Headlines News :
Home » , » Maluku asal Sangaji Bima

Maluku asal Sangaji Bima

Written By Pewarta News on Sabtu, 01 Juli 2017 | 20.29

DR (Can) Hasrul Buamona, S.H., M.H.
PEWARTAnews.com – Menurut penulis “Belajar sejarah untuk mengetahui arti persaudaraan, serta mengenal jati diri”. Ungkapan diatas telah memotivasi penulis selama ini, yang tujuannya menelusuri sejarah yang saat ini hidup dalam ruang sunyi dan sengaja di sunyikan. Maluku saat ini oleh kebanyakan orang Indonesia di kenal tidak lebih hanya pada Ambon dan Ternate, serta konflik SARA yang menimpa Maluku pada tahun 1999. Namun dalam ruang sejarah yang sunyi oleh kebanyakan orang Indonesia tidak mengetahui Maluku atau Jazirah Al-Mulk atau Jazirah Al-Mamlakatul Mulukiyah (Negeri Raja-Raja) telah memiliki peradaban sejarah yang sangat lama dikarenakan pada zaman Firaun, Hammurabi, catatan Jalur Sutera (the silk road), Konstantinopel baik pada saat Romawi berkuasa dan pada saat Turkey Utsmania berkuasa, Maluku atau Jazirah Al-Mulk dikenal dikarenakan telah berdagang rempah-rempah yakni Cengkeh dan Pala, dengan peradabaan bangsa tersebut diatas, artinya bahwa Maluku atau orang-orang Maluku saat itu telah memiliki peranan penting dalam hubungan kerjama sama internasional baik dalam bentuk budaya, religi dan berniaga dengan bangsa-bangsa tersebut. Maluku (Jazirah Al-Mulk) dalam lintas sejarah dunia dikenal memiliki 4 (empat) Kesultanan Islam tertua dan terbesar di Nusantara yang terdiri dari Kesultanan Jailolo, Kesultanan Ternate, Kesultanan Bacan dan Kesultanan Tidore, yang mana dari ke empat Kesultanan tersebut, memiliki hubungan sedarah dikarenakan Sultan dari ke empat Kesultanan tersebut adalah anak kandung dari Syekh Jafar Sadik dengan Boki Nur Safa.

Kesultanan Ternate yang memiliki lintas sejarah tertua yang puncak kejayaannya pada saat Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Babullah Syah (1565-1583) yang adalah anak Sultan Khairun Syah (1538-1965) dari Isteri keduanya yang merupakan anak dari Sangaji Sula Foka’aha/Fuq’aha (tempat para Ulama Sufistik Sula), (Manaf dan Fuata; 2015). Dalam catatan sejarah, Sultan Babullah Syah adalah Tokoh Revolusioner yang membangkitkan Nasionalisme dan Patriotisme Islam Nusantara sebelum republik Indonesia beridiri, sehingga Sultan Babullah Syah adalah Tokoh yang pertama kali melakukan jihad melawan kolonialisme Portugis saat itu, yang telah membunuh Sultan Khairun di Ternate saat Sultan Babullah Syah belajar ilmu Islam dan Perang di Sula.

Menurut Buya Hamka bahwa peran Sultan Babullah Syah pada zamannya telah menunda penjajahan 100 tahun (seratus tahun). Selain itu Sultan Babullah Syah adalah Sultan di Nusantara yang memiliki peran sangat besar dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Wujud dari penyebaran Islam oleh Sultan Babullah Syah yang saat ini, bisa dibuktikan salah satunya hadirnya kedudukan Sangaji dalam sosial kemasyarakatan orang Mbojo yang lebih kenal dengan Bima atau Kesultanan Bima yang saat ini telah menjadi Kabupaten Bima (NTB).

Sultan Babullah Syah adalah Sultan yang memang telah dipersiapkan oleh ayahnya Sultan Khairun Syah untuk belajar Islam dan Perang di Sula. Mengapa harus ke Sula untuk belajar ilmu Islam dan Perang? Jawabanya ialah harus diketahui bahwa pola pendidikan di Maluku saat dulu tidak mengenal pelembagaan pendidikan pesantren seperti di Jawa atau Arab, dikarenakan nilai Adat di Maluku mengatur setiap Anak akan belajar ilmu Islam atau ilmu tua (ilmu turunan) dan ilmu Perang hanya belajar kepada Ayah kandungnya, Kakek dari Ayah Kandungnya atau Kakek dari Ibu Kandungnya, hal ini sesuai dalam ajaran Islam bahwa setiap Kepala Rumah Tanggah adalah “Imam” atau “Pemimpin” bagi keluarganya yang mewajibkan setiap “Imam” harus memiliki pengetahuan pendidikan Islam dan Adat yang sempurna, sehingga ini menjadi alasan historis terkuat Sultan Babullah Syah belajar ilmu Islam dan ilmu Perang di Sula.

Secara singkat struktur ketatanegaraan Kesultanan Ternate selain Sultan sebagai pemimpin tertinggi Kesultanan, dikenal pula Sangaji yang kedudukannya sebagai pemimpin yang mewakili Sultan di luar ibu kota Ternate sebagai ibu kota Kesultanan Ternate hingga sekarang. Sangaji bukan hanya sebagai kedudukan pemerintahan, politik dan hukum dalam struktur ketatanegaraan Kesultanan Ternate, namun lebih dari itu Sangaji adalah sebuah kedudukan spiritual Islam yang sama halnya seperti seorang Kiyai di Jawa atau Syekh di Jazirah Arab, dikarenakan Sangaji sendiri berasal dari kata dasar “Ngaji” yang artinya mengaji “Al-qur’an”, hanya kemudian di tambahkan “Sang” sebagai wujud penghormatan tertinggi kepada orang yang memiliki keilmuan Islam dan juga sebagai pemimpin dalam menyebarkan Islam dan Adat. Sangaji sendiri secara nama dan kedudukan hanya berasal pada 4 (empat) Kesultanan di Maluku yakni Kesultanan Ternate, Kesultanan Bacan, Kesultanan Jailolo dan Kesultanan Tidore, artinya bahwa ketika ada Kesultanan Islam yang di Nusantara kemudian juga terdapat kedudukan Sangaji. Maka hal tersebut merupakan bukti perluasan wilayah dan syiar Islam Kesultanan Ternate yang dilakukan oleh Sultan Babullah Syah dan para Sangajinya.

 Hal ini dibuktikan Bima hingga saat ini oleh orang Bima masih mengenal kedudukan Sangaji dalam sosial kemasyarakatan, dalam beberapa kesempatan penulis pernah bertanya kepada Mahasiswa Bima di Yogyakarta bagaimana kedudukan Bima dan asal-usulnya, hal mengejutkan terjadi dalam jawaban mereka bahwa Sangaji sendiri di Bima menempati kedudukan sangat penting dikarenakan yang menjadi Sultan harus berasal dari keturunan Sangaji dan kemudian yang harus menjadi tokoh Islam dalam Kesultanan Bima hingga dalam lingkup masyarakat harus dari keturunan Sangaji sampai pada senjata baik keris dan sebagainya di Kesultanan Bima bernama Sangaji atau lebih tepatnya pusaka peninggalan Sangaji, dan kononya Sangaji itu sendiri berasal dari Kesultanan Ternate (Maluku). Dari cerita Mahasiswa Bima tersebut, menguatkan bukti sejarah Kesultanan Ternate sendiri yang pada zaman Sultan Babullah Syah yang pernah mengirim para Sangaji ke Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur pada tahun 1574 yang terdiri dari Sangaji Mena, Sangaji Dili, Sangaji Solor, Sangaji Lawayong, Sangaji Lamaharra, Sangaji Kore (Sanggar), Sangaji Bima, Jougugu Boi, Jougugu Lang, Kiemalaha Gogos dan, Jougugu Ilyas setelah Sultan Babullah Syah mengislamkan Raja Gowa ke-14 Manganrangi Manrabia alias Sultan Alaudin I yang memerintah Gowa tahun 1593-1639 (Alm. Sultan Mudaffar Syah, dalam buku Ekspansi Islam & Imprealisme Modern; 2008). Apabila dilihat dari tahun Sultan Babullah Syah dan Sultan Alaudin I, terlihat bahwa Sultan Babullah Syah lebih senior dalam memerintah dan melakukan perluasan kekuasaan, dan juga pada tahun tersebut Sultan Babullah Syah sedang pada puncak kejayaan dengan menguasai 74 (sebenarnya lebih karena kekuasaanya dari Afrika[Peninsula] sampai Pasifik [Honolulu]) pulau diluar Kepulauan Maluku untuk melakukan syiar Islam serta mengusir Portugis dari Nusantara.

Sangat bertentangan dengan keadaan historis saat ini, yang menceritakan bahwa Kesultanan Gowa yang melakukan syiar Islam pertama kali dan memiliki pengaruh kuat dalam Kesultanan Bima hingga sekarang. Apabila berdasarkan fakta-fakta sejarah jelas bahwa Kesultanan Ternate yang pertama dan memiliki pengaruh bagi Kesultanan Bima,  hal ini diperkuat dengan kedudukan Sangaji itu sendiri tidak dikenal dan tidak ada dalam sistem Kesultanan Gowa, dan Sultan Alaudin I di Islamkan oleh Sultan Babullah Syah, serta juga ada kesamaan yakni di Maluku yakni Sula dan Ternate Masjid disebut “Sigi”, Sholat disebut Sabea/Sambia, sama halnya di Bima Masjid disebut “Sigi” dan Sholat di Bima disebut “Sambea”. Selain itu fakta sejarah juga menunjukkan lambang Kesultanan Bima memiliki kesamaan dengan lambang Kesultanan Ternate yakni burung berkepala dua berhati satu (Goheba Dopolo Romdihi) yang mengandung arti filosofis kalimat Syahadat, yang oleh penulis memaknai sebagai Nur Allah dan Nur Muhammad dalam proses terbentuknya alam dunia, yang dalam bahasa Sula dikenal dengan bahasa tua “Kim Bal Ak, Ak Bal Kim” (Kamu adalah Aku, dan Aku adalah Kamu) dan juga dalam bahasa tua Ternate “Gudu Moju Si To Nonaku, Ri Jou Si To Suba (Aku telah mengenalnya, karena Aku menyembahnya). Apabila di aplikasi dalam sosial kemasyarakatan oleh Alm.Sultan Mudaffar Syah di maknai sebagai hubungan pemimpin dan rakyatnya harus “bersatu hati”.

Fakta sejarah lain yang membantah klaim sejarah Kesultanan Gowa hari ini atas Kesultanan Bima, dapat terlihat dengan Perjanjian Bongaya yang nama aslinya Joungaya (Perjanjian Raja-Raja) isinya bahwa “Makasar harus melepaskan hak-haknya atas Jazirah Utara dan Sulawesi sampai Teluk Kolanodale (Palu) kepada Sultan Ternate. Bahwa semua daerah diatas Mandar Sampaga, Buwol, Toli-Toli, Dempelas, Balesang, Silisa,Kaili adalah daerah Gowa. Makasar harus menyerahkan daerah-daerah itu dari Manado ke Pancana (Muna) kepada Kesultanan Ternate” (Alm. Sultan Mudaffar Syah, Ekspansi Islam;2008). Dari isi perjanjian ini terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Gowa tidak super power sebagai empirium Islam Nusantara yang kemudian melakukan perluasan wilayah, apalagi syiar Islam, karena super power dan empirium Islam Nusantara terkuat dan terbesar saat itu, yang saat ini di sunyikan oleh sejarah Indonesia adalah Kesultanan Ternate (Jazirah Al-Mamlakul Mulukiyah) yang dipimpin Sultan Babullah Syah dikarenakan pada saat Sultan Babullah adalah pemimpin tertinggi yang membawahi Kesultanan Islam Demak, Aceh,dan Malaka. Semoga Allah SWT menempatkan Allahumagfirullah Sultan Babullah Syah dan Para Sangaji di Firdausnya Allah SWT. Amin Jou (Syukur Eb-Eb Kolano).


Penulis : DR (Can) Hasrul Buamona, S.H., M.H. 
(Advokat di Jakarta dan Anak Adat Sangaji Fagud Sula)


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website