatkan ketika sedang berjalan, duduk, memandangi sesuatu, maupun lewat membaca. Apalagi sekarang zamannya serba teknologi. Jadi, untuk mendapatkan ide sangatlah mudah. Ide itu tidak terbatas. Ide bisa kita temukan di alam sekitar kita.

    Menulis juga ternyata mempunyai kenikmatan tersendiri. Kenikmatan yang dirasakan dari menulis sebenarnya banyak sekali. Di antaranya yang saya rasakan adalah ternyata dengan selalu menulis, maka ide ini semakin berkembang dan menjalar. Kenikmatan juga bisa dirasakan ketika tulisan kita bisa dinikmati dan dibaca oleh orang lain. Itu sudah luar biasa sekali. Apalagi kalau sudah menjadi sebuah buku, dan dipelajari oleh banyak orang.

    Namun, puncak dari kenikmatan menulis yang sesungguhnya menurut saya adalah ketika ada orang yang termotivasi untuk memulai menulis dan apalagi bisa menghasilkan berbagai karya tulis (berkat ia membaca dan termotivasi dari karya tulis kita). Saya rasa yang terakhir ini merupakan kenikmatan yang luar biasa dan tidak bisa digantikan oleh materi (uang) sekali pun.

    Wallahu a’lam.
    Oleh: Gunawan

    ROEANG inisiatif akan Gelar Khatmil Qur'an di Polres Bantul

    Pengurus ROEANG inisiatif saat lakukan audiensi di Polres Bantul, (7/6/2017).
    Bantul, PEWARTAnews.com -- Bertempat di Mapolres Bantul, pengurus ROEANG inisiatif dan Koordinator Nasional Densus 26 NU Kiai Umaruddin Masdar melakukan audiensi dengan Polres Bantul, yang ditemui langsung oleh Kapolres dan Wakapolres Bantul, pada hari Rabu (7/6/2017).

    Dalam audensinya, ROEANG inisiatif bersama Gerakan Nusantara Mengaji mengajak Polres Bantul untuk bersama-sama memanifestasikan nilai-nilai Ramadhan dengan mengadakan Khatmil Qur'an.

    Dalam penyampaiannya, Arif Rahman selaku Direktur ROEANG inisiatif mengatakan bahwasannya Acara Khatmil Qur'an diharalkan kondisi bangsa kedepannya lebih dari sekarang. "Acara Khatmil Qur'an merupakan salah satu cara bermunajah kepada Allah SWT, dengan berharap kondisi bangsa yang lebih baik, dan meminta ijin kepada Polres Bantul untuk mengelar acara Khatmil Qur'an," ucapnya.

    Berkaitan dengan itu, AKBP Imam Kabut Sariadi selaku Kapolres Bantul menyambut baik dengan adanya inisiatif itu. "Acara positif seperti mengkhatamkan Al-Qur'an, terlebih dibulan suci ramadhan, harus kita dukung," ujarnya.

    Selain itu, sambung Imam sapaan akrab Kapolres, mengatakan bahwasaanya seluruh jajaran Polres Bantul akan dikerahkan untuk mendukung agenda ini. "Polres Bantul dan jajarannya akan mendukung dan akan memperkenankan para anggotanya ikut menghatamkan Al-qur'an," ketusnya.

    "Kami (Polres Bantul, red) senantiasa bersinergi dengan gerakan-gerakan positif dan membawa manfaat bersama", sambung Kompol Dhanang Bagus Anggoro selaku Wakapolres Bantul.

    Tidak beda dengan yang disampaikan oleh Bapak Kapolres dan Wakapolres, Kiai Umaruddin Masdar mengatakan, "Sebagai pemuda harus banyak inisiasi dan berbuat positif terhadap perubahan bangsa dan negara. Selama kegiatan-kegiatan untuk kemaslahatan umat, sepenuhnya akan kami dukung," bebernya.

    Acara Khotmil Qura'n dengan tagar #PolisiMengaji ini adalah inisiasi ROEANG inisiatif yang didukung oleh Gerakan Nusantara Mengaji, dan rencananya akan dilaksanakan pada hari Senin tanggal 12 Juni 2017, bertempat di Mapolres Bantul. (PEWARTAnews)

    Kondisi Tanah Leluhurku

    Jumratun. 
    Tuhan
    Apa yang sedang terjadi dengan tanah kelahiranku?
    Apa ini musibah?
    Apa ini karma?
    Atau mungkin ini kutukan?
    Sampai sekarang saya masih bertanya Tuhan?
    Apa ini salah pemimpin?
    Atau mungkin ini murka?

    Keingintahuanku semakin meningkat
    Pertanyaan-pertanyaan itu pun muncul
    Dan terus menggerogoti pikiranku
    Sebenarnya apa yang sedang melanda tanah kelahiranku?
    Diriku menangis dan meratapi apa yang sedang terjadi

    Tuhan
    Sebenarnya siapa yang salah?

    Tumpahan darah terjadi seperti hujan yang turun pada musimnya
    Perselihan dan permusahan terjadi dimana-mana
    Narkoba dan miras terus merongrong
    Mau jadi apa genarasi tanah kelahiranku?

    Apakah ini Bima yang di sebut ramah
    Apakah ini Bima yang dikenal keislamannya kental?
    Atau mungkin inikah Bima yang identik dengan kata kalembo ade?
    Membuatku semakin penasaran saja

    Tuhan berikan jawabannya dalam sholat tahajutku
    Agar aku tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi!


    Yogyakarta, 6 Juni 2017
    Karya: Jumratun
    Bidang Hubungan Masyarakat Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo (STIPRAM) Yogyakarta. 

    Inspirator Utamaku dalam Kepenulisan

    Gunawan.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Sebenarnya ada dua sumber utama yang menjadi inspirasi saya dalam hal tulis-menulis. Pertama, orang tua saya. Kedua, MATRIX SC yang merupakan salah satu organisasi sebagai tempat saya belajar dan menimba ilmu ketika saya kuliah dahulu. Mungkin ada di antara Anda yang bertanya: mengapa hanya mereka berdua (baca: orang tua dan MATRIX SC)? Mengapa bukan penulis-penulis terkenal, seperti Mujamil Qomar, Isjoni, M. Joko Susilo, Maria Hidayah, Hernowo, M. Husnaini, Andrea Hirata, Buya Hamka, Tere Liye, dan lainnya?

    Baiklah, saya akan mencoba menjelaskannya. Seperti yang saya paparkan di atas, bahwa inspirator saya yang pertama dalam hal kepenulisan adalah orang tua saya sendiri. Memang, orang tua saya bukanlah seorang penulis. Kedua orang tua saya hanyalah lulusan SMA/sederajat. Mereka berdua berprofesi sebagai petani. Sebagai seorang anak, saya tidak pernah melupakan jasa mereka. Merekalah yang mengajarkan saya bagaimana cara mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya. Mereka juga yang selalu memotivasi dan mendukung saya untuk terus mengenyam pendidikan formal walau ekonomi pas-pasan.

    Suntikan motivasi tersebut terus mengalir di nadi saya hingga sekarang. Suatu waktu, saya berencana menuliskan semua kisah dan momen kehidupan saya dan keluarga. Alhamdulillah, itu masih dalam proses. Tanpa suntikan motivasi dan dukungan dari mereka, maka saya mungkin tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini. Jadi, sangatlah wajar jika saya menempatkan mereka sebagai orang pertama yang menginspirasi saya dalam hal tulis-menulis.

    Inspirator yang kedua adalah MATRIX SC. MATRIX SC merupakan lembaga pengembangan dan pencerahan dunia matematika di UIN Alauddin Makassar. Organisasi inilah yang mengajarkan saya banyak hal. Di sini saya banyak belajar tentang matematika, masalah sosial, dan sebagainya. Salah satu program rutinitas tahunannya adalah menyapa masyarakat (para siswa dan guru) di sekolah-sekolah lintas kabupaten di Sulawesi Selatan. Kegiatannya bermacam-macam, seperti Olimpiade/Lomba Matematika, Pelatihan Mengajar, BAKSOS, LDK, dan Seminar Pendidikan. Istilahnya sekarang adalah We Care We Share. Belum lagi program kerja lain yang diadakan di kampus dan sekitarnya. Dari berbagai ilmu dan pengalaman yang saya peroleh di lembaga tersebut, akhirnya tahun 2011, saya terinspirasi untuk memulai menulis buku. Dengan harapan, bahwa buku yang saya tulis, minimal bisa dibaca dan dinikmati oleh teman-teman di lembaga tersebut.

    Wallahu a’lam.    

    Ditulis pada hari Senin, 13 Februari 2017            


    Oleh: Gunawan

    Prof. Farouk Muhammad Gelar Sarasehan dan Buka Puasa Bersama Warga Mbojo di Yogyakarta

    Prof. Farouk Muhammad usai sarasehan dan buka puasa bersama warga Mbojo di gedung DPD RI Jln. Kusumanegara, Kota Yogyakarta (03/06/2017).
     PEWARTAnews.com -- Prof. Farouk Muhammad, S.H. (Wakil Ketua DPD RI) melakukan serasehan dan buka puasa bersama warga Mbojo yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta, pada hari Sabtu, 3 Juni 2017 di gedung Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Jln. Kusumanegara, Kota Yogyakarta.
    Yogyakarta,

    Selain buka puasa bersama, dirangkaikan juga dengan penyampaian aspirasi bapak Farouk terkait pembangunan daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Dana Mbojo.

    Pertemuan yang berlangsung singkat di gedung DPD RI tersebut, dihadiri oleh perwakilan weki ndai mbojo, sesepuh, PUSMAJA, KEPMA, Dompu, dan forum-forum kecamatan di daerah Bima dan Dompu. Alhamdulillah acaranya berlangsung lancar dan indah.

    Beberapa konsep strategis yang diutarakan oleh bapak Farouk sangat membantu pikiran civitas dou Mbojo yang di Yogyakarta. Beliau menegaskan, bahwa keadilan merupakan suatu tolak ukur pencapaian pembangunan bangsa dan negara. Kondisi bentrok yang terjadi akhir-akhir ini, entah antara suku, agama, bahkan kebudayaan adalah akibat kurangnya keadilan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memegang alih suatu daerah tersebut.

    Lanjutnya, Pendekatan terhadap individu juga sangat diutamakan dalam hal ini, yang artinya untuk menghadapi masalah konflik sosial kita harus dekati secara baik-baik terhadap orang yang kita tuju, kemudian kita bicarakan persoalan yang menjadi akar masalahnya. Karena kondisi bangsa sekarang ini sudah sangat rumit dan memprihatinkan, dalam menangani persoalan ini pemerintah harus menjadi orang yang pertama dalam memecahkan masalah yang terjadi.

    Prof. Farouk juga sempat singgung juga terkait pembangunan desa oleh aparat desa yang akhir-akhir ini menurun. Dana pembangunan yang diberikan bukan sekedar untuk dimakan dan menunggu waktu jabatan habis, melainkan harus diberikan pengelolaan pembangunan kepada masyarakat, juga beliau melanjutkan terkait mekanisme pembangunan desa, bahwa aparat desa harus melakukan rapat bersama masyarakat ketika ingin melakukan pembangunan.


    Penulis: Muhammad Akhir
    Sekretaris Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta.

    LAZISNU Kota Yogyakarta Beri Santunan 100 Paket Alat Tulis untuk Anak Yatim

    Penyerahan Program 100 paket alat tulis dari LAZISNU Kota Yogyakarta untuk anak yatim. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Bulan Penuh berkah, bulan penuh ampunan, Bulan Ramadhan. Di bulan suci ramadha ini Pengurus Cabang Nahdltul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta beserta Lembaga dan banomnya gencar mengadakan agenda penguatan ummah atau jamiyah. Seperti halnya pada hari Minggu (04/06/2017), bertempat di Masjid Raudhatul Huda, Celeban, Umbulharjo, Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat Ifaq dan Shadaqah (LAZISNU) Kota Yogyakarta memberikan santunan 100 paket alat tulis dan sekaligus mengadakan launching program 1000 paket lebaran untuk anak yatim dan dhuafa yang berada di Kota Yogyakarta.

    Usai pembagian Santunan 100 Paket Alat Tulis, dilanjutkan dengan pengajian sebelum buka puasa yang dipimpin oleh H. Abdul Halim, diakhiri dengan buka puasa bersama pengurus PCNU Kota Yogyakarta, Pengurus Takmir Masjid Raudhatul Huda dengan seluruh masyarakat Umbulharjo dan sekitarnya.

    Ketua PC LAZISNU Yogyakarta Ahmad Subari dalam sambutannya berharap seluruh masyarakat kota Yogyakarta dapat menyalurkan Zakat, Infaq dan Shadaqahnya melalui LAZISNU Kota Yogyakarta. “Saya berharap seluruh masyarakat kota Yogya menyalurkan Zakat melalui LAZISNU. Pada kesimpatan hari ini LAZISNU Kota Yogyakarta dalam Program NU’SMART menyerahkan 100 paket alat tulis bagi anak yatim/piatu/yatim piatu. Selain itu, hari ini juga dirangkaikan dengan Launching Program Gerakan 1000 Paket Pakaian Lebaran Bagi Anak Yatim dan Dhuafa,” harapnya.

    Bagi masyarakat pada umumnya, dapat menyalurkan Zakat Infak dan Shadaqah terbaik anda melalui LEMBAGA AMIL ZAKAT INFAQ DAN SHADAQAH NAHDLATUL ULAMA (LAZISNU) KOTA YOGYAKARTA. Nomor Rekening BRI Syariah atas nama LAZISNU KOTA YOGYA: Untuk Zakat : 1026904451, Untuk Infaq dan Shadaqah : 1026904327. Tlp. / SMS Center & Layanan Jemput Zakat, hubungi nomor : 081578436971 / 081578795666, Twitter: @lazisnuyogya, Email: lazisnuyogya@gmail.com,  Instagram: @lazisnuyogya, FB: fb.com/lazisnuyogya, dan Website: www.lazisnuyogya.or.id.
    Penyerahan Program 100 paket alat tulis dari LAZISNU Kota Yogyakarta untuk anak yatim.

    Mahasiswa Sumsel deklarasikan Organisasi AMSSY

    Suasana usai deklarasi organisasi AMSSY. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Beberapa IKPM kabupaten/kota Sumatera Selatan (Sumsel) mendeklarasikan wadah organisasi sebagai pemersatu mahasiswa Sumsel bernama Aliansi Mahasiswa Sumatera Selatan Yogyakarta (AMSSY) di Asrama Silamapari, Margangsan (03/06/2017).

    Agenda tersebut berjalan khidmat dan lancar dengan rangkaian acara buka bersama dan shalat magrib berjamaah. Setelah itu, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai tanda telah berdirinya organisasi AMSSY.

    Baruri Pasolima sebagai Ketua Umum yang ditunjuk secara aklamasi menyampaikan sambutan perdananya. Dalam sambutan tersebut dia menyampaikan bahwa organisasi ini didirikan sebgai wadah pemersatu bukan untuk kepentingan lain.

    "Organisasi AMSSY adalah wadah pemersatu mahasiswa Sumsel yang ada di Yogyakarta dan sebagai tempat menempah diri mahasiswa untuk dipersiapkan ketika terjun di masyarakat," jelasnya.

    Dengan mengusung selogan Bersatu, Maju, dan Jaya, Baruri ingin menjadikan AMSSY sebagai organisasi mapan yang anggotanya siap berkontribusi untuk kemajuan dan kejayaan Sumatera Selatan.

    "Saya mempunyai cita-cita besar agar anggota AMSSY dapat memberikan sumbangsih terhadap daerah baik melalui rekomendasi-rekomendasi maupun melalui kritik yang membangun untuk kemajuan dan kejayaan bumi Sriwijaya", ujarnya.

    Sesepuh mahasiswa Sumatera Selatan Agus Lucky Syahputra memberikan apresiasi atas dideklarasikannya AMSSY dan menyampaikan selamat kepada Baruri Pasolima sebagai mandat ketua umum.

    "Sebagai orang yang di tuakan pada tingkatan mahasiswa, saya hanya dapat memberikan apresiasi dan berharap agar cita-cita mulia pendirian AMSSY bisa terwujud dan betul-betul menjadi wadah pemersatu mahasiswa Sumsel," ungkap mantan ketua umum IKPM Sumsel 2012-2014 tersebut. (Gie / PEWARTAnews)


    KEPMA Bima-Yogyakarta Gelar Buka Bersama dan Dialog Menyoroti Konflik Sosial dan Pelanggaran HAM di Bima

    Muhammad Akhir.
    PEWARTAnews.com – Keluarga pelajar mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta kembali menggelar aksi dialog dan buka bersama (31/05/2017) di aula asrama bima yogyakarta.

    Daerah harus bersih dari gerakan radikal sosial. Foum dialog tersebut juga mendukung aksi kesejahteraan yang jika pemerintah mau memberikan konsep solusi yang baik untuk warga masyaratatnya, seperti solusi baik untuk konflik dua desa yang terjadi sekarang, dan konflik jenis yang lainya.

    Dalam dialog ini mengecam keras tindakan sewenang-wenang dari aparatur polri yang memberikan pukulan dan tembakan langsung terhadap masyarakat, sehingga banyak masyarakat yang dilarikan kerumah sakit. Ini sudah jelas melanggar UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Pelanggaran HAM dan UU Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Tugas dan Wewenang Polri. Tindakan ini sudah sangat jelas harus diperhatikan oleh pemerintah pusat untuk memberikan kebijakan tegas kepada Kapolres Bima Nusa Tenggara Barat.

    Dialog tersebut dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai forum dibawah naugan kepma bima yogyakarta yang beragam ideologi dan paham hukum, mereka bersih keras dalam mewujudkan kedamaian daerah demi kesejahteraan masyarakat bima tersebut. Ini merupakan wujud bahwa kita mahasiswa bima yang cinta dengan tanah kelahiran dan mengharapkan keindahan daerah itu harus dilestarikan.

    Ebha salah satu Bidang Kajian Ilmiah KEPMA Bima-Yogyakarta yang juga terlibat dalam aksi dialog tersebut menjelaskan bahwa, setiap pemerintah menjadi contoh dan induk dalam  mengajarkan kebaikan dalam suatu daerah, kita sebagai anak yang darah dari dana Mbojo yang juga memiliki hak penuh dalam membantu mewujudkan masyarakat yang damai, setidaknya pemerintah bisa masuk dalam lingkungan-lingkungan masyartakat untuk mengadakan kegiatan sosial, misalnya masalah HAM, agar outputnya kita bisa saling menghargai dan menjaga kerukunan antara desa.

    Selanjutnya, akar konflik sosial ini lahir dari dalam dunia pendidikan. Hal ini terjadi karena perbedaan paham dan cua ka coi angi yang tidak bisa saling toleran, sehingga melahirkan salah paham dan lain sebagainya. Bahkan hal seperti ini gampang didapat dari bangku pendidikan sekolah menengah atas, juga dari berita atau informasi hoax (berita bohong) yang dapat dikonsumsi mentah-mentah.

    Pemerintah harus menjaga daerah dengan sedemikian rupa, tidak hanya melihat keadaan yang sudah terjadi dan memberikan solusi ketika masalah sudah terjadi, pemerintah harus hadir ditengah-tengah masyarakat ketika sebelum terjadinya konflik-konflik, sehingga kekuata emosional dari masyarakat itu tumbuh dengan sangat baik.

    Penulis: Muhammad Akhir
    Sekertaris Umum Keluarga pelajar mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta.

    Ketika Moral Diabaikan

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com – Jika kita menyaksikan berita setiap hari, baik melalui media elektronik maupun media cetak, maka bisa dipastikan bahwa salah satu berita yang disuguhkan adalah berita tentang kejahatan. Entah itu berita tentang pencurian, penipuan, kekerasan, pembunuhan, tawuran, narkoba, ketidakadilan, korupsi, kolusi dan nepotisme, dan berbagai berita kejahatan lainnya, salah satunya pasti ada. Bahkan, berita-berita yang dimaksud di atas sudah menjadi konsumsi publik. Pelaku-pelaku kejahatan pun tidak hanya orang biasa, tetapi juga orang-orang yang telah mengenyam pendidikan tinggi bahkan mempunyai segudang gelar.

    Pertanyaan kemudian adalah apakah hal demikian sudah menjadi budaya masyarakat bangsa Indonesia? Jawabannya tentu tidak. Ini merupakan fenomena yang terjadi yang diakibatkan oleh oknum-oknum yang tidak kenal lagi yang namanya moralitas. Inilah akibatnya ketika moral tidak lagi dikedepankan alias diabaikan. Bukankah baik buruknya tindakan seseorang dapat dilihat dari sikap/moralnya?

    Ketika seseorang sudah tidak lagi mengedepankan moral ketika bertindak, maka bisa dipastikan ia akan melakukan tindakan kejahatan (amoral). Jika hal demikian terjadi, maka efeknya tidak hanya dirasakan oleh oknum tersebut akan tetapi juga dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

    Dahulu ketika saya masih duduk di bangku SD, saya pernah diingatkan oleh kakek saya. Beliau mengatakan, “nak, kamu harus hati-hati, ketika kamu nanti sudah dewasa, akan ada orang-orang yang di mana dalam bertindak atau melakukan aktivitas sehari-hari sudah tidak mengenal lagi etika atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Tindakan-tindakannya selalu meresahkan  dan membuat orang lain tidak nyaman, dan bisa juga melebihi perilaku binatang.” Saya sendiri tidak mengetahui persis mengapa kakek saya bisa mengatakan hal demikian. Padahal saya sendiri saja belum tahu apa yang terjadi dengan pribadi saya sebentar, besok, lusa, apalagi berpuluh-puluh tahun kemudian. Ataukah mungkin beliau mempunyai daya terawang yang sangat tajam, sehingga bisa mengatakan demikian? Wallahu a’lam. Tetapi saya yakin beliau mengatakan hal demikian pasti ada landasannya. Dan nyatanya ramalan beliau terbukti juga seperti yang saya sampaikan pada awal tulisan ini.

    Mungkin inilah yang disebut dengan zaman jahiliah modern, seperti yang dikatakan oleh sebagian orang. Orang jahiliah modern maksudnya adalah bukan orang bodoh seperti arti secara harfiah dari kata jahil, tetapi orang yang kelihatannya memang cerdas secara akademik tetapi dalam tindakannya selalu ceroboh dan dianggap bodoh. Tidak mengenal mana yang baik dan mana yang buruk, tidak mengenal mana yang halal dan mana yang haram; di matanya semua sama saja, yang buruk dianggap baik apalagi yang sudah jelas buruk, dan yang halal dianggap haram apalagi yang sudah jelas haram.

    Seperti yang saya paparkan di awal, kejadian amoral seperti itu ironisnya terjadi juga di lingkungan pendidikan (sekolah maupun perguruan tinggi). Inilah yang menyebabkan hancurnya moral generasi penerus. Kita ketahui bersama bahwa salah satu tugas daripada sekolah/perguruan tinggi adalah membimbing masyarakatnya (siswa/mahasiswa) menjadi manusia yang beradab, mengajarkan mereka agar mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak harus dilakukan. Bukankah arti pendidikan itu sendiri adalah memanusiakan manusia?

    Para pembaca yang budiman, kapasitas saya di sini bukan untuk mencari kambing hitam, siapa yang harus bertanggung jawab kepada siapa, akan tetapi dengan adanya kejadian seperti ini paling tidak kita bisa berbenah diri, mengevaluasi diri, dan saling mengingatkan satu sama lain. Kita harus mulai dari diri dan keluarga kita, mulai dari hal-hal yang kecil, dan mulailah dari sekarang.

    Kita yang mengaku cinta akan bangsa ini harus ambil bagian. Minimal saling mengingatkan satu sama lain kepada jalan yang bisa membuat bangsa kita semakin bermoral. Kita tidak boleh menyerahkan sepenuhnya tugas ini kepada lembaga yang berwewenang. Ini adalah tugas kita bersama. Semoga tindakan-tindakan kejahatan tidak lagi terjadi seperti yang kita saksikan akhir-akhir ini.

    Wallahu a'lam.

    Ditulis pada hari Minggu, 12 Februari 2017
    Oleh: Gunawan

    KEPMA Bima Soroti Konflik Sosial dan Pelanggaran HAM di Bima

    Suasana saat KEPMA Bima-Yogyakarta gelar dialog (31/05/2017).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta kembali menggelar dialog dan buka bersama (31/05/2017) di Aula Asrama Bima Yogyakarta.

    Agenda ini, sebagai pemantik hadir Ketua Umum Keluarga Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta saudara Agus Salim,  dan  Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah (UMY) Yogyakarta  saudara M. Ulfatur Akbar, S.IP., M.IP., serta didampingi oleh moderator saudara Erwin/Ebha (Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yogyakarta).

    Dalam siaran pers KEPMA Bima-Yogyakarta mengatakan bahwasannya daerah harus bersih dari gerakan radikal sosial. Meraka juga mendukung aksi kesejahteraan yang jika pemerintah mau memberikan konsep solusi yang baik untuk warga masyarakatnya, seperti solusi baik untuk konflik dua desa yang terjadi sekarang, dan konflik jenis yang lainya.

    Sekretaris Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Muhammad Akhir mengatakan, “Tindakan sewenang-wenang dari aparatur polri yang memberikan pukulan dan tembakan langsung terhadap masyarakat, sehingga banyak masyarakat yang dibawa ke rumah sakit. Ini sudah jelas melanggar UU No. 39 Tahun 1999 tentang Pelanggaran HAM dan UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Tugas dan Wewenang Polri. Tindakan ini sudah sangat jelas harus diperhatikan oleh pemerintah pusat untuk memberikan kebijakan tegas kepada Polres Bima Nusa Tenggara Barat.” bebernya.

    Lebih jauh Muhammad Akhir menyatakan bahwa dalam dialog tersebut diwakili oleh mahasiswa dari berbagai forum dibawah naugan KEPMA Bima-Yogyakarta yang beragam ideologi dan paham hukum, mereka bersikeras dalam mewujudkan kedamaian daerah demi kesejahteraan masyarakat Bima tersebut. “Ini merupakan wujud bahwa mahasiswa Bima yang cinta dengan tanah kelahiran dan mengharapkan keindahan daerah itu harus dilestarikan,” ungkapnya.

    “Pemerintah harus menjaga daerah dengan sedimikian rupa, tidak hanya melihat keadaan yang sudah terjadi dan memberikan solusi ketika masalah sudah terjadi, pemerintah harus hadir ditengah-tengah masyarakat ketika sebelum terjadinya konflik-konflik sehingga kekuatan emosional dari masyarakat itu tumbuh dengan sangat baik.” keluh Akhir. (PEWARTAnews)

    Semua Butuh Proses

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com – Seorang anak kecil yang kita lihat sudah bisa berjalan, awalnya tidak langsung bisa seperti itu. Ia berawal dari merangkak, kemudian diajarkan berdiri oleh orang tuanya lalu diajarkan berjalan sampai ia bisa berjalan dengan sendirinya. Seorang mahasiswa yang mendapatkan predikat lulusan terbaik di universitasnya tidak langsung jadi seperti itu. Ia berjuang dan belajar dengan giat untuk mendapatkan predikat tersebut.

    Seseorang yang menjadi pejabat tinggi, tidak mungkin langsung menjadi seperti itu tanpa suatu proses sehingga jabatan itu melekat padanya. Bahkan seseorang yang melewati “jalan pintas” untuk mencapai sesuatu yang diinginkan juga pasti butuh proses. Ya, tentu proses untuk mendapatkan jalan pintas tersebut paling tidak ia harus mengetahuinya. Hematnya, untuk mencapai sesuatu yang diinginkan oleh seseorang pasti butuh proses.

    Tanpa sebuah proses tak akan ada hasil. Semakin berkualitas proses yang dilakukan oleh seseorang maka yakinlah hasil yang diperolehnya akan memuaskan dan terasa nikmat. Memang nikmat rasanya apabila hasil yang digapai melewati proses yang berliku-liku. Namun lebih nikmat lagi jika di mulai dengan niat yang ikhlas dan proses untuk menggapainya juga halal.

    Saya rasakan sendiri, ketika awal mula memulai menulis buku pertama. Proses penulisannya cukup menguras tenaga dan pikiran. Lebih dari tujuh bulan baru bisa saya selesaikan tulisan tersebut sehingga bisa menjadi sebuah naskah buku untuk diterbitkan.

    Namun, tidak berhenti sampai di situ. Saya ke sana ke mari dan berdiskusi dengan teman-teman untuk meminta saran, bagaimana kiranya agar buku saya tersebut bisa diterbitkan sesegera mungkin. Walaupun dengan proses yang bisa dibilang cukup lama (kurang lebih lima tahun), akhirnya buku pertama saya bisa diterbitkan (Juni 2016).

    Begitu pula dengan buku kedua, baru bisa saya terbitkan setelah melewati proses penulisan, dan lain-lain sekitar empat tahun (terbit Juni 2016). Betul-betul memerlukan waktu yang cukup lama. Ya begitulah, semuanya pasti butuh proses. Meskipun dalam proses penulisan buku-buku tersebut sempat juga membuat saya down. Maklumlah, penulis juga manusia.

    Wallahu a’lam.

    Ditulis pada Sabtu, 11 Februari 2017

    Oleh: Gunawan

    Seorang Ayah Lakukan Pencabulan pada Anak Tiri Dibawah Umur

    Anri Saputra Situmeang, S.H. (berkacamata) bersama rekannya.
    Tangerang, PEWARTAnews.com – Seorang anak perempuan di bawah umur, SM (15) menjadi korban pencabulan yang dilakukan oleh ayah tirinya, AK (45). Saat ini korban berada di tempat saudaranya di Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang.

    Menurut kuasa hukum SM, Pelaku bekerja sebagai Petani. Perlakuan tidak senonoh itu AK lakukan di  Kampung Cibirat RT 03/01, Desa  Sukatani, Kecamatan Cisoka, Tangerang.

    Korban didampingi oleh kuasa hukum bernama Anri Saputra Situmeang, S.H. selaku direktur Eksekutif LBH SITUMEANG menceritakan bahwa cara pelaku melakukan kepada korban dengan aksi bejatnya mengikat tangan korban kebelakang, menyekapnya dan dengan mengancaman memakai pisau di letakan di leher korban sehingga, bahwa kalo sampai memberitahukan kesiapapun terutama ke mamanya maka korban akan dibunuhnya.

    "Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Oleh karena itu saya berharap dari pihak aparat penegak hukum yang mewakili negara Indonesia untuk melindungi seluruh anak di Indonesia bekerja dengan maksimal  menerapkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.” ungkapnya melalui siaran pers yang diterima PEWARTAnews.com pada 01/06/2017.

    Selain itu, Anri berharap dinas terkait mengmbil peran terkait peristiwa ini. “Saya berharap juga adanya peran dari Dinas Perlindungan Anak Kabupaten Tangerang untuk lebih efektif kepada (klien) kita agar tidak ada lagi korban-korban sepeti yang dirasakan oleh SM," ketusnya.

    Lebih lanjut Anri menjelaskan, sampai saat ini korban berada di tempat saudaranya di Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, Banten. (PEWARTAnews)

    KEPMA Bima-Yogyakarta Adakan Kajian Ilmiah tentang Konflik di Bima

    Suasana diskusi KEPMA Bima-Yogyakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta  telah sukses melaksanakan kegiatan kajian ilmiah pada hari Rabu, 31 Mei 2017 mulai  16:00-selesai, yang berlangsung di aula asrama Keluarga Pelajar Mahasiswa Bima “Putra Abdul Kahir” Yogyakarta.

    Kegiatan ini diinisiasi penyelenggaraannya karena akhir-akhir ini marak terjadi konflik sosial antar desa di Kabupaten Bima. Bersamaan dengan itu, ada informasi penembakan masyarakat yang dilakukan oknum polisi saat pengamanannya. Aparat yang seharusnya megamankan konflik ini, malah ada oknum aparat yang bertidak berlebihan terhadap masyarakat dengan melakukan penembakan bebas. Maka atas peristiwa itu, KEPMA Bima-Yoggyakarta selenggarakan dialog publik ini megangkat tema “Menyorot Konflik Sosial dan Pelanggaran HAM di Bima”.

    Agenda ini menghadirkan 2 pemantik. Pemantik pertama, disampaikan oleh Ketua Umum Keluarga Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta saudara Agus Salim,  dengan materi yang di sampaikan “konflik sosial”. Menurut Agus Salim, konflik sosial merupakan suatu proses sosial antara dua belah pihak yang berlainan kepentingan. Latar belakang adanya konflik ini karena adanya perbedaan yang sulit di temukan kesamaanya atau didamaikan, baik itu perbedaan kepandaian, ciri fisik, maupun pegetahuan. “Konflik itu ada konflik vertikal dan ada konflik horizontal,” bebernya.

    Pemantik  kedua, disampaikan oleh Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah (UMY) Yogyakarta  saudara M. Ulfatur Akbar, S.IP., M.IP., materi yang di sampaikan tentang “Pelanggaran HAM di Bima”. Ulfatur Akbar mengatakan bahwasannya Hak Asasis Manusia (HAM) merupakan sesuatu yang sudah melekat pada diri seseorang, yang mereka peroleh dan meraka bawa sejak lahir. “Pelaggaran HAM disebabkan karena adanya beberapa faktor antara lain, faktor internal dan eksternal. Faktor internal itu mencakup, sikap egois atau terlalu mementingkan diri sendiri, rendahnya kesadaran HAM dan sikap tidak toleran. Sedangkan faktor ekternalnya mencakup, peyalahgunaan kekuasaan, ketidaktegasaan aparat hukum, penyalahgunaan tehnologi dan kesenjangan sosial ekonomi yang tinggi,” ketusnya.

    Kedua pemantik tampil dalam satu panggung, untuk meperlancar jalanyanya diskusi maka didampingi oleh moderator saudara Erwin/Ebha (Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yogyakarta).

    Selain diskusi, acara ini dirangkaikan juga dengan buka puasa bersama. Hadir pula Ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Yogyakarta saudara M. Saleh Ahalik, S.Pd., dan beliau pun meyampaikan beberapa pendapat berkaitan dengan bagaimana kita menyadarkan masyarakat untuk tidak melakukan konflik itu secara terus menerus. “Kita harus memberitahukan pada masyarakat bahwa konflik itu merugikan semua pihak, baik itu individu maupun semua kelompok masyarakat yang bernaung di daerah terjadinya konflik tersebut,” paparnya

    Acara pun berjalan dengan lancar, saat diskusi terlihat meriah karena terjadi interaksi yang aktif antara peserta yang hadir dan para pemantik. Kegiatan tersebut dihadiri juga oleh mantan Ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Yogyakarta saudara M. Jamil, S.H., Ketua Sanggar Seni dan Budaya Rimpu Yogyakarta Muhammad Edi Kuriawan Syafrudin, Ketua Umum Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) sudara Gajali, serta semua perwakakilan tiap-tiap organisasi di bawah naungan KEPMA Bima-Yogyakarta.


    Penulis: Jumratun
    Bidang Hubungan Masyarakat Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo (STIPRAM) Yogyakarta.

    Menyoal Pendidikan di Lingkungan Keluarga

    Ilustrasi pendidikan keluarga. Foto: kompasiana.com.
    PEWARTAnews.com – Salah satu tempat pendidikan bagi seorang anak adalah di lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga merupakan tempat di mana seorang anak akan mendapatkan pendidikan yang pertama kalinya. Intinya, keluarga merupakan basis pendidikan bagi setiap orang dan basis bagi semua pendidikan sesudahnya. Di lingkungan keluargalah seorang anak akan belajar banyak hal, mulai dari cara berkomunikasi dengan orang lain, menyampaikan pendapat, bersikap, berperilaku, hingga bagaimana menganut nilai-nilai tertentu sebagai prinsip dalam hidupnya.

    Karena mengingat lingkungan keluarga merupakan basis pendidikan seorang anak, maka sejatinya keluarga/orang tua harus memperhatikan keperluan anak-anaknya. Memang pendidikan dalam lingkungan keluarga tidak sama dengan pendidikan di lingkungan sekolah/perguruan tinggi. Suasananya beda dan lain. Umumnya, di lingkungan keluarga kita tidak akan bisa menemukan berbagai perlengkapan dan peralatan belajar layaknya di sekolah. Sebab pendidikan dalam keluarga memiliki ciri tersendiri. Pendidikan di lingkungan keluarga tidak diorganisasikan layaknya di lingkungan pendidikan formal. Walaupun demikian, pendidikan di lingkungan keluarga merupakan salah satu penentu keberhasilan pendidikan anak di lingkungan sekolah.

    Saya pernah dengar kata orang, bahwa “perilaku orang tua itu menjadi peraturan yang tetap bagi anak-anaknya.” Orang tua yang dimaksud di sini adalah rumah tangga dan yang berpengaruh di sana. Rasulullah pernah bersabda: “Berbaktilah kepada orang tuamu, niscaya anak-anak kamu akan berbakti kepadamu.” Keshalehan kedua orang tua serta amal kebaikan yang mereka lakukan memiliki pengaruh yang besar terhadap keshalehan anak-anaknya. Oleh karena itu, sejatinya orang tua harus memberikan contoh yang terbaik buat anak-anaknya.

    Pendidikan di lingkungan keluarga sangatlah penting, sebab anak-anak lebih banyak menggunakan waktunya di rumah dari pada di tempat-tempat lain. Di samping itu juga, di lingkungan keluarga anak-anak diajarkan tentang kecintaan dan kasih saya sehingga pendidikan yang diberikan akan mudah tertanam.

    Namun kenyataannya sekarang menurut saya, banyak keluarga yang tidak terlalu peduli dengan pendidikan anak-anaknya (di lingkungan keluarga). Mereka hanya mengandalkan pendidikan yang bersifat formal, seperti di sekolah atau sejenisnya. Seolah-olah tanggung jawab pendidikan anak-anaknya hanya tugas pihak sekolah. Padahal, anak-anak itu lahir dari keluarga dan dibesarkan di keluarga pula. Mungkin jika dihitung jam pelajaran di sekolah, anak-anak hanya mendapatkan bimbingan dari guru-gurunya tidak lebih dari tujuh jam. Artinya bahwa, dalam kurung waktu dua puluh empat jam sehari, seorang anak lebih banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga dan masyarakat ketimbang di lingkungan sekolah.

    Jika seorang anak telah mendapatkan pendidikan di rumah/keluarga, tentu di sekolah nanti akan mendapatkan pelajaran dan pendidikan yang lebih sempurna dengan mudah dan cepat. Artinya, proses untuk memahami pendidikan dan pembelajaran di lingkungan sekolah akan terbantu bilamana dasar pendidikan di lingkungan keluarga bagus.

    Wallahu a’lam.

    Ditulis pada hari Rabu, 8 Februari 2017

    Oleh: Gunawan

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website